Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.30 Vol.15/2012 / Kenneth Pike

Kenneth Pike


Salah satu dari sekian banyak ahli bahasa yang paling brilian dan paling dihormati di abad ke-20, baik di kalangan sekular maupun di lingkup orang percaya, adalah Ken Pike, yang selama bertahun-tahun menjadi direktur dan presiden Summer Institute of Linguistic. Sebagai seorang profesor di University of Michigan, penulis buku-buku dan artikel-artikel penelitian, pembicara seminar dan konferensi yang paling dicari, Pike dapat saja hidup dengan nyaman di Amerika, tetapi hatinya berada di Meksiko dan di tempat-tempat yang belum berkembang di dunia, di mana Alkitab belum tersedia dalam bahasa setempat. Ia dapat merasa nyaman berbincang bersama seorang buta aksara dari suku Indian Mixtec maupun dengan seorang profesor terhormat dari sebuah universitas di Perancis. Dengan semua sumbangsihnya terhadap ilmu bahasa, ia tetaplah seorang utusan Injil terkemuka yang memiliki hasrat untuk membagikan Kabar Baik kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya.

Lahir di Connecticut pada tahun 1912, Pike adalah seorang anak dokter desa yang pendapatannya hampir-hampir tidak cukup untuk menyokong kebutuhan istri dan delapan anaknya. Sebagai seorang pemuda, Pike adalah seorang yang bersahaja dan tidak tampak sebagai seseorang yang akan menjadi tokoh besar. Ia adalah seorang pemuda yang ceking dan canggung, seorang yang mudah mabuk perjalanan, sangat takut ketinggian, dan seorang pemuda yang mudah gugup, sehingga dalam tahun-tahun hidupnya ia sering mengalami sariawan dan lecet-lecet pada kakinya. Hanya ada beberapa hal yang mengesankan mengenai dirinya, ia seorang mahasiswa yang cerdas di Gordon College bahkan ia lulus dengan mendapat predikat kehormatan, tetapi saat melamar pekerjaan yang diinginkannya, ia menemui jalan buntu. Ia melamar di China Inland Mission (CIM) dan diterima di sekolah calon utusan Injil lembaga misi itu, tetapi ketika semester itu berakhir, ia tidak memenuhi syarat untuk terjun ke dalam pelayanan misi. Hanya dua hal yang menjelaskan dikeluarkannya keputusan itu: sifatnya yang mudah gugup dan (percaya atau tidak) kesulitannya dalam berbahasa -- tepatnya, ketidakmampuannya untuk menguasai pelafalan.

Selama lebih dari setahun, Pike dengan antusias memberi tahu teman-teman dan keluarganya mengenai rencananya untuk pergi ke Tiongkok. Karena itu, penolakan oleh CIM adalah sebuah hal yang memalukan baginya. Meskipun demikian, Pike sungguh-sungguh bertekad menjadi seorang utusan Injil. Setelah selama 1 tahun bekerja di Citizen Workers of Administration (CWA), Pike mulai menulis kepada berbagai lembaga pelayanan misi, menanyakan tentang pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga itu untuk para ahli bahasa dan penerjemah Alkitab. Ia tidak membiarkan dirinya dihalangi oleh masalah bahasa yang pernah ditemuinya ketika ia belajar di CIM.

Dari semua ketua lembaga pelayanan misi yang dihubungi oleh Pike, hanya Legters dari Pioneer Mission Agency (yang di kemudian hari berganti nama menjadi Wycliffe Bible Translators (WBT)) yang membalas suratnya dan mengundangnya untuk menghadiri Camp Wycliffe. Jadi, musim panas tahun 1935 dihabiskannya di Sulphur Springs, Arkansas, tetapi di sana pun kesan yang dibuatnya bukanlah kesan yang sepenuhnya bersifat positif. Melihat pembawaan Pike yang halus di sebuah lingkungan alam terbuka yang keras membuat Legters pernah berkata, "Tuhan, tidakkah engkau dapat mengirimkan orang yang lebih baik dari ini?" Meskipun demikian, Cam Townsend melihat lebih dari sekadar penampilan luar yang belum terpoles itu dan mengenali potensi besar yang dimiliki Pike untuk kesarjanaan dan pelayanan.

