Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hererenungan / Bagaimana Menyikapi Anak yang Suka Bohong?

Bagaimana Menyikapi Anak yang Suka Bohong?


By suwandisetiawan - Posted on 01 October 2019

Saya masih ingat betul sebuah peristiwa di masa kecil yang melibatkan aksi bohong.

Suatu hari, saya disuruh Ibu menjaga adik bungsu yang berusia satu tahun. Saya lalu membawanya bermain bersama teman-teman. Saat asyik bermain, saya diberitahu teman bahwa adik jatuh dari ayunan dan terluka. Saya panik sekali. Apalagi letak lukanya di kening, tak mungkin disembunyikan. Saya pasti akan dijewer dan dimarahi Ibu, batin saya.

Ketika Ibu pulang, saya mengatakan bahwa adik jatuh saat saya menuntunnya belajar berjalan. Ibu mengerti. Saya lega. Tapi, dasar apes, tiba-tiba teman sepermainan saya menyeletuk bahwa adik jatuh dari ayunan ketika saya sedang bermain. Alhasil, bukan hanya dijewer, saya pun dimarahi oleh Ibu karena telah mengarang cerita bohong.

Pernahkah situasi ini terjadi pada anak Anda? Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua ketika anak mulai terbiasa bohong?

Anak Belajar dari Orang Tua

Pada dasarnya, tidak ada orang tua yang suka anaknya menjadi pembohong. Namun, di saat yang sama, orang tua tanpa sadar “mengajari” anak untuk berbohong. Terkadang orang tua menganggap sepele kebohongan kecil yang mereka lakukan, merasa itu bukan masalah, dengan dalih demi kebaikan anak.

Contoh pertama, seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya yang susah makan memberi bujukan, “Ini yang terakhir, Nak. Yuk, buka mulutnya …” Lalu, setelah anaknya bersedia menyantap, bukannya berhenti, dia lanjut menyodorkan suapan lagi. “Nah, ini yang terakhir sekali, kok …” katanya sambil tersenyum. Dia bangga, karena dengan kebohongannya, anak berhasil makan lebih banyak dari biasanya.

Contoh kedua, seorang ayah hendak berangkat ke kantor, tetapi takut anaknya menangis karena merasa ditinggalkan. Jadi, ia berkata hendak pergi ke warung untuk membelikan jajanan. Si anak memang tidak menangis, tetapi peristiwa dibohongi ini akan tersimpan rapi dalam ingatannya.

Parents, hati-hati—anak yang sering dibohongi oleh orang tuanya berpotensi menjadi pembohong.

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Matius 5:37

Menurut Alkitab, tidak ada bohong putih atau bohong untuk kebaikan. Jika ada resiko yang harus diterima karena berkata dan bersikap jujur, hadapilah. Para orang tua harus menerapkan hal ini sejak dini pada anak-anak dengan cara.
Tips Mengatasi Kebiasaan Bohong Anak

Kadang kala, dengan menjadi teladan atau memberikan nasihat dan sanksi masih kurang efektif dalam usaha mendidik anak menjauhi kebohongan. Orang tua perlu menciptakan kondisi yang mendukung anak untuk bersikap jujur. Anak harus merasa aman untuk bercerita apa saja kepada orang tuanya, termasuk kesalahan yang dia lakukan. Hal ini memungkinkan jika anak terlebih dahulu yakin bahwa dirinya dikasihi.

Seperti contoh di atas, saya terpaksa berbohong karena takut. “Saya pasti akan dihukum, dimarahi, dan dipermalukan di depan saudara atau teman-teman.”

Dan, itulah juga yang terbersit dalam pikiran anak-anak kita. Tidak ada rasa aman. Anak merasa “terancam” sehingga terpaksa mencari perlindungan versinya sendiri.

Untuk menghadapi anak yang suka berbohong, cobalah terapkan tips-tips berikut:

1. Terbuka

Jangan hanya selalu menceritakan sisi baik Anda, alias jaim (jaga image). Ceritakan juga kesalahan yang pernah Anda perbuat dan bagaimana cara Anda berjuang memperbaikinya. Dengan berani bertutur apa adanya di hadapan anak, maka anak akan mendapat gambaran bahwa orang tuanya juga bisa melakukan kesalahan—dan itu wajar.

Tak hanya mendorongnya untuk jujur, keterbukaan Anda membuat hubungan kalian semakin dekat, karena anak merasa diterima dan menemukan tempat berlindung yang tepat.

Kalau Anda hanya menceritakan kehebatan-kehebatan Anda, bisa jadi anak malah stres ketika melakukan kesalahan. Dia merasa gagal dan sangat buruk. Untuk menutupinya, dia akan berbohong. Jangan berharap, apalagi memaksa anak untuk jujur kalau Anda sendiri tidak terbuka kepadanya.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” – Matius 7:12a

2. Menjadi pendengar yang baik

Kalau anak sedang curhat, berilah perhatian dan ciptakan kesan bahwa apa yang dia ungkapkan itu penting bagi Anda. Dengarkan perasaannya. Cari tahu dalam hal apa saja dia biasanya tergoda untuk berbohong dan bagaimana caranya mengatasi godaan itu. Tanyakan apa yang bisa Anda lakukan untuk membantunya, dan bersiaplah untuk memenuhi harapan anak Anda.

3. Berempati

Bagaimana respon Anda biasanya ketika mendengar pengakuan anak?

Kalau Anda reaktif, maka akses komunikasi murni dengan anak akan tertutup. Anak akan kapok bersikap jujur pada Anda, bahkan mungkin memilih berbohong jika kelak melakukan kesalahan lagi.

Belajarlah berempati. Meski tidak sependapat dengan apa yang dilakukan anak, tunjukkanlah bahwa Anda tetap mengasihinya. Anda ingin menolongnya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari.

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” – Roma 12:15

4. Bukakan Firman

Selain mendapat dukungan kasih dari orang tua, anak juga perlu mendapatkan pemahaman firman yang tegas tentang kebohongan. Bukan berarti Anda menakut-nakutinya, tetapi anak perlu tahu bahwa Tuhan serius dalam menyikapi dosa. Orang yang suka berbohong adalah anak iblis (Yohanes 8:44) dan para pendusta akan masuk neraka (Wahyu 21:8).

Namun, jangan mengatai anak “pembohong”, karena label itu akan melekat dan menghancurkan harga dirinya. Anak justru akan terus berbohong karena menganggap dirinya memang pembohong.

5. Rayakan Kemenangan

Biasakan untuk tidak hanya menyoroti kegagalan anak, tetapi juga memberi apresiasi ketika anak berhasil mengatasi godaan bohong.

Anda bisa menciptakan sebuah momen yang manis, misalnya traktir dia makan atau nonton film kesukaannya. Selain menyenangkan, anak juga akan semakin terdorong untuk meraih lebih banyak kemenangan iman. Seiring waktu, anak akan bersikap jujur tetapi bukan karena diimbali perayaan, tetapi karena itu sudah menjadi keyakinannya.

Bukan hanya para juara kelas yang patut dibanggakan, anak yang menang atas godaan bohong pun perlu dirayakan. Terdengar janggal? Mungkin karena belum banyak yang melakukannya. Mulailah dengan anak Anda.

Source: https://gkdi.org/blog/bohong/

Tags