Tokoh Misi

Ada yang menuai karena ada yang menabur. Sama seperti gereja-gereja dan lembaga-lembaga misi yang saat ini ada karena ada orang yang bersedia meninggalkan zona kenyamanan, menyingsingkan lengan, dan bekerja keras agar firman Tuhan sampai ke ujung bumi. Lewat tokoh-tokoh misi yang kami hadirkan kepada Anda, kiranya dapat menjadi motivasi pelayanan Anda.

Clarence W. Jones

(Tokoh Penerjemah Alkitab pada Abad ke-20)

Salah seorang individu yang paling memberi pengaruh besar dalam gebrakan penerjemahan Alkitab pada abad ke-20 adalah William Cameron Townsend -- pendiri Wycliffe Bible Translators (WBT) dan Summer Institute of Linguistics (SIL). Cam Townsend adalah seorang pribadi yang berkeyakinan tinggi, dan memiliki sifat kepemimpinan yang tegas dalam kedua organisasi tersebut dan juga dalam memimpin JAARS (Jungle Aviation and Radio Service). Ketegasan itu seringkali mengakibatkan terjadinya kontroversi. Billy Graham menyebutnya sebagai "the greatest missionary of our time," dan pada saat kematiannya di tahun 1982, Ralph Winter (dari United States Center for World Mission) menempatkannya sebagai salah seorang misionaris yang paling menonjol selama dua abad terakhir ini -- sejajar dengan William Carey dan Hudson Taylor.

Cam Townsend, demikian dia sering dipanggil, lahir di California pada tahun 1896 saat kondisi perekonomian buruk. Pada waktu masih muda ia hidup dalam kemiskinan. Cam dibesarkan dalam lingkungan Gereja Presbiterian (the Presbyterian Church). Dia kuliah di Occidental College, sebuah sekolah Presbiterian di Los Angeles. Memasuki tahun kedua kuliahnya, Cam bergabung dalam Student Volunteer Movement. Pada masa kuliahnya, The Bible House of Los Angeles membutuhkan salesman Alkitab untuk wilayah Amerika Latin dan Cam merasa tertarik. Dia melamar pekerjaan itu dan diterima. Cam ditugaskan di wilayah Guatemala dan berangkat pada bulan Agustus 1917 bersama dengan seorang temannya. Menjual Alkitab di Amerika Tengah -- dimana Alkitab sangat sulit diperoleh -- secara sekilas tampak seperti melakukan pelayanan yang menjanjikan. Namun akhirnya Cam menyadari bahwa usahanya itu ternyata sia-sia saja. Wilayah kerjanya kebanyakan di daerah-daerah pinggiran yang dihuni oleh sekitar 2000 orang Cakchiquel Indian yang sama sekali tidak dapat memahami Alkitab dalam bahasa Spanyol yang dijualnya. Bahkan kelompok orang Indian itu sama sekali belum memiliki bahasa tulis. Saat Cam melakukan perjalanan di daerah-daerah tersebut, dia mulai terbiasa mendengarkan bahasa tutur yang dipakai orang-orang Indian itu. Cam merasa terbeban dengan keadaan mereka. Suatu saat salah seorang dari orang Indian itu berkata padanya, "Jika Allah yang kau sembah benar-benar pintar, mengapa Dia tidak mau mempelajari bahasa kami?"

Cam Townsend tertantang dengan pertanyaan itu dan selanjutnya dia mendedikasikan 13 tahun hidupnya untuk tinggal bersama dengan suku primitif Cakchiquel Indian. Tujuannya yang utama adalah mempelajari bahasa yang mereka gunakan, menyalinnya dalam bentuk tulisan, dan akhirnya yang paling penting adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa tersebut. Setelah bekerja keras selama 10 tahun, akhirnya pada tahun 1929, Cam berhasil menyelesaikan terjemahan Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Cakchiquel Indian. Penerjemahan tersebut memantapkan keyakinan Cam akan pentingnya proyek penerjemahan Alkitab. Cam berkeinginan untuk terus menerjemahkan Alkitab bagi suku-suku yang belum memiliki bahasa tulis. Namun Central American Mission menyatakan bahwa sudah menjadi tugas Cam bahwa ia harus tetap tinggal di wilayah Cakchiquel Indian dan memelihara pertumbuhan iman mereka. Karena perbedaan pendapat tersebut, akhirnya Cam mengundurkan diri. Pada tahun 1934 bersama dengan L.L. Legters mendirikan Cam Wycliffe di Arkansas -- cikal bakal dari Summer Institute of Lingusistics (SIL). Kedua orang tersebut memberi perhatian khusus tentang pelatihan linguistik bagi para penerjemah Alkitab. Meskipun tidak terlibat secara langsung sebagai organisasi misi, namun SIL memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kemajuan dunia penginjilan.

Meskipun SIL memegang peran penting dalam proyek penerjemahan Alkitab, namun bentuknya sebagai organisasi sekuler (dengan tujuan agar dapat menjalin hubungan-hubungan yang baik dengan pemerintah asing) tidaklah sesuai sebagai organisasi pendukung misi. Karena itu pada tahun 1942, Wycliffe Bible Translators -- namanya diambil dari John Wycliffe, penerjemah Alkitab pada abad ke-14 yang dikenal sebagai "The Morning Star of the Reformation" -- secara resmi didirikan.

Bersama dengan Elaine -- istri keduanya (istri pertama Cam, Elvira Malmstrom, meninggal pada tahun 1944) -- Cam melakukan pelayanan di Peru selama 17 tahun, tempat dimana keempat puteranya dilahirkan. Mereka terus melanjutkan pelayanan dan merintis pelayanan di Colombia. Meskipun Cam dikenal sebagai seorang misionaris yang besar, namun dia tetap menganggap dirinya sebagai seorang penerjemah Alkitab. Sesudah melayani selama 50 tahun, saat dimana kebanyakan orang mulai memikirkan tentang pensiun, Cam mempersiapkan diri untuk pergi melayani bersama Elaine ke Uni Soviet. Setelah mempelajari bahwa ada sekitar 100 bahasa tutur di wilayah Caucasus -- dan belum ada terjemahan Alkitab dalam sebagian besar bahasa-bahasa itu -- maka Cam memutuskan untuk melibatkan diri mulai dari awal dalam proyek penerjemahan Alkitab untuk wilayah Caucasus. Jadi, pada umur 72 tahun, Cam bersama Elaine mempelajari bahasa Rusia selama beberapa jam setiap harinya. Setelah persiapan awal itu selesai dilakukan, mereka berangkat ke Caucasus.

Dalam seluruh kehidupannya, ada satu filosofi yang memotivasi Cam dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Alkitab: "The greatest missionary is the Bible in the mother tongue. It never needs a furlough, is never considered a foreigner." ('Misionaris' terhebat adalah Alkitab dalam bahasa ibu/bahasa yang dipahami penduduk setempat. 'Misionaris' ini tidak perlu cuti dan tidak pernah dianggap orang asing.) Filosofi dari Cam inilah yang menjadikan WBT/SIL dan JAARS dapat berkembang sampai saat ini.

Diterjemahkan dan diringkas dari salah satu artikel di:
Judul Buku: From Jerusalem to Irian Jaya
         -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Halaman : 351 - 357

e-JEMMi 08/2002

D.L. Moody

Dwight L. Moody dilahirkan di Northfield, Massachusetts, pada tanggal 5 February 1837 dari pasangan Edwin Moody dan Betsey Holtom. Ayahnya bekerja sebagai seorang tukang batu. Ayahnya meninggal saat Moody masih kecil dan dalam masa kesusahan mereka. Sejak itu ibunyalah yang bekerja keras membanting tulang untuk membesarkan anak-anaknya menjadi orang-orang dewasa yang baik.

Masa kecil Moody dilalui sebagaimana anak-anak kecil lain di tempatnya. Ia bersekolah, dan pada musim panas ia bekerja untuk menggembalakan lembu tetangganya dengan upah satu sen sehari. Moody merupakan anak yang periang dan humoris, tapi juga terkadang nakal dan menjadi pengacau di kelasnya. Sampai suatu saat Moody berhadapan dengan gurunya yang menegur perbuatan Moody dengan kasih dan teguran itu membuat Moody menyadari kesalahannya.

Moody kecil tidak terlalu berminat terhadap masalah agama, tetapi ibunya Betsey selalu tekun mengajar anak-anaknya untuk berdoa dan menepati janji. Dari masa kecilnya tidak ada tanda atau peristiwa yang menunjukkan bahwa Moody akan dapat berbuat demikian mengagumkan di kemudian hari.

Saat beranjak dewasa ia pindah ke Boston untuk bekerja di perusahaan sepatu pamannya sebagai pelayan toko. Ia memiliki cita-cita untuk menjadi pengusaha yang sukses dan mulai belajar seluk beluk perusahaan. Di kota inilah ia mulai mengalami pertumbuhan rohani ketika berjemaat di Gereja Mount Vernon. Pada tanggal 20 September 1856 Moody pindah ke Chicago untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan untuk mengikuti bimbingan Allah. Pekerjaannya tidak jauh dari pekerjaan sebelumnya yakni di toko sepatu. Ia suka sekali bersosialisasi dengan orang-orang baru terutama orang-orang yang merantau.

Ia pun memulai pelayanannya dengan membagi-bagikan brosur dan selebaran serta mengajak orang-orang untuk menghadiri kebaktian gereja. Ia juga membuka Sekolah Minggu dengan tujuan untuk menyelamatkan anak-anak di bagian kota yang buruk. Banyak anak nakal yang tadinya menentangnya diajaknya bergabung dan mereka menuruti ajakannya dan bertobat. Pekerjaannya pun juga semakin membaik.

Moody mulai berkonsentrasi penuh dalam melayani Tuhan, di tahun 1860 ia mengambil keputusan untuk meninggalkan bisnisnya. Ia mulai mengadakan kebaktian-kebaktian minggu malam untuk anak-anak dan bergabung dengan Young Men's Christian Association (YMCA) di Chicago. Pelayanannya pun semakin berkembang dan untuk menampung kebaktian orang-orang yang dilayaninya ia mendirikan Illinois Street Church.

Pada masa perang saudara meletus, Moody juga terjun memberitakan Injil ke kemah-kemah prajurit dan mengadakan kebaktian-kebaktian. Sampai- sampai ada resimen yang disebut resimen YMCA karena terdiri dari orang-orang Kristen yang taat.

Pelayanannya ke Inggris dimulai pada tahun 1867 dan ia mengunjungi beberapa tempat di sana serta Irlandia. Di tempat inilah Moody bertemu dengan seorang pendeta muda bernama Harry Moorehouse yang meminta Moody agar diijinkan untuk berkhotbah di gerejanya di Chicago. Awalnya Moody menilai bahwa pemuda tersebut belum cakap dalam berkhotbah tapi pada akhirnya ia mengijinkan Harry untuk berkhotbah di gerejanya. Ternyata tidak seperti yang dipikirkannya Harry mampu membawakan khotbahnya dengan sangat mengesankan selama tujuh hari berturut-turut dari pasal yang sama Yohanes 3:16 dengan pewahyuan yang selalu baru. Hal ini mengubah cara Moody berkhotbah dan dia semakin rajin menyelidiki Alkitab.

Dalam pelayanannya banyak orang yang membantu Moody, termasuk Ira D. Sankey seorang yang memiliki talenta dalam menyanyi, yang tadinya sudah bekerja sebagai pegawai negeri di bidang pajak. Kemudian ia diajak Moody untuk full time sebagai pemimpin pujian dalam pelayanannya. Sankey meminta waktu untuk berpikir dan akhirnya menerima tawaran tersebut. Bersama-sama mereka menjadi pasangan yang luar biasa dalam mengabarkan Injil.

Tanggal 8 Oktober 1871 terjadi kebakaran besar di Chicago. Illinois Street Church dan Farewell Hall tempat Moody melayani selama bertahun- tahun turut terbakar. Namun Moody tidak putus asa. Ia segera mencari dukungan dari berbagai pihak untuk menolong para korban kebakaran dan gerejanya. Bantuan pun segera mengalir dari berbagai pihak, usahanya tidak sia-sia karena 2,5 bulan kemudian didirikan bangunan sementara yang letaknya tak jauh dari bangunan terdahulu dan dinamakan North Side Tabernacle. Semakin banyak orang datang ke kebaktian yang diadakannya di tempat tersebut.

Tahun 1873-1875, D.L. Moody kembali mengunjungi Inggris, dan mengunjungi kota-kota yang ada di sana. Di setiap tempat yang ia kunjungi beratus-ratus orang bertobat dan diselamatkan. Banyak surat kabar merekam peristiwa kebaktian yang dipimpin oleh D.L. Moody. Ia juga selalu melibatkan hamba-hamba Tuhan lokal dari berbagai aliran untuk membantu pelayanannya.

Khotbahnya yang terakhir adalah di Kansas, Missouri, di gedung Convention Hall yang berkapasitas 15.000 orang. Ia berkhotbah dari Lukas 14:16-24 tentang perumpamaan orang-orang yang berdalih. Setelah itu Moody jatuh sakit dan tidak bisa melanjutkan pelayanannya. Kemudian ia pulang kembali ke kotanya Northfield untuk beristirahat. Di kotanya inilah Moody menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan membawa kedamaian surgawi pada tanggal 22 Desember 1899. Dia menorehkan kenangan manis bagi keluarganya dan setiap orang yang pernah dilayaninya.

Sumber:
Judul Buku: Riwayat Hidup D.L. Moody
Penulis : AP. Fitt
Penerbit : Christian Literature Crusade


Don Richardson dan Suku Sawi Di Irian Jaya

Salah satu dari ahli teori misi praktis yang telah menarik banyak minat di dunia Barat adalah Don Richardson. Bukunya "Peace Child" (Anak Perdamaian) dan "Lords of the Earth" (Para Penguasa Bumi) yang ditujukan bagi orang-orang Kristen awam ini menyajikan tentang kerumitan dalam mengkomunikasikan Injil secara lintas budaya kepada orang-orang non-Kristen, khususnya suku- suku yang jauh dari peradaban barat. Mungkin lebih dari misionaris lainnya di Amerika, dia bisa menarik baik orang awam maupun para ahli misiologi.

Prinsipnya tentang "Redemptive Analogy" (Analogi Penebusan) -- penerapan tentang prinsip keselamatan ke dalam budaya lokal -- telah menyebabkan antusiasme dan debat dalam siklus misiologi semenjak dia menjelaskan prinsip tersebut di sebuah seminar di Dallas Theological Seminary tahun 1973. Sejak saat itu pengaruhnya telah berkembang melalui buku-buku dan artikel-artikel yang ditulisnya, konferensi yang diadakannya, pembuatan film "Peace Child", dan asosiasinya dengan U.S. Center for World Mission di Pasadena.

Dalam sebuah kebaktian di Prairie Bible Institute tahun 1955, Don Richardson, seorang pemuda yang saat itu masih berusia 20 tahun, menjawab panggilan untuk terlibat dalam pelayanan misi ke luar negeri. Panggilan yang dijawabnya ini bukanlah panggilan yang masih samar-samar -- untuk pergi ke "suatu tempat" yang belum jelas -- tetapi merupakan panggilan yang penuh kepastian untuk melayani suku- suku pengayauan (pemburu kepala manusia) di Netherlands New Guinea (sekarang Irian Jaya), dimana kekejaman merupakan cara hidup suku-suku tersebut. Banyak orang menghadiri kebaktian di Prairie Bible Institute tsb. dan mendengar khotbah dari Ebenezer Vine yang berusia 71 tahun dari "Regions Beyond Missionary Union" (RBMU). Prairie Bible Institute telah cukup terbiasa melihat sebagian besar lulusannya terpanggil untuk melayani di luar negeri. Di antara lulusan yang memiliki keputusan yang sama dengan Don pada saat itu adalah Carol Soderstrom, seorang gadis cantik dari Cincinnati, Ohio, yang lima tahun kemudian menjadi istri Don.