Setelah program pelatihan musim panas itu, Pike mengadakan perjalanan ke Meksiko dan di sana ia mulai mempelajari bahasa suku Indian Mixtec. Meskipun ia mengalami frustrasi dalam memilah-milah bahasa yang terdiri dari nada-nada yang rumit itu, tetapi ia merasa bahwa tugasnya adalah sesuatu yang menantang, sehingga ketekunannya terbayar oleh perkembangan pesat yang dibuatnya pada tahun pertamanya sebagai seorang ahli bahasa. Cam begitu terkesan oleh penguasaan linguistik Pike, sehingga ia mengundangnya untuk kembali ke Camp Wycliffe pada musim panas berikutnya untuk menjadi seorang pengajar, dan itulah awal pelayanan seumur hidupnya sebagai seorang pengajar linguistik.

Perjalanan pulang-pergi ke Arkansas pada setiap musim panas untuk mengajar di Summer Institute of Linguistik (SIL) menjadi bagian rutin dari jadwal Pike, dan pada musim panas tahun 1938 Pike memulai lagi perkenalannya dengan Evelyn Griset, keponakan Cam yang sedang mempersiapkan diri untuk melayani di Meksiko sebagai seorang penerjemah Alkitab. Evelyn adalah seorang perempuan muda yang cerdas dan lulusan UCLA, yang telah menyelesaikan pelatihan Alkitab di Bible Institute of Los Angeles (BIOLA), sebuah pendidikan yang mempersiapkannya untuk menjadi wanita yang lebih dari sekadar seorang istri dan ibu. Pernikahannya dengan Ken pada bulan November berikutnya menciptakan sebuah kemitraan dalam bidang linguistik, yang menunjukkan sebuah kerja sama pada tingkat yang terbaik. Evelyn terus berjuang untuk meraih gelar master dalam bidang linguistik di University of Michigan, menulis sejumlah artikel dan buku, dan akhirnya melayani sebagai pengajar linguistik paruh waktu di University of Michigan bersama suaminya. Tiga orang anak mereka selalu membuatnya sibuk sebagai seorang ibu rumah tangga, tetapi Pike sering kali menolongnya untuk mengurus anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga ketika tekanan pekerjaan di luar rumah begitu besar.

Kerinduan Ken untuk meraih gelar sarjana dalam bidang linguistik dimulai di awal kariernya. Pada tahun kedua di Meksiko, Pike mengalami patah kaki yang mengharuskannya untuk menjalani perawatan di rumah sakit, dan selama itulah ia memenuhi permintaan Cam untuk membuat sebuah buku fonetik untuk menolong para pemula di Wycliffe. Awalnya, Pike merasa takut untuk mengerjakan tugas itu, tetapi ketika ia mengerjakannya, ia baru merasakan bahwa pekerjaan itu sangat memuaskan. Dari ruangannya di rumah sakit, Pike menulis surat untuk salah seorang sahabatnya, "Belajar adalah satu-satunya hal yang membuat saya merasa senang ... ketika keadaan mulai tidak baik." Sebelum menyelesaikan naskah awalnya, Pike mengirim beberapa bab kepada seorang professor University of Michigan, Edward Sapir, yang adalah salah seorang ahli dalam bidang bahasa-bahasa suku Indian. Sapir sangat terkesan oleh pemuda itu dan mendorongnya untuk datang ke University of Michigan untuk mendalami ilmu ini lebih jauh lagi. Dengan Didorong oleh Cam Townsend, Pike memulai studi doktoralnya pada tahun 1937, dan pada musim panas 1941 ia telah menyelesaikan seluruh syarat-syarat untuk meraih gelar Ph.D.

