SUKU JAWA BANYUMASAN
Jawa Tengah
| Letak | : | Jawa Tengah |
| Populasi | : | 6.600.000 jiwa |
| Bahasa | : | Banyumasan |
| Anggota Gereja | : | 20.000 (0,33%) |
| Alkitab dalam bahasa Jawa Banyumasan | : | Tidak Ada |
| Film Yesus dalam bahasa Jawa Banyumasan | : | Tidak Ada |
| Siaran radio pelayanan dalam bahasa Jawa Banyumasan | : | Tidak Ada |
Suku Banyumasan tinggal di Propinsi Jawa Tengah bagian Barat
Daya, tepatnya di wilayah Kabupaten Cilacap, Kebumen, Purworejo,
Purbalingga, Banjarnegara dan Banyumas. Mereka tersebar di 115
Kecamatan & 2010 Kelurahan. Umumnya, daerah-daerah ini berupa
perbukitan tanah datar & pantai (Selatan Jawa). Suku Jawa Banyumasan
sering disebut suku Jawa Mendhoan atau Jawa Serayu. Di sebut demikian
karena nama makanan khas mereka `mendhoan' (terbuat dari tempe
dicelupkan dalam adonan terigu yang telah dibumbui kemudian digoreng
setengah matang), sedangkan `Serayu' karena sebagian besar wilayahnya
dilalui Sungai Serayu. Untuk mencapai suku ini sangat mudah, karena
sebagian wilayahnya dilalui jalur utama lintas selatan pulau Jawa.
SOSIAL BUDAYA
Sebagian besar suku Banyumasan bermata pencaharian di sektor
pertanian. Di samping tanahnya yang subur, cara pengolahannya sudah
mengikuti pola tanah yang baik apalagi didukung peralatan modern.
Sektor industri mengalami perkembangan yang pesat, hal ini ditandai
dengan difungsikannya kota Cilacap sebagai kota industri. Selain
industri berat, industri kecil juga berkembang dengan baik. Anyaman
bambu dan produksi gula merah merupakan andalan di sektor ini. Selain
memenuhi KEBUTUHAN orang Banyumasan sendiri, hasil komoditi ini
dipasarkan juga ke daerah lain.
Suku Banyumasan terkenal dengan kesenian daerahnya yang khas
antara lain : seni tari (tari angguk/topeng angguk), seni karawitan,
seni pedalangan (dhalang jemblung), jaran kepang atau kuda lumping,
wayang kulit gagrak Banyumas, batik corak banyumasan dan berbagai
seni tradisional lainnya yang memiliki gaya sendiri yang lebih lugas
dan merakyat daripada gaya Surakarta dan Yogyakarta.
AGAMA/KEPERCAYAAN
Orang Banyumasan mayoritas beragama Islam (97,93% dari total
penduduknya). Namun demikian, 80% dari jumlah itu merupakan `Islam
abangan' atau "Islam KTP", sedang 20% sisanya merupakan Islam
`santri' yang mendalami ajaran Islam dengan sungguh-sungguh dan taat
dalam ibadah. Selain itu ada juga yang menganut animisme/dinamisme.
Mereka mempercayai adanya makhluk hidup halus yang sering disebut
alam halus. Makhluk halus itu ada yang suka membantu dan mengganggu
manusia. Makhluk yang suka mengganggu disebut medi, kerjanya
menakut-nakuti manusia. Nama-nama medi itu misalnya : bujungan (hantu
pocong), medi ini berujud jenasah terbungkus kain kafan dengan posisi
berdiri; jangkrong (berwujud tengkorak manusia atau kerangkanya),
dhemit, makhluk halus sebagai penunggu dan penghuni tempat-tempat
keramat. Tempat yang ada dhemitnya biasanya disebut angker
(menakutkan) misalnya : kuburan, gunung, gua dan lautan. Sebagian
orang Banyumasan masih mempercayai dukun apabila sakit atau diganggu
makhluk halus sebagai penunggu dan penghuni tempat-tempat keramat.
Tempat yang ada dhemitnya biasanya disebut angker (menakutkan)
misalnya : kuburan, gunung, gua dan lautan. Sebagian orang Banyumasan
masih mempercayai dukun apabila sakit atau diganggu makhluk halus.
Agar suatu daerah terhindar dari malapetaka, maka mereka mengadakan
slametan atau kenduren, dimana dalam acara itu seorang dukun
menaikkan mantera sambil memberikan sesaji kepada para dhemit.
KEBUTUHAN
Untuk meningkatkan penghasilan di sektor pertanian, suku
Banyumasan membutuhkan lebih banyak lagi pembangunan bendungan di
samping sistem irigasinya yang lebih baik, agar petani bisa panen
lebih dari tiga kali setahun. Kemudian untuk mengurangi jumlah kaum
muda yang urbanisasi karena mencari pekerjaan, maka diperlukan lebih
banyak lagi pabrik-pabrik yang berdiri di luar kota Cilacap sebagai
kota industri.
POKOK DOA
Kemudian daripada itu aku melihat :
sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang
banyak yang tidak dapat terhintung banyaknya, dari
segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa,
berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak
Domba, memakai jubah putih dan memegang
daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan
suara nyaring mereka berseru : "Keselamatan
bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan
bagi Anak Domba !"
(\\/TB #Wahyu 7:9-10*\\)
- Berdoa agar Tuhan mencurahkan Roh Kudus, berkat dan kasihNya di
tengah-tengah suku Jawa Banyumasan, agar terang dan kemuliaan
Tuhan bercahaya di atasnya. Berdoa agar hati mereka disentuh oleh
kasih Tuhan melalui berbagai cara dan mereka yang berseru kepada
nama Tuhan akan diselamatkan.
- Berdoa agar Tuhan yang empunya tuaian membangkitkan gerejaNya
untuk bersatu dan bekerjasama, menyediakan pekerja : pendoa
syafaat, penerjemah Alkitab, kaum profesional, penabur dan penuai
untuk memberkati dan meningkatkan kesejahteraan hidup suku
Jawa Banyumasan
- Berdoa bagi adanya lembaga & gereja yang digerakkan oleh Tuhan
untuk mengadopsi suku Jawa Banyumasan yang juga berbeban dalam
meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.
Jika saudara ingin mengetahui informasi lebih lanjut,
silahkan menghubungi :
PJRN
Kotak Pos 6739/JKUKP - Jakarta 14607
Telp/Fax. (021) 45843235-42
Untuk kalangan sendiri