Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBagian E. Apa Kesalahan Orang-orang Farisi?

Bagian E. Apa Kesalahan Orang-orang Farisi?


Dalam Lukas 11 Yesus menunjukkan kepada kaum Farisi kekurangan-kekurangan dari religi mereka. Mari kita lihat apa kesalahan-kesalahan yang dilakukan, bukan hanya tentang orang-orang Farisi, namun juga tentang diri kita sendiri.

  1. Mereka puas dengan penampilan baik
  2. Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
  3. Mereka menyukai dukungan orang banyak
  4. Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
  5. Mereka menambah beban hidup
  6. Mereka menipu diri sendiri
  7. Mereka mengambil kunci pengetahuan
  8. Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA PUAS DENGAN PENAMPILAN BAIK

Sebuah perusahaan kimia yang besar telah memasang sebuah iklan perbaikan citra, supaya masyarakat yakin bahwa perusahaan itu telah berwawasan lingkungan. Namun berita malam hari di televisi menayangkan adanya sekelompok pengunjuk rasa yang tidak percaya bahwa perusahaan itu telah memenuhi persyaratan lingkungan hidup. Salah seorang pengunjuk rasa membawa poster yang bertuliskan: "Kami tak dapat dikelabui. Perbaikilah tindakanmu, bukan penampilanmu".

Poster pengunjuk rasa itu mengingatkan saya pada kata-kata Yesus tentang orang-orang Farisi. Lukas 11:39-41 menyamakan mereka dengan orang-orang yang mencuci gelas bagian luar, dan membiarkan bagian dalamnya tetap kotor. Dia berkata, "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalamnya penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu."

Yesus menunjuk pada ritus mencuci tangan yang sangat teliti dan harus tepat pelaksanaanya oleh orang-orang Farisi sebelum duduk makan. Mereka membasuh tangan bukan dengan tujuan kebersihan, tetapi karena bangga dapat memenuhi tuntutan hukum. Tentu saja Yesus tahu bahwa "ritus pembersihan" dari religi orang-orang Farisi itu hanya di permukaan saja. Penampilan mereka baik, namun tindakan mereka jahat.

Religi tidak pernah mengubah pokok permasalahan. Ia berurusan dengan hal-hal lahiriah. Itu sebabnya pada kesempatan lain, Yesus mengajar seorang Farisi yang juga pemimpin orang-orang Yahudi, bahwa ia perlu dilahirkan kembali (secara rohani) jika ingin melihat dan menjadi bagian dari Kerajaan Allah (Yoh 3:1-36).


Religi dapat mengubah hal-hal lahiriah; namun hanya Kristus yang dapat mengubah hati manusia

Doa, perjamuan kudus, penguatan, baptisan atau aktif dalam kegiatan gereja mungkin nampak baik. Namun penampilan ini tidak dapat mengelabui Allah. Yesus berkata, "Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah Roh" (Yoh 3:6). Menerima Kristus dapat menghasilkan hal-hal yang tidak dapat diberikan oleh religi mana pun di dunia (Yoh 3:16). Percaya pada Kristus membawa perubahan hati. Kepercayaan itu memunculkan sumber kasih di dalam hati kita. Ini merupakan proses merendahan diri. Hal itu berarti mengakui kesia-siaan usaha pembersihan diri yang lahiriah, menyerahkan diri pada belas kasihan Allah, dan mempercayai Dia untuk melakukan, melalui Roh Kristus, apa yang tidak dapat kita lakukan sendiri.

MEREKA SIBUK DENGAN HAL-HAL KECIL

Sama seperti kelebihan-kelebihan lain, perhatian atas hal-hal detil dapat menjadi kelemahan jika tidak terus dikontrol. Yesus memberitahu tentang bahaya jatuh pada hal-hal detil ketika Dia menjelaskan kepada orang-orang Farisi bahwa kesalahan religi mereka adalah terlalu banyak mengurus hal-hal kecil. Dalam Lukas 11:42 tertulis, "Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan." Dengan kata lain, hal-hal kecil penting sejauh tidak menggantikan tempat hal-hal yang besar.

Orang-orang Farisi adalah penganut Yudaisme yang ahli logika. Mereka menarik kesimpulan-kesimpulan logis dari hukum-hukum itu. Mereka bangga akan kemampuan mereka memikirkan sesuatu dengan sangat cermat. Jika mereka membayar persepuluhan, mereka memperhitungkan semua hal yang dapat mereka perhitungkan. Jika diharuskan memberikan sepersepuluh dari hasil panen, mereka akan memberikan kepada Allah sepuluh persen dari segala sesuatu, termasuk sayur-mayur mereka, walaupun hukum tidak menuntut sampai sejauh itu.

