Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.21 Vol.08/2005 / Dalam Sepatu Penginjilan

Dalam Sepatu Penginjilan


Jika saya harus mengatakan sesuatu tentang perjalanan penginjilan kami ke Kenya, saya akan mengatakan bahwa perjalanan tersebut terlalu singkat. Walaupun perjalanan selama satu minggu pada Juni 2000 itu sangat singkat, perjalanan itu memberikan dampak bagi saya dan orang lain yang tergabung dalam kelompok penginjilan kami, yang terdiri dari dua saudari, satu saudara dari Skotlandia, dan tiga saudara dari Singapura.

KISUMU

Jenis Kapel yang Berbeda

Pada hari Sabat pertama kami di Kenya, kami menempuh jarak lima jam bermobil dari ibukota Nairobi, ke sebuah kota bernama Kisumu. Di Kisumu ada beberapa jemaat, tetapi belum ada gedung gereja, jadi mereka mengadakan kebaktian di sebuah sekolah.

Separuh kelompok ditinggal untuk berkebaktian di Kisumu, sementara separuh lainnya pergi ke dua desa lainnya, Alunga dan Bunde, untuk mengadakan kebaktian. Saya senang berada di kelompok kedua sebab apa yang saya lihat sungguh adalah pembuka mata. Saya melihat bahwa di area ini kebaktian di dalam rumah-rumah dari lumpur dan di bawah pepohonan bukanlah hal yang tidak biasa. Desa Alunga mempunyai sebuah kapel, tapi bangunannya yang kecil hanya berupa susunan rangka kayu yang bagaimanapun tidak dapat melindungi dari hujan. Di Desa Bunde kami mengadakan kebaktian di bawah pepohonan rindang. Tapi entah itu kayu atau daun, Tuhan berbaik hati memberikan langit yang cerah di atas kepala kami.

Keramahtamahan Saudara Kita

Setelah kebaktian di Alunga dan Bunde, beberapa saudara mengundang kami ke rumah mereka. Mereka menawari kami ugali (makanan yang terbuat dari tepung jagung), nasi, kari, dan teh. Orang-orang di Afrika biasanya makan hanya dua kali sehari. Makanan pokoknya terdiri dari ugali, nasi, daging kambing, ayam, dan ikan.

Seperti kebanyakan rumah-rumah di Afrika, rumah mereka dibuat dari lumpur, dengan atap dari jerami atau seng. Herannya, seni membangun rumah lumpur ini juga merupakan teknologi. Lumpur dipadatkan di sekeliling sebuah rangka kayu untuk membentuk dinding, lalu kotoran sapi diratakan pada dinding dan lantai. Kombinasi unik lumpur dan kotoran sapi ini dapat menahan unsur-unsur alam yang keras dan herannya, dapat mengusir nyamuk.

Mujizat Turunnya Hujan

Ketika kami tiba di Kenya, negeri itu telah menderita kekeringan selama lima bulan. Kemarau itu cukup serius sehingga pemerintah mengumumkannya sebagai bencana nasional. Ketika kelompok penginjilan kami mengetahui tentang kekeringan ini, setiap kali berdoa, kami bersama-sama saudara-saudari Afrika dengan sungguh-sungguh memohon agar hal itu segera berakhir.

Waktu bersepeda keluar dari Bunde, orang Afrika yang mengendarai sepeda saya (saya duduk di belakangnya) menjelaskan kesulitan- kesulitan yang disebabkan oleh kekeringan ini. Dia menyebutkan terjadinya kekurangan makanan yang dihadapi oleh penduduk desa dan bagaimana usaha-usaha yang dilakukan untuk meningkatkan panen itu akhirnya sia-sia saja. Hampir sepanjang waktu itu saya hanya bisa mendengarkan ceritanya dalam kebisuan, merasakan iba yang memilukan hati terhadap jiwa-jiwa malang ini.

Tak disangka-sangka, dalam perjalanan meninggalkan desa ini, hujan mulai turun! Ini sungguh merupakan mujizat dan peringatan bagi kita bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Peristiwa unik ini mengingatkan saya pada 2Tawarikh 7:14, yang berbunyi: "Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka."

KILGORIS

Transportasi

Pada hari Minggu, kelompok penginjilan kami pergi ke kota kecil lain bernama Kilgoris.

