Eritrea Tahun 2008

Umat Kristen terkoyak hatinya atas kematian seorang wanita muda di Eritrea yang diduga disiksa sampai mati di sebuah fasilitas militer karena menolak menyangkal imannya pada Yesus Kristus. Laporan ini disampaikan oleh departemen pengamat penganiayaan milik Open Doors.

Migsti Haile, 33 tahun, meninggal pada 5 September di Pusat Latihan Militer Weaa dan merupakan wanita Kristen Eritrea keempat yang terbunuh selama setahun terakhir. Open Doors berkata, Haile dianiaya terutama karena menolak "menandatangani surat penyangkalan iman". Diyakini dia berada di penjara selama delapan bulan dan "di bawah tekanan yang hebat" sejak ia dan beberapa perempuan Kristen yang belum menikah ditangkap pada sebuah persekutuan gereja di Keren.

Berita terakhir mengenai penganiayaan itu akan lebih meningkatkan tekanan internasional atas pemerintah Eritrea untuk memberikan jaminan kebebasan beragama. Menurut sejumlah organisasi hak manusia, sedikitnya dua ribu orang Kristen yang kebanyakan adalah penginjil, ditahan di penjara Eritrea, kantor polisi, kamp militer dan tempat lain, bahkan termasuk peti kemas. Namun, pemerintah Eritrea menyangkal terjadinya penganiayaan seperti itu. Pemimpin kantor kepresidenan Eritrea, Yamane Gebremeskel, baru-baru ini berkata bahwa laporan tentang penangkapan masal itu "disimpangkan dan dilebih-lebihkan". (t/Novita)

Diterjemahkan dari:

Judul buletin : Body Life, Edisi Oktober 2007, Volume 25, No. 10
Halaman : 3

Pokok doa

  • Orang percaya di Eritrea mengalami aniaya dan tekanan dari pihak-pihak tertentu karena menolak untuk menyangkal iman mereka. Kiranya iman mereka tidak goyah dan mereka tetap taat kepada Tuhan. Doakan juga untuk mereka yang saat ini masih ada di penjara agar Tuhan memberi kekuatan kepada mereka serta keluarganya.
  • Berdoa untuk keluarga Migsti Haile, agar Tuhan memberi kekuatan, penghiburan, serta ketabahan. Biarlah mereka dapat terus bertumbuh di dalam Tuhan dan dapat menjadi kesaksian bagi orang Kristen lainnya, yang mengalami persoalan yang sama.
  • Kiranya aparat pemerintah di Eritrea memerhatikan, melindungi, dan memberi kebebasan beragama bagi orang Kristen di sana.

e-JEMMi 13/2008

Kategori

Kolom Publikasi

  • Eritrea
  • Penganiayaan Umat Kristen
  • Persekusi Agama
  • Kebebasan Beragama
  • Open Doors
  • Migsti Haile
  • Terjadi kasus penganiayaan yang parah terhadap umat Kristen di Eritrea, yang ditandai dengan kematian Migsti Haile akibat diduga penyiksaan fisik karena penolakan menyangkal iman.
  • Penganiayaan ini berpusat pada tekanan agar orang Kristen menandatangani surat penyangkalan iman mereka di hadapan pemerintah Eritrea.
  • Menurut laporan hak asasi manusia, sejumlah besar orang Kristen (diperkirakan minimal dua ribu orang) ditahan di berbagai fasilitas seperti penjara, kantor polisi, dan kamp militer.
  • Pemerintah Eritrea menampik keras semua laporan tentang penangkapan massal dan penganiayaan, menyebutnya sebagai kebohongan dan dilebih-lebihkan.

Artikel ini menyoroti krisis penganiayaan yang dialami umat Kristen di Eritrea. Tragedi terbaru melibatkan Migsti Haile, seorang wanita muda yang meninggal setelah diduga disiksa di fasilitas militer karena menolak menyangkal imannya kepada Yesus Kristus. Open Doors melaporkan bahwa Haile adalah salah satu dari banyak perempuan yang ditahan dan dianiaya karena keyakinan mereka. Menurut laporan hak asasi manusia, sedikitnya dua ribu orang Kristen ditahan di penjara dan kamp militer. Namun, pemerintah Eritrea secara tegas menyangkal adanya penganiayaan massal tersebut, menyebut laporan tersebut sebagai informasi yang "disimpangkan dan dilebih-lebihkan."