Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBagian F. Belajar dari Seorang Religius yang Bertobat

Bagian F. Belajar dari Seorang Religius yang Bertobat


Ada sekitar enam ribu orang Farisi pada zaman Kristus. Seperti telah diketahui, mereka terkenal hebat dalam diskusi tentang "perbuatan-perbuatan baik" seperti, apakah diperbolehkan memakan telur yang keluar pada hari Sabat.

Saul dari Tarsus (yang kemudian dikenal sebagai Rasul Paulus) mewarisi tradisi religius ini. Ia menyatakan dirinya sebagai seorang Farisi dan seorang anak Farisi (Kis 23:6). Sebelum pertemuannya dengan Kristus yang mengubah hidupnya (Kis 9:43). Saul yakin bahwa hubungannya dengan Allah ditentukan oleh ketaatannya pada hukum.

Setelah bertobat, ia merumuskan hubungannya dengan Allah secara berbeda. Yang berharga baginya kemudian adalah hubungannya dengan Kristus. Ia memandang penting iman kepada Kristus, memancarkan kasih Kristus bagi orang lain, dan tetap percaya bahwa semua orang akan bertanggung jawab secara pribadi kepada Kristus Tuhan.


Cara berfikir Paulus berubah, dari hukum ke Kristus Kristus, dari hal-hal kecil ke hal-hal mendasar, dan dari hal-hal lahiriah ke hal-hal internal.

Bila sampai pada pesan Alkitab yang dapat diperdebatkan, Paulus tidak lagi dipengaruhi oleh hukum-hukum dari para ahli Taurat. Sebaliknya, ia menghimbau anggota jemaat Allah supaya tidak saling menghakimi satu sama lain untuk hal-hal yang belum pasti. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ia menulis, "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain?....Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!" (Rom 14:4, 12-13).


Mengganti kasih Kristus dengan daftar larangan akan menjadikan kita seperti Paulus sebelum menerima Kristus

Banyak di antara kita masih perlu belajar dari pandangan Paulus setelah menerima ia Kristus. Demi menghindari kompromi, kita telah mengambil sikapnya sebelum ia menerima Kristus. Dengan memakai cara-cara orang Farisi, kita telah membuat daftar petunjuk tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh murid Kristus. Masalahnya, ada orang-orang yang berusaha menaati daftar itu dengan ketat, masih saja tidak dekat dengan Allah. Orang dapat secara "religius" menolak alkohol, musik rock, rokok, berjudi ataupun nonton di bioskop, namun ia tetap mengalami kekosongan. Orang dapat beribadah di gereja, memberi persembahan, berdoa dan membaca Alkitab, sambil masih marah-marah, cerewet dan bersikap kasar.

Namun yang paling penting adalah yang datang dari Roh, bukan dari daging. Sikap mengasihi seperti Kristus sangat berbeda dengan kecenderungan alamiah kita, karena sikap kasih itu mendekatkan kita pada Kristus untuk memperoleh hikmat, kemampuan dan jaminan yang baru akan pengampunan. Hidup dengan prinsip-prinsip yang tidak dapat kita penuhi, namun mendekatkan kita pada Kristus, adalah lebih baik daripada memenuhi formalitas religi dan sekaligus kehilangan Dia.