Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are herePenerjemahan / Sebuah Pembenaran untuk Penerjemahan

Sebuah Pembenaran untuk Penerjemahan


By admin - Posted on 03 May 2018

Mengapa Setiap Orang Kristen Harus Memedulikan Sumber-Sumber Teks Injil di Luar Bahasa Mereka Sendiri

Bahasa Inggris telah senantiasa menjadi bahasa internasional yang paling dominan. Kalau begitu, untuk apa kami di Desiring God berusaha keras untuk menerjemahkan bahan-bahan kami ke dalam bahasa-bahasa lain? Mengapa tidak menghabiskan waktu, uang, dan tenaga dalam jumlah yang sama untuk mengajar orang membaca bahan-bahan bahasa Inggris kami daripada melakukan pekerjaan penerjemahan yang sulit (dan kadang-kadang berantakan)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu berhenti sejenak dan memikirkan satu pertanyaan lain: Pembenaran apa yang dimiliki orang Kristen untuk melakukan penerjemahan, baik itu khotbah atau, maupun yang lebih penting, Alkitab itu sendiri? Kami menyadari keberadaan agama lain di mana penerjemahan kitab suci mereka menimbulkan persoalan teologis. Dari mana orang Kristen memperoleh pemikiran bahwa menerjemahkan Alkitab bukan hanya diperbolehkan, melainkan bahkan merupakan ide yang baik?

Andrew Walls, yang oleh Christianity Today pernah dinyatakan sebagai “orang terpenting yang tidak Anda kenal”, mengemukakan jawaban mendalam untuk pertanyaan-pertanyaan di atas. Pada 1996, dia menerbitkan The Missionary Movement in Christian History. Di dalamnya, dia berargumen bahwa (proyek) penerjemahan merupakan sesuatu yang diperbolehkan sekaligus juga penting bagi iman Kristen. Untuk mendukung klaim tersebut, dia memberikan dua alasan utama:

Penerjemahan adalah komponen inti dalam Injil Yesus Kristus, dan penerjemahan adalah cara Allah untuk menopang dan mendewasakan umat-Nya.

1) Penerjemahan adalah komponen inti dalam Injil.

Iman Kristen bertumpu pada aktivitas penerjemahan ilahi: “Firman itu menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14) .... Inkarnasi merupakan karya penerjemahan. Sewaktu Allah dalam Kristus menjadi manusia, keilahian diterjemahkan menjadi manusia, seolah umat manusia adalah bahasa penerima (Walls, 26-27).

Walls membuat pernyataan bahwa penerjemahan merupakan hal yang utama dalam Injil karena inkarnasi Kristus sendiri adalah aktivitas penerjemahan. Ketika menjadi manusia, Yesus menerjemahkan seluruh pribadi dan karakter Allah ke dalam wujud manusia. Sebagaimana dinyatakan oleh penulis surat Ibrani, Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (1:3). Dan, seperti kata Paulus dalam surat Kolose, “Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan” (1:15).

Namun, kemuliaan inkarnasi Kristus, karya penerjemahan-Nya, bukan hanya terletak pada fakta bahwa Allah menjadi manusia, sekalipun hal itu memang luar biasa. Kemuliaan sejati terletak pada alasan mengapa Dia menjadi manusia. Penulis surat Ibrani memaparkan:

"Karena anak-anak itu adalah manusia yang memiliki darah dan daging, maka Yesus juga mengambil bagian dalam keadaan mereka supaya melalui kematian-Nya, Dia dapat membinasakan dia yang memiliki kuasa atas kematian, yaitu Iblis, dan membebaskan mereka yang seumur hidupnya diperbudak oleh ketakutan akan kematian. Jadi, jelaslah bahwa Dia tidak memberi pertolongan kepada para malaikat, tetapi kepada keturunan Abraham. Karena itu, dalam segala hal, Yesus harus menjadi seperti saudara-saudara-Nya, supaya Dia dapat menjadi Imam Besar yang penuh belas kasihan dan setia dalam pelayanan kepada Allah. Dengan demikian, Dia dapat membawa penebusan atas dosa-dosa umat." (Ibrani 2:14-17)

Dengan perkataan lain, Kristus mengubah kehidupan surgawi dan rohani-Nya ke dalam standar duniawi, yaitu daging dan darah, supaya Dia dapat mati dalam rupa daging dan darah, dan dengan demikian membayar utang dosa yang seharusnya ditanggung oleh manusia. Yesus menjadi manusia agar dapat memuaskan murka Allah atas manusia (“mengadakan/menjadi pendamaian”) dan menebus mereka dari kuasa Setan dan maut. Kemuliaan sejati inkarnasi Kristus terletak pada apa yang Dia pakai untuk menyatakannya: belas kasihan, kesetiaan, dan pengorbanan yang tidak terukur -- singkatnya, kasih -- bagi orang berdosa.

