Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Animisme: Agama Orang Suku yang Buta Aksara

Animisme: Agama Orang Suku yang Buta Aksara


Animisme adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan agama suku atau agama yang dianut oleh komunitas buta aksara. Kepercayaan ini juga sering disebut sebagai agama tradisional atau agama aborigin. Kerap kali orang-orang salah kaprah menganggapnya sebagai agama primitif karena sebenarnya agama tersebut cukup kompleks.

Ada sekitar 100 juta penganut agama suku dari ribuan suku yang tersebar di berbagai benua dan pulau yang berbeda. Agama suku kebanyakan dianut oleh suku Indian di Amerika Utara dan Amerika Selatan, suku Afrika bagian tropis, pulau Irian, dan Oseania; selain itu, agama suku juga dianut oleh suku aborigin yang primitif di Australia, Selandia Baru, India, dan Jepang.

Terdapat beberapa perbedaan mencolok antara agama dan kebudayaan suku-suku ini, namun lewat pembelajaran menyeluruh tentang suku-suku tersebut kita dapat menarik tema-tema besar yang memiliki kemiripan. Para antropolog sekuler dan misionaris telah menyiapkan data bagi mereka yang mencari informasi tentang suku-suku tersebut. Masih banyak informasi yang keliru karena mereka tidak memahami bahasa suku dan kurang memaksimalkan waktu untuk membuktikan dan menemukan rahasia terdalam agama-agama suku. Walaupun telah melakukan penelitian yang cukup lama, beberapa temuan masih sering tidak mencapai kata sepakat serta menimbulkan kontroversi. Penelitian semakin sulit dilakukan karena banyak suku yang hampir punah atau telah berintegrasi dengan peradaban. Namun demikian, masih banyak generalisasi yang sah yang dapat kita buat tentang animisme.

Banyak dasar-dasar animisme dapat ditemukan pada pemeluk agama-agama yang sudah "berkembang" seperti Muslim, Buddhis, dan orang-orang Kristen KTP. Kita menyebutnya takhayul, contohnya "nasib buruk jika kucing hitam melintas di depan kita". Tabu-tabu seperti ini lumrah muncul dalam kepercayaan animisme. Berikut definisi yang diberikan oleh Houghton.

Berasal dari kata "anima" (nafas). Animisme dapat dikenal dengan istilah yang lebih sederhana dan populer "penyembahan roh", berbeda dengan penyembahan kepada Allah atau dewa-dewa.

Dampaknya terhadap pemikiran agama primitif menunjukkan seberapa jauh animisme mendasari agama natural, berkebalikan dengan agama pewahyuan. Yang disebut sebagai animisme termasuk "Nekrolatri", yaitu kegiatan penyembahan jiwa manusia dan hewan, terutama yang sudah meninggal; Penyembahan Roh, yaitu tidak membatasi umat menyembah kepada obyek atau tubuh tertentu; dan Naturisme, yaitu penyembahan terhadap entitas spiritual yang dipercaya dapat mengatur fenomena alam. Paham seperti ini tidak hanya terdapat dalam agama suku yang liar dan buas sebelum mereka berhubungan dengan peradaban, namun paham tersebut juga menjadi dasar filsafat orang-orang Hindu, Buddhis, Shinto, Konfusianis, dan Islam, dan juga menjadi landasan cerita-cerita takhayul orang-orang Kristen di Eropa, selain juga mitologi dari Mesir, Babilonia, Siria, Yunani, Roma, dan Skandinavia.

Banyak kegiatan dan konsep agama-agama yang sama di antara berbagai kepercayaan animisme. Sebagian besar memiliki kegiatan-kegiatan komunal rutin seperti ritual, acara tradisi (terkait dengan kelahiran, kedewasaan, pernikahan, kematian, dll.), pesta adat, sihir, mitos dan legenda, pemujaan terhadap kesuburan, fetisisme, imam/shaman/dukun, mana (kekuatan supernatural yang gaib), roh-roh, ramalan dan korban persembahan, tabu-tabu, totemisme, dan pemujaan orang mati.

Nekrolatri (penyembahan orang mati)

Bagi agama suku, memerhatikan jiwa orang mati sangatlah penting. Upacara dilaksanakan sebagai bentuk rasa hormat terhadap nenek moyang. Selain itu, bisa jadi mereka takut akan jiwa orang lain yang telah meninggal. Masyarakat suku sering berpendapat bahwa nenek moyang yang telah tiada masih menjadi bagian dari klan mereka sehingga mereka merasa wajib menyenangkan nenek moyangnya dengan melaksanakan beragam ritual. Mereka biasanya takut terkena celaka yang disebabkan oleh amarah orang mati kepada mereka. Mereka menganggap ini sungguh-sungguh dapat terjadi terutama bagi mereka yang meninggal dengan cara yang tidak wajar. Jiwa akan datang dan memburu yang hidup, kecuali jiwa tersebut dibantu dalam perjalanannya ke tempat orang mati dengan melaksanakan upacara-upacara yang sesuai.

Penyembahan Roh

Agama suku tidak hanya memedulikan jiwa orang mati, tetapi juga keberadaan setan dan roh yang berpribadi. Mereka juga percaya di alam ini terdapat kekuatan roh nirpribadi yang disebut "mana" oleh orang-orang Polinesia.

Sebagian besar agama suku memercayai banyak sekali roh-roh jahat yang mendiami tanah, udara, air, api, pohon, gunung, serta hewan. Seluruh kehidupan diatur oleh tabu-tabu dan ritual-ritual yang dirancang khusus untuk menentramkan para roh.