Kesediaan orang-orang Farisi untuk melakukan lebih dari yang dituntut tidaklah buruk. Kesalahan mereka adalah ketika memperhatikan sampai detil, mereka lupa untuk mengasihi. Menurut Yesus, mereka menjadi kehilangan jiwa dari hukum itu (Mat 22:37-40).

Orang-orang Farisi sama seperti seseorang yang pergi ke dealer untuk membeli mobil baru. Ketika di sana, ia tertarik pada beberapa asesoris untuk meningkatkan penampilan mobil barunya nanti. Satu jam kemudian, dengan tersenyum ia meninggalkan show room itu dengan membawa tempat kopi, kompas mobil, penjepit peta perjalanan dan sebuah gantungan kunci. Seperti orang-orang Farisi, ia membawa lebih dari yang direncanakan -- namun tetap kurang. Dengan tas di tangan, ia masuk ke dalam mobilnya yang lama dan pulang.


Yang menjadi masalah dengan perhatian religius yang mendetail, hal itu seolah-olah dapat menutupi segala hal padahal tidak

Religi, bagaimanapun baik dan perlu, dapat menjebak kita pada hal-hal detil yang dengan mudah menjadi pusat perhatian kita. Yang menjadikan masalah ini sukar diketahui, di dalam hal-hal yang baik seperti pemahaman Alkitab, doa atau memberi persembahan, nampak seolah-olah dapat menutupi segala hal -- padahal tidak. Tidak ada yang dapat menggantikan hati, kasih dan keadilan sebagai ekspresi persekutuan yang benar dengan Allah sendiri.

Beberapa tahun setelah Kristus, Rasul Paulus mengulangi pengajaran Yesus ketika ia menegur jemaat di Korintus. Ia menjelaskan bahwa karunia-karunia rohani, hikmat, iman dan pengorbanan diri tidak ada gunanya jika dilakukan tanpa kasih kepada Allah (1Kor 13:1-13).

  1. Mereka puas dengan penampilan baik
  2. Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
  3. Mereka menyukai dukungan orang banyak
  4. Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
  5. Mereka menambah beban hidup
  6. Mereka menipu diri sendiri
  7. Mereka mengambil kunci pengetahuan
  8. Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENYUKAI DUKUNGAN ORANG BANYAK

Religi dapat menjadi arena pameran ego yang terbesar. Adakah hal yang lebih baik daripada dikenal sebagai orang yang baik dan suci? Atau apakah yang paling mempengaruhi kita selain kepentingan diri dan kesombongan karena dikenal sebagai orang yang diperkenan Allah?

Tentu nampak lebih baik dikenal sebagai orang baik daripada sebagai orang jahat. Bukankah lebih baik dikenal sebagai imam atau pendeta daripada orang tak bermoral atau pelacur? Bisa jadi tidak. Yesus berkata bahwa jika tidak ada pertobatan, orang-orang Farisi juga akan dihukum di neraka bersama orang-orang jahat. Satu-satunya perbedaan, Yesus mengajukan kritik kepada orang-orang religius yang memanfaatkan reputasi rohani mereka untuk memperoleh perhatian dan kehormatan. Kepada mereka Yesus berkata: "Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar" (Luk 11:43).

Kita semua senang dikagumi oleh banyak orang. Kita senang didukung oleh mereka yang melihat sesuatu yang pantas dipuji di dalam diri kita. Itu tidak jelek. Yang jelek adalah jika dukungan orang lain menjadi lebih penting bagi kita daripada perkenan Allah. Yang berbahaya adalah jika pujian dan dukungan orang banyak menjadi seperti candu yang menumpulkan kepekaan akan kekurangan kita dalam hal kasih kepada sesama, kehadiran dan perintah Allah. Dan faktanya, penilaian orang terhadap kita sebenarnya jauh di atas kualitas kita.

Ketaatan pada ketentuan religi dapat membuat kita memperoleh pujian dari manusia. Namun ketaatan kepada Kristus merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh perkenan Allah. Prinsip ini masih tetap berlaku meskipun seseorang telah menerima Kristus dan pergi ke gereja. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita melayani orang banyak atau melayani Tuhan, terus-menerus menjadi tantangan kita.

