Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.07 Vol.15/2012 / e-JEMMi No.07 Vol.15/2012

e-JEMMi No.07 Vol.15/2012


Konsep Misi Dalam Injil dan Kisah Para Rasul 2 (Editorial Edisi 07-2012)

Shalom,

Sebagai lanjutan dari artikel minggu lalu, maka e-JEMMi edisi 07 akan melanjutkan pembahasan dengan menyajikan konsep misi dalam Injil dan Kisah Para Rasul. Kiranya Artikel yang kami sajikan ini memberkati Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Konsep Misi Dalam Injil dan Kisah Para Rasul 2

Pesan-pesan Injil yang sulit mengarahkan Albert Schweitzer pada kesimpulan bahwa pada awal pelayanan Yesus, Ia percaya pada dekatnya masa parousia, keselamatan besar Israel dan dunia, dan kemudian, ketika Dia amat kecewa pada pengharapan-Nya, Dia bersiap untuk penderitaan besarnya, yang pada suatu tingkat terus menanjak dan dianggap tak terhindarkan. Ini bukanlah tempat untuk masuk dalam pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita merujuk pada studi penting yang dilakukan H.N. Ridderbos, "The Coming of the Kingdom". Ridderbos menunjuk bahwa ada dua arah yang harus dibedakan dalam nubuatan Yesus, yang satu bermuara pada parousia dan yang lain pada penderitaan dan kematian-Nya. Awalnya, para murid-Nya tidak memahami hal ini, dan mulanya Yesus juga tidak menolong kesulitan mereka untuk memahaminya. Yesus sering menyatakan dengan gamblang, bahwa kedatangan-Nya menandai terjadinya hal-hal yang terakhir, bahwa berbagai nubuatan mulai digenapi, namun secara bertahap Yesus mulai membuka mata murid-murid-Nya pada kenyataan yang sangat besar dan bahwa hal-hal yang mengerikan harus terjadi terlebih dahulu. Kerajaan Allah tentu saja berada di tangan Yesus Kristus; dalam Yesus Kristus, Kerajaan Allah telah turun ke dalam dunia dan tanda-tandanya telah nyata di mana-mana. Namun, kerajaan ini tidak dapat datang dalam perwujudannya yang penuh, karena kenyataan yang membuat tawar hati tentang penderitaan dan kematian-Nya yang semakin dekat haruslah terjadi lebih dulu.

Afganistan Tahun 2012

M harus menanggung hukuman mati karena ia telah meninggalkan agamanya yang lama dan menjadi pengikut Kristus.

Sembari dipukuli dan diperlakukan kasar, M terus berdoa dan menulis surat-surat. Dalam suratnya yang terakhir (13 Februari 2011), M yang telah diamputasi kakinya, ayah dari 6 anak ini mengatakan bahwa perwakilan dari kedutaan di Kabul mengunjunginya saat ia berada dalam penjara dan menawarkan suaka. Tetapi sesaat setelah mereka pergi, ia dipindahkan ke ruangan lain, di mana para petugas mencoba memaksanya untuk menyangkal imannya. Mereka berjanji akan membebaskannya dalam jangka waktu satu kali dua puluh empat jam setelah ia melakukan penyangkalan.