Seri Mutiara Iman (RBC/Yayasan Gloria/YLSA) SMI-003 Bagaimana Membuktikan Bahwa Allah Ada?

Bagian 0. Kata Pengantar

Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa Allah ada? Apakah mungkin membuktikan bahwa Allah ada? Atau pada akhirnya hal tersebut hanya merupakan masalah iman secara pribadi saja? Dan bila saya percaya padaNya, bukti-bukti apa yang dapat saya berikan kepada seseorang yang tidak percaya?

Dalam buku kecil ini staf kami meneliti bagaimana Alkitab mendekati masalah eksistensi Allah. Kami berdoa agar hal ini membantu Anda dalam merenungkan pertanyaan yang mendasar dan sangat penting ini.

Martin R. de Haan II


Diterbitkan untuk kalangan sendiri oleh Yayasan Gloria Jl. Faridan M. Noto 3, P.O. Box 13 YKGD Yogyakarta 55224 Diterjemahkan dari "How Can I Know There Is a God?" Naskah dilindungi oleh hak cipta (c) 1987 pada RBC Ministries SMI 003-93 Diterjemahkan: K. Budi Santoso


Bagian A. Lebih Indah dari Kebenaran?

Apakah langit malam yang cerah berbicara kepada Anda? Ia mengatakan sesuatu? Tidak? Apa yang dikatakannya kepada seorang atlet berbakat berusia sembilan belas tahun yang tergeletak dalam lumuran darahnya sendiri -- ia ditusuk karena berada di tempat yang salah pada saat yang salah? Bagaimana dengan istri yang mengalami masalah dan kekecewaan, yang berusaha menghilangkan amarah dan perasaan ditolak dengan berjalan-jalan di pagi hari? Bagaimana dengan buruh pabrik berusia empat puluh lima tahun yang baru saja kena PHK untuk ketiga kalinya dalam beberapa tahun terakhir ini? Bagaimana dengan pakar astronomi yang pikirannya terpecah antara empirisme yang kaku dan hati yang berbicara bahwa ia harus percaya pada apa yang tidak ia lihat?

Apakah Allah ada di balik tirai semesta, di balik atom, di balik kelopak dan semerbak sekuntum bunga? Apakah Allah ada di tengah-tengah kemajuan IPTEK dan kegagalan-kegagalan politik? Apakah Dia ada dan dapat dilihat melalui airmata dari orang-orang yang diperlakukan dengan kejam, diperalat, tidak dikasihi dan hampa hidupnya?

Inilah pertanyaan-pertanyaan dasar manusia, dan dapat muncul dalam berbagai ragam bentuk sesuai dengan macam-macam orang yang hidup di bumi ini. Mereka bertanya:

Bila Allah ada, mengapa Dia tidak menunjukkan diriNya kepada kita dengan cara yang konkrit bahwa Dia ada?

Dalam zaman IPTEK dan penelitian yang canggih ini, bagaimana kita dapat percaya pada sesuatu yang tidak kita lihat?

Bila saya melihat semua penderitaan yang dialami manusia di seluruh dunia, bagaimana saya dapat percaya Allah dapat berdiam diri pada saat manusia sengsara di bawah keadaan yang tak layak bagi seekor anjing sekalipun?

Mengapa Allah yang baik membiarkan sahabat saya -- seorang yang mengasihi sesama manusia dan kehidupan -- meninggal pada usia muda?

Bila Allah berkuasa, mengapa kita mengalami begitu banyak bencana alam seperti gempa bumi, banjir, badai dan angin ribut?

Saya tidak pernah merasakan kehadiran Allah. Segala sesuatu yang telah saya capai, saya lakukan dengan kekuatan saya sendiri. Saya tidak membutuhkan tongkat penopang yang bernama Allah.

Komentar dan pertanyaan seperti itu sedikit banyak mencerminkan paradoks yang ada antara keindahan langit bertaburan bintang dan bumi yang terlampau sering menjadi penjara yang penuh kengerian.


