Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.38 Vol.09/2006 / Lauren Tomasik dan Klinik Medis Hiv di Zambia

Lauren Tomasik dan Klinik Medis Hiv di Zambia


Lauren Tomasik, seorang gadis berumur 18 tahun, telah mendapatkan visi. Siswi SMU Wheaton Academy ini memiliki kerinduan untuk melihat SMU Kristennya mengumpulkan 75.000 dolar untuk membangun sebuah klinik medis di Zambia untuk melawan penyebaran virus HIV/AIDS. Dan ia ingin uang tersebut berasal dari kantong 575 teman-teman sekolahnya.

Ini bukanlah visi yang biasa. Namun, pada perkembangan selanjutnya sekolah ini juga tidak lagi menjadi sekolah yang biasa. Hal ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa dalam tiga tahun terakhir saja, murid- murid sekolah yang berlokasi di bagian barat pinggir kota Chicago ini telah berhasil mengumpulkan hampir 250.000 dolar untuk membantu penanggulangan HIV/AIDS di Afrika. Sebagian besar dari uang itu berasal dari kantong mereka sendiri.

"Tuhan telah memanggil sekolah ini untuk melakukan proyek ini," kata Tomasik sambil menceritakan perkumpulan murid-murid yang anggotanya selalu mendorong satu sama lain untuk melupakan kegiatan nonton film, pergi ke Starbucks, bahkan kado-kado Natal dan gaun-gaun pesta kelulusan demi mengumpulkan uang untuk membantu teman-teman mereka di Zambia agar dapat mendapat pendidikan dan makanan. "Jika kita hidup di Wheaton, akan sangat mudah untuk hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri dan terus hidup untuk komunitas kita saja." Ia juga bercerita bahwa mereka juga memiliki kehidupan yang makmur di kotanya, yang juga terkenal dengan budaya penginjilannya. "Namun, saya telah diberkati supaya saya juga dapat memberkati orang lain."

PEMBERIAN PENGORBANAN

Kisah mengenai murid-murid sebuah SMU dari kalangan menengah ke atas yang berubah menjadi teladan tentang hal berkorban ini bermula dari sebuah acara retret di pegunungan Colorado di musim panas 2002. Para ketua murid saat itu berkumpul untuk merencanakan bagaimana caranya kerohanian di sekolah mereka dapat dibina. Mereka lalu memikirkan ide-ide umum seperti mengadakan kelompok PA, acara doa pagi, dan hal-hal biasa lainnya.

"Kami tahu apa yang diharapkan dari kami. Namun, kami begitu merasa bahwa Tuhan menginginkan kami melakukan sesuatu yang lebih dari semua itu," kata Christy Peed, alumnus sekolah itu. "Sesuatu yang dapat membuat orang benar-benar dapat merasakan kehadiran Tuhan dan bahwa kita tak dapat melakukan apa pun tanpa Dia."

Kelompok itu selalu berdoa di berbagai kesempatan. Di bulan Oktober, mereka mengikuti proyek One Life Revolution, yang diadakan atas inisiatif organisasi World Vision dan Youth Specialties yang bertujuan melibatkan murid-murid dalam penanganan korban AIDS di Zambia. Ini sepertinya adalah jawaban yang sempurna. Para murid itu prihatin dengan statistik data yang menunjukkan bahwa penginjil di Amerika ternyata masih memberi perhatian yang sangat kecil terhadap pelayanan orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Peed, yang orang tuanya adalah misionaris, tumbuh di Zambia dan menyaksikan langsung dampak mengerikan yang ditimbulkan AIDS pada keluarga-keluarga di sana. Zambia memiliki lebih dari 630.000 anak yang menjadi yatim piatu akibat HIV/AIDS. Sementara sekitar 1,1 juta orang telah terinfeksi virus itu.

Program One Life itu menawarkan sebuah katalog yang menunjukkan cara-cara bagaimana murid-murid sekolah tersebut bisa membantu sebuah desa di Afrika dengan mengumpulkan dana. Kesempatan berpartisipasi meliputi mulai dari 8 dolar untuk membeli ayam sampai 53.000 dolar untuk membangun sebuah gedung sekolah. Meski perkiraan dana 45.000 dolar adalah angka terbesar kedua yang ada di katalog itu, murid-murid SMU itu berketetapan bahwa gedung sekolah itu adalah target yang harus mereka capai.

