Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereArtikel / Leon Morris: Mengapa Salib?

Leon Morris: Mengapa Salib?


Salib adalah pusat alam [hakekat pusat] susunan seluruh keempat Kitab Injil. Semuanya telah digambarkan dengan baik sebagai "Kisah-Kisah sebelum Paskah dengan pendahuluan yang diperpanjang" [Martin Kahler: a passion narrative with an extended introduction]. Keempatnya bukan buku biografi. Dalam setiap Injil itu, kematian dan kebangkitan Yesus mengambil tempat yang tidak seimbang, sehingga jelas sekali penulisnya tidak bermaksud memberikan catatan mengenai kehidupan Tuhan kita. Segala disusun untuk mencapai puncaknya - salib. Semua itu adalah 'Kitab-Kitab Injil', catatan-catatan tentang kabar baik mengenai apa yang telah Allah perbuat dalam Kristus untuk menyediakan keselamatan kita dan cara penempatan bersama Kitab-Kitab Injil memperlihatkan bahwa itulah makna salib.

Hal ini juga tampak jelas di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Khotbah-khotbah di dalam Kisah Para Rasul kebanyakan mengenai kematian dan kebangkitan Yesus. Paulus dapat meringkaskan berita Kristen di dalam kata-kata "Kami memberitakan Kristus yang disalibkan" (1 Kor. 1:23). Penulis Kitab Ibrani memandang kedatangan Yesus ke dalam dunia sebagai "supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia" (Ibr. 2:9). Di dalam Kitab Wahyu dikatakan oleh 'darah Anak Domba', sekumpulan orang yang sangat banyak jumlahnya diselamatkan (Why 7:14). Masih banyak lagi pasal-pasal yang dapat dikutip. Di manapun di dalam Perjanjian Baru ditekankan bahwa salib berada di jantung hati setiap iman Kristen.

(dari buku "Salib Yesus" [Malang: SAAT, 2000])

Tags