Mereka yang ragu-ragu membutuhkan bukti-bukti yang kuat dan dapat dipercaya bila mereka memikirkan dengan serius tentang kemungkinan keberadaan Allah

Dapat dimengerti bila keragu-raguan akan timbul tentang Allah yang tak tampak dan tidak mau tampil dalam siaran berita pagi untuk menjawab kritik-kritik yang dihadapiNya dan menyelesaikan masalah tentang keberadaanNya.

Untuk alasan-alasan ini dan lainnya, mereka yang ragu-ragu membutuhkan bukti-bukti yang kuat dan dapat dipercaya bila mereka memikirkan dengan serius tentang kemungkinan keberadaan Allah. Mereka perlu melihat bahwa orang-orang yang percaya kepada Allah bersikap demikian dengan alasan dan pertimbangan yang baik. Mereka perlu menangkap dengan jelas tentang pendekatan Alkitab terhadap Allah. Mereka perlu melihat bahwa membuktikan keberadaan Allah sebenarnya tidaklah lebih indah dibanding kebenaran tentang keberadaan Allah itu sendiri.

Bagian B. Pendekatan Alkitabiah

Ketika penulis kitab pertama dari Alkitab mencantumkan kata-kata, "Pada mulanya Allah...," ia tidak meminta para pembacanya untuk mengandaikan keberadaan Allah. Dari pengalaman mereka tahu siapa yang dibicarakannya. Sebagaimana si penulis, bangsa Israel juga telah melihat bukti-bukti tentang "Seseorang" yang melakukan berbagai mukjizat dan bekerja dalam kehidupan mereka. Kata-kata Musa tentang Allah mengingatkan bangsa Israel tentang "Seseorang" yang menyediakan manna (roti yang disediakan Allah) bagi mereka ketika mereka mengembara di padang gurun; air yang mengalir dari batu ketika mereka haus; tiang api yang mendahului mereka ketika mereka membutuhkan pimpinan; dan jalan untuk melewati Laut Merah ketika mereka terjebak oleh pasukan Mesir. Ya, Musa menuliskan kisah tentang penciptaan untuk mereka yang telah melihat Sang Pencipta berkarya.

Bagaimana dengan orang-orang yang belum pernah mengalami hubungan yang dekat dengan Allah seperti itu? Menurut Alkitab, Allah juga telah meninggalkan bukti-bukti yang sangat banyak tentang keberadaanNya kepada kita. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mengungkapkan sejumlah bukti yang mengarah pada satu titik dan menunjukkan dengan jelas tentang keberadaan Allah yang tak nampak, yang karena sifat kekalNya, masih bersama kita hingga sekarang.

Bukti-bukti ini mencakup apa yang oleh para teolog diklasifikasikan sebagai pernyataan umum dan pernyataan khusus. Dengan pengertian ini, kita akan menetapkan istilah-istilah yang akan kita pakai. Bila kita berbicara tentang pernyataan, kita berbicara tentang Allah yang oleh RohNya, membuka atau menyingkapkan diriNya kepada kita. Menurut Alkitab, Allah telah mengambil inisiatif untuk menyatakan diri kepada kita -- untuk memberitahukan keberadaanNya. Pernyataan umum mengacu pada bukti-bukti umum atau universal tentang keberadaan Allah melalui (1) penciptaan dan (2) akal budi manusia. Pernyataan khusus menunjuk pada bukti-bukti khusus atau supra-natural tentang keberadaan Allah melalui (3) komunikasi khusus dan terutama dalam (4) pribadi Kristus -- Anak Allah.