Para ketua murid itu mempresentasikan proyek Zambia tersebut di depan teman-teman sekolahnya pada pertengahan bulan Nopember sambil menjelaskan sepuluh cara bagaimana tiap orang dapat ikut berkontribusi lewat pengorbanan pribadinya. "Kami tidak ingin proyek ini terlaksana lewat sesuatu seperti bantuan cek dari para orang tua mereka," kata Peed. "Kami ingin hal ini terlaksana lewat pengorbanan para murid."

Di acara itu, para ketua murid mengatakan bahwa jika tiap murid di sekolah mereka dapat memberikan 100 dolar saja selama setahun, mereka akan dapat melebihi target menyumbangkan 53.000 dolar untuk pembangunan sekolah itu. Awalnya, hal itu sepertinya tidak begitu membangkitkan antusiasme para murid. Malah sepertinya mereka bahkan tak akan mendapatkan barang 10 dolar saja dari setiap murid, beberapa bahkan sangat menentang mimpi pelayanan besar ini. Beberapa murid merasa proyek "mahabesar" ini dibuat dengan terlalu terburu- buru, tidak masuk akal, dan hanya didorong oleh rasa bersalah. Beberapa lainnya mempertanyakan mengapa semua sumbangan itu harus diberikan jauh-jauh ke Afrika, apalagi untuk menolong korban penyakit yang biasanya didapat melalui hubungan seksual. Bermacam perdebatan setelah pertemuan itu sering sampai membuat Peed menangis.

Mereka pun mengadakan banyak acara penggalangan dana. Namun, aliran dana masih sangat lambat. Ketika Tony Frank, direktur eksekutif organisasi World Vision Chicago mengunjungi SMU Wheaton Academy pada musim dingin, para murid baru mengumpulkan 5000 dolar dari visi mereka membangun sekolah di Zambia. "Jujur saja, saya rasa mungkin hanya akan terkumpul 10.000 dolar saja," kata Frank. "Saya memang tidak yakin dapat membayangkan yang lebih besar lagi."

Pada musim semi, total dana yang terkumpul telah mencapai 20.000 dolar. Para ketua murid itu tertegun ketika menyadari bahwa mereka masih harus mengumpulkan 33.000 dolar selama 9 minggu untuk dapat memenuhi target mereka. Putus asa mencari pendekatan yang baru, mereka pun meminta nasihat pembimbing rohani dewasa mereka. Ia pun menantang mereka dan mengatakan bahwa proyek itu tak akan sukses sampai mereka benar-benar bertekun dalam doa. "Setiap kami pun lalu berkomitmen untuk mendoakan hal ini setiap hari," lanjut Peed, "dan itulah saat aliran uang itu tiba-tiba menjadi lancar."

Doa mereka tidak hanya mengubah sikap mereka yang dulu diliputi ketakutan dan keraguan akan proyek ini, namun juga keseluruhan murid, guru, dan karyawan di sekolah itu. Pro kontra berhenti dan gairah besar untuk melayani Zambia semakin berkobar-kobar ketika ratusan murid mulai bergerak mengumpulkan dana. Pendeta Huber mengatakan bahwa uang itu terkumpul sedemikian cepat dari berbagai macam sumber yang berbeda sehingga sampai sekarang pun ia masih tak tahu dari mana semua uang itu berasal.

Pada 2 Mei 2003, Proyek Zambia itu telah mencapai target 53.000 dolarnya. Namun, dana dari murid-murid masih terus mengalir. Pada tanggal 22 Mei, mereka telah mengumpulkan 77.000 dolar--yang berarti telah terjadi penambahan 24.000 dolar hanya dalam waktu 20 hari. Sumbangan telah dibulatkan menjadi 80.000 dolar pada akhir tahun proyek itu dicanangkan, telah cukup untuk membiayai gedung sekolah dan semua kategori yang ada dalam katalog One Life Revolution. Dan pada hari di mana Peed lulus dari SMU Wheaton Academy, para pekerja bangunan di utara Zambia, yaitu di Desa Kakolo telah mulai memancang tiang-tiang pondasi sekolah baru tersebut.

`INI ADALAH MASALAH HUBUNGAN`

Pada tahun ajaran berikutnya, para ketua murid mencoba melakukan proyek "mustahil" itu sekali lagi, dengan melanjutkan proyek yang kali ini memiliki target mengumpulkan dana 54.000 dolar untuk menyediakan kebutuhan pangan anak-anak di Kakolo selama setahun. Mereka berhasil mengumpulkan hampir 60.000 dolar. Semakin banyak murid berpartisipasi dengan cara yang lebih banyak.

