Bagian 0. Kata Pengantar

Apakah bermanfaat membedakan antara religi dan Kristus? Bukankah ini sebenarnya hanyalah masalah istilah? Perlukah kita merasa bangga membaca hasil pengumpulan pendapat bahwa 85% orang Amerika sangat religius? Mungkin kita perlu berpikir sekali lagi berdasarkan fakta pada masa pelayanan Yesus; bukankah Dia justru dibenci oleh orang-orang religius yang fanatik?

Buku kecil ini ditulis berdasarkan asumsi bahwa ada perbedaan yang mendasar antara Kristus dan religi. Dan penelitian tentang kaum Farisi pada masa pelayanan Kristus dapat memberi kita pengertian, bukan saja tentang perbedaan ini, tetapi juga tentang hidup kita sendiri.

Martin R. De Haan II


Diterbitkan untuk kalangan sendiri oleh Yayasan Gloria Jl. Faridan M. Noto 9A/19, P.O. Box 13 YKGD Yogyakarta 55224. Diterjemahkan dari Religion or Christ: What's the Difference Naskah dilindungi oleh hak cipta (c) 1991 pada RBC Ministries Penerjemah: Hendro Susanto , S.Th.

Kategori

  • Kristus
  • Religi
  • Perbedaan Kristus dan Religi
  • Kaum Farisi
  • Pelayanan Yesus
  • Menantang asumsi bahwa pembedaan antara "religi" dan "Kristus" adalah suatu hal yang perlu diprioritaskan, mempertanyakan apakah ini hanya masalah istilah semata.
  • Mengingatkan pembaca pada fakta sejarah bahwa pada masa pelayanan Yesus, Dia justru ditolak dan dibenci oleh orang-orang yang sangat religius dan fanatik.
  • Menyatakan bahwa terdapat perbedaan mendasar dan fundamental antara Kristus dan praktik religius semata (ritualistik).
  • Menggunakan studi tentang kaum Farisi pada masa Yesus untuk memberikan pemahaman yang relevan, tidak hanya tentang teologi, tetapi juga untuk introspeksi kehidupan pribadi pembaca.

Bagian kata pengantar ini mengajukan pertanyaan kritis mengenai kebutuhan untuk membedakan antara konsep "religi" dan "Kristus," bahkan mempertanyakan validitas pandangan umum mengenai tingginya tingkat religiusitas. Penulis mengajak pembaca untuk merefleksikan sejarah pelayanan Yesus, yang ironisnya justru dibenci oleh kelompok religius yang fanatik. Buku ini berargumen bahwa terdapat perbedaan fundamental antara ajaran Kristus dan praktik keagamaan yang semata-mata bersifat ritualistik. Oleh karena itu, melalui penelitian terhadap kaum Farisi, pembaca diharapkan memperoleh pemahaman mendalam tidak hanya tentang perbedaan ini, tetapi juga tentang kehidupan pribadi mereka sendiri.