Saya percaya kepada Allah untuk alasan yang sama dengan saya percaya pada matahari terbit. Saya melihatnya, tidak hanya dalam dunia sekeliling saya, namun olehnya saya melihat segala sesuatu

Sebagaimana akan kita lihat dalam bab berikut, pendekatan Alkitabiah tentang pernyataan umum dan khusus memberikan kepada kita bukti positif yang cukup tentang keberadaan Allah sehingga memungkinkan kita menempatkan iman pada tempat yang benar. Bila kita melakukannya, kita akan mulai melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang keberadaan dan kehadiran Allah, kita tidak memiliki penjelasan yang masuk akal tentang kehidupan seperti yang kita kenal. Pernyataan Allah kepada kita melalui RohNya memberikan kepada kita suatu pengertian rasional tentang berbagai misteri kehidupan. Hal ini menjawab berbagai pertanyaan tentang keberadaan zat-zat di jagat raya, tentang adanya kehidupan di planet ini, tentang sifat khusus manusia bila dibandingkan dengan binatang, dan suka cita yang kita peroleh dari kesadaran diri tentang siapa kita.

Oleh karena itu, mari kita lihat pendekatan empat jalur dari Alkitab untuk meyakinkan kita bahwa Allah ada.

Bagian C. Empat Pernyataan Diri Allah:

Alkitab tidak meminta kita untuk menerima keberadaan Allah begitu saja. Sebaliknya, ia menunjukkan kepada kita bagaimana Allah, melalui RohNya, telah menyatakan diriNya kepada kita -- baik di masa lampau maupun masa kini.

Saat kita meneliti empat jalur pembuktian Alkitab, ujilah hal itu dengan pengetahuan Anda tentang alam semesta, hati manusia, Alkitab dan Yesus Kristus. Lihat, apakah Anda dapat menyetujui bahwa data-data Alkitab adalah lengkap dalam hal pernyataan Allah kepada Anda.

PERNYATAAN ALLAH:

  • Melalui Penciptaan
  • Melalui Akal Budi
  • Melalui Komunikasi
  • Melalui Kristus

  1. Melalui Penciptaan
  2. Melalui Akal Budi
  3. Melalui Komunikasi
  4. Melalui Kristus

PERNYATAAN ALLAH: Melalui Penciptaan

PERNYATAAN ALLAH

Umum Khusus

P
E
N
C
I
P
T
A
A
N

MANUSIA

Tak seorang pun dapat menyangkal bahwa alam semesta yang kompleks ini adalah suatu keajaiban yang agung dan menakjubkan. Merenungkan keluasan dan keagungannya saja dapat membuat kita pusing. Lalu, bagaimana semua itu dapat ada? Mungkinkah semua ini terjadi karena suatu ledakan raksasa, sebagaimana dikemukakan oleh banyak ilmuwan? Atau semua ini terjadi sebagai hasil perencanaan yang teliti dari Allah yang Mahabesar?

Mari kita lihat sejenak pada dua bagian Alkitab yang berbicara tentang pernyataan diri Allah melalui alam semesta. Pertama, kita lihat kitab Ayub dalam Perjanjian Lama. Sebagaimana Anda ingat, Ayub dicobai iblis dengan sangat berat. Seperti manusia zaman sekarang, Ayub menjumpai kesulitan besar untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana Allah yang baik dapat mengizinkan ketidakadilan seperti penyakit dan penderitaan? Ayub dikenal sebagai orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah, namun kekayaan dan anak-anaknya diambil, dan ia sendiri dijangkiti bisul.


Bila sebuah jam membuktikan keberadaan seorang pembuat jam, namun alam semesta tidak dapat membuktikan keberadaan Arsiteknya yang agung, maka saya setuju untuk disebut seorang bodoh
Voltaire

Setelah berusaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang Allah dalam waktu yang lama, Ayub akhirnya mendengar sendiri dari Allah. Berbicara kepadanya dalam damai, Allah memberitahu Ayub bahwa untuk melihat Dia Ayub harus melihat melampaui kesulitan-kesulitan yang menekan dan melihat alam semesta serta dunia sekitarnya (Ayub 38:1-38). Mari kita perhatikan beberapa spesifikasi alam semesta dalam firman Allah ini dan melihat kepada kesimpulan apa kita akan dibawanya.