Tahun 1962, sesudah menyelesaikan kursus di Summer Institute of Linguistics dan menunggu kelahiran anak pertama mereka, Don dan Carol berlayar menuju New Guinea, dimana mereka bergabung dengan pelayanan misionaris RBMU sampai mereka ditugaskan untuk melayani suku yang ditunjuk -- suku Sawi, salah satu suku yang memiliki budaya yang merupakan gabungan antara kanibalisme dan pengayauan. Sangat berbahaya! Tidak hanya penduduknya yang menakutkan, wilayah yang didiami suku Sawi juga merupakan tempat yang menakutkan sebagai tempat tinggal bagi istri dan anaknya yang masih berusia tujuh bulan. Namun Don tidak pernah meragukan panggilannya.

Sudah cukup beban bagi Don dan Carol untuk memikirkan ketakutan akan tempat dan penyakit berbahaya yang ada di sini. Namun mereka akan bertambah takut jika mereka tidak segera menguasai bahasa suku Sawi. Hal itu merupakan pergumulan terberat bagi mereka. Meskipun merasa "otaknya serasa mengecil" dalam proses pembelajaran bahasa itu, Don mengatur jadwalnya untuk belajar bahasa Sawi selama 8 - 10 jam sehari supaya akhirnya ia dapat menjadi komunikator yang fasih dalam bahasa Sawi.

Saat Don mempelajari bahasa Sawi dan semakin mengenal penduduk Sawi, dia mulai menyadari adanya rintangan-rintangan yang dihadapinya untuk mengenalkan kekristenan kepada mereka. Jurang yang memisahkan antara kekristenannya yang alkitabiah dengan keganasan suku Sawi tampaknya terlalu sulit untuk dijembatani. Bagaimana mereka dapat menceritakan tentang Juruselamat yang maha kasih, dan yang bersedia mati bagi mereka? Penghalang-penghalang komunikasi tampaknya susah diatasi sampai Don menemukan "Redemptive Analogy" (Analogi Penebusan)-- konsep dari suku Sawi mengenai "Peace Child" (Anak Perdamaian).

Dalam budaya mereka, suku Sawi telah menemukan cara untuk membuktikan ketulusan niat dan membangun perdamaian. Sebelumnya, suku Sawi selalu mencurigai segala pernyataan yang dilakukan untuk menjalin persahabatan, kecuali untuk satu pernyataan: Jika seorang pria bersedia menyerahkan anak laki-lakinya kepada para musuhnya, maka pria itu dapat dipercaya. Analogi Anak Perdamaian inilah yang dipakai Don untuk menunjukkan kepada suku Sawi bahwa Allah adalah seorang Bapa yang bersedia mengorbankan putra-Nya sendiri.

Anak Perdamaian ini sendiri tidak dapat menyelesaikan semua rintangan komunikasi untuk memahami Kekristenan. Oleh karena itu Don dan Carol mencari analogi-analogi lain yang dapat dipakai untuk bersaksi. Juga sebagai seorang perawat, Carol menolong hampir sebanyak 2.500 pasien setiap bulannya. Melalui kesabaran mereka berdua, lambat laun suku Sawi mulai mengenal Kekristenan. Don, dengan bantuan Carol, mulai menerjemahkan Perjanjian Baru dan mengajar suku Sawi untuk membaca.

Tahun 1972, setelah satu dekade melayani suku Sawi, banyak terjadi perubahan. Rumah pertemuan yang biasa dipakai untuk beribadah diperluas. Don menyarankan untuk membuat "Sawidome" -- sebuah rumah yang dapat menampung sedikitnya 1000 orang. Rumah ini menjadi "rumah perdamaian bagi mereka yang dulu saling bermusuhan."

Setelah menyelesaikan penerjemahan Perjanjian Baru, Don Richardson dan keluarganya meninggalkan suku Sawi dan menyerahkannya di bawah pengawasan para penatua gereja mereka dan John serta Esther Mills, pasangan misionaris lainnya yang melayani suku Sawi.

Diterjemahkan dan diringkas dari sumber:

Judul Buku: From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Judul Bab : New Methods and Strategy: Reaching Tomorrow's World
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Academie Books, 1983
Halaman : 481 - 485


Cat. Red.:
Informasi mengenai konsep "Redemptive Analogies" (Analogi Penebusan) dari Don Richardson yang menjelaskan tentang beberapa cara pemahaman budaya yang sering kali bisa dipakai untuk mengabarkan Injil pernah ditampilkan dalam arsip e-JEMMi edisi 040/2000 di alamat:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-jemmi/2000/40/

Anak "Anak Perdamaian" dari Don Richardson sekarang terlibat aktif dalam organisasi "Pioneers International Missions". Simak informasi tentang organisasi tersebut dalam kolom Sumber Misi berikut ini.

e-JEMMi 47/2002

Elizabeth "Betty" Greene

Meskipun Betty Greene tidak menganggap dirinya sebagai pendiri MAF (Mission Aviation Fellowship), namun pada kenyataannya dialah yang bekerja paling banyak pada tahun-tahun pertama pengajuan konsep organisasi misi penerbangan (mission aviation) sebagai sebuah pelayanan misi khusus. Lebih jauh lagi, dia adalah staf pekerja full- time pertama dan pilot pertama yang terbang pada saat organisasi itu baru terbentuk. Meskipun dia seorang wanita, pengalaman dan keahliannya sebagai pilot tidak diragukan lagi. Betty bekerja di Air Force selama bulan-bulan pertama Perang Dunia II, menerbangkan misi- misi radar dan terakhir dia ditugaskan untuk mengembangkan beberapa proyek termasuk menerbangkan pesawat-pesawat pengebom B-17. Namun pelayanan di dunia militer bukanlah pilihan karir Betty. Oleh karena itu sebelum PD II berakhir dia telah meninggalkan dunia militer dan memulai pelayanan seumur hidupnya sebagai seorang pilot misionaris.

Betty tertarik di dunia penerbangan sejak dia masih kecil. Pada usianya yang ke-16, dia mengikuti pelajaran penerbangan. Saat masih kuliah di Universitas Washington, Betty mendaftarkan diri untuk mengikuti program pelatihan pilot pemerintah sipil. Program ini mempersiapkan dirinya untuk mencapai mimpinya menjadi seorang pilot misionaris. Dia bergabung dalam WASP (Women's Air Force Service Pilots), motivasi utamanya adalah mencari pengalaman yang nantinya akan membantu Betty dalam melakukan pelayanan misi. Pada waktu luangnya, Betty menyempatkan diri untuk menulis sebuah artikel yang diterbitkan oleh Inter-Varsity HIS Magazine. Artikel tersebut menjelaskan tentang pentingnya misi penerbangan dan sekaligus rencana-rencananya untuk mewujudkan impiannya itu. Tulisan Betty tersebut mendapat perhatian dari Jim Truxton, seorang pilot angkatan laut yang sedang mendiskusikan masalah misi penerbangan dengan dua orang temannya. Jim menghubungi Betty dan memintanya untuk bergabung dengan mendirikan organisasi misi penerbangan.

Tahun 1945, sesaat setelah MAF didirikan, permintaan penting datang dari Wycliffe Bible Translators untuk menolong pelayanan mereka di Mexico. Setelah beberapa bulan melayani di Mexico, Betty diminta oleh Cameron Townsend (pendiri Wycliffe), untuk menolong pelayanannya di Peru. Tugas Betty dalam pelayanan di Peru adalah menerbangkan para misionaris dan persediaan ke daerah pedalaman. Setiap kali terbang dia selalu melewati puncak-puncak pegunungan Andes, hal itu menjadikan dirinya sebagai pilot wanita pertama yang melakukan penerbangan tersebut.

Betty "mengabdikan dirinya" kepada para misionaris di Ethiopia, Sudan, Uganda, Kenya, dan Kongo. Pada tahun 1960, Betty menjalani tugas penerbangannya yang terakhir yaitu ke Irian Jaya. Tugas tersebut tidak hanya berbahaya tetapi juga sulit karena perjalanan hutannya yang berliku-liku dan mengerikan. Untuk menerima bantuan dari misi penerbangan, setiap pos misi harus membangun sendiri tempat tinggal landas pesawat. Sebelum pendaratan dilakukan, seorang pilot yang berpengalaman harus terlebih dulu terbang melintasi wilayah tersebut untuk memastikan keadaannya. Karena sebagian besar tugas Betty adalah di udara, dia segera menyadari bahwa dia tidak dapat mengimbangi teman sekerjanya, Leona St. John, atau 8 orang suku Moni yang membawakan barang-barangnya saat menyusuri hutan di wilayah Irian Jaya. Leona dan orang suku Moni tersebut telah terbiasa dengan hujan tropis yang terjadi setiap hari, melewati jembatan dari tumbuhan yang gemerisik bunyinya, dan juga saat melalui lahan berlumpur yang sangat licin. Betty mengatakan bahwa dia tidak tahu seberapa beratnya perjalanan tersebut. Namun kelelahan fisik yang dialaminya segera tergantikan dengan ketakutan saat secara tidak sengaja rombongan Betty itu terjebak di tengah- tengah peperangan antar suku -- mereka menyaksikan pemandangan kematian dan pembunuhan yang mengerikan.

Tapi semua ketakutan dan kelelahan yang dialami dalam menempuh perjalanan itu akhirnya terobati saat Betty, Leona dan para pembawa barangnya tiba di desa tujuan mereka. Sambutan yang ramah diterimanya dari penduduk setempat dan sepasang misionaris yang telah bertugas di sana. Terlebih dari itu Betty juga menemukan tempat untuk pesawatnya mendarat. Perayaan yang sebenarnya baru terjadi keesokan harinya saat seorang pekerja MAF mendarat dengan membawa semua persediaan yang dibutuhkan. Pelayanan Betty mendapatkan banyak penghargaan. Namun pengalaman yang tak terlupakan sepanjang karirnya adalah saat dia melayani di Irian Jaya selama hampir dua tahun.

Saat Betty diwawancara pada tahun 1967 tentang apakah dia akan "mendorong seorang wanita untuk melakukan pelayanan seperti yang dia lakukan," Betty menjawab: "MAF tidak setuju, dan juga saya ... Kami memiliki tiga alasan mengapa kami tidak menerima wanita untuk pelayanan ini: 1) Sebagian besar wanita tidak terlatih dalam hal mekanis. 2) Kebanyakan tugas pelayanan dalam misi penerbangan merupakan tugas yang berat. Misalnya ada kargo besar yang harus diangkut dan hal ini tidak dapat dilakukan oleh seorang wanita. 3) Fleksibilitas; misalnya, jika ada sebuah tempat yang mengharuskan seorang pilot tinggal di sana selama beberapa hari/minggu, anda tidak dapat meminta seorang wanita untuk melakukannya."

Tanpa menghiraukan kebijaksanaan MAF masa lampau tentang deskriminasi gender tersebut, sampai saat ini masih banyak wanita yang terjun dalam pelayanan misi penerbangan. Sekarang setelah lebih dari satu dekade munculnya kesadaran feminisme, kebijaksanaan MAF mengalami perubahan. Para wanita dapat diterima sebagai pilot. Baru- baru ini, Gina Jordon yang memiliki 15.000 jam terbang sebagai pilot telah meninggalkan pekerjaannya di Kanada dan bergabung dengan MAF sebagai seorang pilot untuk pelayanan di Kenya.

Diterjemahkan dan diringkas dari salah satu artikel di:
Judul Buku: From Jerusalem to Irian Jaya
        -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Halaman : 395 - 398

e-JEMMi 16/2002

Florence Young -- Bunga Di Pulau Queensland

Sekitar abad 18, kepulauan Pasifik dikenal sebagai surganya bumi pada saat itu. Banyak penjelajah dan pedagang yang singgah di kepulauan tersebut selalu terpana dengan keindahan dari kepulauan ini. Termasuk juga para penulis antara lain: William Melville, Robert Louis Stevenson, dan James Michener mengungkapkan dengan piawai melalui novel-novel tulisan mereka.

Meskipun demikian, ada banyak jiwa yang tinggal di kepulauan Pasifik tersebut sedang sekarat karena belum mengenal Kristus. Banyak lembaga misi yang rindu untuk melayani di kepulauan ini dan banyak sumber daya manusia dibutuhkan untuk mendukung penginjilan yang dilakukan. Namun para misionaris yang diutus terkadang hanya sebentar melakukan pelayanannya. Selain karena faktor geografis yang agak sulit untuk menjangkau kepulauan-kepulauan tersebut pada masa itu, faktor terbesar yang membuat penduduk menolak kehadiran para misionaris adalah karena sikap dari para pedagang dan pelaut yang singgah di wilayah ini. Mereka datang untuk mengeksploitasi para penduduk -- termasuk dengan maraknya perdagangan budak pada masa itu -- dan sumber daya alam yang ada.

Walau ada banyak kendala, banyak misionaris yang terus berjuang untuk memenangkan penduduk kepulauan ini termasuk mereka yang telah dijadikan budak di tempat-tempat lain. Salah satunya adalah Florence Young yang kesaksiannya bisa Anda simak dalam Tokoh Misi berikut ini. Bila dibandingkan dengan kepulauan lain, maka pada abad 19 (sekitar tahun 1983 -- saat buku ini ditulis), kepulauan Pasifik mempunyai prosentasi kekristenan yang tinggi.

Ironisnya, bisnis penculikan orang-orang negro atau Polinesia untuk dijadikan budak yang telah banyak menimbulkan kerusakan di kepulauan Pasific Selatan ternyata menjadi pintu gerbang utama bagi masuknya penginjilan di kepulauan Solomon. Sementara beberapa misionaris seperti John Coleridge Patteson dengan sengit menentang lalulintas tersembunyi dari bisnis "manusia" ini, namun ada beberapa misionaris lain termasuk Florence Young yang tampaknya "menerima" hal tersebut dan malah bekerja dalam sistem yang mendukung perbudakan itu.

Florence Young adalah seorang warga Sydney, Australia. Dia adalah orang yang pertama kali mengekspresikan keprihatinannya tentang kesejahteraan rohani para pekerja perkebunan di South Seas. Saudara- saudara Florence adalah pemilik Fairymead, perkebunan tebu yang besar di Queensland, dan kunjungannya ke perkebunan ini telah mengubah pandangan hidup Florence. Meskipun keterlibatan para saudaranya dengan para pedagang budak tidaklah jelas (beberapa pemilik perkebunan biasanya membuat kontrak kerja dengan badan penyalur pekerja resmi), namun yang pasti, Florence bersedia bekerja dalam sistem ini untuk mengenalkan Injil kepada para budak.

Sebagai anggota jemaat dari Plymouth Brethren, Florence Young telah mempelajari Alkitab sejak dia masih kanak-kanak dan sangat mendukung pelayanan pengajaran yang dilakukannya sejak tahun 1882. Kelas kecil pertamanya yang terdiri dari 10 budak merupakan suatu awal yang kurang menggembirakan. Namun jumlah ini terus bertambah dan tak lama kemudian, dia mempunyai 80 murid di kelas yang diadakan setiap hari Minggu. Separo dari jumlah itu datang secara rutin dalam kelompok pemahaman Alkitab yang diadakan setiap sore. Respon tersebut jauh melebihi dari yang dibayangkan Florence.

Anda bisa membayangkan kondisi para budak saat itu. Menebas batang tebu pada jam 12 siang atau selama beberapa jam setiap hari di bawah terik matahari merupakan pekerjaan yang 'mematikan'. Banyak budak meninggal karena bekerja dalam kondisi dan tekanan seperti itu termasuk Jimmie, budak pertama yang bertobat di perkebunan itu. Meskipun demikian, mereka berani mengorbankan jam-jam istiharat yang berharga untuk mendengarkan Injil.

