Stenly rindu untuk mengambil tantangan dalam lapangan misi. Sebagai lulusan baru dari sebuah sekolah Alkitab, Tuhan mengirimnya ke sebuah pulau terpencil di Indonesia. Di sana, penduduk mencampur perdukunan dan berhala dengan agama mayoritas. Stenly sangat berani dalam memberitakan Injil. Ia menyuruh kaum mayoritas untuk membakar patung-patung berhala mereka ketika mereka menerima Yesus Kristus. Suatu hari, ada seseorang yang bertobat; ia membakar berhalanya, di dalamnya terdapat kertas gulungan kitab suci agama mayoritas. Ketika warga mayoritas setempat mendengar akan hal ini, mereka menjadi amat marah dan melaporkan Stenly kepada petugas. Ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.
Pendeta dari sekolah Alkitab mendengar kabar penangkapan Stenly dan langsung pergi untuk menemuinya. Ketika pendeta S tiba di rumah tahanan, ia diberitahu bahwa Stenly telah dipindahkan ke penjara. Berhari-hari kemudian ketika pendeta S menemukan Stenly, ia menemukannya telah dipukuli dengan kejam; tubuhnya luka-luka, dan ia tidak sadarkan diri. Pukulan yang bertubi-tubi pada kepalanya telah meninggalkannya dalam keadaan koma. Pendeta S melakukan apa yang dapat ia lakukan untuk merawat Stenly dan membuatnya lebih nyaman. Stenly tampak pulih ketika pendeta S melakukan hal itu. Pendeta S bertanya seraya diiringi air mata, "Stenly, aku adalah pendeta S. Apakah kau dapat mendengarkanku?" Tetapi Stenly tidak dapat bergerak atau berbicara. Yang dapat ia lakukan hanyalah berbaring pada punggungnya dan menangis. Tak lama setelah kunjungan pendetanya, Stenly pergi untuk berada bersama Tuhan.
Kematian Stenly menimbulkan dampak yang hebat terhadap mereka yang mengenalnya. Pada tengah malam, tujuh dari rekan-rekan mahasiswanya mendatangi pengawas, meminta supaya mereka mengabarkan Injil ke pulau di mana Stenly meninggal. Kematiannya juga menimbulkan dampak di kota kelahirannya. Di sana, 53 orang membuat keputusan untuk memasuki sekolah Alkitab, termasuk ibu dan saudara perempuan Stenly. Tak lama setelah mereka lulus, 7 orang di antara mereka pergi menginjili ke daerah tempat Stenly meninggal. Kehidupan Stenly membuat perbedaan yang besar di pulau kecil tersebut. Sebanyak 11 orang telah dibawa kepada Kristus karena iman Stenly. Telah terjadi juga kebangunan rohani di antara 300 orang Kristen tradisional di pulau itu. Kebanyakan dari mereka dulunya terikat alkohol, rokok, dan perjudian. Tetapi kini roh mereka menyala-nyala untuk mencari Tuhan dan mempelajari Alkitab.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
| Judul buku | : | Jesus Freaks |
| Penyusun | : | Toby McKeehan dan Mark Heimermann |
| Penerbit | : | Cipta Olah Pustaka, 1995 |
| Halaman | : | 154 -- 155 |
Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/membuat_perbedaan_yang_bertahan
Kategori
Kolom Publikasi
- Printer-friendly version
- Log in to post comments
- Misi Injil
- Kesaksian Iman
- Kebangunan Rohani
- Pengaruh Pelayanan
- Tantangan Kepercayaan
- Keberanian dalam memberitakan Injil seringkali menghadapi penolakan dan tantangan dari budaya atau kepercayaan setempat.
- Pelayanan dan kesaksian iman memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada keberadaan fisik pelayan itu sendiri, bahkan setelah ia wafat.
- Kesaksian pribadi yang berani dapat memicu kebangunan rohani (spiritual revival) yang meluas, baik di tempat misi maupun di komunitas asal pelayan.
- Perubahan hidup menuju Tuhan bukan hanya sekadar bertobat dari kebiasaan buruk, tetapi juga melibatkan pendalaman studi Alkitab dan komunitas yang kuat.
Artikel ini menceritakan kisah Stenly, seorang lulusan sekolah Alkitab yang ditugaskan untuk misi di pulau terpencil di Indonesia, di mana penduduk setempat mencampuradukkan praktik perdukunan dengan agama mayoritas. Dengan keberanian besar, Stenly memberitakan Injil dan menantang kepercayaan lokal, yang membuatnya ditangkap, dipukul, hingga jatuh koma. Meskipun menderita, kepergian Stenly justru memberikan dampak rohani yang luar biasa. Kematiannya memicu kebangunan rohani di kalangan rekan-rekannya di pulau tersebut, di mana 11 orang dibawa kepada Kristus dan 300 orang Kristen tradisional mengalami kebangunan dari kebiasaan buruk. Dampak positif ini juga menjalar ke kota kelahirannya, mendorong 53 orang untuk masuk sekolah Alkitab, yang menunjukkan bahwa kehidupan Stenly berhasil membuat perbedaan yang abadi.