Tokoh Misi

Ada yang menuai karena ada yang menabur. Sama seperti gereja-gereja dan lembaga-lembaga misi yang saat ini ada karena ada orang yang bersedia meninggalkan zona kenyamanan, menyingsingkan lengan, dan bekerja keras agar firman Tuhan sampai ke ujung bumi. Lewat tokoh-tokoh misi yang kami hadirkan kepada Anda, kiranya dapat menjadi motivasi pelayanan Anda.

Clarence W. Jones

(Tokoh Penerjemah Alkitab pada Abad ke-20)

Salah seorang individu yang paling memberi pengaruh besar dalam gebrakan penerjemahan Alkitab pada abad ke-20 adalah William Cameron Townsend -- pendiri Wycliffe Bible Translators (WBT) dan Summer Institute of Linguistics (SIL). Cam Townsend adalah seorang pribadi yang berkeyakinan tinggi, dan memiliki sifat kepemimpinan yang tegas dalam kedua organisasi tersebut dan juga dalam memimpin JAARS (Jungle Aviation and Radio Service). Ketegasan itu seringkali mengakibatkan terjadinya kontroversi. Billy Graham menyebutnya sebagai "the greatest missionary of our time," dan pada saat kematiannya di tahun 1982, Ralph Winter (dari United States Center for World Mission) menempatkannya sebagai salah seorang misionaris yang paling menonjol selama dua abad terakhir ini -- sejajar dengan William Carey dan Hudson Taylor.

Cam Townsend, demikian dia sering dipanggil, lahir di California pada tahun 1896 saat kondisi perekonomian buruk. Pada waktu masih muda ia hidup dalam kemiskinan. Cam dibesarkan dalam lingkungan Gereja Presbiterian (the Presbyterian Church). Dia kuliah di Occidental College, sebuah sekolah Presbiterian di Los Angeles. Memasuki tahun kedua kuliahnya, Cam bergabung dalam Student Volunteer Movement. Pada masa kuliahnya, The Bible House of Los Angeles membutuhkan salesman Alkitab untuk wilayah Amerika Latin dan Cam merasa tertarik. Dia melamar pekerjaan itu dan diterima. Cam ditugaskan di wilayah Guatemala dan berangkat pada bulan Agustus 1917 bersama dengan seorang temannya. Menjual Alkitab di Amerika Tengah -- dimana Alkitab sangat sulit diperoleh -- secara sekilas tampak seperti melakukan pelayanan yang menjanjikan. Namun akhirnya Cam menyadari bahwa usahanya itu ternyata sia-sia saja. Wilayah kerjanya kebanyakan di daerah-daerah pinggiran yang dihuni oleh sekitar 2000 orang Cakchiquel Indian yang sama sekali tidak dapat memahami Alkitab dalam bahasa Spanyol yang dijualnya. Bahkan kelompok orang Indian itu sama sekali belum memiliki bahasa tulis. Saat Cam melakukan perjalanan di daerah-daerah tersebut, dia mulai terbiasa mendengarkan bahasa tutur yang dipakai orang-orang Indian itu. Cam merasa terbeban dengan keadaan mereka. Suatu saat salah seorang dari orang Indian itu berkata padanya, "Jika Allah yang kau sembah benar-benar pintar, mengapa Dia tidak mau mempelajari bahasa kami?"

Cam Townsend tertantang dengan pertanyaan itu dan selanjutnya dia mendedikasikan 13 tahun hidupnya untuk tinggal bersama dengan suku primitif Cakchiquel Indian. Tujuannya yang utama adalah mempelajari bahasa yang mereka gunakan, menyalinnya dalam bentuk tulisan, dan akhirnya yang paling penting adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa tersebut. Setelah bekerja keras selama 10 tahun, akhirnya pada tahun 1929, Cam berhasil menyelesaikan terjemahan Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Cakchiquel Indian. Penerjemahan tersebut memantapkan keyakinan Cam akan pentingnya proyek penerjemahan Alkitab. Cam berkeinginan untuk terus menerjemahkan Alkitab bagi suku-suku yang belum memiliki bahasa tulis. Namun Central American Mission menyatakan bahwa sudah menjadi tugas Cam bahwa ia harus tetap tinggal di wilayah Cakchiquel Indian dan memelihara pertumbuhan iman mereka. Karena perbedaan pendapat tersebut, akhirnya Cam mengundurkan diri. Pada tahun 1934 bersama dengan L.L. Legters mendirikan Cam Wycliffe di Arkansas -- cikal bakal dari Summer Institute of Lingusistics (SIL). Kedua orang tersebut memberi perhatian khusus tentang pelatihan linguistik bagi para penerjemah Alkitab. Meskipun tidak terlibat secara langsung sebagai organisasi misi, namun SIL memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kemajuan dunia penginjilan.

Meskipun SIL memegang peran penting dalam proyek penerjemahan Alkitab, namun bentuknya sebagai organisasi sekuler (dengan tujuan agar dapat menjalin hubungan-hubungan yang baik dengan pemerintah asing) tidaklah sesuai sebagai organisasi pendukung misi. Karena itu pada tahun 1942, Wycliffe Bible Translators -- namanya diambil dari John Wycliffe, penerjemah Alkitab pada abad ke-14 yang dikenal sebagai "The Morning Star of the Reformation" -- secara resmi didirikan.

Bersama dengan Elaine -- istri keduanya (istri pertama Cam, Elvira Malmstrom, meninggal pada tahun 1944) -- Cam melakukan pelayanan di Peru selama 17 tahun, tempat dimana keempat puteranya dilahirkan. Mereka terus melanjutkan pelayanan dan merintis pelayanan di Colombia. Meskipun Cam dikenal sebagai seorang misionaris yang besar, namun dia tetap menganggap dirinya sebagai seorang penerjemah Alkitab. Sesudah melayani selama 50 tahun, saat dimana kebanyakan orang mulai memikirkan tentang pensiun, Cam mempersiapkan diri untuk pergi melayani bersama Elaine ke Uni Soviet. Setelah mempelajari bahwa ada sekitar 100 bahasa tutur di wilayah Caucasus -- dan belum ada terjemahan Alkitab dalam sebagian besar bahasa-bahasa itu -- maka Cam memutuskan untuk melibatkan diri mulai dari awal dalam proyek penerjemahan Alkitab untuk wilayah Caucasus. Jadi, pada umur 72 tahun, Cam bersama Elaine mempelajari bahasa Rusia selama beberapa jam setiap harinya. Setelah persiapan awal itu selesai dilakukan, mereka berangkat ke Caucasus.

Dalam seluruh kehidupannya, ada satu filosofi yang memotivasi Cam dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Alkitab: "The greatest missionary is the Bible in the mother tongue. It never needs a furlough, is never considered a foreigner." ('Misionaris' terhebat adalah Alkitab dalam bahasa ibu/bahasa yang dipahami penduduk setempat. 'Misionaris' ini tidak perlu cuti dan tidak pernah dianggap orang asing.) Filosofi dari Cam inilah yang menjadikan WBT/SIL dan JAARS dapat berkembang sampai saat ini.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 351 -- 357

e-JEMMi 08/2002

D.L. Moody

Dwight L. Moody dilahirkan di Northfield, Massachusetts, pada tanggal 5 February 1837 dari pasangan Edwin Moody dan Betsey Holtom. Ayahnya bekerja sebagai seorang tukang batu. Ayahnya meninggal saat Moody masih kecil dan dalam masa kesusahan mereka. Sejak itu ibunyalah yang bekerja keras membanting tulang untuk membesarkan anak-anaknya menjadi orang-orang dewasa yang baik.

Masa kecil Moody dilalui sebagaimana anak-anak kecil lain di tempatnya. Ia bersekolah, dan pada musim panas ia bekerja untuk menggembalakan lembu tetangganya dengan upah satu sen sehari. Moody merupakan anak yang periang dan humoris, tapi juga terkadang nakal dan menjadi pengacau di kelasnya. Sampai suatu saat Moody berhadapan dengan gurunya yang menegur perbuatan Moody dengan kasih dan teguran itu membuat Moody menyadari kesalahannya.

Moody kecil tidak terlalu berminat terhadap masalah agama, tetapi ibunya Betsey selalu tekun mengajar anak-anaknya untuk berdoa dan menepati janji. Dari masa kecilnya tidak ada tanda atau peristiwa yang menunjukkan bahwa Moody akan dapat berbuat demikian mengagumkan di kemudian hari.

Saat beranjak dewasa ia pindah ke Boston untuk bekerja di perusahaan sepatu pamannya sebagai pelayan toko. Ia memiliki cita-cita untuk menjadi pengusaha yang sukses dan mulai belajar seluk beluk perusahaan. Di kota inilah ia mulai mengalami pertumbuhan rohani ketika berjemaat di Gereja Mount Vernon. Pada tanggal 20 September 1856 Moody pindah ke Chicago untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan untuk mengikuti bimbingan Allah. Pekerjaannya tidak jauh dari pekerjaan sebelumnya yakni di toko sepatu. Ia suka sekali bersosialisasi dengan orang-orang baru terutama orang-orang yang merantau.

Ia pun memulai pelayanannya dengan membagi-bagikan brosur dan selebaran serta mengajak orang-orang untuk menghadiri kebaktian gereja. Ia juga membuka Sekolah Minggu dengan tujuan untuk menyelamatkan anak-anak di bagian kota yang buruk. Banyak anak nakal yang tadinya menentangnya diajaknya bergabung dan mereka menuruti ajakannya dan bertobat. Pekerjaannya pun juga semakin membaik.

Moody mulai berkonsentrasi penuh dalam melayani Tuhan, di tahun 1860 ia mengambil keputusan untuk meninggalkan bisnisnya. Ia mulai mengadakan kebaktian-kebaktian minggu malam untuk anak-anak dan bergabung dengan Young Men's Christian Association (YMCA) di Chicago. Pelayanannya pun semakin berkembang dan untuk menampung kebaktian orang-orang yang dilayaninya ia mendirikan Illinois Street Church.

Pada masa perang saudara meletus, Moody juga terjun memberitakan Injil ke kemah-kemah prajurit dan mengadakan kebaktian-kebaktian. Sampai- sampai ada resimen yang disebut resimen YMCA karena terdiri dari orang-orang Kristen yang taat.

Pelayanannya ke Inggris dimulai pada tahun 1867 dan ia mengunjungi beberapa tempat di sana serta Irlandia. Di tempat inilah Moody bertemu dengan seorang pendeta muda bernama Harry Moorehouse yang meminta Moody agar diijinkan untuk berkhotbah di gerejanya di Chicago. Awalnya Moody menilai bahwa pemuda tersebut belum cakap dalam berkhotbah tapi pada akhirnya ia mengijinkan Harry untuk berkhotbah di gerejanya. Ternyata tidak seperti yang dipikirkannya Harry mampu membawakan khotbahnya dengan sangat mengesankan selama tujuh hari berturut-turut dari pasal yang sama Yohanes 3:16 dengan pewahyuan yang selalu baru. Hal ini mengubah cara Moody berkhotbah dan dia semakin rajin menyelidiki Alkitab.

Dalam pelayanannya banyak orang yang membantu Moody, termasuk Ira D. Sankey seorang yang memiliki talenta dalam menyanyi, yang tadinya sudah bekerja sebagai pegawai negeri di bidang pajak. Kemudian ia diajak Moody untuk full time sebagai pemimpin pujian dalam pelayanannya. Sankey meminta waktu untuk berpikir dan akhirnya menerima tawaran tersebut. Bersama-sama mereka menjadi pasangan yang luar biasa dalam mengabarkan Injil.

Tanggal 8 Oktober 1871 terjadi kebakaran besar di Chicago. Illinois Street Church dan Farewell Hall tempat Moody melayani selama bertahun- tahun turut terbakar. Namun Moody tidak putus asa. Ia segera mencari dukungan dari berbagai pihak untuk menolong para korban kebakaran dan gerejanya. Bantuan pun segera mengalir dari berbagai pihak, usahanya tidak sia-sia karena 2,5 bulan kemudian didirikan bangunan sementara yang letaknya tak jauh dari bangunan terdahulu dan dinamakan North Side Tabernacle. Semakin banyak orang datang ke kebaktian yang diadakannya di tempat tersebut.

Tahun 1873-1875, D.L. Moody kembali mengunjungi Inggris, dan mengunjungi kota-kota yang ada di sana. Di setiap tempat yang ia kunjungi beratus-ratus orang bertobat dan diselamatkan. Banyak surat kabar merekam peristiwa kebaktian yang dipimpin oleh D.L. Moody. Ia juga selalu melibatkan hamba-hamba Tuhan lokal dari berbagai aliran untuk membantu pelayanannya.

Khotbahnya yang terakhir adalah di Kansas, Missouri, di gedung Convention Hall yang berkapasitas 15.000 orang. Ia berkhotbah dari Lukas 14:16-24 tentang perumpamaan orang-orang yang berdalih. Setelah itu Moody jatuh sakit dan tidak bisa melanjutkan pelayanannya. Kemudian ia pulang kembali ke kotanya Northfield untuk beristirahat. Di kotanya inilah Moody menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan membawa kedamaian surgawi pada tanggal 22 Desember 1899. Dia menorehkan kenangan manis bagi keluarganya dan setiap orang yang pernah dilayaninya.

Sumber:
Judul Buku: Riwayat Hidup D.L. Moody
Penulis : AP. Fitt
Penerbit : Christian Literature Crusade

e-JEMMi 34/2003

Don Richardson dan Suku Sawi Di Irian Jaya

Salah satu dari ahli teori misi praktis yang telah menarik banyak minat di dunia Barat adalah Don Richardson. Bukunya "Peace Child" (Anak Perdamaian) dan "Lords of the Earth" (Para Penguasa Bumi) yang ditujukan bagi orang-orang Kristen awam ini menyajikan tentang kerumitan dalam mengkomunikasikan Injil secara lintas budaya kepada orang-orang non-Kristen, khususnya suku- suku yang jauh dari peradaban barat. Mungkin lebih dari misionaris lainnya di Amerika, dia bisa menarik baik orang awam maupun para ahli misiologi.

Prinsipnya tentang "Redemptive Analogy" (Analogi Penebusan) -- penerapan tentang prinsip keselamatan ke dalam budaya lokal -- telah menyebabkan antusiasme dan debat dalam siklus misiologi semenjak dia menjelaskan prinsip tersebut di sebuah seminar di Dallas Theological Seminary tahun 1973. Sejak saat itu pengaruhnya telah berkembang melalui buku-buku dan artikel-artikel yang ditulisnya, konferensi yang diadakannya, pembuatan film "Peace Child", dan asosiasinya dengan U.S. Center for World Mission di Pasadena.

Dalam sebuah kebaktian di Prairie Bible Institute tahun 1955, Don Richardson, seorang pemuda yang saat itu masih berusia 20 tahun, menjawab panggilan untuk terlibat dalam pelayanan misi ke luar negeri. Panggilan yang dijawabnya ini bukanlah panggilan yang masih samar-samar -- untuk pergi ke "suatu tempat" yang belum jelas -- tetapi merupakan panggilan yang penuh kepastian untuk melayani suku- suku pengayauan (pemburu kepala manusia) di Netherlands New Guinea (sekarang Irian Jaya), dimana kekejaman merupakan cara hidup suku-suku tersebut. Banyak orang menghadiri kebaktian di Prairie Bible Institute tsb. dan mendengar khotbah dari Ebenezer Vine yang berusia 71 tahun dari "Regions Beyond Missionary Union" (RBMU). Prairie Bible Institute telah cukup terbiasa melihat sebagian besar lulusannya terpanggil untuk melayani di luar negeri. Di antara lulusan yang memiliki keputusan yang sama dengan Don pada saat itu adalah Carol Soderstrom, seorang gadis cantik dari Cincinnati, Ohio, yang lima tahun kemudian menjadi istri Don.

Tahun 1962, sesudah menyelesaikan kursus di Summer Institute of Linguistics dan menunggu kelahiran anak pertama mereka, Don dan Carol berlayar menuju New Guinea, dimana mereka bergabung dengan pelayanan misionaris RBMU sampai mereka ditugaskan untuk melayani suku yang ditunjuk -- suku Sawi, salah satu suku yang memiliki budaya yang merupakan gabungan antara kanibalisme dan pengayauan. Sangat berbahaya! Tidak hanya penduduknya yang menakutkan, wilayah yang didiami suku Sawi juga merupakan tempat yang menakutkan sebagai tempat tinggal bagi istri dan anaknya yang masih berusia tujuh bulan. Namun Don tidak pernah meragukan panggilannya.

Sudah cukup beban bagi Don dan Carol untuk memikirkan ketakutan akan tempat dan penyakit berbahaya yang ada di sini. Namun mereka akan bertambah takut jika mereka tidak segera menguasai bahasa suku Sawi. Hal itu merupakan pergumulan terberat bagi mereka. Meskipun merasa "otaknya serasa mengecil" dalam proses pembelajaran bahasa itu, Don mengatur jadwalnya untuk belajar bahasa Sawi selama 8 - 10 jam sehari supaya akhirnya ia dapat menjadi komunikator yang fasih dalam bahasa Sawi.

Saat Don mempelajari bahasa Sawi dan semakin mengenal penduduk Sawi, dia mulai menyadari adanya rintangan-rintangan yang dihadapinya untuk mengenalkan kekristenan kepada mereka. Jurang yang memisahkan antara kekristenannya yang alkitabiah dengan keganasan suku Sawi tampaknya terlalu sulit untuk dijembatani. Bagaimana mereka dapat menceritakan tentang Juruselamat yang maha kasih, dan yang bersedia mati bagi mereka? Penghalang-penghalang komunikasi tampaknya susah diatasi sampai Don menemukan "Redemptive Analogy" (Analogi Penebusan)-- konsep dari suku Sawi mengenai "Peace Child" (Anak Perdamaian).

Dalam budaya mereka, suku Sawi telah menemukan cara untuk membuktikan ketulusan niat dan membangun perdamaian. Sebelumnya, suku Sawi selalu mencurigai segala pernyataan yang dilakukan untuk menjalin persahabatan, kecuali untuk satu pernyataan: Jika seorang pria bersedia menyerahkan anak laki-lakinya kepada para musuhnya, maka pria itu dapat dipercaya. Analogi Anak Perdamaian inilah yang dipakai Don untuk menunjukkan kepada suku Sawi bahwa Allah adalah seorang Bapa yang bersedia mengorbankan putra-Nya sendiri.

Anak Perdamaian ini sendiri tidak dapat menyelesaikan semua rintangan komunikasi untuk memahami Kekristenan. Oleh karena itu Don dan Carol mencari analogi-analogi lain yang dapat dipakai untuk bersaksi. Juga sebagai seorang perawat, Carol menolong hampir sebanyak 2.500 pasien setiap bulannya. Melalui kesabaran mereka berdua, lambat laun suku Sawi mulai mengenal Kekristenan. Don, dengan bantuan Carol, mulai menerjemahkan Perjanjian Baru dan mengajar suku Sawi untuk membaca.

Tahun 1972, setelah satu dekade melayani suku Sawi, banyak terjadi perubahan. Rumah pertemuan yang biasa dipakai untuk beribadah diperluas. Don menyarankan untuk membuat "Sawidome" -- sebuah rumah yang dapat menampung sedikitnya 1000 orang. Rumah ini menjadi "rumah perdamaian bagi mereka yang dulu saling bermusuhan."

Setelah menyelesaikan penerjemahan Perjanjian Baru, Don Richardson dan keluarganya meninggalkan suku Sawi dan menyerahkannya di bawah pengawasan para penatua gereja mereka dan John serta Esther Mills, pasangan misionaris lainnya yang melayani suku Sawi.

Diterjemahkan dan diringkas dari sumber:

Judul Buku: From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Judul Bab : New Methods and Strategy: Reaching Tomorrow's World
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Academie Books, 1983
Halaman : 481 - 485


Cat. Red.:
Informasi mengenai konsep "Redemptive Analogies" (Analogi Penebusan) dari Don Richardson yang menjelaskan tentang beberapa cara pemahaman budaya yang sering kali bisa dipakai untuk mengabarkan Injil pernah ditampilkan dalam arsip e-JEMMi edisi 040/2000 di alamat:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-jemmi/2000/40/

Anak "Anak Perdamaian" dari Don Richardson sekarang terlibat aktif dalam organisasi "Pioneers International Missions". Simak informasi tentang organisasi tersebut dalam kolom Sumber Misi berikut ini.

e-JEMMi 47/2002

Elizabeth "Betty" Greene

Meskipun Betty Greene tidak menganggap dirinya sebagai pendiri MAF (Mission Aviation Fellowship), namun pada kenyataannya dialah yang bekerja paling banyak pada tahun-tahun pertama pengajuan konsep organisasi misi penerbangan (mission aviation) sebagai sebuah pelayanan misi khusus. Lebih jauh lagi, dia adalah staf pekerja full- time pertama dan pilot pertama yang terbang pada saat organisasi itu baru terbentuk. Meskipun dia seorang wanita, pengalaman dan keahliannya sebagai pilot tidak diragukan lagi. Betty bekerja di Air Force selama bulan-bulan pertama Perang Dunia II, menerbangkan misi- misi radar dan terakhir dia ditugaskan untuk mengembangkan beberapa proyek termasuk menerbangkan pesawat-pesawat pengebom B-17. Namun pelayanan di dunia militer bukanlah pilihan karir Betty. Oleh karena itu sebelum PD II berakhir dia telah meninggalkan dunia militer dan memulai pelayanan seumur hidupnya sebagai seorang pilot misionaris.

Betty tertarik di dunia penerbangan sejak dia masih kecil. Pada usianya yang ke-16, dia mengikuti pelajaran penerbangan. Saat masih kuliah di Universitas Washington, Betty mendaftarkan diri untuk mengikuti program pelatihan pilot pemerintah sipil. Program ini mempersiapkan dirinya untuk mencapai mimpinya menjadi seorang pilot misionaris. Dia bergabung dalam WASP (Women's Air Force Service Pilots), motivasi utamanya adalah mencari pengalaman yang nantinya akan membantu Betty dalam melakukan pelayanan misi. Pada waktu luangnya, Betty menyempatkan diri untuk menulis sebuah artikel yang diterbitkan oleh Inter-Varsity HIS Magazine. Artikel tersebut menjelaskan tentang pentingnya misi penerbangan dan sekaligus rencana-rencananya untuk mewujudkan impiannya itu. Tulisan Betty tersebut mendapat perhatian dari Jim Truxton, seorang pilot angkatan laut yang sedang mendiskusikan masalah misi penerbangan dengan dua orang temannya. Jim menghubungi Betty dan memintanya untuk bergabung dengan mendirikan organisasi misi penerbangan.

Tahun 1945, sesaat setelah MAF didirikan, permintaan penting datang dari Wycliffe Bible Translators untuk menolong pelayanan mereka di Mexico. Setelah beberapa bulan melayani di Mexico, Betty diminta oleh Cameron Townsend (pendiri Wycliffe), untuk menolong pelayanannya di Peru. Tugas Betty dalam pelayanan di Peru adalah menerbangkan para misionaris dan persediaan ke daerah pedalaman. Setiap kali terbang dia selalu melewati puncak-puncak pegunungan Andes, hal itu menjadikan dirinya sebagai pilot wanita pertama yang melakukan penerbangan tersebut.

Betty "mengabdikan dirinya" kepada para misionaris di Ethiopia, Sudan, Uganda, Kenya, dan Kongo. Pada tahun 1960, Betty menjalani tugas penerbangannya yang terakhir yaitu ke Irian Jaya. Tugas tersebut tidak hanya berbahaya tetapi juga sulit karena perjalanan hutannya yang berliku-liku dan mengerikan. Untuk menerima bantuan dari misi penerbangan, setiap pos misi harus membangun sendiri tempat tinggal landas pesawat. Sebelum pendaratan dilakukan, seorang pilot yang berpengalaman harus terlebih dulu terbang melintasi wilayah tersebut untuk memastikan keadaannya. Karena sebagian besar tugas Betty adalah di udara, dia segera menyadari bahwa dia tidak dapat mengimbangi teman sekerjanya, Leona St. John, atau 8 orang suku Moni yang membawakan barang-barangnya saat menyusuri hutan di wilayah Irian Jaya. Leona dan orang suku Moni tersebut telah terbiasa dengan hujan tropis yang terjadi setiap hari, melewati jembatan dari tumbuhan yang gemerisik bunyinya, dan juga saat melalui lahan berlumpur yang sangat licin. Betty mengatakan bahwa dia tidak tahu seberapa beratnya perjalanan tersebut. Namun kelelahan fisik yang dialaminya segera tergantikan dengan ketakutan saat secara tidak sengaja rombongan Betty itu terjebak di tengah- tengah peperangan antar suku -- mereka menyaksikan pemandangan kematian dan pembunuhan yang mengerikan.

Tapi semua ketakutan dan kelelahan yang dialami dalam menempuh perjalanan itu akhirnya terobati saat Betty, Leona dan para pembawa barangnya tiba di desa tujuan mereka. Sambutan yang ramah diterimanya dari penduduk setempat dan sepasang misionaris yang telah bertugas di sana. Terlebih dari itu Betty juga menemukan tempat untuk pesawatnya mendarat. Perayaan yang sebenarnya baru terjadi keesokan harinya saat seorang pekerja MAF mendarat dengan membawa semua persediaan yang dibutuhkan. Pelayanan Betty mendapatkan banyak penghargaan. Namun pengalaman yang tak terlupakan sepanjang karirnya adalah saat dia melayani di Irian Jaya selama hampir dua tahun.

Saat Betty diwawancara pada tahun 1967 tentang apakah dia akan "mendorong seorang wanita untuk melakukan pelayanan seperti yang dia lakukan," Betty menjawab: "MAF tidak setuju, dan juga saya ... Kami memiliki tiga alasan mengapa kami tidak menerima wanita untuk pelayanan ini: 1) Sebagian besar wanita tidak terlatih dalam hal mekanis. 2) Kebanyakan tugas pelayanan dalam misi penerbangan merupakan tugas yang berat. Misalnya ada kargo besar yang harus diangkut dan hal ini tidak dapat dilakukan oleh seorang wanita. 3) Fleksibilitas; misalnya, jika ada sebuah tempat yang mengharuskan seorang pilot tinggal di sana selama beberapa hari/minggu, anda tidak dapat meminta seorang wanita untuk melakukannya."

Tanpa menghiraukan kebijaksanaan MAF masa lampau tentang deskriminasi gender tersebut, sampai saat ini masih banyak wanita yang terjun dalam pelayanan misi penerbangan. Sekarang setelah lebih dari satu dekade munculnya kesadaran feminisme, kebijaksanaan MAF mengalami perubahan. Para wanita dapat diterima sebagai pilot. Baru- baru ini, Gina Jordon yang memiliki 15.000 jam terbang sebagai pilot telah meninggalkan pekerjaannya di Kanada dan bergabung dengan MAF sebagai seorang pilot untuk pelayanan di Kenya.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 395 -- 398

e-JEMMi 16/2002

Florence Young -- Bunga di Pulau Queensland

Sekitar abad 18, kepulauan Pasifik dikenal sebagai surganya bumi pada saat itu. Banyak penjelajah dan pedagang yang singgah di kepulauan tersebut selalu terpana dengan keindahan dari kepulauan ini. Termasuk juga para penulis antara lain: William Melville, Robert Louis Stevenson, dan James Michener mengungkapkan dengan piawai melalui novel-novel tulisan mereka.

Meskipun demikian, ada banyak jiwa yang tinggal di kepulauan Pasifik tersebut sedang sekarat karena belum mengenal Kristus. Banyak lembaga misi yang rindu untuk melayani di kepulauan ini dan banyak sumber daya manusia dibutuhkan untuk mendukung penginjilan yang dilakukan. Namun para misionaris yang diutus terkadang hanya sebentar melakukan pelayanannya. Selain karena faktor geografis yang agak sulit untuk menjangkau kepulauan-kepulauan tersebut pada masa itu, faktor terbesar yang membuat penduduk menolak kehadiran para misionaris adalah karena sikap dari para pedagang dan pelaut yang singgah di wilayah ini. Mereka datang untuk mengeksploitasi para penduduk -- termasuk dengan maraknya perdagangan budak pada masa itu -- dan sumber daya alam yang ada.


Walau ada banyak kendala, banyak misionaris yang terus berjuang untuk memenangkan penduduk kepulauan ini termasuk mereka yang telah dijadikan budak di tempat-tempat lain. Salah satunya adalah Florence Young yang kesaksiannya bisa Anda simak dalam Tokoh Misi berikut ini. Bila dibandingkan dengan kepulauan lain, maka pada abad 19 (sekitar tahun 1983 -- saat buku ini ditulis), kepulauan Pasifik mempunyai prosentasi kekristenan yang tinggi.

Ironisnya, bisnis penculikan orang-orang negro atau Polinesia untuk dijadikan budak yang telah banyak menimbulkan kerusakan di kepulauan Pasific Selatan ternyata menjadi pintu gerbang utama bagi masuknya penginjilan di kepulauan Solomon. Sementara beberapa misionaris seperti John Coleridge Patteson dengan sengit menentang lalulintas tersembunyi dari bisnis "manusia" ini, namun ada beberapa misionaris lain termasuk Florence Young yang tampaknya "menerima" hal tersebut dan malah bekerja dalam sistem yang mendukung perbudakan itu.

Florence Young adalah seorang warga Sydney, Australia. Dia adalah orang yang pertama kali mengekspresikan keprihatinannya tentang kesejahteraan rohani para pekerja perkebunan di South Seas. Saudara- saudara Florence adalah pemilik Fairymead, perkebunan tebu yang besar di Queensland, dan kunjungannya ke perkebunan ini telah mengubah pandangan hidup Florence. Meskipun keterlibatan para saudaranya dengan para pedagang budak tidaklah jelas (beberapa pemilik perkebunan biasanya membuat kontrak kerja dengan badan penyalur pekerja resmi), namun yang pasti, Florence bersedia bekerja dalam sistem ini untuk mengenalkan Injil kepada para budak.

Sebagai anggota jemaat dari Plymouth Brethren, Florence Young telah mempelajari Alkitab sejak dia masih kanak-kanak dan sangat mendukung pelayanan pengajaran yang dilakukannya sejak tahun 1882. Kelas kecil pertamanya yang terdiri dari 10 budak merupakan suatu awal yang kurang menggembirakan. Namun jumlah ini terus bertambah dan tak lama kemudian, dia mempunyai 80 murid di kelas yang diadakan setiap hari Minggu. Separo dari jumlah itu datang secara rutin dalam kelompok pemahaman Alkitab yang diadakan setiap sore. Respon tersebut jauh melebihi dari yang dibayangkan Florence.

Anda bisa membayangkan kondisi para budak saat itu. Menebas batang tebu pada jam 12 siang atau selama beberapa jam setiap hari di bawah terik matahari merupakan pekerjaan yang 'mematikan'. Banyak budak meninggal karena bekerja dalam kondisi dan tekanan seperti itu termasuk Jimmie, budak pertama yang bertobat di perkebunan itu. Meskipun demikian, mereka berani mengorbankan jam-jam istiharat yang berharga untuk mendengarkan Injil.

Kesuksesan dari pelayanan Florence Young di Fairymead ini memberinya semangat untuk melakukan hal yang sama di perkebunan-perkebunan lainnya di Queensland, dimana ada 10000 budak tinggal dalam kondisi yang serupa, bahkan ada yang lebih buruk lagi. Pemberian dana kasih dari George Mueller (juga menjadi jemaat Plymouth Brethren) merupakan stimulan yang dibutuhkan Florence untuk mendirikan Queensland Kanaka Mission (Kanaka merupakan istilah yang digunakan untuk "para pekerja yang diimpor"). Florence juga mendapat dukungan dari seorang guru misionaris dan menulis surat secara rutin kepada para pemilik perkebunan yang ada di wilayahnya. Pada akhir abad 19, melalui pelayanan yang dilakukan 19 misionaris, ribuan orang telah mengikuti kursus Alkitab yang diadakan Florence dan ada yang berkeinginan untuk memberitakan Injil saat mereka kembali ke negara asal mereka.

Pada tahun 1890, Florence merasa Allah memanggilnya untuk terlibat dalam pelayanan misi ke China. Oleh karena itu, dia ikut melayani bersama China Inland Mission. Namun dia kembali lagi ke South Seas pada tahun 1900 untuk mengarahkan secara langsung pelayanan misi yang telah dirintisnya karena pelayanan ini telah mengarah ke fase yang berbeda. Hukum telah melarang perdagangan budak berkulit hitam dan sistem kerja paksa juga telah dilarang. Pada tahun 1906, banyak budak telah dipulangkan ke kampung halamannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa pelayanan Florence berhenti sampai di sini. Pelayanan Follow-up diperlukan untuk melanjutkan pelayanan yang telah dirintis tersebut. Florence dan beberapa misionaris berlayar menuju Solomon Islands dimana mereka melayani para petobat baru dan mendirikan gereja.

Pada tahun 1907, Queensland Kanaka Mission mengganti namanya menjadi South Sea Evangelical Mission. Florence dibantu oleh ketiga keponakannya -- Northcote, Norman, dan Katherine Deck sangat aktif dalam melakukan pelayanan ini. Tahun-tahun berlalu, 10 orang lebih sahabat dekatnya menjadi misionaris dan menyusul Florence ke Solomon Islands.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 223 -- 224

e-JEMMi 04/2004

Hudson Taylor

Hudson Taylor dilahirkan di Yorkshire, Inggris, pada tahun 1832. Sejak masih kecil, ayahnya -- seorang ahli pharmasi, telah menanamkan nilai- nilai Kristiani kepadanya. Setiap hari ayahnya selalu membacakan dan menjelaskan ayat-ayat dalam Alkitab. Bahkan ia menginginkan agar anaknya kelak menjadi seorang misionaris. Usaha ini ternyata tidaklah sia-sia karena ternyata sebelum berumur lima tahun Taylor sudah mempunyai keinginan untuk menjadi seorang misionaris dan tempat yang menjadi tujuan dari misinya adalah China.

Meskipun sejak kecil sudah terbiasa dengan kehidupan Kristiani, ternyata pada saat mulai menginjak remaja, ia mulai merasa ragu-ragu dengan apa yang pernah diajarkan oleh ayahnya. Tetapi berkat doa dari ibu dan saudara perempuannya, keragu-raguan itu akhirnya dapat segera diatasi setelah ia membaca sebuah buku tentang karya penyelamatan Kristus yang ia temukan di ruang baca ayahnya. Ia lalu berlutut dan berdoa kepada Tuhan serta mohon pengampunan pada-Nya. Sejak saat itu Taylor mulai memusatkan perhatiannya pada keinginannya untuk melakukan misinya ke China.

Meskipun sangat antusias dengan misi penginjilannya itu tetapi ia tetap mengutamakan pendidikannya di bidang farmasi. Keinginannya untuk melakukan misi penginjilan di China dapat terwujud secara tak sengaja ketika Hung, yang juga seorang Kristen, menjadi kaisar di China. Demi mewujudkan keinginannya itu ia rela berhenti dari training dibidang obat-obatan yang selama ini ia kerjakan. Kesempatan untuk melakukan penginjilan di China ini juga merupakan jawaban doa direktur Chinese Evangelization Society (CES) yang mensponsori pelatihan yang diikuti Taylor.

CES adalah suatu misi penginjilan di atas kapal yang tidak terorganisasi dan tak seorangpun di China yang diijinkan untuk bekerja dengan misi ini.

Taylor mulai berlayar ke China pada bulan September 1853 dan tiba di Shanghai di awal musim semi tahun 1854. Bagi Taylor, China dengan berbagai adat istiadat masyarakatnya dan berbagai keunikan lainnya sangat menantang dirinya untuk melakukan misi penginjilan tersebut. Kesepian adalah masalah utama yang dihadapi Taylor pada saat tiba di Shanghai, selain itu ia juga mengalami masalah keuangan sedangkan di Shanghai pada waktu itu sedang terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan.

Usaha-usahanya untuk menyesuaikan diri dengan bahasa setempat sempat membuatnya sangat tertekan. Tetapi dengan iman dan kepercayaannya yang kuat kepada Tuhan, ia berhasil mengatasinya dengan mulai menyalurkan hobinya, yaitu bercocok tanam dan mengoleksi serangga.

Setahun setelah ia sampai di China, Taylor segera mulai melakukan perjalanan penginjilan menelusuri China. Dalam perjalanannya itu ia terkadang harus melakukannya seorang diri tanpa bantuan orang lain. Di Shanghai, misionaris yang berasal dari luar negeri bukanlah hal yang baru. Meskipun demikian ketika Taylor mulai melakukan penginjilan, masyarakat Shanghai tidak memperhatikan pesan yang ia sampaikan. Mereka jauh lebih tertarik pada cara berpakaian dan cara hidupnya. Keadaan ini membuat Taylor sadar bahwa hanya ada satu cara untuk bisa melakukan penginjilan di daerah ini, yaitu dengan menjadi orang China, yaitu mengikuti cara berpakaian dan kebudayaannya.

Meskipun mengikuti tradisi China ternyata bukanlah hal yang mudah bagi Taylor, namun ia tetap melakukannya. Ia rela mencukur rambutnya dengan model "pigtail", botak di bagian depan kepalanya dan panjang serta dikepang di bagian belakang, bahkan ia pun rela mengubah cara berpakaiannya. Walaupun perubahan penampilannya itu sangat menyiksa dirinya bahkan ia dijadikan bahan lelucon dari pengikut-pengikutnya tetapi perubahan itu baginya adalah suatu "trademark" tersendiri. Ternyata usahanya ini tidaklah sia-sia karena dengan penampilannya yang baru ini justru memudahkan dirinya dalam melakukan perjalanan penginjilan ke seluruh China.

Perjalanan yang harus ia tempuh bukanlah suatu perjalanan yang mudah karena selain melakukan penginjilan, Taylor juga melakukan praktek pengobatan dan ia pun harus bersaing dengan dokter lokal. Masalah keuangan tetap menjadi beban utama Taylor sehingga ia tetap mengharapkan kiriman dana dari Inggris. Selain itu rasa sepi yang pernah ia alami pada bulan-bulan awal ketika ia tiba di Shanghai masih tetap membayanginya sehingga mulai terpikir dalam benaknya untuk memiliki seorang istri. Taylor teringat kembali kepada Miss Vaughn, tunangannya ketika masih berada di Inggris yang meskipun telah bertunangan dua kali mereka gagal menikah karena Miss Vaughn tidak mau ikut Taylor ke China. Taylor kemudian sadar bahwa keinginannya untuk untuk memperistri Miss Vaughn adalah sia-sia.

Taylor kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Elizabeth Sisson, seorang gadis yang juga ia kenal di Inggris. Meskipun Elizabeth tidak menolak lamarannya, namun ternyata kisah mereka tidak berjalan lama. Elizabeth memutuskan pertunangan mereka dan diduga penyebabnya adalah karena model pakaian dan rambut Taylor yang seperti orang China. Keputusan Elizabeth ini sempat membuat Taylor "menyerah dari penginjilan" yang ia lakukan. Sampai akhirnya ketika Taylor tiba di Ningpo, sebuah kota di sebelah selatan Shanghai ia bertemu dengan Maria Dyer. Maria adalah seorang guru di sebuah sekolah yang khusus untuk anak perempuan milik Miss Mary Ann Aldersey. Miss Aldersey adalah seorang misionaris wanita pertama yang datang ke China dan ia juga orang pertama yang membuka sekolah untuk anak perempuan di negara yang didominasi oleh kaum pria ini.

Maria dan Taylor berkenalan di bulan Maret 1857. Meskipun pada awalnya Maria menolak lamaran Taylor namun akhirnya mereka menikah pada tanggal 20 Januari 1858. Maria benar-benar merupakan wanita yang Taylor butuhkan untuk melengkapi kehidupannya. Mereka tinggal Ningpo selama tiga tahun dan selama waktu itu secara tak sengaja Taylor diangkat menjadi seorang pengawas di sebuah rumah sakit lokal setempat.

Tahun 1860 Taylor dan Maria kembali ke London untuk mempersiapkan berbagai hal dan memulihkan kesehatan mereka. Kesempatan ini juga digunakan Taylor untuk melanjutkan pendidikannya selain juga untuk membuat terjemahan Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Ningpo.

Pada saat yang sama, Taylor mendirikan China Inland Mission (CIM) -- suatu organisasi misionaris yang terbentuk berdasarkan pengalaman dan kepribadian Taylor. Taylor sadar bahwa China tidak akan pernah menerima penginjilan jika ia harus menunggu misionaris yang terpelajar untuk pergi ke sana. Karena itu Taylor merekrut orang-orang Inggris yang terpelajar untuk melakukan penginjilan ke China. Taylor juga mendirikan kantor CIM di China yang akan memperhatikan berbagai kebutuhan misionaris di sana.

Secara resmi CIM berdiri pada tahun 1865 dan tahun berikutnya Taylor mulai melakukan persiapan untuk berlayar ke China bersama dengan Maria, keempat anaknya, lima belas orang pengikutnya. Selama dalam pelayaran, rombongan ini tidak lepas dari berbagai permasalahan yang melanda mereka tetapi berkat kesabaran dan pendekatan secara pribadi segala permasalahan dapat diatasi oleh Taylor.

Setibanya di Shanghai, Taylor segera memesan pakaian model China bagi pengikutnya. Meskipun para pengikutnya telah mengetahui cara adaptasi ini tetapi keterkejutan mereka tetap tak dapat dihindari. Bahkan pengikut setia Taylor-pun ada yang merasa putus asa dan ingin menyerah, tetapi berkat pertolongan Tuhan permasalahan ini dapat diatasi.

Pada tahun 1868, rumah yang digunakan sebagai tempat penginjilan Taylor di Yangchow, dirusak dan dibakar. Peristiwa ini hampir merenggut nyawa para misionaris dan Maria. Meskipun peristiwa ini mengakibatkan banyak kerugian dan sempat membuat Taylor menyerah tetapi berkat dukungan dari salah seorang temannya, semangat Taylor kembali menyala untuk meneruskan misinya. Ia merasa bahwa melalui berbagai peristiwa yang terjadi Tuhan menjadikan ia sebagai orang yang baru.

Peristiwa yang tak kalah menyedihkannya adalah ketika Sammy, anaknya yang masih berusia lima tahun meninggal di awal bulan Februari. Beberapa bulan kemudian, Maria yang sedang hamil menderita sakit yang sangat serius. Awal bulan Juli Maria melahirkan seorang anak laki-laki yang hanya berumur dua minggu. Beberapa hari setelah kematian anaknya ini, Maria juga meninggal pada usia 33 tahun.

Tanpa Maria, Taylor benar-benar kehilangan semangat dan kesepian. Karena alasan itulah sebulan setelah kematian Maria, ia pergi ke Hangchow. Di sanalah ia menghabiskan waktu bersama Jennie Faulding, seorang misionaris muda yang masih berusia 22 tahun yang merupakan teman dekat keluarga Taylor sejak mereka tiba di China. Setahun kemudian mereka kembali ke Inggris dan menikah. Tahun 1872, mereka kembali lagi ke China bersama dengan para misionaris yang lebih banyak lagi jumlahnya.

Seiring dengan perkembangan CIM, Taylor menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengelilingi China. Semakin luas daerah yang diinjili semakin besar pula beban yang harus ditanggung. Meskipun demikian, Taylor mempunyai rencana, yaitu jika ia berhasil merekrut 1000 misionaris dan jika masing-masing misionaris bisa menginjili 250 orang setiap hari maka hanya dalam jangka waktu kira-kira tiga tahun seluruh China sudah bisa mendapatkan penginjilan. Ini adalah visi yang tidak realistik, dan rencananya ini tidak pernah tercapai. Meskipun demikian, CIM memberikan sesuatu yang tak terlupakan di China. Tahun 1882 CIM berhasil memasuki setiap propinsi di China dan di tahun 1895, 30 setelah didirikan, CIM telah memiliki lebih dari 650 misionaris yang mengabdikan hidupnya di China.

Tahun-tahun terakhir di abad 19 adalah tahun yang penuh dengan tekanan dan melelahkan. Tekanan modernisasi dan pengaruh dari negara barat berlawanan dengan tekanan tradisi dan antagonisme terhadap orang-orang asing. Pada bulan Juni 1900 kekaisaran Peking memerintahkan untuk membunuh semua orang asing dan melarang semua kegiatan yang berhubungan dengan agama Kristen. 135 orang misionaris dan 53 anak- anak para misionaris dibunuh secara brutal.

Taylor kemudian diasingkan di Switzerland, memulihkan kembali kesehatannya dari kejadian yang membuatnya trauma meskipun ia tidak dapat benar-benar menghilangkan trauma yang dialaminya. Tahun 1902, Taylor menempati kembali jabatannya sebagai pimpinan utama misi. Taylor dan Jennie tinggal disana sampai Jennie meninggal tahun 1904. Setahun kemudian Taylor kembali ke China dimana akhirnya ia meninggal dengan tenang sebulan setelah kedatangannya.

Meskipun Taylor telah meninggal, namun CIM tetap berkembang. Puncak kejayaan CIM terjadi tahun 1914 dimana CIM menjadi organisasi misi yang terbesar di dunia dan pada tahun 1934 berhasil memiliki misionaris sebanyak 1368. Tahun 1964 CIM berganti nama menjadi "The Overseas Missionary Fellowship".

Diterjemahkan dan diringkas dari sumber:
Judul Buku : BAGAIMANA TOKOH-TOKOH KRISTEN BERTEMU DENGAN KRISTUS
Judul Artikel: Pelopor Utusan Injil -- Hudson Taylor
Penulis : James C. Hefley
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000
Halaman : 66 - 68

Judul Buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Judul Bab : The Far East : "Barbarians Not Welcome"
Judul Artikel: The J. Hudson Taylors
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Academie Books, 1983
Halaman : 173 - 188


Ingwer Ludwig Nommensen

Nommensen adalah seorang tokoh pekabar Injil berkebangsaan Jerman yang terkenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya adalah berdirinya sebuah gereja terbesar di wilayah suku bangsa Batak Toba. Gereja itu bernama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Tidak berlebihan jikalau ia diberi gelar Rasul Batak. Ia sudah memberikan seluruh hidupnya bagi pekerjaan pekabaran Injil di tanah Batak.

Nommensen dilahirkan pada tanggal 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin melarat dan selalu sakit-sakitan.

Pada umur 8 tahun ia mencari nafkah dengan menggembalakan domba milik orang lain pada musim panas dan pada musim dingin ia bersekolah. Pada umur 10 tahun ia menjadi buruh tani sehingga pekerjaan itu tidak asing lagi baginya. Semuanya ini nampaknya merupakan persiapan bagi pekerjaannya sebagai pekabar Injil di kemudian hari.

Tahun 1846 Nommensen mengalami kecelakaan yang serius. Pada waktu ia bermain kejar-kejaran dengan temannya, tiba-tiba ia ditabrak oleh kereta berkuda. Kereta kuda itu menggilas kakinya sehingga patah. Terpaksa ia berbaring saja di tempat tidur berbulan-bulan lamanya. Teman-temannya biasanya datang menceritakan pelajaran dan cerita- cerita yang disampaikan guru di sekolah. Cerita-cerita itu adalah tentang pengalaman pendeta-pendeta yang pergi memberitakan Injil kepada banyak orang dan Nommensen sangat tertarik mendengar cerita- cerita itu.

Lukanya makin menjadi parah sehingga dia tidak dapat berjalan sama sekali. Sekalipun sakit, Nommensen belajar merajut kaos, menjahit dan menambal sendiri pakaiannya yang robek. Pada suatu hari ia membaca Yohanes 16:23-26, yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa siapa yang meminta kepada Bapa di surga maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya, apakah perkataan Yesus itu masih berlaku atau tidak. Ibunya meyakinkannya bahwa perkataan itu masih berlaku. Ia meminta ibunya untuk berdoa bersama- sama. Nommensen meminta kesembuhan dan dengan janji, jikalau ia sembuh maka ia akan pergi memberitakan Injil. Dan memang doanya dikabulkan karena beberapa minggu kemudian kakinya sembuh. Setelah sembuh kembalilah Nommensen menggembalakan domba lagi. Janjinya selalu menggodanya untuk segera memenuhinya. Oleh karena itu ia melamar untuk menjadi penginjil pada Lembaga Pekabaran Injil Rhein (RMG). Beberapa tahun lamanya ia belajar sebagai calon pekabar Injl.

Tahun 1861 ia ditahbiskan menjadi pendeta. Dan sesudahnya ia berangkat menuju Sumatera dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai pekerjaannya di Barus. Ia mulai belajar bahasa Batak dan bahasa Melayu yang cepat sekali dapat dikuasainya. Sekarang ia mulai mengadakan kontak-kontak dengan orang-orang Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu mengadakan perjalanan keliling untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Ia mempelajari adat- istiadat Batak dan mempergunakannya dalam mempererat pergaulan.

Nommensen meminta ijin untuk masuk ke pedalaman namun dilarang oleh pemerintah, karena sangat berbahaya bagi seorang asing. Namun Nommensen tidak takut. Ia memilih Silindung sebagai tempat tinggalnya yang baru. Ia mendapat gangguan yang hebat di sini, namun ia tidak putus asa. Ia berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (Kampung Damai). Tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah dan rumahnya sendiri di Pearaja. Sampai sekarang Pearaja menjadi pusat HKBP.

Pekerjaan Nommensen diberkati Tuhan sehingga Injil makin meluas. Sekali lagi ia memindahkan tempat tinggalnya ke kampung Sigumpar, pada tahun 1891 dan ia tinggal di sini sampai dengan meninggalnya.

Nommensen memberitakan Injil di tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan PB ke dalam bahasa Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, menebus hamba-hamba dari tuan- tuannya, dan membuka sekolah-sekolah serta balai-balai pengobatan.

Dalam pekerjaan pekabaran Injil ia menyadari perlunya mengikut- sertakan orang-orang Batak sehingga dibukalah sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Juga untuk kebutuhan guru-guru sekolah, dibukanya pendidikan guru.

Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan maka pimpinan RMG mengangkatnya menjadi Ephorus pada tahun 1881.

Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Universitas Bonn memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Nommensen.

Nommensen meninggal pada umur yang sangat tua, pada umur 84 tahun. Ia meninggal pada 12 Mei 1918. Nommensen dikuburkan di Sigumpar di tengah-tengah suku bangsa Batak setelah bekerja dalam kalangan suku bangsa ini selama 57 tahun lamanya.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja
Judul artikel : Nommensen, Ingwe Ludwig
Penulis : Drs. F.D. Wellem, M.Th.
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999
Halaman : 198 -- 200

e-JEMMi 42/2002

Jim XXXXXX -- Misionaris Untuk Suku Sawi

Jim Xxxxxx berumur 13 tahun ketika ayahnya meninggal dan ibunya adalah seorang Kristen yang taat. Memasuki usia remaja, tanpa figur seorang ayah membuatnya terombang-ambing oleh lingkungan, sehingga akhirnya ia terjerumus ke lembah kelam: narkotika. Hari-hari dilaluinya tanpa kedamaian. Dunia obat bius begitu menjeratnya sampai ia harus meringkuk dalam penjara. Namun Allah dengan kasih-Nya yang begitu besar menjamah Jim, sehingga ia masuk ke dalam rencana-Nya. Allah membawa Jim pada suatu rencana agung yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menjadi seorang misionaris, apalagi ke tempat yang begitu jauh, yang sering disebut sebagai ujung bumi: Irian! (sekarang Papua, red.)

Perjalanan misinya dimulai ketika ia menjadi mahasiswa di sebuah seminari di California, USA, setelah pertobatannya. Sebenarnya Jim hanya ingin belajar satu tahun, tetapi entah karena apa setelah satu tahun dilewati di seminari itu ia meneruskan lagi sampai empat tahun. Pada tahun ketiga ia belajar, ada sebuah jemaat di Oregon, USA, yang gembalanya baru kembali sebagai misionaris selama 30 tahun di Thailand. Jim bekerja sama dengan misionaris itu selama 2 bulan. Dalam waktu yang singkat itulah Tuhan menaruh visi untuk pelayanan misi sedunia ke dalam hati Jim. Setelah menyelesaikan tahun keempat ada praktek pelayanan ke luar negeri. Jim dikirim ke Korea Selatan dan Jepang. Tujuan praktek pelayanan ini adalah mencari peneguhan supaya para mahasiswa tahu pasti kemana mereka harus melayani. Jim berada di Korea selama satu bulan dan di Jepang selama satu bulan. Selama di Korea, Jim merasa senang melihat gereja yang berkembang pesat. Namun panggilan Tuhan belum datang ketika ia berada di Korea. Ketika berada di Kyoto, kota pusat penyembahan berhala di Jepang, Jim suatu malam berdoa semalam suntuk dan aa berkata kepada Tuhan, "Tuhan, saya tidak suka tinggal di negeri asing. Saya tidak suka makan makanan yang aneh. Saya tidak bisa berkomunikasi karena bahasa mereka lain. Saya tidak mampu. Saya tidak akan bisa menjadi seorang misionaris." Dan Tuhan menjawabnya dengan tegas, "Jim, engkau tidak bisa menjadi misionaris, tetapi Aku bisa menjadikan engkau seorang misionaris."

Mulai saat itu Jim sadar dan tidak mau bergantung pada kemampuan dan keinginannya sendiri. Ia hanya ingin bergantung kepada kemampuan dan kehendak Allahnya. Ia merasa punya kepastian bahwa akan datang harinya dimana Tuhan akan membawanya keluar dari Amerika dan melayani di luar negeri. Ia tahu pintu akan dibukakan dan itu pasti terjadi.

