Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.51 Vol.15/2012 / Kamar yang Kosong

Kamar yang Kosong


Bagi kami, kamar itu merupakan kamar yang nyaman karena kami mengubahnya dari kamar yang pengap dan gelap, karena sebelum kami pindah ke daerah pertanian di lembah ini, kami belum pernah memiliki kamar khusus untuk menerima tamu.

Suami saya dan saya senang menjamu tamu-tamu yang berkunjung. Kedua anak kami yang tertua sudah menikah dan pindah, tetapi ketiga anak perempuan asuh kami tetap membuat suasana rumah kami hidup dan gembira.

Hari itu, tanggal 30 April, adalah hari yang indah. Warna-warna musim semi menyemarakkan suasana seluruh lembah. Pohon dogwood (pohon yang bunganya berwarna putih atau merah pada awal musim semi) dan redbud (pohon yang bunganya kecil berwarna merah muda) memperkaya aneka warna lereng gunung. Perasaan saya melimpah dengan kebahagiaan dan kepuasan, sewaktu mencium suami saya sebelum saya berangkat kerja ke kota. Dua jam kemudian, di meja saya di ruang pengadilan, mereka menyampaikan sebuah catatan: "Suami Anda mendapat serangan jantung yang dapat menyebabkan kematian."

Betapa seringnya saya melihat musibah yang menimpa orang lain dan dengan sedikit bangga saya menghibur mereka. Namun, tidak ada lagi keindahan yang tersisa pada musim semi itu yang dapat menghibur saya. Perasaan sedih yang mendalam menguasai saya sampai beberapa minggu berikutnya. Kematian suami saya seakan-akan ikut melumpuhkan sebagian dari diri saya dan mengubah segalanya. Tanah pertanian yang semula begitu berarti bagi kami telah dijual setelah dilelang. Tidak ada yang tersisa, kecuali rumah tempat tinggal dan saya tahu rumah itu menjadi milik saya, hanya untuk sementara saja.

Pada saat itulah, saya mulai merasa takut dan iman saya mulai goyah. Di luar, musim semi berganti dengan musim panas, tetapi dalam diri saya terdapat dinding es yang memisahkan saya dengan Tuhan dan teman-teman saya. Saya berusaha memulihkan hubungan saya dengan Tuhan, supaya saya memperoleh penghiburan dan kelegaan, tetapi sia-sia. Sekarang, setelah melihat ke belakang, saya tahu sebabnya; doa-doa saya selalu diakhiri dengan pernyataan, "Mengapa, Tuhan? Mengapa saya?"

Pada saat-saat seperti itu, saya sama sekali tidak menginginkan penghiburan dari siapa pun. Saya hanya ingin menyendiri dan "menjilati luka saya". Karena itu, saya menolak kasih dan pertolongan yang ditawarkan teman-teman saya. Dan karena itu juga, saya menutup pintu yang menuju ke kamar khusus untuk tamu, yang merupakan hasil kerja keras Bob dan saya, sehingga kamar itu menjadi nyaman untuk dihuni. Kamar itu tetap tertutup sepanjang musim panas; sekarang tidak ada lagi tamu yang meramaikan rumah kami. Saya tidak dapat menghilangkan kesedihan yang saya rasakan.

Saya mencoba mengatakan kepada Tuhan bahwa saya percaya Ia mengetahui yang terbaik. Tetapi, sebenarnya saya tidak bersungguh-sungguh mengatakannya -- saya sama sekali tidak dapat melihat apa yang terbaik dari semua pengalaman ini.

Tanpa terasa bulan Desember sudah tiba. Biasanya, Natal merupakan masa liburan yang paling berarti bagi keluarga kami. Ada suatu kegembiraan tersendiri sewaktu menebang pohon cemara yang kami tanam, aroma kayu yang khas menyebar ke seluruh rumah. Kami memaksa, merencanakan, dan menyediakan segala keperluan untuk Natal, seperti yang biasa dilakukan orang-orang di daerah pegunungan.

Tetapi, sekarang rasanya saya tidak sanggup memikirkan Natal. Bahkan, saya mengusulkan kepada ketiga anak perempuan asuh saya, supaya kami tidak menyiapkan pohon Natal tahun itu. Tetapi, usul saya menyebabkan mereka menangis dan mereka berjanji akan mempersiapkan semuanya, asalkan saya setuju. Jadi, akhirnya saya mengalah. Mereka juga minta ditemani ke perayaan Natal yang diadakan oleh komisi wanita gereja kami di rumah pendeta, dua mil di atas lembah. Meskipun enggan, saya memaksakan diri juga, demi mereka. Waktu salju mulai turun, saya berpura-pura mengatakan, "Apabila kalian memang harus pergi, saya rasa kita tinggal menyerahkan kepada Tuhan. Mungkin dengan persneling yang rendah, kita bisa sampai ke sana."

Perjalanan kami lancar dan anak-anak sangat gembira di sana. Tetapi, kehangatan tersebut tidak berhasil mencairkan hati saya yang membeku. Pesta itu selesai lebih cepat karena salju turun semakin lebat. Ketika kami hendak pulang, terdengar ketukan yang keras di pintu. Ketika nyonya rumah membukanya, tampak seorang pria muda berperawakan tinggi, wajahnya muram, sebagian tertutup salju.

"Mobil kami mogok sewaktu mendaki ke arah pegunungan," katanya, "Dan hanya cahaya lampu rumah ini yang kami lihat; jadi kami menyimpang ke sini."