Penyembahan Roh -- Shamanisme

Sering kali "shaman" atau imam/dukun berfungsi sebagai perantara yang mahir dan serba tahu tentang mantra dan jumlah korban persembahan. Acapkali, mereka dipanggil untuk menyembuhkan sakit penyakit, tapi seorang shaman juga memunyai beberapa fungsi lain. Dalam banyak suku lainnya biasa ditemui individu-individu lain untuk melakukan ritual tersebut sendiri.

Penyembahan Roh -- Sihir

Dalam banyak kasus, roh tidak dilihat sebagai sosok berpribadi, namun dilihat sebagai kekuatan alam nirpersonal seperti yang dikatakan di atas. Banyak suku yang mengembangkan kepercayaan dan kegiatan sihir mereka agar dapat memanfaatkan kekuatan alam demi kepentingan pribadi mereka. Sihir peniruan digunakan untuk mencelakai musuh dengan menyerang representasinya (misalnya boneka voodoo). Sihir penularan adalah praktik-praktik sihir yang bergantung pada hubungan yang terdapat antara seseorang dengan benda-benda yang berhubungan dengannya seperti potongan rambut, potongan kuku, atau kotoran manusia.

Sihir juga dapat digunakan untuk kepentingan individu tertentu. Darah dari hewan pemangsa diminum untuk mendapatkan kekuatan hewan tersebut. Kepercayaan ini berkembang lebih jauh lagi dalam tindakan kanibalisme: memakan musuhnya untuk memperoleh kekuatannya.

Penyembahan Roh -- Fetisisme

Konsep "mana" sangat membantu kita memahami kegunaan dari mantra, jimat, dan fetis-fetis lainnya. Mereka biasanya tidak dianggap dihuni oleh roh yang berpribadi, namun oleh energi atau kekuatan spiritual. Tentu saja mantra dan jimat tidak hanya dipakai oleh para penganut animisme saja. Banyak orang Barat, demikian pula orang Islam, dan penganut agama lain yang beradab, percaya dengan bermacam-macam jimat. Dalam budaya suku, hal inilah yang menempati posisi sebagai ilmu pengetahuan.

Naturisme

Naturisme adalah personifikasi dan penyembahan kekuatan alam seperti matahari, bulan, dan bintang, api, gunung berapi, badai, dan hewan. Bentuk penyembahan seperti ini sudah lazim dalam agama orang-orang kuno, seperti halnya matahari yang diagungkan dalam agama Mesir kuno. Gagasan-gagasan naturistis ternyata juga muncul dalam agama-agama yang lebih "tinggi", seperti sapi suci oleh orang-orang Hindu di India atau gunung suci orang-orang Shinto Jepang. Memang tidak mudah untuk membuat perbedaan yang jelas antara kegiatan sihir yang disebut di atas dan naturisme. Namun demikian, dalam banyak kejadian, alamlah yang disembah. Biasanya, naturisme berkembang menjadi penyembahan berhala dan politeisme (penyembahan terhadap banyak dewa).

Banyak praktik naturistis berkaitan erat dengan kesuburan, baik dalam pertanian maupun reproduksi manusia. Penyembahan, ritual-ritual, dan korban-korban persembahan dimaksudkan untuk menjamin kesuburan. Tampaknya, korban manusia adalah bentuk ekstrem dari ritual ini, seperti yang muncul dalam ritual agama orang-orang Maya yang ditemukan di Meksiko sebelum masa penjajahan atau pada orang-orang Naga yang buas di bagian timur laut India dan Burma.

Naturisme -- Totemisme

Mungkin totemisme termasuk salah satu aspek naturisme. Totemisme adalah istilah yang berasal dari sebuah kata Indian yang berarti "saudara-lelaki-perempuan", yang melambangkan kesatuan klan dengan beberapa tanaman atau hewan suci. Warga suku melihat bahwa ini adalah aspek keterkaitan antara kehidupan manusia dan alamnya. Oleh karena itu, hewan atau tumbuhan totem dianggap suci bagi suku mereka dan tidak boleh dimakan kecuali dalam upacara-upacara khusus.

Kesimpulan

William Paton merinci empat karakteristik agama dan budaya animisme. Pertama, seluruh kehidupan diliputi ketakutan. Ketakutan mengatur sebagian besar tindakan-tindakan orang-orang suku. Kedua, hilangnya kasih dan penghiburan dari agamanya. Seorang penganut animisme mungkin dapat memunyai konsep Allah Pencipta, namun Dia dirasa sangat jauh dari kehidupan manusia sehingga mereka tidak perlu memedulikan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada pengharapan dalam agama mereka. Ketiga, tidak ada hal yang absolut dalam moralitas. Dosa tidak dilihat sebagai dosa, namun hanya pelanggaran terhadap budaya, adat, dan kekuatan alam. Keempat, kurangnya hubungan dengan Allah menyebabkan sikap pandang yang fatalistik karena seluruh kejadian dalam kehidupan ini telah ditentukan sebelumnya dan diatur oleh alam dan setan. Penilaian kekristenan terhadap kepercayaan animisme harus dimulai dengan penjelasan Rasul Paulus dalam Roma 1:21-25 tentang bagaimana keturunan Nuh yang pernah percaya kepada Tuhan terdegradasi ke dalam praktik animisme. Houghton mengutip kesimpulan dari seorang anonim yang tepat: "Inti dari kafirisme bukanlah suatu penyangkalan terhadap Allah ... namun sebuah pengabaian terhadap Dia dan beralih kepada penyembahan kekuatan alam serta kekuatan setan yang misterius melalui sihir dan korban dan upacara magis." (t/Uly)

Diterjemahkan dari:

Judul artikel : Animism: The Religions of Nonliterate Tribal Peoples
Judul buku : What in the World is God Doing?
Penulis : C. Gordon Olsen
Penerbit : Global Gospel Publishers, 1994
Halaman : 171 -- 174

e-JEMMi 20/2010