Sekembalinya dari Jepang, Jim bersama istrinya kembali ke bangku kuliah untuk belajar Linguistik (Ilmu Bahasa) dan Misiologi selama satu tahun di Fuller Seminary, L.A./Pasadena. Ini adalah persiapan yang akan dipakai untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku terasing di Irian Jaya. "Saya mau melakukan pelayanan di mana orang lain tidak mau melakukannya. Dimana ada ladang pelayanan yang tidak diinginkan orang lain atau tidak bisa dilaksanakan orang lain, saya akan masuk ke sana." kata Jim. Sebab itu Jim dan istrinya bertanya kepada teman-temannya di mana ada suku yang belum diinjili dan belum ada kontak dengan dunia luar. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke suku Sawi di pedalaman Irian Jaya. Suku Sawi terbagi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara dan bagian selatan. Pelayanan misi di bagian selatan telah dirintis oleh Don Richardson, sementara kontak dengan bagian utara sangat kurang. Di suku Sawi utara inilah Jim dan istrinya masuk sebagai misionaris pertama sampai hari ini.

Meninggalkan budaya hidup Amerika merupakan pergumulan sendiri bagi Jim Xxxxxx. Menurutnya situasi di Amerika atau Jakarta sangat berbeda dengan Irian Jaya. Pelayanan di Jakarta itu terlalu enak, terlalu mudah untuk bergantung pada orang lain. Tapi pelayanan di hutan belantara Irian Jaya, tinggal seorang diri dengan keluarganya di tempat terpencil, kepada siapa akan bergantung selain kepada Tuhan saja? Itulah sebabnya sejak semula Jim sudah menyiapkan mentalnya. Sekali berangkat ke Irian Jaya, ia memutuskan dan "membakar semua jembatan" yang dapat mengantarnya kembali ke Amerika.

"Ada orang mau menjadi misionaris untuk jangka waktu satu atau dua tahun, ada juga yang sampai empat tahun. Saya perhatikan, di tempat tugas yang terpencil itu mereka selalu rindu kembali ke tempat asal, selalu berpikir kapan kembali ke keluarga dan teman-teman? Saya yakin untuk menjadi misionaris seseorang harus putus hubungan dengan kampung halamannya, seperti membakar jembatan dan kapal-kapal sehingga tidak bisa kembali pulang. Kalau ada kesempatan untuk kembali, itu semata-mata dari Tuhan, tetapi kita harus siap untuk pergi dan pergi terus tanpa berpikir untuk kembali," kata Jim yang sekarang fasih berbahasa Indonesia dan sudah 20 tahun hidup di antara suku Sawi.

"Saya banyak mendengar tentang kegiatan misi jangka pendek (short- term mission), yang mereka sebut sebagai "misi kunjungan". Itu baik dan dapat sedikit menolong. Tetapi untuk menghasilkan pekerjaan yang besar dan bertahan lama harus ada orang yang mau bertahan hidup lama di suatu wilayah dan tinggal terus-menerus di sana dan menyatu dengan masyarakat setempat. Itulah yang saya lakukan untuk menghilangkan identitas Amerika saya. Saya menyatu dengan suku Sawi untuk mengambil nilai-nilai hidup mereka, untuk saya jadikan nilai-nilai hidup saya sendiri," ungkap Jim.

Jim mengaku banyak membaca buku-buku tentang Irian sebelumnya, tetapi pada waktu terjun ke medan pelayanan, ternyata keadaannya banyak berbeda, dan lebih berat daripada apa yang ditulis orang. "Saat kami turun dari pesawat yang membawa kami, semua orang mengerumuni kami dengan keheran-heranan. Tubuh kami diraba-raba dan akhirnya kami dibawa ke perkampungan mereka. Rupanya mereka sudah menyiapkan sebuah pesta untuk menyambut kedatangan kami. Untuk menghormati kami sebagai tamu, mereka memberikan makanan khas, yaitu ulat sagu yang harus kami makan hidup-hidup!" katanya sambil memperagakan cara memasukkan ulat yang menjijikkan itu ke dalam mulutnya.

Lebih lanjut Jim menceritakan awal-awal pelayanannya di sana. "Kami tahu di sana sering terjadi perang suku, tetapi tidak tahu kalau pada hari pertama kami datang ada perang sungguhan di depan mata kami. Kejadian itu sangat mengejutkan kami." Ternyata Jim dan istrinya tidak satu kali saja menghadapi peperangan semacam itu. Setiap minggu selama tahun-tahun pertama pelayanan mereka selalu terjadi perang suku. Tantangan lain datang bagi pasangan yang pada waktu itu baru menikah ini adalah saat Jim terserang malaria dan hampir mati. Tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, sehingga sampai ia lupa sudah berapa kali ia terserang penyakit berbahaya yang hampir merenggut nyawanya itu.

"Jadi, yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Tuhan. Hubungan yang erat setiap hari dengan Tuhan. Hidup melayani di perkotaan banyak mendapat dukungan dari orang lain. Kalau anda sedang merasa "down", anda dapat datang ke gereja dan mendengarkan khotbah yang bagus dari gembala yang menguatkan. Atau bila anda sedang kecewa, anda dapat memutar kaset-kaset rohani dan anda dikuatkan. Tetapi hidup di hutan seperti kami, tidak memiliki hiburan apa-apa. Hanya diri sendiri bersama Tuhan." tambahnya.

Mengabarkan berita keselamatan kepada suku Sawi tidaklah mudah. Bertahun-tahun Jim dan istrinya mengajar mereka untuk percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi tidak satupun yang mau percaya. Sementara itu istri Jim bekerja di poliklinik, menolong orang-orang yang sakit. Kebanyakan orang-orang Sawi itu sakit borok di kaki, sampai kelihatan tulangnya. Dengan penuh kasih mereka diobati atau disuntik dan didoakan. Ajaib, dalam waktu dua tiga hari penyakit itu sembuh.

Perjuangan Jim tidaklah sia-sia. Ia baru berumur 24 tahun bersama istri tercintanya ketika mereka masuk ke pedalaman hutan belantara Irian demi keselamatan "saudara-saudaranya", suku Sawi, di Irian bagian selatan. Apa yang ia tabur, kini sudah berbuah. Oleh pertolongan Tuhan saat ini berdiri tujuh sidang jemaat suku Sawi.

Jim Xxxxxx mengungkapkan bahwa setelah enam bulan ia baru bisa berkomunikasi dengan bahasa Sawi dan setelah satu tahun ia lebih lancar lagi, sehingga ia dapat menjelaskan hal-hal rohani. Setiap hari ia bersama laki-laki Sawi pergi berburu ke hutan dan istrinya juga masuk ke hutan bersama para wanita Sawi untuk mencari sagu. Dengan cara itu ia menjadi cepat menangkap bahasa Sawi sampai ia dapat menyelesaikan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Sawi. Pada saat ini ia sedang menerjemahkan Alkitab Perjanjian Lama bersama-sama orang-orang Sawi dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Ketika ditanya apakah pergumulan terberat yang dialami selama berada di Irian, Jim menjelaskan, "Sebenarnya ini adalah rahasia. Mungkin orang lain melihat misionaris itu orang yang kuat secara rohani. Itu tidak benar! Ada pergumulan berat ketika iblis mencobai dengan perasaan ditinggalkan. Kami melayani di tengah-tengah hutan Irian dan tidak ada kontak dengan orang-orang luar. Orang-orang di gereja asal kami tidak tahu apa yang terjadi dengan kami. Orang-orang di Jakarta atau tempat-tempat lain melupakan kami, walaupun kami kirimkan pokok-pokok doa mengenai pelayanan kami tapi mereka lupa berdoa bagi kami. Kami sendirian. Tuhan mengijinkan iblis mencobai dengan perasaan itu. Tidak ada orang atau organisasi yang memperhatikan kami. Sebab itu banyak misionaris yang pulang ke negerinya karena patah semangat."

Sampai hari ini Jim Xxxxxx sudah 20 tahun tinggal bersama keluarganya di tengah-tengah saudara-saudaranya, suku Sawi. Mereka berkata bahwa Irian adalah tanah airnya dan dia telah menyatu dalam hidup dan budaya Sawi. Dalam pelayanannya, Jim berusaha menerapkan pelayanan terpadu, pelayanan secara utuh yang meliputi roh, jiwa dan tubuh. Ia tidak hanya mengajarkan hal-hal rohani, tetapi ia juga membuka sekolah untuk memberantas buta huruf, mengajarkan kursus peternakan, pelayanan kesehatan, proyek air bersih dll. Jim yakin apabila mereka menerima keselamatan maka hal itu akan mengubah semua kehidupan mereka.

Meskipun suku-suku terasing di pedalaman Irian seperti suku Sawi ditinggalkan dunia modern, tetapi mereka tetap diperhatikan Allah. Ia telah mengirimkan hamba-Nya untuk menyelamatkan mereka. Ia yang telah menciptakan suku-suku bangsa, Ia pula yang akan menyelamatkan mereka dengan cara-Nya sendiri.

Kesaksian ini adalah kiriman dari: Rusli Kurniawan <rusli_kurniawan@> [Kepada Sdr. Rusli; terima kasih banyak untuk kirimannya. Kami yakin banyak pembaca e-JEMMi dibangkitkan semangatnya untuk berdoa terus bagi para misionaris setelah membaca kesaksian yang anda kirimkan ini.]

e-JEMMi 12/2002

John Releigh Mott

Mott adalah seorang tokoh besar dalam kegiatan penginjilan di kalangan mahasiswa di berbagai universitas di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20. Ia juga dikenal sebagai seorang tokoh pergerakan oikumene di dunia yang tiada tandingnya.

Mott dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1865 di Postville, Iowa, USA. Ayahnya bernama John Stitt Mott dan ibunya bernama Elmira Dogde. Ayah John Mott bekerja sebagai pedagang kayu dan John Mott biasa membantu ayahnya dalam usaha tersebut. Pada umur 13 tahun John mengalami pertobatan dan ia menggabungkan diri dalam Gereja Metodis.

Pada tahun 1881 Mott belajar pada Upper Iowa University selama 4 tahun. Sekolah ini adalah milik Gereja Metodis sehingga proses belajar-mengajarnya diwarnai oleh kekristenan. Setelah itu Mott melanjutkan studinya ke Universitas Cornell. Di sinilah Mott memulai kegiatan pekabaran Injil. Sebenarnya Mott ke Cornell agar ia dapat bekerja pada pekerjaan duniawi atau meneruskan usaha ayahnya. Di Cornell ia segera terpilih menjadi wakil ketua Young Men Christian Association (YMCA) Cabang Cornell. Dia giat memberitakan Injil di kalangan mahasiswa dan memimpin kebaktian di penjara-penjara. Pada tahun 1888 ia menyelesaikan studinya di Cornell.

Sebenarnya Mott sudah tertarik kepada pekerjaan penginjilan sejak ia di Fayette. Pada waktu dibukanya cabang YMCA, Mott sudah melibatkan diri dalam organisasi oikumenis ini. Kemudian ia pindah ke Cornell guna belajar ilmu hukum agar kelak dapat bekerja di lapangan politik. Ia memulai studinya di Cornell tahun 1885. Di Cornell, Mott bergumul tentang cita-citanya dengan panggilan Allah. Pada akhirnya ia tunduk kepada panggilan Allah. Lalu dia bersahabat dengan D.L. Moody.

Pada musim panas YMCA mengadakan konferensi mahasiswa internasional dimana D.L. Moody menjadi ketua konferensinya. Mott menghadiri konferensi ini sebagai wakil dari Cornell. Dalam konferensi ini Mott memutuskan untuk menjadi seorang penginjil bersama dengan 100 mahasiswa lainnya. Inilah permulaan lahirnya Student Volunteer Movement for Foreign Missions (Gerakan Mahasiswa Sukarela untuk Pekabaran Injil ke Luar Negeri).

Tahun 1886 Mott menjadi ketua Student Christian Movement di Cornell. Ia bekerja keras untuk menjalankan kegiatan-kegiatan gerakan ini di Cornell. Dari sinilah Mott belajar untuk mengumpulkan mahasiswa dari berbagai denominasi. Sejak semula ia telah berniat untuk mengusahakan kerjasama antara semua gereja. Ia berkata: "Kita harus awas! Jangan kita menyangka bahwa gereja kita sendiri adalah satu- satunya gereja. Kita harus selalu menghormati semua cabang dari gereja yang Kudus dan am."

Setelah tamat dari Cornell, Mott segera menjadi sekretaris YMCA USA dan Kanada. Ia sekarang mengunjungi seluruh universitas dan perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada. Ia juga menjadi ketua dari Student Volunteer Movement for Foreign Missions. Pekerjaannya makin hari makin berat.

Tahun 1891 Mott ke Amsterdam untuk menghadiri konferensi YMCA se- Dunia. Sekarang ia terdorong untuk membentuk suatu federasi dari seluruh gerakan mahasiswa Kristen se dunia. Ia berkali-kali berkunjung ke Eropa sambil mengutarakan rencana tersebut. Rencananya itu akhirnya berhasil, yaitu dengan terbentuknya Federasi Mahasiswa Kristen se Dunia. Ia sendiri terpilih sebagai sekretarisnya. Sebagai sekretaris umum, maka ia mengunjungi banyak negara di dunia.

Mott juga menjadi Ketua Komisi Persiapan untuk Konferensi Pekabaran Injil se Dunia di Edinburgh tahun 1910. Mott adalah pemikir utama dalam konferensi itu serta banyak memimpin persidangan. Setelah itu konferensi bubar, maka dibentuklah Komisi Penerus (Continuation Committee) yang diketuai oleh Mott hingga tahun 1920. Tokoh Mott tidak dapat dilepaskan dari Dewan Pekabaran Injil International (International Missionary Council) yang dibentuk pada tahun 1920. Mott menjadi ketua Dewan ini hingga tahun 1942. Dalam kedudukannya sebagai Ketua Dewan Pekabaran Injil ini, ia mendorong agar di tiap negara dibentuk Dewan Pekabaran Injil Nasional.

Selama Perang Dunia I (1914-1918) Mott bersama anggota YMCA melayani pemuda-pemuda yang masuk tentara serta melayani para tawanan perang. Karena pekerjaan pelayanannya selama Perang Dunia I, maka pemerintah Amerika Serikat menghadiahkan kepadanya medali kehormatan. Pada tahun 1948 Mott adalah salah seorang pemenang Hadiah Nobel untuk perdamaian.

Pada waktu dibentuknya Dewan Gereja-gereja se Dunia, di Amsterdam 1948, Mott diangkat sebagai Ketua Kehormatan. Hal ini adalah patut dilakukan mengingat akan jasa dan peranannya dalam pergerakan oikumene dan pekabaran Injil di dunia. Jabatan ini dipegangnya hingga ia meninggal dunia pada 31 Januari 1955.

Dalam sejarah pergerakan oikumene di Indonesia nama Mott perlu dicatat pula. John Mott mengunjungi Indonesia pada tahun 1926. Di sini ia memberikan rangsangan yang sangat berarti bagi kegiatan Gerakan Mahasiswa Kristen di Hindia Belanda. Organisasi-organisasi seperti YMCA, kemudian GMKI dan DGI dengan Komisi Pekabaran Injilnya berakar dari pekerjaan John R. Mott.

Walaupun John R. Mott hanya tercatat sebagai seorang anggota gereja biasa yang tidak belajar teologia secara formal, namun dia sangat berjasa bagi gereja di dunia. Ia seorang yang selalu optimis dan dinamis. Semboyannya yang terkenal adalah:

"Biarlah mereka maju. Tahun-tahun yang terbaik masih di hadapan kita."


Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku: Riwayat Hidup Singkat Tokoh-tokoh dalam Sejarah Gereja
Penulis : Drs. F.D. Wellem, M.Th.
Penerbit : PT BPK GUNUNG MULIA, Jakarta, 1999
Halaman : 187 - 189

e-JEMMi 30/2003


John Sung

John Sung lahir tanggal 27 Sept 1901 di Hongchek wilayah Hinghwa propinsi Funkien Tiongkok, Dia anak ke 6 dari Pendeta. Sung dan anak pertama setelah Ny. Sung menjadi Kristen. John Sung mewarisi sifat ayahnya yang lekas marah sehingga ia sering dihukum dengan tongkat bambu ayahnya.

Th 1913 John Sung/Yu-un sudah dikenal masyarakat Hinghwa sebagai Pendeta cilik bila ia muncul untuk berkhotbah.

Selepas SLTA John Sung berkata, "Ayah, aku telah mengambil keputusan untuk belajar ke luar negeri." Ayahnya sangat marah dan tidak mau memberinya uang untuk berangkat. Tetapi John Sung mendapat beasiswa di Universitas Wesley di Ohio, dengan vasilitas makan dan tempat tinggal. Atas bantuan teman-temannya, akhirnya terkumpul cukup uang untuk berangkat ke Amerika. Dan pada tanggal 2 Maret 1920 dia berangkat ke Amerika. Tetapi setelah sampai di sini janji bahwa dia dapat makan dan tempat tinggal tidak dipenuhi/bohong, sehingga ia harus bekerja untuk bertahan hidup di sana, ia bekerja membersihkan toko, menyapu hotel dan di sebuah toko mesin. Di samping bekerja dan kuliah dia juga menyusun regu-regu pengabar Injil dan mereka melayani di desa-desa sekitar.

Th 1923 dia mendapat ijasah BA dengan prestasi yang luar biasa sehingga dia dianugerahi medali emas dan uang tunai untuk Fisika dan Kimia dan dia juga menjadi anggota perkumpulan yang sangat ekslusif yang hanya terbuka bagi sarjana terkemuka. Tawaran kedudukan tinggi dan gaji besar datang mengalir tapi dia ingin meneruskan pelajarannya untuk mencapai ijasah yang lebih tinggi. Dan dia meraih ijasah sains dalam waktu 9 bulan dan dia dianugerahi medali dan kunci emas dari lembaga sains, spesialisnya adalah Kimia dan bahan yang peka meledak. Tapi dia tidak mau pulang ke Tiongkok sebelum mencapai gelar Dokataor dan Filsafat.

Gelar PhD dia peroleh dalam 1 tahun dan hanya 9 bulan sesudah mencapai ijasah sarjananya. Tapi pada waktu ia sedang mengenang kampung halamannya seolah-olah Allah berkata kepadanya "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa?" dan esoknya seorang Pendeta berkata kepadanya "Anda tahu, anda tidak punya tampang ahli Fisika, anda lebih mirip pengkhotbah".

1926 dari Sung Msc, PhD didaftarkan sebagai mahasiswa di Union Theological Seminary. Akhir triwulan nilainya sangat tinggi, tetapi dia kehilangan kepercayaannya dan mulai menghina pendeta-pendeta. Kepercayaan pada Firman Allah goncang sampai ke dasar-dasarnya. Doa tidak berkuasa lagi dalam hidupnya, meskipun dia setia berdoa namun doanya hanya lahiriah. Dia berbalik ke agama-agama kuno di Timur, dalam perpustakaan STT dia membaca buku-buku tentang agama Budha dan Tao dan mengharap mendapat keselamatan dengan jalan penyangkalan diri, tetapi hatinya tetap gelap.

Khotbah seorang gadis 15 th menyadarkan dia dan dia mencari Alkitab yang telah disia-siakan dan mulai membacanya setelah ber bulan-bulan lamanya. Bacaan Lukas 23 telah membuat dia menangis dan berdoa minta pengampunan, kemudian dia mendengar suara "AnakKu dosamu sudah diampuni lalu dia langsung melompat dan berteriak Haleluya sambil berseru memuji Allah, mulai saat itu namanya diganti John menurut John The Baptist. Ia mengesampingkan semua buku teologinya dan mulai menyelidiki Alkitab dan menghafal sejumlah ayat.

1927 Ketegangan jiwa yang hebat, belajar sungguh-sungguh melampaui batas kewajaran dan konflik rohani yang bertahun-tahun mengakibatkan pikiran John Sung terganggu sehingga dia harus dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa. Dia berhasil melarikan diri tetapi tertangkap lagi. Tetapi di dalam RSJ dia membaca Alkitabnya 40 kali dari awal sampai akhir dengan metode telaah yang berbeda dan mencatat apa yang ia temukan, Jadi RSJ menjadi Sekolah Teologi baginya. Tepat 193 hari sejak ia masuk RSJ, bulan Februari dia dilepaskan dan ia merasa itulah penerimaan ijasah yang paling tinggi baginya.

4 Oktober ia berlayar pulang ke Hinghwa dan di tengah perjalanan di atas kapal dia membuang semua ijasah dan medali-medalinya kecuali ijasah doktornya untuk menyenangkan ayahnya. Ia serahkan dan tinggalkan demi kemuliaan Allah. Dia tiba di Hinghwa dan disambut oleh keluarganya setelah 7 tahun tidak pulang, dan mereka semua sudah mendengar tentang kehebatan dia di luar jadi ayahnya meminta dia untuk bekerja di suatu universitas pemerintah untuk membantu biaya adik-adiknya tetapi John berkata kepada ayahnya "Ayah aku telah mengabdikan hidupku untuk mengabarkan Injil", semua terkejut, menangis dan kecewa dan mereka mengira John belum sembuh sakit jiwanya. tetapi setelah mereka mengamati perilakunya yang kebanyakan berdoa dan menelaah Alkitab, dengan segan mereka menerima keputusan itu dan mengucapkan selamat kepada dia saat ia mulai hidupnya untuk Tuhan Yesus Kristus.

Dia dinikahkan dengan seorang prempuan yang tidak ia kenal, karena dia sudah dijodohkan sejak ia masih kecil, ia sebenarnya tidak berniat untuk nikah, jadi tidak mengherankan klu ia tidak menjadi suami yang baik, istrinya seorang yang lekas marah dan tabiat dari Sung menjadikan keadaan lebih rumit. 3 Perempuan dan 2 Laki lahir dari pernikahan itu, tetapi Sung tidak pernah mencapai hasil gemilang di rumah di tengah-tengah keluarganya.

Pada waktu itu meletus gerakan anti Kristen yang sangat keras, tempat-tempat pertemuan dihancurkan, orang-orang kristen hidup di bawah ancaman tetapi Sung tidak takut ia mengumumkan bahwa upacara mingguan di sekolah-sekolah menyembah potret dari Sung Yat Sen adalah penyembah an berhala. Ia terlibat juga dalam politik sehingga pimpinan politik mengerahkan polisi untuk menangkap dia. Sejak itu ia menjadi buron dan ia pergi menjauhi kota-kota besar dan bekerja di desa-desa. Pada waktu itu ia berkenalan dan bergabung dengan kelompok Betel yakni Perkumpulan orang-orang berbakat di bawah pimpinan Andariew Gih, yang semangat memberitakan injil Kristus.

John Sung bekerja sebagai sukarelawan ia tidak menerima gaji dan persediaan makan keluarganya sering sangat memprihatinkan dan dalam ketidaksabarannya ia hampir saja menerima satu dari sekian jabatan empuk yang disodorkan kepadanya. Tapi pada saat itu ia diserang bisul-bisul di seluruh badan karena ia masih tergoda dan Tuhan menahan dia dengan penyakit kolera. Dengan malu dan takluk John Sung menyerahkan hidupnya tanpa syarat dan Allah menerima penyerahan itu.

Setelah John Sung sembuh Ny Sung dan bayinya 3 bulan sakit dan yang mengakibatkan bayi itu mati. 3 Hari setelah dikuburnya bayi itu John Sung pergi ke Shanghai karena Tuhan memberi perintah untuk pergi ke suatu tempat yang sudah ditunjukkan. Ia meninggalkan istrinya yang masih tergeletak di ranjang karena sakit dan berduka cita.

Setelah melalui kehidupan yang cukup sulit beberapa tahun lamanya, John Sung berangkat ke Shanghai, sebuah kota yang besar di Cina. Di sana ia mengadakan kebaktian-kebaktian yang penting dan ribuan orang maju ke depan dengan penyesalan yang mendalam akan dosa-dosa mereka. Dari Shanghai ia ke Nanking. Ia sangat lelah dan mendapat sakit jantung sehingga hanya sanggup berkhotbah 1 kali sehari. Tapi 200 juru rawat bolos hanya untuk mendengarkan khotbahnya, 110 jururawat bertobat dan membentuk persekutuan doa mohon pertobatan.

John ikut regu Betel ke Tiongkok Utara, tapi ketika di Tahsingting pikirannya kacau sehingga ia tidak ingin berkhotbah dan ia hanya mendengarkan Adariew Gih. Regu Betel bergerak ke Tsinan di sana John berkhotbah lalu dilanjutkan ke Taian dimana di sana Iblis telah membinasakan Gereja. Gedung gereja dihancurkan sekolah kristen dipaksa tutup, beberapa Pendeta lari dengan keluarganya dan orang-orang kristen sangat putus asa. Tapi di tempat itu John Sung digunakan Allah dengan baik 103 orang bertobat, lalu mereka bergerak ke Tenghsian yang merupakan pusat pendidikan yang terkenal. Situasi sekolah pemerintahan yang anti Kristen datang mengacau tetapi mereka berbalik, insaf dan bertobat sungguh-sungguh. 300 orang berusaha untuk beroleh kedamaian dengan Allah.

Dari Tenghsien dia kembali ke Shanghai lalu pergi ke Mancuria untuk bekerja bersama Andariew Gih dan rombongannya. Mereka meneruskan perjalanan ke Mukden ketika tentara Jepang merebut kota itu dan pecah perang dengan Jepang. Dalam perang tersebut regu penginjil itu didesak supaya pulang tetapi mereka menjawab TIDAK. Mancuria kemudian direbut dan diduduki Jepang.

Di Harbin bom-bom berjatuhan saat acara penginjilan berlangsung tetapi tidak seorangpun anggota penginjil itu yang ketakutan. Ketika meninggalkan Harbin dia dan Andariew membentuk 2 regu supaya lebih banyak tempat yang dapat dikunjungi. John berkhotbah kepada orang Rusia di Hulan.

Di Kirin (Mancuria) Pendeta melarang anggota jemaatnya menghadiri pertemuan yang diadakan John Sung, tetapi Pendeta itu datang dan mengaku di depan umum bahwa selama 6 tahun tidak pernah membaca Alkitabnya dan berdoa secara pribadi.

Di Beijing kesulitan timbul dalam tubuh regu penginjilan mereka mengecam John Sung karena hanya mau berkhotbah di kota-kota besar, sedang yang lain di kota-kota kecil. Tetapi jawabnya "Yang menarik bagiku tentang kota besar bukan kesenangan yang terdapat di dalamnya tetapi orang-orang berdosa yang jauh lebih banyak jumlahnya, keadaan kehidupan mungkin lebih sulit di kota-kota kecil di pedalaman, tetapi mengabarkan injil di kota besar menguras tenaga dan sangat mengganggu urat syaraf. Benih yang ditabur harus disiram dengan keringat dan air mata.

1923 Pendeta Sung ayah John Sung meninggal pada saat itu itu John Sung berada sangat jauh dari kampungnya dan dia sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya meninggal. tetapi dalam mimpinya ia melihat ayahnya yang berkata kepadanya "Anakku aku akan pergi ke surga, tetapi masih ada 7 tahun lagi bagimu bekerja keras untuk Tuhan.

Beijing, Hangchow, Shanghai dan Nanking semua kota penting telah ia kunjungi bahkan pelayanan lebih luas atas Tiongkok pedalaman sudah sedang mulai. 1935 dari Fukien seorang Pendeta menulis tth Jon Sung "Caranya berkhotbah menyehatkan dan membangun tidak sensasional tetapi dramatik, khotbahnya merupakan komentar-komentar atas perikop-perikop panjang dari Alkitab dengan ilustrasi dan penerapan yang sesuai. Ia membutuhkan 3 penerjemah setiap minggu, karena setiap penterjemah kehabisan tenaga menterjemahkan khotbah-khotbahnya sehingga tidak tahan lama. Para penterjemah diminta mengikuti setiap gerakan tangan bahkan adegannya.

Undangan pertama kali datang dari luar negeri kepada John Sung datang dari Manila, Filipina. Seperti biasa ia berbicara tentang dosa penyesalan, kelahiran kembali dan kesucian. Kutukannya terhadap dosa tegas dan gamblang tanpa takut. John Sung berkunjung ke Singapura ia berkhotbah 40 x dalam 14 hari. 1.300 org bertobat dan 111 regu penginjilan dibentuk dengan 503 orang anggota, 80 lebih pemuda menyerahkan diri menjadi pekerja penuh untuk pengabaran Injil.

1935 ia pulang ke Hinghwa untuk beberapa pertemuan lalu ke Shanghai, dari sana ia ke Tengksien di sana 5000 orang dia hantar kepada Kristus dan 130 regu penginjilan dibentuk. John Sung berlayar di Kalimantan, serawak dan 1.583 orang dibawa kepada Kristus 98 regu penginjilan dan 38 di 2 kota yang berdekatan.

Tahun 1939 John Sung datang ke Indonesia. Di Surabaya ia melayani selama 7 hari. Pada malam hari orang yang datang penuh sesak dan mereka menangis dan bertobat kembali kepada Tuhan. Yang menakjubkan orang-orang inipun rela menutup toko dan datang ke gereja setiap hari! Nyata sekali kuasa Allah sedang bekerja. Setelah itu ia melanjutkan pelayanan ke kota Madiun, Solo, Bandung dan Jakarta. Sebanyak 1000 orang hadir dalam kebaktian itu, bahkan di Jakarta orang yang hadir sejumlah 2000 orang.

Di Bogor, karena tidak ada gedung gereja yang cukup besar, orang sampai mendirikan tenda di lapangan tenis untuk memberi duduk 2000 orang. Lalu disambung ke Cirebon, Semarang, Magelang dan Purworejo. Kebaktian selanjutnya di Solo dan Jogja lalu kembali ke Surabaya. Beberapa waktu kemudian dia diundang ke Ujung Pandang dan Ambon dan membawa berkat melimpah untuk gereja di sana.

Kesehatan hamba Tuhan yang setia ini makin lama makin buruk. Waktu di Surabaya ia berkhotbah sambil berlutut untuk meringankan sakitnya. Dengan segera ia kembali ke negerinya dan dibedah serta diobati. Selanjutnya ia tidak dapat memimpin kebaktian, tetapi dalam kelemahannya ia tetap menerima orang-orang yang datang berkunjung. Awal tahun 1944, sakitnya makin bertambah sehingga ia diangkut ke rumah sakit di Peking. Selama 1/2 tahun dirawat, akhirnya ia pulang untuk berkumpul dengan keluarganya pada hari-hari terakhir. Meskipun sakit yang ditanggung makin berat, John Sung tetap setia membaca Alkitab dan berdoa.

Pada tanggal 16 Agustus 1944, tubuhnya tambah lemah. Ia merasa sudah hampir meninggal. Malam itu John Sung tidak sadarkan diri. Tapi esoknya ia masih bangun dan menyanyikan 3 lagu pujian bagi Tuhan. Hari itu dilaluinya dengan sukacita dan damai. Pada pukul 7.07 pada tanggal 18 Agustus, John Sung menghembuskan nafas terakhirnya. Ia dipanggil Tuhan pada usia 42 tahun. Itulah saat yang paling bahagia untuknya, bertemu dengan Juruselamat dan bersama Kristus untuk selamanya.

Diringkas dari:

Judul buku : John Sung -- OBOR ALLAH DI ASIA
Penulis : Leslie T. Lyall
Penerjemah : P.S. Naipospos
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta
Copyright : Overseas Missionary Fellowship

e-JEMMi 39/2003

John Wycliffe

John Wycliffe dikenal sebagai tokoh perintis gerakan reformasi di Inggris pada abad ke-14, filsof, dan juga orang terpelajar yang terkemuka pada jamannya (karena pada masa itu pendidikan di universitas masih merupakan fenomena yang baru dan peranan Wycliffe sungguh besar bagi reputasi Oxford, tempat ia belajar dan mengajar). John Wycliffe lahir di Yorkshire pada tahun 1325, dan belajar di Universitas Oxford dan memperoleh gelar doktor theologia pada tahun 1372. Wycliffe adalah seorang pemberani dan pembicara blak-blakan baik dalam teologi maupun pengetahuan. Ia mempunyai kebiasaan yang berbahaya, yaitu mengatakan secara blak-blakan apapun yang dipikirkannya. Ex, jika apa yang dipelajarinya membuatnya mempertanyakan tentang ajaran katolik resmi, ia akan langsung menyuarakannya.

Sekitar tahun 1374 Wycliffe mulai dikenal oleh umum, ia mengkhotbahkan kesewenang-wenangan, kebusukan-kebusukan Paus yang segera menarik perhatian banyak orang. Perlawanannya terhadap Paus yaitu:

  1. Ia mempertanyakan hak Gereja atas kuasa duniawi dan kekayaannya.
    (Paus menuntut hak milik gereja di Inggris adalah milik Paus; Wycliffe berpendapat harta milik gereja di Inggris adalah milik Negara). Ia berkata seharusnya gereja jangan memiliki harta milik duniawi, gereja harus menjadi miskin dan sederhana, seperti gereja pada masa Perjanjian Baru.
  2. Ia mempertanyakan tentang penjualan surat-surat pengampunan dan jabatan-jabatan gerejawi.
  3. Ia mempertanyakan tentang penyembahan para santo dan relikwi yang berbau takhayul, serta kuasa Paus.
  4. Ia mempertanyakan pandangan resmi tentang Ekaristi (doktrin transsubstansiasi) yang dikeluarkan oleh Konsili Lateran Keempat (karena tidak terdapat di Alkitab).

Pada masa itu Inggris penuh sentimen terhadap Gereja Roma, dimana para pangeran dan orang awam menyesalkan cara Gereja merampas kekuasaan dan harta.

Pada tahun 1377, Wycliffe memulai kegiatan-kegiatan keluar. Ia mengutus para pengikutnya (Lollard: para imam yang menganut kemiskinan para rasul dan mengajarkan Kitab Suci kepada kalangan umum, mengembara di Inggris dengan Injil), para sarjana dan orang awam untuk berkhotbah dan membacakan Alkitab kepada umat. Pada tahun itu juga Paus mengeluarkan "bulla" (semacam fatwa/siasat/sanksi) bagi Wycliffe berdasarkan ajaran-ajarannya tersebut. Tapi ia mendapat perlindungan dari pangeran John dan Dewan Doktor di Oxford juga menyatakan bahwa tidak ada satupun tuduhan dalam bulla itu yang membenarkan bahwa ajaran Wycliffe salah. Tapi peristiwa itu mengakibatkan tulisannya dilarang, sementara ia sendiri diamankan dan dicopot dari kedudukannya di Oxford serta dilarang menyebarluaskan pandangannya. Pada tahun 1378 Wycliffe menulis buku yang berjudul "Protes" dimana ia membela rumusan-rumusan ajarannya.

Hal itu memberinya waktu untuk menerjemahkan Alkitab, karena menurut Wycliffe setiap orang harus diberi keleluasaan membaca Alkitab dalam bahasanya sendiri. "Oleh karena Alkitab berisikan Kristus, yang diperlukan untuk mendapatkan keselamatan, Alkitab sangat diperlukan bagi semua orang, bukan bagi para imam saja" tulisnya. Meskipun gereja tidak setuju ia dan para sarjana lain menerjemahkan Alkitab Inggris pertama yang lengkap. Dengan menggunakan salinan tulisan tangan Vulgata (Alkitab terjemahan Bahasa latin) Wycliffe berusaha keras membuat Kitab Suci agar dapat dimengerti oleh orang-orang sebangsanya. Hasilnya edisi I diterbitkan, sedangkan penerbitan ke-2 diselesaikan setelah Wycliffe meninggal, setelah mengalami perbaikan. Edisi ke-2 itu dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe" dan dibagikan secara ilegal oleh para lollard. Wycliffe meninggal pada 31 Desember 1384, karena menderita stroke di gereja.



Joy Ridderhof dan Gospel Recordings

Di awal tahun 1930, Joy Ridderhof meninggalkan USA untuk menjadi misionaris di Honduras sebagai utusan dari Friends Mission. Hidupnya terasa sepi karena Joy adalah satu-satunya misionaris yang melayani di desa terpencil yang ada di pegunungan. Namun pelayanannya membuahkan hasil. Saat dia memberitakan Injil ke berbagai tempat di sekitar desa itu, banyak penduduk desa yang merespon dan mengikut Kristus. Tetapi kekerasan-kekerasan yang dihadapi dalam pelayanan ini dan iklim tropis mengganggu kesehatannya. Sesudah enam tahun melayani di desa itu, Joy kembali ke Los Angeles karena terserang penyakit malaria.

Untuk beberapa bulan berikutnya ketika Joy terbaring di tempat tidur untuk memulihkan kesehatannya, tapi dia terus memikirkan penduduk desa yang telah ditinggalkannya -- bagaimana kemajuan iman mereka di dalam Kristus tanpa misionaris yang memandu dan mendorong mereka. "Seandainya aku bisa meninggalkan suaraku di sana," dia memikirkan hal itu terus-menerus. Terlintas dalam pikirannya tentang keramaian bar yang ada di Honduras dan suara musiknya yang hingar-bingar. Penduduk Honduras tampaknya menyukai musik rekaman. Itulah jawaban dari problem yang dihadapinya. Joy akan mengirimkan suaranya dalam kaset rekaman dimana dia bisa memberitakan Injil melalui musik dan menggunakan bahasa tutur yang biasa digunakan penduduk desa yang dilayaninya.

Pada mulanya, ide Joy tentang perekaman Injil tampaknya seperti mimpi yang susah dijangkau, tetapi dia mulai mendoakan tentang kemungkinan tersebut dan men-sharing-kannya dengan teman-temannya; dan di tahun 1939 kaset rekaman pertamanya -- Buenas Neuvas (Kabar Baik) -- yang berdurasi 3,5 menit telah diproduksi. Saat memulihkan kesehatannya, Joy juga belajar bermain gitar, dan musik menjadi satu bagian dalam kaset-kaset rekaman yang pertama kali dibuatnya. Namun ia segera menyadari tentang pentingnya menemukan suara penutur asli untuk menyuarakan ayat-ayat Alkitab sekaligus memainkan musiknya.

Saat rekaman yang dibuat Joy tersebar, para misionaris yang melayani bagian lain di Amerika Latin juga mulai memesannya. Dalam pelayanan perekaman ini, Joy dibantu oleh Ann Sherwood, Herman Dyk, dan para relawan. Rekaman itu pada awalnya diproduksi di Los Angeles (LA). Orang Cina, Meksiko, dan penduduk dari berbagai suku Indian didatangkan ke studio untuk membuat rekaman Injil dalam bahasa tutur mereka masing-masing. Joy melihat keterbatasan dari pelayanan ini jika orang-orang dari berbagai suku itu harus datang ke LA. Solusinya adalah tim perekaman ini yang mengunjungi suku-suku tersebut -- suatu keputusan yang menandai titik balik pelayanan Gospel Recordings (yang resmi dibentuk tahun 1941 dengan nama Spanish Recordings). [Red.: Informasi lebih lengkap tentang Gospel Recordings (termasuk URL-nya) dapat anda simak dalam kolom Sumber Misi di bawah ini.]

Joy dan Ann melakukan perjalanan perekaman pertamanya di tahun 1944. Mereka memanfaatkan waktu selama 10 bulan di Meksiko dan Amerika Tengah dan perjalanan ini membuahkan hasil yaitu rekaman Injil dalam 35 bahasa dan dialek baru.

Perjalanan selanjutnya dilakukan Joy dan Ann pada tahun 1947 ke Alaska untuk merekam ayat-ayat Alkitab dalam bahasa Indian dan Eskimo. Tugas mereka sungguh sulit. Mereka melakukan perjalanan ke tempat-tempat suku terpencil, lalu mencari penduduk suku yang bisa bilingual dan bersedia untuk direkam. Namun bulan-bulan penuh perjuangan itu menampakkan hasilnya, dan Joy serta Ann kembali ke LA setelah merekam Injil ke dalam 20 bahasa suku.

Tahun 1950, Joy dan tim-nya telah merekam Injil ke dalam lebih dari 350 bahasa suku dan dialek. Aspek perekaman dari pelayanan ini melangkah maju dan semakin mantap. Namun ada problem-problem lain yang muncul -- terutama yang berhubungan dengan pemutaran kaset di wilayah-wilayah hutan yang terpencil. Gramofon yang tersedia dan didistribusikan oleh Gospel Recordings mudah sekali rusak. Joy dan tim-nya berdoa bersama meminta pencerahan. Allah menjawab doa itu saat terbersit ide untuk menggunakan gramofon manual (diputar tangan) -- gramofon ini lebih murah, tidak menggunakan tenaga motor, alat yang dapat dioperasikan oleh semua orang, dan tidak memiliki bagian-bagian mekanis yang rumit sehingga mudah diperbaiki jika rusak.

Pelayanan ini terus berlanjut dan sampai tahun 1955 lebih dari sejuta kaset telah dikirimkan ke 100 negara. Pelayanan Gospel Recordings yang dirintis oleh Joy Ridderhof telah membuahkan keselamatan untuk masing-masing pribadi dan untuk suku-suku di seluruh dunia. Seorang pria dari Meksiko bertobat setelah mendengarkan rekaman kaset Injil dan pria ini kembali ke desanya untuk mengenalkan Kristus kepada 12 orang penduduk di desanya.

Tahun 1983, setelah 40 tahun melayani bersama Gospel Recordings, Joy tidak lagi menjabat sebagai Direktur Gospel Recordings, tetapi dia masih terlibat sebagai dewan dan secara aktif menjelaskan tentang pelayanan misi dengan menggunakan media audio ini. Ada sekitar 50 orang staf full-time dan banyak sukarelawan tergabung dalam pelayanan Gospel Recordings. Mereka telah merekam dan mendistribusikan berita Injil ke dalam 4000 bahasa dan dialek. [Red.: Sekarang Gospel Recordings telah memiliki rekaman Injil dalam 5400 bahasa lebih.]

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 389 -- 392

e-JEMMi 33/2002

Kampanye Billy Graham di Los Angeles (1949)

"Anda mungkin terharu bila melihat tenda besar itu kemarin siang penuh sesak dengan 6.100 orang dan beberapa ratus lagi yang tidak dapat masuk, serta melihat puluhan manusia berjalan-jalan di celah- celah barisan bangku dari segala penjuru dan menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi ketika menerima undangan."

Seorang pengkhotbah berumur 30 tahun menulis dari Los Angeles kepada para staf Sekolah Alkitab di Minneapolis, tempat ia memangku jabatan sebagai rektor. Ia menyebutnya inilah "kampanye penginjilan terbesar yang pernah saya lihat dalam seluruh pelayanan saya". Demikianlah awal dari pelayanan Billy Graham.

Orang banyak datang berduyun-duyun ke tenda besar yang didirikan di Washington Boulevard dan Hill Street -- seperti "Katedral yang Terbuat Dari Terpal". Kampanye yang direncanakan selama tiga minggu berlanjut sampai delapan minggu karena orang-orang berdatangan terus. Para selebriti bertobat di muka umum ketika Graham menyampaikan Injil yang disampaikan dengan sangat sederhana. Dikatakan bahwa seorang wartawan William Randolph Hearst memutuskan "mereklamekan" Graham -- dengan publisitas yang luar biasa. Apa pun yang terjadi, pertemuan-pertemuan Los Angeles telah menjadi buah bibir bangsa dan membuat Graham terkenal.

Ini benar-benar menjadi kejutan bagi anak muda berambut pirang dari Carolina Utara ini. Graham, anak sulung dari peternak hewan, bertobat pada suatu pertemuan yang dipimpin oleh seorang revivalis dari Selatan bernama Mordecai Ham. Seleranya berubah dari baseball ke penyelamatan jiwa-jiwa. Menginjak usia ke 22, dia ditahbiskan sebagai seorang pendeta dari Southern Baptist.

Pada tahun 1943, ia lulus dari Wheaton College dan menikahi Ruth Bell, putri seorang misionaris medis terkenal yang bertugas ke Cina. Ia mendirikan sebuah pastori di daerah Chicago, tetapi tidak lama kemudian terlibat dengan Torrey Johnson. Pada awalnya ia berbicara pada acara Johnson "Songs in the Night" di siaran radio. Kemudian melayani sebagai penginjil penuh waktu pada pelayanan baru Johnson, 'Youth for Christ'. Dalam kapasitasnya ini ia mengadakan beberapa kampanye di seputar kota menjelang akhir tahun 1940-an, termasuk tur ke Britania Raya (Great Britain) pada tahun 1946 - 1947.

Dari semula ia telah memiliki gaya penginjilan yang kooperatif. Kampayenya tidak terbatas pada gereja tertentu. Semua pemimpin Kristen dalam masyarakat akan diundang untuk merencanakan kampanye. Keputusan ini mengundang kritik banyak orang konservatif, namun justru menambah lebih banyak kepopuleran bagi Graham.

Pada awal tahun 1950-an, ia melanjutkan kesuksesan kampanye Los Angeles dengan kampanye-kampanye yang patut dicatat di Boston dan di tempat lain. Pada tahun 1954, perjalanan khotbah ke London membuatnya menjadi seorang selebritis internasional. Ia berteman dengan Presiden Eisenhower dan figur-figur kaliber dunia lainnya.

Dengan cepat Graham menguasai media massa. Ia menulis "Peace with God" (Damai Bersama Allah) yang laris terjual pada tahun 1950-an dan beberapa buku yang lain sejak saat itu. Siaran radionya "Hour of Decision" berlangsung puluhan tahun lamanya. Bersama-sama dengan mertuanya ia mengawali majalah "Christianity Today" untuk membantu para pemimpin Kristen agar selalu bersiaga secara teologis. Di kemudian hari, organisasinya meluncurkan majalah "Decision" untuk masyarakat umum. Kampanye-kampanye Graham dengan teratur disiarkan di televisi secara nasional, dan World Wide Pictures, suatu badan yang tumbuh dari Billy Graham Evangelistic Association yang telah menghasilkan lusinan film-film istimewa.

Sebagai salah satu tokoh utama dalam misi-misi dunia, Graham mensponsori Kongres Lausanne pada tahun 1974 yang merevolusi kebijakan misi-misi evangelikal dengan lebih melibatkan penduduk setempat. Pada tahun 1983 dan 1986, organisasinya membawa para penginjil berkeliling dari seluruh dunia ke Amsterdam untuk pertemuan besar bagi pendidikan dan penguatan. Billy Graham Center di Wheaton College memberi latihan komunikasi dan pelayanan, serta arsip dan 'Museum Penginjilan Abad Ke-20'.

Akhir-akhir ini, Billy Garaham dapat juga menjangkau negara-negara komunis meskipun kebijakan resmi mereka atheis. Beberapa orang mengkritik mengapa ia tidak menggunakan kepopulerannya untuk memprotes penganiayaan orang-orang percaya di negeri itu, namun fokus Graham selalu pada penginjilan, bukan pada komentar sosial.

Pemain baseball yang tinggi dan tampan dari Carolina Utara ini telah menjadi figur religius besar pada akhir abad ke-20. Stafnya memperkirakan ada dua juta orang yang telah "maju ke depan" dalam kebaktian-kebaktiannya untuk menyatakan pertobatan mereka. Lebih dari 100 juta orang hadir untuk mendengarkan kotbahnya secara langsung, dan puluhan jutaan lebih orang yang telah tersentuh melalui pelayanan medianya (Red. TV, radio, kaset, dll.). Ia telah melakukan semuanya ini dengan tetap berpegang pada yang terbaik yang dapat ia lakukan -- yaitu mengkhotbahkan Injil yang sederhana.

Diedit dari sumber:

Judul Buku : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
Judul Artikel: Kampanye Los Angeles (1949), Billy Graham
Penulis : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, dan Randy Petersen
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1991
Halaman : 162 - 163


e-JEMMi 12/2003


Luis Palau

Luis Palau termasuk salah satu penginjil efektif di dunia saat ini. Pria berkebangsaan Argentina ini diperkirakan telah menginjili tiga juta orang lebih di 40 negara. Palau juga dianggap sebagai "Billy Graham of Latin America" -- karena sama seperti Billy Graham, Palau melakukan pelayanannya melalui radio dan televisi. Pengaruhnya di Amerika Latin sungguh luar biasa. Tujuannya adalah ketiga Republik di Amerika Latin bisa mendengar berita Injil semasa hidupnya.

Luis Palau dilahirkan di Argentina pada tahun 1934. Dia dibesarkan dalam keluarga Kristen. Sejak kecil, ibunya selalu membacakan cerita-cerita misionari dan hal itu telah menarik perhatian Palau tentang pentingnya penginjilan dunia. Namun saat menginjak dunia remaja, Palau jarang ke gereja dan menyukai "kehidupan duniawi". Pada saat diadakan Carnival Week di tahun 1951, Palau mengadakan "pembersihan hidup" dan mendedikasikan hidupnya untuk melayani Allah. Sejak saat itu, dia berhenti merokok, meninggalkan keanggotaannya dalam University Club, tidak berlangganan lagi majalah sepakbola, dsb. Palau memulai hidupnya untuk mempelajari Alkitab dan berdoa selama berjam-jam. Dia mengikuti "gospel preaching night" setiap Kamis malam di gereja Brethren. Pemimpin persekutuan ini memberikan tugas dan melatih setiap anggota kelompoknya untuk menyampaikan renungan setiap kali pertemuan. Lalu pemimpin itu memberikan kritik dan masukan. Hal ini merupakan latihan yang bagus bagi Palau.

Keterlibatan Luis Palau yang pertama kali dalam penginjilan pribadi ketika dia diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah kelompok persekutuan anak laki-laki berusia 12 tahun. Dia merasakan bagaimana rasanya memenangkan jiwa ketika dua anak dalam kelompoknya menerima Kristus. Hal ini memantapkan dia untuk semakin terlibat dalam pelayanan penginjilan seumur hidupnya.

Namun karena kematian ayahnya, Palau harus memenuhi kebutuhan ibu dan kelima saudara perempuannya. Dia menjadi pegawai bank yang banyak menyita waktunya. Meskipun demikian, di tengah-tengah waktu luang yang dimilikinya, Palau masih terlibat dalam pelayanan penginjilan. Dia bersama dengan dua orang pemuda memulai program radio harian dan membeli sebuah tenda sebagai tempat persekutuan. Dalam persekutuan ini, Palau bertindak sebagai pengajar Alkitab dan teman-temannya menjadi penginjil. Kunci utama dari pelayanan penginjilan yang mereka lakukan adalah doa. Palau dan rekan sekerjanya mengadakan kontak doa setiap hari pada pukul 05.00 pagi dan pada setiap Jumat malam. Namun di tengah-tengah kehidupan rohaninya itu, ada saat-saat dimana dia merasakan "kekosongan" dalam hatinya. Di saat hendak menyerah, dia berusaha supaya keinginannya sendiri tidak menghalangi pemberitaan tentang kasih Allah dan keselamatan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Palau sangat dipengaruhi oleh pelayanan Billy Graham dan kehidupan Wesley, Whitefield, Finney, Moody, dan Sunday. "Mimpi saya setelah banyak mendalami Alkitab dan berdoa adalah supaya orang-orang Amerika Latin bisa dijangkau dan mengenal Kristus."

Palau meninggalkan pekerjaannya di bank saat dia bertemu dengan misionaris perwakilan dari Overseas Crusades (OC) yang memintanya untuk melayani bersama OC. Tahun 1960, dia diundang Ray Stedman ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan Alkitab di "Multnomah School of the Bible" di Portland, Oregon. Di tempat ini dia juga bertemu dengan istrinya, Pat Scofield. Setelah menyelesaikan pelatihan di "Multnomah", Palau bersama dengan Pat pergi ke Detroit untuk mengikuti pelatihan misionaris sebagai persiapan bagi pelayanan mereka dengan OC di Kolombia. Mereka juga berkesempatan untuk terlibat dalam pelayanan Billy Graham di Fresno, California, dimana Palau menjadi interpreter dalam bahasa Spanyol bagi khotbah-khotbah Billy Graham. Kemudian mereka pergi ke Costa Rica dimana Pat mengikuti sekolah bahasa. Tahun 1964 keduanya berangkat ke Kolombia sebagai misionaris.

Meskipun menyadari bahwa dia "diharapkan untuk menjadi misionaris reguler, melatih penduduk dalam pelayanan penginjilan dan perintisan gereja", Palau melihat pelayanannya sebagai batu loncatan dan ajang pelatihan bagi pelayanan penginjilan di masa depan. Pelayanannya melibatkan gereja lokal, orang-orang awam yang dilatih untuk melakukan penginjilan dan perintisan gereja dimana mereka diharapkan bisa menjadi katalis bagi pertumbuhan gereja. Untuk mendukung penginjilan kaum awam, Palau bersama dengan para misionaris OC mengadakan penginjilan di jalan-jalan -- pelayanan yang seringkali ditentang oleh pegawai pemerintah dan penganut Katolik Roma. Tahun 1965, untuk pertama kalinya Palau mengadakan penginjilan sekota di sebuah gereja Presbiterian. Setelah penginjilan tersebut, Palau merintis pelayanan konseling melalui televisi bekerja sama dengan HCJB di Quito, Ekuador.

Pelayanan televisi dan juga pelayanan penginjilan yang dilakukan Palau di Kolombia semakin memperkuat keinginannya untuk menjadi penginjil full-time yang menjangkau Amerika Latin. Tahun 1966, saat Palau memikirkan untuk melepaskan diri dari pelayanan OC dan menjadi penginjil independen, dia diminta oleh Dick Hillis, pendiri dan direktur OC, untuk pergi ke wilayah Meksiko. Palau diminta untuk melayani sebagai direktur lapangan dan mengembangkan tim penginjilan bagi pelaksanaan KKR di masa depan. Sebelum pergi ke Meksiko, Palau menggunakan kesempatan untuk mengadakan KKR besar pertamanya di Bogota, Kolombia. Ada sekitar 20.000 orang menghadiri KKR tersebut dan berratus-ratus pengunjung membuat keputusan untuk menjadi pengikut Kristus.

Menjelang tahun 1968 Palau tiba di Meksiko. Bersama dengan dua misionaris OC, Palau mengadakan 14 KKR di Meksiko. KKR terbesar dihadiri oleh sekitar 30.000 orang dan sekitar 2.000 orang memutuskan untuk menjadi murid Yesus. Dari Meksiko, Palau dan timnya pergi ke El Salvador, Honduras, Paraguay, Peru, Venezuela, dan negara-negara lain di Amerika Latin, untuk mengadakan KKR yang menarik kehadiran 100.000 orang. Perintisan gereja tetap menjadi tujuan utama. Sebagai hasilnya, gereja-gereja Injili pun berdiri kemana pun mereka pergi.