Setidaknya, ada dua kesamaan antara inkarnasi Yesus dan proyek penerjemahan Alkitab dan teks-teks kristiani lainnya.

A. Inkarnasi terjadi melalui penerjemahan.

Dalam artikelnya yang berjudul Christian Missions and the Western Guilt Complex, Lamin Sanneh mengakui kekuatan bahasa manusia yang mengagumkan. Ketika berbicara mengenai sejarah penerjemahan dalam kegiatan misi Dunia Barat, dia menyatakan, “Penerjemahan bahasa daerah/suku menjadi penting karena hal itu memungkinkan misionaris untuk berinteraksi dengan aspek-aspek budaya yang paling intim dan paling mendalam.”

Sanneh mengemukakan bahwa dibanding menjadi sistem simbol-simbol yang bersifat impersonal dan mati untuk mengirimkan pesan, seperti matematika atau kode komputer, bahasa lebih seperti darah dalam tubuh suatu kebudayaan. Bahasa adalah media yang unik, khas, dan hidup, yang berdenyut dalam setiap area kebudayaan. Karena itu, bahasa memengaruhi dan dipengaruhi oleh -- serta menopang dan ditopang oleh -- bagian-bagian lain.

Seperti darah, bahasa sama uniknya dengan tubuh kebudayaan tempat bahasa itu berada; mencerminkan sifat dan pengalamannya. Bahasa merupakan wadah bagi pengetahuan manusia, yang memuat berbagai kategori, istilah, dan konsep yang telah diperoleh melalui pembelajaran kolektif. Bahasa juga menyimpan sejarah mereka, dipenuhi dengan ungkapan dan kiasan yang semuanya menunjuk pada sejumlah pengalaman atau ekspresi budaya terdahulu/sebelumnya. Bahasa mencerminkan gaya hidup dan kondisi geografis suatu bangsa (misalnya, Sami memiliki ratusan kata untuk “salju”). Bahasa adalah substansi doa mereka, cerita mereka, musik mereka, dan percakapan mereka. Sanneh benar ketika mengatakan bahwa bahasa menyentuh “aspek yang paling intim dan mendalam” dalam suatu kebudayaan.

SIL Internasional menegaskan realitas ini dalam Kredo Linguistik mereka: "Sebagai ciri kemanusiaan paling unik yang dimiliki seseorang, bahasa seseorang terkait dengan gambar dirinya. Ketertarikan dan penghargaan terhadap bahasa seseorang setara dengan ketertarikan dan penghargaan terhadap orang itu sendiri.” (v)

Oleh karena itu, berbicara dalam bahasa orang lain adalah, seperti halnya inkarnasi Yesus, berarti berbagi "darah" dengan mereka. Penerjemahan memungkinkan Anda dan pesan yang Anda bawa untuk masuk ke dalam kehidupan setiap individu dan budaya hingga suatu kedalaman dan taraf yang mustahil dicapai dari luar jika tidak dilakukan.

B. Terjemahan berbicara kepada orang-orang biasa.

Sanneh menjabarkan cara lain tentang bagaimana penerjemahan mencerminkan pelayanan Kristus yang inkarnasional. Alih-alih hanya ditujukan kepada kaum rohaniwan terkemuka, penerjemahan Kristen membawa pesan salib kepada orang-orang biasa.

Dalam banyak kelompok masyarakat tradisional, bahasa religius cenderung terbatas pada sekelompok elite pakar yang jumlahnya sedikit. Dalam kasus ekstrem, Dalam kasus ekstrem, bahasa ini dilindungi di bawah tradisi-tradisi terlarang dari perkumpulan rahasia dan tempat-tempat keramat, yang aksesnya diperoleh melalui kondisi kerasukan atau mantra-mantra magis. Pendekatan kristiani bahwa teks kristiani dapat diterjemahkan menghunjam tendensi-tendensi gnostisisme tepat di jantungnya, pertama-tama dengan mengemukakan bahwa kebenaran religius yang terbesar dan terdalam bisa tersedia dalam bahasa sehari-hari, dan kedua dengan membidik pria dan wanita biasa sebagai orang yang layak untuk membawa pesan religius.