Kesuksesan dari pelayanan Florence Young di Fairymead ini memberinya semangat untuk melakukan hal yang sama di perkebunan-perkebunan lainnya di Queensland, dimana ada 10000 budak tinggal dalam kondisi yang serupa, bahkan ada yang lebih buruk lagi. Pemberian dana kasih dari George Mueller (juga menjadi jemaat Plymouth Brethren) merupakan stimulan yang dibutuhkan Florence untuk mendirikan Queensland Kanaka Mission (Kanaka merupakan istilah yang digunakan untuk "para pekerja yang diimpor"). Florence juga mendapat dukungan dari seorang guru misionaris dan menulis surat secara rutin kepada para pemilik perkebunan yang ada di wilayahnya. Pada akhir abad 19, melalui pelayanan yang dilakukan 19 misionaris, ribuan orang telah mengikuti kursus Alkitab yang diadakan Florence dan ada yang berkeinginan untuk memberitakan Injil saat mereka kembali ke negara asal mereka.

Pada tahun 1890, Florence merasa Allah memanggilnya untuk terlibat dalam pelayanan misi ke China. Oleh karena itu, dia ikut melayani bersama China Inland Mission. Namun dia kembali lagi ke South Seas pada tahun 1900 untuk mengarahkan secara langsung pelayanan misi yang telah dirintisnya karena pelayanan ini telah mengarah ke fase yang berbeda. Hukum telah melarang perdagangan budak berkulit hitam dan sistem kerja paksa juga telah dilarang. Pada tahun 1906, banyak budak telah dipulangkan ke kampung halamannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa pelayanan Florence berhenti sampai di sini. Pelayanan Follow-up diperlukan untuk melanjutkan pelayanan yang telah dirintis tersebut. Florence dan beberapa misionaris berlayar menuju Solomon Islands dimana mereka melayani para petobat baru dan mendirikan gereja.

Pada tahun 1907, Queensland Kanaka Mission mengganti namanya menjadi South Sea Evangelical Mission. Florence dibantu oleh ketiga keponakannya -- Northcote, Norman, dan Katherine Deck sangat aktif dalam melakukan pelayanan ini. Tahun-tahun berlalu, 10 orang lebih sahabat dekatnya menjadi misionaris dan menyusul Florence ke Solomon Islands.

Diterjemahkan dari salah satu artikel di:

Judul Buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Halaman : 223 - 224

e-JEMMi 04/2004

Hudson Taylor

Hudson Taylor dilahirkan di Yorkshire, Inggris, pada tahun 1832. Sejak masih kecil, ayahnya -- seorang ahli pharmasi, telah menanamkan nilai- nilai Kristiani kepadanya. Setiap hari ayahnya selalu membacakan dan menjelaskan ayat-ayat dalam Alkitab. Bahkan ia menginginkan agar anaknya kelak menjadi seorang misionaris. Usaha ini ternyata tidaklah sia-sia karena ternyata sebelum berumur lima tahun Taylor sudah mempunyai keinginan untuk menjadi seorang misionaris dan tempat yang menjadi tujuan dari misinya adalah China.

Meskipun sejak kecil sudah terbiasa dengan kehidupan Kristiani, ternyata pada saat mulai menginjak remaja, ia mulai merasa ragu-ragu dengan apa yang pernah diajarkan oleh ayahnya. Tetapi berkat doa dari ibu dan saudara perempuannya, keragu-raguan itu akhirnya dapat segera diatasi setelah ia membaca sebuah buku tentang karya penyelamatan Kristus yang ia temukan di ruang baca ayahnya. Ia lalu berlutut dan berdoa kepada Tuhan serta mohon pengampunan pada-Nya. Sejak saat itu Taylor mulai memusatkan perhatiannya pada keinginannya untuk melakukan misinya ke China.

Meskipun sangat antusias dengan misi penginjilannya itu tetapi ia tetap mengutamakan pendidikannya di bidang farmasi. Keinginannya untuk melakukan misi penginjilan di China dapat terwujud secara tak sengaja ketika Hung, yang juga seorang Kristen, menjadi kaisar di China. Demi mewujudkan keinginannya itu ia rela berhenti dari training dibidang obat-obatan yang selama ini ia kerjakan. Kesempatan untuk melakukan penginjilan di China ini juga merupakan jawaban doa direktur Chinese Evangelization Society (CES) yang mensponsori pelatihan yang diikuti Taylor.

CES adalah suatu misi penginjilan di atas kapal yang tidak terorganisasi dan tak seorangpun di China yang diijinkan untuk bekerja dengan misi ini.

Taylor mulai berlayar ke China pada bulan September 1853 dan tiba di Shanghai di awal musim semi tahun 1854. Bagi Taylor, China dengan berbagai adat istiadat masyarakatnya dan berbagai keunikan lainnya sangat menantang dirinya untuk melakukan misi penginjilan tersebut. Kesepian adalah masalah utama yang dihadapi Taylor pada saat tiba di Shanghai, selain itu ia juga mengalami masalah keuangan sedangkan di Shanghai pada waktu itu sedang terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan.

Usaha-usahanya untuk menyesuaikan diri dengan bahasa setempat sempat membuatnya sangat tertekan. Tetapi dengan iman dan kepercayaannya yang kuat kepada Tuhan, ia berhasil mengatasinya dengan mulai menyalurkan hobinya, yaitu bercocok tanam dan mengoleksi serangga.

Setahun setelah ia sampai di China, Taylor segera mulai melakukan perjalanan penginjilan menelusuri China. Dalam perjalanannya itu ia terkadang harus melakukannya seorang diri tanpa bantuan orang lain. Di Shanghai, misionaris yang berasal dari luar negeri bukanlah hal yang baru. Meskipun demikian ketika Taylor mulai melakukan penginjilan, masyarakat Shanghai tidak memperhatikan pesan yang ia sampaikan. Mereka jauh lebih tertarik pada cara berpakaian dan cara hidupnya. Keadaan ini membuat Taylor sadar bahwa hanya ada satu cara untuk bisa melakukan penginjilan di daerah ini, yaitu dengan menjadi orang China, yaitu mengikuti cara berpakaian dan kebudayaannya.

Meskipun mengikuti tradisi China ternyata bukanlah hal yang mudah bagi Taylor, namun ia tetap melakukannya. Ia rela mencukur rambutnya dengan model "pigtail", botak di bagian depan kepalanya dan panjang serta dikepang di bagian belakang, bahkan ia pun rela mengubah cara berpakaiannya. Walaupun perubahan penampilannya itu sangat menyiksa dirinya bahkan ia dijadikan bahan lelucon dari pengikut-pengikutnya tetapi perubahan itu baginya adalah suatu "trademark" tersendiri. Ternyata usahanya ini tidaklah sia-sia karena dengan penampilannya yang baru ini justru memudahkan dirinya dalam melakukan perjalanan penginjilan ke seluruh China.

Perjalanan yang harus ia tempuh bukanlah suatu perjalanan yang mudah karena selain melakukan penginjilan, Taylor juga melakukan praktek pengobatan dan ia pun harus bersaing dengan dokter lokal. Masalah keuangan tetap menjadi beban utama Taylor sehingga ia tetap mengharapkan kiriman dana dari Inggris. Selain itu rasa sepi yang pernah ia alami pada bulan-bulan awal ketika ia tiba di Shanghai masih tetap membayanginya sehingga mulai terpikir dalam benaknya untuk memiliki seorang istri. Taylor teringat kembali kepada Miss Vaughn, tunangannya ketika masih berada di Inggris yang meskipun telah bertunangan dua kali mereka gagal menikah karena Miss Vaughn tidak mau ikut Taylor ke China. Taylor kemudian sadar bahwa keinginannya untuk untuk memperistri Miss Vaughn adalah sia-sia.

Taylor kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Elizabeth Sisson, seorang gadis yang juga ia kenal di Inggris. Meskipun Elizabeth tidak menolak lamarannya, namun ternyata kisah mereka tidak berjalan lama. Elizabeth memutuskan pertunangan mereka dan diduga penyebabnya adalah karena model pakaian dan rambut Taylor yang seperti orang China. Keputusan Elizabeth ini sempat membuat Taylor "menyerah dari penginjilan" yang ia lakukan. Sampai akhirnya ketika Taylor tiba di Ningpo, sebuah kota di sebelah selatan Shanghai ia bertemu dengan Maria Dyer. Maria adalah seorang guru di sebuah sekolah yang khusus untuk anak perempuan milik Miss Mary Ann Aldersey. Miss Aldersey adalah seorang misionaris wanita pertama yang datang ke China dan ia juga orang pertama yang membuka sekolah untuk anak perempuan di negara yang didominasi oleh kaum pria ini.

Maria dan Taylor berkenalan di bulan Maret 1857. Meskipun pada awalnya Maria menolak lamaran Taylor namun akhirnya mereka menikah pada tanggal 20 Januari 1858. Maria benar-benar merupakan wanita yang Taylor butuhkan untuk melengkapi kehidupannya. Mereka tinggal Ningpo selama tiga tahun dan selama waktu itu secara tak sengaja Taylor diangkat menjadi seorang pengawas di sebuah rumah sakit lokal setempat.

Tahun 1860 Taylor dan Maria kembali ke London untuk mempersiapkan berbagai hal dan memulihkan kesehatan mereka. Kesempatan ini juga digunakan Taylor untuk melanjutkan pendidikannya selain juga untuk membuat terjemahan Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Ningpo.

Pada saat yang sama, Taylor mendirikan China Inland Mission (CIM) -- suatu organisasi misionaris yang terbentuk berdasarkan pengalaman dan kepribadian Taylor. Taylor sadar bahwa China tidak akan pernah menerima penginjilan jika ia harus menunggu misionaris yang terpelajar untuk pergi ke sana. Karena itu Taylor merekrut orang-orang Inggris yang terpelajar untuk melakukan penginjilan ke China. Taylor juga mendirikan kantor CIM di China yang akan memperhatikan berbagai kebutuhan misionaris di sana.

Secara resmi CIM berdiri pada tahun 1865 dan tahun berikutnya Taylor mulai melakukan persiapan untuk berlayar ke China bersama dengan Maria, keempat anaknya, lima belas orang pengikutnya. Selama dalam pelayaran, rombongan ini tidak lepas dari berbagai permasalahan yang melanda mereka tetapi berkat kesabaran dan pendekatan secara pribadi segala permasalahan dapat diatasi oleh Taylor.

Setibanya di Shanghai, Taylor segera memesan pakaian model China bagi pengikutnya. Meskipun para pengikutnya telah mengetahui cara adaptasi ini tetapi keterkejutan mereka tetap tak dapat dihindari. Bahkan pengikut setia Taylor-pun ada yang merasa putus asa dan ingin menyerah, tetapi berkat pertolongan Tuhan permasalahan ini dapat diatasi.

Pada tahun 1868, rumah yang digunakan sebagai tempat penginjilan Taylor di Yangchow, dirusak dan dibakar. Peristiwa ini hampir merenggut nyawa para misionaris dan Maria. Meskipun peristiwa ini mengakibatkan banyak kerugian dan sempat membuat Taylor menyerah tetapi berkat dukungan dari salah seorang temannya, semangat Taylor kembali menyala untuk meneruskan misinya. Ia merasa bahwa melalui berbagai peristiwa yang terjadi Tuhan menjadikan ia sebagai orang yang baru.

Peristiwa yang tak kalah menyedihkannya adalah ketika Sammy, anaknya yang masih berusia lima tahun meninggal di awal bulan Februari. Beberapa bulan kemudian, Maria yang sedang hamil menderita sakit yang sangat serius. Awal bulan Juli Maria melahirkan seorang anak laki-laki yang hanya berumur dua minggu. Beberapa hari setelah kematian anaknya ini, Maria juga meninggal pada usia 33 tahun.

Tanpa Maria, Taylor benar-benar kehilangan semangat dan kesepian. Karena alasan itulah sebulan setelah kematian Maria, ia pergi ke Hangchow. Di sanalah ia menghabiskan waktu bersama Jennie Faulding, seorang misionaris muda yang masih berusia 22 tahun yang merupakan teman dekat keluarga Taylor sejak mereka tiba di China. Setahun kemudian mereka kembali ke Inggris dan menikah. Tahun 1872, mereka kembali lagi ke China bersama dengan para misionaris yang lebih banyak lagi jumlahnya.

Seiring dengan perkembangan CIM, Taylor menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengelilingi China. Semakin luas daerah yang diinjili semakin besar pula beban yang harus ditanggung. Meskipun demikian, Taylor mempunyai rencana, yaitu jika ia berhasil merekrut 1000 misionaris dan jika masing-masing misionaris bisa menginjili 250 orang setiap hari maka hanya dalam jangka waktu kira-kira tiga tahun seluruh China sudah bisa mendapatkan penginjilan. Ini adalah visi yang tidak realistik, dan rencananya ini tidak pernah tercapai. Meskipun demikian, CIM memberikan sesuatu yang tak terlupakan di China. Tahun 1882 CIM berhasil memasuki setiap propinsi di China dan di tahun 1895, 30 setelah didirikan, CIM telah memiliki lebih dari 650 misionaris yang mengabdikan hidupnya di China.

Tahun-tahun terakhir di abad 19 adalah tahun yang penuh dengan tekanan dan melelahkan. Tekanan modernisasi dan pengaruh dari negara barat berlawanan dengan tekanan tradisi dan antagonisme terhadap orang-orang asing. Pada bulan Juni 1900 kekaisaran Peking memerintahkan untuk membunuh semua orang asing dan melarang semua kegiatan yang berhubungan dengan agama Kristen. 135 orang misionaris dan 53 anak- anak para misionaris dibunuh secara brutal.

Taylor kemudian diasingkan di Switzerland, memulihkan kembali kesehatannya dari kejadian yang membuatnya trauma meskipun ia tidak dapat benar-benar menghilangkan trauma yang dialaminya. Tahun 1902, Taylor menempati kembali jabatannya sebagai pimpinan utama misi. Taylor dan Jennie tinggal disana sampai Jennie meninggal tahun 1904. Setahun kemudian Taylor kembali ke China dimana akhirnya ia meninggal dengan tenang sebulan setelah kedatangannya.

Meskipun Taylor telah meninggal, namun CIM tetap berkembang. Puncak kejayaan CIM terjadi tahun 1914 dimana CIM menjadi organisasi misi yang terbesar di dunia dan pada tahun 1934 berhasil memiliki misionaris sebanyak 1368. Tahun 1964 CIM berganti nama menjadi "The Overseas Missionary Fellowship".

Diterjemahkan dan diringkas dari sumber:
Judul Buku : BAGAIMANA TOKOH-TOKOH KRISTEN BERTEMU DENGAN KRISTUS
Judul Artikel: Pelopor Utusan Injil -- Hudson Taylor
Penulis : James C. Hefley
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000
Halaman : 66 - 68

Judul Buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Judul Bab : The Far East : "Barbarians Not Welcome"
Judul Artikel: The J. Hudson Taylors
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Academie Books, 1983
Halaman : 173 - 188


Ingwer Ludwig Nommensen

Nommensen adalah seorang tokoh pekabar Injil berkebangsaan Jerman yang terkenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya adalah berdirinya sebuah gereja terbesar di wilayah suku bangsa Batak Toba. Gereja itu bernama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Tidak berlebihan jikalau ia diberi gelar Rasul Batak. Ia sudah memberikan seluruh hidupnya bagi pekerjaan pekabaran Injil di tanah Batak.

Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin melarat dan selalu sakit-sakitan.

Pada umur 8 tahun ia mencari nafkah dengan menggembalakan domba milik orang lain pada musim panas dan pada musim dingin ia bersekolah. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga pekerjaan itu tidak asing lagi baginya. Semuanya ini nampaknya merupakan persiapan bagi pekerjaannya sebagai pekabar Injil di kemudian hari.

Tahun 1846 Nommensen mengalami kecelakaan yang serius. Pada waktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta berkuda. Kereta kuda itu menggilas kakinya sehingga patah. Terpaksa ia berbaring saja di tempat tidur berbulan-bulan lamanya. Teman-temannya biasanya datang menceritakan pelajaran dan cerita- cerita yang disampaikan guru di sekolah. Cerita-cerita itu adalah tentang pengalaman pendeta-pendeta yang pergi memberitakan Injil kepada banyak orang dan Nommensen sangat tertarik mendengar cerita- cerita itu.