Sepanjang tahun 1970, pelayanan KKR Luis Palau terus berkembang. Palau meneruskan pelayanannya bersama OC dan pada tahun 1976 - 1978, dia menjadi Presiden OC. Menjadi presiden bagi sebuah pelayanan misi yang bermarkas di Amerika Utara bukanlah tugas yang mudah. Akhirnya pada tahun 1978, Palau mengundurkan diri dari OC dan mendirikan organisasinya sendiri: Luis Palau Evangelistic Team. Pelayanannya ini membawanya ke berbagai tempat seperti di Glasgow, Scotland, dan Madison, Wisconsin. Meskipun sebagian besar waktunya dihabiskan di Amerika Latin, Palau tidak dapat lagi membatasi pelayanannya di satu wilayah. Sekarang semua negara di dunia telah menjadi ladang misi baginya.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 449 -- 452

e-JEMMi 17/2003

A.W. Tozer (1897 -- 1963)

Aiden William Tozer dilahirkan pada tahun 1897 di salah satu daerah pertanian di La Jose, Pennsylvania Barat, Amerika. Pendidikan dasarnya ditempuh di kota kelahirannya, sedangkan pendidikan menengah ditempuh di Akron, Ohio, karena mengikuti kepindahan orang tuanya. Tozer pada awalnya tidak pernah peduli terhadap hal-hal kerohanian. Ia tumbuh sebagai anak nakal, susah diatur, namun rajin belajar sendiri di rumah, dan sangat mandiri.

Itulah sebabnya pada usia 16 tahun, ia sudah bekerja menjadi buruh di perkebunan Goodyear Rubber. Ketidakpeduliannya terhadap hal-hal kerohanian membuat orang-orang sangat terkejut dan tidak menduga bahwa pada usia 17 tahun, Tozer mengambil keputusan untuk bertobat melalui seorang pengkhotbah jalanan yang mengatakan: "Jika kamu tidak tahu bagaimana dapat diselamatkan ..., panggillah Allah." Pertobatan tersebut membawa dampak besar. Kerohaniannya bertumbuh sangat pesat. Ini terbukti melalui pertemuan-pertemuan doa dan penelaahan Alkitab yang dipimpinnya setahun setelah pertobatan tersebut. Tozer kemudian bergabung dengan Gereja Methodis, namun kekurangcocokan dengan gereja ini membuat dia selanjutnya bergabung dengan The Locus Street Alliance Church.

Pada usia 21 tahun, Tozer menikah dengan Ada Cecelia Pfauz. Merupakan berkat luar biasa bagi Tozer, karena selain mendapatkan Ada, ia juga mendapatkan ibu mertua yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan bisa menuntun kerohaniannya melalui buku-buku rohani yang dipinjamkan kepada Tozer. Tidak lama setelah pernikahannya, Tozer bersama istrinya pindah ke West Virginia. Di sana, mereka dan adik laki-laki istrinya mengadakan pertemuan-pertemuan penginjilan, di mana banyak orang yang senang mengikuti acara ini, khususnya mendengarkan khotbah-khotbah penginjilan yang dibawakan Tozer, sekalipun ia tidak menempuh pendidikan formal di sekolah Alkitab.

Tahun 1924, pada usia 27 tahun, Tozer ditahbiskan sebagai pendeta di Christian Missionary Church Indianapolis. Berselang 5 tahun kemudian, Tozer melayani di Southside Alliance Church di Chicago. Selama masa pelayanannya, melalui karunia-karunia yang Tuhan percayakan kepadanya, Tozer mampu mengembangkan gereja yang dilayaninya, sehingga dari delapan puluh anggota jemaat berkembang menjadi gereja besar dengan jumlah delapan ratus anggota jemaat dalam kurun waktu hanya 10 tahun. Selain itu, banyak prestasi bisa diraih Tozer karena ia rajin membaca. Ia melahap segala jenis bacaan, baik buku-buku rohani maupun buku-buku jenis lainnya.

Tahun 1943, untuk pertama kalinya Tozer menerbitkan tulisannya sendiri, dan 6 tahun kemudian dipercaya memangku jabatan sebagai Wakil Presiden Christian and Missionary Alliance. Setahun kemudian, ia mendapat dua penghargaan sekaligus, yaitu Doctor of Letter dari Wheaton College dan Doctor of Law dari Houghton College. Tanggal 12 Mei 1963, dalam usia 66 tahun, Tozer kembali pulang ke pangkuan Bapa di surga dengan meninggalkan kesan mendalam melalui khotbah-khotbahnya yang penuh kuasa, juga karya-karya tulis, baik melalui puluhan buku maupun artikel penting lainnya. Salah satunya adalah dengan menuliskan biografi Robert A. Jaffray dan A.B. Simpson. Tiga buku lainnya, di antaranya adalah The Pursuit of God, The Divine Conguest, dan The Knowledge of the Holy (Mengenal yang Mahakudus -- sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia), yang merupakan buku yang sangat klasik dan sangat terkenal. Selain menulis buku dan artikel, selama 13 tahun Tozer juga menjadi editor untuk The Alliance Weekly yang sekarang bernama Alliance Life.

Sekalipun Tozer telah tiada, namun karya-karyanya terus berbicara pada setiap orang yang ingin mengenal dan memiliki pengalaman dengan Allah. Selain itu, kesan lain yang muncul ketika mengingat Tozer adalah kehidupan doanya. Salah seorang penulis biografi menuliskan, "Tozer lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berlutut daripada di meja belajarnya." Sedangkan James L. Snyder, yaitu orang yang menulis biografi Tozer, menuliskan, "Khotbahnya sama baiknya dengan tulisan-tulisannya, dan semua itu semata-mata merupakan buah dari kehidupan doanya."

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Pekan Misi dan Penginjilan ke-29, Gereja Injili Hok Im Tong, 2005
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Gereja Injili Hok Im Tong, Bandung
Halaman : 50 -- 51

Anugerah Allah Bagi Kelasi yang Tidak Baik : John Newton

Sambil bergumul melawan ombak-ombak yang kuat dan puing-puing yang terapung-apung, John Newton berusaha berjalan sampai ke geladak "Greyhound", kapalnya. Di sana ia membantu agar pompa-pompa bekerja dan ikut serta membantu kelasi lainnya yang menimba air dengan kebingungan serta menyumbat bagian-bagian yang bocor.

Pada jam sembilan pagi semua bagian yang bocor itu telah dijejali selimut, sprei, serta kain-kain yang ditahan oleh papan-papan yang dipaku di atasnya. Laut itu sedang mengganas dan kapal yang bocor itu terombang-ambing dengan hebat. Kelasi-kelasi harus mengikatkan diri ke geladak agar jangan terhempas keluar kapal.

Badan John Newton sakit karena kepayahan. Hampir tanpa berpikir lagi ia memohon, "Tuhan, kasihanilah kami." Tiba-tiba otaknya yang dingin karena takut tersentak menjadi sadar. Ia tidak pernah berdoa sejak masa kanak-kanaknya. Apakah Allah -- seandainya Allah itu ada, dan John Newton merasa ragu-ragu bahwa Ia memang ada -- berbelas kasihan kepada seorang pengumpat Tuhan?

Walaupun para pelaut kapal-kapal dagang Inggris dikenal dengan ketidaksalehannya, nakhoda kapal itu baru saja beberapa hari sebelumnya meminta agar Newton menghentikan sumpah serapahnya yang mengerikan. Kata-kata yang diucapkan Newton bukan sumpah-sumpah biasa yang diucapkan oleh seorang pelaut sungguh-sungguh. Kutukan- kutukannya menyatakan reaksinya yang serentak melawan paham tentang Allah.

Setelah ucapannya yang mengherankan itu, si pengumpat di kapal itu meninggalkan bagian pompa untuk menggantikan nakhoda pada kemudi. Setiap kali kapal itu bergerak masuk ke dalam pusaran air, Newton takut bahwa mereka mungkin tidak dapat melepaskan diri dari maut. Tetapi, laut Atlantik yang mengganas itu akhirnya tenang kembali. Setelah itu, ia pergi ke kamar dan menjatuhan diri ke tempat tidurnya.

Pada saat ia mengambil alih tugas di kemudi lagi, Newton memperhatikan bahwa hampir semua layar kapal itu robek dihembus angin. Angin bertiup melalui tiang-tiang kapal yang rapuh, yang menyebabkan kapal itu hampir tidak mungkin dapat berlayar.

Tujuh hari berlalu dan tidak ada daratan yang tampak. Persediaan makanan menyusut sampai hanya tinggal beberapa ekor ikan yang diasinkan saja. Lalu, ada seorang pria meninggal. Nakhoda kapal yang cemas itu memanggil kelasi-kelasi berkumpul. Sambil memandang kepada Newton, ia berkata, "Kamu semua tahu aku membawa pemuda ini dari pantai Afrika untuk dibawa pulang kepada ayahnya. Aku anggap ia tahu cara-cara berlayar karena ia pernah mengemudikan kapal budaknya sendiri. Tetapi, sejak ia menjadi pembantuku, yang kita hadapi tak lain hanya kesukaran, kesukaran, dan kesukaran."

"Ya, Kapten, benar!" teriak seorang awak kapal yang ada bekas luka di wajahnya.

"Ia berkata bahwa ia seorang yang tidak mengakui ajaran agama. Aku tahu ayahnya tidak pernah mengajarkannya seperti itu. Sumpah serapahnya cukup membuat laut itu mengamuk. Seperti Yunus di dalam Alkitab, saya kira ia merupakan laknat bagi kita."

John Newton mengendurkan otot-ototnya yang tegang dan mundur ke belakang pada saat para kelasi itu membelalak kepadanya dengan cara yang menuduh. Mereka tidak akan melemparkannya ke laut. Atau, apakah mereka akan melemparkannya ke laut? Ia membalas membelalak kepada nakhoda itu.

"Kita akan tunggu," kata nakhoda tua itu akhirnya. "Tetapi John Newton, kamu lebih baik ikut dengan kami dalam doa jika kamu ingin selamat."

Newton dengan diam-diam melangkah kembali ke tempat tugasnya. Sebuah ayat Kitab Suci yang telah didengarnya pada waktu ia masih anak-anak timbul dalam pikirannya. "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Lukas 11:13)

"Ya Allah, jika Engkau benar," ia berdoa dengan giginya yang terkatup, "Engkau pasti menepati janji-Mu. Sucikanlah hatiku yang kotor ini."

Empat minggu kemudian dalam bulan April tahun 1748, Greyhound memasuki sebuah pelabuhan di Irlandia dengan susah payah. Newton pergi ke gereja dan di sana ia mengakui dan menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.

Orang yang semula tidak mau mengakui ajaran agama dan selalu mengumpat itu menjadi seorang pengkhotbah injili yang penuh kuasa. Kesaksiannya diungkapkan dalam puisi religi. Sajak yang terbaik yang mengungkapkan keselamatannya ialah sebuah lagu pujian kesayangan orang-orang Kristen yang masih dinyanyikan sekarang.

"Amazing grace how great Thou Art that save a wretch like me.
I once was lost but now I`m found. Was blind but now I see."

"Sangat besar anugerah-Nya, yang tlah kuterima
Dahulu aku tersesat, kini kuselamat."

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku:Bagaimana Tokoh-tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus
Judul Artikel:Anugerah Allah Bagi Kelasi yang Tidak Baik: John Newton
Penulis:James C. Hefley
Penerbit:Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000
Halaman: 37 - 39

e-JEMMi 29/2005


Betty Olsen

Baru pada abad ke-20, negara-negara Indo Cina yang berlatar belakang Budha, yaitu Vietnam, Laos, dan Kamboja, dimasuki oleh para misionaris, itu pun kebanyakan merupakan pekerja dari satu badan saja, Christian & Mission Alliance (C&MA). Indo Cina merupakan daerah yang sulit bagi para misionaris. Sejak awal, tidak ada masa yang bebas dari penganiayaan hingga misionaris diusir dari negeri itu pada tahun 1970. Dalam banyak peristiwa, penduduk setempat terbuka terhadap Injil, hanya para penguasa, baik itu Perancis, Jepang, atau pun komunis, merasa terancam oleh para misionaris itu.

Ketika pecah perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan yang akhirnya melibatkan tentara AS, keselamatan para misionaris berada dalam ancaman serius karena dianggap sebagai antek kapitalis-imperialis. Serangan pertama yang ditujukan kepada misionaris terjadi tahun 1962. Tiga misionaris yang melayani di rumah sakit kusta diculik oleh gerilyawan komunis dan sejak itu kabar tentang mereka tidak pernah terdengar lagi.

Enam tahun kemudian, pada 30 Januari 1968, pada hari raya Tet, tentara Viet Cong menyerang perkampungan misi di Banmethoud dan dengan kejam membunuh lima misionaris Amerika, termasuk seorang anak berumur empat tahun. Betty Olsen, Hank Blood, serta Mike Benge, pegawai satu badan pemerintah AS dijadikan tawanan, suatu keadaan yang lebih mengerikan dibandingkan kematian.

Betty berusia 34 tahun ketika serangan Tet itu berlangsung. Ia seorang perawat dan belum sampai tiga tahun melayani di Vietnam bersama C&MA. Orang tuanya adalah misionaris yang melayani di Afrika. Selain kebahagiaan masa kecilnya, ingatannya yang terdalam adalah tentang orang tuanya yang sangat sibuk mengerjakan pelayanan mereka dan sering kali bepergian berhari-hari untuk mengunjungi gereja-gereja Afrika. Ketika ia berusia delapan tahun, ia dikirim untuk bersekolah dan tinggal di asrama selama delapan bulan dalam setahunnya. Ibunya meninggal karena sakit beberapa saat sebelum ulang tahun Betty yang ke-17. Semua ini menimbulkan rasa tidak aman dalam dirinya.

Setamat SMA, ia kembali ke Afrika, masih dipenuhi oleh rasa tidak aman. Ia merindukan kasih dan perhatian ayahnya. Tetapi kesibukan dan rencana ayahnya untuk menikah kembali menyita perhatiannya. Setelah pernikahan ayahnya, Betty kembali ke AS dan mengikuti pendidikan perawat di Brooklyn dan kemudian setelah tamat dari sana, ia masuk ke Nyack Missionary College sebagai persiapan untuk menjadi misionaris.

Betty merasa tidak bahagia. Pasangan hidup yang sangat diharap-harapkan tidak pernah ditemukannya. Tahun 1962, ketika ia tamat kuliah, ia merasa yakin bahwa C&MA tidak akan menerimanya sebagai tenaga misionaris. Karena itu, ia memutuskan untuk pergi ke Afrika dan bergabung dengan ayah dan ibu tirinya. Sangat sukar bagi Betty untuk mengatasi kepahitan dan pemberontakan yang sudah mendalam dalam jiwanya. Tidak lama kemudian, ia memusuhi para misionaris lainnya dan tidak bisa diajak bekerja sama sehingga akhirnya ia diminta untuk meninggalkan ladang pelayanan itu.

Betty kemudian bekerja sebagai perawat di Chicago pada usia 29 tahun. Ia merasa begitu tertekan sehingga ia berusaha bunuh diri, tetapi gagal. Betty sangat tertolong oleh suatu konseling rohani dari seorang pekerja gereja, hingga akhirnya ia menyerahkan diri untuk melayani Tuhan dan ia menjadi misionaris yang produktif di Vietnam.

Kedewasaan rohaninya dibuktikan selama masa penganiayaan jasmani dan mental di tangan tentara Viet Cong itu. Sering kali, selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, mereka dipaksa berjalan 12 sampai 14 jam setiap harinya dan hanya diberi sedikit nasi. Betty bersama dua rekan misionaris lainnya itu menderita demam "dengue" yang membuat suhu badan tinggi dan menggigil. Keadaan ini masih diperburuk dengan penyakit kulit. Betty yang tetap mengenakan pakaian yang sama ketika ia ditawan, sering kali dipaksa berjalan dengan belasan lintah menempel di kakinya tanpa ia sempat menepisnya.

Hank, pria setengah baya yang melayani sebagai misionaris penerjemah Alkitab pada yayasan Wycliffe, tidak dapat menahan beratnya penderitaan itu. Radang paru-paru yang tidak diobati di tengah hutan yang sangat lembab, membawa kematian baginya pada pertengahan Juli.

September, setelah delapan bulan ditawan, Betty dan Mike mengalami kekurangan gizi yang parah. Kaki Betty membengkak yang membuatnya sulit berjalan. Meskipun begitu, setiap kali ia terjatuh, ia dipukuli. Ia juga menderita disentri yang membuatnya diare terus-menerus dan menjadi sangat lemas, hingga ia tidak dapat bangun dan harus berbaring di atas kotorannya sendiri. Mike merawatnya dengan sepenuh kemampuannya, tetapi keadaan Betty semakin memburuk. Ia meninggal dua hari setelah ulang tahunnya yang ke-35.

Mike akhirnya dibebaskan pada Januari 1973, lima tahun setelah ditawan. Mike Benge bersaksi, bahwa ia memutuskan untuk menerima Kristus oleh karena melihat kesaksian dari hidup Hank dan Betty yang tidak mementingkan diri, sekalipun lapar, mereka menyembunyikan jatah nasi mereka untuk dibagikan kepada orang Kristen Vietnam yang juga ditawan, karena orang-orang ini mendapat jatah nasi sangat sedikit.

Dalam diri Betty, yang dulunya seorang remaja yang penuh kepahitan, Mike menemukan "satu pribadi yang sangat tidak mementingkan diri". Mike kesulitan menemukan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kasih Betty yang menyerupai kasih Kristus itu. "Sesaat pun tidak nampak kepahitan atau kebencian pada Betty. Sampai akhir hayatnya, ia mengasihi orang yang bersalah padanya." Betty dan Hank menyerahkan nyawa mereka bagi bumi Vietnam, demi Yesus Kristus, Tuhan yang mereka kasihi.

Diambil dari:

Judul jurnal : Navigator, Volume 7 No. 2 - April 1996
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Navigator, Bandung 1996
Halaman : 8

e-JEMMi 15/2008

Betty Olsen dan Vietnam Martyrs

Pelayanan radio misi telah berjuang keras agar dapat diterima oleh masyarakat Kristen pada umumnya; dan tanpa visi ke depan yang dimiliki oleh Clarence W. Jones maka perkembangan radio misi tidak akan seperti sekarang ini. Jones tidak takut untuk menggunakan radio yang saat itu dianggap sebagai "tool of the devil" (alat setan) untuk penginjilan.

Jones lahir pada tahun 1900 di Illinois, pelayanan Kristen telah menjadi pusat kehidupan Jones saat itu. Kedua orangtua Jones adalah pegawai "Salvation Army". Jones menerima Kristus melalui pelayanan Paul Rader di "Moody Memorial Tabernacle". Kemudian ia memutuskan untuk masuk ke "Moody Bible Institute" dan lulus tahun 1921. Sesudah lulus, Jones bekerja dengan Paul Rader. Pertama ia hanya menolong mengadakan pertemuan penginjilan, tapi selanjutnya ia bekerja sebagai staf Paul Rader dalam pelayanan yang baru didirikannya, yaitu "Chicago Gospel Tabernacle" (yang nantinya menjadi dasar pelayanan misi outreach-nya). Jones piawai dalam memainkan trombone dan menjadi pimpinan direksi bagi siaran radio Tabernacle yang pada mulanya adalah stasiun radio komersial pertama di Chicago.

Meskipun Jones memilih misi sebagai mata pelajaran pokok di "Moody Bible Institute", namun pelayanan misi ke luar negeri sama sekali tidak menarik perhatiannya. Namun tahun 1927, saat menjadi asisten Paul Rader di bagian musik untuk suatu konferensi Alkitab, Jones mendengar dengan jelas uraian Rader tentang pentingnya penginjilan. Setelah minggu-minggu dan bulan-bulan berlalu, Jones semakin yakin bahwa Allah menginginkannya untuk pergi ke Amerika Selatan dan merintis sebuah pelayanan radio misi.

Tahun 1928, Jones melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dan berharap akan memenangkan Venezuela melalui pelayanan radio misi. Namun keinginannya kandas karena pemerintah Venezuela menolak permohonannya. Sebelum kembali pulang ke Chicago, Jones menyempatkan mengunjungi Columbia, Panama dan Kuba, untuk mengajukan permohonan yang sama, tetapi jawabannya seperti yang terjadi di Venezuela.

Saat kembali ke Chicago, Jones merasa frustasi dan putus asa. Namun Tuhan mempertemukan Jones dengan pasangan Larsons. Kemungkinan mimpi Jones untuk merintis radio misi akan kandas jika ia tidak bertemu pasangan Reuben dan Grace Larson. Pasangan itu melayani di Ekuador melalui "Christian and Missionary Alliance" sejak tahun 1924. Saat cuti di tahun 1930, mereka mengunjungi "Chicago Gospel Tabernacle" untuk mensharingkan pelayanan mereka. Jones pernah mengunjungi Ekuador namun tidak terlintas untuk melakukan pelayanan di sana sampai ia bertemu pasangan Larsons yang menyediakan kunci bagi Jones untuk memulai pelayanan radio misi di Amerika Selatan.

Ada banyak kesulitan saat memulai merintis radio misi di Ekuador. Namun, Clarence W. Jones dan pasangan Larsons tidak menyerah dan tahun 1931 Stasiun Radio HCJB (Herald Christ Jesus' Blessings) telah menjadi kenyataan. Program radio misi pertama kali di dunia disiarkan pada hari Natal tahun 1931 dari sebuah kandang domba di Quito, Ekuador. Ketigabelas pemancar di Ekuador dapat menerima siaran itu dan "Voice of Andes" telah berhasil mengudara. Beberapa bulan kemudian, "World Radio Missionary Fellowship" secara resmi berdiri.

Saat siaran dari stasiun radio HCJB mulai tersebar di berbagai tempat, jumlah pemancar juga berkembang dengan pesat dan HCJB dapat menembus wilayah-wilayah yang tertutup bagi Injil. Para misionaris (yang semula sangat tidak setuju dengan pelayanan radio misi yang dilakukan oleh Clarence W. Jones) menjadi terbuka matanya saat mereka dapat melakukan pelayanan secara terbuka di wilayah-wilayah dimana mereka semula dilempari batu dan dianiaya saat mengabarkan Injil. Dan meskipun banyak orang yang memasang tanda "Orang Kristen Tidak Diterima" di pintu-pintu rumahnya, namun di dalam rumah-rumah itu penghuninya dapat mendengar siaran "La Voz de los Andes", HCJB.

Pada saat Paskah tahun 1940, Presiden Ekuador, Andres Cordova, meresmikan siaran dengan menggunakan transmitter baru yang memiliki daya sebesar 10.000 watt sehingga akan menyebarkan Injil ke wilayah- wilayah yang lebih luas lagi. Tidak ada yang tahu sejauh mana siaran itu dapat diterima, tetapi yang menjadi kejutan, mereka banyak menerima surat mulai dari Selandia Baru, Jepang, India, Jerman, dan Rusia.

Sekitar tahun 1950 dan 1960, HCJB terus bertumbuh, dan menambah kekuatannya menjadi lebih dari 500.000 watts. Tahun-tahun penuh berkat itu juga diiringi dengan trauma-trauma pribadi yang dialami Jones dan keluarganya. Istrinya, Katherine, menderita sakit parah sampai mengalami keadaan koma, sedangkan Jones mengalami luka di wajahnya yang tidak memungkinkan bagi dia untuk memainkan trombone lagi. Pemulihannya memakan waktu lama, namun di akhir tahun, mereka berdua dapat disembuhkan dan mereka kembali melayani. Di tahun 1966, anak mereka satu-satunya, Dick, bersama istri dan anaknya, yang sedang melakukan tugas misionaris di Panama, mati dibunuh. Peristiwa itu membuat Jones semakin serius terlibat dalam pelayanan radio misi.

Tahun 1981, Jones memasuki masa pensiun dan menghabiskan waktunya di Florida, dan HCJB merayakan ulang tahunnya ke 50. Namun setengah abad semenjak didirikan, tidak hanya terbatas pada pelayanan radio misi yang mengudara selama 24 jam per hari melalui stasiun radio di Quito (dipancarkan dalam 15 bahasa), saat ini "World Radio Missionary Fellowship" telah melebarkan sayap pelayanannya dengan membuka dua rumah sakit, klinik keliling, percetakan dan program televisi berwarna, serta dua stasiun radio baru di Panama dan Texas. Puji Tuhan!

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 371 - 377

e-JEMMi 03/2002

C.I. Scofield dan Central American Mission (CAM)

Pada dekade yang sama ketika A.B. Simpson menugaskan para misionaris ke seluruh penjuru bumi, ada seorang warga negara Amerika yang sedang meletakkan dasar kerja untuk kesaksian Injil di Amerika Tengah. C.I. Scofield bukanlah penginjil pertama yang menangkap visi untuk melayani Amerika Tengah. Pada akhir tahun 1880-an Amerika Tengah menarik perhatiannya, akan tetapi pada saat itu, hanya ada "satu orang saksi Injil berbahasa Spanyol" yang ada di wilayah itu, berdasarkan penuturan ahli sejarah CAM (Central American Mission). Para misionaris Amerika yang melakukan penginjilan di sebagian wilayah dunia telah melupakan "wilayah tetangga" mereka! Dengan mendasarkan strateginya pada prinsip misionaris yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 1:8, Scofield merasa yakin untuk memperbaiki yang kesalahan yang telah dilakukan: " ... di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria .... -- Amerika Tengah adalah wilayah terdekat yang belum pernah dijangkau oleh umat Kristen di Amerika dan Canada! Kami telah mengabaikan wilayah ´Samaria´!"

C.I. Scofield lahir di Michigan tahun 1843 dan besar di Tennessee. Ketika menginjak dewasa, pecah Perang Saudara dan sesuai dengan undang-undang, dia bergabung dengan tentara Konfederasi dan bertugas bersama pasukan Lee. Dia mendapatkan tanda penghargaan ´Cross of Honor´ karena keberaniannya saat bertugas di Antietam. Setelah perang usai, dia belajar hukum; dan setelah diterima di pengadilan Kansas pada tahun 1869, dia bekerja di Kansas State Legislature dan kemudian dia menjadi jaksa Amerika Serikat ketika Presiden Grant memerintah. Tahun 1879 ketika bekerja di St. Louis, Scofield ditolong untuk lahir baru oleh seorang kliennya yang dengan berani bersaksi kepadanya. Sejak pertobatannya tersebut, dia mulai belajar Alkitab dengan lebih serius dan pada tahun 1883 dia diangkat menjadi pendeta Congregationalist. Selama 13 tahun, Scofield menjadi pendeta di Dallas kemudian menjadi pembicara di konferensi, pakar Alkitab terkenal, dan pendiri serta presiden dari Philadelphia College of the Bible. Namun sejak awal pelayanannya di Dallas sebagai seorang pendeta, dia telah terbeban untuk menjangkau Amerika Tengah.

Hudson Taylor, pendiri dari China Inland Mission adalah orang yang memberikan pengaruh terbesar terhadap Scofield dalam kegiatan misinya. Selama beberapa musim panas, Scofield mengikuti Niagara Bible Conference di Niagara, New York. Dalam konferensi tersebut, Scofield menjalin persahabatan dengan Taylor yang mempertajam sensitivitasnya terhadap pelayanan misi ke luar negeri. Kemudian pada musim panas 1888, Scofield mempelajari secara spesifik kebutuhan orang-orang di Costa Rica yang mengabaikan nilai-nilai keagamaan.

Ketika Scofield kembali ke Dallas, dia mengumpulkan semua pemimpin gereja dan menceritakan kemiskinan rohani masyarakat di Costa Rica. Dia membentuk persekutuan doa untuk mendoakan 280.000 penduduk Costa Rica. Setelah pertemuan tersebut, seseorang yang hadir di pertemuan melakukan penyelidikan ke negara-negara bagian Amerika Tengah. Dia menemukan bahwa di setiap wilayah itu, kecuali di Guatemala, belum ada misionaris Kristen yang bisa berbahasa Spanyol.

Mengetahui informasi seperti itu, Scofield tidak bisa tinggal diam. Pada musim gugur 1890, dia mengundang para pemimpin gerejanya ke rumahnya untuk mengatur pelayanan misi bagi Amerika Tengah (Central American Mission -- CAM). Dalam jangka empat bulan, pelayanan misi tersebut mendapatkan kandidat pertama, William McConnell, yang dikirim ke Costa Rica.

Namun, ada yang lebih lagi di balik pendirian CAM daripada hanya sekedar pendeta yang antusias, jemaat yang mendukung, dan sepasang misionaris yang mau diutus. Ketika McConnell datang di Costa Rica, dia bertemu dengan dua orang wanita yang sungguh mengenal Allah, Ny. Ross dan Ny. Lang. Para suami kedua wanita ini adalah pemilik perkebunan kopi yang tinggal di San Jose -- komunitas berbahasa Inggris. Mereka aktif di gereja yang didirikan oleh Scotch Presbyterians. Kedua wanita tersebut, sama halnya dengan Scofield, memiliki beban untuk memenuhi kebutuhan rohani di Costa Rica. Mereka berdua selalu berdoa bersama untuk kedatangan misionaris di Costa Rica. Bulan terus berlalu dan mereka mulai kuatir karena doa-doa mereka belum dijawab. Ada godaan untuk menghentikan persekutuan doa itu, namun keduanya memilih untuk terus melakukannya. Allah menjawab doa mereka dengan kehadiran McConnel dan keluarganya di Costa Rica pada awal 1891. Beberapa tahun kemudian, McConnell menggambarkan kedua wanita itu sebagai "penduduk pertama yang menerima keluarganya dengan sepenuh hati dan mendorong dalam pelayanan kami". Kedua wanita itu telah menjadi "teman dan penolong yang setia selamanya".

Pada tahun 1894, ada tujuh misionari CAM di Costa Rica dan pelayanan misi CAM sedang mencari ladang-ladang pelayanan lainnya. Usaha-usaha pertama yang dilakukan sangatlah sulit terutama dengan meninggalnya dua misionaris yang sedang melakukan perjalanan melalui El Salvador karena menderita demam kuning. Pada tahun 1895, H.C. Dillon dikirim untuk melakukan penelitian tentang prospek-prospek untuk mengembangkan pelayanan di Amerika Tengah. Sepulang dari tugasnya, Dillon menuliskan,

"Sepertinya aneh bagiku, karena ada ladang pelayanan yang begitu besar berada tepat di depan kita. Ladang itu terdiri atas beragam bangsa yang selama satu abad tidak pernah disentuh oleh pelayanan misi .... Bahkan ada suku-suku besar yang dapat dicapai dalam jangka waktu 10 hari dari New Orleans. Siapa yang mau diutus ke sana?"

Pada tahun berikutnya, CAM membuka ladang pelayanan baru di Honduras dan El Salvador, dan pada tahun 1899 pelayanan di Guatemala dibuka dan pada tahun berikutnya di Nicaragua. Setelah satu dekade pelayanan CAM memiliki 25 misionaris yang melayani di lima ladang yang ada Amerika Tengah. Pelayanan CAM terus berkembang dan tetap aktif sampai sekarang dengan hampir 300 ratus misionaris di enam Republik Amerika Tengah ditambah Mexico.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 304 -- 306

e-JEMMi 48/2004

D. L. Moody -- Utusan Injil Terbesar Abad XIX

D. L. Moody lahir tanggal 5 Februari 1837 di Northfield, Massachusetts. Ayahnya, Edwin Moody adalah seorang tukang batu, sedangkan ibunya, Betsey Holtom berasal dari kaum alim Purilastan. Pada 28 Mei 1841, ayahnya meninggal dunia sehingga ibunya terpaksa bekerja keras mengasuh tujuh orang anaknya. Tiap pagi, Betsey Holtom selalu membacakan Alkitab untuk anak-anaknya, dan pada hari Minggu mengajak mereka pergi ke gereja Unitaris. D. L. Moody tidak suka pergi ke gereja karena ia tidak dapat memahami apa yang dikhotbahkan. Ia lebih suka bepergian dan bersuka ria. Setelah dibaptis, ibunya mendesak agar ia belajar berdoa. Ia mencoba, tetapi merasa sia-sia saja. Setelah dewasa, D. L. Moody bertekad belajar sebanyak-banyaknya sambil bekerja. Mula-mula ia bekerja di toko buku dan alat-alat tulis, tetapi ia tidak puas dan pergi menemui pamannya di Boston. Pamannya setuju menerimanya dengan syarat ia harus ke gereja Mount Vernon, tidak minum minuman keras, dan tidak berjudi. Karena kecerdasan dan keramahannya, disertai rasa humor, ia segera menjadi penjual yang sukses.

Saat ke gereja, ia lebih suka duduk di sudut gereja yang gelap dan sering kali ia tertidur karena penat bekerja. Suatu hari, Edward Kimball, gurunya, menyampaikan pelajaran mengenai Musa. D. L. Moody mendengarkan dengan terpesona. Beberapa minggu kemudian, Edward Kimball memberinya Alkitab sambil memberitahu pelajaran yang diambil dari kitab Yohanes. D. L. Moody mengambil Alkitab itu dan mencarinya dengan membuka kitab Kejadian. Guru itu melihat bahwa murid-murid yang lain tersenyum-senyum dan saling menyikut satu sama lain. Ia segera menyerahkan Alkitabnya kepada D. L. Moody dalam posisi terbuka dengan ayat yang tepat. Ia merasa malu, dan hari Minggu depannya ia tidak hadir. Gurunya segera mencari dan memintanya untuk datang kembali. Tanggal 21 April 1855, Edward Kimball merasa saatnya telah tiba untuk berbicara mengenai Kristus kepada D. L. Moody. Dan saat itu juga, ia bertobat.

Setelah itu, D. L. Moody bergegas kembali ke rumahnya di Northfield dan memberikan kesaksian imannya kepada saudara-saudaranya. Namun, mereka tidak menanggapinya, dan ia kembali ke Boston dengan kecewa. Ia sering kali putus asa ketika ia ingin menjadi anggota gereja Mount Vernon. Panitia keanggotaan gereja selalu mengulur waktu karena tidak yakin bahwa ia sungguh-sungguh bertobat. Walaupun demikian, ia tetap bersemangat berbicara di persekutuan doa. Tanggal 20 September 1856, ia pindah ke Chicago dan mendapat pekerjaan di toko sepatu Wiswall. Pada hari minggu, ia pergi beribadah di First Baptist Church. Di gereja ini, ia bertemu dengan calon istrinya. Pada waktu itu, ia menjadi anggota the Young Men's Mission Band of the First Methodist Episcopal. Tujuan organisasi ini adalah mengunjungi hotel dan asrama, serta membagikan brosur dan mengajak orang hadir dalam kebaktian. Dalam musim gugur tahun 1858, ia mulai membuka sekolah minggu sendiri. Ia mendapat persetujuan dari walikota untuk memakai North Market Hall sebagai tempat ia membina anak-anak. Pada tahun 1860, ia meninggalkan usaha dagangnya dan memfokuskan diri pada pelayanan, padahal pada saat bekerja ia mendapat 5000 dolar -- jumlah uang yang cukup besar pada saat itu. Tahun pertama menjadi pekerja Kristen ia hanya mendapat 300 dolar, namun ia yakin akan pemeliharaan Tuhan. Di bawah pimpinannya, sekolah minggu dan YMCA (Persatuan Pemuda Kristen, hasil dari kebangunan rohani dari tahun 1857-1858) berkembang pesat. Kemudian, ia mendirikan gereja dan diresmikan pada awal tahun 1864. Gerejanya menjadi gereja yang berkembang dan paling giat di kota tersebut. Pada masa Perang Saudara di Amerika, ia mendukung penghapusan budak dan ia mulai melayani para tentara. Ia dicintai para prajurit karena usahanya yang tidak mementingkan diri sendiri dan sangat memerhatikan para prajurit.

Pada tanggal 22 Februari 1867, D. L. Moody dan istrinya berangkat ke Inggris, ia ingin menjumpai Spurgeon, seorang pengkhotbah terkenal. Setelah mengadakan pembicaraan dengan Spurgeon, ia mengunjungi Bristol melihat panti asuhan yang didirikan oleh George Muller. Ia juga pergi ke Edinburgh dan mendapat kesempatan berpidato di Free Assembly Hall. Ia juga sempat mengunjungi Dublin. Di sini, ia bertemu dengan Harry Moorehouse, seorang pemuda yang sangat mengesankan hati D. L. Moody. Karena kefasihan Moorehouse dalam menguraikan firman Tuhan. D. L. Moody menjadi lebih rajin mempelajari Alkitab. Saat ada pameran di Paris, ia berkunjung ke sana bersama istrinya dan ia berkhotbah beberapa kali di Paris. Tahun 1870, saat Rapat Pemuda Kristen Sedunia (Internasional Convention of the Young Men's Christian Association), ia bertemu dengan Ira D. Sankey, yang kelak akan menjadi mitra utama Moody dalam pekerjaan pekabaran Injil. Ira D. Sankey memunyai talenta memuji Tuhan.

Tanggal 8 Oktober, terjadi kebakaran hebat di Chicago yang menghanguskan Farwell Hall dan Illinois Street Church. Saat itu D. L. Moody sedang mengalami pergumulan rohani berkaitan dengan kuasa Roh Kudus. Setelah membawa istri dan keluarganya ke tempat yang aman, ia bergegas mencari bantuan ke bagian timur negara dan terkumpul $3.000. Dengan dana tersebut, segera dibangun gereja darurat dan diresmikan sebagai North Side Tabernacle. Tidak lama kemudian, ia mengalami urapan Roh Kudus. Chicago mengalami kebangunan rohani yang besar.

Pada bulan Juni 1872, ia pergi ke Inggris untuk kedua kalinya karena ingin memperdalam pengetahuan tentang Alkitab. Semula ia berniat menghindari pelayanan berkhotbah, tetapi atas permintaan seorang pendeta, akhirnya ia menyanggupi untuk berkhotbah di Old Balley. Terjadi kebangunan rohani di gereja tersebut, beratus-ratus orang bertobat. Setelah ke Dublin, ia kembali ke Old Balley dan mengadakan kebaktian selama 10 hari. Setelah tiga bulan, ia kembali ke Amerika, dan setahun kemudian ia kembali ke Inggris memimpin kebaktian selama 5 minggu di York. Di sini ratusan orang bertobat. Kemudian tim penginjilan ini melanjutkan perjalanan ke Sunderland dan New Castle-On-Tync. Hasil kebangunan rohani ini terdengar sampai ke Edinburgh. Para pendeta kemudian mengundang D. L. Moody untuk memimpin kebaktian di sana. Gaya khotbah D. L. Moody yang sederhana dan berapi-api, disertai pimpinan Roh Kudus membuat kebangunan rohani besar-besaran dan berita kebangunan ini semakin meluas ke seluruh negeri. Setelah tiga bulan di Edinburgh, mereka ke Dundee dan Glascow untuk berkhotbah selama empat bulan. Pada bulan September 1874 mereka menuju Belfast, Irlandia, dan puncak ibadah terjadi di Exhibition Palace di Dublin. Tanggal 9 Maret 1875, dimulailah serangkaian kebaktian di London dengan jumlah pengunjung mencapai 15.000 - 20.000 orang. Pada waktu itu, D. L. Moody baru berusia 38 tahun. Setelah tiba di Amerika, D. L. Moody dan rombongannya memberitakan Injil di New York, Philadelphia, Baltimore, St. Louis, Cincinnati, Chicago, dan Boston. Pada musim semi tahun 1892, D. L. Moody mendapat kesempatan untuk mengunjungi Yerusalem dan Kairo. Setelah mengunjungi beberapa tempat bersejarah, ia dan timnya bertolak ke Italia. Pada 26 Januari 1896, ibunya meninggal dunia. Waktu ibunya dikebumikan ia berkata: "Apabila setiap orang memiliki ibu seperti ini, maka semua penjara akan dihapus."

Tanggal 30 Oktober 1898, cucu perempuannya meninggal dunia karena radang paru-paru. Walaupun demikian, ia berkata: "Saya sungguh bersyukur kepada Allah atas hidup ini, cucu saya kini berada di surga bersama Yesus selamanya, kita semua akan segera menyusulnya." D. L. Moody berkhotbah untuk terakhir kalinya pada tanggal 16 November 1899. Pada malam itu, Convention Hall penuh sesak. Tanggal 22 Desember menjelang kematiannya ia berkata: "Dunia bergerak mundur, surga terbuka bagiku ... kalau ini kematian maka begitu nikmatnya. Tuhan memanggil saya, maka saya harus pergi". Tanggal 26 Desember 1899, ia dimakamkan di kota Northfield dengan diiringi lagu, "Yesus Pengasih Jiwaku."

Diambil dari:

Judul majalah : Cahaya Buana, Edisi 92/2002
Judul artikel : Dwight L. Moody -- Utusan Injil Terbesar Abad XIX
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Komisi Literatur GKT III Malang
Halaman : 16 -- 17 dan 33

e-JEMMi 03/2011

Daws: Si Pembuat Murid

Seorang pemuda ditangkap polisi karena kedapatan di bawah pengaruh alkohol. Polisi yang mengangkut dia menatapnya serta bertanya, "Apakah kamu menyukai kehidupan seperti ini?" "Saya membenci kehidupan seperti ini," jawab pemuda itu. Tiga jam kemudian, setelah pemuda itu merasa tenang di sebuah taman, polisi mengembalikan kunci mobilnya karena ia tidak melihat masalah yang lebih dalam daripada sekadar alkohol.

Pemuda itu bernama Dawson Trotman. Tahun-tahun SMU-nya dilewatkan dengan menjabat sebagai pembaca pidato perpisahan kelas, ketua badan siswa, ketua dewan siswa, dan kapten tim bola basket. Akan tetapi, beberapa tahun berikutnya kehidupan Trotman menyimpang ke arah yang membahayakan. Ia berjudi, mabuk-mabukan dan menjadi pemain polo licik yang terkenal. Namun, pertemuan tengah malam dengan polisi setempat ternyata menjadi katalisator untuk suatu pertemuan dengan Yesus Kristus.

Pada akhir minggu itu, Trotman pergi ke gereja. Pemimpin sekolah minggunya menugaskan dia menghafal 10 ayat mengenai keselamatan. Akan tetapi tiga minggu kemudian, ia kembali dengan 24 ayat di kepalanya. Tetapi ia kembali menenggak minuman keras dan berperilaku ceroboh. Ini bukanlah pertama kali ia ke gereja. Meskipun ia suka mencuri sejak kecil, ia menjadi pemimpin kaum muda di gerejanya. Kisah Trotman baru sampai sejauh itu dan ia masih belum memiliki hidup yang kekal.

Tiba-tiba ia mendapati sebuah ayat Alkitab dari Injil Yohanes pasal 5, bahwa ia dapat memiliki hidup yang kekal. Ia berdoa, "Ya Tuhan, apapun artinya ayat itu, saya ingin memilikinya." Ayat lain terlintas dalam pikirannya. "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." Dan Trotman menerima Yesus tak lama kemudian.

AWAL PELAYANANNYA

Trotman menghabiskan beberapa tahun berikutnya dengan terlibat dalam penginjilan pribadi yang intensif. Sementara itu ia terus menyerahkan dirinya pada kehidupan doa yang disiplin. Seperti biasa fokusnya adalah memasukkan dan menyerap firman Allah.

Pada tahun 1934, Trotman diminta mengunjungi seorang pelaut, Les Spencer dan membagikan firman Allah kepadanya. Betty Skinner, penulis biografi Trotman yang berjudul "Daws", menggambarkan adegan ini: "Di tempat parkir sekolah, mereka mencurahkan perhatian pada Alkitab. Ketika seorang satpam mendekat dan bertanya apa yang sedang mereka lakukan? "Membaca Alkitab", jawab Trotman. Ia juga mengambil kesempatan untuk bersaksi. Trotman beralih dari satu bagian ke bagian yang lain untuk menjelaskan Injil dan menjawab semua pembelaan satpam itu.

"Dalam perjalanan kembali ke darat (Spencer) berkata, "Saya bersedia memberikan tangan kanan saya untuk dapat mengetahui bagaimana menggunakan firman Tuhan seperti itu."

Itulah yang menjadi tanda awal pelayanan Para Navigator. Di beri nama demikian karena pada mulanya berhubungan dengan pelayanan pelayaran. Spencer menuntun orang lain kepada Kristus dan pada gilirannya menuntun orang lain lagi kepada keselamatan. Pelayanan pemuridan Para Navigator pun dimulai. Proses memenangkan dan memuridkan orang-orang, baik laki-laki maupun perempuan bagi Kristus berlanjut di seluruh dunia sampai sekarang ini.

MENGHAFALKAN AYAT DAN MERENUNGKAN FIRMAN TUHAN

Pengalaman pertobatan Trotman berpusat pada penghafalan dan perenungan firman Tuhan. Ia adalah pembuat murid sebab ia sendiri yang pertama kali dimuridkan oleh Allah melalui Alkitab. Penekanan untuk menghafalkan Alkitab disusunnya menurut tema-tema per topik, kemudian menjadi bagian dari kurikulum inti pelayanan Para Navigator sekarang ini.

Trotman menghafal firman Tuhan tidak dengan cara yang legalistik. Ia mengerti bahwa Roh Allah harus menimbulkan hasrat yang berkobar dan menjadi tambang kekayaan firman-Nya. Menghafal firman Tuhan dan merenungkannya secara teratur merupakan dasar untuk mengalami kehidupan yang berlimpah. Pemazmur "menghargai/menyimpan" firman Tuhan di dalam hatinya dan merenungkan firman Tuhan itu "siang dan malam".

Ketika Anda menulis firman Tuhan dalam celah-celah hati, maka Anda akan menemukan pikiran yang diperbaharui dan siap untuk menghadapi pencobaan, tantangan, dan kesengsaraan dari perspektif kebenaran Allah. Kebenaranlah yang membebaskan Anda. Semakin banyak Kitab Suci yang di simpan dalam hati, Anda akan semakin menjadi seperti Kristus.

Rev. Billy Graham menyimpulkan kehidupan Trotman demikian: Dawson mencintai firman Tuhan lebih dari siapa pun dan mengajarkannya kepada saya untuk mencintai firman Allah. Ia selalu membawa Alkitabnya dan selalu diberinya tanda. Firman Allah begitu manis bagi dia."

CIKAL BAKAL PARA NAVIGATOR

Kehidupannya berubah, walaupun bekerja sebagai sopir truk di California. Ia mengajar seorang pelaut bernama Les Spencer bagaimana hidup bagi Kristus. Pelaut yang lain menanyakan kepada Spencer rahasia kehidupannya yang berubah. Spencer membawa orang itu kepada Trotman dan meminta dia mengajarinya. Trotman merasa jengkel. Ia sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan dan meneruskan kepada Spencer segala sesuatu yang ia perlu ketahui untuk melakukan tugas itu sendiri. "Ajarkan dia!" katanya. Itulah awal pelayanan Para Navigator.

Dari pengalaman ini, Trotman melihat potensi yang luar biasa yang dilakukan dalam pemuridan -- pribadi ke pribadi untuk mengubah kehidupan. Karena itu, para navigator mengadopsi moto "mengenal dan memperkenalkan Kristus".

Ribuan orang memberi respons terhadap tantangan Trotman ini. Pelayanan Para Navigator pun berdiri (Organisasi tersebut tidak berbentuk badan hukum selama 10 dekade). Tak lama kemudian Spencer dan teman-teman sekapalnya mengajar 125 orang di atas kapal USS West Virginia, kemudian mengajar orang lain di atas kapal-kapal yang tenggelam di Pearl Harbor.

Dawson Trotman, seorang laki-laki, yang penuh semangat menyampaikan pidato perpisahan kelas dan ketua mahasiswa, terus menggunakan bakatnya dengan baik. Pelayanan Para Navigator terus berkembang. Dewasa ini sekitar 100.000 orang berlangganan majalah Discipleship Journal. Anda mungkin telah melihat pedoman belajar yang lain dan buku-buku yang diterbitkan oleh organisasi itu atau majalah doa mereka. Lebih dari 3000 orang bekerja untuk Para Navigator kepada hampir seratus bangsa. Itulah cara ketaatan dari satu orang laki-laki yang mengasihi Tuhan.

KEHIDUPAN YANG BERDISIPLIN

Rev. Billy Graham berkhotbah pada penguburan Dawson Trotman tahun 1956. Ia meninggal ketika menyelamatkan seorang gadis kecil yang tenggelam di sebuah danau di bagian utara New York. "Menurut saya, Dawson Trotman secara pribadi telah menyentuh lebih banyak kehidupan (demi Kristus) ketimbang siapa pun yang pernah saya kenal," kata Graham.

Graham mengenal Trotman dan pelayanan yang didirikannya -- dengan sangat baik, dan menggunakan bahan yang dikembangkan Trotman sebagai pengajaran tindak lanjut untuk kampanye-kampanye penginjilannya. "Dawson Trotman adalah seorang tokoh yang paling tidak terlupakan yang pernah saya temui dalam kehidupan Kristen saya. Ia terus sibuk sepanjang waktu menyentuh kehidupan setiap hari bagi Kristus (Billy Graham).

Pengaruh Para Navigator sejak itu bertumbuh sampai proporsi seluruh dunia dengan kira-kira 3.600 staf yang mewakili 60 bangsa yang bekerja di 101 negara.

Trotman mendirikan Para Navigator pada tahun 1934. Ia membuat bahan pelajaran Alkitab dan mengajarkannya melalui tahun-tahun pertumbuhan sampai meluas menjadi gerakan pemuridan -- dari personel militer sampai menjangkau para mahasiswa perguruan tinggi dan kaum awam. Di hati Trotman, pelayanan yang ia rindukan dari dulu sampai saat dipanggil Tuhan adalah pemuridan orang-orang percaya dalam disiplin rohani -- mulai dari doa, ibadah, pemahaman Alkitab, dan kebaktian.

Diambil dari:

Judul majalah : Sahabat Gembala, Juli 2005
Judul artikel : Daws: Si Pembuat Murid
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 27 -- 30

e-JEMMi 43/2010

Dr. C. Everett Koop -- Dokter Misionaris

Setelah bekerja selama tiga puluh tahun sebagai dokter bedah anak terkemuka, Dr. C. Everett Koop mendekati masa pensiun pada pertengahan tahun 1970-an ketika beliau memutuskan bahwa perjuangan melawan aborsi itu sepenting usaha menyelamatkan nyawa di meja operasi. Koop adalah seorang Kristen taat yang mencurahkan hasratnya dalam menentang aborsi ke dalam dua buku, lima film pendidikan, dan tur ceramah ke berbagai kota di negaranya. Gaya argumentasinya netral: dalam satu bagian film, Koop memandangi lautan boneka telanjang yang melambangkan janin-janin korban aborsi dan berkata, "Saya berdiri di Sodom, tempat terjadinya kejahatan dan kematian."

Apa yang sudah dikerjakannya selama ini mendorong Ronald Reagan untuk mencalonkan Koop sebagai "surgeon general" (kepala jawatan kesehatan) pada tahun 1981. Selama delapan bulan, pengangkatan Koop ditunda oleh Kongres karena kubu liberal menentang pandangan Koop, kefanatikannya, dan keyakinannya akan kesehatan publik. Ketika akhirnya Koop memenangkan persetujuan Senat, beberapa orang mengharapkan dia membatasi anjurannya kepada masyarakat umum tentang peringatan untuk tidak merokok.

Koop yang sekarang berumur tujuh puluh tahun (saat berita ini ditulis), adalah seorang yang kontroversial, tapi rasa bangga dan sikap idealisnya yang dulu membuat kaum konservatif mendukungnya, sekarang membuat marah para aktivis sayap kanan. Hal ini diakibatkan oleh politik AIDS. Kepala jawatan kesehatan adalah pengacara utama pemerintah yang memiliki pandangan bahwa pendidikan seks adalah cara paling efektif untuk membatasi penyebaran AIDS. Dimulai dengan laporannya kepada presiden pada Oktober lalu, Koop bersikeras bahwa keterusterangan dan kondom adalah alat kesehatan masyarakat yang lebih efektif daripada khotbah tentang kesucian. Minggu lalu, Koop adalah satu-satunya orang pemerintah yang menentang rencana pengujian penyebaran AIDS. Beliau mengatakan, "Saya kira, tak seharusnya seseorang dipaksa untuk mengikuti tes AIDS, untuk mengetahui penyebaran AIDS pada saat ini."

Koop, seorang yang berperawakan tinggi besar (enam kaki dan satu inci) dengan janggut seperti Kapten Ahad, dan bersuara keras ini, menyadari bahwa pekerjaan besarnya sebagai tokoh kesehatan nasional lebih berpengaruh daripada seorang pengkhotbah yang tegas. "Apa pun yang telah saya lakukan selama lima tahun menjabat sebagai kepala jawatan kesehatan," katanya, "telah saya lakukan dengan dorongan moral yang sungguh-sungguh." Perjuangannya mulai dari seruan "masyarakat bebas rokok di tahun 2000", sampai pembelaan yang gigih terhadap bayi-bayi cacat. Koop yang bangga mengenakan seragam kebesaran sebagai kepala jawatan kesehatan dengan kancing berwarna emas, juga mempunyai maksud yang khusus: beliau mencoba, meski tidak terlalu sukses, untuk mempertahankan peraturan yang hampir punah -- peraturan yang mengharuskan semua anggota Layanan Kesehatan Masyarakat (Public Health Service) untuk memakai seragam militer saat bertugas.

Perdebatan mengenai AIDS yang dilakukan Koop merupakan usahanya yang paling hebat. Mantan pengkritik liberal, seperti anggota California Democratic Congress, Henry Waxman, sekarang berkata bahwa penilaian awal mereka tentang Koop adalah salah. Namun, mantan sekutu dari konservatif, seperti Paul Weyrich dan Phyllis Schlafly, menentang Koop dengan tuduhan bahwa "proposal Koop untuk menghentikan penyebaran AIDS mencerminkan pandangan para homoseksual, bukan pandangan gerakan profamily."

