Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hererenungan / Menjadi Pemimpin Yang Baik Seperti Yesus

Menjadi Pemimpin Yang Baik Seperti Yesus


By suwandisetiawan - Posted on 07 February 2019

Setiap orang pada dasarnya lahir untuk jadi pemimpin. Minimal ia memimpin dirinya sendiri. Didikan orang tua, sekolah, firman Tuhan, dan dengan siapa kita bergaul juga berpengaruh membentuk karakter kita. Sebagian orang kemudian lebih siap memimpin; sebagian lagi perlu latihan. Dan, menjadi seorang pemimpin, lebih-lebih pemimpin yang baik, tentulah bukan hal mudah.

Namun, tak perlu khawatir. Tuhan Yesus telah memberikan teladan kepemimpinan untuk kita. Sebelum menyimak cara-cara menjadi pemimpin yang baik seperti Yesus, mari membahas apa itu pemimpin.

Beda Pemimpin dengan Pimpinan

Tahukah Anda bedanya pemimpin dengan pimpinan?

Pemimpin adalah orang yang berorientasi pada visi-misi bersama dan pemecahan masalah. Ia melindungi, mengayomi, dan membentuk orang-orang yang dipimpinnya agar sama hebat atau malah lebih hebat darinya.

Pimpinan adalah orang yang diangkat menduduki jabatan tertentu oleh otoritas yang lebih tinggi darinya. Misalnya, presiden menunjuk seorang jenderal menjadi panglima angkatan bersenjata. Seseorang dipilih sebagai pimpinan di lembaga tertentu karena memiliki kemampuan lebih, dan biasanya, telah terbukti kinerja dan loyalitasnya.

Tidak semua orang bisa menjadi pimpinan, tetapi kita semua bisa menjadi pemimpin. Lebih tepatnya, pemimpin seperti Yesus.

2 Karakter Kepemimpinan Yesus
Ada banyak karakter kepemimpinan yang dapat kita teladani dari Yesus, tapi mari berfokus pada dua karakter ini. Pemimpin yang baik itu:

1. Memikirkan Pengikutnya – Matius 15:32-39

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya: “Bagaimana di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” – Matius 15:32-34

Pemimpin yang baik memikirkan pengikut atau orang-orang yang bekerja dengannya dan rela berkorban bagi kepentingan mereka. Alkitab mencatat salah satu tindakan kepemimpinan Yesus, yaitu memikirkan empat ribu orang yang lapar setelah berhari-hari mengikuti-Nya. Yesus, yang pasti lapar dan lelah, memprioritaskan kebutuhan ribuan orang di sekitarnya. Dia memanggil para murid-Nya agar mereka juga memikirkan orang banyak.

Awalnya, para murid kebingungan mencari makanan di tempat sesepi itu, tetapi Yesus mengajar mereka agar berfokus pada solusi. Ternyata mereka masih punya tujuh kerat roti dan beberapa ikan kecil. Melalui makanan yang sedikit itu, Yesus membuat mukjizat dan memberi makan empat ribu orang. Setelah kenyang, mereka disuruh pulang.

Sebagai pemimpin kelompok, apakah kita rela berkorban dan memikirkan semua anggota kelompok? Sebagai kakak, apakah kita berkorban bagi adik-adik kita? Atau, kita sibuk memikirkan diri sendiri?

2. Menemui Pengikut-Nya – Lukas 4:42-44

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” Dan Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. – Lukas 4:42-44

Meski ditahan banyak orang, Yesus tetap meninggalkan Kapernaum karena harus memberitakan Injil ke kota-kota lain. Dia mengajar di rumah-rumah ibadat di Galilea. Berkunjung ke Nazaret, lalu ditolak penduduknya. Bertamu ke rumah Petrus dan menyembuhkan ibu mertuanya. Menjala ikan bersama Petrus di Danau Genesaret. Menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum. Membangkitkan anak muda di Naim.

Banyak cerita Yesus bertemu langsung dengan satu atau banyak individu. Tak hanya sibuk di rumah ibadah, Yesus juga melakukan kunjungan langsung. Berpesiar di zaman itu tentulah tak senyaman zaman sekarang. Yesus harus berjalan kaki atau naik perahu. Komunikasi belum mengenal telepon, televisi, apalagi internet, jadi Yesus berinteraksi langsung dengan banyak orang.

Pemimpin yang baik tahu kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya dan mau berjerih-lelah memberikan apa yang mereka butuhkan. Tindakan Yesus lalu diteladani para murid-Nya, seperti Paulus, Petrus, Lukas, dan Barnabas. Mereka pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk memberitakan Injil, mengajar, serta mendirikan jemaat.

Menjadi pemimpin yang baik berarti bersedia keluar dari zona nyaman. Memberikan waktu, tenaga, pikiran, uang, dan harta kita untuk kebaikan orang lain. Memang, tidak semua orang akan memuji atau berterima kasih saat kita pimpin, tetapi tetaplah memimpin seperti Yesus.

Tuhan memberkati!

Source : https://gkdi.org/blog/menjadi-pemimpin-yang-baik-seperti-yesus/

Tags