Lukanya makin menjadi parah sehingga dia tidak dapat berjalan sama sekali. Sekalipun sakit, Nommensen belajar merajut kaos, menjahit dan menambal sendiri pakaiannya yang robek. Pada suatu hari ia membaca Yohanes 16:23-26, yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa siapa yang meminta kepada Bapa di surga maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya, apakah perkataan Yesus itu masih berlaku atau tidak. Ibunya meyakinkannya bahwa perkataan itu masih berlaku. Ia meminta ibunya untuk berdoa bersama- sama. Nommensen meminta kesembuhan dan dengan janji, jikalau ia sembuh maka ia akan pergi memberitakan Injil. Dan memang doanya dikabulkan karena beberapa minggu kemudian kakinya sembuh. Setelah sembuh kembalilah Nommensen menggembalakan domba lagi. Janjinya selalu menggodanya untuk segera memenuhinya. Oleh karena itu ia melamar untuk menjadi penginjil pada Lembaga Pekabaran Injil Rhein (RMG). Beberapa tahun lamanya ia belajar sebagai calon pekabar Injl.

Tahun 1861 ia ditahbiskan menjadi pendeta. Dan sesudahnya ia berangkat menuju Sumatera dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai pekerjaannya di Barus. Ia mulai belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu yang cepat sekali dapat dikuasainya. Sekarang ia mulai mengadakan kontak-kontak dengan orang-orang Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu mengadakan perjalanan keliling untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Ia mempelajari adat- istiadat Batak dan mempergunakannya dalam mempererat pergaulan.

Nommensen meminta ijin untuk masuk ke pedalaman namun dilarang oleh pemerintah, karena sangat berbahaya bagi seorang asing. Namun Nommensen tidak takut. Ia memilih Silindung sebagai tempat tinggalnya yang baru. Ia mendapat gangguan yang hebat di sini, namun ia tidak putus asa. Ia berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (Kampung Damai). Tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah dan rumahnya sendiri di Pearaja. Sampai sekarang Pearaja menjadi pusat HKBP.

Pekerjaan Nommensen diberkati Tuhan sehingga Injil makin meluas. Sekali lagi ia memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, pada tahun 1891 dan ia tinggal di sini sampai dengan meninggalnya.

Nommensen memberitakan Injil di tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan PB ke dalam bahasa Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, menebus hamba-hamba dari tuan- tuannya, dan membuka sekolah-sekolah serta balai-balai pengobatan.

Dalam pekerjaan pekabaran Injil ia menyadari perlunya mengikut- sertakan orang-orang Batak sehingga dibukalah sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Juga untuk kebutuhan guru-guru sekolah, dibukanya pendidikan guru.

Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan maka pimpinan RMG mengangkatnya menjadi Ephorus pada tahun 1881.

Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Universitas Bonn memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Nommensen.

Nommensen meninggal pada umur yang sangat tua, pada umur 84 tahun. Ia meninggal pada 12 Mei 1918. Nommensen dikuburkan di Sigumpar di tengah-tengah suku bangsa Batak setelah bekerja dalam kalangan suku bangsa ini selama 57 tahun lamanya.

Artikel diedit dari sumber:
Judul Buku : Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dlm Sejarah Gereja
Judul Artikel: Nommensen, Ingwe Ludwig
Penulis : Drs. F.D. Wellem, M.Th.
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1999
Halaman : 198 - 200

e-JEMMi 42/2002

Jim XXXXXX -- Misionaris Untuk Suku Sawi

Jim Xxxxxx berumur 13 tahun ketika ayahnya meninggal dan ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja, tanpa figur seorang ayah membuatnya terombang-ambing oleh lingkungan, sehingga akhirnya ia terjerumus ke lembah kelam: narkotika. Hari-hari dilaluinya tanpa kedamaian. Dunia obat bius begitu menjeratnya sampai ia harus meringkuk dalam penjara. Namun Allah dengan kasih-Nya yang begitu besar menjamah Jim, sehingga ia masuk ke dalam rencana-Nya. Allah membawa Jim pada suatu rencana agung yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang misionaris, apalagi ke tempat yang begitu jauh, yang sering disebut sebagai ujung bumi: Irian! (sekarang Papua, red.)

Perjalanan misinya dimulai ketika ia menjadi mahasiswa di sebuah seminari di California, USA, setelah pertobatannya. Sebenarnya Jim hanya ingin belajar satu tahun, tetapi entah karena apa setelah satu tahun dilewati di seminari itu ia meneruskan lagi sampai empat tahun. Pada tahun ketiga ia belajar, ada sebuah jemaat di Oregon, USA, yang gembalanya baru kembali sebagai misionaris selama 30 tahun di Thailand. Jim bekerja sama dengan misionaris itu selama 2 bulan. Dalam waktu yang singkat itulah Tuhan menaruh visi untuk pelayanan misi sedunia ke dalam hati Jim. Setelah menyelesaikan tahun keempat ada praktek pelayanan ke luar negeri. Jim dikirim ke Korea Selatan dan Jepang. Tujuan praktek pelayanan ini adalah mencari peneguhan supaya para mahasiswa tahu pasti kemana mereka harus melayani. Jim berada di Korea selama satu bulan dan di Jepang selama satu bulan. Selama di Korea, Jim merasa senang melihat gereja yang berkembang pesat. Namun panggilan Tuhan belum datang ketika ia berada di Korea. Ketika berada di Kyoto, kota pusat penyembahan berhala di Jepang, Jim suatu malam berdoa semalam suntuk dan aa berkata kepada Tuhan, "Tuhan, saya tidak suka tinggal di negeri asing. Saya tidak suka makan makanan yang aneh. Saya tidak bisa berkomunikasi karena bahasa mereka lain. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa menjadi seorang misionaris." Dan Tuhan menjawabnya dengan tegas, "Jim, engkau tidak bisa menjadi misionaris, tetapi Aku bisa menjadikan engkau seorang misionaris."

Mulai saat itu Jim sadar dan tidak mau bergantung pada kemampuan dan keinginannya sendiri. Ia hanya ingin bergantung kepada kemampuan dan kehendak Allahnya. Ia merasa punya kepastian bahwa akan datang harinya dimana Tuhan akan membawanya keluar dari Amerika dan melayani di luar negeri. Ia tahu pintu akan dibukakan dan itu pasti terjadi.

Sekembalinya dari Jepang, Jim bersama istrinya kembali ke bangku kuliah untuk belajar Linguistik (Ilmu Bahasa) dan Misiologi selama satu tahun di Fuller Seminary, L.A./Pasadena. Ini adalah persiapan yang akan dipakai untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku terasing di Irian Jaya. "Saya mau melakukan pelayanan di mana orang lain tidak mau melakukannya. Dimana ada ladang pelayanan yang tidak diinginkan orang lain atau tidak bisa dilaksanakan orang lain, saya akan masuk ke sana." kata Jim. Sebab itu Jim dan istrinya bertanya kepada teman-temannya di mana ada suku yang belum diinjili dan belum ada kontak dengan dunia luar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suku Sawi di pedalaman Irian Jaya. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Pelayanan misi di bagian selatan telah dirintis oleh Don Richardson, sementara kontak dengan bagian utara sangat kurang. Di suku Sawi utara inilah Jim dan istrinya masuk sebagai misionaris pertama sampai hari ini.

Meninggalkan budaya hidup Amerika merupakan pergumulan sendiri bagi Jim Xxxxxx. Menurutnya situasi di Amerika atau Jakarta sangat berbeda dengan Irian Jaya. Pelayanan di Jakarta itu terlalu enak, terlalu mudah untuk bergantung pada orang lain. Tapi pelayanan di hutan belantara Irian Jaya, tinggal seorang diri dengan keluarganya di tempat terpencil, kepada siapa akan bergantung selain kepada Tuhan saja? Itulah sebabnya sejak semula Jim sudah menyiapkan mentalnya. Sekali berangkat ke Irian Jaya, ia memutuskan dan "membakar semua jembatan" yang dapat mengantarnya kembali ke Amerika.

"Ada orang mau menjadi misionaris untuk jangka waktu satu atau dua tahun, ada juga yang sampai empat tahun. Saya perhatikan, di tempat tugas yang terpencil itu mereka selalu rindu kembali ke tempat asal, selalu berpikir kapan kembali ke keluarga dan teman-teman? Saya yakin untuk menjadi misionaris seseorang harus putus hubungan dengan kampung halamannya, seperti membakar jembatan dan kapal-kapal sehingga tidak bisa kembali pulang. Kalau ada kesempatan untuk kembali, itu semata-mata dari Tuhan, tetapi kita harus siap untuk pergi dan pergi terus tanpa berpikir untuk kembali," kata Jim yang sekarang fasih berbahasa Indonesia dan sudah 20 tahun hidup di antara suku Sawi.

"Saya banyak mendengar tentang kegiatan misi jangka pendek (short- term mission), yang mereka sebut sebagai "misi kunjungan". Itu baik dan dapat sedikit menolong. Tetapi untuk menghasilkan pekerjaan yang besar dan bertahan lama harus ada orang yang mau bertahan hidup lama di suatu wilayah dan tinggal terus-menerus di sana dan menyatu dengan masyarakat setempat. Itulah yang saya lakukan untuk menghilangkan identitas Amerika saya. Saya menyatu dengan suku Sawi untuk mengambil nilai-nilai hidup mereka, untuk saya jadikan nilai-nilai hidup saya sendiri," ungkap Jim.

Jim mengaku banyak membaca buku-buku tentang Irian sebelumnya, tetapi pada waktu terjun ke medan pelayanan, ternyata keadaannya banyak berbeda, dan lebih berat daripada apa yang ditulis orang. "Saat kami turun dari pesawat yang membawa kami, semua orang mengerumuni kami dengan keheran-heranan. Tubuh kami diraba-raba dan akhirnya kami dibawa ke perkampungan mereka. Rupanya mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut kedatangan kami. Untuk menghormati kami sebagai tamu, mereka memberikan makanan khas, yaitu ulat sagu yang harus kami makan hidup-hidup!" katanya sambil memperagakan cara memasukkan ulat yang menjijikkan itu ke dalam mulutnya.

Lebih lanjut Jim menceritakan awal-awal pelayanannya di sana. "Kami tahu di sana sering terjadi perang suku, tetapi tidak tahu kalau pada hari pertama kami datang ada perang sungguhan di depan mata kami. Kejadian itu sangat mengejutkan kami." Ternyata Jim dan istrinya tidak satu kali saja menghadapi peperangan semacam itu. Setiap minggu selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka selalu terjadi perang suku. Tantangan lain datang bagi pasangan yang pada waktu itu baru menikah ini adalah saat Jim terserang malaria dan hampir mati. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, sehingga sampai ia lupa sudah berapa kali ia terserang penyakit berbahaya yang hampir merenggut nyawanya itu.

"Jadi, yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan yang erat setiap hari dengan Tuhan. Hidup melayani di perkotaan banyak mendapat dukungan dari orang lain. Kalau anda sedang merasa "down", anda dapat datang ke gereja dan mendengarkan khotbah yang bagus dari gembala yang menguatkan. Atau bila anda sedang kecewa, anda dapat memutar kaset-kaset rohani dan anda dikuatkan. Tetapi hidup di hutan seperti kami, tidak memiliki hiburan apa-apa. Hanya diri sendiri bersama Tuhan." tambahnya.

Mengabarkan berita keselamatan kepada suku Sawi tidaklah mudah. Bertahun-tahun Jim dan istrinya mengajar mereka untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak satupun yang mau percaya. Sementara itu istri Jim bekerja di poliklinik, menolong orang-orang yang sakit. Kebanyakan orang-orang Sawi itu sakit borok di kaki, sampai kelihatan tulangnya. Dengan penuh kasih mereka diobati atau disuntik dan didoakan. Ajaib, dalam waktu dua tiga hari penyakit itu sembuh.

Perjuangan Jim tidaklah sia-sia. Ia baru berumur 24 tahun bersama istri tercintanya ketika mereka masuk ke pedalaman hutan belantara Irian demi keselamatan "saudara-saudaranya", suku Sawi, di Irian bagian selatan. Apa yang ia tabur, kini sudah berbuah. Oleh pertolongan Tuhan saat ini berdiri tujuh sidang jemaat suku Sawi.

Jim Xxxxxx mengungkapkan bahwa setelah enam bulan ia baru bisa berkomunikasi dengan bahasa Sawi dan setelah satu tahun ia lebih lancar lagi, sehingga ia dapat menjelaskan hal-hal rohani. Setiap hari ia bersama laki-laki Sawi pergi berburu ke hutan dan istrinya juga masuk ke hutan bersama para wanita Sawi untuk mencari sagu. Dengan cara itu ia menjadi cepat menangkap bahasa Sawi sampai ia dapat menyelesaikan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Sawi. Pada saat ini ia sedang menerjemahkan Alkitab Perjanjian Lama bersama-sama orang-orang Sawi dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Ketika ditanya apakah pergumulan terberat yang dialami selama berada di Irian, Jim menjelaskan, "Sebenarnya ini adalah rahasia. Mungkin orang lain melihat misionaris itu orang yang kuat secara rohani. Itu tidak benar! Ada pergumulan berat ketika iblis mencobai dengan perasaan ditinggalkan. Kami melayani di tengah-tengah hutan Irian dan tidak ada kontak dengan orang-orang luar. Orang-orang di gereja asal kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Orang-orang di Jakarta atau tempat-tempat lain melupakan kami, walaupun kami kirimkan pokok-pokok doa mengenai pelayanan kami tapi mereka lupa berdoa bagi kami. Kami sendirian. Tuhan mengijinkan iblis mencobai dengan perasaan itu. Tidak ada orang atau organisasi yang memperhatikan kami. Sebab itu banyak misionaris yang pulang ke negerinya karena patah semangat."

Sampai hari ini Jim Xxxxxx sudah 20 tahun tinggal bersama keluarganya di tengah-tengah saudara-saudaranya, suku Sawi. Mereka berkata bahwa Irian adalah tanah airnya dan dia telah menyatu dalam hidup dan budaya Sawi. Dalam pelayanannya, Jim berusaha menerapkan pelayanan terpadu, pelayanan secara utuh yang meliputi roh, jiwa dan tubuh. Ia tidak hanya mengajarkan hal-hal rohani, tetapi ia juga membuka sekolah untuk memberantas buta huruf, mengajarkan kursus peternakan, pelayanan kesehatan, proyek air bersih dll. Jim yakin apabila mereka menerima keselamatan maka hal itu akan mengubah semua kehidupan mereka.

Meskipun suku-suku terasing di pedalaman Irian seperti suku Sawi ditinggalkan dunia modern, tetapi mereka tetap diperhatikan Allah. Ia telah mengirimkan hamba-Nya untuk menyelamatkan mereka. Ia yang telah menciptakan suku-suku bangsa, Ia pula yang akan menyelamatkan mereka dengan cara-Nya sendiri.

Kesaksian ini adalah kiriman dari: Rusli Kurniawan <rusli_kurniawan@> [Kepada Sdr. Rusli; terima kasih banyak untuk kirimannya. Kami yakin banyak pembaca e-JEMMi dibangkitkan semangatnya untuk berdoa terus bagi para misionaris setelah membaca kesaksian yang anda kirimkan ini.]

e-JEMMi 12/2002

John Releigh Mott

Mott adalah seorang tokoh besar dalam kegiatan penginjilan di kalangan mahasiswa di berbagai universitas di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Ia juga dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan oikumene di dunia yang tiada tandingnya.

Mott dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1865 di Postville, Iowa, USA. Ayahnya bernama John Stitt Mott dan ibunya bernama Elmira Dogde. Ayah John Mott bekerja sebagai pedagang kayu dan John Mott biasa membantu ayahnya dalam usaha tersebut. Pada umur 13 tahun John mengalami pertobatan dan ia menggabungkan diri dalam Gereja Metodis.

