You are hererenungan / Peringatan: Kekurangan Air Hidup Dapat Menyebabkan Dehidrasi Rohani

Peringatan: Kekurangan Air Hidup Dapat Menyebabkan Dehidrasi Rohani


By suwandisetiawan - Posted on 02 January 2019

Berapa lama manusia bisa bertahan hidup tanpa air? Pengamatan ilmiah menyatakan kurunnya berkisar antara tiga hingga tujuh hari (jika udara dingin atau tidak terkena sinar matahari). Dalam cuaca panas, orang dewasa dapat kehilangan 1–2 liter keringat dalam satu jam. Ketika kita merasa haus, sebenarnya kita sudah mengalami dehidrasi ringan. Gejala dehidrasi dimulai dari letih, pusing, kelelahan, detak jantung cepat, napas dangkal, hingga gagal ginjal dan kematian.

Jika air berperan penting dalam menjaga fungsi optimal dan kesehatan tubuh kita, bayangkan betapa krusialnya Air Hidup bagi tubuh rohani kita.

Yesus dan Air Hidup

Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yohanes 7:37)

Saat haus, logikanya kita akan mencari sumber air terdekat. Pernahkah Anda coba mengganti asupan air dengan teh manis atau jus buah? Toh, keduanya sama-sama mengandung air. Namun, dahaga itu tidak akan terpuaskan sepenuhnya, karena usai minum, akan tertinggal rasa manis di lidah yang perlu ‘dibilas’ air.

Dalam hidup rohani, kita pun perlu peka dalam mendeteksi rasa haus untuk dekat dengan Tuhan.

Pertanyaannya, apakah kita melipur dahaga tersebut dengan datang ke sumber yang tepat, yaitu Yesus sendiri? Ataukah, kita sibuk mencarinya lewat hal-hal lain yang hanya memberi kepuasan jangka pendek?
Gejala Dehidrasi Rohani

Berikut dua gejala dehidrasi rohani dan cara-cara menanganinya:

1. Kering dan Layu
“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.” (Yohanes 7:38)

Kalau kita percaya Yesus, maka di dalam hati kita mengalir air hidup. Kita terhubung langsung dengan Sang Sumber Air Hidup sendiri dan punya hubungan pribadi dengan-Nya setiap hari.

Ketika koneksi itu terputus, kita akan mengalami kekeringan rohani. Mungkin kita jadi sulit mendengar suara Tuhan. Jika saat teduh atau momen baca Alkitab mulai terasa seperti rutinitas belaka, itu adalah tanda-tanda hati yang kering.

Tindak lanjut: Periksalah apakah aktivitas rohani dan pelayanan kita sudah cukup untuk memuaskan kehausan rohani kita. Apakah kita seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air? Mungkinkah kita sedang lelah dan layu, tidak lagi menghasilkan buah-buah Roh? Masihkah kita terhubung dengan Yesus, Sang Sumber Air Hidup?

Dengan menjaga hubungan kita dengan Tuhan, tidak hanya hati kita yang segar, kita pun punya energi dan hikmat untuk menjadi berkat bagi orang lain.

“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3)

2. Menyusut
Salah satu efek dehidrasi berat adalah susutnya sel-sel tubuh. Menyusut dalam konteks lebih luas bisa berarti kondisi yang menurun, melemah, atau merosot.

Selain kering dan layu hati, putusnya hubungan dengan Yesus akan melemahkan tubuh rohani kita. Mungkin kita tidak lagi menganggap penting firman Tuhan. Kita bahkan akan mulai mendekati dosa.

Jenuh dan lelah itu manusiawi, jadi jangan khawatir. Ada beberapa solusi untuk mengembalikan kesegaran tubuh rohani kita.

Tindak lanjut:

Terapkan variasi tempat atau metode agar saat teduh Anda menjadi pengalaman harian yang bermakna dan unik.
Ikuti retreat, atau pendalaman rohani seperti pertemuan diskusi Alkitab.
Diskusikan empat mata dengan saudara atau saudari agar mereka dapat membantu mendoakan atau memberi saran.

Kawan, jangan anggap remeh tanda-tanda kekeringan hati. Mengetahui gejala-gejala dehidrasi rohani dapat membantu kita mencari pertolongan sedini mungkin dari komunitas kita. Hubungkanlah diri senantiasa dengan Sang Sumber Air Hidup, niscaya kita takkan mengalami dehidrasi rohani.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17:7-8)

Source : https://gkdi.org/blog/kekurangan-air-hidup-dehidrasi-rohani/

Tags