You are heree-JEMMI No.22 Vol.11/2008 / ROBERT A. JAFFRAY (1873 -- 1945)

ROBERT A. JAFFRAY (1873 -- 1945)


Skotlandia, negeri di belahan utara Benua Eropa, adalah salah satu negeri yang menghasilkan penginjil andal terbanyak untuk diutus ke seluruh pelosok dunia, di antaranya Robert A. Jaffray. Ia dilahirkan pada 16 Desember 1873. Ayahnya yang juga bernama Robert Jaffray adalah seorang yang dingin terhadap kekristenan, namun ibunya, Sarah Bugg, sangat aktif di gereja, dan hal inilah yang membuat anak-anak mereka memiliki kerohanian yang baik. Namun, sekalipun sang ibu selalu membimbing anak-anak dalam kerohanian mereka, Jaffray pernah terjerumus dalam pergaulan dengan kelompok ateis di Toronto, Kanada. Namun, tradisi Protestan yang sangat melekat dalam dirinya mampu membuatnya melepaskan diri dari kelompok tersebut. Masa kecil Jaffray memang bukan masa kecil yang bahagia karena ia mengidap penyakit jantung dan gula yang sangat menyiksanya. Akan tetapi, Tuhan memiliki rencana indah bagi Jaffray. Di usianya yang ke-16 Jaffray bertobat berkat ketekunan dan usaha Annie Gowan, guru sekolah minggunya di Presbyterian St. James Square, Kanada. Beberapa tahun kemudian, ketika mendengar khotbah A.B. Simpson, pengkhotbah yang sangat terkenal pada waktu itu, Jaffray tertantang untuk memberitakan Injil ke luar negeri, sekalipun sebelumnya ia bermaksud menolak panggilan tersebut. Jaffray kemudian menempuh pendidikan di New York Missionary Training Institute. Namun, ayahnya tidak menyetujui hal itu karena sudah merencanakan agar Jaffray melanjutkan usahanya di bidang asuransi. Dia mengancam tidak akan membantu Jaffray dalam hal keuangan jika tidak menuruti kehendaknya. Akan tetapi, Jaffray tetap memutuskan akan menjadi utusan Injil ke Tiongkok, apa pun risikonya.

Pada 1897, A.B. Simpson mengutus beberapa utusan misi ke Tiongkok Selatan dan Jaffray adalah salah seorang di antaranya. Bersama Rob Glover, Jaffray ditempatkan di Tung-Un, kota kecil di Guangxi. Namun, misi mereka kurang berhasil sehingga dihentikan. Selama menantikan tugas selanjutnya, mereka belajar bahasa dan budaya Tiongkok, dan setahun kemudian ia dipindahkan ke Wuchow. Mereka memulai penginjilan dan mendapat banyak tantangan dari penduduk setempat karena dianggap sebagai pengacau. Meskipun demikian, pelayanan mereka maju dengan pesat sehingga Jaffray diangkat sebagai ketua penginjilan di Tiongkok Selatan. Selanjutnya, Jaffray memimpin Sekolah Alkitab di Wuchow dan beberapa waktu kemudian, sambil mengajar, ia menerbitkan "The Bible Magazine" karena ia tahu bahwa karya tulis sangat efektif dalam penginjilan. Jutaan eksemplar buku rohani tersebar ke seluruh dunia selama hidupnya. Ia juga mendirikan sebuah penerbitan bernama South China Alliance Press, yang juga merupakan hasil bantuan teman-temannya di Kanada dan Amerika.

Kondisi kesehatan yang kurang baik tidak membuat Jaffray lemah dan patah semangat dalam pelayanan. Pukul empat pagi dia belajar Alkitab dan banyak menggunakan waktunya untuk berdiskusi dengan teman-temannya. Berdoa dan bekerja merupakan kunci keberhasilan dalam pelayanannya. Ia juga berpendirian teguh sehingga sering terlibat dalam perdebatan di rapat-rapat yang diikutinya, khususnya jika berhubungan dengan pendapat para misionaris Barat mengenai orang-orang Tionghoa. Menurutnya, ia dikirim ke Tiongkok bukan untuk menjadikan orang Tionghoa sebagai orang Barat, tetapi untuk menjadikan mereka murid Kristus. Kerendahan hati Jaffray tetap membuat orang segan kepadanya sekalipun mereka sering berbeda pendapat dengannya.

