Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereArtikel / Bahaya-Bahaya Memiliki Sosok "Kompleks Mesias" Selama Perjalanan Misi

Bahaya-Bahaya Memiliki Sosok "Kompleks Mesias" Selama Perjalanan Misi


By admin - Posted on 20 December 2017

Kita semua berkeinginan untuk menyelamatkan dunia. Kita ingin menyelamatkan mereka yang hidup dalam kemiskinan, menyelamatkan anak-anak dari tindak kekerasan, dan menyediakan makanan serta minuman bagi masyarakat yang sedang berjuang. Ini merupakan hal yang baik. Keinginan untuk membuat perubahan merupakan sebuah ciri khas yang Allah letakkan dalam hati kita; Allah membentuk kita bersamaan dengan keinginan untuk menolong orang lain.

Bahaya-bahaya muncul ketika kita terlampau jauh mengikuti keinginan kita. Hal ini biasa disebut sebagai "Kompleks Mesias"

Kompleks Mesias adalah sebuah keadaan pikiran di mana kita secara tidak sadar mulai melihat diri kita sebagai jawaban (atau penyelamat) bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan. Meskipun hal ini baik untuk kita percaya bahwa kita dapat membuat perbedaan, bahaya-bahaya tersebut akan muncul saat kita terlalu jauh menggunakan perasaan kita. Inilah bahaya memiliki sosok Kompleks Mesias selama perjalanan misi Anda.

Ia meninggikan Anda di atas orang lain.

Perjalanan misi adalah sepenuhnya tentang melayani dan mengasihi orang lain. Ini bukan tentang kita.

Ironisnya, jika kita membiarkan Kompleks Mesias menyelinap masuk kedalam pikiran dan hati kita, sesungguhnya kita benar-benar mengambil risiko membuat perjalanan tersebut menjadi tentang diri kita sendiri. Sang Kompleks Mesias menggoda kita untuk memuaskan hasrat kita untuk "menyelamatkan" orang yang kita temui, meningkatkan kebutuhan kita agar dilihat layaknya seorang pahlawan di atas kebutuhan orang lain.

Ketika kita meninggikan diri kita, ini juga bisa menyebabkan munculnya rasa superioritas; hal ini dapat membuat kita merasa seperti kita lebih baik daripada orang-orang di sekitar kita. Filipi 2:3 (AYT) membahas mengenai godaan untuk meninggikan diri kita dengan berkata "Jangan melakukan apa pun dari ambisi yang egois atau kesombongan yang sia-sia, tetapi dengan kerendahan hati, anggaplah orang lain lebih penting daripada dirimu sendiri."

Hal ini mengalihkan rasa hormat kita akan sesama.

Pernahkah Anda merasa malu ketika ada hal yang tak mampu Anda kerjakan dan orang lain harus membantu Anda? Mungkin ketika Anda sedang kesulitan dengan mata pelajaran yang Anda pelajari di sekolah, atau mungkin pekerjaan di kantor, dan Anda pun merasa malu pada hal-hal tersebut. Bila ada orang lain yang harus membantu Anda ketika Anda berada dalam posisi rentan. Bisa jadi orang tersebut akan merendahkan derajat Anda atau memberi kuasa pada Anda.

Hal yang sama berlaku dalam sebuah perjalanan misi. Saat kita melayani dan membantu orang lain, orang yang dilayani berada dalam posisi rentan. Jika Anda memiliki Kompleks Mesias pada saat itu dengan perilaku "Mundur, saya bisa melakukannya", Anda berisiko membuat seseorang merasa tidak bermartabat. Sebagai gantinya, kita perlu untuk merangkul rasa empati kita, dan mencoba memahami perasaan orang lain. Kemudian berikan tawaran untuk membantu.

Kebalikan dari Kompleks Mesias adalah mentalitas tim. Hal ini bisa menciptakan ketergantungan.

Kompleks Mesias memberi tahu orang-orang yang kita jumpai, "Saya di sini untuk menyelamatkan Anda dari keadaan Anda." Sementara kita semua ingin membantu mereka yang membutuhkan, mentalitas ini dapat menciptakan ketergantungan pada orang-orang yang kita layani. Kita harus memperjuangkan keseimbangan antara melayani penduduk setempat dan mendorong penduduk lokal selama perjalanan misi pengutusan.

Melayani merupakan sesuatu yang hebat, terutama saat kita membantu mereka yang kesulitan menolong diri mereka sendiri. Hal yang sama baiknya juga adalah mendorong dan memberdayakan penduduk setempat untuk menemukan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Bekerja sama dengan penduduk setempat untuk memecahkan masalah yang ada dalam sebuah komunitas, seringkali dilihat sebagai cara terbaik untuk melayani. Akan tetapi, jika kita memasuki sebuah komunitas dengan sosok Kompleks Mesias, hal itu menghambat pemecahan masalah dalam masyarakat dan mendorong ketergantungan.

Hal ini mendorong Anda untuk "melakukan untuk" bukan "melakukan bersama"

Jika orang lain yang selalu menyelesaikan tugas matematika Anda semasa duduk di bangku SMA, Anda mungkin akan memanggil orang itu sebagai penyelamat Anda. Meskipun hal itu terlihat baik, bahwa pekerjaan tersebut telah diselesaikan orang lain untuk Anda, tetapi itu benar-benar tidak akan membantu Anda kedepannya karena hanya bersifat sementara.

Dengan cara yang sama, memiliki mentalitas penyelamat selama perjalanan misi mendorong Anda untuk "melakukan untuk" penduduk setempat dan bukan "melakukan bersama". Ketika sepanjang waktu segala hal kita kerjakan untuk penduduk setempat, ini seringkali dinilai baik namun hal ini sesungguhnya tidak membantu mereka, apalagi setelah Anda pergi. Sebaliknya, jika kita "melakukan dengan" penduduk setempat dan mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam mengangkat komunitas mereka, kita mempersipakan mereka untuk sukses setelah kita kembali.

Ini adalah usaha sebuah tim.

Kebalikan dari Kompleks Mesias adalah mentalitas tim. Ketika kita merangkul mental tim, kita mengurangi godaan untuk meninggikan diri kita di atas orang lain atau menghilangkan martabat orang yang kita temui. Mentalitas tim juga menghambat ketergantungan dan mendorong sikap "melakukan dengan".

Yesus adalah satu-satunya Juruselamat sejati, dan kita harus menjadi tangan dan kaki-Nya. 1 Korintus 12:27 (AYT) mengatakan, "Sekarang Anda adalah tubuh Kristus dan Anda masing-masing adalah anggota-anggota menghidupi apa artinya menjadi tubuh Kristus. (t/Lidya)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Prepare My Mission
URL : http://preparemymission.com/the-dangers-of-having-a-savior-complex-during-your-mission-trip/
Judul asli artikel : The dangers of having a “savior complex” during your mission trip
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 31 Juli 2017