Lilias Trotter

Izinkan saya berbicara kepada Anda tentang lebah desultory.

Jika Anda bertanya-tanya, desultory berarti berpindah-pindah dari satu hal ke hal lainnya secara acak dan tanpa arah yang jelas. Saya teringat akan pengembaraan lebah yang tak menentu ini karena berkaitan dengan sosok yang menjadi pokok pembahasan kita kali ini: seorang seniman sekaligus misionaris pada era Victoria, Isabella Lilias Trotter. Lilias -- karena dia selalu menggunakan nama tengahnya -- barangkali belum begitu dikenal oleh banyak dari Anda. Bahkan saya pun belum mengenalnya, sampai beberapa tahun lalu ketika saya menerima sebuah paket cantik melalui pos dari Lilias Trotter Legacy (LTL). Paket itu berisi faksimili yang telah diterbitkan ulang dari beberapa buku sketsa dan buku renungannya.

Gambar: bersyukur

Buku-buku itu tampak indah, tetapi saya cukup sering menerima kiriman buku melalui pos, jadi saya menyisihkannya untuk sementara. Semuanya berubah ketika Kaylena Radcliff, direktur staf editorial kami, menyebutkan bahwa dia sedang berbicara dengan Lilias Trotter Legacy (LTL) mengenai kemungkinan membuat sebuah edisi khusus tentang Trotter. Saya pun mengambil kembali buku-buku itu, dan saat membukanya, saya nyaris terjatuh dari kursi. Karya seni kecil yang halus -- penuh ketelitian dan warna-warna cerah -- langsung membawa saya masuk ke dalam dunia yang belum pernah terpikirkan sebelumnya: bunga-bunga liar di pinggir jalan, pegunungan berselimut salju, pasar yang ramai, dan halaman-halaman tenang di Aljir. Saya tidak yakin apakah saya pernah memperhatikan bunga sedetail itu sebelumnya. Setiap gambar dipasangkan dengan prosa yang mendalam dan nyaris mistis, ditenun dari pengamatan yang sama terhadap alam yang telah melahirkan lukisan-lukisan menakjubkan itu.

Belakangan saya mengetahui bahwa reaksi saya hampir persis seperti yang dialami John Ruskin, kritikus seni terkenal dari abad ke-19, ketika dia pertama kali melihat karya Lilias Trotter. Dia menyebut karya Trotter "berpikiran benar" dan "sangat hati-hati." Seperti yang akan segera Anda ketahui, Ruskin bahkan mengatakan bahwa jika dia bersedia melepaskan kegiatan amalnya -- dia aktif membantu orang-orang melalui YWCA -- dan sepenuhnya mencurahkan dirinya pada seni, maka dengan arahan dan dukungan darinya, Trotter bisa menjadi salah satu seniman terbesar di Inggris.

Trotter menolak tawaran Ruskin. Dia tetap melukis, dia tetap melayani, dan pada akhirnya dia berangkat ke Aljir sebagai seorang misionaris -- bukan melalui organisasi mana pun, tetapi dengan inisiatif pribadi. Dia menjalani hidup berpindah-pindah antara Inggris dan Aljir, melayani dan melukis, layaknya seekor lebah yang menyerbuki bunga. Dalam perjalanan hidup dan pelayanannya, dia bertemu dan berinteraksi dengan banyak tokoh berpengaruh -- beberapa memberikan pengaruh kepadanya, dan sebagian lagi terinspirasi olehnya. Dia meninggalkan warisan yang mungkin tidak Anda sadari berasal darinya, mulai dari pendekatan-pendekatan baru dalam dunia misi modern hingga terciptanya lagu "Turn Your Eyes Upon Jesus." Namun, dia tidak menempuh jalan yang lazim atau sesuai harapan banyak orang.


Dia meninggalkan warisan yang mungkin tidak Anda sadari berasal darinya, mulai dari pendekatan-pendekatan baru dalam dunia misi modern hingga terciptanya lagu "Turn Your Eyes Upon Jesus."
 

"Seekor lebah sangat menghibur saya pagi ini, saat saya dilanda perasaan putus asa akan pekerjaan kami. Rasanya ada begitu banyak hal yang harus dilakukan, sehingga tak satu pun bisa diselesaikan dengan tuntas. Jika pelayanannya lebih terfokus -- seperti misi pendidikan atau medis -- mungkin rasa frustrasi ini akan berkurang. Namun, kami seolah hanya menyentuh jiwa-jiwa secara singkat, lalu pergi begitu saja. Dan, secara kiasan, itulah yang dilakukan oleh lebah tadi. Dia melayang ringan di antara ranting-ranting blackberry, hanya menyentuh bunga-bunga secara perlahan dan hati-hati. Namun, tanpa disadarinya, kehidupan demi kehidupan ditinggalkan dalam setiap sentuhan kecil, karena butiran serbuk sari yang bekerja secara ajaib berpindah ke tempat di mana mata air kehidupan yang tak terlihat itu dapat mengalir. Yang perlu kita pastikan hanyalah bahwa kita, seperti lebah itu, membawa potensi kehidupan. Allah dan kekekalan-Nya yang akan menyelesaikan pekerjaan itu. Namun Dia membutuhkan lebah-lebah pengembara-Nya." -- Lilias Trotter, catatan harian, 9 Juli 1907

Dia tidak pernah menjadi seniman terbesar di Inggris. Dia juga tidak menulis karya fantasi anak-anak klasik seperti mentor sastranya, George MacDonald; tidak memimpin konferensi-konferensi internasional seperti pembimbing misinya, John R. Mott; tidak pernah disebut sebagai rasul seperti rekan pelayanannya, Samuel Zwemer; dan tidak mengubah kisah hidupnya menjadi cerita anak-anak seperti sahabat penanya, Amy Carmichael.

Mungkin saat Anda masih kecil, seseorang pernah mengatakan bahwa Anda punya bakat dan potensi besar -- dan bahwa Anda bisa menjadi yang terbaik dalam suatu bidang, asalkan Anda cukup berusaha. Mungkin Anda pernah diberi tahu bahwa yang Anda perlukan dalam hidup ini hanyalah fokus pada satu tujuan. Mungkin sebuah jalur karier telah dirancang untuk Anda -- entah di dunia sekuler, atau dalam pelayanan gerejawi. Mungkin Anda mendengar bahwa satu-satunya jalan untuk membawa Yesus kepada dunia adalah dengan meraih pengakuan dari para penjaga gerbang budaya, atau mendapat pujian dari lembaga-lembaga Kristen yang bergengsi.

Namun, mungkin, sebaliknya, Anda justru hidup seperti seekor lebah -- bergerak ke sana kemari, mencoba satu hal lalu berpindah ke hal lain, tanpa pernah benar-benar yakin ke mana langkah berikutnya akan membawa Anda. Namun di setiap persimpangan itu, Anda tetap mencari Tuhan, di mana pun Anda berada.

Dan mungkin, semua orang yang selama ini berbicara kepada Anda... salah.

(t/Jing-jing)

Diambil dari:

Nama situs

:

Christian History Institute

Alamat artikel

:

https://christianhistoryinstitute.org/magazine/article/editor-note-lilias-trotter-ch-148

Judul asli artikel

:

Editor's note: Lilias Trotter

Penulis artikel

:

Jennifer Woodruff Tait