Bulan lalu, golongan sayap kanan merusak acara makan malam penghormatan untuk Koop: sebelas sponsor memboikot makan malam tersebut, termasuk lawan presidensial Partai Republik, Senator Robert Dole dan seseorang dari Kongres, Jack Kemp. Malam itu, para demonstran yang menginginkan Koop dipecat berada di luar gedung tempat Koop menghadiri acara makan malam. Dengan sedih Koop menyatakan rasa terima kasihnya kepada mereka yang hadir dan mengambil risiko terkena imbas kegusaran kelompok sayap kanan. "Belum pernah dalam seumur hidup saya," katanya, "menginginkan atau menghargai pertunjukan persahabatan seperti ini." Kepada mantan sekutunya, Koop mengeluhkan, "Mereka tidak mendengar apa yang sudah saya katakan, tapi mereka mengkritik tentang apa yang orang katakan mengenai apa yang saya katakan. Hal itu sangat tidak membesarkan hati."

Sebagai kepala dokter bedah di Children`s Hospital of Philadelphia, Koop menjadi terkenal atas keberhasilannya memperbaiki cacat lahir, termasuk memisahkan bayi kembar siam. Sejak saat itu, pada tahun 1940-an, beliau dan istrinya, Elizabeth, terjun dalam dunia penginjilan kekristenan. Koop sudah melihat jelas kaitan antara obat-obatan dan moralitas. Itu adalah visi yang menjiwai tugasnya sebagai kepala jawatan kesehatan. "Saya rasa Anda tidak akan bisa memisahkan agama Anda, etika, atau nilai-nilai moral dari cara Anda melakukan pekerjaan Anda," kata Koop. "Ada kesempatan-kesempatan dan kewajiban-kewajiban sosial yang melibatkan agama seseorang, seperti dengan penuh belas kasih merawat orang sakit."

Dalam minggu-minggu berikutnya, Koop mungkin harus mempertimbangkan kata-kata etisnya sendiri dalam menentang permintaan politik dari kebijakan pemerintah mengenai AIDS. Koop tidak berjanji untuk diam, tapi diharapkan beliau akan tunduk kepada kehendak presiden: "Saya adalah seorang pegawai pemerintah dalam bidang kesehatan, dan saya harus mendukung hukum yang ada di negara saya. Itulah tugas saya." Ini adalah sebuah pekerjaan yang akan menjadi semakin berat sembari Amerika berjuang untuk menahan penyebaran AIDS. (t/Dian)

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Situs : Majalah Time, Edisi Senin, 8 Juli 1987
Judul asli : The Missionary Doctor
Penulis : tidak dicantumkan
Alamat URL : http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,964617,00.html

e-JEMMi 20/2007

Dr. William Carey: Tukang Sepatu yang Selalu Ingin Tahu

Bagi orang asing yang lewat, toko itu nampak seperti toko sepatu biasa yang terdapat di Inggris. Di depan toko itu tergantung sebuah papan dengan tulisan, "Jual Beli Sepatu Bekas". Orang-orang di desa Paulers Pury tahu bahwa pekerja muda di toko itu bukan seorang tukang sepatu biasa.

Mereka memanggilnya "Columbus", sebab ia sering menceritakan tentang Columbus, penemu yang terkenal itu. Mereka menertawakan dia apabila ia mempelajari bahasa-bahasa asing pada malam hari.

"Mengapa kamu perlu mempelajari demikian banyak bahasa, Columbus?" mereka mengejek.

Pemuda itu menjawab dengan sabar, "Aku ingin memahami bangsa-bangsa lain."

William Carey tergerak hatinya mendengar laporan-laporan para penjelajah yang telah mengikuti Columbus. Ia memunyai sebuah peta di dinding dan sementara informasi baru diperoleh, ia dengan teliti mengklasifikasikannya di peta itu.

Ia membaca setiap buku yang diperolehnya. Buku-buku tentang khotbah lama pun dibacanya. Pada suatu hari, ia membaca sebuah buku tentang seorang pendeta terkenal, Jeremy Taylor. Ia menjadi gelisah dan membicarakannya dengan seorang pekerja -- temannya, yang dikenal sebagai seorang pengunjung gereja yang setia.

"Apa artinya dilahirkan kembali?" Carey bertanya. "Saya dibaptiskan menjadi anggota gereja Inggris, tetapi saya belum pernah mendengar hal ini."

Temannya, William Warr, menjawab dengan cepat. "Dibaptiskan saja tidak cukup. Sekarang datanglah ke 'gereja pelarian', gereja saya. Pendeta saya akan mengatakan kepada Anda bagaimana caranya untuk merasa yakin bahwa Anda sudah berdamai dengan Allah."

"Tetapi 'pelarian-pelarian' itu orang-orang yang menyimpang dari agamanya," bantah Carey.

"Mereka mungkin disebut sebagai orang-orang yang menyimpang dari agama, Carey," William Warr membantah, "tetapi mereka berkhotbah dari Alkitab. Itulah yang penting."

Carey berbantah-bantah dengan temannya selama beberapa bulan, sebelum akhirnya ia menyerah dan menghadiri suatu kebaktian di "gereja pelarian" itu. Setelah pergi beberapa kali, ia harus mengakui bahwa pelarian-pelarian itu sungguh berkhotbah dari Alkitab. "Aku akan pergi ke gereja tiga kali pada hari Minggu dan menghentikan dusta dan sumpah serapahku," ia bertekad.

Kemudian negeri Inggris tiba-tiba terlibat perang dengan Perancis dan Spanyol. Armada musuh bergerak memasuki selat Inggris mengancam akan menyerbu. Raja Inggris, George, menyatakan bahwa tanggal 10 Februari 1779 merupakan hari nasional untuk berdoa dan berpuasa. Pada hari itu Carey ikut bersama para "pelarian" itu dalam suatu kebaktian istimewa.

Pendeta Thomas Chater memimpin kelompok doa itu. Ia berbicara tentang celaan yang akan mereka alami jika menjadi pengikut Kristus. Carey melaporkan, "Aku merasa hancur dan tak berdaya. Aku ingin mengikuti Kristus."

Carey dilahirkan kembali. Ia sekarang adalah seorang pengikut Kristus yang sungguh-sungguh. Setelah pengalaman itu, Carey tak jemu-jemunya mempelajari Alkitab. Ia mulai mempelajari bahasa Yunani dan bahasa Ibrani. Setiap pagi ia membaca sebagian dari Alkitab dalam tiga bahasa -- Ibrani, Yunani, dan Latin.

Setelah majikannya meninggal dunia, Carey membuka toko sepatu miliknya sendiri. Setelah menikah, ia membuka sebuah sekolah pada malam hari bagi anak-anak di desanya. Ia menggunakan bola dunia yang terbuat dari kulit kasar, untuk memperlihatkan kepada anak-anak tempat-tempat yang telah ditempuh para penjelajah, seperti Columbus. Sering kali setelah murid-muridnya pulang, ia duduk membaca Alkitab sampai larut malam sambil merenungkan berjuta-juta orang kafir di negeri-negeri lain. Ia menulis pada petanya segala sesuatu yang diketahuinya tentang agama tiap-tiap bangsa di dunia ini.

Pada tanggal 10 Agustus 1786, tukang sepatu yang bersemangat itu ditahbiskan menjadi pendeta Baptis. Beberapa minggu setelah itu, ia menghadiri pertemuan pendeta-pendeta di Northampton. Salah seorang dari pendeta-pendeta yang tua mengusulkan agar seseorang menyebutkan suatu pokok pembicaraan untuk diskusi umum. Carey bangkit serta mengemukakan masalah mengenai: "Apakah Amanat Agung Kristus masih berlaku bagi kita sekarang ini untuk pergi dan mengajar segala bangsa atau tidak?"

Pendeta-pendeta itu terdiam. Kemudian ketua pertemuan itu melihat kepada Carey dengan sinis dan berkata: "Duduklah, anak muda. Apabila Allah berkenan memenangkan orang-orang kafir, Ia akan melakukannya tanpa pertolonganmu ataupun pertolonganku." Tetapi kerinduan Carey tidak mudah dipadamkan begitu saja.

Tanggal 30 Mei 1792, ia menyampaikan sebuah khotbah yang bersejarah pada Persekutuan Pendeta-Pendeta Baptis di Nottingham. Ia mengajukan dua buah pernyataan yang patut dikenang: "Mengharapkan perkara-perkara besar dari Allah. Mengusahakan perkara-perkara besar bagi Allah."

Pagi berikutnya ia mengusulkan untuk membentuk suatu perkumpulan pengabar Injil. Empat bulan kemudian, perkumpulan itu terbentuk dengan modal kurang dari seratus dolar. Tahun berikutnya, Carey dan keluarganya berlayar ke India sebagai utusan Injil dari perkumpulan yang baru itu.

Di India, Carey yang gigih itu meniti kariernya sebagai seorang utusan Injil. Pelayanannya sering kali diganggu oleh tragedi. Pada suatu saat, istrinya dan seorang utusan Injil -- temannya -- mengalami gangguan jiwa dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Utusan-utusan Injil yang lain, banyak yang meninggal karena terserang penyakit yang biasa berjangkit di Asia. Setelah tujuh tahun lamanya melayani di India, barulah Carey membaptiskan seorang yang bertobat pertama kali.

Selama kariernya sebagai utusan Injil, tukang sepatu -- yang mengharapkan perkara-perkara besar dari Allah dan mengusahakan perkara-perkara besar bagi Allah itu, telah menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam empat bahasa terkemuka di India, serta menyebabkan Alkitab dapat dibaca oleh banyak orang dalam bahasa mereka sendiri. Selain itu, Carey juga merupakan tokoh utama dalam pendirian 126 sekolah misi.

Hal terpenting dari semuanya itu: Carey adalah seorang tokoh pencetus gerakan-gerakan utusan Injil di Inggris dan Amerika. Sangatlah tepat jika Carey disebut sebagai bapak pelopor gerakan utusan Injil modern.

Pada saat akan meninggal, Carey berbisik, "Kalau saya sudah tiada, jangan katakan apa-apa tentang Dr. Carey; berbicaralah tentang Juru Selamat Dr. Carey."

Dewasa ini, ada banyak orang Kristen "pengangguran" dalam pemberitaan Injil. Mereka merupakan anak-anak Allah yang menganggur dan hanya menjadi beban bagi Allah, Bapa mereka.

Mari kita meniru teladan -- semangat dan kerendahan hati -- Dr. William Carey dalam memberitakan Injil.

Diambil dari:

Judul majalah : Sahabat Gembala, Januari/Februari 1995 (halaman 42 -- 45)
Judul buku : Dalam Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus
Penulis artikel : James C. Hefley
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 44 -- 46

e-JEMMi 29/2011

Eric Liddell -- Lebih dari Pemenang

Eric Liddell sejak berusia 16 tahun sudah menunjukkan bakat alaminya yang luar biasa, dengan ditunjuk sebagai kapten regu kriket [permainan bola menggunakan tongkat pemukul, Red.] dan pemegang rekor lari 100 yard (91,44 meter). Pada tahun 1920, Eric menjadi mahasiswa di Universitas Edinburg. Dalam kurun waktu yang singkat, Eric menjadi bintang universitas di bidang atletik. Setelah beberapa saat, namanya segera menjadi pusat perhatian di seluruh tanah Skotlandia dan seluruh kerajaan Britania karena prestasinya yang luar biasa dalam berbagai kejuaraan atletik internasional. Pada tahun 1924, Eric mencapai puncak kejayaannya dalam bidang atletik setelah memenangkan medali perunggu dalam cabang lari 200 meter dan medali emas dalam cabang lari 400 meter kejuaraan Olimpiade di Paris.

Skotlandia sangat menyanjung anak muda ini. Di lapangan olahraga Eric menunjukkan stamina, kegigihan, dan sportivitas yang tinggi. Kepolosan dan kerendahan hatinya juga mendapat tempat di hati masyarakat Skotlandia. Pada hari wisudanya, Eric dimahkotai dengan karangan bunga zaitun sebagai lambang kejayaannya di arena Olimpiade dan diarak sepanjang jalan Edinburgh. Setahun kemudian, ketika Eric memutuskan untuk melayani di China sebagai misionaris, kembali ia diarak ke stasiun kereta api. Di Jepang dan China, walaupun jauh dari publikasi kesuksesannya, Eric acapkali diminta untuk tampil di arena olahraga. Kepopuleran Eric yang mencapai belahan dunia bagian timur terlihat dari sanjungan penonton setiap kali Eric tampil.

Dalam masa pelayanannya di Asia Timur, Eric mendapat kesempatan untuk kembali ke Inggris sebanyak dua kali. Masyarakat tetap memberikan perhatian-perhatian kepada Eric walaupun ia tidak berkecimpung lagi dalam bidang olahraga. Saat Eric meninggal pada tahun 1945, upacaranya diperingati di seluruh dunia. Beberapa tahun setelah itu, berbagai yayasan dan organisasi dibentuk untuk menghormati Eric Liddell.

HARI SABAT

Di arena Olimpiade Paris, Eric memutuskan sesuatu yang mengejutkan dunia. Eric menolak untuk bertanding di arena lari 100 yard, cabang spesialisasinya, karena pertandingan itu diadakan di hari Minggu. Eric memegang teguh keyakinannya untuk menguduskan hari Minggu sebagai harinya Tuhan.

Keputusan Eric mendapat kritikan tajam dari khalayak ramai. Publik menuduhnya tidak patriotik (karena menyebabkan hilangnya kesempatan Skotlandia untuk meraih medali emas). Di bawah tekanan besar untuk mempertahankan keyakinannya, Eric layak, dan memang pada akhirnya menerima penghormatan atas keteguhannya. Ketaatan rohani yang sama terlihat dari tulisannya yang menantang semua umat Kristen: "Tanyalah pada dirimu sendiri, 'Kalau saya mengetahui sesuatu adalah kebenaran, apakah saya siap untuk mengikutinya, walaupun hal tersebut bertentangan dengan keinginan saya, atau berlawanan dengan apa yang saya percaya sebelumnya. Apakah saya akan mengikutinya walaupun banyak orang akan menertawakan saya, atau akan menyebabkan saya rugi secara materi, atau menyebabkan saya menderita kesusahan.'"

"DIA YANG MENINGGIKAN NAMAKU AKAN KUTINGGIKAN"

Penolakannya untuk lari di cabang 100 yard [pada hari Minggu] menunjukkan kepatuhannya kepada Tuannya di Surga dengan risiko menerima kemarahan dari tuannya di dunia. Salah satu pelatih Eric menyelipkan kertas kecil sebelum pertandingan lari 400 yard (365,76 meter) dimulai yang berisi kutipan dari 1 Samuel 2:30, "'Siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati'. Semoga berhasil dan selamat berjuang." Pelatih itu tidak salah. Eric memenangkan medali emas untuk cabang lari tersebut. Seandainya Eric tidak memenangkan medali emas pada saat itu pun kepatuhannya terhadap perintah Tuhan patut mendapatkan medali emas. Hidup Eric pada tahun-tahun selanjutnya ditandai dengan keputusan-keputusan yang konsisten dengan kepatuhan dan kesetiaan Eric kepada Kristus.

Karier Eric tidak dapat dipisahkan dari kekristenan. Kalau Eric tidak bisa diterima khalayak ramai sebagai pelari Kristen, ia tidak akan mau menjadi pelari sama sekali. Eric tidak bisa menerima bahwa imannya kepada Kristus adalah hanya hal pribadi antara ia dan Tuhan. Baginya hidup sebagai orang Kristen adalah hidup yang bersaksi bagi kemuliaan Kristus, dalam setiap waktu dan dalam segala keadaan. Seandainya cerita kejayaan Eric Liddell berakhir di sini, biografi ini hanya akan menjadi cerita salah satu dari sekian banyak orang yang berhasil dalam hidupnya. Rekor dunia yang dipecahkan Eric pada tahun 1924 sudah ditumbangkan dan dilampaui oleh atlet-atlet dunia lainnya. Tetapi Eric Liddell meninggalkan pada dunia suatu contoh kehidupan yang mencerminkan kepatuhan yang "tidak menawar" kepada Kristus. Setiap kali Eric akan membuat suatu keputusan, ia selalu bertanya pada diri sendiri. "Apakah hal yang akan saya buat sesuai dengan kehendak Tuhan atas hidup saya?"

CHINA

Semasa masih di Universitas, Eric diminta untuk menjadi anggota "Glasgow Students Evangelistic Union" (GSEU), suatu perkumpulan mahasiswa Kristen yang aktif memberitakan Kristus pada masyarakat Skotlandia. Seorang anggota muda dari GSEU merasa bahwa nama besar Eric akan menjadi magnet bagi masyarakat Skotlandia untuk mau mengenal Tuhan. Ketika anggota GSEU tersebut minta kesediaan Eric untuk menjadi anggota dan pembicara dalam perkumpulan tersebut, pelari terkenal itu menunduk sesaat dan berdoa menyerahkan dirinya untuk menjalankan kehendak Tuhan. Kejadian itu menjadi titik permulaan bagi sesuatu yang baru dalam kehidupan Eric waktu itu: menjadi saksi Tuhan melalui suaranya, berkhotbah. Eric dipakai Tuhan secara luar biasa. Banyak orang yang semula hanya datang karena nama Eric, menerima Tuhan setelah mendengar khotbah-khotbah Eric.

Tuhan rupanya memunyai rencana yang lebih indah lagi bagi Eric. Begitu Eric menyelesaikan kuliahnya, ia mendapat kesempatan untuk pergi ke daratan China untuk menjadi guru di sekolah yang bernama Tientsin Anglo Chinese College. Tianjin [ejaan modern untuk Tientsin, Red.] adalah tanah kelahirannya 23 tahun sebelumnya ketika orang tua Eric menjadi misionaris di China. Keputusannya untuk datang ke Tianjin juga adalah karena ketaatan dan kesensitifan Eric atas rencana Tuhan dalam hidupnya. Bukan Eric kalau dia tidak dengan giat bersaksi pada semua murid-muridnya mengenai keselamatan melalui Kristus. Selama 12 tahun berikutnya Eric menjadi guru di sekolah tersebut dan menjadi saksi bagi Tuhan Yesus.

Tantangan selanjutnya sudah menunggu. Eric harus membuat keputusan untuk menerima tugas pengabaran Injil di daerah pedalaman Xiaozhang. Pengabaran Injil di Xiaozhang bukanlah hal yang mudah karena daerah itu berada dalam keadaan perang (waktu itu Jepang sudah menjalankan misi ekspansinya ke daratan China). Jika ia menerima tantangan ini berarti Eric harus berpisah dari istrinya yang baru dinikahinya 3 tahun sebelumnya. Selama setahun Eric bergumul dalam doa dan akhirnya ia menerima tugas itu sebagai panggilan yang pasti dari Tuhan.

Belas kasihan Eric kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus begitu memotivasi Eric untuk melakukan hal-hal yang sering membahayakan jiwanya sendiri. Eric sering harus masuk ke garis depan medan pertempuran untuk membawa prajurit yang terluka, tidak memedulikan kewarganegaraan prajurit tersebut, untuk menerima perawatan di rumah sakit misi. Di bawah bayang-bayang pesawat terbang tentara Jepang dan di tengah deru mesiu yang tidak berhenti, Eric menunjukkan bahwa Kristus mengasihi manusia, apa pun kebangsaannya, dengan kesediaannya untuk melayani siapa saja yang memerlukan tanpa ragu-ragu mempertaruhkan risiko keselamatan dirinya sendiri.

Hidup para misionaris menjadi terancam ketika Jepang menyatakan perang kepada Inggris. Banyak misionaris dari Eropa meninggalkan daratan China untuk menunggu waktu yang lebih baik untuk kembali ke China. Banyak juga yang berkeras untuk tinggal di China, dan Eric adalah salah satunya. Jepang akhirnya mengumpulkan seluruh misionaris asing di suatu kamp interniran di daerah Weihsien [sekarang bernama Weifang, Red.]. Eric kembali menjadi suara Tuhan di kamp tersebut. Eric memimpin pertandingan olahraga di antara para tahanan, menguatkan iman para tahanan, menghibur orang-orang yang kehilangan harapan, dan mengajarkan pelajaran sekolah kepada anak-anak para tahanan. Eric bekerja begitu keras sehingga akhirnya kesehatannya menurun dengan cepat. Tanpa diketahuinya, di kepalanya tumbuh tumor otak yang ganas. Hanya dalam beberapa minggu setelah Eric sakit, pada tanggal 21 Februari 1945 Eric dipanggil untuk menerima upah ketaatannya dari Bapanya yang di surga.

Ketaatan Eric Liddell, dari kejadian di Olimpiade Paris hingga di kamp Weihsien, menjadi suatu tantangan yang indah bagi semua orang Kristen. Dia menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk berbuat baik kepada semua orang, menjadi saksi bagi Tuhan Yesus, dan menjadi contoh ketaatan pada panggilan Tuhan. Itulah citra yang ditinggalkan Eric bagi kita semua.

Disadur dari: "More Than Conquerors"

Diambil dan disunting dari:

Judul majalah : HARVESTER, Edisi September/Oktober, Tahun 1993
Judul artikel : Eric Liddell -- Lebih dari Pemenang
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Indonesian Harvest Outreach
Halaman : 12 -- 13

e-JEMMi 26/2010



Florence Nightingale (1820 -- 1910)

Dua bayi perempuan dilahirkan di tengah keluarga William (W.E.N) dan Fanny Nightingale dalam suatu perjalanan panjang keliling Eropa. Parthenope, anak pertama, lahir di Napoli, Yunani. Putri kedua diberi nama sesuai dengan nama sebuah kota di Italia, tempat dia dilahirkan pada tanggal 12 Mei 1820: Florence.

Florence Nightingale dibesarkan dalam sebuah keluarga kaya yang tinggal di luar kota London, dikelilingi pesta-pesta yang terus berlangsung, sebuah rumah musim panas bernama Lea Hurst, dan tamasya ke Eropa. Tetapi, pada tahun 1837, pada usia tujuh belas tahun, dia menulis di buku hariannya, "Pada tanggal 7 Februari, Tuhan berbicara kepada saya dan memanggil saya untuk melayani-Nya." Tetapi pelayanan apa?

Dia menyadari bahwa dirinya merasa bersemangat dan sangat bersukacita -- bukan karena status sosial keluarga kaya -- tapi, saat dia merawat keluarga-keluarga miskin yang hidup di gubuk-gubuk sekitar Embley, rumah keluarganya.

Pada saat Florence berusia 24 tahun, dia merasa yakin bahwa panggilannya adalah merawat orang sakit. Tetapi pada tahun 1840-an, para gadis Inggris terhormat tidak akan diperbolehkan menjadi perawat. Pada masa itu, perawat tidak melebihi fungsinya sebagai pembantu yang melakukan semua pekerjaan di setiap rumah sakit umum (para orang kaya dirawat di rumah sendiri) dan dianggap sebagai peminum atau pelacur.

Tetapi, Florence yang belum menikah dan masih tinggal bersama orang tuanya, merasa hampir gila karena merasa tidak produktif dan frustrasi. Dia bertanya kepada seorang dokter tamu dari Amerika, Dr. Samuel Howe, "Apakah pantas bagi seorang gadis Inggris mencurahkan hidupnya untuk menjadi seorang perawat?" Dia menjawab, "Di Inggris, semua yang tidak biasa, dianggap tidak layak. Tetapi, bukanlah sesuatu yang tidak mungkin terjadi atau tidak wajar, bagi seorang wanita terhormat, bila melakukan suatu pekerjaan yang membawa kebaikan bagi orang lain."

Florence sering bertanya-tanya, mengapa gereja Protestan tidak seperti Catholic Sisters of Charity -- suatu jalan bagi para wanita untuk mencurahkan hidupnya dengan melayani orang lain. Dr. Howe menceritakan kepadanya tentang Kaiserworth di Jerman, yang didirikan oleh Pendeta Theodor Fliedner. Tempat itu mempunyai rumah sakit yang dilengkapi ratusan tempat tidur, sekolah perawatan bayi, sebuah penjara berpenghuni dua belas orang, sebuah rumah sakit jiwa untuk para yatim, sekolah untuk melatih para guru, dan sekolah pelatihan untuk para perawat yang disertai ratusan diaken. Setiap kegiatan selalu diikuti dengan doa.

Bahkan, sebelum dia memutuskan untuk pergi, dengan semangat tinggi, Florence menanggapi bahwa Kaiserworth adalah tujuannya.

Tahun 1846, Florence melakukan perjalanan ke Roma bersama teman-temannya, Charles dan Selina Bracebridge. Dalam perjalanan itu, dia bertemu dengan Sidney Herbert dan istrinya, Liz. Mereka adalah orang Kristen yang taat. Kemudian, Sidney Herbert menjabat sebagai menteri perang, sekaligus seorang teman dan pendorong -- semangat bagi Florence Nightingale.

Bulan Juli 1850, saat usainya tiga puluh tahun, Florence pergi ke Kaiserworth, Jerman selama dua minggu. Setahun kemudian, dia pulang ke rumah dan tinggal selama tiga bulan. Dia pulang dengan sikap baru. Sekarang, dia tahu bahwa dirinya harus membebaskan diri dari kehidupannya yang terkekang.

Tiga tahun kemudian, dia melaksanakan pekerjaan keperawatannya yang pertama sebagai pengawas di Institute for the Care for Sick Gentle Woman in Distressed Circumstances. Dia memasukkan berbagai pemikiran baru ke dalam institusi itu dan menerapkan beberapa ide yang revolusioner, seperti pipa air panas ke setiap lantai, elevator untuk mengangkut makanan pasien, dan para pasien dapat langsung memanggil para perawat dengan menekan bel. Dia juga menetapkan bahwa institusi tersebut bukan institusi sekte -- institusi tersebut menerima semua pasien dari semua denominasi dan agama. (Komite institusi ini sebelumnya menginginkan agar institusi tersebut hanya menerima jemaat Gereja Inggris saja).

Pada tahun 1854, ketika Inggris dan Perancis mengumumkan perang terhadap Rusia untuk menguasai Crimea dan Konstantinopel -- pintu gerbang menuju Timur Tengah -- Sidney Herbert, sebagai Menteri Perang, meminta Florence untuk mengepalai sebuah tim perawat bagi rumah sakit militer di Scutari, Turki. Florence menggunakan kesempatan ini. Dia tiba bersama sebuah tim pilihan yang terdiri dari 38 orang perawat. Hanya 14 orang perawat yang mempunyai pengalaman di lapangan; 24 orang lainnya adalah anggota lembaga keagamaan yang terdiri dari biarawati Katolik Roma, Dissenting Deaconnesses, perawat rumah sakit Protestan, dan beberapa biarawati Anglikan yang berpengalaman di bidang penyakit kolera. Teman-temannya, Charles dan Selina Bracebridge juga turut bersama tim tersebut untuk mendorong semangatnya.

Selama perang berlangsung, Florence menghadapi pertempuran berat untuk meyakinkan para dokter militer bahwa para perawat wanita pun diperlukan di sebuah rumah sakit militer. Perang Crimea telah membongkar sistem kemiliteran Inggris yang ternyata mengirim ribuan prajurit untuk menjemput kematiannya sendiri akibat kekurangan gizi, penyakit, dan diabaikan. Sebanyak 60.000 prajurit Inggris dikirim ke Crimea. Sejumlah 43.000 meninggal, sakit, atau terluka, dan hanya 7.000 yang terluka oleh musuh. Sisanya merupakan korban lumpur, kekacauan, dan penyakit.

Pada saat perang akan berakhir, laporan dan saran Florence Nightingale membuat Inggris seperti dilanda badai. Dia menjadi pahlawan wanita negara tersebut. Pada tahun 1860, Sekolah Keperawatan Nightingale dibuka di London dan kelas pertamanya diikuti lima belas orang murid wanita muda. Sepanjang hidupnya, sebelum dia meninggal saat sedang tidur pada usia sembilan puluh tahun di tahun 1910, dia bekerja tanpa lelah untuk mengadakan perubahan-perubahan di kemiliteran yang berhubungan dengan perawatan kesehatan dan medis. Sebab dia telah bersumpah, "Semua yang terjadi di Crimea, tidak boleh terulang kembali."

Bahan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Penabuh Drum di Medan Perang
Judul asli : The Drummer Boy`s Battle
Penulis : Dave dan Neta Jackson
Penerjemah : Lie Ping
Halaman : 179 -- 183
Penerbit : Gospel Press, Batam Center 2004

e-JEMMi 21/2007

Isaac McCoy

Misi Protestan untuk orang-orang Indian Amerika telah berubah selama akhir abad ke-18. Masa Kebangkitan Besar yang telah mengobarkan api misi pada masa kolonial telah padam, dan selama bertahun-tahun setelah Revolusi Amerika, misi Protestan seakan tertidur. Lebih-lebih para pelayan tidak lagi menemukan orang-orang Indian yang tidak terjangkau dalam jemaat mereka sendiri. Banyak suku Indian yang punah karena peperangan dan penyakit yang dibawa orang-orang kulit putih, dan sebagian besar dari mereka yang selamat menemukan bahwa populasi daerah pesisir sebelah timur terlalu padat untuk gaya hidup pribumi mereka.

Bersamaan dengan pergerakan peradaban yang menuju Barat, orang-orang Indian terdorong semakin jauh kembali ke padang belantara yang tidak dikenal. Orang-orang yang berupaya untuk menginjili mereka tidak lagi dapat tinggal di rumah sambil melayani dan menjalankan pelayanan rangkap dua, sebagaimana yang dulu dilakukan oleh para pelayan kolonial; tetapi mereka harus berpindah tempat dan mengendarai kereta kuda mereka menuju ke barat, keluar dari daerah pemukiman kulit putih untuk menjangkau orang-orang Indian. Beberapa utusan Injil seperti Zeisberger, terdesak menuju ke barat bersama dengan para pengikut Indian mereka.

Namun yang menarik, ketika orang-orang Indian terdesak ke sebelah barat, terdapat sebuah ketertarikan yang baru dalam misi-misi kepada orang Indian. Hal ini selain disebabkan oleh Masa Kebangkitan Kedua yang melanda sebagian besar Amerika Serikat bagian timur selama awal abad ke-19, juga disebabkan oleh fakta bahwa banyak orang yang mendapati bahwa orang-orang Indian lebih mudah untuk dikasihi dari jarak jauh daripada dalam kedekatan. Orang-orang awam dan para pelayan sama-sama mendapati bahwa lebih sederhana dan mudah untuk mengutus para utusan Injil ke beberapa pos yang jauh, daripada untuk terlibat di lingkungan dekat mereka sendiri. Selama tahun-tahun ini, denominasi-denominasi mengembangkan misi kepada orang-orang Indian, dan organisasi-organisasi misi yang sudah ada semakin meningkatkan usaha mereka.

Ketertarikan orang-orang Methodis terhadap kebutuhan misi kepada orang-orang Indian dibangkitkan oleh John Steward, seorang kulit hitam dari Ohio yang merasa terpanggil untuk berkhotbah kepada orang-orang Indian Wyandot di Upper Sandusky, Ohio, setelah ia bertobat di sebuah pertemuan kamp. Dia diterima dengan baik oleh orang-orang Indian ketika tiba pada tahun 1816, dan ia terkejut saat mengetahui bahwa seorang kulit hitam lainnya, Jonathan Painter, budak yang melarikan diri dari Kentucky, tinggal di tengah-tengah orang-orang Indian itu. Steward berusaha menjadikan pria itu penerjemah baginya, tetapi Painter menolak dengan berkata, "Bagaimana saya bisa menerjemahkan Injil kepada orang-orang Indian sementara saya sendiri tidak beragama?" Malam itu, dengan dorongan dan doa Steward, Painter berdamai dengan Allah, dan bersama-sama mereka berkhotbah kepada orang-orang Indian. Steward resmi menjadi pendeta Methodis, dan pada tahun 1819 Methodist Missionary Society didirikan, dan para utusan Injil yang terlatih ditugaskan ke wilayah Upper Sandusky.

Misi-misi Baptis kepada orang-orang Indian dimulai oleh Isaac McCoy dan istrinya, yang membuka sebuah pelayanan misi di Fort Wayne pada tahun 1820. Setelah dua tahun di tempat itu, mereka memindahkan misinya ke Michigan Selatan karena apa yang mereka percayai tentang orang Indian bertentangan dengan apa dipercaya oleh tetangga kulit putih mereka. Di sana mereka mendirikan Badan Misi Carey, kompleks misi yang cukup berkembang. Seorang perwira militer Amerika Serikat yang mengunjungi kompleks misi itu, hanya setelah tujuh bulan sejak tempat itu didirikan, mendapati sebuah kompleks misi yang dijalankan secara mengesankan dan efisien, yang mencakup sebuah rumah misi yang besar, sekolah, bengkel pandai besi, dan bangunan-bangunan lainnya, juga kebun-kebun, taman-taman, dan padang rumput yang dipagari. Sekolah itu memunyai kurang lebih empat puluh orang murid, dan misi menunjukkan setiap tanda keberhasilan. Namun setelah dua tahun, McCoy sekali lagi khawatir untuk melanjutkan, sekali lagi takut dengan pelanggaran batas orang-orang kulit putih dan konsekuensi-konsekuensi menakutkan yang dia yakini akan berdampak pada orang-orang Indian yang tinggal dekat dengan orang-orang kulit putih. Dia percaya bahwa satu-satunya solusi terhadap gangguan pengaruh tetangga kulit putih adalah dengan mendirikan sebuah koloni Indian "di sebelah barat negara bagian Missouri". Pada tahun 1824, McCoy pergi ke Washington untuk mengajukan rencananya dalam pertemuan tahunan Dewan Misi Baptis. Dengan persetujuan dewan misi itu, ia menyelenggarakan sebuah pertemuan dengan Sekretaris Perang John C. Calhoun, yang mendukung rencananya. Sejak pertemuan itu, usaha McCoy beralih ke lobi politik dan jauh dari pekerjaan penginjilan di antara orang-orang Indian; para bawahannyalah yang mengambil alih pekerjaan utusan Injil tersebut.

Meskipun secara historis golongan Baptis memperjuangkan pemisahan antara gereja dengan negara, adalah hal yang paradoks bahwa melalui pengaruh McCoy, misi orang-orang Indian Baptis menjadi berkaitan erat dengan pemerintahan. Ini merupakan sebuah periode dalam sejarah negara, di mana pemerintah menjadi terlibat jauh dalam misi-misi orang Indian, dan golongan Baptis lebih siap daripada denominasi lain dalam mengemban peran ini. Misi Carey menerima dana pemerintah, dan McCoy secara aktif bergabung dengan pemerintah terhadap isu penggusuran Indian -- kasus yang paling terkenal di mana McCoy melibatkan diri adalah penggusuran orang-orang Cherokee dari Georgia. Alasan McCoy atas penggusuran Indian adalah bahwa orang-orang Indian harus dipisahkan dari orang-orang kulit putih untuk dikristenkan, dan secara politik dia berdampingan dengan negara bagian Georgia dalam pernyataannya atas tanah suku Cherokee. Dia tidak merasa cemas untuk memulai tindakan yang kontroversial dan drastis, dan dia siap menerima tugas pemerintahan untuk menjelajah dan memeriksa negeri di barat yang sesuai dengan koloni Indian.

Penggusuran orang-orang Cherokee adalah salah satu ketidakadilan terbesar yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam sejarah bangsa itu. Pada tahun 1837, beberapa tahun setelah penemuan emas di negeri mereka, orang-orang Indian di negara Cherokee yang hidup damai dan maju secara budaya, dipaksa oleh ketetapan pemerintah dan 9.000 pasukan untuk meninggalkan rumah mereka di Georgia. Mereka digiring ke dalam benteng, sementara harta benda mereka dilelang habis. Ribuan orang dari mereka kemudian dipindahkan dengan kapal sungai, sementara yang lainnya dipaksa untuk berjalan melalui darat di sebelah atas Sungai Mississippi. Ini merupakan perjalanan yang membahayakan dan angka kematiannya tinggi. Dukungan kuat McCoy terhadap kebijakan penggusuran ini bukanlah ciri-ciri semua utusan Injil. Bahkan, banyak utusan Injil yang dengan gagah berani melawan tindakan itu, dan sebelumnya, siksaan dialami oleh 4 orang Presbiterian dan 2 utusan Injil Methodis ditangkap, diadili, dihukum, dan dijatuhi hukuman pekerja kasar karena protes keras mereka. Memikirkan tentang para utusan Injil yang diseret dari rumah mereka dengan dirantai bukanlah hal yang biasa.

Dalam pembelaan McCoy, harus ditunjukkan bahwa meskipun dia adalah salah satu pendukung penggusuran yang terkuat, dia benar-benar memunyai keberanian untuk mengutuk kekejaman dalam melaksanakan prosedurnya. Pada akhirnya, penggusuran secara paksa terhadap orang-orang Cherokee tidak diragukan lagi lebih mencoreng alasan Injil di antara orang-orang Indian, daripada pengaruh buruk apa pun yang diberikan oleh tetangga kulit putih mereka.

Untungnya, penggusuran orang-orang Cherokee secara brutal merupakan pengecualian dan bukan yang semestinya. Sebagian besar suku-suku Timur yang mempertahankan campur tangan orang kulit putih terdesak ke Barat dari tanah kelahiran mereka, dan melewati batasan peradaban orang-orang kulit putih. Namun, bukan tanpa penolakan. Orang-orang Indian sering kali berjuang dengan gigih demi tanah mereka, kadang-kadang mengorbankan para Utusan Injil yang datang untuk melayani mereka. Kisah Waiilatpu di negeri Oregon dengan jelas melukiskan ini. (t\Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : The Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan 1983
Halaman : 95 -- 97

e-JEMMi 16/2012

Johanna Veenstra

Hal yang paling mencolok dari peranan wanita bujang dalam pelayanan misi ke luar negeri mungkin adalah profesi mereka [sebagai misionaris] itu sendiri. Hal ini juga berlaku untuk para pria. Namun berbeda dengan misionaris wanita, seorang [misionaris] pria harus unggul. Dia harus mencapai suatu prestasi dalam pelayanan misinya untuk bisa dianggap "pahlawan misionaris", tapi seorang wanita, terutama wanita bujang, bisa menjadi "pahlawan [misionaris] wanita" hanya dengan berani menjadi pelopor misionaris asing. Itulah yang dialami oleh Johanna Veenstra yang merupakan wakil dari begitu banyak wanita bujang yang pergi ke luar negeri setelah pergantian abad [ke-20]. Johanna, yang berulang kali disebut oleh penulis biografi yang mengaguminya (Almarhum Henry Beets, Direktur Mission of the Christian Reformed Church) sebagai "pahlawan wanita", berubah dari seorang stenograf yang tidak dikenal menjadi seorang selebriti lokal (di Grand Rapids, Michigan, dan Paterson, New Jersey), tapi tidak ada yang luar biasa dalam pelayanan misinya. Walaupun demikian, hidupnya menjadi contoh dari pengorbanan dan harapan-harapan yang diletakkan di pundak "pahlawan-pahlawan iman wanita" lainnya.

Johanna lahir di Paterson, New Jersey pada tahun 1894, 2 tahun sebelum ayahnya, William Veenstra, berhenti menjadi tukang kayu dan mempersiapkan diri untuk menjadi pelayan Tuhan. Akibatnya, keluarganya pindah ke Grand Rapids, Michigan. Di sana William Veenstra masuk Theological School (sekarang Calvin College and Seminary) untuk dilatih menjadi pendeta Christian Reformed Church. Saat kelulusan, dia ditahbiskan dan melayani di gereja di desa bagian Barat Michigan. Delapan bulan kemudian dia terkena demam tifus dan meninggal. Kematiannya membuat istri dan keenam anaknya yang masih kecil mengalami kemiskinan sehingga mereka segera kembali ke Paterson dan membuka toko kelontong di sana. Johanna masuk sekolah Kristen sampai dia berumur 12 tahun dan kemudian masuk sekolah bisnis selama 2 tahun. Saat berumur 14 tahun, untuk membantu keuarga, dia menjadi stenograf di Kota New York. Setiap hari, dia naik angkutan umum dari Paterson.

Meski kekayaan dan kesenangan duniawi sempat menghampirinya, dia adalah pemudi yang serius dan waktu luangnya banyak diisi dengan kegiatan gereja di Christian Reformed Church. Suatu kali saat beribadah di sebuah gereja Baptis, dia menjadi percaya kepada Kristus -- suatu hal yang diharapkan ibu dan pendetanya terjadi di gereja asalnya [gereja Reformed].

Setelah itu, dia terlibat dalam pekerjaan misi, dan pada umur 19 tahun dia masuk Union Missionary Training Institute di Kota New York untuk mempersiapkan diri menjadi misionaris kota. Tapi, sebelum dia lulus, dia ditantang akan kebutuhan misi di luar negeri dan langsung melibatkan diri ke Sudan United Mission (SUM), organisasi nondenominasi yang berkomitmen untuk menghentikan penyebaran agama Islam di benua Afrika. Karena kebijakan organisasi, Johanna harus menunggu 3 tahun sampai dia berumur 25 tahun agar bisa melayani di luar negeri, jadi dalam penantiannya itu, dia kembali ke Grand Rapids. Di sana dia bekerja dengan lembaga misi kota dan bersekolah lanjut di Universitas Calvin. Di sana ia menjadi anggota wanita pertama Student Volunteer Board. Sebelum berlayar ke Afrika (dari Inggris) dia kembali ke Kota New York untuk belajar tentang kedokteran dan lulus dari kursus kebidanan.

Tugas Johanna di SUM meliputi pelayanan perintisan di Lupwe, tidak jauh dari Calabar (tempat Mary Slesor melayani dengan penuh iman beberapa tahun sebelumnya). Daerah tempat tinggal bagi misionaris di Lupwe masih baru dan hanya terdiri dari beberapa gubuk tanpa perabot yang belum selesai dibuat dan berlantai tanah. Tapi Johanna cepat beradaptasi dengan kondisi primitif itu. Semut putih dan tikus merupakan gangguan yang umum, tapi dia tidak mengeluh. Harapan yang diletakkan di pundaknya besar dan jika pelayanannya tidak seromantis dan sepuas seperti yang dia impikan, maka dia tidak pernah menampakkannya: "Aku sama sekali tidak pernah menyesal meninggalkan 'kehidupan gemerlap' di Kota New York dan datang ke sudut gelap kebun anggur Tuhan ini. Tidak ada pengorbanan apa-apa [dariku] karena Yesus sendirilah teman sejatiku."

Seperti wanita bujang pada umumnya, pekerjaan Johanna beragam. Salah satu proyeknya adalah mendirikan sekolah asrama untuk melatih para pemuda sebagai penginjil, sekolah yang diikuti 25 orang sekaligus. Meski proyek itu memakan banyak waktu, dia masih memunyai waktu untuk pelayanan medis dan penginjilan. Kadangkala, perjalanannya ke desa-desa tetangga membutuhkan waktu beberapa minggu, dengan kesuksesan dan kegagalan datang silih berganti. Walapun terkadang berhasil, namun orang-orang yang percaya jarang yang secara terang-terangan mengaku di depan umum [bahwa mereka sudah percaya Kristus]. Johanna hanyalah seorang pelopor dalam meletakkan pekerjaan awal pemberitaan Injil, oleh karena itu sekadar mendapatkan pendengar yang mendengarkannya saja sudah merupakan suatu tanda kesuksesan yang besar.

Tapi jika pada kejadian-kejadian "langka" dia boleh melihat "orang-orang menangis saat mereka mendengar kisah kematian Tuhan kita" dan "berdecak kagum dan bertepuk tangan sebagai wujud syukur mereka kepada Allah karena karunia-karunia-Nya," ada saat-saatnya ketika ia juga berkecil hati:

Suatu kali saya berjalan melewati bukit-bukit, berjalan dari satu tempat ke tempat lain selama 9 hari.... Kami berencana untuk menginap pada hari Minggu di desa tertentu tapi kami tidak diterima. Mereka tidak mau menyediakan makanan bagi para pembawa barang dan siapa pun yang bersamaku. Orang-orang yang bersamaku sangat kelaparan. Hujan menghalangi orang-orang datang ke pertemuan. Aku duduk di ambang pintu gubuk dengan payung supaya aku tetap kering, sementara orang-orang berkumpul bersama-sama di dekat perapian di dalam gubuk. Minggu siang, hujan badai datang. Hujan turun dengan derasnya. Gubuk tempat aku tinggal berdinding jerami, dan hujannya masuk ke dalam sampai seluruh gubuk penuh dengan air.... Pagi-pagi benar keesokan harinya kita mulai berjalan lagi melewati bukit.... Sang kepala suku berada di rumah, tapi dia sakit. Kami berhenti di sana semalam dan memutuskan untuk pulang. Betapa bahagianya kami melihat Lupwe.

Kendaraan yang biasa dipakai Johanna dari satu desa ke desa yang lainnya adalah sepeda, tapi alat transpotasi itu sangat lamban dan mengayuh sepeda itu melewati daerah terjal sangatlah melelahkan, terutama mengingat tubuhnya yang agak gemuk. Diam-diam ia iri kepada para misionaris pria yang kadang lewat dengan sepeda motor mereka dengan relatif lebih nyaman. Maka, segera setelah cuti keduanya pada tahun 1972, dia kembali ke Afrika dengan membawa sepeda motor baru. Figurnya yang keibuan membuat banyak orang ingin tahu saat dia mulai perjalanannya ke pedalaman menggunakan sepeda motor melewati jalan yang tidak rata, dan tidak seorang pun meragukan keberaniannya. Meski pada awalnya dia sangat bergairah dan tekun, dia segera menyadari bahwa mengarungi bukit dengan sepeda motor itu tidak cocok untuknya. Kurang dari 65 km menggunakan sepeda motornya, dia tiba-tiba menabrak gundukan tanah dan terlempar dari sepeda motornya. Ia mengalami memar yang parah, baik di tubuhnya maupun semangatnya, ia meminta pertolongan serta kembali mengayuh sepedanya.

Meski Johanna bersedia tinggal di gubuk dan menerima orang Afrika apa adanya, dia tetap bersikap sedemikian rupa sehingga dia masih dianggap sebagai atasan oleh orang-orang yang bekerja bersamanya. Ia menulis, "Seorang misionaris perlu untuk bersikap sebagai atasan. Bukan dalam arti 'kami lebih baik daripada kalian', demi Tuhan! Yang saya maksud lebih dalam arti mengklaim dan menggunakan wewenang. Misionaris harus membuktikan bahwa dirinya adalah 'bos', memerintah dan menuntut kepatuhan." Patrilinealisme seperti itu (atau dalam hal ini matrilinealisme) adalah kebiasaan pada waktu itu, dan Johanna, seperti banyak misionaris lain, adalah produk dari generasinya. Bagaimanapun juga, tingkah laku seperti itu berperan dalam perasaan pahit yang berakhir pada revolusi yang penuh kekerasan di benua itu beberapa dekade kemudian.

Tapi selama tahun 1920-an dan 1930-an, saat Johanna mengabdikan hidupnya untuk Afrika, tampaknya tidak ada rasa benci atau permusuhan. Pelayanan medisnya sangat dihargai dan bersekolah di asramanya dianggap sebagai kesempatan yang istimewa. Oleh karena itu, penduduk Lupwe dan desa-desa tetangganya sangat sedih ketika mengetahui misionaris mereka meninggal pada tahun 1933. Ia masuk rumah sakit misi untuk menjalani operasi yang dianggap merupakan operasi rutin, namun ia tidak pernah pulih.

Keluarga dan teman-temannya di Paterson dan Grand Rapids tidak percaya dan sangat sedih setelah menerima kabar kematiannya. Tapi mereka adalah jemaat Christian Reformed yang takut Tuhan yang tidak pernah mempertanyakan kedaulatan Allah dalam hal itu. "Pahlawan wanita" mereka hanya mendapat promosi ke posisi yang lebih tinggi dan sekarang menikmati kekayaan yang jauh lebih banyak daripada yang sudah ia lepaskan di dunia. Ironisnya, surat darinya yang datang setelah kematiannya, meski berbicara tentang seorang Kristen Afrika yang baru meninggal, tapi judulnya cocok untuk Johanna sendiri, "From a Mudhut to a Mansion on High (Dari Gubuk Jelek ke Rumah Besar di Tempat Tinggi)." (t/Dian)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 246 -- 249

e-JEMMi 20/2010



John Eliot

Salah seorang dari para misionaris pertama, dan mungkin yang terbesar di antara semua misionaris yang melayani orang Indian Amerika, adalah John Eliot. Ia disebut juga "Rasul kepada orang-orang Indian". Namun, di balik nama besarnya tersebut, pekerjaan utama Eliot adalah pelayanannya di gereja Roxbury. Ia adalah seorang pelayan jemaat -- seorang bapak gereja di koloni New England -- bukan seorang misionaris menurut arti jabatan yang diembannya itu. Meskipun demikian, ketaatannya untuk memperkenalkan kekristenan kepada orang-orang Indian membuatnya menjadi salah seorang pemimpin misionaris terbaik sepanjang sejarah. Metode-metode yang digunakannya memiliki kualitas yang tak lekang oleh waktu.

John Eliot lahir di Inggris dan belajar di Cambridge. Ia mengikuti pelatihan untuk menjadi hamba Tuhan dan lulus pada tahun 1622. Walaupun ditahbiskan oleh gereja Anglikan, Eliot adalah seorang Nonkonformis, dengan demikian semua pelayanan mimbar yang ingin dilakoninya di Inggris sudah tidak aman lagi atau memiliki lingkup yang terbatas. Jadi, setelah melayani sebagai guru sekolah selama beberapa tahun di bawah pimpinan Bapak Puritan, Thomas Hooker, ia pun berlayar ke benua Amerika yang terbuka lebar untuk dilayaninya. Pada musim panas 1631, Eliot sampai di Massachusetts.

Walaupun padang belantara New England tampak terpencil dan tak beradab, Eliot dengan cepat merasa seperti berada di kampung halamannya sendiri. Tiga saudara laki-lakinya, tiga saudarinya, dan tunangannya tinggal bersama-sama dengannya di Dunia Baru selama setahun. Setelah menghabiskan setahun lagi di Boston sebagai pendeta pengganti, Eliot menerima panggilan untuk melayani di sebuah gereja di Roxbury, yang berjarak 3,2 km di luar Boston. Di sanalah, pada bulan Oktober 1632, John Eliot dan Hanna Mumford menikah dalam sebuah upacara sipil -- upacara pernikahan pertama yang dicatat di kota tersebut.

Seperti kebanyakan pendeta kolonial, tahun-tahun pertama dalam pelayanannya dipenuhi oleh kegiatan untuk kebutuhan umatnya. Di dekat situ terdapat suku Indian yang bermukim, tetapi kunjungan mereka yang sesekali itu hanya menarik sedikit perhatian. Suku Indian itu menunjukkan sikap yang damai dan penduduk koloni menerima keberadaan mereka, tanpa pernah berpikir untuk menginjili mereka. Kenyataannya, banyak penduduk New England, termasuk para pendeta, yang memandang peningkatan tingkat kematian orang-orang Indian karena penyakit sebagai rencana Allah untuk "membersihkan tanah" itu bagi "umat-Nya". Pada saat itu, orang-orang Indian dianggap sebagai pengganggu dan memperlambat laju peradaban.

Ketika Eliot berusia 40 tahun, ia memulai kerja kerasnya sebagai misionaris. Tidak ada Panggilan Makedonia, tidak ada amanat yang khusus, yang ada hanyalah sebuah kepekaan akan sebuah kebutuhan dan ketersediaan dirinya. Langkah pertamanya adalah mempelajari bahasa. Selama dua tahun, ia berada dalam tekanan mental saat mempelajari bahasa Algonquin dalam dialek Massachusetts, sebuah bahasa lisan yang terdiri dari bunyi-bunyi guttural dan bunyi flektif. Dalam menjalankan tugas yang sulit ini, Eliot dibantu oleh Cochenoe, seorang pemuda Indian yang menjadi guru bahasa sekaligus menemani Eliot sebagai penerjemah dan asistennya selama bertahun-tahun.

Pada musim gugur 1646, Eliot menyampaikan khotbah pertamanya kepada sebuah kelompok suku Indian yang bermukim di dekat koloninya. Peristiwa tersebut adalah ujian yang krusial bagi kemampuannya dalam berkomunikasi secara efektif dan ia berharap itu berhasil. Meskipun telah berusaha, pesan yang disampaikannya diacuhkan dan tidak diperhatikan oleh orang-orang Indian tersebut. Mereka bahkan merasa bosan dan memandang rendah perkataan Eliot. Sebulan kemudian Eliot berkhotbah lagi, kali ini kepada kelompok orang-orang India yang lebih banyak yang berkumpul di wigwam milik Waban. Tanggapan yang diberikan mereka sangat meningkat. Orang-orang Indian di sana mendengarkan khotbah dengan penuh perhatian selama lebih dari 1 jam, dan ketika khotbah selesai, mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Menurut Eliot, pertanyaan mereka "penuh keingintahuan, mengagumkan, dan menarik". Eliot menjawab beberapa pertanyaan itu, tetapi sesuai dengan psikologi penerimaan misionaris, ia menutup waktu tanya-jawab itu dan "memutuskan untuk meninggalkan mereka dengan sebuah `keinginan yang besar`". Sebelum meninggalkan perkemahan, Eliot membagi-bagikan suguhan kepada orang-orang itu, termasuk daging manis dan apel untuk anak-anak, tembakau untuk para pria, dan kemudian ia berangkat "dengan rasa penerimaan yang besar".