Rasul Paulus tahu bagaimana rasanya menerima kecaman dan tolakan. Oleh karena itu ia menulis kepada orang-orang Kristen di Korintus yang mengritiknya, "Bagiku, sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi" (1Kor 4:3). Belakangan, dalam suratnya yang kedua, Paulus menulis, "Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!" (2Kor 10:12).

Paulus belajar menerima kritik dengan lapang dada, bukan karena kritik itu tidak menyakitkan, tetapi karena ia mengerti bahwa pengakuan dan pujian manusia tidaklah penting (Fili 3:1-10). Yang terpenting adalah bagaimana penilaian Kristus, "Baik sekali hambaKu yang baik dan setia". Paulus dahulu adalah orang Farisi. Ia tahu perbedaan antara dihargai oleh religi dan diperkenan oleh Kristus.


Kritik maupun pujian akan bernilai sama kalau kita mau belajar darinya
  1. Mereka puas dengan penampilan baik

  2. Mereka sibuk dengan hal-hal kecil

  3. Mereka menyukai dukungan orang banyak

  4. Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok

  5. Mereka menambah beban hidup

  6. Mereka menipu diri sendiri

  7. Mereka mengambil kunci pengetahuan

  8. Mereka menuntun orang ke neraka

BUKANNYA MEMBUKA DIRI,MEREKA MALAH MENGENAKAN KEDOK

"Hallo, nama saya Joe. Saya seorang peminum." Pengakuan ini merupakan dasar utama yang mengarah pada kesembuhan bagi peminum tersebut. Sayangnya, pengakuan seperti itu merupakan salah satu unsur kerendahan hati yang seringkali hilang dalam praktek religi. Salah satu perasaan yang paling sering dialami jemaat adalah perasaan kesendirian karena hubungannya dengan orang lain tidak sungguh-sungguh nyata. Mereka merasa saling bahu-membahu, namun sesungguhnya jauh dari orang-orang yang hanya mengenakan "pakaian Minggu" dan memasang "wajah Minggu" dalam kebaktian Minggu. Banyak orang senang berbuat demikian. Namun ada orang-orang yang menangis di dalam hati, "Nanti dulu, ini tidak benar. Ada yang tidak beres. Kita punya masalah. Mengapa kita tidak mau mengakui bahwa kita dalam kekuatiran, kemarahan, ketakutan, kedengkian, kepahitan, rasa malu dan dikuasai nafsu? Bukankah dengan pengakuan ini kita dapat mendukung, menghibur serta bertanggung jawab satu sama lain?"

Yesus mendukung hal ini. Dia berkata, "Celakalah kamu (orang-orang Farisi -- red), sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya" (Luk 11:44).

Cerita yang diambil dari The People's Almanac 2 ini dapat menggambarkan ketidakjujuran yang serupa: "Pada suatu hari raja Prusia, Frederick Agung, mengunjungi penjara Postdam. Setiap narapidana yang dijumpainya berkata bahwa mereka tidak bersalah. Akhirnya ia sampai pada seorang yang dijatuhi hukuman mati karena mencuri. Narapidana itu berkata, "Tuanku, saya memang bersalah dan pantas menerima hukuman." Raja Frederick berpaling kepada kepala penjara dan berkata, "Bebaskan orang jahat ini dan keluarkan dia dari penjara, supaya dia tidak merusak orang-orang baik yang ada di sini."

Dalam pandangan Allah, orang-orang religius bisa jadi sama seperti orang-orang hukuman itu. Keyakinan, ritus-ritus dan persekutuan dalam religi seringkali memberikan cara kepada orang-orang religius untuk tidak mengakui perasaan malu, perasaan bersalah dan kebutuhan mereka akan seorang Juruselamat. Religi bukannya mendorong orang untuk membuka diri akan ketidakmampuannya menyelamatkan diri, tetapi justru memberikan perlindungan dan topeng untuk menutupi masalah-masalah mereka yang tidak terselesaikan.

Upaya untuk memoles masalah-masalah kita dengan berbagai kegiatan religius merupakan reaksi perlindungan diri sejak permulaan sejarah manusia. Setelah manusia pertama jatuh dalam dosa, mereka menjadi malu atas ketelanjangannya. Mereka menggunakan dedaunan untuk menutupi tubuh dan menyusup di antara pepohonan untuk menyembunyikan diri dari Tuhan. Ketika Tuhan memasuki taman, Adam mengakui bahwa ia telah bersembunyi karena takut.

Sejak itu, orang menyembunyikan diri di balik "pohon" kegiatan religius dan di balik "daun-daun" upaya. Bukannya merendahkan diri dan mengakui kebutuhan akan keselamatan melalui kematian Kristus, kita malah berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan religi untuk mengkompensasi dosa-dosa kita.