Pada tahun 1881 Mott belajar pada Upper Iowa University selama 4 tahun. Sekolah ini adalah milik Gereja Metodis sehingga proses belajar-mengajarnya diwarnai oleh kekristenan. Setelah itu Mott melanjutkan studinya ke Universitas Cornell. Di sinilah Mott memulai kegiatan pekabaran Injil. Sebenarnya Mott ke Cornell agar ia dapat bekerja pada pekerjaan duniawi atau meneruskan usaha ayahnya. Di Cornell ia segera terpilih menjadi wakil ketua Young Men Christian Association (YMCA) Cabang Cornell. Dia giat memberitakan Injil di kalangan mahasiswa dan memimpin kebaktian di penjara-penjara. Pada tahun 1888 ia menyelesaikan studinya di Cornell.

Sebenarnya Mott sudah tertarik kepada pekerjaan penginjilan sejak ia di Fayette. Pada waktu dibukanya cabang YMCA, Mott sudah melibatkan diri dalam organisasi oikumenis ini. Kemudian ia pindah ke Cornell guna belajar ilmu hukum agar kelak dapat bekerja di lapangan politik. Ia memulai studinya di Cornell tahun 1885. Di Cornell, Mott bergumul tentang cita-citanya dengan panggilan Allah. Pada akhirnya ia tunduk kepada panggilan Allah. Lalu dia bersahabat dengan D.L. Moody.

Pada musim panas YMCA mengadakan konferensi mahasiswa internasional dimana D.L. Moody menjadi ketua konferensinya. Mott menghadiri konferensi ini sebagai wakil dari Cornell. Dalam konferensi ini Mott memutuskan untuk menjadi seorang penginjil bersama dengan 100 mahasiswa lainnya. Inilah permulaan lahirnya Student Volunteer Movement for Foreign Missions (Gerakan Mahasiswa Sukarela untuk Pekabaran Injil ke Luar Negeri).

Tahun 1886 Mott menjadi ketua Student Christian Movement di Cornell. Ia bekerja keras untuk menjalankan kegiatan-kegiatan gerakan ini di Cornell. Dari sinilah Mott belajar untuk mengumpulkan mahasiswa dari berbagai denominasi. Sejak semula ia telah berniat untuk mengusahakan kerjasama antara semua gereja. Ia berkata: "Kita harus awas! Jangan kita menyangka bahwa gereja kita sendiri adalah satu- satunya gereja. Kita harus selalu menghormati semua cabang dari gereja yang Kudus dan am."

Setelah tamat dari Cornell, Mott segera menjadi sekretaris YMCA USA dan Kanada. Ia sekarang mengunjungi seluruh universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada. Ia juga menjadi ketua dari Student Volunteer Movement for Foreign Missions. Pekerjaannya makin hari makin berat.

Tahun 1891 Mott ke Amsterdam untuk menghadiri konferensi YMCA se- Dunia. Sekarang ia terdorong untuk membentuk suatu federasi dari seluruh gerakan mahasiswa Kristen se dunia. Ia berkali-kali berkunjung ke Eropa sambil mengutarakan rencana tersebut. Rencananya itu akhirnya berhasil, yaitu dengan terbentuknya Federasi Mahasiswa Kristen se Dunia. Ia sendiri terpilih sebagai sekretarisnya. Sebagai sekretaris umum, maka ia mengunjungi banyak negara di dunia.

Mott juga menjadi Ketua Komisi Persiapan untuk Konferensi Pekabaran Injil se Dunia di Edinburgh tahun 1910. Mott adalah pemikir utama dalam konferensi itu serta banyak memimpin persidangan. Setelah itu konferensi bubar, maka dibentuklah Komisi Penerus (Continuation Committee) yang diketuai oleh Mott hingga tahun 1920. Tokoh Mott tidak dapat dilepaskan dari Dewan Pekabaran Injil International (International Missionary Council) yang dibentuk pada tahun 1920. Mott menjadi ketua Dewan ini hingga tahun 1942. Dalam kedudukannya sebagai Ketua Dewan Pekabaran Injil ini, ia mendorong agar di tiap negara dibentuk Dewan Pekabaran Injil Nasional.

Selama Perang Dunia I (1914-1918) Mott bersama anggota YMCA melayani pemuda-pemuda yang masuk tentara serta melayani para tawanan perang. Karena pekerjaan pelayanannya selama Perang Dunia I, maka pemerintah Amerika Serikat menghadiahkan kepadanya medali kehormatan. Pada tahun 1948 Mott adalah salah seorang pemenang Hadiah Nobel untuk perdamaian.

Pada waktu dibentuknya Dewan Gereja-gereja se Dunia, di Amsterdam 1948, Mott diangkat sebagai Ketua Kehormatan. Hal ini adalah patut dilakukan mengingat akan jasa dan peranannya dalam pergerakan oikumene dan pekabaran Injil di dunia. Jabatan ini dipegangnya hingga ia meninggal dunia pada 31 Januari 1955.

Dalam sejarah pergerakan oikumene di Indonesia nama Mott perlu dicatat pula. John Mott mengunjungi Indonesia pada tahun 1926. Di sini ia memberikan rangsangan yang sangat berarti bagi kegiatan Gerakan Mahasiswa Kristen di Hindia Belanda. Organisasi-organisasi seperti YMCA, kemudian GMKI dan DGI dengan Komisi Pekabaran Injilnya berakar dari pekerjaan John R. Mott.

Walaupun John R. Mott hanya tercatat sebagai seorang anggota gereja biasa yang tidak belajar teologia secara formal, namun dia sangat berjasa bagi gereja di dunia. Ia seorang yang selalu optimis dan dinamis. Semboyannya yang terkenal adalah:

"Biarlah mereka maju. Tahun-tahun yang terbaik masih di hadapan kita."


Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku: Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja
Penulis : Drs. F.D. Wellem, M.Th.
Penerbit : PT BPK GUNUNG MULIA, Jakarta, 1999
Halaman : 187 - 189

e-JEMMi 30/2003


John Sung

John Sung lahir tanggal 27 Sept 1901 di Hongchek wilayah Hinghwa propinsi Funkien Tiongkok, Dia anak ke 6 dari Pendeta. Sung dan anak pertama setelah Ny. Sung menjadi Kristen. John Sung mewarisi sifat ayahnya yang lekas marah sehingga ia sering dihukum dengan tongkat bambu ayahnya.

Th 1913 John Sung/Yu-un sudah dikenal masyarakat Hinghwa sebagai Pendeta cilik bila ia muncul untuk berkhotbah.

Selepas SLTA John Sung berkata, "Ayah, aku telah mengambil keputusan untuk belajar ke luar negeri." Ayahnya sangat marah dan tidak mau memberinya uang untuk berangkat. Tetapi John Sung mendapat beasiswa di Universitas Wesley di Ohio, dengan vasilitas makan dan tempat tinggal. Atas bantuan teman-temannya, akhirnya terkumpul cukup uang untuk berangkat ke Amerika. Dan pada tanggal 2 Maret 1920 dia berangkat ke Amerika. Tetapi setelah sampai di sini janji bahwa dia dapat makan dan tempat tinggal tidak dipenuhi/bohong, sehingga ia harus bekerja untuk bertahan hidup di sana, ia bekerja membersihkan toko, menyapu hotel dan di sebuah toko mesin. Di samping bekerja dan kuliah dia juga menyusun regu-regu pengabar Injil dan mereka melayani di desa-desa sekitar.

Th 1923 dia mendapat ijasah BA dengan prestasi yang luar biasa sehingga dia dianugerahi medali emas dan uang tunai untuk Fisika dan Kimia dan dia juga menjadi anggota perkumpulan yang sangat ekslusif yang hanya terbuka bagi sarjana terkemuka. Tawaran kedudukan tinggi dan gaji besar datang mengalir tapi dia ingin meneruskan pelajarannya untuk mencapai ijasah yang lebih tinggi. Dan dia meraih ijasah sains dalam waktu 9 bulan dan dia dianugerahi medali dan kunci emas dari lembaga sains, spesialisnya adalah Kimia dan bahan yang peka meledak. Tapi dia tidak mau pulang ke Tiongkok sebelum mencapai gelar Dokataor dan Filsafat.

Gelar PhD dia peroleh dalam 1 tahun dan hanya 9 bulan sesudah mencapai ijasah sarjananya. Tapi pada waktu ia sedang mengenang kampung halamannya seolah-olah Allah berkata kepadanya "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa?" dan esoknya seorang Pendeta berkata kepadanya "Anda tahu, anda tidak punya tampang ahli Fisika, anda lebih mirip pengkhotbah".

1926 dari Sung Msc, PhD didaftarkan sebagai mahasiswa di Union Theological Seminary. Akhir triwulan nilainya sangat tinggi, tetapi dia kehilangan kepercayaannya dan mulai menghina pendeta-pendeta. Kepercayaan pada Firman Allah goncang sampai ke dasar-dasarnya. Doa tidak berkuasa lagi dalam hidupnya, meskipun dia setia berdoa namun doanya hanya lahiriah. Dia berbalik ke agama-agama kuno di Timur, dalam perpustakaan STT dia membaca buku-buku tentang agama Budha dan Tao dan mengharap mendapat keselamatan dengan jalan penyangkalan diri, tetapi hatinya tetap gelap.

Khotbah seorang gadis 15 th menyadarkan dia dan dia mencari Alkitab yang telah disia-siakan dan mulai membacanya setelah ber bulan-bulan lamanya. Bacaan Lukas 23 telah membuat dia menangis dan berdoa minta pengampunan, kemudian dia mendengar suara "AnakKu dosamu sudah diampuni lalu dia langsung melompat dan berteriak Haleluya sambil berseru memuji Allah, mulai saat itu namanya diganti John menurut John The Baptist. Ia mengesampingkan semua buku teologinya dan mulai menyelidiki Alkitab dan menghafal sejumlah ayat.

1927 Ketegangan jiwa yang hebat, belajar sungguh-sungguh melampaui batas kewajaran dan konflik rohani yang bertahun-tahun mengakibatkan pikiran John Sung terganggu sehingga dia harus dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa. Dia berhasil melarikan diri tetapi tertangkap lagi. Tetapi di dalam RSJ dia membaca Alkitabnya 40 kali dari awal sampai akhir dengan metode telaah yang berbeda dan mencatat apa yang ia temukan, Jadi RSJ menjadi Sekolah Teologi baginya. Tepat 193 hari sejak ia masuk RSJ, bulan Februari dia dilepaskan dan ia merasa itulah penerimaan ijasah yang paling tinggi baginya.

4 Oktober ia berlayar pulang ke Hinghwa dan di tengah perjalanan di atas kapal dia membuang semua ijasah dan medali-medalinya kecuali ijasah doktornya untuk menyenangkan ayahnya. Ia serahkan dan tinggalkan demi kemuliaan Allah. Dia tiba di Hinghwa dan disambut oleh keluarganya setelah 7 tahun tidak pulang, dan mereka semua sudah mendengar tentang kehebatan dia di luar jadi ayahnya meminta dia untuk bekerja di suatu universitas pemerintah untuk membantu biaya adik-adiknya tetapi John berkata kepada ayahnya "Ayah aku telah mengabdikan hidupku untuk mengabarkan Injil", semua terkejut, menangis dan kecewa dan mereka mengira John belum sembuh sakit jiwanya. tetapi setelah mereka mengamati perilakunya yang kebanyakan berdoa dan menelaah Alkitab, dengan segan mereka menerima keputusan itu dan mengucapkan selamat kepada dia saat ia mulai hidupnya untuk Tuhan Yesus Kristus.

Dia dinikahkan dengan seorang prempuan yang tidak ia kenal, karena dia sudah dijodohkan sejak ia masih kecil, ia sebenarnya tidak berniat untuk nikah, jadi tidak mengherankan klu ia tidak menjadi suami yang baik, istrinya seorang yang lekas marah dan tabiat dari Sung menjadikan keadaan lebih rumit. 3 Perempuan dan 2 Laki lahir dari pernikahan itu, tetapi Sung tidak pernah mencapai hasil gemilang di rumah di tengah-tengah keluarganya.

Pada waktu itu meletus gerakan anti Kristen yang sangat keras, tempat-tempat pertemuan dihancurkan, orang-orang kristen hidup di bawah ancaman tetapi Sung tidak takut ia mengumumkan bahwa upacara mingguan di sekolah-sekolah menyembah potret dari Sung Yat Sen adalah penyembah an berhala. Ia terlibat juga dalam politik sehingga pimpinan politik mengerahkan polisi untuk menangkap dia. Sejak itu ia menjadi buron dan ia pergi menjauhi kota-kota besar dan bekerja di desa-desa. Pada waktu itu ia berkenalan dan bergabung dengan kelompok Betel yakni Perkumpulan orang-orang berbakat di bawah pimpinan Andariew Gih, yang semangat memberitakan injil Kristus.

John Sung bekerja sebagai sukarelawan ia tidak menerima gaji dan persediaan makan keluarganya sering sangat memprihatinkan dan dalam ketidaksabarannya ia hampir saja menerima satu dari sekian jabatan empuk yang disodorkan kepadanya. Tapi pada saat itu ia diserang bisul-bisul di seluruh badan karena ia masih tergoda dan Tuhan menahan dia dengan penyakit kolera. Dengan malu dan takluk John Sung menyerahkan hidupnya tanpa syarat dan Allah menerima penyerahan itu.

Setelah John Sung sembuh Ny Sung dan bayinya 3 bulan sakit dan yang mengakibatkan bayi itu mati. 3 Hari setelah dikuburnya bayi itu John Sung pergi ke Shanghai karena Tuhan memberi perintah untuk pergi ke suatu tempat yang sudah ditunjukkan. Ia meninggalkan istrinya yang masih tergeletak di ranjang karena sakit dan berduka cita.

Setelah melalui kehidupan yang cukup sulit beberapa tahun lamanya, John Sung berangkat ke Shanghai, sebuah kota yang besar di Cina. Di sana ia mengadakan kebaktian-kebaktian yang penting dan ribuan orang maju ke depan dengan penyesalan yang mendalam akan dosa-dosa mereka. Dari Shanghai ia ke Nanking. Ia sangat lelah dan mendapat sakit jantung sehingga hanya sanggup berkhotbah 1 kali sehari. Tapi 200 juru rawat bolos hanya untuk mendengarkan khotbahnya, 110 jururawat bertobat dan membentuk persekutuan doa mohon pertobatan.

John ikut regu Betel ke Tiongkok Utara, tapi ketika di Tahsingting pikirannya kacau sehingga ia tidak ingin berkhotbah dan ia hanya mendengarkan Adariew Gih. Regu Betel bergerak ke Tsinan di sana John berkhotbah lalu dilanjutkan ke Taian dimana di sana Iblis telah membinasakan Gereja. Gedung gereja dihancurkan sekolah kristen dipaksa tutup, beberapa Pendeta lari dengan keluarganya dan orang-orang kristen sangat putus asa. Tapi di tempat itu John Sung digunakan Allah dengan baik 103 orang bertobat, lalu mereka bergerak ke Tenghsian yang merupakan pusat pendidikan yang terkenal. Situasi sekolah pemerintahan yang anti Kristen datang mengacau tetapi mereka berbalik, insaf dan bertobat sungguh-sungguh. 300 orang berusaha untuk beroleh kedamaian dengan Allah.

Dari Tenghsien dia kembali ke Shanghai lalu pergi ke Mancuria untuk bekerja bersama Andariew Gih dan rombongannya. Mereka meneruskan perjalanan ke Mukden ketika tentara Jepang merebut kota itu dan pecah perang dengan Jepang. Dalam perang tersebut regu penginjil itu didesak supaya pulang tetapi mereka menjawab TIDAK. Mancuria kemudian direbut dan diduduki Jepang.

Di Harbin bom-bom berjatuhan saat acara penginjilan berlangsung tetapi tidak seorangpun anggota penginjil itu yang ketakutan. Ketika meninggalkan Harbin dia dan Andariew membentuk 2 regu supaya lebih banyak tempat yang dapat dikunjungi. John berkhotbah kepada orang Rusia di Hulan.