Di Kenya kami biasanya bepergian dengan bis, truk, mobil, sepeda, atau taksi (biasanya hanya di Nairobi). Sepeda adalah alat transportasi umum di pedesaan, dan perjalanannya memakan waktu antara setengah sampai satu jam. Kami tidak mengayuh, tetapi duduk sebagai penumpang di belakang pengendara sepeda. Saya merasa kasihan terhadap orang-orang ini karena mereka bekerja begitu keras, namun menerima upah begitu sedikit.

Transportasi di Afrika umumnya tidak efisien; pengemudi sering menunggu sampai kendaraannya penuh baru berangkat, dan kadang-kadang acara menunggu ini dapat berlangsung sampai dua atau tiga jam. Kami baru tiba di Kilgoris pada Minggu malam.

Kunjungan ke Rumah Sakit

Tugas utama kami di Kilgoris adalah penginjilan karena di sana belum ada jemaat yang dibaptis.

Pada hari Minggu kami mengunjungi sebuah rumah sakit di Kilgoris yang menyediakan layanan pengobatan dengan biaya ringan kepada penduduk desa yang sakit. Dua dokter (suami dan istri) mengelola rumah sakit ini, dengan bantuan beberapa perawat penuh waktu. Mereka kekurangan peralatan medis dan tempat tidur, jadi mereka menerima peralatan bekas dari negara-negara yang lebih maju dan sedapat mungkin memanfaatkan apa yang mereka miliki agar dapat menolong semua pasien. Menurut ukuran kami rumah sakit tersebut peralatannya menyedihkan, namun menurut ukuran mereka sudah cukup mewah.

Di rumah sakit itu kami mengadakan kebaktian pekabaran Injil, puji- pujian, dan kunjungan dari bangsal ke bangsal. Dalam kunjungan kami ke setiap pasien, kami khusus berdoa untuk penyakit masing-masing orang dengan bahasa akal, berharap agar mereka juga dapat belajar berbicara kepada Tuhan melalui doa. Kadang-kadang, kami menyanyikan satu atau dua kidung pujian, dan banyak pasien yang bernyanyi dan berdoa bersama kami.

Walaupun kebanyakan orang tidak memperlihatkan rasa sakit dan penderitaan mereka, Anda dapat melihatnya dalam mata mereka sewaktu Anda berbicara dan bernyanyi bersama mereka. Mereka tampak begitu tidak berdaya dalam penderitaan mereka, Anda dapat merasakan bahwa mereka sedang mencari secercah harapan yang samar-samar dalam kehidupan mereka. Kami berharap bahwa melalui doa dan melalui kuasa Tuhan, orang-orang ini dapat menyadari kebutuhan mereka akan Tuhan dan entah bagaimana menjangkau dan menemukan Dia.

Kebaktian dengan Cahaya Pelita

Malam itu kami mengadakan kebaktian di rumah seorang wanita yang sudah percaya, tetapi belum menyampaikan kesaksian bagaimana anugerah Tuhan turun ke atas dirinya sejak dia percaya kepada Yesus Kristus. Puji Tuhan, banyak yang datang untuk mencari kebenaran pada malam itu.

Karena listrik dan air merupakan kemewahan bagi kebanyakan orang Afrika, kami hanya punya satu lampu minyak tanah kecil sebagai sumber penerangan di rumah yang gelap itu. Lampu itu diletakkan di tengah ruangan, hampir-hampir tidak memberikan cahaya yang cukup bagi setiap orang untuk melihat pembicara. Membaca dengan penerangan seperti ini hampir tidak mungkin dilakukan, jadi para pembicara harus menggunakan senter kecil untuk membaca ayat-ayat Alkitab.

Dalam rumah ini, saya memikirkan perbedaan antara kehidupan di kota yang kaya dan kehidupan di pedalaman Afrika. Kehidupan di Afrika berjalan dalam alur yang lebih lambat; tidak ada kesibukan gila- gilaan seperti kehidupan kota, dan hampir setiap orang tidur lebih awal. Mungkin inilah sebabnya mengapa tidak dirasakan adanya kebutuhan akan lampu listrik yang terang di rumah-rumah. Saya merasa bahwa orang-orang ini diberkati karena kehidupan mereka yang sederhana membuat mereka dapat memiliki iman yang lebih sederhana kepada Tuhan. Mungkin perhatian mereka tidak dialihkan oleh banyaknya kemewahan dan kekuatiran dunia, seperti yang kadang kala kita alami.