Keadaan Tiongkok yang rawan pada tahun 1920-an membuat para misionaris dituntut keberaniannya atau pekerjaan misi akan berhenti. Penculikan, perampokan, bahkan pembunuhan sering terjadi. Pada 1923, Kota Kweilin dikepung selama 77 hari. Banyak orang yang mati dan hampir mati kelaparan, termasuk para utusan misi. Pada saat itu, Jaffray yang berada di Kota Wuchow berdoa bersama teman-temannya untuk keselamatan Kota Kweilin. Jaffray juga membentuk beberapa tim untuk menyelamatkan utusan-utusan Injil di sana. Dalam perjalanan, Jaffray bersama teman-temannya jatuh ke tangan para perampok yang kejam dan kasar, yang menjarah semua barang yang mereka bawa. Tetapi, Jaffray tanpa takut memberitakan Injil kepada para perampok tersebut, dan akhirnya mereka membebaskan Jaffray dan teman-temannya dengan uang tebusan dari pemerintah Tiongkok.

Pelayanan Jaffray selanjutnya adalah di Indo Cina. Selama setahun di daerah ini, pelayanannya tidak berhasil dan membuatnya gelisah. Ia kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan misinya ke Tonkin, bahkan Hanoi di Vietnam. Namun, berkali-kali pelayanannya tidak berhasil. Beberapa waktu kemudian, bersama Lloyd Hughes dan Paul Hostler, Jaffray berhasil memberitakan Injil di Tourane, namun tidak lama kemudian penginjilan berhenti karena pecahnya Perang Dunia I. Daerah pelayanan misi di Indo Cina berada di wilayah jajahan Perancis. Pos-pos penginjilan ditutup dan para utusan Injil tidak dapat berbuat apa-apa sehingga akhirnya mereka hanya belajar bahasa dan kebudayaan di Indo Cina. Beberapa waktu kemudian, Jaffray diangkat sebagai penasihat Alliance wilayah Indo Cina di wilayah jajahan Perancis yang bermarkas di Wuchow. Kemudian, negosiasinya dengan gubernur Perancis membuat pekerjaan misi bisa tetap berjalan di daerah tersebut. Kesempatan ini segera digunakan dengan baik oleh Jaffray dengan mendirikan percetakan bernama Penerbit Misi di Hanoi, yang menerbitkan dan menyebarkan traktat dan buku-buku rohani. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, Alkitab dalam bahasa Annam berhasil diterbitkan, dan pada 1917 diterbitkan buku-buku rohani dalam bahasa dan huruf Korea.

Jaffray selalu memiliki strategi dan prinsip alkitabiah dalam pekerjaan misinya, serta tidak pernah berhenti bergerak dalam pelayanannya. Setiap waktunya digunakan untuk memberitakan Injil, dan banyak cara ia gunakan, di antaranya melalui pendirian sekolah Alkitab, percetakan, dan mendirikan gereja untuk memelihara iman orang percaya. Jaffray juga senantiasa mengawasi pelayanan-pelayanan di Thailand, Laos, Kamboja, dan negara-negara Indo Cina lainnya. Berkat kegigihannya, sebagian Indo Cina akhirnya dimenangkan bagi Kristus.

Pada 1927, Jaffray mulai mengarahkan pelayanan ke negara-negara Pasifik dan memutuskan meninggalkan Tiongkok untuk kemudian mendarat di Sandakan, Kalimantan. Untuk kepentingan pelayanan di daerah ini, Jaffray membeli kapal untuk menyusuri sungai-sungai di daerah tersebut. Pada akhirnya, Jaffray bersama keluarganya pindah ke Indonesia. Di Makassar, dia mendirikan sekolah Alkitab dan percetakan serta meluaskan pelayanannya ke daerah-daerah lain di Indonesia. Namun, penjajahan Jepang membuat Jaffray tidak dapat leluasa melakukan pelayanannya. Dia bahkan harus berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya karena orang Jepang saat itu sangat anti terhadap orang Barat. Penderitaan luar biasa dialami oleh Jaffray, namun ia memiliki prinsip bahwa hidupnya adalah untuk mencari orang miskin, tertekan, dan menderita untuk dibawa kepada Yesus Kristus. Pada 29 Juli 1945 menjadi saat di mana Jaffray menghembuskan napas terakhirnya. Namun, apa yang sudah dilakukannya membawa dampak yang tidak pernah berakhir dalam kehidupan orang-orang, bahkan sampai pada zaman ini.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Pekan Misi dan Penginjilan ke-29, Gereja Injili Hok Im Tong, 2005
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Gereja Injili Hok Im Tong
Halaman : 50 -- 51

e-JEMMi 22/2008