Di Kirin (Mancuria) Pendeta melarang anggota jemaatnya menghadiri pertemuan yang diadakan John Sung, tetapi Pendeta itu datang dan mengaku di depan umum bahwa selama 6 tahun tidak pernah membaca Alkitabnya dan berdoa secara pribadi.

Di Beijing kesulitan timbul dalam tubuh regu penginjilan mereka mengecam John Sung karena hanya mau berkhotbah di kota-kota besar, sedang yang lain di kota-kota kecil. Tetapi jawabnya "Yang menarik bagiku tentang kota besar bukan kesenangan yang terdapat di dalamnya tetapi orang-orang berdosa yang jauh lebih banyak jumlahnya, keadaan kehidupan mungkin lebih sulit di kota-kota kecil di pedalaman, tetapi mengabarkan injil di kota besar menguras tenaga dan sangat mengganggu urat syaraf. Benih yang ditabur harus disiram dengan keringat dan air mata.

1923 Pendeta Sung ayah John Sung meninggal pada saat itu itu John Sung berada sangat jauh dari kampungnya dan dia sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya meninggal. tetapi dalam mimpinya ia melihat ayahnya yang berkata kepadanya "Anakku aku akan pergi ke surga, tetapi masih ada 7 tahun lagi bagimu bekerja keras untuk Tuhan.

Beijing, Hangchow, Shanghai dan Nanking semua kota penting telah ia kunjungi bahkan pelayanan lebih luas atas Tiongkok pedalaman sudah sedang mulai. 1935 dari Fukien seorang Pendeta menulis tth Jon Sung "Caranya berkhotbah menyehatkan dan membangun tidak sensasional tetapi dramatik, khotbahnya merupakan komentar-komentar atas perikop-perikop panjang dari Alkitab dengan ilustrasi dan penerapan yang sesuai. Ia membutuhkan 3 penerjemah setiap minggu, karena setiap penterjemah kehabisan tenaga menterjemahkan khotbah-khotbahnya sehingga tidak tahan lama. Para penterjemah diminta mengikuti setiap gerakan tangan bahkan adegannya.

Undangan pertama kali datang dari luar negeri kepada John Sung datang dari Manila, Filipina. Seperti biasa ia berbicara tentang dosa penyesalan, kelahiran kembali dan kesucian. Kutukannya terhadap dosa tegas dan gamblang tanpa takut. John Sung berkunjung ke Singapura ia berkhotbah 40 x dalam 14 hari. 1.300 org bertobat dan 111 regu penginjilan dibentuk dengan 503 orang anggota, 80 lebih pemuda menyerahkan diri menjadi pekerja penuh untuk pengabaran Injil.

1935 ia pulang ke Hinghwa untuk beberapa pertemuan lalu ke Shanghai, dari sana ia ke Tengksien di sana 5000 orang dia hantar kepada Kristus dan 130 regu penginjilan dibentuk. John Sung berlayar di Kalimantan, serawak dan 1.583 orang dibawa kepada Kristus 98 regu penginjilan dan 38 di 2 kota yang berdekatan.

Tahun 1939 John Sung datang ke Indonesia. Di Surabaya ia melayani selama 7 hari. Pada malam hari orang yang datang penuh sesak dan mereka menangis dan bertobat kembali kepada Tuhan. Yang menakjubkan orang-orang inipun rela menutup toko dan datang ke gereja setiap hari! Nyata sekali kuasa Allah sedang bekerja. Setelah itu ia melanjutkan pelayanan ke kota Madiun, Solo, Bandung dan Jakarta. Sebanyak 1000 orang hadir dalam kebaktian itu, bahkan di Jakarta orang yang hadir sejumlah 2000 orang.

Di Bogor, karena tidak ada gedung gereja yang cukup besar, orang sampai mendirikan tenda di lapangan tenis untuk memberi duduk 2000 orang. Lalu disambung ke Cirebon, Semarang, Magelang dan Purworejo. Kebaktian selanjutnya di Solo dan Jogja lalu kembali ke Surabaya. Beberapa waktu kemudian dia diundang ke Ujung Pandang dan Ambon dan membawa berkat melimpah untuk gereja di sana.

Kesehatan hamba Tuhan yang setia ini makin lama makin buruk. Waktu di Surabaya ia berkhotbah sambil berlutut untuk meringankan sakitnya. Dengan segera ia kembali ke negerinya dan dibedah serta diobati. Selanjutnya ia tidak dapat memimpin kebaktian, tetapi dalam kelemahannya ia tetap menerima orang-orang yang datang berkunjung. Awal tahun 1944, sakitnya makin bertambah sehingga ia diangkut ke rumah sakit di Peking. Selama 1/2 tahun dirawat, akhirnya ia pulang untuk berkumpul dengan keluarganya pada hari-hari terakhir. Meskipun sakit yang ditanggung makin berat, John Sung tetap setia membaca Alkitab dan berdoa.

Pada tanggal 16 Agustus 1944, tubuhnya tambah lemah. Ia merasa sudah hampir meninggal. Malam itu John Sung tidak sadarkan diri. Tapi esoknya ia masih bangun dan menyanyikan 3 lagu pujian bagi Tuhan. Hari itu dilaluinya dengan sukacita dan damai. Pada pukul 7.07 pada tanggal 18 Agustus, John Sung menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dipanggil Tuhan pada usia 42 tahun. Itulah saat yang paling bahagia untuknya, bertemu dengan Juruselamat dan bersama Kristus untuk selamanya.



John Wycliffe

John Wycliffe dikenal sebagai tokoh perintis gerakan reformasi di Inggris pada abad ke-14, filsof, dan juga orang terpelajar yang terkemuka pada jamannya (karena pada masa itu pendidikan di universitas masih merupakan fenomena yang baru dan peranan Wycliffe sungguh besar bagi reputasi Oxford, tempat ia belajar dan mengajar). John Wycliffe lahir di Yorkshire pada tahun 1325, dan belajar di Universitas Oxford dan memperoleh gelar doktor theologia pada tahun 1372. Wycliffe adalah seorang pemberani dan pembicara blak-blakan baik dalam teologi maupun pengetahuan. Ia mempunyai kebiasaan yang berbahaya, yaitu mengatakan secara blak-blakan apapun yang dipikirkannya. Ex, jika apa yang dipelajarinya membuatnya mempertanyakan tentang ajaran katolik resmi, ia akan langsung menyuarakannya.

Sekitar tahun 1374 Wycliffe mulai dikenal oleh umum, ia mengkhotbahkan kesewenang-wenangan, kebusukan-kebusukan Paus yang segera menarik perhatian banyak orang. Perlawanannya terhadap Paus yaitu:

  1. Ia mempertanyakan hak Gereja atas kuasa duniawi dan kekayaannya.
    (Paus menuntut hak milik gereja di Inggris adalah milik Paus; Wycliffe berpendapat harta milik gereja di Inggris adalah milik Negara). Ia berkata seharusnya gereja jangan memiliki harta milik duniawi, gereja harus menjadi miskin dan sederhana, seperti gereja pada masa Perjanjian Baru.
  2. Ia mempertanyakan tentang penjualan surat-surat pengampunan dan jabatan-jabatan gerejawi.
  3. Ia mempertanyakan tentang penyembahan para santo dan relikwi yang berbau takhayul, serta kuasa Paus.
  4. Ia mempertanyakan pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transsubstansiasi) yang dikeluarkan oleh Konsili Lateran Keempat (karena tidak terdapat di Alkitab).

Pada masa itu Inggris penuh sentimen terhadap Gereja Roma, dimana para pangeran dan orang awam menyesalkan cara Gereja merampas kekuasaan dan harta.

Pada tahun 1377, Wycliffe memulai kegiatan-kegiatan keluar. Ia mengutus para pengikutnya (Lollard: para imam yang menganut kemiskinan para rasul dan mengajarkan Kitab Suci kepada kalangan umum, mengembara di Inggris dengan Injil), para sarjana dan orang awam untuk berkhotbah dan membacakan Alkitab kepada umat. Pada tahun itu juga Paus mengeluarkan "bulla" (semacam fatwa/siasat/sanksi) bagi Wycliffe berdasarkan ajaran-ajarannya tersebut. Tapi ia mendapat perlindungan dari pangeran John dan Dewan Doktor di Oxford juga menyatakan bahwa tidak ada satupun tuduhan dalam bulla itu yang membenarkan bahwa ajaran Wycliffe salah. Tapi peristiwa itu mengakibatkan tulisannya dilarang, sementara ia sendiri diamankan dan dicopot dari kedudukannya di Oxford serta dilarang menyebarluaskan pandangannya. Pada tahun 1378 Wycliffe menulis buku yang berjudul "Protes" dimana ia membela rumusan-rumusan ajarannya.

Hal itu memberinya waktu untuk menerjemahkan Alkitab, karena menurut Wycliffe setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Alkitab dalam bahasanya sendiri. "Oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan bagi para imam saja" tulisnya. Meskipun gereja tidak setuju ia dan para sarjana lain menerjemahkan Alkitab Inggris pertama yang lengkap. Dengan menggunakan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan Bahasa latin) Wycliffe berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang-orang sebangsanya. Hasilnya edisi I diterbitkan, sedangkan penerbitan ke-2 diselesaikan setelah Wycliffe meninggal, setelah mengalami perbaikan. Edisi ke-2 itu dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe" dan dibagikan secara ilegal oleh para lollard. Wycliffe meninggal pada 31 Desember 1384, karena menderita stroke di gereja.



Joy Ridderhof Dan Gospel Recordings

Di awal tahun 1930, Joy Ridderhof meninggalkan USA untuk menjadi misionaris di Honduras sebagai utusan dari Friends Mission. Hidupnya terasa sepi karena Joy adalah satu-satunya misionaris yang melayani di desa terpencil yang ada di pegunungan. Namun pelayanannya membuahkan hasil. Saat dia memberitakan Injil ke berbagai tempat di sekitar desa itu, banyak penduduk desa yang merespon dan mengikut Kristus. Tetapi kekerasan-kekerasan yang dihadapi dalam pelayanan ini dan iklim tropis mengganggu kesehatannya. Sesudah enam tahun melayani di desa itu, Joy kembali ke Los Angeles karena terserang penyakit malaria.

Untuk beberapa bulan berikutnya ketika Joy terbaring di tempat tidur untuk memulihkan kesehatannya, tapi dia terus memikirkan penduduk desa yang telah ditinggalkannya -- bagaimana kemajuan iman mereka di dalam Kristus tanpa misionaris yang memandu dan mendorong mereka. "Seandainya aku bisa meninggalkan suaraku di sana," dia memikirkan hal itu terus-menerus. Terlintas dalam pikirannya tentang keramaian bar yang ada di Honduras dan suara musiknya yang hingar-bingar. Penduduk Honduras tampaknya menyukai musik rekaman. Itulah jawaban dari problem yang dihadapinya. Joy akan mengirimkan suaranya dalam kaset rekaman dimana dia bisa memberitakan Injil melalui musik dan menggunakan bahasa tutur yang biasa digunakan penduduk desa yang dilayaninya.

Pada mulanya, ide Joy tentang perekaman Injil tampaknya seperti mimpi yang susah dijangkau, tetapi dia mulai mendoakan tentang kemungkinan tersebut dan men-sharing-kannya dengan teman-temannya; dan di tahun 1939 kaset rekaman pertamanya -- Buenas Neuvas (Kabar Baik) -- yang berdurasi 3,5 menit telah diproduksi. Saat memulihkan kesehatannya, Joy juga belajar bermain gitar, dan musik menjadi satu bagian dalam kaset-kaset rekaman yang pertama kali dibuatnya. Namun ia segera menyadari tentang pentingnya menemukan suara penutur asli untuk menyuarakan ayat-ayat Alkitab sekaligus memainkan musiknya.

Saat rekaman yang dibuat Joy tersebar, para misionaris yang melayani bagian lain di Amerika Latin juga mulai memesannya. Dalam pelayanan perekaman ini, Joy dibantu oleh Ann Sherwood, Herman Dyk, dan para relawan. Rekaman itu pada awalnya diproduksi di Los Angeles (LA). Orang Cina, Meksiko, dan penduduk dari berbagai suku Indian didatangkan ke studio untuk membuat rekaman Injil dalam bahasa tutur mereka masing-masing. Joy melihat keterbatasan dari pelayanan ini jika orang-orang dari berbagai suku itu harus datang ke LA. Solusinya adalah tim perekaman ini yang mengunjungi suku-suku tersebut -- suatu keputusan yang menandai titik balik pelayanan Gospel Recordings (yang resmi dibentuk tahun 1941 dengan nama Spanish Recordings). [Red.: Informasi lebih lengkap tentang Gospel Recordings (termasuk URL-nya) dapat anda simak dalam kolom Sumber Misi di bawah ini.]

Joy dan Ann melakukan perjalanan perekaman pertamanya di tahun 1944. Mereka memanfaatkan waktu selama 10 bulan di Meksiko dan Amerika Tengah dan perjalanan ini membuahkan hasil yaitu rekaman Injil dalam 35 bahasa dan dialek baru.

Perjalanan selanjutnya dilakukan Joy dan Ann pada tahun 1947 ke Alaska untuk merekam ayat-ayat Alkitab dalam bahasa Indian dan Eskimo. Tugas mereka sungguh sulit. Mereka melakukan perjalanan ke tempat-tempat suku terpencil, lalu mencari penduduk suku yang bisa bilingual dan bersedia untuk direkam. Namun bulan-bulan penuh perjuangan itu menampakkan hasilnya, dan Joy serta Ann kembali ke LA setelah merekam Injil ke dalam 20 bahasa suku.

Tahun 1950, Joy dan tim-nya telah merekam Injil ke dalam lebih dari 350 bahasa suku dan dialek. Aspek perekaman dari pelayanan ini melangkah maju dan semakin mantap. Namun ada problem-problem lain yang muncul -- terutama yang berhubungan dengan pemutaran kaset di wilayah-wilayah hutan yang terpencil. Gramofon yang tersedia dan didistribusikan oleh Gospel Recordings mudah sekali rusak. Joy dan tim-nya berdoa bersama meminta pencerahan. Allah menjawab doa itu saat terbersit ide untuk menggunakan gramofon manual (diputar tangan) -- gramofon ini lebih murah, tidak menggunakan tenaga motor, alat yang dapat dioperasikan oleh semua orang, dan tidak memiliki bagian-bagian mekanis yang rumit sehingga mudah diperbaiki jika rusak.

Pelayanan ini terus berlanjut dan sampai tahun 1955 lebih dari sejuta kaset telah dikirimkan ke 100 negara. Pelayanan Gospel Recordings yang dirintis oleh Joy Ridderhof telah membuahkan keselamatan untuk masing-masing pribadi dan untuk suku-suku di seluruh dunia. Seorang pria dari Meksiko bertobat setelah mendengarkan rekaman kaset Injil dan pria ini kembali ke desanya untuk mengenalkan Kristus kepada 12 orang penduduk di desanya.

Tahun 1983, setelah 40 tahun melayani bersama Gospel Recordings, Joy tidak lagi menjabat sebagai Direktur Gospel Recordings, tetapi dia masih terlibat sebagai dewan dan secara aktif menjelaskan tentang pelayanan misi dengan menggunakan media audio ini. Ada sekitar 50 orang staf full-time dan banyak sukarelawan tergabung dalam pelayanan Gospel Recordings. Mereka telah merekam dan mendistribusikan berita Injil ke dalam 4000 bahasa dan dialek. [Red.: Sekarang Gospel Recordings telah memiliki rekaman Injil dalam 5400 bahasa lebih.]

Diterjemahkan dan diringkas dari sumber:
Judul Buku: From Jerusalem to Irian Jaya
          -- A Biographical History of Christian Missions
Judul Bab : Radio and Recordings: Harnessing the Air Waves
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Academie Books, 1983
Halaman : 389 - 392

e-JEMMi 33/2002

Kampanye Billy Graham Di Los Angeles (1949)

"Anda mungkin terharu bila melihat tenda besar itu kemarin siang penuh sesak dengan 6.100 orang dan beberapa ratus lagi yang tidak dapat masuk, serta melihat puluhan manusia berjalan-jalan di celah- celah barisan bangku dari segala penjuru dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi ketika menerima undangan."