Tulisan-tulisan Pike, studi doktoralnya, pekerjaannya di SIL, dan usaha pemecahan masalah untuk para penerjemah yang mengalami masalah yang sukar, telah membuatnya jauh dari prioritas utamanya yaitu menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku Mixtec di San Miguel. Pada tahun 1941, setelah ia menyelesaikan karya doktoralnya, ia bersama Evelyn dan putri mereka yang masih kecil kembali ke Meksiko, untuk tinggal di sana dan berkonsentrasi menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru. Pada tahun 1951, setelah usaha sepuluh tahun dan banyak penundaan, terjemahan Perjanjian Baru pun sudah siap dicetak.

Dalam waktu 10 tahun yang dipakai Pike untuk menerjemahkan Perjanjian Baru, ia juga disibukkan oleh tugas-tugas yang lain. Setiap musim panas, ia melayani sebagai direktur dan pengajar di SIL, ia juga melanjutkan tulisannya dan mengejar pendidikannya; dan pada tahun 1945, untuk menjalankan penelitian post-doktoralnya, Pike kembali ke University of Michigan selama setahun, sementara Evelyn tetap berada di Meksiko. Pada tahun 1948, dengan pencetakan keempat bukunya, Pike menjadi profesor tamu di University of Michigan, sebuah posisi yang memungkinkannya untuk melakukan tugasnya yang lain.

Setelah penyelesaian penerjemahan Perjanjian Baru untuk bahasa Mixtec, Pike mengabdikan dirinya untuk menolong ahli bahasa yang lain, yang sedang berjuang dengan kesulitan bahasa yang mereka alami. Walaupun usahanya itu semakin terikat dengan lingkup akademis, tetapi pengetahuannya sangat membantu para penerjemah yang sangat bergantung kepada keahlian linguistiknya. Pike adalah seorang guru yang penuntut, dan siswa-siswanya sering kali merasa takut untuk menghadiri kelasnya, tetapi mereka tahu bahwa dengan menguasai teori dan teknik yang diajarkan oleh Pike, maka mereka dapat menghemat waktu bertahun-tahun dalam menghadapi tugas-tugas sulit yang menanti mereka di ladang misi.

Membuat mata kuliah itu menjadi sesuatu yang dapat dipraktikkan adalah prioritas utama Profesor Pike, dan kadang-kadang perkuliahannya adalah sesuatu yang menghibur sekaligus berbobot. Bahkan selama hari-hari pertamanya sebagai seorang pengajar, ketika SIL pindah ke University of Oklahoma, kelasnya disebut sebagai "pertunjukan yang baik sekaligus perkuliahan yang baik". "Siapa bilang mata kuliah fonetik adalah mata kuliah yang membosankan?" tulis seorang reporter dari Oklahoma Daily mengenai kelas Pike. "Ruang kelasnya yang besar itu dipenuhi oleh para mahasiswa yang duduk di ujung bangku mereka, dan masing-masing dipenuhi oleh antusiasme terhadap setiap perbandingan yang segar dan berusaha menangkap setiap kesempatan untuk berkontribusi. Dapat dipastikan bahwa tidak ada kelas lain yang sehidup ini di kampus itu ..."

Yang lebih menghibur lagi daripada perkuliahannya adalah demonstrasi bahasa yang dibawakannya di hadapan audiensi -- sebuah demonstrasi yang menunjukkan seberapa cepat sebuah bahasa yang tidak dikenal dapat dipelajari tanpa seorang penerjemah. Di panggung itu, Pike dengan beberapa papan tulis dan sejumlah benda (tongkat, daun, dan benda-benda sederhana beraneka ukuran), berdiri bersama seorang asing yang belum pernah ditemuinya dan tidak diketahui bahasanya. Sebelum acara itu berakhir, kedua orang di panggung itu sudah dapat berkomunikasi dengan baik. "Setelah melihat satu demonstrasi dari Pike," tulis saudari Pike, Eunice, "Anda dapat yakin bahwa Ken dapat dengan cepat mempelajari perbedaan antara `sebuah tongkat` dengan `dua buah tongkat,` `daun besar` dengan `daun kecil` dsb.. Dia mungkin juga akan mempelajari perbedaan beberapa kata kerja misalnya, `saya duduk` dengan `dia duduk,` dan bahkan `saya memukulmu` dengan `kamu memukul saya.` Kata benda milik, konjugasi kata kerja, dan lain-lainnya tampak sangat mudah, tapi Ken tidak berhenti di situ. Ia juga berkembang ke klausa bersubjek, objek, dan bahkan klausa dengan objek tidak langsung. Beberapa tahun terakhir ini, ia bahkan sanggup membangun sebuah kalimat, baik dengan klausa bebas maupun dengan klausa terikat. Kecepatan yang ditunjukkannya selalu mengagumkan dan sangat menyenangkan ketika melihat reaksi orang asing yang menolongnya itu. Orang itu jelas-jelas terlihat sangat menikmati perjumpaan itu. Ketika Ken membaca tulisannya sendiri di papan tulis dan berhasil menyusun serta mengucapkan kalimat pertamanya, orang asing itu terkejut dan gembira, begitu pula dengan audiensinya, mereka juga menikmati itu dan memberi tepuk tangan untuk memberikan penghargaan."

