Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Kontekstualisasi Ala Paulus (Lukas 4:18-19)

Kontekstualisasi Ala Paulus (Lukas 4:18-19)


Naskah Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Yunani karena bahasa ini menjadi bahasa yang paling luas digunakan di wilayah Kekaisaran Romawi pada zaman itu, meskipun Perjanjian Baru Yunani tersebut banyak memelihara kata bahasa Aram -- yang saat itu juga bisa disebut bahasa Ibrani -- sebab dianggap salah satu dialek tutur saja oleh masyarakat Yahudi di Galilea. Contoh kata-kata Aram yang dipelihara antara lain: "Talita Kum" (Markus 5:41), "Gabbatta" (Yohanes 19:13), dan "Maranatha" (1 Korintus 16:23). Salah satu bukti bahwa Yesus membaca targum berbahasa Aram, di mana kata 'Alaha' (yang seakar dengan bentuk Ibrani: Eloah, dan Arab: Allah) adalah ungkapan Yesus dalam Markus 15:33; Elohi, Elohi, L'mah Sh'vaktani. Sebab teks dalam Mazmur 22:2 bahasa Ibraninya: Eli, Eli, Lamah'azvatani (karena dalam pengalihaksaraan Yunani Elohi dan bukan Elohim. Tidak ada dialek bahasa Ibrani dari orang-orang Yahudi dari dulu hingga sekarang, baik dialek sefardin maupun Azkernazim yang membaca Elohim menjadi Eloim). Oleh sebab itu, bila Perjanjian Baru yang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani namun rasul-rasul sendiri tidak mempertahankan nama Yahweh, mengapa beberapa orang mati-matian mempertahankannya? Rasul-rasul yang menulis Perjanjian Baru saja menerjemahkannya dengan kata "Kyrios" (Tuhan). Ambillah satu contoh ayat, misalnya Ulangan 6:4, "Shema' Yiasra'el, Yahweh Elohenu yahweh Ehad". Dalam Markus 12:29, nama Yahweh diterjemahkan dengan Kyrios (Tuhan) mengikuti terjemahan Septuaginta: 'Akoue, Israel, Kurios ho theos hermin, kurios eis esti" (Dengarlah, wahai Israel, Kurios (Tuhan) itu Theos/Allah kita, Kurios/Tuhan itu esa). Jadi sekali lagi, Markus sang penulis Injil pun tidak mempertahankan nama Yahweh. Lalu, apakah ada yang berani mengatakan bahwa seluruh penulis Perjanjian Baru salah?

Dalam bahasa Ibrani, "nama" tidak bisa dipahami secara harfiah seperti nama-nama: Suharto, Suradi, Baidi, dan sebagainya. Dalam hal ini, kita perlu membedakan antara "nama" (yang berasal dari bahasa manusia yang dibatasi konteks ruang dan waktu) dengan "Dia yang di Nama-kan" (yang absolut, tidak terhingga). "Nama" dalam teologi Yahudi lebih menunjuk pada "Kuasa di balik Dia yang di-Nama-kan. Karena itu, orang-orang Yahudi hanya mempertahankan tetagramaton (keempat huruf suci: yhwh) tetapi tidak membacanya secara lisan, melainkan sudah lazim dibaca dengan: Adonai (Tuhan, Tuhanku) atau Ha-Shem (Sang Nama).

Kesimpulannya, apabila kita menolak usulan para "penentang Allah" itu, sebenarnya kita bukan sekadar menimbang manfaat atau mudlaratnya saja. Namun, manfaatnya jelas tidak ada sama sekali dan mudlaratnya pun jelas -- bukan hanya membingungkan umat Kristen, melainkan juga membuka "front permusuhan" dengan "Saudara Sepupu". Tetapi yang lebih penting lagi, tidak ada gunanya berdialog dengan orang-orang yang memang tidak memenuhi standar berpikir ilmiah itu. (Yudas 1:10)

Yesus Kristus telah memberikan kepada Paulus sebuah resep yang manjur untuk mengatasi berbagai persoalan komunikasi antarbudaya, seperti yang dialaminya di Atena. Melalui penglihatan yang begitu meyakinkan, Paulus dipenuhi dengan banyak pengertian baru dan cemerlang, sehingga ia menjadi buta untuk sementara waktu. Pada saat itu Yesus berkata, "Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang." (Kisah Para Rasul 26:17-18)

Jalan pemikiran Yesus sungguh sempurna. Agar bisa berbalik dari kegelapan, mata setiap orang harus dibuka terlebih dulu sehingga mereka dapat melihat perbedaan antara gelap dan terang. Apa yang kita perlukan untuk membuka mata seseorang?

Sebuah Pembuka Mata!

Tetapi, di manakah Paulus yang dilahirkan sebagai orang Yahudi dan dilahirkan kembali sebagai orang Kristen, dapat menemukan pembuka mata supaya kebenaran mengenai Allah Yang Mahatinggi dapat dilihat oleh Kota Atena yang penuh dengan patung-patung berhala itu? Bagaimana ia dapat mengharapkan bahwa dalam sistem agama yang secara mutlak terikat pada politeisme itu akan ada pengakuan bahwa monoteisme lebih baik?