Seorang pengkhotbah berumur 30 tahun menulis dari Los Angeles kepada para staf Sekolah Alkitab di Minneapolis, tempat ia memangku jabatan sebagai rektor. Ia menyebutnya inilah "kampanye penginjilan terbesar yang pernah saya lihat dalam seluruh pelayanan saya". Demikianlah awal dari pelayanan Billy Graham.

Orang banyak datang berduyun-duyun ke tenda besar yang didirikan di Washington Boulevard dan Hill Street -- seperti "Katedral yang Terbuat Dari Terpal". Kampanye yang direncanakan selama tiga minggu berlanjut sampai delapan minggu karena orang-orang berdatangan terus. Para selebriti bertobat di muka umum ketika Graham menyampaikan Injil yang disampaikan dengan sangat sederhana. Dikatakan bahwa seorang wartawan William Randolph Hearst memutuskan "mereklamekan" Graham -- dengan publisitas yang luar biasa. Apa pun yang terjadi, pertemuan-pertemuan Los Angeles telah menjadi buah bibir bangsa dan membuat Graham terkenal.

Ini benar-benar menjadi kejutan bagi anak muda berambut pirang dari Carolina Utara ini. Graham, anak sulung dari peternak hewan, bertobat pada suatu pertemuan yang dipimpin oleh seorang revivalis dari Selatan bernama Mordecai Ham. Seleranya berubah dari baseball ke penyelamatan jiwa-jiwa. Menginjak usia ke 22, dia ditahbiskan sebagai seorang pendeta dari Southern Baptist.

Pada tahun 1943, ia lulus dari Wheaton College dan menikahi Ruth Bell, putri seorang misionaris medis terkenal yang bertugas ke Cina. Ia mendirikan sebuah pastori di daerah Chicago, tetapi tidak lama kemudian terlibat dengan Torrey Johnson. Pada awalnya ia berbicara pada acara Johnson "Songs in the Night" di siaran radio. Kemudian melayani sebagai penginjil penuh waktu pada pelayanan baru Johnson, 'Youth for Christ'. Dalam kapasitasnya ini ia mengadakan beberapa kampanye di seputar kota menjelang akhir tahun 1940-an, termasuk tur ke Britania Raya (Great Britain) pada tahun 1946 - 1947.

Dari semula ia telah memiliki gaya penginjilan yang kooperatif. Kampayenya tidak terbatas pada gereja tertentu. Semua pemimpin Kristen dalam masyarakat akan diundang untuk merencanakan kampanye. Keputusan ini mengundang kritik banyak orang konservatif, namun justru menambah lebih banyak kepopuleran bagi Graham.

Pada awal tahun 1950-an, ia melanjutkan kesuksesan kampanye Los Angeles dengan kampanye-kampanye yang patut dicatat di Boston dan di tempat lain. Pada tahun 1954, perjalanan khotbah ke London membuatnya menjadi seorang selebritis internasional. Ia berteman dengan Presiden Eisenhower dan figur-figur kaliber dunia lainnya.

Dengan cepat Graham menguasai media massa. Ia menulis "Peace with God" (Damai Bersama Allah) yang laris terjual pada tahun 1950-an dan beberapa buku yang lain sejak saat itu. Siaran radionya "Hour of Decision" berlangsung puluhan tahun lamanya. Bersama-sama dengan mertuanya ia mengawali majalah "Christianity Today" untuk membantu para pemimpin Kristen agar selalu bersiaga secara teologis. Di kemudian hari, organisasinya meluncurkan majalah "Decision" untuk masyarakat umum. Kampanye-kampanye Graham dengan teratur disiarkan di televisi secara nasional, dan World Wide Pictures, suatu badan yang tumbuh dari Billy Graham Evangelistic Association yang telah menghasilkan lusinan film-film istimewa.

Sebagai salah satu tokoh utama dalam misi-misi dunia, Graham mensponsori Kongres Lausanne pada tahun 1974 yang merevolusi kebijakan misi-misi evangelikal dengan lebih melibatkan penduduk setempat. Pada tahun 1983 dan 1986, organisasinya membawa para penginjil berkeliling dari seluruh dunia ke Amsterdam untuk pertemuan besar bagi pendidikan dan penguatan. Billy Graham Center di Wheaton College memberi latihan komunikasi dan pelayanan, serta arsip dan 'Museum Penginjilan Abad Ke-20'.

Akhir-akhir ini, Billy Garaham dapat juga menjangkau negara-negara komunis meskipun kebijakan resmi mereka atheis. Beberapa orang mengkritik mengapa ia tidak menggunakan kepopulerannya untuk memprotes penganiayaan orang-orang percaya di negeri itu, namun fokus Graham selalu pada penginjilan, bukan pada komentar sosial.

Pemain baseball yang tinggi dan tampan dari Carolina Utara ini telah menjadi figur religius besar pada akhir abad ke-20. Stafnya memperkirakan ada dua juta orang yang telah "maju ke depan" dalam kebaktian-kebaktiannya untuk menyatakan pertobatan mereka. Lebih dari 100 juta orang hadir untuk mendengarkan kotbahnya secara langsung, dan puluhan jutaan lebih orang yang telah tersentuh melalui pelayanan medianya (Red. TV, radio, kaset, dll.). Ia telah melakukan semuanya ini dengan tetap berpegang pada yang terbaik yang dapat ia lakukan -- yaitu mengkhotbahkan Injil yang sederhana.

Diedit dari sumber:

Judul Buku : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
Judul Artikel: Kampanye Los Angeles (1949), Billy Graham
Penulis : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, dan Randy Petersen
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1991
Halaman : 162 - 163


e-JEMMi 12/2002


Luis Palau

Luis Palau termasuk salah satu penginjil efektif di dunia saat ini. Pria berkebangsaan Argentina ini diperkirakan telah menginjili tiga juta orang lebih di 40 negara. Palau juga dianggap sebagai "Billy Graham of Latin America" -- karena sama seperti Billy Graham, Palau melakukan pelayanannya melalui radio dan televisi. Pengaruhnya di Amerika Latin sungguh luar biasa. Tujuannya adalah ketiga Republik di Amerika Latin bisa mendengar berita Injil semasa hidupnya.

Luis Palau dilahirkan di Argentina pada tahun 1934. Dia dibesarkan dalam keluarga Kristen. Sejak kecil, ibunya selalu membacakan cerita-cerita misionari dan hal itu telah menarik perhatian Palau tentang pentingnya penginjilan dunia. Namun saat menginjak dunia remaja, Palau jarang ke gereja dan menyukai "kehidupan duniawi". Pada saat diadakan Carnival Week di tahun 1951, Palau mengadakan "pembersihan hidup" dan mendedikasikan hidupnya untuk melayani Allah. Sejak saat itu, dia berhenti merokok, meninggalkan keanggotaannya dalam University Club, tidak berlangganan lagi majalah sepakbola, dsb. Palau memulai hidupnya untuk mempelajari Alkitab dan berdoa selama berjam-jam. Dia mengikuti "gospel preaching night" setiap Kamis malam di gereja Brethren. Pemimpin persekutuan ini memberikan tugas dan melatih setiap anggota kelompoknya untuk menyampaikan renungan setiap kali pertemuan. Lalu pemimpin itu memberikan kritik dan masukan. Hal ini merupakan latihan yang bagus bagi Palau.

Keterlibatan Luis Palau yang pertama kali dalam penginjilan pribadi ketika dia diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah kelompok persekutuan anak laki-laki berusia 12 tahun. Dia merasakan bagaimana rasanya memenangkan jiwa ketika dua anak dalam kelompoknya menerima Kristus. Hal ini memantapkan dia untuk semakin terlibat dalam pelayanan penginjilan seumur hidupnya.

Namun karena kematian ayahnya, Palau harus memenuhi kebutuhan ibu dan kelima saudara perempuannya. Dia menjadi pegawai bank yang banyak menyita waktunya. Meskipun demikian, di tengah-tengah waktu luang yang dimilikinya, Palau masih terlibat dalam pelayanan penginjilan. Dia bersama dengan dua orang pemuda memulai program radio harian dan membeli sebuah tenda sebagai tempat persekutuan. Dalam persekutuan ini, Palau bertindak sebagai pengajar Alkitab dan teman-temannya menjadi penginjil. Kunci utama dari pelayanan penginjilan yang mereka lakukan adalah doa. Palau dan rekan sekerjanya mengadakan kontak doa setiap hari pada pukul 05.00 pagi dan pada setiap Jumat malam. Namun di tengah-tengah kehidupan rohaninya itu, ada saat-saat dimana dia merasakan "kekosongan" dalam hatinya. Di saat hendak menyerah, dia berusaha supaya keinginannya sendiri tidak menghalangi pemberitaan tentang kasih Allah dan keselamatan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Palau sangat dipengaruhi oleh pelayanan Billy Graham dan kehidupan Wesley, Whitefield, Finney, Moody, dan Sunday. "Mimpi saya setelah banyak mendalami Alkitab dan berdoa adalah supaya orang-orang Amerika Latin bisa dijangkau dan mengenal Kristus."

Palau meninggalkan pekerjaannya di bank saat dia bertemu dengan misionaris perwakilan dari Overseas Crusades (OC) yang memintanya untuk melayani bersama OC. Tahun 1960, dia diundang Ray Stedman ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan Alkitab di "Multnomah School of the Bible" di Portland, Oregon. Di tempat ini dia juga bertemu dengan istrinya, Pat Scofield. Setelah menyelesaikan pelatihan di "Multnomah", Palau bersama dengan Pat pergi ke Detroit untuk mengikuti pelatihan misionaris sebagai persiapan bagi pelayanan mereka dengan OC di Kolombia. Mereka juga berkesempatan untuk terlibat dalam pelayanan Billy Graham di Fresno, California, dimana Palau menjadi interpreter dalam bahasa Spanyol bagi khotbah-khotbah Billy Graham. Kemudian mereka pergi ke Costa Rica dimana Pat mengikuti sekolah bahasa. Tahun 1964 keduanya berangkat ke Kolombia sebagai misionaris.

Meskipun menyadari bahwa dia "diharapkan untuk menjadi misionaris reguler, melatih penduduk dalam pelayanan penginjilan dan perintisan gereja", Palau melihat pelayanannya sebagai batu loncatan dan ajang pelatihan bagi pelayanan penginjilan di masa depan. Pelayanannya melibatkan gereja lokal, orang-orang awam yang dilatih untuk melakukan penginjilan dan perintisan gereja dimana mereka diharapkan bisa menjadi katalis bagi pertumbuhan gereja. Untuk mendukung penginjilan kaum awam, Palau bersama dengan para misionaris OC mengadakan penginjilan di jalan-jalan -- pelayanan yang seringkali ditentang oleh pegawai pemerintah dan penganut Katolik Roma. Tahun 1965, untuk pertama kalinya Palau mengadakan penginjilan sekota di sebuah gereja Presbiterian. Setelah penginjilan tersebut, Palau merintis pelayanan konseling melalui televisi bekerja sama dengan HCJB di Quito, Ekuador.

Pelayanan televisi dan juga pelayanan penginjilan yang dilakukan Palau di Kolombia semakin memperkuat keinginannya untuk menjadi penginjil full-time yang menjangkau Amerika Latin. Tahun 1966, saat Palau memikirkan untuk melepaskan diri dari pelayanan OC dan menjadi penginjil independen, dia diminta oleh Dick Hillis, pendiri dan direktur OC, untuk pergi ke wilayah Meksiko. Palau diminta untuk melayani sebagai direktur lapangan dan mengembangkan tim penginjilan bagi pelaksanaan KKR di masa depan. Sebelum pergi ke Meksiko, Palau menggunakan kesempatan untuk mengadakan KKR besar pertamanya di Bogota, Kolombia. Ada sekitar 20.000 orang menghadiri KKR tersebut dan berratus-ratus pengunjung membuat keputusan untuk menjadi pengikut Kristus.

Menjelang tahun 1968 Palau tiba di Meksiko. Bersama dengan dua misionaris OC, Palau mengadakan 14 KKR di Meksiko. KKR terbesar dihadiri oleh sekitar 30.000 orang dan sekitar 2.000 orang memutuskan untuk menjadi murid Yesus. Dari Meksiko, Palau dan timnya pergi ke El Salvador, Honduras, Paraguay, Peru, Venezuela, dan negara-negara lain di Amerika Latin, untuk mengadakan KKR yang menarik kehadiran 100.000 orang. Perintisan gereja tetap menjadi tujuan utama. Sebagai hasilnya, gereja-gereja Injili pun berdiri kemana pun mereka pergi.

Sepanjang tahun 1970, pelayanan KKR Luis Palau terus berkembang. Palau meneruskan pelayanannya bersama OC dan pada tahun 1976 - 1978, dia menjadi Presiden OC. Menjadi presiden bagi sebuah pelayanan misi yang bermarkas di Amerika Utara bukanlah tugas yang mudah. Akhirnya pada tahun 1978, Palau mengundurkan diri dari OC dan mendirikan organisasinya sendiri: Luis Palau Evangelistic Team. Pelayanannya ini membawanya ke berbagai tempat seperti di Glasgow, Scotland, dan Madison, Wisconsin. Meskipun sebagian besar waktunya dihabiskan di Amerika Latin, Palau tidak dapat lagi membatasi pelayanannya di satu wilayah. Sekarang semua negara di dunia telah menjadi ladang misi baginya.

Diterjemahkan dan diringkas dari salah satu artikel di:

Judul Buku: From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Halaman : 449 - 452

e-JEMMi 17/2003

Anugerah Allah Bagi Kelasi Yang Tidak Baik : John Newton

Sambil bergumul melawan ombak-ombak yang kuat dan puing-puing yang terapung-apung, John Newton berusaha berjalan sampai ke geladak "Greyhound", kapalnya. Di sana ia membantu agar pompa-pompa bekerja dan ikut serta membantu kelasi lainnya yang menimba air dengan kebingungan serta menyumbat bagian-bagian yang bocor.

Pada jam sembilan pagi semua bagian yang bocor itu telah dijejali selimut, sprei, serta kain-kain yang ditahan oleh papan-papan yang dipaku di atasnya. Laut itu sedang mengganas dan kapal yang bocor itu terombang-ambing dengan hebat. Kelasi-kelasi harus mengikatkan diri ke geladak agar jangan terhempas keluar kapal.

Badan John Newton sakit karena kepayahan. Hampir tanpa berpikir lagi ia memohon, "Tuhan, kasihanilah kami." Tiba-tiba otaknya yang dingin karena takut tersentak menjadi sadar. Ia tidak pernah berdoa sejak masa kanak-kanaknya. Apakah Allah -- seandainya Allah itu ada, dan John Newton merasa ragu-ragu bahwa Ia memang ada -- berbelas kasihan kepada seorang pengumpat Tuhan?

Walaupun para pelaut kapal-kapal dagang Inggris dikenal dengan ketidaksalehannya, nakhoda kapal itu baru saja beberapa hari sebelumnya meminta agar Newton menghentikan sumpah serapahnya yang mengerikan. Kata-kata yang diucapkan Newton bukan sumpah-sumpah biasa yang diucapkan oleh seorang pelaut sungguh-sungguh. Kutukan- kutukannya menyatakan reaksinya yang serentak melawan paham tentang Allah.

Setelah ucapannya yang mengherankan itu, si pengumpat di kapal itu meninggalkan bagian pompa untuk menggantikan nakhoda pada kemudi. Setiap kali kapal itu bergerak masuk ke dalam pusaran air, Newton takut bahwa mereka mungkin tidak dapat melepaskan diri dari maut. Tetapi, laut Atlantik yang mengganas itu akhirnya tenang kembali. Setelah itu, ia pergi ke kamar dan menjatuhan diri ke tempat tidurnya.