Bacalah kalimat terakhir ini dengan penuh kekaguman. Pesan yang tersirat ketika kita menerjemahkan kisah salib ke dalam bahasa-bahasa umum di seluruh dunia adalah 1) “kebenaran-kebenaran religius yang terbesar dan terdalam dapat tersedia dalam bahasa sehari-hari” dan 2) pria dan wanita biasa layak membawa pesan Injil.

Amin! Bukankah demikian kemuliaan Injil kita dan realitas manis keselamatan kita?

"Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah." (1 Korintus 1:26-29)

Juru Selamat kita membuktikan aspek keseharian dan kesederhanaan dalam inkarnasi-Nya. Dia datang sebagai anak tukang kayu yang miskin, dan menghabiskan hidup-Nya untuk melayani kaum wanita, anak-anak, nelayan, perempuan sundal, dan pemungut pajak. Dia berbicara dalam perumpamaan-perumpamaan yang menyampaikan kebenaran rohani terdalam dengan istilah dan konsep yang cukup sederhana untuk dipahami oleh petani ataupun anggota keluarga.

Penerjemahan pesan kristiani pada zaman modern melanjutkan karya Yesus yang menjangkau orang-orang biasa. Ketika mereka berjumpa dengan Yesus dalam bahasa yang paling mereka mengerti, mereka diselamatkan dan iman mereka bertumbuh.

Contoh terbaru tentang hal ini, lihat artikel majalah BBC dan video terkait, Jamaica's patois Bible: The word of God in creole.

2) Penerjemahan adalah cara Allah untuk menopang dan mendewasakan umat-Nya.

Dengan kembali melihat gambar besarnya, kini kita mengerti bahwa penerjemahan pesan kristiani boleh dilakukan karena, seperti kata Walls, inkarnasi Yesus merupakan karya penerjemahan yang memungkinkan, bahkan menuntut penerjemahan lebih jauh. Alasan kedua yang diberikan Walls tentang mengapa orang Kristen boleh dan harus menerjemahkan adalah karena penerjemahan merupakan kunci untuk menopang dan mendewasakan umat Allah.

A. Menerjemahkan demi kelangsungan hidup gereja.

Mengenai cara bagaimana penerjemahan dapat menopang gereja, Walls berargumen bahwa seandainya dalam 2000 tahun terakhir iman kekristenan tidak terus menjelajahi budaya dan bahasa-bahasa baru, ia tentu sudah lama musnah dari bumi.

Sepanjang sejarahnya, kekristenan telah menyebar menyeberangi batas-batas kebudayaan sehingga setiap titik baru dalam garis batas wilayah orang Kristen adalah pusat kekristenan potensial yang baru. Sudah terbukti bahwa kelangsungan dari kekristenan sebagai agama tersendiri terkait dengan proses transmisi lintas budaya. Sesungguhnya, dengan menengok ke belakang, kita akan menyadari bahwa dalam beberapa kesempatan, transmisi ini hanya terjadi pada waktunya, yang tanpanya iman Kristen tentu sudah layu.

Untuk menggambarkan hal ini, pada bab kedua dalam bukunya, Walls memaparkan secara urut bagaimana gereja mula-mula berubah dari komunitas yang mayoritas Yahudi secara etnis menjadi mayoritas Yunani sesaat sebelum kejatuhan Yerusalem. Dan, bagaimana gereja berpindah dari komunitas Yunani kepada "kaum barbar" Eropa sesaat sebelum jatuhnya kekaisaran Romawi. Kemudian, bagaimana iman Kristen yang mulai menyusut di Eropa justru menyebar ke Amerika Utara, dan bagaimana kini, ketika di dunia Barat sedang surut, iman Kristen menyebar ke Amerika Selatan, Afrika, dan Asia.

Sejarah telah menunjukkan kepada kita bahwa, sebesar apa pun kita berharap bahwa itu tidak benar, pesan kristiani tidaklah mekar tanpa batas di satu tempat atau kebudayaan. Seiring berjalannya waktu, kebudayaan atau penerimaan Injil di dalamnya melemah dan ditundukkan oleh kebudayaan atau sistem kepercayaan lain. Itu sebabnya, jika kita ingin melihat gereja terus bertahan pada masa mendatang, kita harus terus memikirkan bahasa dan budaya dan kelompok masyarakat mana yang belum dirambah oleh kekristenan, lantas mendukung pekerjaan (penjangkauan) tersebut.