Dalam proses itu kita menyembunyikan diri dari Kristus, yang menawarkan anugerah hanya kepada mereka yang merendahkan diri, mengakui ketidakjujurannya serta membutuhkan belas kasihanNya.

  1. Mereka puas dengan penampilan baik
  2. Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
  3. Mereka menyukai dukungan orang banyak
  4. Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
  5. Mereka menambah beban hidup
  6. Mereka menipu diri sendiri
  7. Mereka mengambil kunci pengetahuan
  8. Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENAMBAH BEBAN HIDUP

Bayangkan seandainya hanya ada dua macam manusia di dunia ini: pemberi batu-bata dan pengangkat batu-bata. Setiap kali kita bertemu dengan mereka, sebuah batu-bata ditambahkan atau dikurangi dari kita. Yesus digambarkan sebagai pengangkat batu-bata dan orang-orang Farisi sebagai pemberi batu-bata. Fungsi religi menjadi jelas ketika Yesus menanggapi pertanyaan ahli Taurat dari kalangan Farisi (seorang ahli Taurat yang diandalkan orang Farisi dalam hal tafsir). Dia berkata, "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun" (Luk 11:46).

Yesus mengenal para pendengarNya. Para ahli religi ini menambahkan ratusan peraturan pada hukum Allah, namun mereka sendiri pandai menghindari kewajiban ini. Mereka bahkan memiliki trik-trik untuk melanggar hukum Sabat, yang melarang orang mengangkat beban pada hari itu. William Barclay mengutip tradisi Farisi yang berbunyi, "Orang yang membawa apa pun di tangan kanan, tangan kiri, dada, atau di pundaknya, dinyatakan bersalah. Namun orang yang membawa apa pun dengan belakang tangan, kaki, mulut, siku, rambut, tas uang yang dibalik, di antara tas uang dan baju, dalam lipatan baju, di sepatu atau sandal, tidak bersalah, sebab ia tidak membawanya dengan cara yang lazim."

Para pemimpin religi saat ini masih mempraktekkan seni "memberi batu-bata" sambil melakukan trik-trik untuk membenarkan diri dari peraturan yang dibebankan pada orang lain. Misalnya, banyak pemimpin religi yang mengajarkan bahwa ibadah keluarga sehari-hari merupakan suatu keharusan, sambil mengatakan bahwa mereka sendiri mempunyai alasan-alasan tertentu sehingga tidak dapat melakukannya. Ada banyak pemimpin religi yang mengajarkan bahwa orang Kristen hidup di bawah anugerah, sehingga tidak harus memenuhi hukum persepuluhan, namun harus mulai memberikan persembahan sebesar 10 persen dan masih menambahinya dengan persembahan-persembahan yang lain lagi. Pemimpin lainnya mengajarkan bahwa Allah melarang dan membenci perceraian dengan alasan apa pun. Namun sebenarnya mereka mengetahui bahwa Allah sendiri menceraikan Israel karena dosa mereka memuja berhala, dan mereka mengetahui bahwa Musa, pemberi hukum itu, mengijinkan perceraian oleh karena kekerasan hati mereka (Ul 24:1-4; Mat 19:1-9).


Tak seorang pun yang memiliki tingkat kesadaran hukum, kebenaran dan kasih seperti Kristus

Sebaliknya, Yesus dengan konsisten memegang teguh jiwa dari hukum itu sambil membuat keputusan-keputusan yang penuh belas kasihan bagi orang-orang berdosa yang mau bertobat. Yesus memahami ketegangan yang sehat antara kekudusan dan kasih Allah ketika Dia berkata, "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah-lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan" (Mat 11:28-30).

  1. Mereka puas dengan penampilan baik
  2. Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
  3. Mereka menyukai dukungan orang banyak
  4. Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
  5. Mereka menambah beban hidup
  6. Mereka menipu diri sendiri
  7. Mereka mengambil kunci pengetahuan
  8. Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENIPU DIRI SENDIRI

Yesus berkata bahwa orang Farisi membanggakan diri dalam memberi penghormatan dan membangun tugu-tugu peringatan untuk para nabi. Ironinya, ketika mereka bertemu dengan nabi yang sesungguhnya, mereka justru ingin membunuhNya. Barclay berkata, "Nabi-nabi yang mereka hormati hanyalah nabi-nabi yang telah mati. Jika mereka bertemu dengan nabi yang masih hidup, mereka berusaha membunuhnya. Mereka menghormati para nabi yang mati dengan kuburan dan tugu-tugu peringatan, namun mereka menghina nabi yang hidup dengan menganiaya dan membunuhnya."

