Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.42 Vol.07/2004 / Jason Ma Menjangkau Mahasiswa

Jason Ma Menjangkau Mahasiswa


Enam tahun lalu, Jason Ma mengikuti perkuliahan pendahuluan untuk mata kuliah Filsafat. Tiba-tiba, Profesor yang mengajarnya bertanya "Siapa diantara kalian yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah?" Hanya Jason dan salah seorang temannya yang mengangkat tangan di dalam ruang kuliah yang dihadiri 100 orang mahasiswa tersebut. Jason tidak bisa percaya bahwa kebanyakan teman mahasiswanya tidak tahu apa yang ditawarkan Yesus kepada mereka, maka dia mulai melakukan doa keliling di universitas. Dia meminta kepada Tuhan untuk memberikan petunjuk, sehingga 28.000 mahasiswa di universitas tersebut bisa mengenal Dia. Tuhan membukakan pintu untuk Jason. Para pengurus univesitas menaruh simpati pada tujuannya dan mereka memberi izin pada Jason untuk mengadakan serangkaian program penginjilan di universitas. Ada ratusan mahasiswa yang diselamatkan.

Satu hal yang segera disadari Jason bahwa hanya sebagian kecil dari petobat baru itu yang beribadah di sebuah gereja, setelah mereka menjadi Kristen. "Sejujurnya," kata Jason, "kebanyakan gereja di sekitar universitas tidak memiliki program pelayanan untuk para mahasiswa. Belum ada gereja yang memikirkan untuk menjangkau mahasiswa. Ada beberapa mahasiswa yang bertemu untuk melakukan pendalaman Alkitab. Namun, ketika mereka lulus dari universitas, masalah itu masih tetap ada; mereka tidak bisa menemukan satu tempat untuk beribadah yang memahami kebutuhan mereka. Saya sendiri juga melihat masalah yang sama di beberapa universitas. Kebanyakan mahasiswa memandang gereja-gereja sebagai tempat yang membosankan, tidak relevan dengan kebutuhan mereka dan hipokrit. Namun, para mahasiswa itu sendiri juga tidak menyadari bahwa diri mereka sebenarnya juga merasa kosong, terluka, dan menderita. Mereka mencari kasih sejati melalui obat-obat terlarang, pesta pora, seks, dan juga nilai-nilai yang bagus. Banyak yang mengalami depresi, bahkan banyak diantara mereka yang hampir memutuskan untuk bunuh diri."

Jason mulai mendoakan bagaimana caranya ´membawa´ gereja kepada mahasiswa. Setelah melakukan banyak riset, termasuk mempelajari gerakan gereja bawah tanah di China, dia menjadi yakin bahwa "gereja sederhana" yang berorientasi pada jalinan relasi merupakan cara terbaik untuk menjangkau para mahasiswa. Dia membaca mengenai seorang gadis China berusia 18 tahun yang merintis lebih dari 100 gereja rumah dalam setahun. Gereja-gereja yang dipelajarinya di China merupakan jaringan persekutuan kecil yang beranggotakan 15-30 orang. Mereka bertemu di rumah-rumah atau di toko-toko kecil untuk mensharingkan hidup mereka sehari-hari bersama Yesus. "Jika seorang gadis China berumur 18 tahun dapat merintis 100 gereja dalam setahun di China, apakah seorang mahasiswa tidak dapat merintis beberapa persekutuan di univertas?" Jason bertanya kepada dirinya sendiri.

Dia sadar bahwa, seorang misionaris dapat memenangkan seorang mahasiswa bagi Yesus, yang nantinya mahasiswa ini akan memenangkan teman-teman di sekitarnya, sehingga terbentuklah gereja kecil. Sebuah gereja kecil tentu saja tidak bisa menjangkau berbagai macam mahasiswa, maka Jason mulai menganggap setiap kelompok mahasiswa sebagai "kelompok suku yang belum terjangkau", dan bertujuan untuk merintis sebuah gereja di setiap kelompok. Gereja-gereja baru dengan anggota 15-20 jemaat itu akan bertemu di suatu tempat, dan jika anggota mereka terus bertumbuh, mereka tidak perlu mencari tempat yang lebih besar untuk bersekutu. Kelompok yang semakin besar itu dapat dibagi menjadi beberapa kelompok dan terus bermultiplikasi. Mereka dapat bertemu di mana pun -- di asrama, apartemen, ruang reuni, kelas atau kedai kopi di seberang jalan. Kemudian Jason mulai merintis gereja- gereja di universitasnya. Mereka kemudian mengirim ´misionaris´ ke universitas-universitas lain untuk melakukan hal yang sama; Campus Church Network (CCN) telah didirikan, dimulai di San Jose State University pada tahun 1998, dan semakin berkembang.

Para misiologi membuat istilah ´10/40 Window´ untuk mendeskripsikan daerah geografis antara 10 dan 40 derajat garis lintang sebagai wilayah yang paling jarang diinjili. "´The 13/30 Window´ kemungkinan juga merupakan hal yang penting," kata Jason. Yang dimaksud dengan ´The 13/30 Window´ adalah orang-orang yang berusia antara 13-30 tahun. Kelompok umur itu berpotensi menjadi ladang tuaian terbesar bagi Injil di masa sekarang. "Kelompok tersebut sangat terbuka terhadap Injil." Survey menunjukkan bahwa 90% dari semua orang Kristen memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat sebelum mereka berulang tahun ke-25. Ini juga menjadi kelompok yang paling penting, karena mereka adalah masa depan dunia dan gereja.

Statistik menunjukkan bahwa 60% dari populasi global berusia di bawah 25 tahun; 30% atau sekitar 1,7 juta orang berusia antara 10-24 tahun. Jason mempelajari penelitian yang dilakukan oleh Barna Research Group yang menunjukkan bahwa usia 18-25 tahun merupakan kelompok yang paling jarang ke gereja. Mayoritas mahasiswa yang beribadah di gereja selama masa studi tidak lagi beribadah ke gereja setelah mereka lulus kuliah. Jason menyimpulkan bahwa "Kami sangat membutuhkan gereja baru untuk generasi baru, karena bentuk gereja tradisional kurang bisa menjangkau para mahasiswa di Amerika. Para pemuda post-modern tidak lagi mengetahui standar, tidak percaya pada apa pun dan ingin mencari Tuhan dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak hanya ingin duduk diam di gereja dan mendengarkan seseorang berkotbah. Namun, mereka juga ingin menerapkan iman mereka. Menurut Jason, "Itu tidak membutuhkan komite baru, akan tetapi sebuah revolusi."

Motto Jason adalah "Memulai suatu revolusi berarti memulai sebuah gereja kampus!" Pada Situs Campus Church Networks (CCN), dia menulis "Setiap revolusi dimulai oleh seorang yang revolusioner. Apakah Anda siap menjadi salah satunya? Apakah sudah ada gereja kampus di universitas Anda? Jika belum, maka Anda harus memulainya ...." Campus Church Networks adalah gerakan perintisan gereja yang dilakukan oleh para mahasiswa. CNN menantang sekaligus melatih para mahasiswa untuk merintis gereja-gereja bagi suatu generasi baru di setiap universitas yang ada di dunia.

[Sumber dan informasi: Jason Ma
==> http://www.campuschurch.net/ Link tidak bisa digunakan < Juni 2012 >
==> <info@campuschurch.net> ]

Bahan diterjemahkan dari FridayFax, Edisi September 30, 2004

e-JEMMi 42/2004