  • Keajaiban penciptaan bumi (ayat Ayub 38:4-6)
  • Keajaiban langit (ayat Ayub 38:7 )
  • Keajaiban keseimbangan laut-darat (ayat Ayub 38:8 )
  • Keajaiban fajar yang baru (ayat Ayub 38:12)
  • Keajaiban dasar samudera raya (ayat Ayub 38:16)
  • Keajaiban siklus hidup-mati (ayat Ayub 38:17)
  • Keajaiban asalnya terang (ayat Ayub 38:19)
  • Keajaiban badai elektronik (ayat Ayub 38:24)
  • Keajaiban angin (ayat Ayub 38:24)
  • Keajaiban siklus hidrologis (ayat Ayub 38:25-30)
  • Keajaiban hewan memelihara anaknya (pasal Ayub 39:1-41:25)

Inti perkataan Allah sebenarnya, "Dalam sengsaramu engkau bertanya di mana Aku ketika engkau menderita. Lihat kembali dunia di sekelilingmu dan engkau akan melihat Aku di situ dan diingatkan akan kebijaksanaan dan kuasaKu". Bruce Demarest, penulis buku General Revelation (Pewahyuan Umum), menulis, "Dengan perantaraan sebuah penciptaan yang hebat, Ayub mengerti realita Allah. Tertegun, merasa rendah dan dipenuhi dengan rasa hormat saat merenungkan Allah dan karya-karyaNya, Ayub membuka mulutNya dan berkata, 'Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu'" (Ayub 42:5-6).


Pilihannya sederhana: pilih Allah yang mandiri atau alam semesta yang mandiri -- dan alam semesta tidak menampakkan gejala sebagai sesuatu yang mandiri
- A.J. Hoover

Banyak bagian di Mazmur juga menyaksikan bahwa alam semesta memberikan bukti tentang keberadaan Allah. Mazmur 19:1-5, misalnya, mengatakan bahwa suara Allah dapat didengar melalui seluruh ciptaanNya. Pemazmur menulis:

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tanganNya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari.

Siang dan malam, kata Pemazmur, kemuliaan Allah diberitakan melalui langit dan cakrawala. Berita mereka tersedia bagi semua yang mau mendengar, karena suara mereka terpencar ke seluruh dunia dan akan didengar "sampai ke ujung bumi".

Untuk memberikan contoh yang mendukung pernyataan pemazmur, kita dapat menggunakan banyak cara. Kita dapat menyampaikan ketidakmungkinan yang logis bahwa hidup dimulai tanpa stimulus dari luar, tak peduli berapa waktu yang ditetapkan para ilmuwan untuk kejadian seperti itu. Kita dapat berbicara tentang pola yang rumit dari gerak benda-benda angkasa di alam semesta -- termasuk ketepatan waktu jalur tempuh mereka satu dan lainnya. Kita dapat berbicara tentang kemiringan yang tepat dari bumi, jaraknya yang tepat dari matahari dan perjalanannya yang tepat melalui tata surya kita -- semua itu merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk memperoleh iklim sedang yang dapat kita nikmati.


Pernyataan-pernyataan dari orang-orang yang tidak percaya, tidaklah lebih berbobot daripada bukti-bukti nyata yang menunjukkan bahwa alam semesta direncanakan dengan cermat oleh sang Pencipta

- Russell DeLong

Untuk singkatnya, mari kita meneliti satu bagian kecil yang penting dari keberadaan kita -- mata. Mari kita lihat bagaimana rumitnya mata yang menyiratkan keterlibatan seorang perencana yang berdaya pikir tinggi dan menolak ide perkembangan yang acak.

Menurut kebanyakan orang yang tidak percaya kepada Allah, kita mencapai keadaan fisik seperti sekarang ini atas dasar evolusi. Mereka menyatakan bahwa apa yang dimulai dari sesuatu yang bersel satu, beberapa ratus juta tahun yang lalu, akhirnya berkembang menjadi manusia. Namun mari kita perhatikan satu organ tubuh yang kecil ini dan melihat apakah secara logis ia dapat menempuh jalur evolusi. Bila tidak, bukankah secara rasio kita dapat menyimpulkan bahwa ia berasal dari tangan "Seorang" Perencana Agung?