Zambia, seluruh Afrika dan wabah AIDS telah menjadi perhatian serius bagi para murid Wheaton Academy. "Proyek Zambia telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sekolah ini," kata Huber yang menaksir bahwa 90% murid yang ada telah berpartisipasi secara finansial dalam proyek ini. "Kami jatuh cinta dengan orang-orang itu. Sekarang hal ini telah menjadi masalah hubungan, bukan lagi masalah pencapaian proyek."

Para murid sekarang merasakan adanya suatu hubungan tersendiri dengan sebaya mereka di Zambia, merasa bertanggung jawab atas mereka juga. Beberapa mensponsori anak-anak Zambia lewat organisasi seperti World Vision. Yang lain lagi memajang foto-foto dari Zambia sebagai pengingat harian mengenai bagaimana kehidupan anak-anak di Kakolo, dan banyak murid secara dramatis lalu mengubah kebiasaan pengeluaran mereka.

Tim yang mula-mula menggagas proyek ini sekarang telah lulus. Namun, mereka membawa pesan kepada sekolah mereka mengenai apa yang dibutuhkan dunia, selain juga bukti bahwa murid-murid sekolah pun dapat membuat perbedaan mulai dari sekarang. "Anda sudah sering mendengar kalimat ini, tapi Anda tak akan benar-benar memahaminya sampai ketika Anda benar-benar melakukannya," kata salah seorang alumnus, Natalie Gorski.

"Betapa luar biasanya Tuhan yang kita miliki. Dia telah mampu memakai kami sebagai alat-Nya dan mengatakan, `Lihat apa yang telah Aku lakukan pada SMU Wheaton Academy! Aku pun dapat melakukannya di seluruh Amerika Serikat.`"

"Dengan bantuan Tuhan, semua orang dapat melakukan apa yang kami lakukan."

Wakil World Vision, Frank mengatakan, "Hal ini benar-benar membuat imanku bertumbuh." Frank memang telah sering melihat anak-anak muda terlibat dalam pekerjaan kemanusiaan, namun tidak pernah sampai setingkat ini. "Saya melihat mereka sebagai sebuah teladan terang akan apa yang sedang terjadi pada generasi mereka ini."

MIMPI YANG MENULAR

Pada musim panas tahun 2004, bagian lain dari impian ini muncul. Sebuah tim murid itu mengunjungi Kakolo untuk melihat gedung sekolah dan dampak langsung dari keberadaannya. Ketika ada di sana, para murid itu pun menemukan cara baru untuk membantu desa itu.

Proyek klinik bersalin 2004-2005 adalah proyek yang lebih ambisius, yang menuntut dari para murid itu lebih banyak dana, pengorbanan, dan tentunya iman yang lebih besar.

Namun, satu kejadian unik terjadi di tengah perjalanan mereka memenuhi target 110.000 dolar untuk pembangunan klinik itu. Para orang dewasa mulai ikut ambil bagian. Kampanye "Zambian Meltdown" yang dilaksanakan telah membuat 14 guru dan karyawan kehilangan 230 kilo berat badannya dalam 100 hari, dan menghasilkan tambahan dana 19.000 dolar untuk penurunan berat badan itu. Kepala sekolah dan wakilnya juga masing-masing kehilangan 35 kilo berat badannya.

Pembangunan klinik itu dilaksanakan sepanjang musim panas ini. "Kami tak sabar ingin mengunjungi klinik itu, di mana bayi-bayi bisa lahir dengan selamat dan bebas dari virus HIV," kata Huber.

Untuk tahun ajaran 2005-2006, murid-murid Wheaton Academy telah meluncurkan situs AIDS Student Network di alamat http://www.aidsstudentnetwork.org/, yang bertujuan untuk merekrut 1.000 murid SMU Amerika untuk berpartisipasi melawan penyebaran wabah HIV/AIDS di Afrika.

"Ini adalah visi yang besar," kata Huber yang mengakui bahwa kunjungan ke Kakolo yang diadakan pada Juli 2004 yang lalu itu telah mengguncang dunianya. Pada sebuah kebaktian di bulan Mei, dia berkata pada murid-murid, "Saya sangat suka atas fakta bahwa Tuhan semesta alam juga senang melakukan hal-hal yang tak pernah terpikirkan." (t/ary)

Sumber diambil dan diterjemahkan dari:
==> http://www.christianitytoday.com/ct/2005/august/26.50.html

e-JEMMi 38/2006