Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.51 Vol.15/2012 / e-JEMMi No.51 Vol.15/2012

e-JEMMi No.51 Vol.15/2012


Kebajikan Bukan Milik Kita (Editorial Edisi 51-2012)

Shalom,

Adakalanya peristiwa dalam kehidupan membuat kita mengambil keputusan untuk "menutupi" cahaya yang kita miliki dari Kristus. Peristiwa-peristiwa yang menyisakan luka dalam hidup, sering kali mengaburkan pesan Allah untuk menjadi terang bagi dunia. Kita lebih memilih untuk menenggelamkan hidup dalam keterlukaan: menutup diri terhadap kebaikan orang lain dan juga tidak menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Tetapi, tentu saja bukan demikian maksud ujian yang diizinkan Tuhan untuk kita hadapi. Mungkin kita pernah mengalami kepahitan hidup seperti yang terjadi pada tokoh dalam kesaksian berikut ini. Kiranya kesaksian ini dapat membuat kita mengambil keputusan yang benar, saat menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Selamat membaca.

Kebajikan Bukan Milik Kita (Yohanes 3:16)

Dulu, saya adalah seorang tahanan dengan masa hukuman yang lama di suatu negara Komunis. Saya memunyai teman sesama tahanan, sejumlah besar mantan hakim dan jaksa penuntut, yang dihukum karena mereka pernah, suatu kali, mengadili orang-orang Komunis. Para hakim dan jaksa penuntut yang dulu menjatuhkan hukuman, sekarang mereka sendiri merasakan kerasnya kehidupan penjara. Mereka semua mengatakan bahwa seandainya mereka menjadi hakim lagi, mereka tidak akan pernah menjatuhkan hukuman berat yang mereka pernah jatuhkan sebelumnya. Mereka tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa tertulis lima tahun hukuman penjara di atas kertas, tidaklah sama dengan lima tahun di balik terali besi. Tidak ada seorang pun yang mau menghabiskan lima tahun di dalam penjara. Tuhan membuat setiap hari dalam penjara berbeda dan setiap menit dari setiap hari memunyai penderitaannya sendiri. Pengalaman dalam menderita, mengubah pandangan seseorang atas pertanyaan akan penghukuman.

Kamar yang Kosong

Bagi kami, kamar itu merupakan kamar yang nyaman karena kami mengubahnya dari kamar yang pengap dan gelap, karena sebelum kami pindah ke daerah pertanian di lembah ini, kami belum pernah memiliki kamar khusus untuk menerima tamu.

Suami saya dan saya senang menjamu tamu-tamu yang berkunjung. Kedua anak kami yang tertua sudah menikah dan pindah, tetapi ketiga anak perempuan asuh kami tetap membuat suasana rumah kami hidup dan gembira.

Yayasan Mercy Indonesia

==> www.imercy.org

Mercy Indonesia merupakan website dari Yayasan Mercy Indonesia. Awalnya, Yayasan ini didirikan oleh Paulus dan Marliesye Wiratno pada 10 Mei 2001, untuk menampung anak-anak yatim piatu korban kerusuhan di Timor Timur. Namun, seiring berjalannya waktu, yayasan ini terbuka untuk menampung anak-anak yatim piatu dari daerah lain juga.