Hal ini yang dimaksud oleh Yesus dalam Lukas 11:47-51 dan Matius 23:29-32 ketika Yesus berkata, "Celakalah kamu hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu-tugu orang-orang saleh dan berkata: jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak akan ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek-moyangmu!"

Orang-orang Farisi menipu dirinya sendiri. Mereka tidak memandang diri mereka sebagai pembunuh nabi atau Mesias. Mereka tidak menyadari bahwa religi mereka yang kosong menjadikan mereka sebagai musuh Allah. Kedagingan selalu berperang melawan Roh. Religi tidak berkuasa mengatasi obsesi edagingan yang berpusat pada pementingan diri sendiri dan cenderung membela diri. Untuk mengubah hati manusia, diperlukan Kristus yang hidup .

Sejarah akan terus berulang jika orang mengabdikan dirinya pada religi lebih dari Kristus -- sama seperti orang-orang religius yang dihadapi Yesus. Dengan bibir mereka menghormati Allah dan Alkitab, namun jika seorang anak atau temannya menerima Kristus sebagai Juruselamat, mereka menjadi marah.


Orang-tua religius yang tidak senang anaknya menerima Kristus, perlu diperbarui hatinya

Orang tua yang sangat religius seringkali marah jika anaknya merasakan sesuatu yang salah dengan religi dimana ia dilahirkan, dibaptis dan mengaku percaya. Para orang tua yang selalu beribadah di gereja sepanjang hidupnya, sering naik darah mendengar anaknya berbicara tentang "lahir baru" -- istilah yang digunakan Yesus ketika bercakap-cakap dengan seorang Farisi bernama Nikodemus (Yoh 3:1-16). Orang tua religius yang tidak senang anaknya menerima Kristus perlu diperbarui hatinya. Tanggapan negatif terhadap anaknya yang menerima Kristus adalah indikasi yang kuat bahwa orang tua itu telah menipu dirinya sendiri seperti para ahli Taurat dan Farisi yang dikasihi Tuhan, namun dikecam dengan keras.

  1. Mereka puas dengan penampilan baik
  2. Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
  3. Mereka menyukai dukungan orang banyak
  4. Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
  5. Mereka menambah beban hidup
  6. Mereka menipu diri sendiri
  7. Mereka mengambil kunci pengetahuan
  8. Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENGAMBIL KUNCI PENGETAHUAN

Salah satu bahaya terbesar dari religi adalah menjadikan kita dalam keadaan bahaya, bukan saja bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Kepada seorang ahli Taurat yang sangat religius pada zamanNya, Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalamnya kamu halang-halangi. Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus menerus mengintai dan membanjiriNya dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancingNya supaya mereka dapat menangkapNya berdasarkan sesuatu yang diucapkanNya" (Luk 11:52-54).

Di sini Yesus berkata bahwa orang-orang religius yang menentangNya telah mengambil "kunci pengetahuan" dari orang banyak. Apa maksudnya? Ada beberapa kemungkinan. Misalnya, orang Farisi mengambil kunci pengetahuan dari orang banyak dengan cara

  1. mengganti firman Allah dengan tradisi dan peraturan-peraturan yang munafik,
  2. mencoba mendiskreditkan Kristus (Yoh 14:6), dan
  3. mengaburkan orang dari perhatian yang benar (Luk 11:33-35).
Alkitab dan Kristus, keduanya adalah kunci pengetahuan. Saya yakin Yesus menunjuk kepada kunci "perhatian yang benar", yang dipusatkan pada Alkitab dan Kristus. Dalam Lukas 11:33-35 Yesus berkata, "Tidak seorangpun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya. Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu janagan menjadi kegelapan."

Dengan kata lain, jika "pelita" seseorang (mata atau hatinya) benar, ia akan dipenuhi dengan pengetahuan akan Allah. Tetapi jika pelitanya ditutupi, orang itu akan dipenuhi oleh kegelapan (kosongnya cahaya dan pengetahuan tentang Allah).