Dua minggu kemudian, Eliot kembali ke perkemahan tersebut dengan ditemani oleh 2 orang pendeta dan seorang awam (yang juga mengikutinya saat kunjungan pertama). Saat itu, ada lebih banyak lagi orang Indian yang ingin mencari tahu, sehingga pertemuan itu memperoleh banyak keuntungan. Setelah doa pembukanya, Eliot melatih anak-anak untuk menghafal katekismus, dan tentu saja orang tua mereka juga ikut belajar sementara mereka mendengarnya. Kemudian, Eliot berkhotbah tentang Sepuluh Perintah Allah dan kasih Kristus, yang ditanggapi oleh sebagian dari orang-orang Indian itu dengan air mata. Sekali lagi, pertanyaan-pertanyaan menyusul setelah khotbah itu -- pertanyaan yang paling sulit dijawab adalah, "Mengapa tidak ada orang kulit putih yang mengabarkan kepada kami tentang hal ini sebelumnya?"

Eliot terus mengadakan perjalanan dwi mingguan ke wigwam Waban dalam bulan-bulan berikutnya. Ia selalu datang dengan pelajaran-pelajaran katekismus dan khotbah-khotbah penginjilan yang benar-benar dipersiapkannya. Meskipun ia memikul beban yang berat dari pelayanan ini, tetapi ia aktif merekrut orang-orang untuk menolongnya, termasuk pendeta-pendeta dari koloni-koloni tetangga dan dari gerejanya sendiri. Antusiasme mereka melambungkan semangatnya dan menjaga pelayanan misi itu, untuk tetap dilaksanakan selama masa-masa yang sulit. Perjalanan yang ditempuhnya selalu lambat dan penuh rintangan. Melintasi jalanan di padang belantara yang tidak rata benar-benar melelahkan, tetapi optimisme Eliot tidak terpatahkan: "Kami tidak pernah mengalami hari yang buruk ketika harus berkhotbah kepada orang-orang Indian selama musim dingin. Terpujilah Tuhan."

Setelah berbulan-bulan, beberapa orang Indian bertobat dan perubahan nyata tampak dari kehidupan mereka. Sebuah laporan yang diterbitkan kurang dari setahun dari pertemuan pertama Eliot ke perkampungan itu mendokumentasikan kemajuan tersebut. Orang-orang Indian itu mulai meninggalkan "powwow" mereka. Mereka mengadakan doa pagi dan malam di wigwam mereka. Mereka tidak hanya menjalankan hari Sabat, tetapi juga membuat peraturan untuk menghukum mereka yang tidak melaksanakannya. Hukuman bagi yang melanggarnya adalah dengan membayar sebesar 20 shilling. Mereka mulai menjadi suku yang industrial dan membuat komoditas untuk dijual selama setahun penuh. Pada musim dingin, mereka membuat sapu, tungku, gerabah, dan keranjang. Pada musim semi, mereka menjual buah cranberry, stroberi, dan ikan. Para wanitanya belajar memintal.

Hal yang dipikirkan oleh orang-orang itu dan juga Eliot adalah memiliki daerah yang dikhususkan bagi orang-orang Indian yang sudah Kristen. Menurut Eliot, para petobat baru ini harus dipisahkan dari orang-orang yang tidak tertarik dengan Injil. Di sisi lain, orang-orang Indian membutuhkan sebuah daerah yang dapat menjadi milik mereka, sebab para pendatang kulit putih mulai membangun rumah-rumah beserta pekarangannya dan memasang pagar. Hal tersebut membuat orang-orang Indian mengalami kesulitan dalam berburu dan mengail ikan. Eliot membuat permohonan atas nama orang-orang Indian kepada General Court (semacam Pengadilan Negeri), sehingga orang-orang Indian itu diberi beberapa ratus hektar di sebuah tempat yang berjarak 28,8 Km di sebelah Barat Daya Boston, di sudut wilayah Natick. Orang-orang Indian itu tidak menunjukkan keberatan untuk pindah ke daerah itu dan tak lama kemudian mereka mendirikan Natick, yang sering kali disebut sebagai "kota doa".

Natick bukanlah perkampungan Indian pada umumnya. Jalanan di sana tertata dan setiap keluarga diberi sebidang tanah. Berdasarkan dorongan Eliot, beberapa bangunan dibangun menurut gaya Eropa, tetapi sebagian besar orang-orang Indian itu memilih wigwam sebagai tempat tinggal mereka. Bentuk pemerintahan yang alkitabiah diterapkan di tempat itu, ditetapkan dengan berdasarkan pada rencana Yitro dalam Kitab Keluaran 18:21; kota itu dibagi-bagi menjadi puluhan, lima puluhan, dan ratusan, yang masing-masing divisi itu dipimpin oleh seorang pria dewasa. Peradaban orang kulit putih menjadi patokannya dan orang-orang Indian yang Kristen diharapkan mengikutinya. Bagi Eliot, kekristenan sejati tidak hanya mengubah hati dan pikiran, tetapi juga gaya hidup dan kebudayaan. Ia tidak dapat membayangkan sebuah komunitas Kristen yang terpisah dari budaya Eropa dan faktor inilah, yang jika dilihat ke belakang, merupakan kelemahan terbesar dari pelayanannya. Sayangnya, generasi-generasi misionaris yang mengikuti jejaknya, dengan beberapa pengecualian, melanggengkan kekeliruan tersebut.

Ada juga masalah yang muncul saat mendirikan Natick, terutama dari para pendatang kulit putih yang menolak hunian permanen Indian di antara mereka. Secara periodik, Eliot mengajukan petisi kepada Massachusetts General Court untuk meminta sebidang tanah. Pada tahun 1671, ia berhasil mengumpulkan 11.000 orang Indian ke dalam 14 "kota-kota doa". Pelayanannya benar-benar diteliti dengan cermat oleh General Court, dan dengan senang hati ia menerima semua dana masyarakat yang diperuntukkan bagi proyeknya.

Walaupun Eliot sepertinya banyak menghabiskan waktu dan usaha untuk masalah keduniawian, tetapi perhatian utamanya adalah keadaan rohani orang-orang Indian tersebut. Eliot lambat dan berhati-hati dalam penginjilannya. Walaupun ia menyaksikan pertobatan pertama hanya setelah ia berkhotbah sebanyak tiga kali, ia tidak pernah berusaha untuk mempercepat prosesnya. Kenyataannya, ia dengan sengaja menunda baptisan dan keanggotaan gereja, sampai ia benar-benar yakin bahwa orang-orang Indian itu berkomitmen terhadap kepercayaan baru mereka. Baptisan mereka sengaja ditunda hingga tahun 1651, 5 tahun setelah pertobatan pertama. Demikian pula dengan pembangunan gereja yang ditangguhkan, sampai Eliot dan rekan-rekan sepelayanannya memutuskan bahwa orang-orang Indian itu benar-benar siap menerima kantor gereja beserta tanggung jawabnya.

Eliot menginginkan kedewasaan rohani di antara pengikut Indiannya. Hal itu dapat menjadi kenyataan apabila orang-orang Indian itu bisa membaca dan mempelajari Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Oleh sebab itu, pada tahun 1649, 3 tahun setelah khotbahnya di wigwam Waban, di tengah-tengah jadwal yang sangat padat, ia memulai pekerjaan penerjemahannya. Proyek pertama yang selesai adalah sebuah katekismus yang dicetak pada tahun 1654. Tahun berikutnya, Kitab Kejadian dan Matius juga diterbitkan; dan pada tahun 1661, seluruh Perjanjian Baru berhasil diselesaikannya, dengan Perjanjian Lama yang menyusul dua tahun kemudian. Di balik pencapaiannya yang layak diperhatikan ini, Eliot juga mendapat kritik yang tajam karena ia menyia-nyiakan waktunya untuk mempelajari bahasa Indian, sementara ia dapat mengajarkan orang-orang itu untuk berbahasa Inggris.

Setelah beberapa tahun berlalu dan kota-kota doa bertumbuh secara kuantitas serta kerohanian orang-orang Indian itu bertumbuh, Eliot semakin berkonsentrasi untuk melatih para pemimpin orang-orang Indian. Sampai tahun 1660, sebanyak 24 orang Indian telah dilatih menjadi penginjil untuk melayani suku mereka sendiri, dan beberapa gereja telah menahbiskan para pelayan Indian. Sekolah-sekolah didirikan di setiap kota dan orang-orang Indian dapat beradaptasi dengan baik terhadap budaya Eropa. Di permukaan, masa depan terlihat cerah, tetapi waktu yang damai itu sudah hampir habis. Perambahan lahan milik orang-orang Indian oleh para pendatang Eropa selama berpuluh-puluh tahun tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Perambahan lahan, perdagangan yang tidak adil, dan perlakuan yang buruk terhadap orang-orang Indian akan menimbulkan perlawanan. Terdapat kegelisahan di antara orang-orang Indian di Timur Laut, dan bahkan orang-orang Indian di kota-kota doa tidak dapat melarikan diri dari kengerian yang akan segera tiba -- pertempuran paling berdarah sepanjang sejarah koloni Amerika.

Perang Raja Philip pecah pada musim panas tahun 1675, setelah tiga dari ksatria kepala suku itu dijatuhi hukuman gantung karena membunuh seorang sekutu Indian, yang membocorkan rencana penyerangan mereka kepada gubernur koloni. Dalam peperangan ini, para pendatang yang menghuni koloni Boston hampir mengalami kekalahan yang sebelumnya telah dialami oleh sebagian besar koloni di Virginia. Bahkan sebelum pertempuran usai, dalam jangka waktu 1 tahun sejak dimulainya peperangan itu, tiga belas kota dan koloni benar-benar dimusnahkan. Seluruh anggota keluarga -- kakek dan nenek, bibi, paman, dan bahkan anak-anak kecil -- benar-benar dihapuskan dari buku daftar penghuni koloni.

Kisah kepahlawanan "orang-orang Indian yang berdoa" selama pertempuran berdarah ini adalah yang paling tragis -- kisah yang diceritakan berulang-ulang dalam sejarah Amerika. Walaupun "orang-orang Indian yang berdoa" ini memiliki keluhan-keluhan yang mendasar terhadap masalah perambahan lahan mereka oleh pendatang kulit putih, dan bahkan seperti yang diungkapkan dalam kalimat yang diucapkan Eliot "masalah tentang tanah ini bukanlah masalah yang sepele bagi mereka", orang-orang Indian itu tetap memihak sekutu kulit putih mereka dengan setia, ketika suku Wampanoag maupun ketika suku-suku yang lain menyerang mereka. Selain itu, orang-orang ini juga membantu milisi koloni tersebut dengan menjadi pengintai dan prajurit bagi mereka, sehingga mereka dapat membalikkan keadaan. Namun demikian, kesetiaan mereka tidaklah cukup, ketegangan di antara penduduk asli dan pendatang itu semakin meruncing. Pada saat itu, semua orang Indian dicurigai dan karena itulah ratusan orang-orang Indian Kristen diasingkan ke "sebuah pulau yang tandus", di dekat Pelabuhan Boston -- mereka "diusir keluar" bahkan sebelum dapat mengumpulkan harta benda dan dipaksa untuk bertahan selama musim dingin yang buruk tanpa makanan atau persediaan yang mencukupi.

Eliot mengunjungi orang-orang Indian tersebut beberapa kali selama musim dingin yang amat buruk itu, dan mengajukan permohonan atas nama mereka kepada pejabat koloni untuk mengirimkan makanan dan obat-obatan. Akan tetapi, perhatian dan simpatinya itu hanya dapat menghasilkan sedikit pertolongan saja. Meskipun demikian, nasib orang-orang Indian yang diasingkan ini masih lebih baik daripada saudara-saudara mereka yang tertinggal di koloni. Banyak dari mereka yang dibunuh tanpa pandang bulu oleh para pendatang, yang menuntut balas kepada siapa pun yang memiliki ciri-ciri seorang Indian. Ketika kekerasan itu berakhir, banyak dari orang Indian buangan yang selamat, yang kembali ke kota-kota mereka yang telah hancur. Mereka berusaha untuk membangunnya kembali, namun hidup mereka tak akan pernah sama seperti dulu. Orang-orang Indian itu kini melemah, baik secara jumlah maupun secara rohani. Tak sedikit dari mereka tergoda minuman keras yang dibawa orang-orang kulit putih dan tidak lagi peduli dengan hal-hal yang rohani.

Perang Raja Philip adalah sebuah tragedi bagi orang-orang Indian dan orang-orang kulit putih yang terlibat secara langsung, termasuk bagi seorang kudus yang kini telah berumur 72 tahun. John Eliot telah mencurahkan bertahun-tahun pelayanan yang tanpa pamrih itu ke dalam pelayanan misionarisnya, dan sangat sulit baginya untuk melihat kehancuran yang ditimbulkan oleh perang itu. Tetapi ia tak menyerah, "Aku hanya dapat melakukan hal yang kecil, tetapi aku tetap teguh di dalam anugerah Kristus, aku tidak akan pernah berhenti melayani selama aku masih memiliki kaki untuk pergi melayani." Setelah tahun-tahun berlalu, karyanya semakin berkurang, tetapi ia tetap setia kepada pelayanannya sampai kematiannya pada tahun 1690, dalam usia 85 tahun.

Walaupun banyak dari hasil pelayan Eliot yang rusak akibat peperangan, posisinya sebagai seorang negarawan sekaligus misionaris di tingkat tinggi tetap tak ternodai. Teladannya sebagai seorang penginjil dan penerjemah Alkitab telah membuka jalan bagi usaha misionaris selanjutnya untuk melayani di antara orang-orang Indian, dan usahanya dalam mendirikan Society for the Propagation of the Gospel (SPG), sebuah perpanjangan tangan gereja Anglikan yang secara aktif melayani di tengah-tengah koloni Amerika, tidak dapat diremehkan.

Apa yang menjadi rahasia di balik pelayanan seumur hidup Eliot? Apa yang membawanya melewati perlawanan, kesulitan, dan kekecewaan selama bertahun-tahun? Tiga sifat yang layak diperhatikan dari dirinya yaitu: optimismenya yang tak terpatahkan, kemampuannya untuk dapat memerhatikan kebutuhan sesamanya, dan keyakinannya yang teguh bahwa Tuhanlah, bukan dirinya, yang dapat menyelamatkan jiwa seseorang sekaligus memegang kendali atas setiap peristiwa, baik maupun buruk. (t/Yudo)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Judul Buku : From Jerusalem to Irian Jaya
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids Michigan
Halaman : 84 -- 89

e-JEMMi 34/2012

John Huss (1370 -- 1415)

Terinspirasi oleh John Wycliffe yang mati syahid abad sebelumnya, John Huss, seorang pembaru kebangsaan Cekoslowakia, tampil membela keadilan sosial dan melawan gereja yang tak lagi mampu menilai kebenaran yang sah. Ia menentang praktik penjualan surat pengampunan dosa dan mengangkat standar keadilan dan kebenaran alkitabiah melawan sebuah yayasan gereja di tengah masa krisis.

Pada bulan November 1414, Huss pergi ke dewan konstantin untuk membersihkan namanya dari tuduhan palsu. Tapi bukannya janji perlindungan yang didapatkannya, sebaliknya ia dipenjara ... lalu dihukum mati. Sewaktu berada di penjara, Huss menulis, "Aku sepenuhnya berharap Allah memberikan mahkota ini kepadaku (mahkota kehidupan -- Yakobus 1:12). O, Kristus yang penuh belas kasihan ..., berikan kami roh yang berani supaya roh kami siap, dan jika daging kami lemah biarlah anugerah-Mu yang maju, karena tanpa-Mu kami tak dapat berbuat apa-apa, dan di atas semuanya itu, tanpa-Mu kami tak sanggup menghadapi kematian yang keji. Beri kami semangat yang berani, iman yang benar, harapan yang kuat, dan belas kasih yang sempurna, supaya kami dapat memberikan hidup kami kepada-Mu, dengan penuh kesabaran dan sukacita. Amin."

Tanggal 6 Juli 1415, tanpa sehelai baju pun di tubuhnya dan terikat di sebuah tiang, Huss berdoa, "Tuhan Yesus Kristus, hanya karena Injillah aku melaluinya dengan sabar dan rendah hati -- kematian yang menakutkan, memalukan, dan kejam ini." Ketika api menyala di sekelilingnya, suaranya bergema untuk yang terakhir kalinya, "Kristus, Anak Allah yang hidup, kasihanilah aku."

Dari abad ke abad, orang-orang Kristen dibunuh karena iman mereka. Akankah kita memiliki semangat yang berani untuk mengikut Yesus dan menentang setiap penyimpangan nilai-nilai kebenaran?

Diambil dan disunting seperluya dari:

Judul buku : Batu-Batu Tersembunyi
Penulis : Tim The Voice of the Martyrs
Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2000
Halaman : 42 -- 43

e-JEMMi 17/2009

John Wesley: Bara yang Meletup

Menjelang akhir bulan Januari 1736, sebuah kapal barang bernama Simmonds, yang berlayar menuju Savannah, Georgia, AS, diserang oleh angin topan. Angin meraung dengan dahsyatnya. Kapal itu terombang-ambing tanpa kendali dan ombak laut menghantam geladak. Seorang pendeta gereja Anglikan yang ada di atas kapal gemetar ketakutan. John Wesley telah memberitakan Injil keselamatan kepada orang lain, tetapi ia sendiri takut mati. Sementara ombak terus menghantam geladak kapal, memorak-porandakan layar kapal berkeping-keping, Wesley terheran-heran melihat beberapa orang dari Moravian Brethren yang dengan tenang menyanyikan mazmur kepada Tuhan. Setelah badai berlalu, Wesley bertanya kepada salah satu di antara mereka, apakah ia merasa takut? "Tidak," jawab orang itu. Wesley menulis, "Ini merupakan hari luar biasa yang pernah saya alami."

Raksasa Kecil

Wesley (1703 -- 1791) berasal dari keluarga yang sangat mengutamakan kesopanan dan keteraturan. Ayahnya, Pdt. Samuel Wesley, adalah seorang rohaniwan yang terpelajar dan saleh, yang melayani di Epworth, Lincolnshire. Ibunya, Susanna, adalah putri seorang pendeta non-Conformist. John merupakan anak kelima belas dari sembilan belas bersaudara. Ketika Wesley berusia 6 tahun, rumah pendeta di Epworth terbakar. Seorang tetangganya, dengan berdiri di atas pundak kawannya, menolong anak itu dari sebuah jendela di tingkat dua. Kelak, Wesley yang menyebut dirinya "Bara yang Meletup", tidak pernah meragukan bahwa Allah telah memelihara hidupnya. Pada usia 17 tahun, Wesley melanjutkan studinya ke Universitas Oxford. Ia membaca banyak hal dan terutama terkesan oleh bapak-bapak gereja yang mula-mula dan buku-buku ibadah klasik. Dari "Holy Living" karangan Jeremy Taylor, "Imitation of Christ" karangan Thomas a Kempis, dan "Serious Call to Holy Life" karangan William Law, Wesley belajar bahwa kehidupan Kristen merupakan pengudusan dari keseluruhan manusia dalam kasihnya kepada Allah dan sesamanya.

Orang-orang ini, katanya, "Meyakinkan saya tentang ketidakmungkinan yang mutlak untuk menjadi setengah Kristen. Saya berketetapan, melalui kasih karunia-Nya, menyerahkan hidup saya kepada Allah." Jadi ia mempelajari seluruh kelemahannya dan mencari cara-cara untuk mengatasinya. Pada tahun 1726, Wesley dipilih untuk memperoleh beasiswa dari Lincoln College di Oxford. Hal ini bukan hanya memberinya kedudukan akademis di universitas, namun juga meyakinkannya bahwa ia akan menerima penghasiian secara teratur. Dua tahun kemudian, ia ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan dan kembali ke Epworth selama beberapa waktu untuk melayani sebagai asisten ayahnya. Ketika mulai melakukan tugasnya kembali di Oxford, ia mendapati bahwa saudaranya, Charles, yang gelisah melihat perkembangan deisme di kampus, telah mengumpulkan sekelompok mahasiswa yang bertekad untuk menjalani kehidupan Kristen dengan benar dan serius. John terbukti menjadi pemimpin yang mereka butuhkan. Di bawah bimbingannya, mereka membuat sebuah rencana studi dan peraturan hidup yang menekankan pada doa, pembacaan Alkitab, dan menghadiri Perjamuan Kudus secara teratur.

Kelompok kecil itu dalam waktu singkat menarik perhatian dan ejekan dari para mahasiswa yang malas. Mereka menyebut diri Kelab Kudus dan Ngengat Atkitab, Metodis, dan Kelab Pembaruan. Para anggotanya merupakan orang-orang yang sangat rajin dan tak mau tinggal diam. Mereka terus-menerus mencari berbagai cara agar kehidupan mereka sesuai dengan pola hidup orang Kristen yang mula-mula. Mereka membantu orang miskin dan mengunjungi para narapidana. Tetapi Wesley dengan cepat mengakui bahwa ia kurang memiliki damai sejahtera seorang Kristen sejati. Seorang sahabatnya dari Georgia, Dr. John Burton, menyarankan agar John dan Charles melayani Tuhan di koloni baru yang dipimpin oleh Jendral James Oglethorpe. Charles dapat menjadi sekretaris jendral dan John menjadi pendeta tentara di koloni tersebut. Kedua bersaudara itu berangkat dengan kapal Simmonds pada bulan Oktober dengan idealisme yang menggebu-gebu dan semangat penginjilan, tanpa menyadari akan angin topan yang akan menyerang mereka.

Di Georgia, Wesley mendapati bahwa kebuasan orang-orang Amerika yang terhormat ialah "pelahap, pencuri, penipu, dan pembunuh". Dan para penghuni di koloni itu membenci cara hidupnya yang sangat rohani, penolakannya untuk memimpin upacara kematian seorang non-Conformist dan larangannya bagi wanita untuk memakai gaun mahal dan perhiasan. Rasa frustrasinya semakin berlipat ganda karena kisah cinta yang dijalinnya dengan Sophy Hopkey, seorang gadis berusia 18 tahun, keponakan hakim kepala Savannah. Sophy akhirnya memutuskan hubungan dengan melarikan diri dengan saingan Wesley. Kekasih yang cintanya ditolak itu melarang mantan kekasihnya untuk mengikuti perjamuan kudus dan suaminya yang marah menggugat Wesley karena dianggap telah merusak karakter Sophy. Pengadilan itu beriarut-larut dan mengalami gangguan selama 6 bulan. Wesley meninggalkan koloni tersebut dengan rasa jijik. Dalam perjalanan pulang, ia memperoleh kesempatan untuk merenungkan seluruh pengalamannya. Ia menulis, "Saya pergi ke Amerika Serikat untuk menobatkan orang-orang Indian, tetapi siapakah yang akan menobatkan saya?"

Hati yang Suci Semakin Hangat

Wesley mendarat di Inggris pada tanggal 1 Februari 1738 dalam keadaan terpukul dan tidak yakin akan imannya sendiri dan masa depannya. Selama 12 tahun, ia mencoba untuk menjalani kehidupan yang sempurna. Kegagalan di Georgia hanya menunjukkan kebobrokan rohaninya. Di London, ia bertemu dengan Peter Bohler, seorang pendeta Moravian yang terkesan akan kebutuhan Wesley akan suatu kelahiran baru, suatu iman baru kepada Kristus yang memungkinkannya untuk mengatasi dosa dan benar-benar memperoleh kekudusan dalam hidup. Dibenarkan oleh iman, kata Bohler, bukan hanya sekadar sebuah doktrin, melainkan suatu pengalaman memperoleh pengampunan dari Allah. Tetapi Wesley bertanya, "Bagaimana iman dapat diberikan dalam sekejap mata?" Ia mendapatkan jawabannya bagi dirinya pada tanggal 24 Mei.

Ia menulis, "Pada suatu sore dengan rasa segan, saya pergi ke sebuah pertemuan di Jalan Aldersgate, di mana seseorang sedang membacakan kata pengantar Luther untuk Kitab Roma. Sementara ia sedang menjelaskannya, suatu perubahan dari Allah terjadi dalam hati saya melalui iman kepada Kristus. Saya merasa hati saya hangat. Saya merasa bahwa saya benar-benar percaya kepada Kristus, hanya Kristus saja, untuk memperoleh keselamatan dan suatu jaminan diberikan kepada saya bahwa Ia telah menghapuskan semua dosa saya dan menyelamatkan saya dari hukum dosa dan maut." Demikianlah Wesley memperoleh jaminan yang tak dimilikinya, suatu kehidupan yang akan membuatnya bertahan selama setengah abad dengan energi yang tak ada duanya. Ia telah menerima pesan hidupnya.

Dari Pesan Kepada Metode

Pada musim panas berikutnya, Wesley mengunjungi kelompok Moravian di Saxon. Ia ingin melihat sendiri kuasa hidup saleh seperti yang disaksikannya di atas kapal. Ia bertemu dengan banyak orang yang memberikan teladan "jaminan sepenuhnya dari iman Kristen". Tetapi dengan cepat ia melihat tanda-tanda pembenaran terhadap diri sendiri dalam diri mereka. Tak lama kemudian, Wesley dan kelompok Moravian berpisah. Ia berutang banyak kepada mereka terutama akan hal pembenaran oleh iman dan sistem kelompok kecil mereka untuk pertumbuhan rohani. Tetapi Wesley tidak dapat menganggap dirinya sebagai seorang dari mereka. Ia kembali ke London dan melanjutkan kembali berkhotbah di gereja-gereja. Tak lama kemudian, Wesley menerima undangan tak terduga dari seorang anggota kelab Kudus dari Oxford. George Whitefield telah mengikutinya sampai ke Georgia pada tahun 1738, tetapi kembali pada musim gugur tahun itu untuk ditahbiskan menjadi pendeta. Karena tidak puas dengan kesempatan yang diberikannya di mimbar, ia mulai berkhotbah di lapangan-lapangan terbuka di dekat Bristol kepada para pekerja tambang batu bara yang jarang berani atau memerhatikan untuk memasuki sebuah gereja.

Suara Whitefield terang, keras, dan kepiawaiannya dalam berkhotbah begitu menggerakkan hati pendengarnya sehingga ia dapat melihat "air mata mereka" berlinangan dari pipi mereka yang hitam sementara mereka keluar dari lubang tambang. Ketika sejumlah besar pekerja tambang batu bara memohon belas kasihan Allah, Whitefield mendorong Wesley untuk mengikuti pimpinannya memasuki ladang penginjilan secara terbuka. Wesley tahu bahwa ia tidak dapat dibandingkan dengan kepandaian Whitefield dalam berkhotbah. Ia berbicara sebagaimana layaknya seorang cendekiawan dan pria terhormat. Tetapi yang menjadi keraguannya ialah karena sebelumnya ia tak pernah membayangkan bahwa ia harus berkhotbah di alam terbuka. Tulisnya, "Karena sepanjang hidup saya begitu bersikeras menghubungkan segala sesuatu dengan kesopanan dan aturan, saya hampir berpikir bahwa menyelamatkan jiwa seseorang di luar gereja merupakan suatu dosa."

Di Alam Terbuka

Dalam posisi lebih kepada seorang martir dan bukan seorang juru khotbah yang penuh sukacita, Wesley akhirnya pergi juga ke Bristol. Kemudian, "bara yang meletup itu" dibawa menaiki anak tangga kebangunan rohani sepanjang sisa hidupnya. Ia berkhotbah kepada lebih dari tiga ribu orang di alam terbuka dan pertobatan selalu terjadi. Kebangunan rohani golongan Metodis telah dimulai. Dampak-dampak yang memengaruhi Wesley juga tak kalah luar biasanya. Sebelumnya, ia selalu merasa cemas dan tidak aman, namun setelah di Bristol, ia menjadi penyulut api bagi Tuhan. Wesley memberitakan Kabar Injil kepada orang miskin di mana pun bilamana mereka mau menerimanya. Ia menulis, "Saya memandang seluruh dunia sebagai jemaat, beban saya ialah memberitakan Kabar Kesukaan dan Keselamatan kepada setiap orang yang mau mendengarkannya." Ia berkhotbah di penjara, di pemondokan kecil, dan di atas kapal. Di sebuah amphiteater di Cornwall, ia berkhotbah kepada 30.000 orang, dan ketika ia tidak diizinkan masuk untuk berkhotbah dalam gereja Epsworth, ia berkhotbah kepada ratusan orang di halaman gereja sambil berdiri di atas makam ayahnya.

Datam catatan hariannya tertanggal 28 juni 1774, Wesley mengklaim bahwa sedikitnya ia mengadakan perjalanan sejauh 4.500 mil setahun. Itu berarti bahwa sepanjang hidupnya, ia telah mengadakan perjalanan sejauh 250.000 mil atau sepuluh kali keliling dunia. Sebagian besar perjalanannya dilakukan dengan naik kuda, dan dalam waktu singkat, ia mempelajari bahwa ia harus sering mengekang kudanya supaya ia dapat membaca dan menyiapkan khotbahnya dalam perjalanannya menuju ke kota lain. Dalam tahun-tahun pertama penginjilan kelilingnya, orang-orang tidak selalu dapat menerima kedatangannya. Mereka melempar batu dan benda-benda lain. Kadang-kadang ia dipukuli oleh beberapa orang. Tetapi Wesley tidak takut pada siapa pun. Dengan daya tariknya yang begitu kuat, ia bisa mengumpulkan begitu banyak orang dan keributan dapat diatasi. Wesley terus berkhotbah menginjili sampai akhir hayatnya. Ia meninggal di London pada tanggal 2 Maret 1791 dalam usia 88 tahun dan meninggalkan 79.000 pengikutnya di Inggris dan 40.000 di Amerika Utara.

Setelah kematiannya, golongan Metodis di Inggris mengikuti saudara-saudaranya di Amerika Serikat dengan memisahkan diri dari gereja Anglikan. Tetapi pengaruh Wesley dan kebangunan rohani yang ditimbulkannya memberikan dampak yang lebih jauh melewati batas-batas gereja Metodis. Wesley memberi pembaruan dalam kehidupan agama di Inggris dan koloni-koloninya dan menaikkan kehidupan orang miskin. Selain itu, tindakannya menstimulasi badan-badan pengabaran Injil di luar negeri dan perhatian sosial golongan injili sepanjang abad ke-19 dan ke-20.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama majalah : Sahabat Gembala, Edisi Agustus/September 1991, Tahun XIII
Penulis : Rin
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup -- Gereja Kemah Injil Indonesia, Bandung 1991
Halaman : 44 -- 48

e-JEMMi 21/2009

John Wesley: Penginjil yang Takut Mati

Pada akhir bulan Januari 1736, sebuah kapal barang bernama Simmonds, yang sedang berlayar menuju Savannah, Georgia, AS, diserang oleh angin topan. Kapal itu terombang-ambing dan terguncang dengan hebat di sela-sela gelombang yang tingginya enam meter di laut Atlantik. Air menyembur menyapu geladak kapal, membelah layar besar dari kapal layar itu dan mengalir ke dalam ruangan-ruangan di kamar itu.

Seorang pendeta gereja Anglikan bernama John Wesley, gemetar ketakutan. Beberapa orang Inggris di sekelilingnya berteriak panik dan kapal tampaknya semakin sulit dikendalikan. John Wesley telah memberitakan Injil keselamatan kepada orang lain, tetapi ia sendiri takut mati.

Sementara ombak terus menghantam geladak kapal, memorakporandakan layar kapal berkeping-keping, Wesley terheran-heran melihat beberapa orang dari Persaudaraan Moravia menyanyikan Mazmur dengan tenang. "Orang-orang malas yang bodoh," pikirnya.

Pada saat gelombang laut mulai tenang, Wesley mendekati pemimpin mereka dan bertanya, "Apakah Anda tidak takut badai?" "Tidak, Tuhan ada di pihak kami. Kami tidak takut mati."

Hari berikutnya Spangenberg, pendeta Moravia itu, memunyai sebuah pertanyaan bagi Wesley. "Saudara Wesley, kenalkah saudara dengan Yesus Kristus?" "Saya tahu bahwa Ia Juru Selamat dunia ini," Wesley menjawab.

"Tetapi dapatkah saudara mengatakan kepada saya apakah Ia telah menyelamatkan Saudara?" Wesley bingung. "Saya harap demikian," ia menjawab dengan perasaan tidak tenang.

Siapa Akan Menobatkan Aku?

Wesley (1703-1791) berasal dari keluarga yang sangat mengutamakan keteraturan dan kesopanan. Ayahnya, Pdt. Samuel Wesley, adalah seorang rohaniwan yang terpelajar dan saleh. Ia melayani di Epworth, Lincolnshire. Ibunya, Susanna, adalah putri seorang pendeta Nonkonformis. John adalah anak kelimabelas dari sembilanbelas bersaudara.

Ketika Wesley berusia enam tahun, rumah pendeta Samuel di Epworth terbakar. Seorang tetangganya, dengan berdiri di atas pundak kawannya, menolong anak itu dari sebuah jendela di tingkat dua. Wesley sadar bahwa Allah telah memelihara hidupnya.

Pada usia 17, Wesley melanjutkan studinya ke Universitas Oxford. Ia membaca banyak hal dan ia amat terkesan oleh bapak-bapak gereja yang mula-mula dan buku-buku ibadah klasik. Dari Holy Living karangan Jeremy Taylor, Imitation of Christ karangan Thomas A. Kempis, dan Serious Call to a Holy Life karangan William Law, Wesley belajar bahwa kehidupan Kristen merupakan pengudusan dari keseluruhan manusia dalam kasihnya kepada Allah dan sesamanya.

Orang-orang ini, katanya, "meyakinkan saya tentang ketidakmungkinan yang mutlak untuk menjadi setengah Kristen. Saya berketetapan, melalui kasih karunia-Nya, untuk menyerahkan hidup saya kepada Allah." Jadi ia mempelajari seluruh kelemahannya dan mencari cara-cara untuk mengatasinya.

Pada tahun 1726 Wesley memperoleh beasiswa dari Lincoln College di Oxford. Hal ini bukan hanya memberinya kedudukan secara akademis di universitas, melainkan ia juga akan menerima penghasilan secara teratur. Dua tahun kemudian, ia ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan dan kembali ke Epworth selama beberapa waktu untuk melayani sebagai asisten ayahnya.

Ketika mulai melakukan tugasnya kembali di Oxford, ia mendapati bahwa saudaranya Charles, yang gelisah melihat perkembangan deisme di kampus, telah mengumpulkan sekelompok mahasiswa yang bertekad untuk menjalani kehidupan Kristen yang benar dan serius. John terbukti menjadi pemimpin yang dibutuhkan mereka. Di bawah bimbingannya, mereka membuat rencana studi dan peraturan hidup yang menekankan masalah doa, pembacaan Alkitab, dan mengikuti Perjamuan Kudus secara teratur.

Para anggotanya merupakan orang-orang yang sangat rajin dan tidak mau tinggal diam. Mereka terus-menerus mencari bermacam-macam cara agar kehidupan mereka sesuai dengan pola hidup orang Kristen mula-mula. Mereka membantu orang miskin, dan mengunjungi para narapidana. Tetapi Wesley mengakui bahwa ia kurang memiliki damai sejahtera seorang Kristen sejati.

Tidak lama kemudian, datang undangan dari Georgia. Seorang sahabatnya, Dr. John Burton, menyarankan agar John dan Charles melayani Tuhan di koloni baru yang dipimpin oleh Jenderal James Oglethorpe. Charles dapat menjadi sekretaris jenderal dan John menjadi pendeta tentara di koloni tersebut.

Kedua bersaudara itu berangkat dengan idealisme yang menggebu. Di Georgia, Wesley mendapati bahwa kehidupan orang-orang Amerika begitu buas. Di samping itu penghuni di koloni tersebut membenci cara hidupnya yang sangat rohani, penolakannya untuk memimpin upacara kematian seorang Nonkonformis dan larangan bagi wanita untuk memakai perhiasan dan gaun yang mahal harganya.

Rasa frustrasinya semakin berlipat ganda karena kisah cinta yang dijalinnya dengan Sophy Hopkey, seorang gadis berusia delapan belas tahun, keponakan hakim kepala Savannah, kandas di tengah jalan. Sophy akhirnya memutuskan hubungan dan melarikan diri kepada saingan Wesley. Wesley kemudian melarang mantan kekasihnya untuk mengikuti perjamuan kudus sehingga suaminya marah dan menggugat Wesley sebab ia dianggap telah merusak karakter Sophy. Pengadilan berkenaan dengan masalah itu berjalan berlarut-larut. Setelah mendalami gangguan selama enam bulan, akhirnya ia kembali ke Inggris dan perjalanan misinya berakhir dengan kegagalan.

Dalam perjalanan pulang itulah Wesley kembali merenungkan seluruh pengalaman hidupnya. Ia menulis, "Aku datang ke Georgia untuk mempertobatkan orang-orang Indian, tetapi siapa yang akan mempertobatkan aku?"

Pertobatan John Wesley

Wesley mendarat di Inggris pada tanggal 1 Februari 1738 dalam keadaan terpukul dan tidak yakin akan imannya sendiri dan masa depannya. Pada waktu itulah ia mendengar bahwa di seluruh Inggris orang-orang sedang membicarakan khotbah-khotbah rekannya yang dahulu sekelas di Oxford, George Whitefield. Whitefield telah mengalami pertobatan yang dramatis dan telah berkhotbah tentang kelahiran baru kepada banyak orang.

Pada waktu itu Charles, saudara kandung John Wesley, sedang sakit. John dengan terburu-buru pergi ke rumah Charles, tetapi ia mendapatkan bahwa Peter Bohler, seorang anggota Gereja Moravia, telah tiba lebih dahulu. Dari pertemuannya dengan Bohler, ia mulai mengerti bahwa iman bukan hanya sekadar sebuah doktrin, melainkan suatu pengalaman memperoleh pengampunan dari Allah.

Tetapi Wesley bertanya, "Bagaimana iman dapat diberikan dalam sekejap mata?" Ia mendapatkan jawabannya beberapa hari kemudian.

Pada tanggal 20 Mei tahun 1738 Charles Wesley menerima kepastian penuh akan keselamatannya setelah membaca Tafsiran Kitab Galatia karangan Luther.

Kira-kira jam lima pagi hari berikutnya, John membuka 2 Petrus 1:4 dan membaca, "Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi."

Pada malam harinya ia diundang menghadiri suatu pertemuan perkumpulan Kristen di Jalan Aldersgate. Ia menulis, "Pada suatu sore, dengan rasa segan, saya pergi ke sebuah pertemuan di Jalan Aldersgate. Di pertemuan itu ada seseorang yang membacakan kata pengantar Luther untuk Kitab Roma. Sementara ia menjelaskan, suatu perubahan dari Allah terjadi dalam hati saya melalui iman kepada Kristus. Saya merasa bahwa saya benar-benar percaya kepada Kristus, hanya Kristus saja, untuk memperoleh keselamatan.

Hati saya terasa hangat sebab suatu jaminan diberikan kepada saya bahwa Ia telah menghapuskan semua dosa saya, dan menyelamatkan saya dari hukum dosa dan maut."

Demikian Wesley memperoleh jaminan yang tidak dimilikinya, suatu kehidupan yang akan membuatnya bertahan selama setengah abad dengan energi yang tiada duanya. Ia telah menemukan pesan hidupnya.

Dari Pesan kepada Metode

Pada musim panas berikutnya Wesley mengunjungi kelompok Moravia di pusatnya di Sakson. Ia ingin melihat sendiri kuasa seperti yang disaksikannya di atas kapal.

Ia bertemu dengan banyak orang yang memberikan teladan "jaminan sepenuhnya dari iman Kristen". Tetapi dengan cepat ia dapat melihat tanda-tanda pembenaran terhadap diri sendiri dalam diri mereka.

Tidak lama kemudian, Wesley dan kelompok Moravia berpisah. Meskipun begitu ia sempat mendapat banyak hal dari mereka, terutama akan hal pembenaran oleh iman dan sistem kelompok kecil mereka dalam membangun pertumbuhan rohani.

Beberapa waktu kemudian Wesley menerima undangan yang tidak terduga. George Whitefield telah mengikutinya sampai ke Georgia pada tahun 1738, tetapi kembali pada musim gugur tahun itu untuk ditahbiskan menjadi pendeta. Karena tidak puas dengan kesempatan yang diberikan kepadanya di mimbar, ia mulai berkhotbah di lapangan-lapangan terbuka di dekat Bristol kepada para pekerja tambang batu bara yang jarang berani memasuki gereja.

Suara Whitefield terang dan keras, dan kepiawaiannya dalam berkhotbah begitu menggerakkan hati pendengarnya sehingga ia dapat melihat "linangan air mata" mengalir dari pipi mereka yang hitam sementara mereka keluar dari lubang tambang. Ketika sejumlah besar pekerja tambang batu bara memohon belas kasihan Allah, Whitefield mendorong Wesley berkhotbah secara terbuka.

Wesley tahu bahwa ia tidak dapat dibandingkan dengan kepandaian Whitefield dalam berkhotbah. Whitefield berbicara sebagaimana layaknya seorang cendekiawan dan pria terhormat. Tetapi yang menjadi keraguannya ialah karena sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bahwa ia harus berkhotbah di tempat terbuka. Mengenai hal itu ia menulis, "Karena sepanjang hidup saya begitu keras kepala menghubungkan segala sesuatu dengan kesopanan dan aturan, saya hampir-hampir berpikir bahwa menyelamatkan jiwa seseorang di luar gereja merupakan suatu dosa."

Sejak itu ia rajin mengadakan kebangunan rohani di mana-mana. Sepanjang sisa hidupnya ia berkhotbah kepada lebih dari 3.000 orang di tempat terbuka dan pertobatan selalu terjadi. Kebangunan rohani golongan Metodis telah dimulai.

Wesley memberitakan kabar Injil kepada orang miskin di mana pun orang mau menerimanya. Ia menulis, "Saya memandang seluruh dunia sebagai jemaat; beban saya ialah memberitakan kabar kesukaan dan keselamatan kepada setiap orang yang mau mendengarkannya."

Ia berkhotbah di penjara, di pemondokan kecil, dan di atas kapal. Pada sebuah amfiteater di Cornwall ia berkhotbah kepada 30.000 orang. Ketika ia tidak diizinkan masuk dan berkhotbah dalam gereja Epsworth, ia berkhotbah kepada ratusan orang di halaman gereja sambil berdiri di atas makam ayahnya.

Dalam catatan hariannya tertanggal 28 Juni 1774, Wesley mengklaim bahwa sedikitnya ia telah mengadakan perjalanan sejauh 7.250 km setahun. Itu berarti sepanjang hidupnya ia telah mengadakan perjalanan sejauh 400.000 km, atau 10 kali keliling dunia. Sebagian besar perjalanannya dilakukan dengan naik kuda.

Wesley meninggal di London pada tanggal 2 Maret 1791. Usianya mendekati 88 tahun dan meninggalkan 79.000 pengikut di Inggris dan 40.000 di Amerika Utara.

Setelah kematiannya, golongan Metodis di Inggris mengikuti jejak saudara-saudaranya di Amerika Serikat dengan memisahkan diri dari gereja Anglikan.

Pengaruh Wesley dan kebangunan rohani yang diadakannya berdampak luas melewati batas-batas gereja Metodis. Wesley telah membawa pembaruan dalam kehidupan beragama di Inggris dan koloni-koloninya.

Sumber:

  1. Majalah Sahabat Gembala Agustus/September 1991.
  2. "Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus", James C. Hefley.

Diambil dari:

Nama majalah : Sahabat Gembala, November 2006
Judul artikel : John Wesley: Penginjil yang Takut Mati
Penulis : BS
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup -- Gereja Kemah Injil Indonesia, Bandung
Halaman : 46 - 50

e-JEMMi 39/2010



Joseph Kam

Joseph Kam adalah seorang pekabar Injil yang memberikan darah segar kepada tubuh para jemaat di Maluku yang ditinggalkan terlantar sesudah bubarnya VOC di Indonesia pada tahun 1799. Oleh jemaat- jemaat di Maluku, Kam diberi gelar Rasul Maluku.

Kam dilahirkan pada September 1769. Ayahnya bernama Joost Kam, seorang tukang pangkas rambut, pembuat rambut palsu, dan pedagang kulit di s´Hertogembosch, Belanda. Kakeknya berasal dari Swiss, Peter Kam, namanya. Ia datang ke Belanda sebagai tentara sewaan dan di Belanda menikah dengan seorang gadis Belanda.

Keluarga Kam adalah anggota gereja Hervormd yang setia, tetapi suasana rumah tangga mereka dipengaruhi oleh semangat pietisme Herrnhut. Mereka mempunyai hubungan dengan kelompok Herrnhut di Zeist. Joseph Kam sering mengunjungi kelompok ini sehingga ia sangat dipengaruhi olehnya.

Setelah Kam menyelesaikan pendidikan rendahnya, ia tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Ia membantu ayahnya dalam usaha perdagangan kulit. Dalam usaha perdagangan kulit inilah, Kam sering mengunjungi Zeist. Akibatnya adalah timbulnya keinginan yang kuat dalam diri Kam untuk memberitakan Injil kepada orang kafir. Namun, keinginannya itu ditahannya bertahun-tahun karena orangtuanya tidak rela untuk melepaskannya. Orangtuanya menginginkan agar Joseph tetap membantu usaha perdagangan kulit itu karena kakaknya, Samuel Kam, sudah menjadi pendeta di Berkel.

Pada tahun 1802 ayah dan ibunya meninggal. Usaha perdagangan kulit merosot, dan pada akhirnya kegiatannya dihentikan. Joseph mencari pekerjaan lain, yaitu menjadi pesuruh pada Mahkamah Nasional. Pada tahun 1804 Joseph menikah, namun istrinya itu meninggal pada waktu melahirkan anaknya yang pertama. Beberapa bulan kemudian, anaknya meninggal juga.

Sekarang tekadnya untuk menjadi pekabar Injil sudah bulat. Ia melamar ke NZG pada tahun 1807. Ia mempersiapkan diri untuk menjadi pekabar Injil di Denhaag dan Rotterdam pada beberapa orang pendeta. NZG belum memiliki sekolah pekabar Injil sendiri. Pada tahun 1811, pendidikan persiapannya dianggap selesai, namun Joseph belum dapat diberangkatkan sehubungan dengan keadaan perang yang masih berkecamuk. Belanda pada masa ini menjadi negara satelit Perancis, sehingga ia terseret dalam peperangan dengan Inggris. Indonesia sendiri dirampas oleh Inggris dari Belanda.

Berhubung Kam belum dapat diberangkatkan, maka NZG meminta kepada kelompok Herrnhut di Zeist untuk memakai tenaga Kam untuk sementara waktu. Di sinilah Kam mendapat latihan yang sangat berguna bagi pekerjaannya kelak di Maluku.

Sementara itu, NZG berusaha mencari jalan untuk menyelundupkan Kam ke Inggris. Berkat kerjasama dengan LMS (London Missionary Society), Kam dapat dikirimkan ke Indonesia. Namun, LMS harus mengujinya sekali lagi, dan ternyata Kam lulus dalam ujian tersebut, sehingga ia tidak lagi diharuskan menempuh pendidikan di London. Pada tahun 1813, Kam ditahbiskan menjadi pendeta di London. Pentahbisan jabatan pendeta merupakan tindakan yang sangat bijaksana karena dengannya, Kam dapat melayani sakramen di Indonesia. Pada tahun 1814, diusia yang ke-33, Kam menuju Maluku, bersama-sama dengan Bruckner dan Supper. Sambil menunggu kapal ke Maluku, Kam bekerja untuk sementara waktu di Gereja Protestan Surabaya. Di gereja tersebut, ia membentuk satu kelompok kecil: Orang-orang Saleh Surabaya. Kelompok ini sangat giat dalam pekerjaan pemberitaan Injil.

Pada tahun 1815, Kam meninggalkan Surabaya dan pergi ke Ambon. Pada bulan Maret 1815, Kam tiba di Maluku. Ia memulai pekerjaannya untuk menghidupkan kekristenan di Ambon yang menyedihkan itu karena sudah terlalu lama diterlantarkan. Ia mengadakan kunjungan-kunjungan ke jemaat-jemaat di Ambon, Haruku, Seram selatan, dan Saparua. Dalam kunjungan itu ia berkhotbah, membaptiskan orang, melayani Perjamuan Kudus, memperdamaikan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi.

Pada tahun yang sama, Kam melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis Indo-Belanda, Sarah Timmerman, yang dengan setia mendampinginya dalam pekerjaannya di Maluku.

Kunjungan diadakan terus-menerus di seluruh kepulauan Maluku, bahkan sampai ke Minahasa, Sangir Talaud dan ke Timor. Perjalanan- perjalanan ini sangat melelahkannya, namun semangatnya untuk bekerja bagi Tuhan, menghiburnya. Jemaat-jemaat ini dikuatkan dan dihidupkan oleh pelayanan yang tak kenal lelah oleh Joseph Kam.

Berhubungan dengan beratnya pekerjaan, maka Kam segera meminta tenaga pekabar Injil dari NZG, segera setelah Indonesia diserahkan kembali kepada Belanda. Sekarang setelah tenaga-tenaga baru berdatangan, maka Ambon menjadi pusat untuk Indonesia Timur. Semua pekabar Injil untuk Indonesia Timur harus melewati Ambon. Kini Kam bersama istrinya bertindak sebagai pembimbing dari tenaga-tenaga baru ini. Sarah mengajarkan bahasa Melayu dan sementara itu, Kam membawa mereka kepada jemaat-jemaat supaya mereka mengenal pekerjaan secara langsung.

Kam terus saja mengadakan perjalanan keliling mengunjungi jemaat- jemaat sampai akhir hidupnya. Kam menderita sakit payah dalam perjalanannya ke Maluku Tenggara, sehingga ia terpaksa kembali ke Ambon. Segala usaha untuk menyelamatkan jiwanya tidak berhasil. Joseph Kam meninggal pada tanggal 18 Juli 1833 setelah berjerih payah selama 20 tahun di Maluku.

Kam dikenang sebagai Rasul Maluku sebagaimana ditulis di atas batu nisannya di Ambon. Banyak terdapat dongeng mengenai kuasa doa-doa Kam di Maluku.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku:Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Gereja
Penulis :Drs. F.D. Wellem, M.Th.
Penerbit :PT. BPK Gunung Mulia Jakarta - 1999
Judul :Kam, Joseph
Halaman :155 - 157

e-JEMMi 04/2005


Kenneth Pike

Salah satu dari sekian banyak ahli bahasa yang paling brilian dan paling dihormati di abad ke-20, baik di kalangan sekular maupun di lingkup orang percaya, adalah Ken Pike, yang selama bertahun-tahun menjadi direktur dan presiden Summer Institute of Linguistic. Sebagai seorang profesor di University of Michigan, penulis buku-buku dan artikel-artikel penelitian, pembicara seminar dan konferensi yang paling dicari, Pike dapat saja hidup dengan nyaman di Amerika, tetapi hatinya berada di Meksiko dan di tempat-tempat yang belum berkembang di dunia, di mana Alkitab belum tersedia dalam bahasa setempat. Ia dapat merasa nyaman berbincang bersama seorang buta aksara dari suku Indian Mixtec maupun dengan seorang profesor terhormat dari sebuah universitas di Perancis. Dengan semua sumbangsihnya terhadap ilmu bahasa, ia tetaplah seorang utusan Injil terkemuka yang memiliki hasrat untuk membagikan Kabar Baik kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya.

Lahir di Connecticut pada tahun 1912, Pike adalah seorang anak dokter desa yang pendapatannya hampir-hampir tidak cukup untuk menyokong kebutuhan istri dan delapan anaknya. Sebagai seorang pemuda, Pike adalah seorang yang bersahaja dan tidak tampak sebagai seseorang yang akan menjadi tokoh besar. Ia adalah seorang pemuda yang ceking dan canggung, seorang yang mudah mabuk perjalanan, sangat takut ketinggian, dan seorang pemuda yang mudah gugup, sehingga dalam tahun-tahun hidupnya ia sering mengalami sariawan dan lecet-lecet pada kakinya. Hanya ada beberapa hal yang mengesankan mengenai dirinya, ia seorang mahasiswa yang cerdas di Gordon College bahkan ia lulus dengan mendapat predikat kehormatan, tetapi saat melamar pekerjaan yang diinginkannya, ia menemui jalan buntu. Ia melamar di China Inland Mission (CIM) dan diterima di sekolah calon utusan Injil lembaga misi itu, tetapi ketika semester itu berakhir, ia tidak memenuhi syarat untuk terjun ke dalam pelayanan misi. Hanya dua hal yang menjelaskan dikeluarkannya keputusan itu: sifatnya yang mudah gugup dan (percaya atau tidak) kesulitannya dalam berbahasa -- tepatnya, ketidakmampuannya untuk menguasai pelafalan.

Selama lebih dari setahun, Pike dengan antusias memberi tahu teman-teman dan keluarganya mengenai rencananya untuk pergi ke Tiongkok. Karena itu, penolakan oleh CIM adalah sebuah hal yang memalukan baginya. Meskipun demikian, Pike sungguh-sungguh bertekad menjadi seorang utusan Injil. Setelah selama 1 tahun bekerja di Citizen Workers of Administration (CWA), Pike mulai menulis kepada berbagai lembaga pelayanan misi, menanyakan tentang pelatihan yang diadakan oleh lembaga-lembaga itu untuk para ahli bahasa dan penerjemah Alkitab. Ia tidak membiarkan dirinya dihalangi oleh masalah bahasa yang pernah ditemuinya ketika ia belajar di CIM.

Dari semua ketua lembaga pelayanan misi yang dihubungi oleh Pike, hanya Legters dari Pioneer Mission Agency (yang di kemudian hari berganti nama menjadi Wycliffe Bible Translators (WBT)) yang membalas suratnya dan mengundangnya untuk menghadiri Camp Wycliffe. Jadi, musim panas tahun 1935 dihabiskannya di Sulphur Springs, Arkansas, tetapi di sana pun kesan yang dibuatnya bukanlah kesan yang sepenuhnya bersifat positif. Melihat pembawaan Pike yang halus di sebuah lingkungan alam terbuka yang keras membuat Legters pernah berkata, "Tuhan, tidakkah engkau dapat mengirimkan orang yang lebih baik dari ini?" Meskipun demikian, Cam Townsend melihat lebih dari sekadar penampilan luar yang belum terpoles itu dan mengenali potensi besar yang dimiliki Pike untuk kesarjanaan dan pelayanan.