Namun, ketika Paulus "berjalan-jalan di kota dan melihat-lihat" (Kisah Para Rasul 17:23), dijumpainya di tengah-tengah "sistem" itu sesuatu yang "tidak termasuk" di dalamnya -- sebuah altar yang tidak berhubungan dengan sebuah patung berhala! Sebuah altar dengan tulisan aneh: "Kepada Allah yang tidak dikenal". Sebagaimana Abraham tidak menganggap Melkisedek sama dengan raja Sodom, begitu juga Paulus melihat perbedaan antara altar itu dan patung-patung berhala. Altar itu menjadi sekutunya -- sebuah kunci komunikasi yang mungkin dapat membuka gembok-gembok pada hati dan pikiran ahli-ahli pikir Stoa dan Epikuros itu. Ketika mereka mempersilakannya mengemukakan semua pandangannya secara resmi dalam lingkungan yang lebih cocok untuk diskusi intelektual daripada di pasar kota, Paulus sudah siap.

Lalu Paulus dibawa menghadap sidang "Aeropagus", yaitu Perhimpunan Bukit Mars yang terdiri atas sekelompok orang Atena terkemuka dan yang bersidang di Bukit Mars untuk membicarakan perkara-perkara sejarah, filsafat, dan agama. Di atas Bukit Mars pula, hampir 6 abad yang lalu, Epimenides telah bergumul dengan persoalan wabah di Atena.

Paulus bisa saja memulai pidatonya di Bukit Mars itu dengan berbicara tanpa tedeng aling-aling. Dia bisa saja berkata, "Hai, orang-orang Atena, dengan segala filsafatmu yang muluk-muluk itu; kamu tetap menyembah berhala yang jahat. Bertobatlah, kalau tidak kamu akan binasa!" Dan, setiap perkataan itu boleh jadi benar!

Selanjutnya, ia bisa juga berusaha membuat "mereka berbalik dari kegelapan kepada terang", menurut perintah Yesus. Tetapi, itu sama seperti seorang pemukul bola dalam permainan kasti, yang setelah memukul bola langsung berlari ke patok kedua. Pemukul bola harus menyentuh patok pertama terlebih dulu! Itulah sebabnya, Yesus menambahkan perintah supaya "membuka mata mereka" sebagai prasyarat untuk membuat orang-orang berbalik "dari kegelapan kepada terang".

Paulus "berlari ke patok pertama" dengan kata-kata ini, "Hai kamu orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa (ini merupakan penguasaan diri yang luar biasa, mengingat betapa bencinya Paulus kepada penyembah berhala). Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat, barang-barang pujaanmu (orang lain dengan latar belakang Paulus mungkin lebih suka menyebutnya "berhala-berhala yang keji"), aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: KEPADA ALLAH YANG TIDAK DIKENAL."

Kemudian, Paulus menyuarakan sebuah pernyataan yang telah menunggu selama 6 abad untuk diucapkan, "Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu." (Kisah Para Rasul 17:22-23) Apakah Allah yang diberitakan Paulus itu benar-benar dewa asing seperti yang diduga oleh para ahli pikir itu? Sama sekali bukan! Menurut jalan pikiran Paulus, Yahweh, Allah Yahudi-Kristen itu, telah didahului oleh altar Epimenides. Sebab itu, Dia adalah Allah yang sudah ikut campur dalam sejarah Atena. Pastilah nama-Nya berhak diberitakan di situ!

Tetapi, sungguhkah Paulus memahami latar belakang sejarah altar itu dan konsep tentang Allah yang tak dikenal? Ada bukti bahwa ia memahaminya! Sebab Epimenides, selain memunyai kemampuan untuk memberi keterangan mengenai persoalan yang suram mengenai hubungan-hubungan manusia/dewa adalah juga seorang penulis sajak!

Selanjutnya, dalam pidatonya di Bukit Mars itu Paulus menyatakan bahwa Allah telah "menjadikan semua bangsa dan umat manusia ... supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing." (Kisah Para Rasul:17:26-27) Kata-kata itu boleh jadi merupakan suatu referensi tak langsung kepada Epimenides sebagai contoh penyembah berhala yang "menjamah dan menemukan" Allah, meskipun Allah itu tak diketahui nama-Nya, tetapi pada kenyataannya Ia tidak jauh!

Barangkali, anggota-anggota Perhimpunan Bukit Mars itu juga mengenal cerita tentang Epimenides dari tulisan Plato, Aristoteles, dan lain-lainnya. Tentunya mereka mendengarkan dengan kagum ketika Paulus memulai pidatonya di atas dasar antarbudaya yang berhubungan dengan pengertian itu. Tetapi, dapatkah rasul Kristen ini -- yang dididik oleh Gamaliel, sang sarjana Yahudi itu -- tetap mendapat perhatian orang-orang yang telah disuapi dengan jalan pikiran plato dan Aristoteles itu -- cukup lama untuk membuat mereka mengerti Kabar Baik?

Setelah kata-kata pembukaannya yang memesona itu, maka keberhasilan Paulus berkaitan dengan bagian terpenting dari pidatonya akan bergantung pada satu hal. Sebutlah hal itu adalah "logika tanpa lubang-lubang". Selama setiap pernyataan Paulus secara logis mengikuti pernyataan-pernyataan sebelumnya, maka para ahli pikir atau filsuf itu akan tetap mendengarkannya. Tetapi, jika ada lubang-lubang yang tak diisinya, maka para ahli pikir itu akan langsung memotong pembicaraannya. Itu sudah menjadi peraturan dalam pendidikan filsafat yang mereka terima -- menjadi disiplin yang mereka bebankan pada dirinya sendiri, dan yang mereka tuntut dari setiap orang asing yang mengaku memunyai masalah yang pantas mendapat perhatian mereka.

Diambil dari:

Judul majalah : Bahana, No.05/Th.XI/Vol.115 - November 2000
Penulis : Don Richardson
Penerbit : ANDI Yogyakarta
Halaman : 16 -- 17

e-JEMMi 37/2012