Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hererenungan / Haruskah Seorang Kristen Melayani?

Haruskah Seorang Kristen Melayani?


By suwandisetiawan - Posted on 12 April 2019

Saat membicarakan kehidupan kita sebagai Kristen, tak jarang kita mendengar pertanyaan-pertanyaan berikut: “Pelayanan di mana?” “Melayani di bidang apa?” “Berapa banyak jemaat yang Anda layani?” Seakan merupakan suatu hal yang pasti jika seorang Kristen melayani. Tanpa disadari, tak jarang seberapa banyak kita melayani dijadikan tolok ukur kadar kerohanian seseorang.

Sebelum saya memahami apa yang sungguh-sungguh Tuhan harapkan dari murid-Nya, saya tidak mau terlibat pelayanan di gereja. Apalagi, jika pelayanan itu mengharuskan saya berhubungan dengan orang lain. Saya pikir, untuk apa memusingkan diri dengan mengetahui kehidupan orang lain? Lagi pula, apakah kita baru dapat dikatakan rohani saat kita melayani?

Namun, apa yang dikatakan Yesus di Matius 20:28 ini menohok saya.

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”.

Ternyata, melayani itu bukan hanya sesuatu yang harus kita lakukan. Melayani merupakan tujuan Yesus sendiri untuk datang ke dunia. Jika Tuhan kita saja melayani, maka tidakkah kita, sebagai hamba-Nya, terlebih lagi harus melayani?

Tidak berhenti di sana, pola pikir saya banyak berubah ketika saya mengamati cara hidup murid-murid Yesus di sekeliling saya. Banyak inspirasi dari saudara dan saudari seiman yang saya lihat sendiri. Mereka merasa terbeban dengan kesulitan dan masalah hidup orang lain. Bahkan, mereka dapat melayani dari kekurangan dan keterbatasan mereka. Saat mengalami pergumulan pun, tidak menghentikan mereka untuk melayani.

Ternyata, melayani di dalam jemaat-Nya bukan tentang pilihan, tetapi tentang tujuan yang Tuhan berikan untuk kita. Saya ingin membagikan beberapa hal yang saya pelajari dari cara melayani beberapa tokoh di dalam Alkitab.

1. Beban yang Benar, Hati yang Salah – Marta

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu, Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:38-42).

Pernahkah kita merasakan apa yang dirasakan Marta? Kita tahu ada kebutuhan yang perlu dipenuhi melalui pelayanan kita. Namun, alih-alih melakukannya dengan sukacita, kita merasa terbeban dan merasa bekerja sendirian. Kita melayani, tetapi kita juga melihat apa yang dilakukan orang lain.

Saat kita melayani dengan hati yang salah, kita akan merasa berat dan akibatnya akan timbul sungut-sungut di hati. Dalam melayani, sangat penting bagi kita untuk menyelidiki hati kita sendiri. Tidak perlu melihat apa yang orang lain lakukan atau tidak lakukan. Saat kita mempunyai hati yang benar, kita hanya berpikir untuk menyenangkan hati Tuhan.

2. Bersukacita dalam Melayani, Apapun Keadaannya – Paulus

“…dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.” (Kisah Para Rasul 20:19)

Pernahkah Anda dalam keadaan terpuruk? Tak mudah untuk melayani saat keadaan kita sedang buruk. Sementara saat keadaan baik, lebih mudah untuk mengucap syukur dan bersemangat dalam melayani, ‘kan?

Paulus adalah teladan yang luar biasa dalam melayani Tuhan. Penjara, konflik, musibah, hingga bencana alam tak menyurutkan semangatnya untuk melayani Tuhan dengan 100%. Dia juga tidak membiarkan pandangan orang lain tentang dirinya mengurangi standarnya untuk melayani dengan sukacita.

Seberapa sering kita berjanji kepada Tuhan untuk melayani jika sudah mendapat pekerjaan yang baik, pasangan hidup, punya anak, selesai wisuda, punya kendaraan, dan berbagai alasan lainnya? Mari kita belajar dari Paulus dan melayani dengan standar yang Tuhan berikan dalam keadaan apa pun dalam hidup kita.

3. Menerima Upah Pelayanan – Stefanus

“Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah”. (Kisah Para Rasul 7:54-56)
Saya pernah bertanya dalam hati. Apakah upah bagi orang yang melayani? Mungkin kita menjawab dalam hati, “Upahnya nanti di surga.” Namun, tak jarang justru kita dirisaukan dengan apa yang kita lihat. Apakah orang-orang berterima kasih atas pelayanan saya? Apa yang saya dapat dari jerih payah saya, mungkin datang lebih awal dari orang lain, atau terjaga hingga larut untuk menyelesaikan keperluan pelayanan.

Kisah Stefanus adalah bukti nyata bagi kita bahwa yang paling penting adalah bagaimana Tuhan melihat pelayanan kita. Tidak ada yang didapat Stefanus dari setiap pelayanannya selama di dunia, pujian pun tidak, apalagi penghormatan. Namun, padai detik terakhir kehidupannya, dia mendapat kesempatan untuk melihat langit terbuka dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Seakan-akan Yesus sendiri memberikan “standing applause” yang hanya dapat dilihat dan dirasakan oleh Stefanus. Begitu spesial upah yang diterimanya. Semuanya hanya antara dirinya dan Tuhan. Ini kisah yang sangat menguatkan bagi saya untuk terus melayani selama saya hidup.

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia”. (Roma 14:17-18)

Marilah kita menjadikan pelayanan sebagai tujuan hidup kita. Untuk melayani Tuhan dengan hati yang benar, sukacita di dalam segala keadaan, dan keyakinan akan upah yang spesial yang akan Tuhan berikan untuk tiap-tiap kita.

Source : https://gkdi.org/blog/melayani/

Tags