Tak Seorangpun yang dapat melihat terang, sebelum arah perhatiannya benar

Ketika Yesus mengajar kebenaran tentang pelita tubuh dan kunci pengetahuan, Dia diundang ke rumah seorang Farisi untuk makan malam. Seusai makan Dia melengkapi pengajaranNya di meja makan. Sebagai tamu orang Farisi, Yesus menunjuk kepada penghalang cahaya yang diletakkan oleh orang Farisi menutupi mata mereka sendiri (perhatian hati). Sang Guru menunjukkan bahwa dengan kerohanian mereka yang bersifat lahiriah, penekanan pada hal-hal yang remeh, kehausan akan pujian, kedok dari keegoisan, sifat legalis yang hanya menaruh beban pada orang lain dan sifat menipu diri, mereka bukan saja telah kehilangan terang bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi orang lain. Dengan demikian, mereka telah mengambil kunci pengetahuan.

  1. Mereka puas dengan penampilan baik
  2. Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
  3. Mereka menyukai dukungan orang banyak
  4. Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
  5. Mereka menambah beban hidup
  6. Mereka menipu diri sendiri
  7. Mereka mengambil kunci pengetahuan
  8. Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENUNTUN ORANG KE NERAKA

Bayangkan kita menerima sebuah kunci dari seorang pemimpin rohani. Dengan kunci itu kita membuka pintu dengan label "kebahagiaan kekal," dan ketika membukanya, di dalamnya kita temukan api neraka. Orang Farisi menuntun para muridnya pada kejutan seperti itu. Dalam Matius 23:1-39, perikop yang sejajar dengan Lukas 11:1-54, Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri" (Mat 23:15).

Yesus mungkin menyebut para murid Farisi itu sebagai "penghuni neraka yang dua kali lebih jahat" karena seringkali para murid lebih bersemangat dalam imannya daripada orang-orang yang memang telah beriman sejak lahir. Mereka telah membuat perubahan hidup yang besar dan siap untuk mempertahankan dan memacunya dengan antusias. Mereka sadar bahwa mereka tidak dapat menjawab semua masalah, namun mereka percaya kepada pemimpin mereka yang dianggap lebih banyak tahu.

Kepercayaan ini membawa orang-orang -- yang bertobat karena mengikut orang Farisi -- ke bahaya yang sungguh-sungguh gawat. Karena Yesus menyebut orang-orang Farisi sebagai "orang buta yang menuntun orang buta" (Mat 15:14), maka para pengikut mereka akan dua kali lebih buta. Mereka bukan saja masih buta secara rohani, tetapi juga telah keliru mempercayai guru spiritual yang tidak tahu ke mana mereka akan pergi.

Yang menjadi masalah terpenting pada religi adalah ia memberikan harapan padahal sebenarnya tidak ada harapan. Dari sisi ini, seorang atheis atau agnostik mungkin lebih aman daripada orang yang memeluk suatu religi. Orang-orang seperti itu memang tidak mempersiapkan diri untuk berdamai dengan Tuhan. Sebaliknya, orang yang religius mempercayai hal yang salah, seolah-olah ia telah tahu apa yang harus dilakukan untuk masuk ke surga, atau menyenangkan hati Allah -- walaupun mungkin ia belum yakin benar bahwa ia sungguh-sungguh "berada di sana".

Akibatnya sangat tragis. Orang-orang religius, sama seperti orang Farisi dan para pengikutnya, diperhadapkan pada akhir yang pahit. Yesus meyakinkan kita tentang hal ini ketika Ia berkata, "Maka Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga" (Mat 5:20).

Cobalah bergabung dengan kelompok pengikut religi yang salah arah. Kita akan merasa seolah-olah telah terpilih sebagai orang baik. Kita akan melihat kesalahan orang-orang yang tidak membuka hatinya bagi Allah. Kita akan merasa kasihan terhadap orang-orang yang melalui perbuatannya menggadaikan kekekalan demi kesenangan sementara. Mereka merasa sudah memilih yang lebih baik: mempunyai pendeta, imam atau rabi yang disukai. Mereka percaya kepadanya, dan yakin bahwa ia adalah orang baik yang tidak akan pernah menjadi musuh Allah. Mereka merasa senang jika ia memimpin acara-acara kebaktian yang menolong mereka untuk merasa semakin dekat dengan Allah dan merasa diri lebih baik. Namun ketika ia memberikan kunci untuk membuka pintu yang bertanda "kebahagiaan kekal", semuanya telah terlambat.

  1. Mereka puas dengan penampilan baik
  2. Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
  3. Mereka menyukai dukungan orang banyak
  4. Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
  5. Mereka menambah beban hidup
  6. Mereka menipu diri sendiri
  7. Mereka mengambil kunci pengetahuan
  8. Mereka menuntun orang ke neraka