Dengan perkataan tersebut, saya tidak bermaksud menyatakan bahwa kelangsungan hidup gereja sepenuhnya terletak di tangan kita. Janji Yesus bahwa gerbang maut tidak akan menguasainya masih berlaku (lihat Matius 16:18). Namun demikian, Allah menggunakan berbagai cara untuk menopang gereja, dan tampaknya penerjemahan merupakan cara yang utama. Memang, kita bisa melihat bagaimana kebutuhan akan iman dapat bergerak dari satu bahasa dan budaya ke bahasa dan budaya yang lain agar dapat bertahan terletak dalam hikmat Allah. Dengan merancangnya seperti ini, Dia menanamkan urgensi dan kebutuhan agar Injil terus bergerak dan bersarang di setiap suku, bahasa, dan bangsa.

B. Menerjemahkan untuk kedewasaan gereja.

Mengenai cara bagaimana penerjemahan dapat menuntun gereja menuju kedewasaan yang lebih matang, Walls memulai dengan pernyataan bahwa setiap kebudayaan, oleh rancangan Allah, memiliki sudut pandang, perhatian, dan pola pikir tersendiri yang membedakannya dari kebudayaan lain. Perbedaan-perbedaan ini sudah tentu membuat proyek penerjemahan menjadi sulit, tetapi hasilnya bermanfaat bagi semua orang.

Versi-versi terjemahan baru, yang membawa kabar tentang Kristus ke dalam area baru dan menerapkannya dalam situasi yang baru pula, memiliki potensi membentuk ulang serta mengembangkan iman Kristen. Alih-alih menetapkan “area aman” yang bersifat menyeluruh, tempat alur pemikiran tertentu diharuskan sementara yang lain dilarang atau diabaikan (hasil alami dari otoritas/sumber yang bersifat satu-untuk-semua dan tidak dapat diterjemahkan), kemampuan Kitab Suci untuk diterjemahkan justru berpotensi memulai interaksi kabar tentang Kristus dengan area-area pemikiran dan kebudayaan yang baru.

Walls mengatakan bahwa ketika Kristus berinkarnasi melalui penerjemahan, masuk ke dalam kebudayaan yang berbeda dan, karenanya, masuk ke dalam lingkup atau sudut kehidupan dan pemikiran yang sepenuhnya baru, maka kita mengenal-Nya lebih banyak. Kita belum pernah melihat Dia dalam rupa itu sebelumnya, dan ketika Dia mengisi budaya-budaya baru tersebut (yang mau tidak mau harus Dia lakukan jika orang percaya dalam kebudayaan itu hendak menundukkan segala sesuatu kepada-Nya), kita akan menyadari hal-hal baru tentang Dia. Dengan melakukan hal tersebut, pengetahuan dan keserupaan kita dengan Dia akan semakin bertumbuh.

Untuk memberi contoh tentang hal ini, saya perlu mengutip Walls secara utuh:

Injil-Injil Sinoptik, yang berakar selama Injil-Injil itu berada di tanah Palestina, menyebarkan Injil Yesus dalam tema-tema yang diwartakan oleh Yesus sendiri, yakni Kerajaan Allah dan karya Anak Manusia. Namun, surat-surat Paulus yang ditujukan kepada dunia Yunani di Asia Barat dan Eropa Selatan sangat jarang memakai istilah Kerajaan Allah, dan surat-surat itu tidak pernah berbicara sekali pun tentang Anak Manusia. Gelar-gelar Palestina semacam itu memiliki sedikit keterlibatan/pemahaman langsung di dunia orang-orang Kristen baru. Gelar-gelar itu memerlukan penjelasan. Untuk dapat menjelaskan siapa Kristus dan karya-Nya kepada masyarakat Yunani, perlu dibangun konsep kosakata yang baru. Elemen-elemen kosakata yang sudah ada di dunia Yunani perlu dibajak dan diarahkan kepada Kristus. Ketika hal itu terjadi, masyarakat Yunani akan mulai melihat Kristus dalam bahasa mereka sendiri, dan tidak memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang dirasa perlu oleh orang Yahudi Palestina, bahkan mereka yang dibesarkan dalam pendidikan dan kebudayaan Yunani. Khotbah dan pemahaman kristiani bergerak keluar dari kategori Mesias -- yang tampak sebagai jantung Injil bagi banyak orang percaya mula-mula -- menuju kategori seperti Logos dan Pleroma, agar dapat menjelaskan signifikansi Yesus.

Walls melihat referensi mengenai proses pendewasaan gereja ini dalam metafora yang dipakai Paulus dalam Efesus 4:13. Dengan cara yang sama seperti tubuh gereja lokal dibangun, gereja global pun matang melalui kontribusi kolaboratif masing-masing anggotanya, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”.