Inilah kasusnya. Bila kita mengambil bagian mana saja dari mata -- misalnya retina -- maka mata tidak akan berfungsi. Atau ambil lensanya. Tidak ada penglihatan. Ambil korneanya? Kebutaan. Bagi mata, untuk dapat berfungsi, semua bagian harus ada dan bekerja. Hal ini saja sudah merupakan argumentasi kuat tentang adanya perencanaan.


Sebab apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak kepada pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih
- Paulus (Roma 1:20)

Namun mari kita lihat dengan cara lain. Kita bawa konsep ini kembali ke dalam rantai evolusi. Pada suatu ketika dalam perjalanan evolusi, suatu makhluk yang kelak akan menjadi manusia harus mulai memiliki mata. Namun bagaimana mulainya? Mata tidak mungkin berevolusi, karena tidak ada sesuatu yang dapat menyebabkan makhluk itu mulai membentuk mata yang tidak dapat melihat. Teori evolusi mengatakan bahwa perubahan terjadi karena adaptasi. Lalu, apa yang menyebabkan suatu makhluk tak bermata menghendaki mata yang tak berguna pada kepalanya? Bagaimana ia tahu bahwa ia akan membutuhkan mata yang dapat melihat?

Mata dapat berfungsi atau tidak, dan tak ada alasan bagi suatu makhluk untuk mulai membentuk mata yang tak sempurna supaya kelak pada tingkat evolusi lebih tinggi menjadi mata yang dapat melihat. Lalu, di mana mata itu mulai? Secara kebetulan atau direncanakan? Kerumitan struktur mata yang mengherankan dan kesalingterkaitan semua bagiannya membuktikan adanya "Seorang" Perencana dan Pencipta yang tahu apa yang Dia lakukan. (Ilustrasi ini diambil dari buku The Truth: God or Evolution? karya Marshall dan Sandra Hall, terbitan Baker Book House, 1975).

Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah sumber dari segala sesuatu. Penulis surat Ibrani menegaskan hal itu dengan mengatakan:

Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat (Ibr 11:3).

Ini merupakan penyataan yang mengherankan. Ia menegaskan bahwa Allah menjadikan seluruh alam semesta dengan menggunakan bahan-bahan yang tak dapat kita lihat -- hanya dengan firmanNya.


Alam semesta adalah sumber teologi. Alkitab menegaskan bahwa Allah telah menampakkan diriNya melalui alam semesta
- A.H. Strong

Walaupun nampak sulit untuk dipercaya, namun hal ini masih jauh lebih masuk akal daripada pilihan lain. Jika memang alam semesta tidak diciptakan oleh Allah dari kehampaan, maka jawaban yang paling tepat setelah itu ialah bahwa alam semesta diciptakan oleh "bukan siapa pun" dari kehampaan. Bandingkan kedua ide tersebut berdasarkan akal sehat dan lihat kesimpulan apa yang Anda capai.

  • Melalui Penciptaan
  • Melalui Akal Budi
  • Melalui Komunikasi
  • Melalui Kristus

PERNYATAAN ALLAH: Melalui Akal Budi

PERNYATAAN ALLAH

Umum Khusus

P
E
N
C
I
P
T
A
A
N
A
K
A
L

B
U
D
I

MANUSIA

Mengapa hak-hak azasi manusia begitu penting bagi orang-orang di seluruh dunia? Bagaimana suatu kelompok seperti Amnesty International dapat menentukan apa yang merupakan perlakuan layak bagi manusia, tanpa melihat siapa mereka dan di mana mereka hidup? Mengapa orang-orang di seluruh dunia memiliki standar moral yang sangat mirip satu dengan yang lain? Mungkinkah dasar pengetahuan tentang yang benar dan salah ini merupakan kesaksian dari dalam diri kita tentang keberadaan Allah? Jika demikian, kita seharusnya dapat melihat suatu pernyataan universal tentang kesadaran akan Allah.