Pada waktu itulah, saya melihat seorang wanita muda di belakang pria itu, wajahnya pucat ketakutan. Setelah kami mengajak mereka masuk, menawarkan kopi dan makanan, saya baru tahu wanita itu sedang hamil tua.

Pria itu baru pulang bertugas dari Vietnam dan sedang dalam perjalanan menuju posnya yang baru di California Utara, setelah menjemput istrinya di Minnesota. Berkali-kali ia mengatakan kepada kami bahwa semua barang yang mereka miliki ada di dalam mobil. Ia takut kalau-kalau terjadi sesuatu bila ditinggalkan begitu saja.

Salah seorang wanita anggota gereja kami menelepon seorang pria yang tinggal di dekat gunung, yang memiliki truk pengangkut. Ia menceritakan keadaan pasangan muda itu, dan pria itu berjanji untuk mencoba menarik mobil mereka ke sebuah garasi, yang jaraknya kira-kira enam belas mil dari tempat itu.

Ketika saya menuju dapur untuk menambah kopi, saya mendengar salah seorang wanita berkata, "Di mana mereka menginap malam ini?"

Waktu wanita itu berbicara, ia menoleh dan memandang ke arah saya. Saya tidak pernah melupakan bagaimana ia memerhatikan wajah saya. Suasana tiba-tiba menjadi hening, tetapi apa yang disampaikannya begitu jelas dan nyata. Mereka tidak mengharapkan pertolongan dari saya. Bukankah saya sudah menutup diri, bahkan terhadap teman-teman terdekat saya selama berbulan-bulan? Mereka tahu mereka tidak bisa meminta saya untuk membantu.

Padahal, saya adalah satu-satunya orang yang masih memunyai kamar kosong untuk pasangan muda itu -- kalau saja saya bersedia. Yang lainnya berkumpul bersama anak-anak atau teman-teman untuk merayakan Natal, dan rumah mereka memang tidak bisa lagi menampung pasangan muda itu. Tidak ada tempat, pikir saya.

Lalu, pada saat itu juga, Tuhan berbicara kepada saya. Dan saya tahu, untuk pertama kalinya sejak suami saya meninggal, hubungan saya dengan Dia sudah pulih kembali.

Malam ini, seperti malam yang terjadi beberapa abad yang lalu -- seorang pria muda dan istrinya yang akan melahirkan sangat memerlukan bantuan. Dan meskipun kota ini bukan Betlehem, bukankah saya sudah bertindak seperti penjaga penginapan yang menolak mereka dengan alasan "tidak ada tempat"? Padahal saya memunyai kamar untuk tamu. Memang kamar itu gelap dan sudah ditutup, tetapi sekarang hari Natal. Pasti Tuhan yang telah menuntun kedua tamu ini dari ancaman badai.

Hati saya kembali bergairah menatap kehidupan ketika saya mengiringi mereka ke dalam mobil, dan ketika saya berpaling meneriakkan "Selamat Natal" kepada teman-teman saya. Lalu, kami pulang ke rumah menembus salju yang turun dengan lebat. Kami seakan-akan berjalan menembus ke dalam kartu Natal yang indah, sewaktu sinar lampu mobil menerangi deretan pohon cemara yang tertutup salju di sepanjang jalan sempit yang kami lalui.

"Di mana-mana, malam ini adalah hari Natal, di mana-mana," kata-kata itu terus membahana dalam benak saya. Kegembiraan saya meluap-luap waktu membayangkan kamar yang siap menyambut kedua tamu kami, dan betapa senangnya kami memberi mereka tumpangan. Setelah kami sampai di rumah, saya segera membuka pintu yang menuju kamar tamu dan menyalakan lampunya. Saya melihat senyum pertama mulai merekah di wajah mereka, perasaan yang lega karena mereka memperoleh tempat yang aman, bebas dari badai, dan rasa cemas.

Tetapi sebenarnya, sayalah yang mendapat berkat karena pada waktu yang sama, saya sudah membuka pintu yang lain, pintu hati saya. Sambil berjalan, saya menyalakan lampu setiap ruangan di rumah saya, seakan-akan hendak memindahkan sebagian cahaya kasih Allah yang membanjiri diri saya ke dalam ruangan-ruangan yang suram dan tidak terawat selama ini.

Traktor salju sudah membersihkan jalan dari timbunan salju pada malam itu, sehingga mereka dapat segera melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Tetapi, suasana yang ramai dan ceria masih terus berlanjut di rumah kami setelah Natal.

Pada bulan Januari, ada sepucuk surat dari kedua tamu itu. "Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda, dan juga kamar yang sangat nyaman dan menyenangkan itu. Ini foto bayi perempuan kami yang ada dalam rahim saya pada malam bersalju di gunung itu. Kami hanya dapat melihat secercah cahaya, tetapi cahaya itu telah mengantar kami kepada Anda."

Sewaktu membaca surat itu, air mata saya menitik karena bahagia dan sambil menundukkan kepala saya berbisik, "Secercah cahaya bagi mereka, Tuhan Yesus, tetapi bagi saya seberkas cahaya yang terang, yang membuka hati saya supaya Engkau masuk dan menyembuhkan kesedihan saya."

"Tolonglah Tuhan, supaya setiap Natal dapat mendatangkan berkat seperti Natal saat itu."

Diambil dari:

Judul buku : Kisah Nyata Seputar Natal
Penulis : Betty Banner
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 27 -- 31

e-JEMMi 51/2012