Cara lain yang dipakai Walls untuk mengilustrasikan pemikiran ini adalah dengan menggambarkan dunia sebagai sebuah teater. Yesus berada di panggung, sementara penonton yang terdiri dari seluruh suku bangsa di dunia duduk masing-masing di tempatnya yang unik dalam gedung teater.

Orang lain yang duduk di tempat berbeda dalam teater dunia itu mungkin melihat aksi yang sama, mendengar kata-kata yang sama; tetapi posisi tempat duduk mereka memungkinkan mereka melihat bagian panggung yang tidak dapat kita lihat dan akan mengaburkan beberapa hal yang bagi kita terlihat sangat jelas.

Jika Walls benar dalam pengertiannya ini, berarti dia juga benar dalam kesimpulannya bahwa gereja saat ini berada dalam posisi yang lebih istimewa daripada sebelumnya.

Karena tidak seorang pun dari kita bisa membaca Alkitab tanpa pengaruh budaya semacam itu, maka keuntungan besar dan sukacita utama yang dimiliki era sejarah gereja kita dibandingkan era lainnya adalah kemungkinan bahwa kita bisa membaca Alkitab secara bersama-sama. Sebelumnya, gereja tidak pernah benar-benar terlihat seperti sekumpulan besar orang yang tidak terhitung banyaknya dari segala bangsa, suku, kaum, dan bahasa. Oleh karena itu, sebelumnya, tidak pernah ada begitu banyak kemungkinan untuk saling memperkaya dan mengkritik diri sendiri karena Allah menyebabkan lebih banyak terang dan kebenaran keluar dari firman-Nya.

Aplikasi

Meskipun banyak hal yang masih dapat didaftarkan di sini dan bahkan dikaji secara lebih penuh, saya akan menutup dengan mendaftarkan dua implikasi dari pemahaman mengenai penerjemahan, yang telah saya bahas dalam artikel ini:

Sebagai individu, keluarga, gereja, denominasi, lembaga misi, dsb., kita harus peduli serta memprioritaskan proyek penerjemahan, khususnya penerjemahan Alkitab. Pekerjaan ini merupakan jantung iman kita (menjelmakan cara yang dipakai sang Juru Selamat untuk menyelamatkan kita), sekaligus sangat penting bagi kelangsungan dan kematangan gereja.

Di samping Alkitab, kita harus menghargai dan menerjemahkan tulisan John Piper dan yang lainnya karena hal itu membantu orang-orang dalam membaca dan memahami Alkitab. (Misalnya, bayangkan bagaimana tulisan Piper dan/atau pengarang non-Alkitab lain dapat menolong Anda dalam pemahaman Anda meskipun Anda sudah memiliki Alkitab dalam bahasa Anda sendiri.)

Bagi sebagian orang, aplikasi ini berarti bahwa Anda harus menceburkan diri secara inkarnasi ke dalam salah satu bahasa dunia yang belum dijangkau, belajar untuk mengucapkannya, mengembangkan sistem penulisannya, mengajar para penutur bahasa tersebut cara membacanya, membuat kamusnya, dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa tersebut. Organisasi seperti Wycliffe, misalnya, melayani gereja secara luar biasa dengan mencari bahasa mana yang belum mempunyai Alkitab dan memperlengkapi orang-orang untuk pergi dan menjawab kebutuhan tersebut. Atau, Anda juga bisa terlibat dalam organisasi seperti The Seed Company, yang berfokus pada pengembangan kapasitas pemimpin gereja lokal dan penerjemah bahasa ibu untuk menerjemahkan Alkitab bagi diri mereka sendiri.

Bagi sebagian orang lain, hal ini berarti Anda harus menggunakan kefasihan bahasa asing yang sudah Allah berikan dan menyingsingkan lengan baju, mencintai pekerjaan penerjemahan bahan-bahan Injil, baik berupa terjemahan Alkitab yang sudah diperbarui, tulisan teologis klasik, maupun khotbah modern. Gospel Translation mengerjakan ini dengan baik. Dan, tentu saja, ini tidak berarti hanya melakukan penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa lain. Penerjemahan harus dilakukan ke dalam banyak bahasa.

Bagi kita semua, hal ini berarti bahwa kita harus mendorong dan menghormati mereka yang terlibat dalam proyek penerjemahan, dan mendukung mereka, baik dalam doa maupun dana, sebanyak yang kita mampu. (t/Aji)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Desiring God
URL : https://www.desiringgod.org/articles/a-justification-for-translation
Judul asli artikel : Justification for Translation
Penulis artikel : Tyler Kenney
Tanggal akses : 20 Maret 2018