Satu aktivitas manusia yang nampaknya menguatkan konsep pengetahuan universal tentang Allah adalah perhatian besar manusia terhadap agama. Dalam setiap budaya dan daerah, orang-orang melakukan ibadah. Walaupun seringkali mereka tidak tahu apa yang mereka sembah, namun pasti ada alasan yang kuat mengapa mereka melakukan hal itu. Dalam diri setiap manusia, ada perasaan bahwa ada suatu "makhluk" yang berada di atasnya. Dr. Robert Ratray, seorang pakar dalam agama-agama tradisional Afrika, melihat adanya sifat yang sangat khusus tentang pengetahuan akan Allah yang ada pada manusia melalui pernyataan batin, lepas dari firman Allah. Berbicara tentang orang-orang Ashanti yang hidup di pantai Emas, Afrika, ia mengatakan: Saya yakin bahwa dalam pikiran orang Ashanti, konsep tentang makhluk tertinggi tak ada hubungannya sama sekali dengan pengaruh pekabaran Injil, hubungan dengan orang Kristen, maupun, menurut saya, dengan orang-orang dari kepercayaan lain.... Dengan demikian dapat dikatakan bahwa benar makhluk tertinggi yang konsepnya telah menyatu dengan pikiran orang Ashanti, adalah Yehovanya orang Israel. Kita telah melihat bahwa umat manusia memiliki suatu kesaksian batin tentang keberadaan Allah dan sifat moralNya.

Dalam Kisah 17:1-34, kita melihat contoh tentang kecenderungan manusia untuk beribadah -- suatu hal yang menyaksikan tentang keberadaan Allah dan menunjukkan kecenderungan manusia untuk menyalahartikan pengetahuan yang ia miliki. Ketika Paulus tiba di Atena, ia melihat bahwa kota itu penuh dengan berhala. Mulai dari ayat Kisah 17:22 kita membaca:

Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: KEPADA ALLAH YANG TIDAK DIKENAL. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu" (ayat Kisah 17:22-23).

Kemudian Paulus menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan satu-satunya Allah yang sejati kepada penyembah-penyembah berhala itu. Yang menarik untuk disimak adalah bahwa orang-orang Atena memiliki pengetahuan yang begitu mendalam tentang Allah, sehingga di samping semua berhala, mereka juga menyembah seorang allah yang tidak dikenal, hanya untuk memastikan bahwa tidak ada satu allah pun yang luput mereka sembah. Mereka tidak perlu diyakinkan tentang keberadaan Allah; mereka hanya perlu diarahkan kepada Allah yang benar.

Sebelumnya, dalam surat Roma Paulus mengajukan pertanyaan tentang pengetahuan batin yang mendasar dalam hati semua orang. Ketika ia berbicara tentang orang yang bukan Yahudi, ia berkata bahwa "isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi" (Rom 2:15). Paulus mengimplikasikan bahwa semua orang, hingga taraf tertentu, mengerti apa yang benar dan salah karena Allah telah memberikan pengetahuan ini kepada mereka. Juga orang-orang yang tak pernah terdidik dalam peraturan-peraturan Perjanjian Lama, khususnya Sepuluh Perintah Allah, memiliki pengetahuan batin tentang ide-ide yang mendasar ini. Menurut Paulus, hal ini adalah pengetahuan yang diberikan oleh Allah. Adanya kesadaran universal tentang perbuatan yang layak inilah yang menjadi bukti keberadaan Allah.

Roma 1:18-32 memberikan bukti yang kuat bahwa setiap orang memiliki pengetahuan batin tentang Allah. Sebagai contoh, pikirkan ayat-ayat berikut ini:

  • "Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman" (ayat Roma 1:18).

