Rwanda Tahun 2000

Saat Emmanuel Duknzemnriya pulang dari kerja tanggal 21 April 1994,
anaknya berteriak, "Mama meninggal!". Istrinya, Appoline terbaring
di lantai dan banyak mengeluarkan darah. Dia telah diserang oleh
salah satu gang pemberontak Hutu "wielding machetes", namun dia
tidak meninggal.

Dia berjuang melawan maut selama tiga bulan, dan
dia sudah sembuh saat memberikan kesaksian di hadapan 7000 orang
dalam konferensi Explo 2000 di Lausanne, Switzerland. Konferensi
di Lausanne disiarkan via satelit ke 87 konferensi Explo lainnya,
termasuk di Kigali, ibukota Rwanda, yang dihadiri oleh 20,000 Hutus
dan Tutsis! Sekarang, Appoline dapat mengampuni orang yang
menganiayanya. Sebagai orang Kristen, dia belajar untuk menghapus
rasa benci dan sakit hatinya. Dia juga dapat berdoa, "Yesus, ampuni
Rwanda, dan ampuni geng yang telah menyerang di rumah kami."



Sumber: E. und A. Duknzemnriya; http://www.Explo.ch ; PrayerNet
dan FRIDAYFax Januari, 2000

e-JEMMi 04/2000

Kategori

  • Rwanda
  • Appoline Duknzemnriya
  • Pengampunan
  • Penyintas Trauma
  • Rekonsiliasi
  • Konferensi Explo 2000
  • Pada tahun 1994, Appoline Duknzemnriya mengalami serangan parah dari kelompok pemberontak Hutu.
  • Ia selamat dari serangan tersebut dan berjuang untuk melawan kematian selama tiga bulan.
  • Kesaksian penyembuhan Appoline disampaikan di konferensi Explo 2000 di Lausanne, Swiss.
  • Inti dari pesan hidupnya adalah belajar untuk mengampuni penganiaya dan mendoakan perdamaian bagi Rwanda.

Artikel ini menceritakan kisah Appoline Duknzemnriya, seorang penyintas trauma hebat yang diserang oleh gang pemberontak Hutu menggunakan parang pada tahun 1994. Meskipun serangan itu sangat brutal, ia berhasil bertahan hidup dan berjuang selama tiga bulan. Setelah pulih, Appoline memberikan kesaksian penyembuhannya di konferensi Explo 2000 di Lausanne, Swiss. Kisah hidupnya menunjukkan perjalanan transformatif seorang Kristen yang belajar untuk melepaskan kebencian dan sakit hati, hingga mencapai titik di mana ia mampu mendoakan pengampunan bagi Rwanda dan para penyerangnya.