Pada saat ia mengambil alih tugas di kemudi lagi, Newton memperhatikan bahwa hampir semua layar kapal itu robek dihembus angin. Angin bertiup melalui tiang-tiang kapal yang rapuh, yang menyebabkan kapal itu hampir tidak mungkin dapat berlayar.

Tujuh hari berlalu dan tidak ada daratan yang tampak. Persediaan makanan menyusut sampai hanya tinggal beberapa ekor ikan yang diasinkan saja. Lalu, ada seorang pria meninggal. Nakhoda kapal yang cemas itu memanggil kelasi-kelasi berkumpul. Sambil memandang kepada Newton, ia berkata, "Kamu semua tahu aku membawa pemuda ini dari pantai Afrika untuk dibawa pulang kepada ayahnya. Aku anggap ia tahu cara-cara berlayar karena ia pernah mengemudikan kapal budaknya sendiri. Tetapi, sejak ia menjadi pembantuku, yang kita hadapi tak lain hanya kesukaran, kesukaran, dan kesukaran."

"Ya, Kapten, benar!" teriak seorang awak kapal yang ada bekas luka di wajahnya.

"Ia berkata bahwa ia seorang yang tidak mengakui ajaran agama. Aku tahu ayahnya tidak pernah mengajarkannya seperti itu. Sumpah serapahnya cukup membuat laut itu mengamuk. Seperti Yunus di dalam Alkitab, saya kira ia merupakan laknat bagi kita."

John Newton mengendurkan otot-ototnya yang tegang dan mundur ke belakang pada saat para kelasi itu membelalak kepadanya dengan cara yang menuduh. Mereka tidak akan melemparkannya ke laut. Atau, apakah mereka akan melemparkannya ke laut? Ia membalas membelalak kepada nakhoda itu.

"Kita akan tunggu," kata nakhoda tua itu akhirnya. "Tetapi John Newton, kamu lebih baik ikut dengan kami dalam doa jika kamu ingin selamat."

Newton dengan diam-diam melangkah kembali ke tempat tugasnya. Sebuah ayat Kitab Suci yang telah didengarnya pada waktu ia masih anak-anak timbul dalam pikirannya. "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Lukas 11:13)

"Ya Allah, jika Engkau benar," ia berdoa dengan giginya yang terkatup, "Engkau pasti menepati janji-Mu. Sucikanlah hatiku yang kotor ini."

Empat minggu kemudian dalam bulan April tahun 1748, Greyhound memasuki sebuah pelabuhan di Irlandia dengan susah payah. Newton pergi ke gereja dan di sana ia mengakui dan menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.

Orang yang semula tidak mau mengakui ajaran agama dan selalu mengumpat itu menjadi seorang pengkhotbah injili yang penuh kuasa. Kesaksiannya diungkapkan dalam puisi religi. Sajak yang terbaik yang mengungkapkan keselamatannya ialah sebuah lagu pujian kesayangan orang-orang Kristen yang masih dinyanyikan sekarang.

"Amazing grace how great Thou Art that save a wretch like me.
I once was lost but now I`m found. Was blind but now I see."

"Sangat besar anugerah-Nya, yang tlah kuterima
Dahulu aku tersesat, kini kuselamat."

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku:Bagaimana Tokoh-tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus
Judul Artikel:Anugerah Allah Bagi Kelasi yang Tidak Baik: John Newton
Penulis:James C. Hefley
Penerbit:Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000
Halaman: 37 - 39

e-JEMMi 29/2005


Betty Olsen dan Vietnam Martyrs

Pelayanan radio misi telah berjuang keras agar dapat diterima oleh masyarakat Kristen pada umumnya; dan tanpa visi ke depan yang dimiliki oleh Clarence W. Jones maka perkembangan radio misi tidak akan seperti sekarang ini. Jones tidak takut untuk menggunakan radio yang saat itu dianggap sebagai "tool of the devil" (alat setan) untuk penginjilan.

Jones lahir pada tahun 1900 di Illinois, pelayanan Kristen telah menjadi pusat kehidupan Jones saat itu. Kedua orangtua Jones adalah pegawai "Salvation Army". Jones menerima Kristus melalui pelayanan Paul Rader di "Moody Memorial Tabernacle". Kemudian ia memutuskan untuk masuk ke "Moody Bible Institute" dan lulus tahun 1921. Sesudah lulus, Jones bekerja dengan Paul Rader. Pertama ia hanya menolong mengadakan pertemuan penginjilan, tapi selanjutnya ia bekerja sebagai staf Paul Rader dalam pelayanan yang baru didirikannya, yaitu "Chicago Gospel Tabernacle" (yang nantinya menjadi dasar pelayanan misi outreach-nya). Jones piawai dalam memainkan trombone dan menjadi pimpinan direksi bagi siaran radio Tabernacle yang pada mulanya adalah stasiun radio komersial pertama di Chicago.

Meskipun Jones memilih misi sebagai mata pelajaran pokok di "Moody Bible Institute", namun pelayanan misi ke luar negeri sama sekali tidak menarik perhatiannya. Namun tahun 1927, saat menjadi asisten Paul Rader di bagian musik untuk suatu konferensi Alkitab, Jones mendengar dengan jelas uraian Rader tentang pentingnya penginjilan. Setelah minggu-minggu dan bulan-bulan berlalu, Jones semakin yakin bahwa Allah menginginkannya untuk pergi ke Amerika Selatan dan merintis sebuah pelayanan radio misi.

Tahun 1928, Jones melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dan berharap akan memenangkan Venezuela melalui pelayanan radio misi. Namun keinginannya kandas karena pemerintah Venezuela menolak permohonannya. Sebelum kembali pulang ke Chicago, Jones menyempatkan mengunjungi Columbia, Panama dan Kuba, untuk mengajukan permohonan yang sama, tetapi jawabannya seperti yang terjadi di Venezuela.

Saat kembali ke Chicago, Jones merasa frustasi dan putus asa. Namun Tuhan mempertemukan Jones dengan pasangan Larsons. Kemungkinan mimpi Jones untuk merintis radio misi akan kandas jika ia tidak bertemu pasangan Reuben dan Grace Larson. Pasangan itu melayani di Ekuador melalui "Christian and Missionary Alliance" sejak tahun 1924. Saat cuti di tahun 1930, mereka mengunjungi "Chicago Gospel Tabernacle" untuk mensharingkan pelayanan mereka. Jones pernah mengunjungi Ekuador namun tidak terlintas untuk melakukan pelayanan di sana sampai ia bertemu pasangan Larsons yang menyediakan kunci bagi Jones untuk memulai pelayanan radio misi di Amerika Selatan.

Ada banyak kesulitan saat memulai merintis radio misi di Ekuador. Namun, Clarence W. Jones dan pasangan Larsons tidak menyerah dan tahun 1931 Stasiun Radio HCJB (Herald Christ Jesus' Blessings) telah menjadi kenyataan. Program radio misi pertama kali di dunia disiarkan pada hari Natal tahun 1931 dari sebuah kandang domba di Quito, Ekuador. Ketigabelas pemancar di Ekuador dapat menerima siaran itu dan "Voice of Andes" telah berhasil mengudara. Beberapa bulan kemudian, "World Radio Missionary Fellowship" secara resmi berdiri.

Saat siaran dari stasiun radio HCJB mulai tersebar di berbagai tempat, jumlah pemancar juga berkembang dengan pesat dan HCJB dapat menembus wilayah-wilayah yang tertutup bagi Injil. Para misionaris (yang semula sangat tidak setuju dengan pelayanan radio misi yang dilakukan oleh Clarence W. Jones) menjadi terbuka matanya saat mereka dapat melakukan pelayanan secara terbuka di wilayah-wilayah dimana mereka semula dilempari batu dan dianiaya saat mengabarkan Injil. Dan meskipun banyak orang yang memasang tanda "Orang Kristen Tidak Diterima" di pintu-pintu rumahnya, namun di dalam rumah-rumah itu penghuninya dapat mendengar siaran "La Voz de los Andes", HCJB.

Pada saat Paskah tahun 1940, Presiden Ekuador, Andres Cordova, meresmikan siaran dengan menggunakan transmitter baru yang memiliki daya sebesar 10.000 watt sehingga akan menyebarkan Injil ke wilayah- wilayah yang lebih luas lagi. Tidak ada yang tahu sejauh mana siaran itu dapat diterima, tetapi yang menjadi kejutan, mereka banyak menerima surat mulai dari Selandia Baru, Jepang, India, Jerman, dan Rusia.

Sekitar tahun 1950 dan 1960, HCJB terus bertumbuh, dan menambah kekuatannya menjadi lebih dari 500.000 watts. Tahun-tahun penuh berkat itu juga diiringi dengan trauma-trauma pribadi yang dialami Jones dan keluarganya. Istrinya, Katherine, menderita sakit parah sampai mengalami keadaan koma, sedangkan Jones mengalami luka di wajahnya yang tidak memungkinkan bagi dia untuk memainkan trombone lagi. Pemulihannya memakan waktu lama, namun di akhir tahun, mereka berdua dapat disembuhkan dan mereka kembali melayani. Di tahun 1966, anak mereka satu-satunya, Dick, bersama istri dan anaknya, yang sedang melakukan tugas misionaris di Panama, mati dibunuh. Peristiwa itu membuat Jones semakin serius terlibat dalam pelayanan radio misi.

Tahun 1981, Jones memasuki masa pensiun dan menghabiskan waktunya di Florida, dan HCJB merayakan ulang tahunnya ke 50. Namun setengah abad semenjak didirikan, tidak hanya terbatas pada pelayanan radio misi yang mengudara selama 24 jam per hari melalui stasiun radio di Quito (dipancarkan dalam 15 bahasa), saat ini "World Radio Missionary Fellowship" telah melebarkan sayap pelayanannya dengan membuka dua rumah sakit, klinik keliling, percetakan dan program televisi berwarna, serta dua stasiun radio baru di Panama dan Texas. Puji Tuhan!

Diterjemahkan dan diringkas dari salah satu artikel di:
Judul Buku: From Jerusalem to Irian Jaya
        -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Halaman : 371 - 377

e-JEMMi 03/2002

Dokter Misionaris: Dr. C. Everett Koop

Setelah bekerja selama tiga puluh tahun sebagai dokter bedah anak terkemuka, Dr. C. Everett Koop mendekati masa pensiun pada pertengahan tahun 1970-an ketika beliau memutuskan bahwa perjuangan melawan aborsi itu sepenting usaha menyelamatkan nyawa di meja operasi. Koop adalah seorang Kristen taat yang mencurahkan hasratnya dalam menentang aborsi ke dalam dua buku, lima film pendidikan, dan tur ceramah ke berbagai kota di negaranya. Gaya argumentasinya netral: dalam satu bagian film, Koop memandangi lautan boneka telanjang yang melambangkan janin-janin korban aborsi dan berkata, "Saya berdiri di Sodom, tempat terjadinya kejahatan dan kematian."

Apa yang sudah dikerjakannya selama ini mendorong Ronald Reagan untuk mencalonkan Koop sebagai "surgeon general" (kepala jawatan kesehatan) pada tahun 1981. Selama delapan bulan, pengangkatan Koop ditunda oleh Kongres karena kubu liberal menentang pandangan Koop, kefanatikannya, dan keyakinannya akan kesehatan publik. Ketika akhirnya Koop memenangkan persetujuan Senat, beberapa orang mengharapkan dia membatasi anjurannya kepada masyarakat umum tentang peringatan untuk tidak merokok.

Koop yang sekarang berumur tujuh puluh tahun (saat berita ini ditulis), adalah seorang yang kontroversial, tapi rasa bangga dan sikap idealisnya yang dulu membuat kaum konservatif mendukungnya, sekarang membuat marah para aktivis sayap kanan. Hal ini diakibatkan oleh politik AIDS. Kepala jawatan kesehatan adalah pengacara utama pemerintah yang memiliki pandangan bahwa pendidikan seks adalah cara paling efektif untuk membatasi penyebaran AIDS. Dimulai dengan laporannya kepada presiden pada Oktober lalu, Koop bersikeras bahwa keterusterangan dan kondom adalah alat kesehatan masyarakat yang lebih efektif daripada khotbah tentang kesucian. Minggu lalu, Koop adalah satu-satunya orang pemerintah yang menentang rencana pengujian penyebaran AIDS. Beliau mengatakan, "Saya kira, tak seharusnya seseorang dipaksa untuk mengikuti tes AIDS, untuk mengetahui penyebaran AIDS pada saat ini."

Koop, seorang yang berperawakan tinggi besar (enam kaki dan satu inci) dengan janggut seperti Kapten Ahad, dan bersuara keras ini, menyadari bahwa pekerjaan besarnya sebagai tokoh kesehatan nasional lebih berpengaruh daripada seorang pengkhotbah yang tegas. "Apa pun yang telah saya lakukan selama lima tahun menjabat sebagai kepala jawatan kesehatan," katanya, "telah saya lakukan dengan dorongan moral yang sungguh-sungguh." Perjuangannya mulai dari seruan "masyarakat bebas rokok di tahun 2000", sampai pembelaan yang gigih terhadap bayi-bayi cacat. Koop yang bangga mengenakan seragam kebesaran sebagai kepala jawatan kesehatan dengan kancing berwarna emas, juga mempunyai maksud yang khusus: beliau mencoba, meski tidak terlalu sukses, untuk mempertahankan peraturan yang hampir punah -- peraturan yang mengharuskan semua anggota Layanan Kesehatan Masyarakat (Public Health Service) untuk memakai seragam militer saat bertugas.

Perdebatan mengenai AIDS yang dilakukan Koop merupakan usahanya yang paling hebat. Mantan pengkritik liberal, seperti anggota California Democratic Congress, Henry Waxman, sekarang berkata bahwa penilaian awal mereka tentang Koop adalah salah. Namun, mantan sekutu dari konservatif, seperti Paul Weyrich dan Phyllis Schlafly, menentang Koop dengan tuduhan bahwa "proposal Koop untuk menghentikan penyebaran AIDS mencerminkan pandangan para homoseksual, bukan pandangan gerakan profamily."

Bulan lalu, golongan sayap kanan merusak acara makan malam penghormatan untuk Koop: sebelas sponsor memboikot makan malam tersebut, termasuk lawan presidensial Partai Republik, Senator Robert Dole dan seseorang dari Kongres, Jack Kemp. Malam itu, para demonstran yang menginginkan Koop dipecat berada di luar gedung tempat Koop menghadiri acara makan malam. Dengan sedih Koop menyatakan rasa terima kasihnya kepada mereka yang hadir dan mengambil risiko terkena imbas kegusaran kelompok sayap kanan. "Belum pernah dalam seumur hidup saya," katanya, "menginginkan atau menghargai pertunjukan persahabatan seperti ini." Kepada mantan sekutunya, Koop mengeluhkan, "Mereka tidak mendengar apa yang sudah saya katakan, tapi mereka mengkritik tentang apa yang orang katakan mengenai apa yang saya katakan. Hal itu sangat tidak membesarkan hati."

Sebagai kepala dokter bedah di Children`s Hospital of Philadelphia, Koop menjadi terkenal atas keberhasilannya memperbaiki cacat lahir, termasuk memisahkan bayi kembar siam. Sejak saat itu, pada tahun 1940-an, beliau dan istrinya, Elizabeth, terjun dalam dunia penginjilan kekristenan. Koop sudah melihat jelas kaitan antara obat-obatan dan moralitas. Itu adalah visi yang menjiwai tugasnya sebagai kepala jawatan kesehatan. "Saya rasa Anda tidak akan bisa memisahkan agama Anda, etika, atau nilai-nilai moral dari cara Anda melakukan pekerjaan Anda," kata Koop. "Ada kesempatan-kesempatan dan kewajiban-kewajiban sosial yang melibatkan agama seseorang, seperti dengan penuh belas kasih merawat orang sakit."

Dalam minggu-minggu berikutnya, Koop mungkin harus mempertimbangkan kata-kata etisnya sendiri dalam menentang permintaan politik dari kebijakan pemerintah mengenai AIDS. Koop tid