Sementara Pike melanjutkan penelitiannnya sambil mengajar di University of Michigan dan SIL, ia juga berkembang ke area lain linguistik selain fonetik, dan semakin ia mempelajari, semakin pula ia mampu memberi pertolongan kepada para ahli bahasa dan penerjemah Alkitab di seluruh dunia. Pike juga telah membantu pengerjaan penerjemahan di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di tempat-tempat itu, ia menemukan kesamaan dalam berbagai bahasa Indian ketika Wycliffe mengembangkan pelayanannya dari Amerika Selatan ke bagian lain dunia. Pengelompokan bahasa baru yang ditemui oleh para siswa SIL menantang Pike untuk menggali penelitiannya semakin dalam dan mengumpulkan informasi dari para ahli bahasa terkenal dunia. Perjalanan berkeliling dunia menjadi segi yang penting dalam pelayanannya. Pada tahun 1960-an, ia mengadakan lokakarya di sejumlah tempat terpencil di dunia seperti Papua, Guinea Baru; di sana ia melatih dan mendampingi para hamba Tuhan yang berasal dari dua puluh bahasa yang berbeda.

Walaupun perjalanan Pike telah membawanya ke ujung dunia yang terjauh, namun baru pada tahun 1980 ia dapat pergi ke tempat yang memanggil hatinya. Hampir 50 tahun sebelumnya, sebuah kesulitan bahasa yang nyata telah menghalanginya untuk pergi ke Tiongkok. Saat itu, ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti ia dan istrinya dapat memberi perkuliahan linguistik di Institute of Foreign Languages di Beijing, RRC. Walaupun perkuliahan itu berada di institusi sekular, Pike tahu bahwa dalam kasih karunia Tuhan informasi yang diajarkannya itu suatu hari akan dipakai untuk penerjemahan Alkitab yang lebih jauh di Tiongkok, bahkan perkuliahan seperti itu pun telah membantu para penerjemah Alkitab di bagian lain dunia.

Hanya sedikit ahli bahasa yang menerima penghormatan secara pribadi maupun penghargaan seperti Dr. Kenneth Pike. Dengan bukunya yang berjudul "Phonetics", ia telah "merevolusi cara berpikir di bidang itu," menurut Profesor Eric Hamp dari University of Chicago, dan itu baru permulaannya. "Saya rasa adil jika saya mengatakan," lanjut Hamp, "bahwa satu-setengah dari seluruh data mentah bahasa-bahasa asing yang diketahui sebagai sumbangsih ahli bahasa teoretis dalam seperempat abad ini dihubungkan dengan pengajaran, pengaruh, dan usaha oleh Kenneth Pike. Antusiasme seorang bocah yang dimiliki Pike terhadap segala penelitiannya dan kerendahan hatinya dalam membahas permasalahan-permasalahan yang baru, hampir tidak mungkin lewat dari pengamatan pengamat yang paling tidak perhatian sekalipun, bahwa dia adalah salah satu dari sedikit tokoh ahli bahasa terkemuka di abad 20." Hamp juga menambahkan, bahwa Pike adalah salah seorang utusan Injil terkemuka di abad 20. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:

Judul Buku : From Jerusalem To Irian Jaya
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 357 -- 360

e-JEMMi 30/2012