Setelah program pelatihan musim panas itu, Pike mengadakan perjalanan ke Meksiko dan di sana ia mulai mempelajari bahasa suku Indian Mixtec. Meskipun ia mengalami frustrasi dalam memilah-milah bahasa yang terdiri dari nada-nada yang rumit itu, tetapi ia merasa bahwa tugasnya adalah sesuatu yang menantang, sehingga ketekunannya terbayar oleh perkembangan pesat yang dibuatnya pada tahun pertamanya sebagai seorang ahli bahasa. Cam begitu terkesan oleh penguasaan linguistik Pike, sehingga ia mengundangnya untuk kembali ke Camp Wycliffe pada musim panas berikutnya untuk menjadi seorang pengajar, dan itulah awal pelayanan seumur hidupnya sebagai seorang pengajar linguistik.

Perjalanan pulang-pergi ke Arkansas pada setiap musim panas untuk mengajar di Summer Institute of Linguistik (SIL) menjadi bagian rutin dari jadwal Pike, dan pada musim panas tahun 1938 Pike memulai lagi perkenalannya dengan Evelyn Griset, keponakan Cam yang sedang mempersiapkan diri untuk melayani di Meksiko sebagai seorang penerjemah Alkitab. Evelyn adalah seorang perempuan muda yang cerdas dan lulusan UCLA, yang telah menyelesaikan pelatihan Alkitab di Bible Institute of Los Angeles (BIOLA), sebuah pendidikan yang mempersiapkannya untuk menjadi wanita yang lebih dari sekadar seorang istri dan ibu. Pernikahannya dengan Ken pada bulan November berikutnya menciptakan sebuah kemitraan dalam bidang linguistik, yang menunjukkan sebuah kerja sama pada tingkat yang terbaik. Evelyn terus berjuang untuk meraih gelar master dalam bidang linguistik di University of Michigan, menulis sejumlah artikel dan buku, dan akhirnya melayani sebagai pengajar linguistik paruh waktu di University of Michigan bersama suaminya. Tiga orang anak mereka selalu membuatnya sibuk sebagai seorang ibu rumah tangga, tetapi Pike sering kali menolongnya untuk mengurus anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga ketika tekanan pekerjaan di luar rumah begitu besar.

Kerinduan Ken untuk meraih gelar sarjana dalam bidang linguistik dimulai di awal kariernya. Pada tahun kedua di Meksiko, Pike mengalami patah kaki yang mengharuskannya untuk menjalani perawatan di rumah sakit, dan selama itulah ia memenuhi permintaan Cam untuk membuat sebuah buku fonetik untuk menolong para pemula di Wycliffe. Awalnya, Pike merasa takut untuk mengerjakan tugas itu, tetapi ketika ia mengerjakannya, ia baru merasakan bahwa pekerjaan itu sangat memuaskan. Dari ruangannya di rumah sakit, Pike menulis surat untuk salah seorang sahabatnya, "Belajar adalah satu-satunya hal yang membuat saya merasa senang ... ketika keadaan mulai tidak baik." Sebelum menyelesaikan naskah awalnya, Pike mengirim beberapa bab kepada seorang professor University of Michigan, Edward Sapir, yang adalah salah seorang ahli dalam bidang bahasa-bahasa suku Indian. Sapir sangat terkesan oleh pemuda itu dan mendorongnya untuk datang ke University of Michigan untuk mendalami ilmu ini lebih jauh lagi. Dengan Didorong oleh Cam Townsend, Pike memulai studi doktoralnya pada tahun 1937, dan pada musim panas 1941 ia telah menyelesaikan seluruh syarat-syarat untuk meraih gelar Ph.D.

Tulisan-tulisan Pike, studi doktoralnya, pekerjaannya di SIL, dan usaha pemecahan masalah untuk para penerjemah yang mengalami masalah yang sukar, telah membuatnya jauh dari prioritas utamanya yaitu menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku Mixtec di San Miguel. Pada tahun 1941, setelah ia menyelesaikan karya doktoralnya, ia bersama Evelyn dan putri mereka yang masih kecil kembali ke Meksiko, untuk tinggal di sana dan berkonsentrasi menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru. Pada tahun 1951, setelah usaha sepuluh tahun dan banyak penundaan, terjemahan Perjanjian Baru pun sudah siap dicetak.

Dalam waktu 10 tahun yang dipakai Pike untuk menerjemahkan Perjanjian Baru, ia juga disibukkan oleh tugas-tugas yang lain. Setiap musim panas, ia melayani sebagai direktur dan pengajar di SIL, ia juga melanjutkan tulisannya dan mengejar pendidikannya; dan pada tahun 1945, untuk menjalankan penelitian post-doktoralnya, Pike kembali ke University of Michigan selama setahun, sementara Evelyn tetap berada di Meksiko. Pada tahun 1948, dengan pencetakan keempat bukunya, Pike menjadi profesor tamu di University of Michigan, sebuah posisi yang memungkinkannya untuk melakukan tugasnya yang lain.

Setelah penyelesaian penerjemahan Perjanjian Baru untuk bahasa Mixtec, Pike mengabdikan dirinya untuk menolong ahli bahasa yang lain, yang sedang berjuang dengan kesulitan bahasa yang mereka alami. Walaupun usahanya itu semakin terikat dengan lingkup akademis, tetapi pengetahuannya sangat membantu para penerjemah yang sangat bergantung kepada keahlian linguistiknya. Pike adalah seorang guru yang penuntut, dan siswa-siswanya sering kali merasa takut untuk menghadiri kelasnya, tetapi mereka tahu bahwa dengan menguasai teori dan teknik yang diajarkan oleh Pike, maka mereka dapat menghemat waktu bertahun-tahun dalam menghadapi tugas-tugas sulit yang menanti mereka di ladang misi.

Membuat mata kuliah itu menjadi sesuatu yang dapat dipraktikkan adalah prioritas utama Profesor Pike, dan kadang-kadang perkuliahannya adalah sesuatu yang menghibur sekaligus berbobot. Bahkan selama hari-hari pertamanya sebagai seorang pengajar, ketika SIL pindah ke University of Oklahoma, kelasnya disebut sebagai "pertunjukan yang baik sekaligus perkuliahan yang baik". "Siapa bilang mata kuliah fonetik adalah mata kuliah yang membosankan?" tulis seorang reporter dari Oklahoma Daily mengenai kelas Pike. "Ruang kelasnya yang besar itu dipenuhi oleh para mahasiswa yang duduk di ujung bangku mereka, dan masing-masing dipenuhi oleh antusiasme terhadap setiap perbandingan yang segar dan berusaha menangkap setiap kesempatan untuk berkontribusi. Dapat dipastikan bahwa tidak ada kelas lain yang sehidup ini di kampus itu ..."

Yang lebih menghibur lagi daripada perkuliahannya adalah demonstrasi bahasa yang dibawakannya di hadapan audiensi -- sebuah demonstrasi yang menunjukkan seberapa cepat sebuah bahasa yang tidak dikenal dapat dipelajari tanpa seorang penerjemah. Di panggung itu, Pike dengan beberapa papan tulis dan sejumlah benda (tongkat, daun, dan benda-benda sederhana beraneka ukuran), berdiri bersama seorang asing yang belum pernah ditemuinya dan tidak diketahui bahasanya. Sebelum acara itu berakhir, kedua orang di panggung itu sudah dapat berkomunikasi dengan baik. "Setelah melihat satu demonstrasi dari Pike," tulis saudari Pike, Eunice, "Anda dapat yakin bahwa Ken dapat dengan cepat mempelajari perbedaan antara `sebuah tongkat` dengan `dua buah tongkat,` `daun besar` dengan `daun kecil` dsb.. Dia mungkin juga akan mempelajari perbedaan beberapa kata kerja misalnya, `saya duduk` dengan `dia duduk,` dan bahkan `saya memukulmu` dengan `kamu memukul saya.` Kata benda milik, konjugasi kata kerja, dan lain-lainnya tampak sangat mudah, tapi Ken tidak berhenti di situ. Ia juga berkembang ke klausa bersubjek, objek, dan bahkan klausa dengan objek tidak langsung. Beberapa tahun terakhir ini, ia bahkan sanggup membangun sebuah kalimat, baik dengan klausa bebas maupun dengan klausa terikat. Kecepatan yang ditunjukkannya selalu mengagumkan dan sangat menyenangkan ketika melihat reaksi orang asing yang menolongnya itu. Orang itu jelas-jelas terlihat sangat menikmati perjumpaan itu. Ketika Ken membaca tulisannya sendiri di papan tulis dan berhasil menyusun serta mengucapkan kalimat pertamanya, orang asing itu terkejut dan gembira, begitu pula dengan audiensinya, mereka juga menikmati itu dan memberi tepuk tangan untuk memberikan penghargaan."

Sementara Pike melanjutkan penelitiannnya sambil mengajar di University of Michigan dan SIL, ia juga berkembang ke area lain linguistik selain fonetik, dan semakin ia mempelajari, semakin pula ia mampu memberi pertolongan kepada para ahli bahasa dan penerjemah Alkitab di seluruh dunia. Pike juga telah membantu pengerjaan penerjemahan di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di tempat-tempat itu, ia menemukan kesamaan dalam berbagai bahasa Indian ketika Wycliffe mengembangkan pelayanannya dari Amerika Selatan ke bagian lain dunia. Pengelompokan bahasa baru yang ditemui oleh para siswa SIL menantang Pike untuk menggali penelitiannya semakin dalam dan mengumpulkan informasi dari para ahli bahasa terkenal dunia. Perjalanan berkeliling dunia menjadi segi yang penting dalam pelayanannya. Pada tahun 1960-an, ia mengadakan lokakarya di sejumlah tempat terpencil di dunia seperti Papua, Guinea Baru; di sana ia melatih dan mendampingi para hamba Tuhan yang berasal dari dua puluh bahasa yang berbeda.

Walaupun perjalanan Pike telah membawanya ke ujung dunia yang terjauh, namun baru pada tahun 1980 ia dapat pergi ke tempat yang memanggil hatinya. Hampir 50 tahun sebelumnya, sebuah kesulitan bahasa yang nyata telah menghalanginya untuk pergi ke Tiongkok. Saat itu, ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti ia dan istrinya dapat memberi perkuliahan linguistik di Institute of Foreign Languages di Beijing, RRC. Walaupun perkuliahan itu berada di institusi sekular, Pike tahu bahwa dalam kasih karunia Tuhan informasi yang diajarkannya itu suatu hari akan dipakai untuk penerjemahan Alkitab yang lebih jauh di Tiongkok, bahkan perkuliahan seperti itu pun telah membantu para penerjemah Alkitab di bagian lain dunia.

Hanya sedikit ahli bahasa yang menerima penghormatan secara pribadi maupun penghargaan seperti Dr. Kenneth Pike. Dengan bukunya yang berjudul "Phonetics", ia telah "merevolusi cara berpikir di bidang itu," menurut Profesor Eric Hamp dari University of Chicago, dan itu baru permulaannya. "Saya rasa adil jika saya mengatakan," lanjut Hamp, "bahwa satu-setengah dari seluruh data mentah bahasa-bahasa asing yang diketahui sebagai sumbangsih ahli bahasa teoretis dalam seperempat abad ini dihubungkan dengan pengajaran, pengaruh, dan usaha oleh Kenneth Pike. Antusiasme seorang bocah yang dimiliki Pike terhadap segala penelitiannya dan kerendahan hatinya dalam membahas permasalahan-permasalahan yang baru, hampir tidak mungkin lewat dari pengamatan pengamat yang paling tidak perhatian sekalipun, bahwa dia adalah salah satu dari sedikit tokoh ahli bahasa terkemuka di abad 20." Hamp juga menambahkan, bahwa Pike adalah salah seorang utusan Injil terkemuka di abad 20. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:

Judul Buku : From Jerusalem To Irian Jaya
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 357 -- 360

e-JEMMi 30/2012

Martin Luther King, Jr.

"Saya mempunyai impian ...." Inilah seorang yang memiliki impian, dan ia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar impiannya dan menyerahkan nyawanya bagi impiannya tersebut.

Namanya ialah Martin Luther King, Jr., dan impiannya adalah bahwa "Keempat anak saya yang masih kecil pada satu hari akan hidup di dalam suatu bangsa, di mana mereka tidak akan dinilai dari warna kulit mereka tetapi dari kandungan karakternya ...." Kata-kata tersebut mengguncang Amerika. Martin Luther King Jr. dikenal sebagai Pembela Hak dan Martabat Manusia (HAM) tanpa kekerasan.

Martin Luther King, Jr., pendeta muda ini, dilahirkan pada tanggal 15 Januari 1929 dalam keluarga pendeta Baptis. Dia dididik di Morehouse College dan Crozer Theological Seminary. Dia meraih gelar Ph.D. dari Boston University. Pada tahun 1954 ia menjadi pendeta Gereja Baptis Dexter Avenue di Montgomery, Alabama.

Satu tahun kemudian, seorang wanita berkulit hitam, Ny. Rosa Parks, mengambil sebuah langkah yang mengubah hidup King. Meskipun orang-orang kulit hitam diharuskan menumpang hanya di bagian belakang bus umum, ia duduk di depan -- semua tempat duduk di belakang telah terisi, dan ia mengambil tempat duduk pertama di bagian depan. Ia ditangkap karena melanggar undang-undang pemisahan (segretation law).

Martin Luther King Jr. mendukungnya dengan memimpin boikot pada sistem bus Montgomery. Sebenarnya orang-orang hitam lah penumpang terbanyak sistem bus tersebut, dan mereka diperlakukan dengan tidak adil. Maka orang-orang kulit hitam pun menolak naik bus selama diskriminasi masih berlanjut. Mereka merasa "lebih terhormat berjalan kaki daripada menumpang bus dengan kehinaan".

Terpengaruh dengan cara-cara tanpa kekerasannya Gandhi, King dan yang lain memprotes. "Kami akan mengimbangi kapasitas Anda yang menyebabkan kesengsaraan ... Perbuatlah kepada kami apa yang Anda inginkan dan kami akan terus-menerus mengasihi Anda," kata King merespons penyerang-penyerangnya. Mengikuti jejak Yesus, ia menyerukan,

"Yesus menegaskan dari kayu salib sebuah hukum yang lebih tinggi. Ia tahu bahwa filsafat kuno -- mata ganti mata -- akan membuat semua orang buta. Ia tidak berupaya mengatasi kejahatan dengan kejahatan. Ia mengatasi kejahatan dengan kebaikan. Meskipun disalibkan karena kebencian, Ia menanggapinya dengan kasih yang agresif."

Dengan diorganisasikannya Southern Christian Leadership Conference (Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan) yang diketuainya, King berkampanye di kota-kota bagian selatan: Jackson, Selma, Meridian, dan Birmingham. Namun, pengaruhnya meluas lebih jauh ketika ia memimpin serangan-serangan terhadap ketidakadilan sosial di kota-kota bagian utara.

Sekelompok pendeta Protestan kulit hitam terdekat, termasuk Jesse Jackson, mendukung King, dan orang-orang kulit putih, Katolik serta Yahudi tidak lama kemudian bergabung dalam barisannya. Metode-metode tanpa kekerasan menghadapi serangan selang, pentungan, anjing dan pemukul. Meskipun banyak orang Kristen mendukungnya, beberapa lawan King yang paling vokal pun menyebut nama Kristus. Pada musim semi 1963, King ditangkap karena memimpin gerakan protes di Birmingham, Alabama. Para rohaniawan di Atlanta mengkritiknya karena meninggalkan gerejanya di Montgomery. "Apa haknya terlibat di tempat lain, di mana dia bukan warganya?" tanya mereka.

Dalam "Surat dari Penjara Birmingham", King memberikan tanggapan bahwa "ketidakadilan di mana pun mengancam keadilan". Bagi mereka yang ada di luar "panah pemisah yang menyengat" dan yang menasihatinya untuk menunggu, ia menjawab: ".... Bila Anda disiksa pada siang hari dan dihantui pada malam hari karena Anda seorang Negro, senantiasa hidup dalam kecemasan, tanpa sepenuhnya mengetahui apa yang harus diharapkan berikutnya; dan jika digerogoti ketakutan di dalam hati dan amarah di luar; jika Anda senantiasa bergumul dengan perasaan yang terus memburuk bahwa Anda 'bukan apa-apa' -- barulah anda akan mengerti mengapa kami tidak sabar menunggu."

Gerakan protes atas Washington pada tahun 1963 merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan hak sipil karena pengaruhnya telah berjasa bagi lahirnya Undang-undang Hak Sipil pada tahun 1964 dan Undang-undang Hak Pilih pada tahun 1965. Pada gerakan protes tersebut, Martin Luther King Jr. menampilkan impiannya:

"Saya mempunyai impian bahwa keempat anak saya yang masih kecil pada satu hari akan hidup di dalam suatu bangsa, di mana mereka tidak akan dinilai dari warna kulit mereka tetapi dari kandungan karakternya ... Dengan iman ini kami dapat mengubah suara-suara tidak harmonis di negeri kita menjadi simponi persaudaraan yang indah. Dengan keyakinan ini kita dapat bekerja sama, berdoa bersama dengan kesadaran bahwa kita akan bebas pada suatu hari kelak."

Pada tahun 1964, King menerima hadiah Nobel Perdamaian, suatu penghargaan yang mewujudkan sebagian impian itu.

King pergi ke Memphis, Tennessee, untuk mendukung pemogokan para pekerja pengangkut sampah pada tahun 1968. Pada tanggal 4 April, ketika ia sedang berdiri di lorong lantai dua di motelnya di Mulberry Street, bercakap-cakap dengan rekan-rekannya, ia ditembak seorang pembunuh. Peluru itu merenggut nyawanya, tetapi tidak mengakhiri impiannya yang sedang berlanjut.

Sebagai tanggapan atas keberanian dan kesaksian yang merupakan tekad rohaniawan ini, hari Senin ketiga bulan Januari ditetapkan sebagai Hari Martin Luther King. Dialah satu-satunya rohaniawan Amerika yang namanya dicantumkan pada kalender sebagai penghormatan.

Diedit dari sumber:

Judul Buku : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
Judul Artikel: Martin Luther King, Jr., Memimpin Pawai ke Washington
Penulis : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, dan Randy Petersen
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1991
Halaman : 166 - 168

e-JEMMi 21/2003


Paul Freed dan Trans World Radio

Dari seluruh organisasi penyiaran misi yang ada, Trans World Radio (TWR) adalah satu-satunya organisasi terbesar dan yang memiliki perbedaan secara geografis. Didirikan pada tahun 1954, hari ini TWR mampu menjangkau 80 persen populasi dunia. Dari Monte carlo, Bonaire, Swaziland, Siprus, Sri Lanka, dan Guam, TWR memancarkan program-program radio Kristen melalui pemancar raksasanya dalam 80 bahasa dan dialek yang berbeda. Bagaimana penginjilan semacam ini dibangun dan dikembangkan dalam beberapa dasawarsa terakhir ini adalah kisah menarik tentang cobaan yang dialami dan kemenangan yang dicapai oleh tim, yang terdiri dari seorang ayah dan anaknya, Ralph dan Paul Freed.

Paul Freed, pendiri TWR, tumbuh di Timur Tengah sebagai seorang anak misionaris. Ayahnya, Ralph, adalah seorang manajer yang kariernya sedang menanjak dalam perusahaannya ketika ia mendengar panggilan Tuhan ke ladang misi; dan setelah belajar di Nyack Missionary Training Institute, ia dan keluarganya dikirim ke Palestina untuk melayani di bawah naungan Christian and Missionary Alliance. Masa kanak-kanak Paul di ladang misi adalah masa-masa yang menyenangkan, walaupun sama seperti anak-anak misionaris lain, ia juga mengalami kepedihan akibat berpisah dari orang tuanya. Pada usia 11 tahun, Paul dikirim untuk melanjutkan pendidikannya. Hal ini berarti ia harus tinggal bersama dua misionaris wanita yang masih lajang, yang sama sekali tidak memenuhi syarat sekaligus tidak siap untuk menangani seorang bocah pemberontak, yang selalu rindu pulang ke rumahnya, dan juga memiliki perasaan tidak suka terhadap situasi ini sama seperti Paul. Setelah beberapa waktu, Paul kembali tinggal bersama orang tuanya, tetapi pada tahun berikutnya, Paul dikirim ke luar lagi -- kali ini untuk tinggal bersama sebuah keluarga di rumah misi di luar Yerusalem, yang menjadi tempat pendidikan bagi anak-anak misionaris lain. Sekali lagi, perasaan rindu terhadap rumah sangat menekannya. Pada usia 13 tahun, Paul sangat ingin pulang sehingga suatu malam setelah semua orang tertidur, ia menulis surat yang menjelaskan apa yang dilakukannya. Kemudian, ia menyelinap dari rumah itu menuju rumahnya. Walaupun Paul dimarahi karena apa yang dilakukannya itu, tetapi ia diizinkan untuk tinggal di rumah orang tuanya dengan syarat ia harus bekerja keras dalam pelajarannya. Hal itu merupakan dorongan yang cukup bagi Paul, sehingga selama tahun berikutnya ia berhasil menyelesaikan tahun ajaran pertamanya tanpa bantuan siapa pun, serta siap untuk menjalani kelas selanjutnya di Wheaton Academy pada tahun berikutnya, ketika orang tuanya kembali ke Amerika untuk menjalani cuti.

Dua tahun masa sekolah menengah atas Paul dihabiskan di Beirut, Lebanon. Setelah itu, ia kembali ke Amerika untuk belajar di Wheaton College dan lulus dari sana dengan mengambil Antropologi sebagai pelajaran utamanya. Setelah lulus dari Wheaton College, Paul meneruskan ke Nyack Missionary College. Di sana, ia diajar oleh para pengkhotbah hebat seperti Clarence Jones, pendiri HCJB di Quito, dan Ekuador.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Nyack, Paul melayani bersama Youth for Christ di bawah bimbingan Torrey Johnson. Melalui organisasi inilah, ketika ia menghadiri konferensi YFC di Eropa dan mengunjungi Spanyol, ia merasa terbeban untuk menjadi misionaris di negara itu. Spanyol benar-benar dinomorduakan oleh pelayanan misi penginjilan dan tantangan untuk meluruskan apa yang salah di negara itu sangatlah besar. Walaupun Paul tidak memiliki pengalaman dalam bidang penyiaran radio, tetapi media itu adalah satu-satunya hal yang menjadi harapan untuk menjangkau Spanyol dengan Injil. Sekembalinya dari Eropa, Paul mengundurkan diri dari pelayanannya di YFC dan mulai berkeliling sebagai penginjil dan mengabarkan tentang kebutuhan Spanyol. Tetapi, kebanyakan gereja yang dikunjunginya tidak memberikan tanggapan terhadap hal itu.

Pada tahun 1951, Paul dan istrinya, Betty Jane, dengan ditemani oleh beberapa rekan, mengunjungi Spanyol guna mencari tahu kemungkinan untuk membangun sebuah stasiun radio. Meskipun Paul tidak memikirkan tempat spesifik untuk membangun stasiun radio itu selain di Spanyol, namun lama-kelamaan, Tangier di Afrika Utara, yang berjarak 33,8 Km dari Spanyol dan berseberangan dengan Selat Gibraltar, adalah tempat yang paling sempurna untuk membangun stasiun radio. Di tempat itulah mereka membeli, secara patungan, sebuah gedung bekas sekolah misi yang akan menjadi tempat ideal untuk sebuah stasiun radio.

Keluarga Freeds kembali ke Amerika dengan gembira karena pelayanan baru mereka itu. Mereka bertekad untuk membuka mata orang-orang Kristen mengenai kebutuhan tersebut. Untuk melakukan hal itu mereka membuat sebuah film berjudul "Banderilla", yang secara dramatis menunjukkan orang-orang Spanyol sebagaimana adanya, tanpa saksi-saksi penginjilan yang efektif. Kemudian, tanpa pemasukan maupun sokongan dana, Paul, Betty Jane, dan kedua anak mereka yang masih kecil memulai perjalanan yang melelahkan sejauh 14.300 Km melintasi Amerika Serikat dan Kanada, demi membangun fondasi pelayanan mereka. Walaupun perjalanan itu memberikan banyak pengalaman berharga, tetapi jadwal yang padat dan kritik-kritik yang mereka hadapi benar-benar menghabiskan energi. Kecaman itu datang dari berbagai sisi. Bahkan, pelayanan yang mereka tawarkan tidak begitu jelas dan tidak memiliki hubungan dengan lembaga misi resmi mana pun. Hal tersebut sangat mengganggu beberapa orang, yang lainnya mencemooh kekurangtahuan Paul mengenai dunia penyiaran radio, dan beberapa lainnya percaya bahwa sudah cukup banyak stasiun radio Kristen dan tidak perlu ada tambahan lagi.

Meskipun menghadapi berbagai kritik dan kata-kata yang melemahkan semangatnya, Paul tetap melanjutkan rencana. Pada bulan Februari 1952, TWR pun secara resmi didirikan. Tahun berikutnya, Paul pergi ke Tangier untuk membangun stasiun radio itu. Pembangunannya tidak didanai oleh para pejuang doa yang bersemangat, tetapi oleh hasil penjualan rumah dan mobil pribadinya. Di Tangier, Paul membuat kesepakatan dengan lembaga penyiaran lain untuk menyewa pemancar, antena, dan menyiarkan programnya di bawah izin lembaga penyiaran itu. Dengan semuanya itu, kini Paul hanya tinggal mengambil langkah selanjutnya, yaitu mengamankan posisi untuk direktur stasiun radio tersebut. Tidak ada orang yang cocok untuk posisi itu selain ayahnya sendiri, seorang misionaris veteran, yang pada saat itu mengajar di Western Canadian Bible Institute. Tetapi ketika ia menelepon ayahnya, ayahnya mengatakan bahwa 3 hari sebelumnya, ia baru saja menerima tawaran jabatan sebagai rektor di sekolah Alkitab tersebut. Paul benar-benar hancur. Walaupun demikian, beberapa hari kemudian, Paul menerima telepon dari ayahnya bahwa ia menerima tantangan pelayanan itu.

Pada bulan Januari 1954, Ralph dan Mildred Freed berlayar menuju Tangier untuk memulai pelayanan mereka sebagai misionaris untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi, kali ini mereka tidak didukung secara finansial oleh Christian and Missionary Alliance, melainkan benar-benar berjalan dalam iman kepada Allah melalui dana yang disediakan oleh kemampuan penggalangan dana putra mereka. Dengan menggunakan pemancar bekas masa perang berdaya 250 watt, Ralph berhasil membuat TWR mengudara; tetapi di Amerika, hanya terjadi sedikit kemajuan. Paul menumpang mobil-mobil di jalan untuk dapat berkeliling di negara itu. Ia berbicara di mana pun ia mendapat pendengar, tetapi donasi yang didapatnya sangat sedikit. Tagihan-tagihan yang tak terbayar menumpuk dan menciptakan situasi yang tidak dapat ditolerir lagi oleh Ralph dan Mildred. "Tekanan itu menjadi sangat kritis," menurut Paul, "sehingga memaksa ayah menanggung semuanya sendiri. Pada suatu pagi saya menerima telepon di Greensboro, hanya 3 bulan setelah ayah dan ibu berlayar ke Tangier. 'Paul, jika kita tidak mendapat dukungan yang lebih besar, bantuan yang lebih dalam minggu ini, maka kami memutuskan untuk meninggalkan penyiaran dan kembali ke Amerika.'"

Hal itu merupakan berita yang sangat menyesakkan. Jika orang tuanya meninggalkan pelayanan ini sekarang, maka Paul harus membatalkan seluruh operasi ini. Tanpa kehadiran mereka di saat-saat yang krusial ini, maka pelayanan ini akan sangat sulit untuk diteruskan. Tetapi di hari Sabtu, akhir minggu di mana ayahnya menelepon itu, Paul mendapat sebuah kunjungan dari seorang pendeta yang mengenal ayahnya, dan selama kunjungan tersebut, pendeta itu mengemukakan bahwa gereja yang dipimpinnya berencana untuk mengambil bagian dalam mendukung pelayanan mereka. Hal itu merupakan kabar yang melegakan, sehingga dapat mencegah pembubaran TWR yang masih sangat muda.

Jaminan akan dukungan itu menjadi titik balik bagi TWR, dana yang masuk semakin besar, dan orang-orang maupun gereja-gereja di Amerika dan Eropa mulai menunjukkan ketertarikan mereka. Pada tahun 1959, setelah mengudara selama 5 tahun, jumlah pegawai di Tangier berkembang dari 2 menjadi 25 orang, dan "The Voice of Tangier" dapat didengar di seluruh Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, hingga di balik Tirai Besi. Namun, muncullah krisis baru. Maroko menyatakan kemerdekaannya dan dalam perubahan politik itu, pemerintah mengumumkan bahwa seluruh stasiun radio di negara tersebut akan diambil alih oleh pemerintah pada akhir tahun 1959.

Walaupun berita itu benar-benar buruk, tetapi peraturan itu tidak membatasi keluarga Freed tanpa pilihan sama sekali. Pada tahun 1957, mereka mengunjungi Monako untuk mencari kemungkinan memindahkan stasiun mereka ke Monte Carlo. Meskipun mereka harus mengeluarkan biaya lebih mahal, tetapi ada banyak keuntungan yang didapat apabila berlokasi di Benua Eropa, sekaligus kesempatan untuk mengembangkan daya siar mereka. Oleh karena itu, pada musim semi 1959, Paul dan ayahnya bernegosiasi dengan pejabat berwenang di Monte Carlo, dan pada tahun 1960, setelah tidak mengudara selama 9 bulan, sekali lagi TWR kembali mengudara -- kali ini dengan daya sebesar 10.000 watt.

Meski demikian, masa transisi dari Tangier ke Monte Carlo tidak semulus yang diharapkan. Tuntutan finansial dari kesepakatan yang baru, benar-benar melelahkan pikiran keluarga Freed yang hanya mengalami kenaikan pemasukan berkala mereka sebesar $10.000 per tahun, tetapi fasilitas yang baru dan pemancar membutuhkan dana yang sangat besar, termasuk uang muka sebesar $ 83.000 yang harus dibayar sebanyak enam kali pada tahun pertama -- sebuah hal yang menurut Paul, membutuhkan tidak kurang dari enam mukjizat; dan itu benar-benar terjadi.

Cicilan pertama, yang dibutuhkan dalam waktu yang sangat singkat, secara tak terduga ditanggung oleh sekelompok pengusaha Norwegia. Cicilan kedua, menurut Paul "Terlihat lebih mustahil daripada pembayaran yang pertama." Pada hari tenggat waktu pembayaran itu tiba, uang itu masih kurang $13.000. Pagi itu, cek sebesar $5.000 dikirimkan ke kantor. Paul pun pergi ke bank, dengan kekurangan sebesar $8.000, menyerah dengan pikiran bahwa akan menerima denda yang berat karena terlambat membayar cicilan. Sebelum tiba di bank, Paul bertemu dengan salah seorang pegawainya yang baru saja mengambil paket surat yang tidak terduga dari kantor pos. Dalam surat itu terdapat uang sebesar $5.000. Dengan kekurangan sebesar $3.000, Paul memasuki kantor direktur bank itu; dan selama duduk di kantor itu, ia berpikir bagaimana cara membayar cicilan itu, sebuah telegram masuk mengirimkan dana sebesar $3.000 ke dalam rekening TWR.

Cicilan ketiga merupakan kisah mukjizat yang lain lagi. Sekali lagi, pada hari habisnya tenggat waktu, kali ini hanya kekurangan $1.500, tetapi walaupun kotak surat sudah diperiksa, namun tidak terdapat uang lagi. Sebagian besar uang itu disumbangkan oleh orang-orang percaya di Jerman, sehingga kekurangan itu tertutup ketika pada pemantauan nilai mata uang terdapat lonjakan harga di mata uang Jerman, tepat $1.500 lebih tinggi daripada nilai di hari sebelumnya. Tenggat waktu untuk tiga cicilan berikutnya juga merupakan masa-masa yang dipenuhi oleh ketegangan, tetapi setiap pembayaran itu bisa dilunasi tanpa terkena denda.

Pada bulan Oktober 1960, 13 bulan setelah penandatanganan kontrak dengan para pihak berwenang di Monako, TWR di Monako pun akhirnya mengudara. Selama tahun pertama saja, sekitar 18.000 surat datang dari pendengar dan kebanyakan dari mereka meminta bimbingan kerohanian, sementara yang lainnya mengirimkan sumbangan dana, sehingga pada tahun 1965 setengah dari seluruh dukungan dana untuk TWR datang dari Eropa.

Mengudara di Eropa dan ke seluruh daerah Mediterania membutuhkan program-program radio sebanyak 20 bahasa yang berbeda-beda. Hal itu bukan berarti bahwa TWR memiliki staf yang berkemampuan bahasa sebanyak itu. Untuk membuat program radio yang bervariasi, TWR memproduksi program radio untuk negara-negara yang dapat dijangkau oleh siaran mereka, sehingga banyak pemimpin Kristen setempat yang dapat mengabarkan Injil kepada kaum mereka sendiri.

Untuk dapat memproduksi program-program semacam itu secara efektif, direktur-direktur yang kompeten sangat dibutuhkan di negara-negara tersebut, dan TWR sungguh beruntung karena dapat bertemu dengan seorang pria seperti Horst Marquardt, yang menjabat sebagai direktur TWR Jerman. Setelah Perang Dunia II, Horst berada di Jerman Timur yang dikuasai oleh Soviet. Saat itu, ia adalah seorang mahasiswa yang keranjingan Marxisme. Ia bergabung dengan Partai Komunis dan menjadi staf East Berlin Radio Station, yang menjadi tempatnya untuk mengembangkan program propaganda Komunis dan program untuk pemuda. Setelah beberapa waktu, ia menjadi begitu terobsesi dengan Komunisme sekaligus mulai mempelajari Alkitab, sehingga kemudian bertobat. Pada tahun 1960, setelah berkenalan dengan Ralph Freed, ia bergabung dengan TWR dan menggarap pelayanan di Jerman.

Staf-staf yang berdedikasi dan berbakat, mukjizat-mukjizat finansial, dan ratusan surat membanjiri kantor pusat TWR setiap bulan. Hal itu menunjukkan kesuksesan Paul Freed dan stasiun radio yang ia perjuangkan dengan sekuat tenaga. Tetapi, ketegangan mental dan fisik yang disebabkan oleh pelayanan itu memuncak, sehingga pada tahun 1961, ketika berusia 61 tahun, Paul terkena serangan jantung. Selama 1 bulan ia terbaring di rumah sakit, namun di saat seperti itu pun ia masih merencanakan penjangkauan yang lebih luas dan lebih efektif lagi dengan TWR.

Pada tahun 1962, setelah beberapa bulan beristirahat, Paul berkunjung ke Puerto Rico untuk mencari informasi mengenai kemungkinan mendirikan stasiun radio di Karibia. Para ahli di Eropa telah memberikan saran kepada Paul bahwa jika TWR ingin menjangkau daerah yang sudah ditargetkan dengan lebih efektif, maka akan dibutuhkan sebuah stasiun pendukung dan itu akan lebih baik jika dibangun di Karibia. Di Puerto Rico, Paul menemukan bahwa peraturan pemerintah membatasi penyiaran radio hanya ke dalam dua frekuensi secara bersamaan -- sebuah peraturan yang bagi radio internasional seperti "perlombaan lintas alam dengan tangan dan kaki yang terikat".

Setelah kunjungannya ke Puerto Rico, Paul menghubungi pejabat Belanda berkaitan dengan kemungkinan untuk membangun sebuah stasiun radio di Antilles, Belanda. Pejabat itu sangat antusias terhadap proyek itu, sehingga Paul kembali mengunjungi Karibia, dan dua minggu setelah kedatangannya di sana, ia mendapat izin untuk membangun sebuah stasiun radio berkekuatan 500.000 watt.

Bonaire, sebuah pulau karang seluas 145,6 Km kubik dipilih sebagai tempat untuk stasiun yang baru. Pulau itu adalah tempat yang tepat, menurut Paul. Bonaire adalah sebuah pulau garam yang dikelilingi oleh air garam, yang menyediakan konduktivitas tak terbayangkan. Sebab, garam basah adalah konduktor terbaik setelah besi. Kelebihan lain yang didapat karena berlokasi di Bonaire adalah penerimaan pejabat pemerintah yang memberikan TWR dua pulau, dan setuju untuk meratakan jalan, membersihkannya, dan memasang instalasi telepon secara gratis. Pada tahun 1964, pembangunan itu selesai dan TWR mulai mengudara dari bagian bumi sebelah barat.

Pada tahun-tahun ketika TWR mengudara dari Bonaire, TWR membangun 4 stasiun lagi di beberapa tempat di dunia dan pekerja misinya meningkat menjadi lebih dari 400.000 orang. Keterbebanan Paul yang pertama-tama untuk menjangkau Spanyol dengan Injil telah meluas menjadi beban untuk menjangkau seluruh dunia. (t/Yudo)

Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : From Jerusalem To Irian Jaya
Judul asli artikel : Paul Freed and Trans World Radio
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 381 -- 386

e-JEMMi 38/2012

Pdt.Yardin Djoi

Pdt. Yardin Djoi adalah bungsu dari 7 bersaudara yang lahir 36 tahun yang lalu dari keluarga seorang pendeta yang sederhana di dusun Sulewana, Kec. Tentena, Kab. Poso, Sulawesi Tengah. Sejak duduk di kelas dua Sekolah Dasar, ia selalu menjawab akan menjadi pendeta apabila ditanya tentang cita-cita dan harapannya sesudah dewasa nanti. Beliau pernah sebanyak empat kali melamar untuk menjadi guru agama Kristen di berbagai sekolah negeri, setelah menyelesaikan Sekolah Pendidikan Guru Agama (1988), karena satu dan lain hal, semua lamarannya tidak pernah mendapat tanggapan yang jelas dan positif. Selama empat tahun ia pernah bekerja sebagai buruh lepas demi mengumpulkan uang untuk melanjutkan ke Sekolah Teologi seperti yang dicita-citakannya.

Baru di tahun 1992 dalam kasih karunia Tuhan, anak muda ini mulai menapaki bangku kuliahnya di STT Tentena sekalipun dengan dana yang sangat terbatas, ia tetap setia menjalaninya. Di semester tiga, dia menderita suatu penyakit yang parah. Selama enam minggu ia harus terbaring di tempat tidur tanpa bisa berbuat apa-apa. Tiada dana untuk berobat, sementara teman-teman yang menjenguknya keluar dari ruangan tanpa sanggup berbicara apa-apa kecuali memalingkan muka dan menangis. Melihat parahnya sakit yang dideritanya, harapan tampaknya pupus. Namun, jauh dari lubuk hati anak muda ini, ia berseru dan berseru serta memohon belas kasihan Tuhan agar diberi kesempatan melayani-Nya dengan mengabarkan Injil keselamatan Kristus kepada banyak jiwa di sekitarnya.

Satu anugerah khusus berupa lawatan dan jamahan langsung dari Sang Tabib Agung, Tuhan Yesus Kristus menjadi pengalaman tak terlupakan baginya. Dalam suatu penglihatan; Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya menjamah kepalanya, dan tubuh lemahnya yang tak berdaya berangsur- angsur menguat, sambil berkata kepada ketiga malaikat dalam rupa manusia yang menyertai-Nya: "Kalian tidak perlu sedih atau menangis, sebab orang ini akan dipakai menjadi alat bagi-Ku". Tiga hari kemudian, anak muda ini sembuh total! Betapa ajaibnya Tuhan! Hal ini pula yang mengkristalkan hatinya: "Aku akan tetap setia melayani Dia dalam mengabarkan Injil keselamatan Kristus Yesus."

1 Agustus 1998 adalah hari bersejarah, sesudah diwisuda sebagai Sarjana Teologi, ia langsung diterjunkan di ladang pelayanan pertama sebagai tenaga bantuan Cikaris (seperti tenaga Evangelis/Penginjil di lingkungan gereja) di jemaat Opo (suku Wana), dusun Mokoto dalam lingkungan GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) sampai akhir tahun 1999. Untuk mencapai daerah ini, 2-3 jam dilalui melalui penerbangan perintis dari Palu, Makasar atau Manado menuju kota kabupaten Luwu. Kemudian, diteruskan dengan 6-7 jam perjalanan bus menuju kecamatan Baturube, lalu 1 jam perjalanan dengan mobil ke Desa Opo, setelah itu 2-3 jam perjalanan kaki melintasi hutan, sungai ke dusun Mokoto tempat jemaat berada. Pelayanan ini diteruskan sampai sekarang, walaupun jauh dari kenyamanan, keramaian, dan kesejahteraan sebagaimana halnya kota besar. Berbagai kesukaran, tantangan pelayanan dihadapinya dengan bersandar kuat kepada Kristus. Konfrontasi dengan kuasa kegelapan melalui dukun, orang yang kerasukan roh jahat dan berbagai hal lainnya dihadapi dengan iman yang teguh. Bagian sukacitanya adalah menyaksikan bagaimana kuasa Allah dinyatakan atas jiwa-jiwa terhilang, jamahan-Nya terhadap orang sakit, dan hati yang terbuka untuk Injil. Menyaksikan anak kecil yang mati karena orangtuanya hanya percaya kepada dukun atau tidak menemukan obat, menjadi jeritan hatinya. Kuasa Tuhan bekerja ketika pada akhirnya salah satu dukun andalan kampung ini harus mengakui kuasa Kristus jauh lebih tinggi darinya. Ia datang kepada Kristus setelah disembuhkan Allah melalui doa dan obat yang diberikan oleh pelayan-Nya ini, puji Tuhan!

Satu pergumulan yang sangat menyayat hati Pdt. Yardin adalah mendapati warga jemaatnya yang lugu dimana dia menukarkan satu hektar ladang demi sekarung beras; atau menukarkan satu hektar kebun cokelat dengan sebuah senapan angin bekas dari para pendatang baru. Pembodohan yang terjadi ini harus dikikis habis untuk kemudian warga diberdayakan dan diberikan pendidikan.

Awal tahun 2005 ini, Pdt. Yardin dikagetkan dengan diterimanya sepucuk surat keputusan (SK) yang memutuskan untuk memindahkannya ke tempat pelayanan yang baru di kantor pusat sinode GKST Tentena. Ia akan ditempatkan di bidang musik karena Pdt. Yardin dianugerahi talenta khusus oleh Tuhan dalam kepekaan akan musik ataupun kepiawaian menciptakan lagu-lagu rohani penginjilan. Kepindahan ini juga merupakan perhatian dari rekan-rekannya untuk memberikan sedikit "kenyamanan dan istirahat" dari pelayanan yang cukup terjal dan penuh air mata yang dialaminya selama lima tahun.

Tetapi kecintaannya kepada jiwa-jiwa yang belum diselamatkan dan keterpanggilan akan suku terabaikan, memperkuat hatinya untuk memutuskan "lebih baik mentaati panggilan Tuhan" (Kisah Para Rasul 4:19). Apalagi Tuhan membukakan mata hati Pdt. Yardin melalui panggilan pelayanan dari tetua suku Wana yang lain yang hidup masyarakatnya masih Nomaden (hidup berladang dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain - Red.). Daerah itu bernama Woonsa yang bisa ditempuh dua hari perjalanan kaki jauhnya dari tempat pelayanan semula. Ada sekitar 70 kepala keluarga yang rindu dilayani, dijamah dan menjadi murid Tuhan. Seolah gapaian tangan seorang Makedonia dalam penglihatan Paulus (Lihat Kisah Para Rasul 16:9).

Kepada setiap kita sebagai umat tebusan-Nya, Ia pun tetap berkata: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20) Adakah hati kita --- hati saya dan hati Saudara -- peka dan taat untuk menuruti perintah-Nya? Tidak ada doa dan perhatian yang sia-sia, tidak ada jiwa yang terlampau berharga atau terlampau hina untuk melayani-Nya menjadi hamba-Nya, bahkan tidak ada usaha, dana yang sia-sia kalau kita mempersembahkannya untuk pekerjaan Injil Tuhan.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Majalah:Pekan Misi Penginjilan ke-29, 2005
Judul Artikel: :Pdt. Yardin Djoi
Penerbit :Gereja Injili Indonesia Hok Im Tong
Halaman : 45 - 46

e-JEMMi 17/2005


ROBERT A. JAFFRAY (1873 -- 1945)

Skotlandia, negeri di belahan utara Benua Eropa, adalah salah satu negeri yang menghasilkan penginjil andal terbanyak untuk diutus ke seluruh pelosok dunia, di antaranya Robert A. Jaffray. Ia dilahirkan pada 16 Desember 1873. Ayahnya yang juga bernama Robert Jaffray adalah seorang yang dingin terhadap kekristenan, namun ibunya, Sarah Bugg, sangat aktif di gereja, dan hal inilah yang membuat anak-anak mereka memiliki kerohanian yang baik. Namun, sekalipun sang ibu selalu membimbing anak-anak dalam kerohanian mereka, Jaffray pernah terjerumus dalam pergaulan dengan kelompok ateis di Toronto, Kanada. Namun, tradisi Protestan yang sangat melekat dalam dirinya mampu membuatnya melepaskan diri dari kelompok tersebut. Masa kecil Jaffray memang bukan masa kecil yang bahagia karena ia mengidap penyakit jantung dan gula yang sangat menyiksanya. Akan tetapi, Tuhan memiliki rencana indah bagi Jaffray. Di usianya yang ke-16 Jaffray bertobat berkat ketekunan dan usaha Annie Gowan, guru sekolah minggunya di Presbyterian St. James Square, Kanada. Beberapa tahun kemudian, ketika mendengar khotbah A.B. Simpson, pengkhotbah yang sangat terkenal pada waktu itu, Jaffray tertantang untuk memberitakan Injil ke luar negeri, sekalipun sebelumnya ia bermaksud menolak panggilan tersebut. Jaffray kemudian menempuh pendidikan di New York Missionary Training Institute. Namun, ayahnya tidak menyetujui hal itu karena sudah merencanakan agar Jaffray melanjutkan usahanya di bidang asuransi. Dia mengancam tidak akan membantu Jaffray dalam hal keuangan jika tidak menuruti kehendaknya. Akan tetapi, Jaffray tetap memutuskan akan menjadi utusan Injil ke Tiongkok, apa pun risikonya.

Pada 1897, A.B. Simpson mengutus beberapa utusan misi ke Tiongkok Selatan dan Jaffray adalah salah seorang di antaranya. Bersama Rob Glover, Jaffray ditempatkan di Tung-Un, kota kecil di Guangxi. Namun, misi mereka kurang berhasil sehingga dihentikan. Selama menantikan tugas selanjutnya, mereka belajar bahasa dan budaya Tiongkok, dan setahun kemudian ia dipindahkan ke Wuchow. Mereka memulai penginjilan dan mendapat banyak tantangan dari penduduk setempat karena dianggap sebagai pengacau. Meskipun demikian, pelayanan mereka maju dengan pesat sehingga Jaffray diangkat sebagai ketua penginjilan di Tiongkok Selatan. Selanjutnya, Jaffray memimpin Sekolah Alkitab di Wuchow dan beberapa waktu kemudian, sambil mengajar, ia menerbitkan "The Bible Magazine" karena ia tahu bahwa karya tulis sangat efektif dalam penginjilan. Jutaan eksemplar buku rohani tersebar ke seluruh dunia selama hidupnya. Ia juga mendirikan sebuah penerbitan bernama South China Alliance Press, yang juga merupakan hasil bantuan teman-temannya di Kanada dan Amerika.

Kondisi kesehatan yang kurang baik tidak membuat Jaffray lemah dan patah semangat dalam pelayanan. Pukul empat pagi dia belajar Alkitab dan banyak menggunakan waktunya untuk berdiskusi dengan teman-temannya. Berdoa dan bekerja merupakan kunci keberhasilan dalam pelayanannya. Ia juga berpendirian teguh sehingga sering terlibat dalam perdebatan di rapat-rapat yang diikutinya, khususnya jika berhubungan dengan pendapat para misionaris Barat mengenai orang-orang Tionghoa. Menurutnya, ia dikirim ke Tiongkok bukan untuk menjadikan orang Tionghoa sebagai orang Barat, tetapi untuk menjadikan mereka murid Kristus. Kerendahan hati Jaffray tetap membuat orang segan kepadanya sekalipun mereka sering berbeda pendapat dengannya.

Keadaan Tiongkok yang rawan pada tahun 1920-an membuat para misionaris dituntut keberaniannya atau pekerjaan misi akan berhenti. Penculikan, perampokan, bahkan pembunuhan sering terjadi. Pada 1923, Kota Kweilin dikepung selama 77 hari. Banyak orang yang mati dan hampir mati kelaparan, termasuk para utusan misi. Pada saat itu, Jaffray yang berada di Kota Wuchow berdoa bersama teman-temannya untuk keselamatan Kota Kweilin. Jaffray juga membentuk beberapa tim untuk menyelamatkan utusan-utusan Injil di sana. Dalam perjalanan, Jaffray bersama teman-temannya jatuh ke tangan para perampok yang kejam dan kasar, yang menjarah semua barang yang mereka bawa. Tetapi, Jaffray tanpa takut memberitakan Injil kepada para perampok tersebut, dan akhirnya mereka membebaskan Jaffray dan teman-temannya dengan uang tebusan dari pemerintah Tiongkok.

Pelayanan Jaffray selanjutnya adalah di Indo Cina. Selama setahun di daerah ini, pelayanannya tidak berhasil dan membuatnya gelisah. Ia kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan misinya ke Tonkin, bahkan Hanoi di Vietnam. Namun, berkali-kali pelayanannya tidak berhasil. Beberapa waktu kemudian, bersama Lloyd Hughes dan Paul Hostler, Jaffray berhasil memberitakan Injil di Tourane, namun tidak lama kemudian penginjilan berhenti karena pecahnya Perang Dunia I. Daerah pelayanan misi di Indo Cina berada di wilayah jajahan Perancis. Pos-pos penginjilan ditutup dan para utusan Injil tidak dapat berbuat apa-apa sehingga akhirnya mereka hanya belajar bahasa dan kebudayaan di Indo Cina. Beberapa waktu kemudian, Jaffray diangkat sebagai penasihat Alliance wilayah Indo Cina di wilayah jajahan Perancis yang bermarkas di Wuchow. Kemudian, negosiasinya dengan gubernur Perancis membuat pekerjaan misi bisa tetap berjalan di daerah tersebut. Kesempatan ini segera digunakan dengan baik oleh Jaffray dengan mendirikan percetakan bernama Penerbit Misi di Hanoi, yang menerbitkan dan menyebarkan traktat dan buku-buku rohani. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, Alkitab dalam bahasa Annam berhasil diterbitkan, dan pada 1917 diterbitkan buku-buku rohani dalam bahasa dan huruf Korea.

Jaffray selalu memiliki strategi dan prinsip alkitabiah dalam pekerjaan misinya, serta tidak pernah berhenti bergerak dalam pelayanannya. Setiap waktunya digunakan untuk memberitakan Injil, dan banyak cara ia gunakan, di antaranya melalui pendirian sekolah Alkitab, percetakan, dan mendirikan gereja untuk memelihara iman orang percaya. Jaffray juga senantiasa mengawasi pelayanan-pelayanan di Thailand, Laos, Kamboja, dan negara-negara Indo Cina lainnya. Berkat kegigihannya, sebagian Indo Cina akhirnya dimenangkan bagi Kristus.

Pada 1927, Jaffray mulai mengarahkan pelayanan ke negara-negara Pasifik dan memutuskan meninggalkan Tiongkok untuk kemudian mendarat di Sandakan, Kalimantan. Untuk kepentingan pelayanan di daerah ini, Jaffray membeli kapal untuk menyusuri sungai-sungai di daerah tersebut. Pada akhirnya, Jaffray bersama keluarganya pindah ke Indonesia. Di Makassar, dia mendirikan sekolah Alkitab dan percetakan serta meluaskan pelayanannya ke daerah-daerah lain di Indonesia. Namun, penjajahan Jepang membuat Jaffray tidak dapat leluasa melakukan pelayanannya. Dia bahkan harus berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya karena orang Jepang saat itu sangat anti terhadap orang Barat. Penderitaan luar biasa dialami oleh Jaffray, namun ia memiliki prinsip bahwa hidupnya adalah untuk mencari orang miskin, tertekan, dan menderita untuk dibawa kepada Yesus Kristus. Pada 29 Juli 1945 menjadi saat di mana Jaffray menghembuskan napas terakhirnya. Namun, apa yang sudah dilakukannya membawa dampak yang tidak pernah berakhir dalam kehidupan orang-orang, bahkan sampai pada zaman ini.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Pekan Misi dan Penginjilan ke-29, Gereja Injili Hok Im Tong, 2005
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Gereja Injili Hok Im Tong
Halaman : 50 -- 51

e-JEMMi 22/2008

Sadhu Sundar Singh: Rasul dengan Kaki Berdarah

Sundar Singh dilahirkan pada tahun 1889 dan berasal dari keluarga tuan tanah Sikh di negara bagian Patiala, India Utara. Bangsa Sikh, yang menolak ajaran agama Hindu dan agama Islam, telah menjadi bangsa yang menonjol pada abad keenam belas dengan ajaran agama mereka sendiri. Ibu Sundar Singh dari minggu ke minggu membawanya untuk belajar di hadapan seorang Sadhu -- seorang petapa suci yang hidup beberapa mil di dalam hutan, namun ia juga mengirimnya ke sebuah sekolah misi Kristen di mana ia dapat belajar bahasa Inggris.

Kematian ibunya ketika ia berusia empat belas tahun, membuat hidupnya menjadi keras dan nyaris putus asa. Ia menyerang para utusan Injil, menganiaya para petobat baru dan mengejek iman mereka. Sebagai perlawanan terhadap agama Kristen, ia membeli sebuah Alkitab dan membakarnya halaman demi halaman di rumahnya. Pada malam yang sama, ia masuk ke kamarnya dan memutuskan untuk bunuh diri di atas rel kereta api.