Anak-anak

Di Kilgoris dan sepanjang perjalanan, saya mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan anak-anak Afrika. Anak-anak ini sangat menawan dan bersahabat, dan mereka sungguh-sungguh dapat meluruhkan hati Anda. Saya melihat bahwa mereka sangat berbeda dari anak-anak di negara-negara maju, anak-anak Afrika lebih murni dan sederhana. Hal ini membuat saya memikirkan perasaan Yesus ketika Dia menggendong seorang anak kecil dan berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:3)

Anak-anak ini juga mengingatkan saya akan pentingnya pendidikan agama. Membantu mereka belajar tentang Juruselamat selagi mereka masih muda dapat membentuk mereka menjadi orang dewasa yang takut akan Tuhan. Hampir semua tempat yang kami kunjungi punya kelas-kelas terpisah untuk anak-anak, tetapi masih sangat membutuhkan banyak guru pendidikan agama dan pemimpin pujian.

Menginjili Kepala Suku

Pada hari Selasa kami mengunjungi kepala desa suku Masai dan mengadakan kebaktian pekabaran Injil kecil di rumahnya. Saya melihat ada warga suku yang mengenakan seragam perang suku Masai dan membawa tombak, busur, dan anak panah. Mereka selalu berjaga-jaga, siap untuk melindungi tanah dan ternak mereka dari usaha pencurian yang kadang-kadang dilakukan suku tetangga. Ini menggambarkan betapa tidak stabilnya kehidupan di pedalaman Afrika.

PULANG KE RUMAH

Pada hari Rabu kami mengunjungi Teluk Kendu. Ada rencana untuk membangun gereja di sana. Kami bertemu dengan pengurus gereja setempat untuk memberikan beberapa petunjuk mengenai rencana pembangunan gereja, juga tentang masalah-masalah administrasi lainnya.

Setelah Teluk Kendu, kami menempuh perjalanan kembali ke Kisumu. Di sana kami berpisah dengan seluruh rombongan dan mengarah kembali ke Nairobi. Pada hari Kamis siang, kami bertiga dari Singapura mengejar pesawat pulang ke rumah. Kami hanya menghabiskan satu minggu dalam pekerjaan nyata penginjilan, dan ini pasti terlalu singkat.

ALAMILAH SENDIRI

Selama perjalanan, kami tinggal di hotel-hotel yang dipenuhi serangga dan sering kekurangan air dan listrik. Air mandi, kadang- kadang, diambil dari sumur, dan ada satu tempat yang tidak punya toilet. Tapi di tengah kondisi seperti itu, saya mendapatkan beberapa pelajaran berharga dari perjalanan ini.

Kemiskinan orang-orang Afrika adalah pemandangan yang tak akan saya lupakan. Setelah dihadapkan pada kemiskinan luar biasa seperti ini, saya jadi lebih menghargai berkat-berkat Tuhan dalam kehidupan saya. Hal ini membantu saya untuk memahami dan berempati terhadap orang- orang yang berjuang melawan kemiskinan.

Melihat betapa berbedanya cara hidup orang-orang dan berpikir dalam pola pikir budaya yang lain telah membantu meluaskan cakrawala pikiran saya. Saya belajar bahwa dalam usaha mengajarkan tentang Tuhan kepada orang lain, kita tidak dapat selalu menggunakan cara yang sama, khususnya dalam budaya lain dan negara lain. Yang terpenting, saya melihat betapa orang-orang ini sungguh sangat membutuhkan Tuhan. Ada begitu banyak orang yang menderita, dan hanya Tuhan Yesus Kristus yang dapat melepaskan mereka.

Saya sungguh bersyukur karena Tuhan memberi saya kesempatan untuk berjalan dalam sepatu penginjilan walaupun hanya sebentar. Jika Anda tertarik untuk melayani Tuhan dalam pekerjaan penginjlan, dan pada saat yang sama mendapatkan beberapa pelajaran penting, saya sangat menganjurkan agar Anda mengalami sendiri kesempatan ini.

Kiranya segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus.

Sumber diedit dari:

Judul Artikel : Dalam Sepatu Penginjilan
Penulis : Joshua Koh
Penerbit : Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati, 2004
Halaman : 35 -- 40

e-JEMMi 21/2005