Akan tetapi, sebelum subuh tiba ia membangunkan ayahnya dan mengatakan bahwa ia telah melihat Yesus Kristus dalam suatu penglihatan dan mendengar suara-Nya. Sejak saat itu ia memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus dan menyerahkan hidupnya kepada Kristus, dan selama dua puluh lima tahun ia bersaksi untuk Tuhannya dengan penuh keberanian. Namun proses pemuridan remaja ini langsung mengalami ujian ketika ayahnya meminta serta menuntutnya untuk melepaskan "pertobatannya". Ketika ia menolak, Sher Singh memberikan pesta perpisahan kepada anak laki-lakinya, kemudian menolak dan mengusirnya dari keluarganya. Beberapa jam sesudah itu, Sundar menyadari bahwa makanan yang baru disantapnya telah dibubuhi racun dan hidupnya diselamatkan berkat pertolongan sebuah masyarakat Kristen yang tinggal di dekatnya.

Pada ulang tahunnya yang keenam belas, ia dibaptis di depan umum sebagai seorang Kristen di halaman gereja di Simla -- sebuah kota yang terletak jauh di kaki Pegunungan Himalaya. Untuk beberapa waktu lamanya, ia berdiam di Rumah Perawatan Penderita Kusta di Sabathu, tak jauh dari Simla, sambil melayani pasien penyakit kusta. Tempat itu tetap menjadi tempat yang disenanginya dan ia selalu kembali ke sana semenjak ia dibaptis. Kemudian, pada bulan Oktober 1906, ia mulai mengadakan perjalanan, tetapi dengan suatu cara yang berbeda.

Ia berjalan dengan perawakan seorang remaja yang tinggi, tampan, tegap, sambil mengenakan jubah berwarna kuning dan turban. Setiap orang memandangnya ketika ia sedang berjalan. Jubah kuning itu merupakan pakaian seragam seorang Sadhu Hindu, yang secara tradisional merupakan seorang pertapa yang mengabdikan hidupnya kepada para dewa, yang berjalan sambil meminta sedekah, tak bersuara, menjauh dan sering berpakaian kotor, sambil bermeditasi di hutan atau tempat terpencil. Sundar Singh yang masih muda telah memilih cara seorang Sadhu, tetapi ia seorang Sadhu yang berbeda.

"Saya tidak layak mengikuti langkah Tuhan saya," katanya, "tetapi, seperti Dia, saya tidak menginginkan rumah dan harta. Seperti Dia, saya akan hidup di jalanan sambil berbagi kehidupan dengan rakyat saya, makan dengan mereka yang memberi tumpangan, dan menceritakan kepada setiap orang tentang kasih Allah."

Pada waktu libur, ia segera kembali ke kampung halamannya, Rampur, di mana secara tak diduga ia memperoleh sambutan hangat. Namun ini merupakan persiapan yang tak memadai untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya. Tubuhnya hampir-hampir tak bisa menahan kekerasan hidup secara fisik. Dalam usia enam belas tahun, Sadhu pergi ke utara melalui Punjab, melewati Bannibal Pass dan masuk ke Kashmir, kemudian kembali melalui Afganistan, ke daerah Balukhistan. Tubuhnya yang kurus dan jubah kuningnya hampir tak dapat melindunginya dari dinginnya salju dan kakinya luka-luka karena medan yang sulit dan berat.

Dalam waktu singkat sebuah masyarakat Kristen di utara menyebutnya sebagai "rasul dengan kaki berdarah". Julukan ini menunjukkan kepadanya apa yang akan dihadapinya kelak. Ia pernah dirajam, dipenjara, dikunjungi oleh seorang gembala yang berbicara dengan keakraban yang aneh tentang Yesus, dan ditinggalkan di luar gubuknya dengan ditemani seekor ular cobra. Pergumulan dengan kekuatan mistik, aniaya, dan sambutan hangat, merupakan sebagian dari pengalaman hidupnya di masa mendatang.

Dari desa-desa di bukit-bukit Simla, terlihat dari kejauhan jajaran yang panjang dari Pegunungan Himalaya yang ditutupi salju abadi dan puncak Nanga Perbat yang kemerah-merahan. Di balik itu terletak Tibet, daerah agama Budha yang tertutup dan sulit ditembus para utusan Injil dengan Kabar Baik. Sejak ia dibaptiskan, Tibet telah menarik perhatian Sundar. Pada tahun 1908 (pada usia sembilan belas tahun), ia menyeberangi garis depan Tibet untuk pertama kalinya. Setiap orang asing yang memasuki daerah tertutup yang fanatik ini, yang didominasi oleh agama Budha dan penyembah berhala, menghadapi risiko teror dan kematian. Singh mengambil risiko tersebut dengan mata dan hati yang terbuka lebar. Keadaan rakyat di sana mengejutkannya. Rumah yang hampir-hampir tanpa lubang udara dan rakyatnya sangat miskin. Ia sendiri dirajam ketika ia sedang mandi karena mereka percaya bahwa "orang suci tidak pernah mandi". Makanan sulit diperoleh dan ia bisa bertahan hidup dengan menyantap biji gandum yang dipanggang. Di mana-mana terjadi kekerasan dan ini baru "Tibet sebelah bawah" dan daerah perbatasan. Sundar kembali ke Sabathu dan bertekad untuk kembali lagi tahun berikutnya.

Kini ia bahkan memiliki keinginan yang jauh lebih besar -- mengunjungi Palestina untuk mengingat kembali beberapa kejadian dalam kehidupan Yesus. Pada tahun 1908 ia pergi ke Bombay sambil berharap untuk menaiki kapal laut yang menyenangkan. Tetapi ia dikecewakan karena pemerintah menolak memberi izin dan ia harus kembali ke utara. Justru pada perjalanan kembali ini, ia tiba-tiba menyadari dilema dasar yang dihadapi utusan Injil di India.

Seorang Brahmana jatuh pingsan di sebuah kereta yang panas dan penuh sesak, dan pada stasiun berikutnya seorang kepala stasiun berkebangsaan Inggris-India datang sambil membawa secangkir air dari kamar tunggu. Brahmana itu -- kasta tertinggi dalam agama Hindu -- menolaknya mentah-mentah. Ia membutuhkan air, tetapi ia hanya dapat meminumnya dari cangkirnya sendiri. Ketika cangkirnya di isi air dan ia meminumnya, nyawanya selamat. Dengan cara yang sama, Sundar Singh menyadari, India tidak akan menerima Injil Yesus Kristus yang disebarkan dengan gaya Barat secara luas. Itulah sebabnya ia kini menyadari bahwa banyak pendengar memberi respon kepadanya dalam jubah seorang Sadhu.

Pada tahun 1909 ia dibujuk untuk mulai mengikuti latihan bagi pelayanan Kristen di Sekolah Tinggi Anglikan di Lahore. Sejak awal ia mendapati dirinya tersiksa oleh perlakuan sesama siswa karena berpenampilan "berbeda" dan juga karena bersikap terlalu yakin. Tahapan ini berakhir ketika pemimpin siswa mendengar Singh mendoakannya dengan ucapan yang penuh kasih. Tetapi ketegangan lain tetap hadir. Sebagian besar dari pelajaran di sekolah kelihatannya tidak relevan dengan berita Injil yang dibutuhkan India. Sementara pelajaran hampir berakhir, kepala sekolah menyatakan bahwa ia harus melepaskan jubah Sadhunya dan mengenakan pakaian yang "sopan", yang biasa dipakai pendeta Anglikan di Eropa, menggunakan tata ibadah Anglikan yang formal, menyanyikan lagu rohani dalam bahasa Inggris, dan tidak pernah berkhotbah ke luar tanpa izin khusus. Ia bertanya, "Tidak boleh pergi lagi ke Tibet?" Bagi Sundar, hal itu merupakan penolakan terhadap panggilan Allah dan belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Dengan perasaan sedih yang mendalam, ia meninggalkan Sekolah Alkitab -- masih berpakaian jubah kuningnya. Pada tahun 1912, ia mulai perjalanan tahunannya ke Tibet sementara salju mulai mencair di Pegunungan Himalaya.

Kisah-Kisah yang Luar Biasa

Kisah-kisah dari pengalamnnya sangat mengherankan dan luar biasa. Memang ada yang bersikeras mengatakan bahwa kisah-kisah itu bernuansa mistis dan bukan kisah nyata. Pada tahun 1912, ia kembali dan menceritakan bahwa ia telah bertemu dengan sorang pertapa Kristen yang berusia tiga ratus tahun di sebuah gua di pegunungan -- Maharishi dari Kailas -- yang bersekutu selama tiga minggu bersamanya. Kisah lain lebih masuk akal, tetapi ada juga yang lebih mengerikan. Tubuhnya pernah diikat dengan kulit yak (sebangsa kerbau di Tibet) yang masih basah dan di jemur sampai kering ..., dan tubuhnya pernah diikatkan pada sebuah jubah yang penuh dengan lintah dan kalajengking supaya menghisap darahnya ..., tubuhnya pernah diikat pada sebuah pohon sebagai umpan untuk binatang buas. Namun dalam semua kejadian ini, ia telah diselamatkan oleh "Sunnyasi Mission" -- pengikut rahasia Yesus yang memakai ciri orang Hindu, yang menurutnya ada di seluruh India.

Apakah ia berhasil memenangkan banyak jiwa dalam perjalanannya yang berbahaya ke Tibet? Tak seorang pun yang tahu dengan pasti. Bagi orang Tibet, agama satu-satunya hanyalah Budha atau tidak sama sekali. Memberitakan kabar tentang Yesus sama dengan bunuh diri. Tetapi keberanian Sadhu dalam berkhotbah bukanlah tidak menghasilkan sesuatu.

Sementara Sundar memasuki usia dua puluh tahun, pelayannya menjadi semakin luas, dan lama sebelum ia memasuki usia tiga puluh tahun, nama dan gambarnya sudah dikenal oleh dunia Kristen di seluruh dunia. Ia menjelaskan bahwa mempertahankan sebuah visi sama dengan bergumul dengan iblis, tetapi sebenarnya pendekatannya manusiawi, sederhana, dan rendah hati, selain senang bergurau dan mencintai alam. Semua sifat ini ditambah dengan ilustrasi sederhana yang diambilnya dari kehidupan sehari-hari, membuat pesan yang disampaikannya memberikan dampak kuat. Banyak orang berkata, "Ia bukan hanya serupa seperti Yesus, tetapi juga berbicara seperti Yesus." Namun semua pembicaraan dan khotbahnya memancar dari saat teduh yang mendalam setiap pagi dini hari, terutama tentang kitab-kitab Injil.

Pada tahun 1918 ia mengadakan perjalanan sampai ke India Selatan dan Ceylon, dan tahun berikutnya ia diundang mengunjungi Myanmar, Malaysia, Cina, dan Jepang. Beberapa kisah dari perjalanannya sama anehnya seperti perjalannnya ke Tibet. Ia memiliki kuasa mengatasi binatang liar, seperti macan tutul yang akan menerkamnya ketika ia sedang berdoa dan kemudian ia membungkukkan tubuhnya dan mengusap-usap kepalanya. Ia memiliki kuasa mengalahkan kejahatan, seperti ahli sihir yang mencoba menghipnotisnya di kereta api dan menjelek-jelekkan Alkitab yang ada dalam saku bajunya. Ia memiliki kuasa mengusir penyakit, walaupun ia tak mau membanggakan karunia penyembuhannya.

Sudah cukup lama Sundar ingin mengunjungi Inggris dan kesempatan tersebut tiba ketika ayahnya yang sudah lanjut, Sher Singh, datang mengatakan kepadanya bahwa ia juga telah menjadi Kristen dan ingin memberinya uang untuk ongkos perjalanannya ke Inggris. Ia mengadakan perjalanan ke Inggris, Amerika Serikat, dan Australia pada tahun 1920, dan sekali lagi ke Eropa pada tahun 1922.

Ia disambut oleh orang-orang Kristen dengan berbagai latar belakang dan tradisi. Perkataannya menggelitik hati mereka yang saat itu sedang menghadapi pasca Perang Dunia I dan kelihatannya memiliki sikap yang dangkal terhadap hidup. Sundar terkejut melihat bahaya materialisme, kekosongan hidup, sikap tak beragama yang ditemukannya di mana-mana, jauh berbeda dengan kesadaran orang Asia terhadap kehadiran Allah, betapa pun terbatasnya hidup mereka. Setelah kembali ke India, ia melanjutkan pelayannya walaupun ia sadar bahwa tubuhnya semakin lemah.

Karunianya, daya tarik pribadinya, hubungan pribadinya dengan Kristus sementara ia menyajikan Injil kepada rakyat India mungkin telah memberikan Sundar Singh suatu posisi kepemimpinan yang unik dalam gereja India. Tetapi sampai akhir hidupnya, ia tetap menjadi seseorang yang tidak mencari keuntungan bagi dirinya, tetapi hanya kesempatan untuk menawarkan Kristus kepada setiap orang. Ia tidak masuk dalam denominasi apa pun dan tidak mencoba untuk memulai suatu aliran sendiri, walaupun ia bersekutu dengan bermacam-macam orang Kristen. Ia hidup untuk memperkenalkan Kristus di jalan-jalan di India.

Pada tahun 1923 Sundar Singh melakukan perjalanan musim panasnya yang terakhir ke Tibet, dan ketika kembali ia sangat lelah. Perjalanan khotbahnya ke mana-mana jelas sudah berakhir, dan pada tahun-tahun berikutnya ia menghabiskan waktunya untuk merenung, bersekutu, dan menulis di rumahnya sendiri atau di rumah teman-temannya di bukit Simla.

Pada tahun 1929, walaupun ditentang oleh teman-temannya, Sundar bertekad untuk melakukan perjalanan terakhir ke Tibet. Pada bulan April ia sampai di Kalka, sebuah kota kecil di bawah Simla, seseorang yang menjadi tua sebelum waktunya dalam jubah kuning ada di antara para peziarah dan orang suci yang memulai perjalanan mereka menuju salah satu tempat suci orang Hindu beberapa mil dari tempat itu. Ke mana ia pergi sejak saat itu tak diketahui orang. Apakah ia jatuh dari jalan setapak, mati kelelahan, atau berhasil melewati gunung-gunung, tetap menjadi suatu misteri. Itulah penampilan Sundar Singh yang terakhir kalinya. Tetapi ingatan tentang dirinya tetap dikenang, dan ia tetap menjadi salah satu tokoh yang paling hebat dan kuat dalam perkembangan dan sejarah gereja Kristus di India.

Sumber: John Woodbridge, ed., "More Than Conquerors: Portraits of Believer from All Walks of Life", (Chicago: Moody Press, 1992).

Diambil dari:

Judul majalah : Sahabat Gembala, November 2004
Judul artikel : Sadhu Sundar Singh: Rasul dengan Kaki Berdarah
Penulis : Rin
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 27 -- 32

e-JEMMi 48/2010

Saksi yang Setia: William Carey

Pada tanggal 13 Juni 1793, William Carey dan istrinya, Dorothy, bersama keempat anak mereka dan seorang pengasuh bayi berlayar dari Inggris menuju India menggunakan sebuah kapal. Pada waktu itu hanya beberapa orang saja yang menyaksikan keberangkatan mereka. Carey adalah seorang pembuat sepatu di desanya. Dengan pendidikannya yang sederhana, ia sebenarnya tidak punya keahlian apa-apa dalam pelayanan misi kecuali keyakinan bahwa Tuhan telah memanggilnya untuk memberikan hidupnya demi "pertobatan orang-orang asing". Lagi pula, ia pergi ke India sebagai pendatang gelap karena tidak bisa mendapatkan izin imigrasi dari Perusahaan Hindia Timur. Dia juga punya masalah dalam hal keuangan. Sebagai seorang gembala yang tidak terkenal dari sebuah gereja kecil di wilayah Midlands di Inggris, ia hanya bisa mendapatkan bantuan dari beberapa temannya. Orang-orang terkemuka dari gereja Baptis di London tidak mau mengikutsertakan denominasi mereka karena merasa bahwa perjalanan yang ia ambil memunyai banyak ketidakpastian.

Sekarang, 2 abad kemudian setelah ia mengambil langkah tersebut, Carey dikenal oleh seluruh dunia sebagai bapak dari misi modern. Sebenarnya Carey bukanlah misionaris pertama dari zaman modern. Bahkan, dia bukan orang Protestan pertama yang datang ke India. Hampir 100 tahun sebelum Carey menginjakkan kaki di Kalkuta, 2 orang dari Universitas Halle yang menjadi pusat gerakan Pietisme telah memulai sebuah misi di Tranquebar di India Selatan. Carey sendiri tidak senang dengan kepopuleran namanya yang mulai tersebar pada masa hidupnya. Dia membenci kenyataan bahwa beberapa kenalannya di Inggris mulai mengumpulkan benda-benda miliknya pada masa muda untuk dijadikan koleksi seperti cangkir yang pernah dipakainya, sepatu yang dibuatnya, papan iklan perusahaannya. "Semakin sedikit yang dikatakan tentang saya semakin baik," katanya.

Ketika sudah dekat dengan kematiannya pada tahun 1834, ia meminta Alexander Duff, misionaris dari Skotlandia, untuk mendekat dan Carey berbisik, "Mr. Dufff, kamu telah berbicara tentang Dr. Carey, Dr. Carey terus; kalau saya sudah tidak ada, jangan lagi bicara tentang Dr. Carey, bicaralah tentang pekerjaan penginjilan Dr Carey!" Ini adalah sifat asli dari Carey. Namun kenyataannya, orang-orang Kristen generasi berikutnya tetap tertarik pada Carey sebagaimana mereka tertarik pada penginjilan yang dilakukannya.

Visi yang Menyebar

Bertahun-tahun kemudian John Ryland Jr., orang yang membaptiskan Carey, mendeskripsikan tahun-tahun awal pertobatannya sebagai masa yang penting di permulaan hidup Carey:

"Di bulan Oktober 1783, pada waktu saya membaptis seorang penjual sepatu keliling di Nene, di belakang rumah pertemuan Doddridge, tidak ada pikiran sama sekali bahwa setelah 9 tahun berlalu, ia membuktikan dirinya sebagai orang pertama yang membentuk sebuah organisasi untuk mengirimkan misionaris ke bagian dunia yang belum mengenal Kristus. Lebih tidak diduga lagi, ia akan menjadi seorang profesor di perguruan tinggi Oriental dan penerjemah Alkitab ke dalam sebelas bahasa.

Bagaimana hal yang luar biasa bisa terjadi? Ryland Jr. memberikan penjelasan yang sederhana namun masuk akal: "Saya percaya Tuhan sendiri yang menanamkan dalam pikiran Carey pentingnya keselamatan dari orang-orang di dunia luar."

Salah satu peristiwa terkenal di permulaan pelayanan Carey terjadi ketika ia mengajukan usul pada para gembala supaya mereka mempertimbangkan tugas orang Kristen untuk berusaha membawa Injil ke bangsa-bangsa yang belum pernah mendengarnya. Ryland sangat terkejut dengan jawaban yang diterima Carey. "Duduklah anak muda. Jika Tuhan menghendaki bangsa-bangsa lain untuk bertobat Ia akan melakukannya tanpa bantuanmu atau bantuan saya." Jawaban ini menujukkan betapa kerasnya hati mereka dalam penolakan untuk misi. Pendapat ini banyak mendapat sokongan pada zaman itu.

Tentang Amanat Agung Yesus (Matius 28:19), Carey melawan pendapat yang berkata bahwa kata-kata itu hanya berlaku untuk para rasul dan telah digenapi pada waktu gereja mula-mula. Carey mengajukan argumentasinya bahwa sebetulnya tidak ada batasan waktu dalam menjalankan Amanat Agung. "Pergilah" berarti untuk kita semua dan sekarang. Dia juga menjawab tiga hal yang menentang gerakan misionaris.

Pertama, kita menggunakan alasan-alasan untuk tidak melakukan sesuatu: "kita harus menunggu jalannya Tuhan", "kita tidak boleh memaksakan jalan kita". Namun Carey menjawab bahwa tidak seharusnya orang-orang Kristen mengabaikan jalan-jalan yang Tuhan sudah buka setiap harinya.

Kedua, ada yang mengaku bahwa waktunya belum datang untuk kegiatan seperti itu karena banyak nubuatan-nubuatan Alkitab sedang menunggu penggenapan. Carey mengajukan pernyataan bahwa tidak ada nubuatan yang harus digenapi sebelum Injil dibawa sampai ke ujung bumi. Sesungguhnya, Carey telah menyelesaikan sejumlah khotbah tentang kitab Wahyu sebelum keberangkatannya ke India.

Ketiga, untuk mereka yang mengatakan "kita punya cukup banyak pekerjaan di rumah", Carey menanyakan apakah ini alasan yang masuk akal untuk tidak menyampaikan Kabar Baik Yesus Kristus kepada mereka yang tidak memunyai Alkitab, pengkhotbah, atau berbagai fasilitas yang sebenarnya tidak digunakan secara baik di rumah [orang Kristen]

Setia Sampai Akhir

Setelah melihat kembali kehidupan Carey, sangatlah mudah dimengerti mengapa ia dianggap sebagai seorang misionaris besar. Pelayanannya yang tidak pernah padam selama 40 tahun di India memberikan hasil yang luar biasa. Di bawah pengarahannya, Alkitab diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa India dan dialeknya. Ia mendirikan gereja di seluruh kawasan delta Sungai Gangga, dan bahkan mengirim misionaris ke bangsa-bangsa lain. Ia juga mengorganisasi suatu lembaga sekolah untuk anak-anak India dan akhirnya mendirikan Perguruan Tinggi Serampore. Di sana teologi Kristen diajarkan bersama dengan sastra India dan teknologi Barat.

Ia juga pendiri dari Yayasan Pertanian India dan menerbitkan kumpulan esai untuk memperbaiki hasil pertanian. Selain menjadi seorang profesor yang dihormati di Fort William College, ia juga mengemukakan kumpulan-kumpulan kritik pada tulisan Hindu kuno. Ia mendirikan sebuah rumah sakit untuk orang-orang kusta dan sekolah misionari untuk rakyat jelata. Carey berusaha menentang penghancuran kehidupan manusia melalui pembunuhan anak-anak, pengguguran bayi, dan sati, yaitu upacara pembakaran para janda. Persahabatan dan kerja sama dengan umat percaya lain di India diterapkan dengan mengusahakan suatu pertemuan umum dari sejumlah denominasi Kristen dengan tujuan untuk mengoordinasi suatu gerakan penginjilan sedunia.

Setiap tahun pada hari ulang tahunnya, Carey mengevaluasi kembali kehidupannya dan melihat sampai di mana kemajuan rohaninya. Dalam surat pada anaknya, Jabez, ketika hari ulang tahunnya pada tahun 1819, ia mengaku, "Saya berumur 58 tahun pada hari ini, namun masih sedikit yang sudah saya lakukan untuk Tuhan." Semua pencobaan yang dialami Carey selama pelayanannya -- kematian istrinya, kebakaran yang menghancurkan Serampore Press, sakit berat yang diderita istri keduanya, dan kematian anak pertamanya -- patut kita ingat. Dalam menghadapi semuanya ini Carey mengalami pembentukan dalam kehidupan rohaninya. Terungkap dalam buku hariannya yang ditulis selama tahun pertama di India, "Aku merasa sebenarnya bahwa sangatlah baik untuk menyerahkan jiwa raga dan keseluruhan hidupku kepada Tuhan. Barulah kemudian dunia ini terlihat kecil. Janji Tuhan besar dan Dia adalah bagianku yang terbaik."

Dalam mengevaluasi perjalanan hidup Carey, kita harus ingat bahwa keberhasilannya tidaklah berasal dari karyanya sendiri tapi Lebih merupakan suatu kerja sama suatu grup. Hasil kerja dari William Ward, Joshua dan Hannah Marhman, dan orang-orang lain yang mendukung, terutama John Ryland Jr., David Brown, Henry Martyn, dan orang-orang India yang bertobat melalui kesaksian Carey, semuanya merupakan bagian dari suatu mata rantai kerjasama yang saling menunjang dalam mengabarkan Kabar Baik Yesus Kristus ke sejumlah tempat di India dan dunia. Tepat pada saat matahari terbit pukul 05.30 pagi, tanggal 9 Juni 1834, Carey meninggal pada usia 73 tahun. Selama hidupnya ia selalu dihibur oleh lagu-lagu pujian dari Isaac Watts. Salah satu permintaan terakhirnya adalah agar salah satu syair dari lagu ciptaan Watts diukirkan pada batu nisan kuburnya yang berbunyi:

"Seorang yang hina miskin dan tak berdaya, namun dalam naungan-Nya 'ku berada."

Salah seorang yang menyaksikan acara penguburannya adalah seorang misionaris muda dari Skotlandia yang ternama John Leechman. Tanpa diragukan, Ia menulis:

"Dan sekarang apa yang harus kita lakukan? Tuhan telah mengangkat nabi kita Elia ke surga. Dia telah mengangkat guru kita dari benak kita sekarang. Tapi janganlah kita kecewa. Tuhan dari segala misi hidup untuk selamanya. Rencana-Nya harus terus berlanjut. Pintu maut tidak akan bisa membendung gerakan-Nya, atau menghalangi keberhasilan-Nya. Mari, kita memunyai hal lain yang lebih penting daripada hanya berduka dan bersusah. Dengan pemimpin kita yang sudah meninggal itu semuanya berjalan dengan baik, ia telah menyelesaikan perjalanannya secara gemilang. Sekarang, karyanya turun pada kita untuk pencurahan Roh Ilahi yang lebih lagi."

Diambil dan disunting dari:

Judul majalah : Harvester, Edisi Juli -- Agustus 1993
Judul artikel : Peringatan 200 Tahun Misi Modern
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Indonesia Harvest Outreach
Halaman : 7 -- 9

e-JEMMi 35/2010



Terpanggil Bagi Kaum Miskin: Kisah Singkat Pelayanan Bunda Teresa

"By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus."

Itulah yang dikatakan oleh salah seorang tokoh kemanusiaan yang dipenuhi oleh cinta kasih; Bunda Teresa, seorang yang memberi hatinya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat miskin di India. Dilahirkan di Skopje, Albania pada tanggal 26 Agustus 1910, Bunda Teresa merupakan anak bungsu dari pasangan Nikola dan Drane Bojaxhiu. Ia memiliki dua saudara perempuan dan seorang saudara lelaki. Ketika dibaptis, ia diberi nama Agnes Gonxha. Ia menerima pelayanan sakramen pertamanya ketika berusia lima setengah tahun dan diteguhkan pada bulan November 1916.

Ketika berusia delapan tahun ayahnya meninggal dunia dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan finansial. Meski demikian, ibunya, Drane Bojaxhiu memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang. Ibu yang sangat tekun ini sangat memengaruhi karakter dan panggilan pelayanan Gonxha di kemudian hari.

Ketika memasuki usia remaja, Gonxha bergabung dalam kelompok pemuda jemaat lokalnya yang bernama Sodality. Melalui keikutsertaannya dalam berbagai kegiatan yang dipandu oleh seorang pastor Jesuit, Gonxha menjadi tertarik dalam hal misionari. Tampaknya, hal inilah yang kemudian berperan dalam dirinya sehingga pada usia tujuh belas, ia merespons panggilan Tuhan untuk menjadi biarawati misionaris Katolik.

Pada tanggal 28 November 1928, ia bergabung dengan Institute of the Blessed Virgin Mary, yang dikenal juga dengan nama Sisters of Loretto, sebuah komunitas yang dikenal dengan pelayanannya di India. Ketika mengikrarkan komitmennya bagi Tuhan dalam Sisters of Loretto, ia memilih nama Teresa dari Santa Theresa Lisieux. Suster Teresa pun dikirim ke India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Ia memulai pelayanannya dengan mengajar di St. Mary`s High School, Kalkuta. Di sana, ia mengajarkan geografi dan katekisasi. Pada tahun 1944, kariernya sebagai guru melonjak menjadi kepala sekolah St. Mary.

Akan tetapi, kesehatannya memburuk. Ia menderita TBC sehingga tidak bisa lagi mengajar. Untuk memulihkan kesehatannya, ia dikirim ke Darjeeling. Dalam kereta api yang tengah melaju menuju Darjeeling, Suster Teresa mendapat panggilan yang berikut dari Tuhan; sebuah panggilan di antara banyak panggilan lain. Kala itu, ia merasakan belas kasih bagi banyak jiwa, sebagaimana dirasakan oleh Kristus sendiri, merasuk dalam hatinya. Hal ini kemudian menjadi kekuatan yang mendorong segenap hidupnya. Saat itu, 10 September 1946, disebut sebagai "Hari Penuh Inspirasi" oleh Bunda Teresa, panggilan akrabnya. Selama berbulan-bulan, ia merenungkan sebuah visi bagaimana Kristus menyatakan kepedihan kaum miskin yang ditolak, bagaimana Kristus menangisi mereka yang menolak Dia, bagaimana Ia ingin mereka mengasihi-Nya.

Pada tahun 1948, pihak Vatikan mengizinkan Suster Teresa untuk meninggalkan ordonya, dan memulai pelayanannya di bawah Keuskupan Kalkuta. Dan pada tanggal 17 Agustus 1948, untuk pertama kalinya, ia memakai pakaian putih yang dilengkapi dengan kain sari bergaris biru. Ia memulai pelayanannya dengan membuka sebuah sekolah pada tanggal 21 Desember 1948 di lingkungan yang kumuh. Karena tidak memiliki dana, ia membuka sekolah terbuka, di sebuah taman. Di sana, ia mengajarkan pentingnya pengenalan akan hidup yang sehat, serta mengajar anak-anak miskin untuk membaca dan menulis. Selain itu, berbekal pengetahuan medis, ia juga membawa anak-anak yang sakit ke rumahnya dan merawat mereka.

Tuhan memang tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjuang sendirian. Inilah yang dirasakan oleh Bunda Teresa tatkala perjuangannya mulai mendapat perhatian, tidak hanya individu-individu, melainkan juga dari berbagai organisasi gereja. Pada tanggal 19 Maret 1949, salah seorang muridnya di St. Mary bergabung dengannya. Terinspirasi oleh gurunya itu, ia membaktikan dirinya untuk pelayanan kasih bagi mereka yang sangat membutuhkan. Segera saja mereka menemukan begitu banyak pria, wanita, bahkan anak-anak yang sekarat. Mereka telantar di jalan-jalan setelah ditolak oleh rumah sakit setempat. Tergerak oleh belas kasihan, Bunda Teresa dan rekan barunya itupun menyewa sebuah ruangan untuk merawat mereka yang sekarat.

Pada tanggal 7 Oktober 1950, Missionary of Charity didirikan di Kalkuta. Mereka yang tergabung di dalamnya pun semakin teguh untuk melayani dengan sepenuhnya memberi diri mereka untuk melayani kaum termiskin di antara yang miskin. Mereka tidak pernah menerima pemberian materi apa pun sebagai balasan atas pelayanan yang mereka lakukan. Pada awal 1960-an, Bunda Teresa mulai mengirimkan suster-susternya ke daerah-daerah lain di India. Selain itu, pelayanan dari Missionary of Charity mulai melebarkan sayapnya di Venezuela (1965), yang kemudian diikuti oleh pembukaan rumah-rumah di Ceylon, Tanzania, Roma, dan Australia yang ditujukan untuk merawat kaum miskin.

Setelah Missionary of Charity, sejumlah yayasan pun didirikan untuk memperluas pelayanan Bunda Teresa. Yang pertama ialah Association of Coworkers sebagai afiliasi dari Missionary of Charity. Asosiasi ini sendiri disetujui oleh Paus Paulus VI pada tanggal 26 Maret 1969. Meskipun merupakan afiliasi Missionary of Charity, asosiasi ini memiliki anggaran dasar tersendiri. Selama tahun-tahun berikutnya, dari semula melayani hanya dua belas, Missionary of Charity berkembang hingga dapat melayani ribuan orang. Bahkan, 450 pusat pelayanan tersebar di seluruh dunia untuk melayani orang-orang miskin dan telantar. Ia membangun banyak rumah bagi mereka yang menderita, sekarat, dan ditolak oleh masyarakat, dari Kalkuta hingga kampung halamannya di Albania. Ia juga salah satu pionir yang membangun rumah bagi penderita AIDS.

Berkat baktinya bagi mereka yang tertindas, Bunda Teresa pun mendapatkan berbagai penghargaan kemanusiaan. Pada tahun 1979, ia menerima John XXIII International Prize for Peace. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Paus Paulus VI. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh penghargaan Good Samaritan di Boston.

Setelah mengabdikan dirinya selama bertahun-tahun di India, tentu saja pemerintah India tidak menutup mata akan pelayanannya. Maka pada tahun 1972, Bunda Teresa menerima Pandit Nehru Prize. Setahun kemudian, ia menerima Templeton Prize dari Pangeran Edinburgh. Ia terpilih untuk menerima penghargaan tersebut dari dua ribu kandidat dari berbagai negara dan agama oleh juri dari sepuluh kelompok agama di dunia.

Puncaknya ialah pada tahun 1979 tatkala ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Hadiah uang sebesar 6.000 dollar Amerika yang diperolehnya disumbangkan kepada masyarakat miskin di Kalkuta. Hadiah tersebut memungkinkannya untuk memberi makan ratusan orang selama setahun penuh. Ia berkata bahwa penghargaan duniawi menjadi penting hanya ketika penghargaan tersebut dapat membantunya menolong dunia yang membutuhkan.

Pada tahun 1985, Bunda Teresa mendirikan pusat rehabilitasi pertama bagi korban AIDS di New York. Menyusul kemudian, sejumlah rumah penampungan yang didirikan di San Fransisco dan Atlanta. Berkat upayanya ini, ia mendapatkan Medal of Freedom.

Pelayanan Bunda Teresa sama sekali tidak mengenal batas. Dipupuk di kampung halamannya, ia mengawali pelayanan di India. Dari India, pelayanannya meluas hingga ke seluruh penjuru dunia. Ia, di antaranya, berkunjung ke Etiopia untuk menolong korban kelaparan, korban radiasi di Chernobyl, dan korban gempa bumi di Armenia.

Memasuki tahun 1990-an, kondisi tubuh Bunda Teresa tidak mengizinkannya melakukan aktivitas yang berlebihan, khususnya setelah serangan jantung pada tahun 1989. Kesehatannya merosot, sebagian karena usianya, sebagian karena kondisi tempat tinggalnya, sebagian lain dikarenakan perjalanannya ke berbagai penjuru dunia. Menyadari kondisi kesehatannya yang demikian, Bunda Teresa meminta Missionary of Charity untuk memilih penggantinya. Maka, pada tanggal 13 Maret 1997, Suster Nirmala terpilih untuk meneruskan pelayanan Bunda Teresa.

Bunda Teresa akhirnya meninggal dunia pada tanggal 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Berbagai petinggi dari 23 negara menghadiri pemakamannya. Upacara pemakaman diadakan pada tanggal 13 September 1997, di Stadion Netaji, India, yang berkapasitas 15.000 orang. Atas kebijakan Missionary of Charity, sebagian besar yang menghadiri upacara tersebut adalah orang-orang yang selama ini dilayani oleh Bunda Teresa.

Sumber bacaan:

Kumar, Lalit. 2001. Mother Teresa ... Mother To All, Angel of Mercy, dalam http://www.geocities.com/teresaofindia/teresa.html.

Mother Teresa of Calcutta (1910 -- 1997), dalam http://www.vatican.va/news_services/liturgy/saints/ns_lit_doc_20031019_madre-teresa_en.html.

Mother Teresa of Calcutta: Peacemaker, Pioneer, Legend, dalam http://www.ewtn.com/motherteresa/life.htm.

Teresa, Mother. 1987. Heart of Joy: The Transforming Power of Self-Giving. Michigan, Ann Arbor: Servant Books.

Bahan diambil dari:

Publikasi : Biografi Kristiani Edisi 007, Februari 2007.
Penyusun : R.S. Kurnia
Arsip : http://www.sabda.org/publikasi/Bio-Kristi/007/

Dapat diakses juga dari situs Bio-Kristi:
http://biokristi.sabda.org/terpanggil_bagi_kaum_miskin_kisah_singkat_pelayanan_bunda_teresa

e-JEMMi 21/2007

Nate Saint -- Montir Pesawat Bagi Allah

Pentingnya kebutuhan akan pilot mekanik yang ahli telah menjadi kerinduan bagi para pekerja MAF di bulan-bulan pertama mereka merintis pelayanan misinya. Pesawat pertamanya yang jatuh mengakibatkan MAF untuk sementara menghentikan pelayanannya karena tidak ada seorang pun dari pilotnya yang mempunyai keahlian untuk memperbaiki kerusakan pesawat tersebut. Dia adalah Nate Saint yang diutus ke Meksiko untuk melakukan perbaikan yang diperlukan, dan akhirnya Nate Saint menjadi salah satu pilot mekanik yang paling ahli dan inovatif sepanjang sejarah pelayanan misi penerbangan. Meskipun pernah suatu saat muncul perasaan bahwa "menjadi montir pesawat bagi Allah merupakan suatu panggilan yang kurang bermutu", Nate dan para misionaris yang bergantung pada dia mulai menyadari pentingnya pelayanan mekanik yang mereka lakukan itu.

Meskipun Nate Saint telah dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berpikiran misionaris, dan penerbangan juga telah menjadi hobinya sejak masa kanak-kanak, pelayanan penerbangan sama sekali tidak pernah terlintas dalam pemikirannya. Kakaknya yang tertua menjadi seorang pilot penerbangan komersial dan Nate memimpikan masa depan yang sama seperti kakaknya. Untuk meraih cita-citanya, Nate mendaftarkan diri dalam Army Air Corps. Namun belum sempat memulai pelatihan khusus dalam Air Cadet Training Program, bekas luka di kakinya meradang. Luka ini diderita akibat serangan penyakit osteomyelitis pada masa remajanya. Hal ini jelas mengubah jalan hidupnya. "Kemarin aku baru merayakan ulang tahun yang ke-20, penyakit ini menjadi hadiah ulang tahun yang menyedihkan. Seharusnya hari ini aku dalam perjalanan menuju bandara untuk mengikuti hari penerbangan pertama, tetapi aku malah menuju markas untuk melakukan X-Ray." Karena dinyatakan kurang sehat dengan luka di kakinya itu, Nate tidak bisa mengikuti pelatihan penerbangan. Meskipun tetap bergabung dalam Air Corps selama 2,5 tahun, dia mulai memikirkan secara serius tentang memfokuskan dirinya dan hidupnya dalam pelayanan Kristen.

Segera setelah membaca artikel yang ditulis oleh Jim Truxton tentang formasi yang diperlukan MAF, Nate menghubungi organisasi MAF tentang kemungkinan untuk melibatkan diri dalam pelayanan MAF. Jim segera meresponnya. Setahun kemudian, setelah menyelesaikan dinas militernya, Nate menjawab panggilan dari MAF yang mengutusnya ke Meksiko untuk merekonstruksi satu-satunya pesawat yang dimiliki oleh pelayanan misi MAF. Saat menuju Meksiko, Nate sangat bersemangat dengan pelayanan misi ini, tetapi sesampainya di Meksiko dan melihat sayap pesawat yang tersisa dan puing-puingnya, Nate nyaris patah semangat. Meskipun susah, Nate terus bekerja keras untuk memperbaiki pesawat tersebut. Setelah 6 bulan berjuang sembari melawan rasa frustasi yang menyerangnya, Nate akhirnya berhasil membuat pesawat itu kembali mengudara. Melihat kerusakan yang dialami pesawat tersebut dan kondisi-kondisi yang memaksa Nate untuk memperbaikinya, maka perbaikan itu tidak bisa dikatakan sederhana. Penulis biografi Nate mengatakan bahwa apa yang dilakukan Nate di Meksiko menunjukkan kemampuan uniknya dalam melakukan perbaikan-perbaikan pada sebuah pesawat yang pasti juga cukup sulit dilakukan meskipun dalam hangar berperalatan lengkap di Amerika Serikat.

Setelah 6 bulan di Meksiko, Nate kembali ke Amerika dan mengikuti kuliah di Wheaton College selama setahun. Kemudian bertepatan dengan Hari Valentine tahun 1948, Nate menikah dengan Marj Ferris, lulusan dari University of Southern California. Bulan September 1948, pasangan ini menuju ke Ekuador. Nate pergi ke Shell Mera untuk mendirikan markas besar MAF dan membangun sebuah rumah. Marj pergi ke Quito untuk menunggu kelahiran anak pertamanya. Pada bulan Desember, ketika melakukan penerbangan dari Quito, Nate terjebak dalam cuaca buruk dan pesawatnya jatuh. Pesawat itu tidak mungkin diperbaiki lagi dan Nate mengalami luka belakang yang cukup parah. Dia terpaksa dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lama. Pada tanggal 10 Januari 1949, saat Nate masih dirawat di rumah sakit di Panama, Kathy Joan, putri pertamanya, lahir.

Jatuhnya Nate yang kedua kalinya seperti gelombang yang menghantam sepanjang sejarah pelayanan MAF. Di markas besar MAF kerinduan untuk menyelenggarakan pelatihan mekanik yang lebih baik semakin meningkat. Orientasi penerbangan diwajibkan bagi semua pilot misionaris yang baru dan pengaman-pengaman baru ditambahkan dalam setiap pesawat.

Mulai saat itu, target baru yang mulai serius diperhatikan oleh MAF adalah penerbangan hutan (jungle aviation) yang membutuhkan pilot- pilot pemberani yang berkomitmen untuk melayani Allah sekaligus juga berpengalaman dalam petualangan. Pelayanan penerbangan ini bukan merupakan olahraga udara yang menyenangkan, namun merupakan pelayanan yang penuh dengan tantangan dan bahaya. Bahkan Nate sendiri pun mengalami perubahan setelah dia mengalami kecelakaan pesawat. Dia belajar banyak dari pengalamannya yang menyakitkan itu dan dari kecelakaan berikutnya yang juga dialami oleh pilot Gospel Missionary Union dan penumpangnya. Penerbangan hutan menjadi bagian pelayanan yang sangat membutuhkan keahlian khusus. Oleh karena itu, baik pesawat maupun teknik penerbangan perlu dikembangkan untuk mengakomodasi berbagai situasi dan kondisi. Nate mulai menciptakan inovasi-inovasi baru, antara lain sistem bahan bakar alternatif dan pengiriman paket lewat udara (paket-paket diangkut dengan pesawat dan dijatuhkan di tempat-tempat yang telah ditentukan). Teknik pengiriman paket ini menjadi terkenal setelah terjadi kegagalan fatal dalam menjangkau Suku Aucas. Sistem ini memungkinkan untuk mengirimkan maupun mengangkut barang-barang yang dibutuhkan oleh suku-suku Indian yang sangat susah dijangkau.

Meskipun pada awalnya sempat menganggap rendah ide untuk "menjadi montir pesawat bagi Allah", Nate ternyata sangat menyukai pekerjaannya sebagai pilot misionaris. Setiap hari semakin dia melihat pentingnya pelayanan unik yang dilakukannya untuk "menghemat waktu" bagi para misionaris yang melakukan pelayanan di darat khususnya yang melayani wilayah-wilayah yang sulit dijangkau melalui jalan darat. Juga bagaimana dia bisa mengangkut barang-barang persediaan yang diperlukan dalam pelayanan dengan melintasi hutan.

Terjadi kombinasi dorongan hati dan kerinduan yang mendalam dalam hati Nate untuk lebih mempercepat pelayanan penginjilan bagi jiwa- jiwa yang terhilang. Kerinduan itu tiba-tiba telah merenggut nyawa Nate, seorang pilot muda yang berdedikasi dan berotak cemerlang, pada bulan Januari 1956, ketika dia dan kawannya dibunuh oleh Suku Aucas. Hal itu bermula dengan pengiriman paket yang dilakukannya bagi Suku Aucas yang dipikirnya sebagai suku yang ramah. Dengan keahliannya sebagai pilot, Nate dan temannya berhasil mendarat di wilayah Suku Aucas. Namun keahlian dan teknik tersebut tidaklah cukup bagi Suku Aucas sehingga pelayanan penerbangan itu kehilangan salah satu dari pilot-penemu-montir terbaiknya. Kontribusi Nate Saint bagi pelayanan penerbangan tidaklah berakhir dengan kematiannya. Kesaksiannya terus hidup dan banyak orang yang berkomitmen untuk menyerahkan hidup mereka kepada Allah dengan menjadi pilot-pilot misionaris setelah membaca artikel tentang kesaksiannya itu.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 398 -- 401

e-JEMMi 07/2004

Ralph Winter

Pelayanan misi adalah hidupnya. Namun bukan dia saja yang memiliki pelayanan misi, tetapi juga Roberta, istrinya -- yang menjadi partner sepadan dan sepenuh waktu dalam setiap pelayanannya, dan juga keempat putrinya bersama para suaminya. Semua keluarganya mendedikasikan hidup mereka dalam pelayanan misi. Ralph Winter adalah seorang motivator, innovator, ahli yang strategis dan penuh antusiasme. Banyak orang saat ini yang menyebut Ralph Winter sebagai seorang yang paling innovatif dan penuh visi dalam pelayanan misi.

Ralph Winter lahir di Los Angeles pada tahun 1924. Orang tuanya adalah pemimpin di gereja Presbiterian lokal, namun International Society of Christian Endeavor (yang sampai sekarang masih menjadi gerakan pemuda Kristen terbesar di dunia) memberikan pengaruh yang kuat dalam kehidupan keluarga ini, terutama dalam diri Ralph. Latar belakang Injili dan interdenominasi inilah yang mengakar kuat dalam diri Ralph di tahun-tahun ke depan.

Setelah lulus SMA, Ralph kuliah di California Institute of Technology. Namun karir di bidang mesin kurang menarik minatnya. Karena itu setelah lulus dari CalTech, dia melanjutkan kuliahnya di Cornell University untuk mendapatkan gelar Ph.D. dan di Princeton Theological Seminary untuk mendapatkan gelar teologia.

Sebelum menyelesaikan semua pendidikan formalnya, Ralph menikah dengan Roberta Helm yang baru saja lulus dari pelatihan perawat. Roberta mendampingi Ralph sampai dia menyelesaikan pendidikannya. Kemudian mereka berdua memulai pelayanan overseas kepada salah satu suku Mayan Indian di Guatemala. Roberta menjadi partner sepadan yang mendukung pelayanan Ralph.

Setelah 10 tahun melayani di Guatemala, Ralph mengajar di Fuller School of World Mission memenuhi undangan McGavran. Saat itu merupakan kesempatan bagi Ralph untuk memberikan kesan yang tidak terlupakan bagi ratusan misionaris yang mengikuti kelasnya.

Memutuskan untuk meninggalkan Fuller School of Mission bukanlah hal yang mudah. Setelah 10 tahun mengajar, pada tahun 1976 Ralph memutuskan untuk keluar dari Fuller School of Mission dan mendirikan U.S. Center for World Mission (USCWM). Bertahun-tahun semenjak didirikan, USCWM mengalami kesulitan keuangan. Meskipun demikian, fokus pelayanan mereka tidak bergeser yaitu 17.000 suku terabaikan yang tinggal di wilayah dimana gereja Kristen belum dirintis. USCWM menggalang energi dari 300.000 lebih pekerja, dari 64 organisasi misi dan menghubungkan organisasi misi ini dengan gereja-gereja dan organisasi-organisasi mahasiswa.

USWCM merupakan suatu wadah dimana organisasi-organisasi misi bisa mengirim utusannya untuk bekerja sama guna meneliti dan memobilisasi hal-hal yang dibutuhkan untuk menjangkau suku-suku terabaikan.

USWCM bukan satu-satunya pelayanan yang dirintis oleh Ralph Winter. Ralph juga ikut aktif dalam pendirian William Carey Library (badan penerbitan yang khusus menerbitkan buku-buku pelayanan misi Kristen); the American Society of Missiology; Theological Education by Extension; Frontier Fellowship; dan the William Carey International University.

Melalui beragam organisasi dan kontak pribadi yang dijalinnya, Ralph telah mendorong banyak orang untuk mengembangkan ide dan program- program untuk mempromosikan penginjilan dunia. Hal ini menjadi kontribusinya yang paling abadi. Banyak orang, salah satunya adalah Don Richardson, yang berhutang padanya untuk dorongan semangat dan antusiasme yang ditunjukkan Ralph dalam setiap pelayanan yang mereka lakukan sebelum kontribusi Don Richardson di dunia misi dikenali orang banyak. (2006-08-18)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 479 -- 481

Catatan Redaksi:
Dr. Ralph Winter (1924-2009)
Pada tanggal 20 Mei 2009, Dr. Ralph Winter dipanggil pulang ke surga setelah mengalami komplikasi 'multiple myeloma' (sejenis penyakit kanker) -- penyakit yang juga diderita oleh Roberta Winter, yang akhirnya menyebabkan kematian istri yang dikasihinya itu. (Obituari oleh Christian Post)

e-JEMMi 25/2003


Rochunga Pudaite

Rochunga Pudaite adalah seorang misionaris yang sangat dihargai dan memberikan pengaruh besar di negara-negara Dunia Ketiga (Third World). Keterlibatan Ro memberikan dampak yang luas sekali bagi penerjemahan dan pendistribusian Alkitab. Perhatiannya bagi kelompok sukunya sendiri, Suku Hmar, dan juga bagi penginjilan dunia telah menuntunnya untuk melalui jalan-jalan panjang yang sulit dan seringkali mengecewakan dari sebuah desa terpencil di pedalaman hutan bagian timur laut India menuju Wheaton, Illinois. Di Wheaton inilah pelayanan misi dari Ro -- mendirikan Bibles for the World -- membangun kantor pusatnya.

Ro Pudaite dilahirkan di Senvon, sebuah desa di Manipur yang tidak jauh dari perbatasan Burma. Desa ini letaknya sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan New Delhi. Bahkan desa ini tidak terdaftar dalam daftar sensus resmi, tidak mempunyai sekolah negeri atau pun kantor pos. Sampai suatu saat, Ro yang telah beranjak dewasa mengajukan permasalahan ini kepada Nehru.

Petualangan Ro dimulai pada tahun 1932 saat dia berusia 5 tahun. Allah mengutus ayahnya, Chawnga, untuk memberitakan Injil ke Phulpui. Tidak mudah bagi Chawnga untuk meninggalkan kemapanan sebagai gembala jemaat di gereja desa yang telah dirintisnya. Selama ini Chawnga telah menggunakan seluruh hidupnya untuk menginjili sukunya sendiri, Suku Hmar. Dalam waktu kurang dari 50 tahun, ada sekitar 80% penduduk Suku Hmar tersebar ke berbagai tempat yang memberitakan Injil dan mereka berterima kasih atas dedikasinya Chawnga. Meskipun demikian, dia taat kepada Allah yang mengutusnya ke Phulpui. Meskipun hanya sedikit pendidikan yang dimilikinya, Chawnga adalah seorang pembicara yang dinamis dan sangat sesuai dengan pelayanan di bidang perintisan penginjilan. Hanya dalam jangka waktu beberapa bulan, dia telah mendirikan jemaat kecil. Sejak itu dia memulai perjalanannya dari desa ke desa untuk mensharingkan tentang Kabar Baik ke mana pun dia pergi.

Saat Ro berusia 10 tahun, ayahnya berkata tentang pentingnya bagi seorang Hmar Kristen untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi sehingga nantinya dia dapat menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Hmar. Akhirnya Ro memenuhi harapan ayahnya dengan bersekolah di Churachandpur Mission School. Meski tinggal di asrama, selain belajar, Ro juga harus bekerja keras untuk biaya sekolah dan kamarnya. Tiap pagi dia memerah susu sapi, mengurusi kebun sekolah, dan membantu pekerjaan-pekerjaan lainnya. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang. Apalagi studinya menuntut dia untuk belajar keras. Meskipun menghadapi hal-hal tersebut, Ro dengan cepat menunjukkan kualitas kepemimpinannya sehingga dia terpilih sebagai ketua Junior Christian Endeavor. Dia menerima jabatan ini dengan penuh antusias. Dia segera membagi kelompoknya menjadi beberapa tim penginjilan yang bertugas untuk menginjili desa-desa tetangga -- Ro mencontoh teladan yang telah diberikan ayahnya.

Meskipun sukses dalam pelayanan penginjilannya, pendidikan Ro mengalami banyak kesulitan terutama dalam mempelajari bahasa Inggris. Dia pernah mengalami peristiwa yang sangat memalukan saat diminta untuk memimpin doa dalam suatu persekutuan yang menggunakan bahasa Inggris. Dengan gemetar dia berdiri dan berdoa, "Our Heavenly Father, ...." setelah itu pikirannya kosong dan dia tidak bisa mengingat satu kata pun dalam bahasa Inggris. Dia mulai mendengar teman-temannya yang menahan ketawa dan setelah 6-7 menit dalam keheningan, pemimpin persekutuan mengucapkan kata "Amin". Peristiwa ini telah mendorongnya untuk semakin dekat kepada Allah, sumber kemenangan sejati yang menolongnya untuk mengatasi hambatan bahasa tersebut.

Setelah lulus, Ro melanjutkan studinya ke St. Paul's College di Kalkuta. Tantangannya semakin besar apalagi bagi dia sebagai seorang pemuda Hmar. Meskipun demikian, hal itu tidak menghambatnya untuk meneruskan tujuannya -- menerjemahkan Alkitab untuk Suku Hmar. Suatu saat Ro mendapat kesempatan untuk bertatap muka dengan Nehru. Sebagai hasilnya, Suku Hmar mendapat perhatian dari pemerintah dan Ro terpilih sebagai perantara suku ini dengan pemerintah. Bersamaan dengan waktu itu, Ro mendapat telegram dari Watkin Roberts -- orang yang membimbing ayah Ro untuk menerima Kristus. Watkin menawarinya untuk melanjutkan sekolah Alkitab di Inggris atau di Skotlandia. Sungguh keputusan yang sulit, akhirnya Ro memilih untuk melanjutkan studinya.

Di Skotlandia, Ro tidak hanya melanjutkan sekolah Alkitab, tetapi dia juga terus melanjutkan penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Hmar. Dia juga mengontak British and Foreign Bible Society untuk menerbitkannya. Di tempat inilah Ro bertemu dengan Billy Graham yang menyarankannya untuk melanjutkan pendidikan ke Wheaton College, Amerika. Ro memenuhi saran itu. Saat masih studi di Wheaton College, dia berteman dengan para pemimpin Kristen yang berpengaruh, antara lain Bob Pierce dari World Vision dan V. Raymond Edman yang menjadi Wheaton College President. Suatu ketika, Ro mendapat tawaran dari Watkin Roberts untuk mengambil alih Indo-Burma Pioneer Mission yang didirikan Watkin beberapa tahun lalu. Lembaga misi ini hanya mempunyai sekelompok pekerja asing yang sungguh- sungguh mengasihi Allah dan mempunyai kerinduan untuk melayani Allah. Tahun 1958 bersamaan dengan selesainya penerjemahan Alkitab Perjajian Baru ke dalam bahasa Hmar, Ro dipilih sebagai pemimpin Indo-Burma Pioneer Mission. Ro akhirnya kembali ke India. Dalam jangka waktu kurang dari setahun, Ro sudah mendirikan 9 sekolah desa dan sebuah sekolah tinggi Kristen. Pada tahun 1960 pelayanan misi di India berkembang dengan pesat. Sedangkan tahun 1970, di India ada 350 misionaris nasional, 65 sekolah desa, sebuah sekolah tinggi, dan sebuah rumah sakit. Namun setelah itu, perkembangan pelayanan ini banyak mendapat gangguan, terutama karena adanya pemberontakan kaum Komunis dan pengaruh komunisme di kalangan pemuda Hmar sangat besar. Karena itu mereka mengundang Ro agar kembali ke India. Pada saat itu, Ro sedang melanjutkan studinya di Amerika.

Ro memenuhi panggilan tersebut. Dia langsung terlibat pelayanan penginjilan yang telah direncanakan dan disiapkan oleh para pemimpin gereja Hmar. Banyak orang bertobat meskipun mereka harus menghadapi penganiayaan dan penolakan dari keluarganya. Sampai saat itu, fokus pelayanan Ro adalah Suku Hmar dan wilayah-wilayah di sekitarnya. Namun sekarang dia mulai memikirkan untuk memperluas fokusnya yaitu seluruh dunia. Menjangkau dunia tampaknya seperti hal yang mustahil. Hanya untuk mensharingkan Injil ke setiap penduduk India membutuhkan satu tim yang terdiri atas ribuan misionaris dan butuh waktu bertahun-tahun. Pasti ada cara yang lebih baik untuk menjangkau dunia. Ro minta petunjuk dari Allah untuk mencapai visinya itu. Pencerahan di dapat saat dia melihat buku telepon yang berisi daftar nama dan alamat dari orang-orang yang cukup mampu untuk membayar telepon -- orang-orang yang berpendidikan, berpengaruh, dan menjadi pemimpin di berbagai tempat di Kalkuta dan New Delhi.

Pengiriman Alkitab Perjanjian Baru kepada semua pelanggan telepon -- itulah pelayanan yang akan dilakukannya. Ro kemudian menjalin kontak dengan Kenneth Taylor -- penulis Living Bible. The World Home Bible League juga setuju untuk bekerja sama. Dengan kepastian tersebut, Bibles for the World didirikan pada tahun 1971. Pelayanan misi kepada Suku Hmar masih terus dilanjutkan sebagai salah satu bagian dari pelayanan misi internasional ini.

Di halaman pertama dari Alkitab Perjanjian Baru yang didistribusikan terdapat satu kesaksian yang ditulis oleh Ro dan sebuah alamat di New Delhi. Segera setelah pengiriman pertama dilakukan, banyak surat yang masuk. Dari 50.000 Alkitab PB yang dikirimkan telah mendapatkan surat respon sebanyak 20.000 lebih. Hal ini merupakan kesempatan pertama kalinya bagi banyak orang untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Alkitab.

Menjangkau para pelanggan telepon di India saja sudah merupakan suatu tugas yang monumental. Namun Ro memperluas pandangan ke wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Burma, Thailand, Sri Lanka, dan kepada seluruh pelanggan telepon di seluruh dunia. Mengirimkan Alkitab PB dan merespon terhadap surat-surat yang masuk telah membuka kesempatan untuk memberitakan Injil. Semuanya itu bisa terjadi berawal dari visi yang ditangkap oleh Rochunga Pudaite untuk menjangkau dunia bagi Kristus.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 440 -- 444

e-JEMMi 43/2003

William Booth Mendirikan Bala Keselamatan (1865)

Sementara industri bertumbuh, perlakuan semena-mena terhadap kelas- kelas pekerja pun meningkat.

Inggris sedang bergerak dari kehidupan pertanian ke kehidupan yang berorientasi pabrik, dan daerah-daerah kumuh di London pun bertumbuh. Ribuan orang dari dusun membanjiri London, mencari pekerjaan, dan sering kali mereka tinggal serta bekerja dalam kondisi-kondisi yang amat buruk.

Gereja seharusnya menjadi pelopor pertama meringankan penderitaan, namun Gereja sendiri dalam keadaan kekurangan. Seperti di seluruh Inggris, London telah terbagi-bagi dalam jemaat-jemaat, garis-garis yang tidak pernah berubah berabad-abad lamanya. Meskipun penduduk kota kian bertambah, namun Gereja Inggris tidak mempunyai cukup persediaan untuk menambah kaum rohaniwan bagi gereja. Untuk membangun jemaat baru dibutuhkan undang-undang parlemen, yang prosesnya lamban dan panjang.

Methodisme, yang telah menjadi agama kelas menengah khususnya, juga tidak dapat dengan efektif mencapai kelas pekerja. Methodis telah berupaya mencapai orang-orang yang telah berpindah ke Gereja Inggris, namun orang-orang miskin baru yang bermukim di lorong- lorong masih belum tersentuh Injil.

Prihatin dengan keadaan orang-orang miskin, maka pada tahun 1865 William Booth dan istrinya, Catherine, mendirikan misi bagi orang. orang miskin di East End London. Diawali dari sebuah tenda sederhana muncullah pelayanan Bala Keselamatan.

Di sekeliling pasangan penginjil ini terdapat rumah-rumah yang penuh sesak dengan kekerasan keluarga, mabuk-mabukan, prostitusi, dan tuna karya. Kemakmuran yang menjadi lambang teratas kelas menengah Victorian tidak meluas ke East End.

Upaya perundang-undangan tampaknya tidak memecahkan masalah ini, dan William yakin bahwa hal itu akan berubah hanya bila hati berubah. Sekali orang-orang telah mengenal Kristus, perilaku dan kondisi mereka dapat membaik.

Itu tidak berarti bahwa pasangan Booth tidak memperhatikan masalah- masalah di sekeliling mereka. Mereka mendirikan kedai "Food for the Million" (Makanan untuk jutaan orang), dengan menyajikan makanan murah. Jika perut seseorang terisi penuh, ia cenderung lebih mendengarkan berita tentang keselamatan dari Kristus yang disampaikan kepada mereka.

Meskipun banyak ide organisasi Methodisme telah ditinggalkan Booth, namun ia selangkah lebih maju dengan akhirnya menciptakan organisasi yang mengikuti garis-garis militer. Seorang pengikutnya mengiklankan sebuah pertemuan sebagai "The Hallejah Army Fighting for God" (Pasukan Halleluya Bertempur untuk Tuhan). Kontrol Booth yang tegas terhadap organisasinya membuat beberapa orang memanggilnya jenderal. Menjelang tahun 1878, kelompok ini mengambil nama Bala Keselamatan, dan jenderalnya sengaja telah mengorganisasikannya dengan pakaian seragam, perwira-perwira, marching brass band, dan majalah dengan nama The War Cry.

Ada orang-orang Kristen yang tersinggung dengan Bala Keselamatan. Sebenarnya, marching band tidak memiliki kewibawaan musik Anglikan. Apakah Iblis sedang menggunakan Bala Keselamatan untuk membuat kekristenan bahan tertawaan? Namun, Bala Keselamatan meraih sukses. Band-bandnya dapat didengar di jalan-jalan kota, dan mereka memainkan irama-irama populer dan sekuler dengan kata-kata Kristen. "Mengapa iblis harus menguasai semua irama yang terbaik?" tanya Booth.

Selain itu, di bawah pengaruh Bala Keselamatan, kehidupan keluarga- keluarga membaik. Mereka mulai memperhatikan masalah-masalah kelaparan dan tuna wisma, serta Injil diberitakan kepada banyak orang yang bahkan belum pernah menginjakkan kakinya di gereja.

Namun, sementara orang-orang Kristen menentang Bala Keselamatan, beberapa non-Kristen menunjukkan reaksi yang lebih keras lagi. Ketika kelas pekerja bertobat kepada Kristus, mereka menganut kebijakan dengan berhenti minum. Hal ini merugikan perusahaan bir, dan mereka menjadi marah kepada Bala Keselamatan. Pada dua dekade terakhir abad kesembilan belas, perwira-perwira Bala Keselamatan diserang serta bangunan mereka dihancurkan.

Namun, para pengejek itu harus mengakui bahwa Bala Keselamatan telah melakukan tindakan yang baik di kala mereka mengubah pemabuk dan pemukul anak menjadi ayah yang benar dan pekerja yang baik.

Catherine, istri William, dengan kebolehannya mendukung William dalam upaya-upayanya, dan misi mereka ini diteruskan oleh anak-anak asuh mereka yang berjumlah besar. Bala Keselamatan tersebar bukan saja di Inggris, tetapi juga di setiap penjuru dunia.

Dalam seluruh hidupnya, William telah mengadakan perjalanan sejauh lima juta mil, mengkhotbahkan hampir 60.000 khotbah, dan menarik kira-kira 16.000 perwira untuk bekerja dengan dia. Dalam buku terlarisnya "In Darkest England and the Way Out", ia menunjukkan kepada banyak orang zaman Victoria bahwa mereka tidak perlu bermisi ke luar negeri untuk mencari "orang-orang miskin yang belum mengenal Allah" dan yang membutuhkan Kristus. Booth mendirikan agen-agen yang peduli akan kebutuhan fisik dan sosial orang-orang, serta memberitakan Injil. Melalui kariernya, ia telah mengasah teknik- teknik komunikasi dengan orang banyak dan berbagi tentang Kristus. Ketika ia wafat pada tahun 1912, 40.000 orang mengantar dia ke pemakaman.

Ketika Bala Keselamatan membawa berita kepada si miskin di Inggris, ia melakukan pekerjaan yang sama seperti Dia yang melayani para nelayan, wanita-wanita tuna susila dan para penderita penyakit kusta.

Diedit dari sumber:

Judul Buku : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
Pengarang : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, and Randy Petersen
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, 2001
Halaman : 142 - 144

e-JEMMi 11/2004

William Cameron Townsend


(Tokoh Penerjemah Alkitab pada Abad ke-20)

Salah seorang individu yang paling memberi pengaruh besar dalam gebrakan penerjemahan Alkitab pada abad ke-20 adalah William Cameron Townsend -- pendiri Wycliffe Bible Translators (WBT) dan Summer Institute of Linguistics (SIL). Cam Townsend adalah seorang pribadi yang berkeyakinan tinggi, dan memiliki sifat kepemimpinan yang tegas dalam kedua organisasi tersebut dan juga dalam memimpin JAARS (Jungle Aviation and Radio Service). Ketegasan itu seringkali mengakibatkan terjadinya kontroversi. Billy Graham menyebutnya sebagai "the greatest missionary of our time," dan pada saat kematiannya di tahun 1982, Ralph Winter (dari United States Center for World Mission) menempatkannya sebagai salah seorang misionaris yang paling menonjol selama dua abad terakhir ini -- sejajar dengan William Carey dan Hudson Taylor.

Cam Townsend, demikian dia sering dipanggil, lahir di California pada tahun 1896 saat kondisi perekonomian buruk. Pada waktu masih muda ia hidup dalam kemiskinan. Cam dibesarkan dalam lingkungan Gereja Presbiterian (the Presbyterian Church). Dia kuliah di Occidental College, sebuah sekolah Presbiterian di Los Angeles. Memasuki tahun kedua kuliahnya, Cam bergabung dalam Student Volunteer Movement. Pada masa kuliahnya, The Bible House of Los Angeles membutuhkan salesman Alkitab untuk wilayah Amerika Latin dan Cam merasa tertarik. Dia melamar pekerjaan itu dan diterima. Cam ditugaskan di wilayah Guatemala dan berangkat pada bulan Agustus 1917 bersama dengan seorang temannya. Menjual Alkitab di Amerika Tengah -- dimana Alkitab sangat sulit diperoleh -- secara sekilas tampak seperti melakukan pelayanan yang menjanjikan. Namun akhirnya Cam menyadari bahwa usahanya itu ternyata sia-sia saja. Wilayah kerjanya kebanyakan di daerah-daerah pinggiran yang dihuni oleh sekitar 2000 orang Cakchiquel Indian yang sama sekali tidak dapat memahami Alkitab dalam bahasa Spanyol yang dijualnya. Bahkan kelompok orang Indian itu sama sekali belum memiliki bahasa tulis. Saat Cam melakukan perjalanan di daerah-daerah tersebut, dia mulai terbiasa mendengarkan bahasa tutur yang dipakai orang-orang Indian itu. Cam merasa terbeban dengan keadaan mereka. Suatu saat salah seorang dari orang Indian itu berkata padanya, "Jika Allah yang kau sembah benar-benar pintar, mengapa Dia tidak mau mempelajari bahasa kami?"

Cam Townsend tertantang dengan pertanyaan itu dan selanjutnya dia mendedikasikan 13 tahun hidupnya untuk tinggal bersama dengan suku primitif Cakchiquel Indian. Tujuannya yang utama adalah mempelajari bahasa yang mereka gunakan, menyalinnya dalam bentuk tulisan, dan akhirnya yang paling penting adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa tersebut. Setelah bekerja keras selama 10 tahun, akhirnya pada tahun 1929, Cam berhasil menyelesaikan terjemahan Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Cakchiquel Indian. Penerjemahan tersebut memantapkan keyakinan Cam akan pentingnya proyek penerjemahan Alkitab. Cam berkeinginan untuk terus menerjemahkan Alkitab bagi suku-suku yang belum memiliki bahasa tulis. Namun Central American Mission menyatakan bahwa sudah menjadi tugas Cam bahwa ia harus tetap tinggal di wilayah Cakchiquel Indian dan memelihara pertumbuhan iman mereka. Karena perbedaan pendapat tersebut, akhirnya Cam mengundurkan diri. Pada tahun 1934 bersama dengan L.L. Legters mendirikan Cam Wycliffe di Arkansas -- cikal bakal dari Summer Institute of Lingusistics (SIL). Kedua orang tersebut memberi perhatian khusus tentang pelatihan linguistik bagi para penerjemah Alkitab. Meskipun tidak terlibat secara langsung sebagai organisasi misi, namun SIL memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kemajuan dunia penginjilan.

Meskipun SIL memegang peran penting dalam proyek penerjemahan Alkitab, namun bentuknya sebagai organisasi sekuler (dengan tujuan agar dapat menjalin hubungan-hubungan yang baik dengan pemerintah asing) tidaklah sesuai sebagai organisasi pendukung misi. Karena itu pada tahun 1942, Wycliffe Bible Translators -- namanya diambil dari John Wycliffe, penerjemah Alkitab pada abad ke-14 yang dikenal sebagai "The Morning Star of the Reformation" -- secara resmi didirikan.

Bersama dengan Elaine -- istri keduanya (istri pertama Cam, Elvira Malmstrom, meninggal pada tahun 1944) -- Cam melakukan pelayanan di Peru selama 17 tahun, tempat dimana keempat puteranya dilahirkan. Mereka terus melanjutkan pelayanan dan merintis pelayanan di Colombia. Meskipun Cam dikenal sebagai seorang misionaris yang besar, namun dia tetap menganggap dirinya sebagai seorang penerjemah Alkitab. Sesudah melayani selama 50 tahun, saat dimana kebanyakan orang mulai memikirkan tentang pensiun, Cam mempersiapkan diri untuk pergi melayani bersama Elaine ke Uni Soviet. Setelah mempelajari bahwa ada sekitar 100 bahasa tutur di wilayah Caucasus -- dan belum ada terjemahan Alkitab dalam sebagian besar bahasa-bahasa itu -- maka Cam memutuskan untuk melibatkan diri mulai dari awal dalam proyek penerjemahan Alkitab untuk wilayah Caucasus. Jadi, pada umur 72 tahun, Cam bersama Elaine mempelajari bahasa Rusia selama beberapa jam setiap harinya. Setelah persiapan awal itu selesai dilakukan, mereka berangkat ke Caucasus.

Dalam seluruh kehidupannya, ada satu filosofi yang memotivasi Cam dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Alkitab: "The greatest missionary is the Bible in the mother tongue. It never needs a furlough, is never considered a foreigner." ('Misionaris' terhebat adalah Alkitab dalam bahasa ibu/bahasa yang dipahami penduduk setempat. 'Misionaris' ini tidak perlu cuti dan tidak pernah dianggap orang asing.) Filosofi dari Cam inilah yang menjadikan WBT/SIL dan JAARS dapat berkembang sampai saat ini.

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 351 -- 357

e-JEMMi 08/2002

Florence Nightigale : Terang Kristus dalam Pekatnya Dunia Perawat

Keputusannya menyentak seisi rumah. Keluarganya tak menyangka bahwa gadis manis yang telah terbiasa hidup senang memilih menjadi perawat, padahal citra perawat pada waktu itu buruk.

Sebuah Visi
Florence gadis manis yang cantik itu lahir di kota Florence, Italia pada 12 Mei 1820. Flo, begitu panggilannya, dilahirkan dari keluarga kaya. Karena itu hidupnya bergelimang kesenangan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia merasa prihatin dengan orang-orang yang hidup miskin.

Pada 7 Pebruari 1873, Florence mendapat visi untuk mengabdi kepada masyarakat. Dalam buku pribadinya ia menulis, "Tuhan telah bersabda kepadaku dan memanggilku untuk mengabdi kepada-Nya." Visi itu selalu menantangnya untuk mematuhi panggilan mulia ini. Namun, tampaknya hal ini tidak semudah yang ia bayangkan.

Keluarganya, terutama sang ibu, menentang keinginannya. Rupanya keluarga Flo memiliki obsesi khusus bagi masa depannya. Untunglah ia seorang wanita yang terdidik sehingga dapat menahan perasaan di hatinya. Namun tanpa disadarinya, pengekangan itu justru membuatnya makin tertekan sehingga ia jatuh sakit. Oleh karena itu, ia pergi ke rumah bibinya.

Di rumah bibinya Florence merasa agak terhibur. Ia menekuni pelajaran matematika, bahasa Yunani, dan Filsafat. Sewaktu sang bibi menyampaikan kegiatan Flo di London, ibunya tidak setuju. Bagi ibunya takdir Florence adalah menikah dan mengurus rumah tangga dengan baik.

Menantang Badai
Rasa simpati Flo terhadap kehidupan di sekitarnya yang miskin dan menderita mulai membuatnya nekad. Karena itu, ia tak segan mengunjungi mereka sambil membagikan sup dan uang. Flo begitu gemas terhadap para gadis yang menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli pakaian mahal yang dijahit oleh para gadis lain yang harus menahan lapar.

Di benak Flo yang ada hanyalah keprihatinannya terhadap penderitaan manusia. Karena itu, ia bertekad menjadi orang yang berguna bagi orang miskin. Tetapi apa yang dapat dilakukannya? Tampaknya menolong orang melarat bukanlah pekerjaan yang tepat baginya. Karena itu, untuk beberapa waktu ia agak bingung menentukan ladang pelayanan yang tepat guna merespon panggilan Tuhan yang diterimanya.

Pada tahun 1844, saat Florence berusia 24 tahun, ia menemukan pekerjaan yang cocok untuk memenuhi panggilannya, yaitu menjadi perawat. Tanpa berkonsultasi dengan orangtuanya ia memutuskan belajar tentang keperawatan. Keputusannya membuat sang ibu marah, bahkan Parthe, kakak Flo histeris. Namun tekadnya telah bulat. Secara diam-diam ia mulai mempelajari laporan-laporan tentang rumah sakit untuk memperbaiki citra perawat yang buruk waktu itu.

Selama beberapa tahun Flo mengalami ketidakpastian hidup. Kekecewaan demi kekecewaan dialaminya silih berganti. Ibu dan kakaknya selalu mencercanya. Mereka tak mampu merasakan pergumulan batinnya. Tahun 1849 Flo hampir bunuh diri. Namun ia dapat mengatasinya.

Ia, bahkan sempat jatuh cinta pada Robert Milnes seorang lelaki cerdas yang dikaguminya. Sayang, rasa cintanya itu tidak terpenuhi. Pasalnya bagi Flo pernikahan hanya akan menghalangi pengabdiannya. Dengan berat hati ia menolak pinangan lelaki pujaannya.

Pada Oktober 1846 seorang temannya memberi informasi tentang keadaan rumah sakit milik gereja yang ada di Kaiserswerth, Jerman. Sesampainya di Kaiserswerth ia melihat pastor menghimbau para wanita Kristen untuk menjadi perawat. Selama dua minggu di kota itu Flo mengamati para suster merawat orang sakit dan itu berkesan baginya. Karena itu, ia juga bertekad mengajak wanita lain untuk terlibat pelayanan kemanusiaan.

Sekembalinya dari Kaiserswerth, ibu dan saudaranya mengomel dan meminta agar Flo tidak menyebut-nyebut kota itu lagi. Mereka berasumsi bahwa pekerjaan sebagai perawat hanya mempermalukan keluarga.

Meski kendala dari keluarganya datang beruntun, ada saat bagi Flo untuk mengambil keputusan. Kali ini dengan berat ia harus menentang keluarganya apa pun alasan atau risiko yang bakal dihadapinya.

Ia belajar ilmu keperawatan di Jerman, kemudian di Prancis. Pada waktu itu berbagai rumah sakit yang ada bersifat sektarian. Karena itu, ketika ia hendak belajar di Rumah Sakit Katholik, Flo yang beragama Protestan meminta nasihat Pastor Manning di Inggris. Hasilnya, kardinal itu menganjurkan Flo mengikuti latihan keperawatan di rumah sakit yang dikelola oleh para suster Katholik.

Setelah pengetahuannya tentang keperawatan cukup memadai, ia kembali ke London dan menjadi guru sebuah rumah sakit besar. Di rumah sakit ini rasa cintanya terhadap manusia yang menderita semakin besar. Karena itu, ia menentang diskriminasi yang berlaku pada waktu itu. Flo yakin bahwa sikap hidup yang demikian tidak sesuai dengan kasih yang diajarkan Tuhan Yesus.

Selain belajar tentang keperawatan, ia juga giat mempelajari segala kekurangan yang menyebabkan pelayanan rumah sakit menjadi buruk. Atas ketekunan dan kejeliannya dalam melakukan pelayanan, ia menjadi orang yang sangat dicintai. Ia menulis semua pengamatannya dalam tulisan ilmiah yang memuat segala kekurangan dan jalan keluar pada sistem rumah sakit di Inggris. Tulisan ini membuat Flo semakin terkenal.

Flo kemudian dipercaya mengkoordinasi pelayanan kesehatan tentara Inggris dan sekutu selama perang Krim. Di Rumah Sakit Militer Scutari ia melihat kondisi dan pengelolaan rumah sakit yang buruk. Ia menyaksikan para serdadu bergelimpangan dan terluka sekarat dibiarkan begitu saja bak binatang tak berharga. Flo melengkapi rumah sakit dengan berbagai perlengkapan yang memadai, bahkan merenovasinya dengan hasil donasi dan uangnya sendiri.

Setelah perang usai perjuangan dan kegigihannya semakin dikenal. Di Inggris ia dianggap sebagai malaikat penyelamat perang Krim yang ganas itu. Ia menerima berbagai pujian dan penghargaan. Sumbangan yang datang berjumlah banyak sehingga diputuskan mendirikan Yayasan Nightigale yang menangani sebuah lembaga pelatihan keperawatan.

Seusai perang Krim, Flo tampak kelelahan. Tenaganya telah terkuras dalam perjuangan di medan perang. Saat itu ia berpikir bahwa inilah akhir perjuangannya. Ia tak pernah membayangkan bahwa itu baru permulaan dari suatu perjuangan panjang yang membutuhkan pengorbanan. Perang Krim bagaikan laboratorium bagi kasus yang berhubungan dengan keperawatan. Pengamatan yang dilakukan Flo terhadap puluhan rumah sakit di Eropa dan di barak-barak militer menunjukkan bahwa kematian para pasien sering diakibatkan oleh bangunan yang lembab, kotor, tanpa ventilasi, saluran air yang tidak teratur dan jatah makanan minim.

Lentera yang Memudar
Selama 50 tahun sisa hidupnya, Florence Nightigale menjadi cacat dan lumpuh. Pada hari-hari itu ia tidak lagi dapat bergerak bebas karena selalu berada di atas kursi roda. Inilah yang membuatnya kesepian. Apalagi setelah kematian Sidney Herbert dan beberapa teman yang membantunya. Semuanya itu menggoncangkan jiwanya. Namun Flo tetap berjuang menjalankan tugasnya.

Atas perjuangannya, Flo dapat mempengaruhi pemerintah India untuk memperbaiki sistem kesehatan di negeri Sungai Gangga. Ia juga berhasil membangkitkan reformasi asrama gelandangan di Inggris dan menulis ribuan halaman kertas kerja yang revolusioner di bidang keperawatan. Beberapa karya monumentalnya antara lain, sekolah perawat wanita di St. Thomas`s Hospital London dan sebuah karya berjudul `Notes on Nursing of The Sick Poor`.

Henry Dunant pendiri Palang Merah Internasional dan pelopor Konvensi Jenewa pun mengakui bahwa kertas kerja Florence merupakan ilham bagi dirinya untuk melakukan hal-hal berguna bagi kemanusiaan. Bahkan, apa yang dilakukan Henry Dunant merupakan penghargaan bagi Florence Nightigale.

Tahun 1906 Flo menjadi pikun, sehingga semua kegiatannya otomatis terhenti. Namun, apa yang telah dilakukannya merupakan karya abadi yang tidak mungkin dilupakan. Sebelum kematiannya, di seluruh dunia telah berdiri ribuan sekolah perawat dan semua diakui sebagai karya Florence Nightigale. Ia meninggal pada 13 Agustus 1910 dalam usia 90 tahun.

Ia telah menjadi ibu terbaik bagi ribuan pasien yang menderita sakit. Terang Kristus yang bersinar melalui Florence Nightigale yang dijuluki dengan wanita dengan lentera benar-benar telah menyinari lorong-lorong gelap kesehatan manusia. Walaupun lentera di tangannya telah padam karena ia telah berpulang ke rumah Bapa di surga, Flo telah berhasil menyalakan banyak lentera lain yang menyala secara estafet sehingga tak akan padam sampai akhir dunia.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku:Tokoh-tokoh Kristen yang Mewarnai Dunia
Judul Artikel:Florence Nightigale
Penulis:Rudy N. Assa
Penerbit:Yayasan Andi, Yogyakarta, 2002
Halaman:249 - 260

e-JEMMi 34/2005


David Livingstone -- Mahasiswa Kedokteran

David Livingstone dilahirkan tahun 1813 di tengah-tengah situasi gencarnya Revolusi Industri di Inggris. Rumahnya terdiri atas satu ruangan berhadapan dengan pabrik pemintalan kapas -- pabrik tempat di mana ia bekerja empat belas jam sehari sejak usia sepuluh tahun. Meskipun demikian, hal itu tidak mengendurkan semangatnya untuk menuntut ilmu. Dia melanjutkan pendidikannya dengan mengikuti sekolah malam. Membagi waktu antara bekerja dengan belajar tidaklah mudah. Namun David bisa mengatasi kesulitan-kesulitan selama mengenyam pendidikan. Sambil bekerja, ia membaca buku-buku yang ditaruhnya di atas pemintal benang tempatnya bekerja. Ia mengalami pertobatannya di usia belasan tahun. Namun, karena keluarga tidak menganggap pendidikannya sebagai prioritas, maka dia baru memulai kuliahnya di Anderson`s College tahun 1836 di Glasgow. Dia belajar tentang misiologi dan pelayanan medis.

Setelah membaca suatu seruan mengenai dibutuhkannya utusan Injil dalam bidang kedokteran di Cina, yang ditulis oleh utusan Injil berkebangsaan Jerman, Karl Gutzlaff, Livingstone memantapkan pilihannya untuk dilatih menjadi dokter untuk pelayanan misi. Pendidikan medis dan teologi di Glasgow membuatnya diterima oleh London Missionary Society (LMS) pada tahun 1838 untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut. Akan tetapi, karena pecahnya Perang Candu yang pertama, pelayanan ke Cina ternyata menjadi tidak memungkinkan untuk dilakukan. Walau demikian, berkat kedekatan hubungannya dengan Robert Moffat (1795 - 1883), yaitu utusan Injil LSM terkenal di Afrika Selatan (dan kelak menjadi ayah mertua Livingstone), pemuda Skotlandia inipun terdorong untuk menjadi relawan yang diutus melayani di bagian Selatan benua Afrika.

Livingstone memulai kariernya sebagai utusan Injil di pangkalan Kuruman, tempat Moffat bertugas, pada tahun 1841. Begitu mulai, dia dengan segera bergerak lebih jauh ke pedalaman untuk mencari orang- orang yang belum terjangkau Injil. Dari tahun 1843 sampai tahun 1853 ia bekerja di antara suku Tswana, tetapi hanya satu jiwa yang dapat dimenangkannya, yaitu Seehele, kepala suku Bakwera -- sebagai hasil jerih payahnya. Sasaran Livingstone semakin terpusat pada wilayah yang jauh lebih ke Utara, di kedua sisi Sungai Zambesi. Di daerah ini penduduknya lebih padat dan berada di luar jangkauan para petani Boer yang berasal dari Selatan; lebih dari itu semua, Sungai Zambesi menawarkan kemungkinan terbukanya jalur untuk perdagangan yang `sah`, yang dipercayai oleh Livingstone sebagai satu-satunya kekuatan yang dapat menghalau perdagangan budak dari daerah itu.

Awalnya, ia memutuskan untuk berusaha menembus ke arah Barat laut, ke pantai Atlantik, dengan harapan akan menemukan jalur lain menuju Afrika tengah yang tidak melintasi daerah orang Boer yang memusuhinya. Setelah menempuh suatu perjalanan dengan keberanian yang sangat menakjubkan, Livingstone tiba di pantai di Luanda pada bulan Mei 1854. Karena kecewa dengan jalur pantai barat ini, ia tidak hanya maju kembali mengikuti jejaknya sendiri, tetapi ia bahkan menyusuri tepi Sungai Zambesi sampai ke muaranya di Samudera Hindia. Ia tiba di sana pada bulan Mei 1856 setelah menempuh perjalanan sejauh 2500 mil.

PAHLAWAN NASIONAL
Livingstone kembali ke Inggris pada bulan Desember 1856 dan mendapatkan dirinya disambut meriah sebagai pahlawan nasional. Prestasi geografisnya merupakan sesuatu yang belum pernah dicapai sebelumnya, dan hal ini terlaksana karena suatu alasan yang sesuai dengan semangat penginjilan di Inggris -- yaitu dihapusnya perdagangan budak yang dibenci itu dari benua Afrika. Namun demikian, sambutan publik ini menyelubungi suatu perbedaan pandangan yang serius di antara Livingstone dan LMS, yang telah timbul jauh sebelum Livingstone kembali. Livingstone membicarakan rencana kembali ke Afrika untuk "mencoba merintis jalan untuk perdagangan dan kekristenan". Karena menyadari bahwa LMS tidak akan membantunya untuk terlibat dalam penjelajahan dan perdagangan, Livingstone membiarkan berlanjutnya negosiasi dengan Pemerintah Inggris mengenai penunjukannya sebagai konsul Inggris. Pada bulan Oktober 1857 ia memberitahukan kepada LMS bahwa perjalanan kembalinya ke Afrika tidak lagi memerlukan bantuan organisasi tersebut, dan pada bulan Maret tahun berikutnya ekspedisi Zambesi berangkat berlayar di bawah pimpinan Livingstone.

Ekspedisi ini ternyata merupakan bencana. Dalam perjalanan lintas- Afrika ini, Livingstone telah terburu-buru membuat kesimpulan yang keliru, ia mengira bahwa Sungai Zambesi dapat dilayari seluruhnya. Ia juga terlalu memandang ringan riam-riam di Cabora Bassa. Ketidakmungkinan riam-riam ini untuk dilayari kapal-kapal uap telah menghancurkan gagasan Livingstone untuk menjadikan Sungai Zambesi sebagai jalur utama penginjilan dan perdagangan ke pusat benua Afrika. Sebagai gantinya, ia berpaling ke Sungai Shire, yang mengalir di sebelah utara dari Sungai Zambesi menuju Danau Malawi, yang ternyata berada di ujung sungai tersebut. Tanah di ujung selatan danau ini tampaknya berpenduduk cukup padat dan dapat dimanfaatkan untuk budi daya kapas; kehadiran perdagangan Kristen di sana mungkin dapat mematahkan sebagian besar perdagangan budak di Afrika Timur pada sumbernya. Sebelum gagasan tersebut terlaksana, pemerintah Inggris memanggil pulang rombongan ekspedisi ini pada tahun 1863. Demikianlah salah satu episode yang paling menyedihkan dalam hidup Livingstone, yang ditandai dengan perselisihan terus- menerus antara Livingstone dengan rekan-rekan seperjalanannya, dan mencapai puncaknya dengan kematian istrinya, Mary, pada bulan April 1863.

Sambutan terhadap Livingstone di Inggris ketika ia pulang untuk kedua kalinya pada tahun 1864-1865 jauh lebih dingin daripada tahun 1856-1858. Pemerintah Inggris telah kehilangan antusiasmenya yang mula-mula terhadap rencana-rencananya. Ia kembali ke Afrika untuk terakhir kalinya sebagai konsul yang tidak dibayar, dengan menyandang wewenang yang sekedar nama saja. Tahun-tahun terakhirnya dilalui dengan menjelajahi wilayah yang belum pernah dilewati antara Danau Malawi dan Tanganyika. Selama bertahun-tahun, sangat sedikit kabar mengenai keberadaan dan keselamatannya yang dapat diketahui dunia luar.

Berbagai rombongan ekspedisi diutus untuk mencari Livingstone. Rombongan yang dipimpin oleh wartawan ternama H.M. Stanley mungkin yang paling banyak dipublikasikan dan paling berhasil. Pertemuan Stanley dengan Livingstone pada bulan November 1871, diikuti dengan berita kematiannya yang menyedihkan di Chitambo pada 1 Mei 1874, semua ini mengokohkan anggapan bahwa sekali lagi Livingstone merupakan legenda, lambang kepahlawanan dari semangat yang mendorong penginjilan sebagai inti dari kekristenan pada zaman Victoria.

MENEMBUS MITOS
Beberapa gagasan Livingstone kedengarannya usang dan eksentrik. Harapannya untuk menghapuskan perdagangan budak dengan cara memperkenalkan perdagangan resmi bahan-bahan mentah dari Afrika kepada para industriawan Eropa, mencerminkan pengaruh intelektual masa mudanya yang khususnya didapat dari gagasan ahli filsafat ekonomi berkebangsaan Skotlandia, Adam Smith. Usaha-usaha Livingstone untuk menggabungkan pekerjaan penginjilan di Afrika tengah dengan perdagangan Eropa tidak membuahkan hasil. Setelah kematiannya, keyakinan terhadap rumusan utusan Injil dari awal zaman Victoria ini mengenai "perdagangan dan kekristenan" sedikit demi sedikit memudar.

Livingstone berkeyakinan bahwa Allah bekerja melalui setiap jenis aktivitas manusia -- dalam penemuan-penemuan wilayah geografis atau hubungan dagang -- sama halnya dalam ruang lingkup kekristenan yang kuat untuk membawa pergerakan sejarah menuju suatu "penyempurnaan yang gemilang" saat dimana pemerintahan Kristus akan mencapai puncaknya. Pandangannya tersebut merupakan wawasan kristiani yang khas pada zaman Victoria dalam hal optimisme rasionalnya. Meskipun begitu, wawasannya yang luas dalam bidang penginjilan juga selalu mengingatkan jemaat gereja pada masa-masa yang kurang meyakinkan, bahwa pertobatan dalam Kristus memang membawa dampak terhadap kehidupan ekonomi dan budaya suatu masyarakat.

EKSPANSI DALAM PENGUTUSAN INJIL
Satu hal yang lebih relevan dengan masa kini ialah tuntutan Livingstone yang tidak berubah, yaitu bahwa semboyan dalam strategi penginjilan seharusnya bukanlah konsolidasi (penggabungan), melainkan ekspansi (perluasan). Ia mengritik LMS yang memusatkan sumber-sumber pengutusan Injilnya pada gereja-gereja yang sudah mapan di wilayah koloni di Semenanjung Afrika Selatan, sementara sejumlah besar orang-orang yang tinggal di bagian lebih utara diabaikan. Ia mengingatkan bahwa politik konsolidasi yang kuat menyebabkan timbulnya gereja-gereja yang didominasi oleh para utusan Injil: "pengawasan yang terus-menerus dan pengendalian yang tidak berkesudahan akan melemahkan para malaikat." Laju pertumbuhan gereja-gereja Afrika, debat Livingstone, berbanding terbalik dengan jumlah utusan Injil yang ditempatkan di antara mereka.

Dalam beberapa hal, sebenarnya, Livingstone telah merintis teori pertumbuhan gereja modern. Ia membenarkan strateginya untuk terus mendesak maju melewati suku Tswana dan menginjili suku-suku di sekitarnya sebagai "satu-satunya cara yang memberi harapan yang rasional, sehingga bila orang-orang tersebut mau berpaling kepada Allah, mereka akan datang secara berkelompok."

Menyadari bahwa tingkat penerimaan terhadap kekristenan di antara sebagian besar orang Afrika pada saat itu sangatlah rendah, ia mendorong agar usaha-usaha penginjilan dipusatkan bukan demi memperoleh pertobatan-pertobatan dari penduduk yang terpencil dalam suatu wilayah terbatas yang telah ditaburi benih Injil dengan baik, tetapi melalui penyebaran yang seluas-luasnya mengenai kebenaran dan prinsip-prinsip kristiani sehingga tercipta suatu kondisi yang memungkinkan seluruh suku untuk berpaling kepada Kristus.

Menurut David Livingstone, tidak akan mungkin memperoleh hasil tuaian penginjilan yang besar jumlahnya tanpa didahului usaha yang sungguh-sungguh untuk menabur pada lahan yang seluas-luasnya. Dan dengan pandangan itulah, seluruh usaha penginjilannya tersebut dilakukan. Gereja-gereja Protestan di wilayah Afrika sub-Sahara yang sebagian besar didirikan setelah masa-masa penjelajahan Livingstone, sekarang merupakan gereja-gereja yang terkuat di dunia. Livingstone meyakini dirinya telah dipimpin oleh Allah untuk "membuka" Afrika bagi penginjilan. Lebih dari seabad setelah kematiannya, terbukti ia memang benar.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Majalah:Sahabat Gembala, Aug 1995
Judul Artikel:David Livingstone
Penulis:Brian Stanley
Penerbit:Yayasan Kalam Hidup -- Gereja Kemah Injil Indonesia
Halaman:24 - 28

e-JEMMi 47/2005


Marianna Slocum

Marianna dibesarkan di Philadelphia, di mana ia menyelesaikan kuliahnya untuk kemudian mengambil kursus di Sekolah Alkitab Philadelphia. Ayahnya adalah seorang profesor dan penulis yang produktif. Meski demikian, kecintaan Marianna pada bahasa dan menulis tampaknya memang muncul secara alamiah. Ketika baru mulai menjadi mahasiswi, ia merasa bahwa Tuhan menuntunnya untuk terlibat dalam pelayanan penerjemahan bahasa suku. Ketika lulus, ia mengikuti Camp Wycliffe dan bergabung dengan pelayanan Wycliffe Bible Translation pada musim panas tahun 1940. Tugas pertamanya adalah menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku Chol yang tinggal di ujung selatan wilayah Chiapas di Meksiko. Jarak wilayah tersebut hanya satu hari mendaki ke wilayah suku Tzeltal tempat Bill Bentley, seorang pemuda yang pernah dikenal Marianna di Camp Wycliffe, mengerjakan proyek terjemahan juga.

Pada bulan Pebruari 1941, Bill dan Marianna bertunangan dan pada musim panas berikutnya mereka kembali ke Amerika Serikat untuk merencanakan sebuah upacara pernikahan sederhana. Sejauh ini kisah asmara mereka memang seperti sebuah dongeng. Namun, semuanya berakhir dengan tragis pada 23 Agustus, enam hari sebelum hari pernikahan mereka. Bill meninggal dunia ketika tidur, diperkirakan akibat serangan penyakit jantung yang tak pernah ia ketahui selama bertahun-tahun. Setelah pemakamannya di Topeka, Kansas, Marianna pergi ke Camp Wycliffe dan berniat untuk mengambil alih kelanjutan proyek penerjemahan bahasa Tzelta yang ditinggalkan Bill.

Marianna berangkat ke Mexico sendirian. Namun, tak lama kemudian ia disusul oleh seorang penerjemah wanita dan mereka tinggal bersama dalam satu kamar di sebuah rumah perkebunan kopi milik seorang warga Jerman yang dulu juga pernah ditempati Bill saat masih bekerja bersama kelompok suku Tzelta. Tahun-tahun awal pelayanannya menjadi masa yang cukup berat bagi Marianna. Mereka terutama berurusan dengan orang-orang Indian yang masih mempunyai kebiasaan bermabuk- mabukan, berkelahi, dan secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya atas kehadiran dua wanita Amerika itu. Setelah beberapa saat, rekan pertama Marianna pergi dan digantikan oleh rekan-rekan sementara yang datang dan pergi sampai pada tahun 1947, ketika Florence Gerdel, seorang perawat, datang membantu untuk sementara waktu. Namun akhirnya, ia malah menetap di wilayah itu lebih dari dua puluh tahun.

Bagi Marianna dan Florence, tugas-tugas mereka terlihat tak mungkin diatasi. Setiap hari Marianna berjuang keras mengatasi kesulitan berbahasa, sementara Florence berjuang menghadapi alkohol, ketidakkudusan hidup, takhyul, dan kuasa roh jahat dari dukun-dukun setempat. Dari semua usaha yang mereka lakukan, hanya ada sedikit tanda yang menunjukkan kesuksesan. Hampir tujuh tahun berlalu sebelum seorang Indian suku Tzeltal -- anak seorang dukun -- menyatakan iman pertobatannya kepada umum. Kesaksiannya tersebut diuji juga dengan adanya penganiayaan yang diikuti oleh pertobatan warga yang lain hingga hampir mencapai 100 orang di Desa Corralito. Kebaktian Minggu mulai diadakan dan segera diikuti oleh ratusan orang Indian dari berbagai penjuru wilayah. Tidak ada yang bisa menghalangai kerinduan mereka untuk beribadah meskipun ada hujan deras yang mengakibatkan jalan berlumpur dan arus deras yang mempersulit perjalanan.

Tanggal 6 Agustus 1956 menjadi hari yang paling menggembirakan bagi Marianna dan lebih dari 1000 orang Kristen suku Tzeltal. Sebuah pesawat kuning milik MAF (Mission Aviation Fellowship) mendarat dengan membawa kiriman pertamanya yang sangat berharga, yaitu edisi pertama kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Oxchuc, bahasa suku Tzeltal. Kebaktian ucapan syukur segera diadakan. Lalu para orang Indian berbaris untuk mendapatkan salinan firman Tuhan dalam bahasa mereka. Hari itu adalah puncak pelayanan dari lima belas tahun kesepian dan kesulitan yang selama ini dialami Marianna yang tentu saja menjadi hari yang terindah dalam hidup Marianna.

Setelah menyelesaikan penerjemahan kitab Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, Marianna tahu bahwa pelayanannya dengan orang Tzeltal sudah selesai. Gereja telah berdiri di bawah kepemimpinan lokal dan Florence mulai mengubah arahnya ke pelayanan kesehatan bagi orang-orang Indian yang ia latih. Tersebutlah sebuah kelompok suku Tzeltal lainnya, orang Bachajon yang tinggal di tengah hutan, yang belum mengenal bahasa tulisan. Pada April 1957, setelah sebuah penerbangan singkat bersama MAF dan 6 jam mendaki, sekali lagi Marianna dan Florence mendapati diri mereka di tengah budaya yang sangat berbeda dan asing. Mereka pun seperti kembali ke awal lagi.

Pengalaman menerjemahkan yang telah dimiliki Marianna mempercepat proses penerjemahan yang kedua ini. Pada tahun 1965, hanya delapan tahun setelah kedatangan mereka, sekali lagi mereka membagikan kitab Perjanjian Baru bahasa Bachajon sebagai batu peringatan dalam pelayanan mereka. Penerjemahan itu bukan satu-satunya yang mereka kerjakan. Florence mengadakan pelayanan kesehatan dan melatih asisten-asisten medis dari penduduk setempat. Kemajuan pesat juga terjadi dalam hal penginjilan. Ketika salinan terjemahan Perjanjian Baru itu tiba, orang-orang Kristen yang berasal dari empat puluh kongregasi lebih -- beberapa di antaranya berasal dari wilayah yang sangat jauh -- datang untuk menjumpai pilot MAF. Tangisan bahagia mewarnai kedatangan salinan kitab Perjanjian Baru tersebut dan banyak orang antri untuk mendapatkannya.

"Berapa harga sebuah kitab itu?" Inilah pertanyaan yang berulang kali muncul dari orang-orang Indian yang sedang antri. Harga 17,5 peso tentu adalah jawaban atas pertanyaan mereka, namun harga yang sebenarnya tidak dapat diukur dengan uang. Kesepian, kesakitan, ketidakramahan, kehidupan yang primitif, pengorbanan hidup pernikahan, dan keluarga adalah harga yang harus dibayar selama proses penerjemahan kitab Perjanjian Baru bahasa Bachajon itu. Harga yang sungguh mahal, namun telah dibayar Marianna dengan sukacita. Dan ketika pekerjaannya dengan orang Bachajon selesai, sekali lagi ia dan Florence memulai hal yang sama di wilayah Pegunungan Andes Selatan, Columbia. (t/Ary)

Bahan diterjemahkan dan diringkas dari sumber:

Judul Buku : From Jerusalem To Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Judul Artikel: Marianna Slocum
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan, Amerika, 1983
Halaman : 360 -- 363

e-JEMMi 19/2006


Dawson Trotman -- Kehidupan yang Berdisiplin

Penginjil Billy Graham memimpin upacara pemakaman Dawson Trotman pada tahun 1956 setelah Trotman meninggal saat berusaha menyelamatkan seorang perenang di sebuah danau di bagian Utara New York.

"Saya kira Dawson Trotman telah menyentuh hidup orang banyak demi Kristus secara pribadi ketimbang siapa pun yang pernah saya kenal," ujar Graham.

Graham mengenal Trotman dan pelayanan yang didirikannya -- The Navigators -- dengan baik. Ia juga menggunakan bahan-bahan yang dikembangkan oleh Trotman sebagai tindak lanjut pengajaran dalam kampanye penginjilannya.

Pengaruh The Navigators (di Indonesia disebut Para Navigator) telah berkembang ke seluruh dunia dengan 3.600 staf yang mewakili 60 bangsa dan bekerja di 101 negara.

Trotman mendirikan The Navigators pada tahun 1934. Ia memulai bahan- bahan pengajaran Alkitabnya dan membawanya melalui masa-masa pembentukan, berkembang mulai dari penekanan awal untuk memuridkan para anggota militer hingga kemudian untuk menginjili para mahasiswa dan kaum awam.

Adapun yang menjadi perhatian bagi Trotman dan pelayanan yang didirikannya sampai hari ini ialah pemuridan orang percaya -- untuk memberi landasan bagi orang-orang Kristen dalam hal disiplin rohani, dalam doa, penyembahan, pemahaman Alkitab, dan ibadah.

Perubahan

Di masa-masa SMA, Trotman memperlihatkan kemampuan yang mengesankan. Ia pernah menjadi pembaca pidato perpisahan, ketua OSIS, ketua senat mahasiswa, dan kapten tim bola basket.

Namun, beberapa tahun kemudian kehidupan Trotman pun menjurus kepada hal-hal yang berbahaya. Ia berjudi dan menjadi pemabuk. Ia juga menjadi seorang penjudi bola yang terkenal licik. Bagaimanapun juga, pertemuannya di satu tengah malam dengan seorang polisi setempat mengantarkannya pada perjumpaan rohaninya dengan Yesus Kristus.

Trotman ditangkap di sebuah taman setelah ia mabuk dan tidak dapat menemukan mobilnya. Namun, ia beruntung karena polisi yang bertugas itu melihat masalahnya tidak lebih dari sekadar masalah alkohol.

"Nak, apakah kau menyukai kehidupan seperti ini?" tanya polisi tersebut.

"Saya membencinya, Pak" jawab Trotman. Polisi itupun mengembalikan kunci mobil Trotman dan mendorongnya untuk mengubah gaya hidupnya.

Dua hari kemudian, Trotman menghadiri sebuah perhimpunan pemuda di gereja lokal. Ketika itu, diadakan sebuah kontes menghafal ayat- ayat Alkitab.

Mereka diberi sepuluh ayat mengenai keselamatan. Dan Trotman menjadi satu-satunya dari antara mereka yang mampu mengingat ayat-ayat tersebut dalam pertemuan mereka pekan berikutnya. Bahkan ketika diberikan sepuluh ayat lain mengenai pertumbuhan rohani untuk dihafal, Trotman mampu menghafalnya dengan mudah.

Beberapa minggu kemudian, salah satu ayat Alkitab mengenai keselamatan terlintas dalam benaknya. Ketika itu pulalah Trotman meminta Kristus untuk mengubah hidupnya. "Oh, Tuhan," doanya, "apa pun arti menerima Yesus itu, aku mau melakukannya sekarang juga."

Awal Pelayanan

Trotman menghabiskan tahun-tahun ke depannya dengan terlibat secara intensif dalam penginjilan pribadi sementara ia berupaya mendisiplinkan kehidupan doanya. Sebagaimana biasanya, fokusnya diarahkan pada membaca dan menghafalkan firman Tuhan.

Pada tahun 1934, Trotman diminta untuk mengunjungi Les Spencer, seorang pelaut, dan membagikan firman Tuhan kepadanya. Betty Skinner, penulis biografi Trotman melukiskan pertemuan tersebut. "Di lapangan parkir di dekat sebuah gedung sekolah, keduanya mencurahkan perhatian mereka pada firman Tuhan ketika seorang satpam menghampiri dan menanyakan apa yang sedang mereka lakukan. `Membaca Alkitab," jawab Trotman yang segera memanfaatkan kesempatan itu untuk bersaksi ... Dawson beralih dari satu ayat ke ayat yang lain untuk menjelaskan Injil dan menjawab semua pembelaan yang dilakukan oleh satpam tersebut.

"Sekembalinya mereka, [Spencer] berkata, `Aku akan memberikan tangan kananku untuk mengetahui bagaimana caranya menggunakan firman Tuhan seperti itu.""

Peristiwa itu menjadi awal mula pelayanan The Navigators, dinamakan demikian karena keberadaan awalnya berhubungan dengan dunia kelautan. Spencer mengarahkan orang lain kepada Kristus yang kemudian akan mengarahkan orang lain lagi kepada keselamatan. Pelayanan pemuridan dari The Navigators pun lahir dan proses memenangkan dan memuridkan para pria maupun wanita bagi Kristus terus berlanjut ke seluruh dunia hingga hari ini.

Penghafalan dan Perenungan

Pengalaman Trotman yang mengubahkannya berpusat pada penghafalan dan perenungan akan firman Tuhan. Ia menjadi seorang yang memuridkan orang karena ia sendiri telah terlebih dahulu dimuridkan oleh Tuhan melalui firman-Nya. Penekanannya ada pada penghafalan ayat-ayat Alkitab yang disusun berdasar sejumlah tema yang topikal, yang selanjutnya menjadi bagian dari inti kurikulum pelayanan The Navigators saat ini.

Proses penghafalan tidak diberikan Trotman dalam bentuk yang kaku karena Trotman mengerti bahwa Roh Allah pasti akan menciptakan suatu kerinduan untuk menggali kebenaran firman-Nya.

Penghafalan dan perenungan firman Tuhan secara teratur sangatlah penting untuk mendapatkan pengalaman kehidupan Kristen yang berlimpah. Pemazmur menyimpan firman Tuhan di dalam hatinya (Maz. 119:11) dan merenungkan firman tersebut siang dan malam (Maz. 1:2).

Ketika menorehkan firman Tuhan dalam relung-relung hati Anda, Anda akan memperoleh pembaharuan pikiran dan akan siap menghadapi godaan, tantangan, dan kesengsaraan akibat cara pandang ilahi tentang kebenaran tersebut.

Kebenaranlah yang membebaskan Anda. Semakin banyak ayat Alkitab yang Anda simpan dalam hati, Anda akan semakin seperti Kristus.

Graham menyimpulkan kehidupan Trotman sebagai berikut. "Dawson mencintai firman Tuhan. Saya pikir ia mengajarkan hal tersebut kepadaku lebih daripada orang lain. Ia selalu membawa Alkitabnya dan selalu menandainya. Firman Tuhan menjadi sesuatu yang manis baginya."

Bahan diterjemahkan dari sumber:
http://www.intouch.org/myintouch/mighty/portraits/dawson_trotman_213713.html

e-JEMMi 32/2006