  • "Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka" (ayat Roma 1:19).
  • "Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya" (ayat Roma 1:21).
  • "Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya" (ayat Roma 1:25).
  • "...mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah" (ayat Roma 1:28).
  • "Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, mereka tetap berbuat jahat (ayat Roma 1:32).
  • Setiap orang memiliki pengetahuan batin tentang Allah. Paulus mengatakan bahwa "apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka." Namun walaupun semua manusia memiliki kesaksian batin bahwa Allah ada, beberapa orang tidak mau mengakuinya -- mereka "menindas kebenaran".

    Untuk mengakhiri bagian ini, mari kita ingat sejenak reaksi orang-orang di seluruh dunia bila mereka membaca tentang perbuatan-perbuatan keji terorisme atau pelanggaran hak azasi manusia. Perbuatan-perbuatan seperti itu menjijikkan bagi semua orang, tanpa memperhatikan keyakinan atau latar belakang mereka. Mengapa? Apakah ini merupakan hasil dari perilaku sosial yang dipelajari ketika kita menaiki tangga evolusi? Bila demikian, moralitas yang kita miliki hanyalah suatu sifat hewani yang maju. Demikian juga dengan sifat-sifat khusus lainnya, seperti intelektual, belas kasihan, bahkan penalaran ilmiah. Di mana permulaan sifat-sifat ini pada kera? Mengapa hanya satu makhluk -- manusia -- memiliki hal-hal ini, walaupun teori evolusi akan menyatakan bahwa keberadaan hewan-hewan jauh lebih lama dari manusia? Dan, apakah yang menyebabkan kera pertama mulai mengembangkan moral, belas kasihan dan sifat-sifat khas lainnya yang ada pada manusia?

    Apakah tidak akan jauh lebih masuk akal untuk dipercaya bahwa suatu jenis makhluk bermoral karena memiliki Pencipta yang bermoral -- "Seorang" yang menanamkan sifat-sifat tersebut pada semua manusia?

    1. Melalui Penciptaan
    2. Melalui Akal Budi
    3. Melalui Komunikasi
    4. Melalui Kristus

    PERNYATAAN ALLAH: Melalui Komunikasi
    PERNYATAAN ALLAH

    Umum Khusus

    P
    E
    N
    C
    I
    P
    T
    A
    A
    N
    A
    K
    A
    L

    B
    U
    D
    I K
    O
    M
    U
    N
    I
    K
    A
    S
    I

    MANUSIA

    Walaupun Allah telah menyatakan keberadaanNya melalui kesadaran batin dalam diri kita, hal ini belumlah cukup. Kita tidak akan mampu mengetahui segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang Dia bila Dia tidak memutuskan untuk mengatakannya kepada kita secara khusus tentang diriNya melalui cara-cara lain. Kita dapat melihat hasil pernyataan diri yang samar dengan memperhatikan ritual dan penyembahan berhala pada suku-suku primitif. Mereka menyadarinya melalui alam semesta dan akal budi bahwa ada "Seorang" yang lebih tinggi dari mereka, namun mereka tidak memiliki pengetahuan tentang siapa "Seorang" itu sebenarnya. Karena itu mereka berusaha menyembah Allah tanpa mengenalNya. Ritual-ritual pengurbanan mereka menunjukkan kesadaran mereka akan "Seorang" yang mereka rasa harus mereka puaskan. Perhatian mereka pada roh-roh jahat menunjukkan pengetahuan batin mereka terhadap hal yang baik dan jahat. Yang perlu dimengerti oleh orang-orang ini adalah bahwa pengetahuan belaka akan adanya Allah tak dapat memuaskan hati manusia. Manusia perlu mengenal Allah secara pribadi.

    Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk melihat cara ketiga yang dipilih Allah agar kita mengetahui keberadaanNya. Selama beribu-ribu tahun, melalui berbagai peristiwa yang terjadi dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan dituliskan oleh orang-orang yang diilhami Allah, Allah berkomunikasi dengan umat manusia dengan cara-cara yang khusus. Melalui penyataan-penyataan khusus inilah kita mengetahui seperti apa Allah dan apa yang diharapkanNya dari kita.


    Kita tidak akan pernah memperoleh 100 persen (Allah) dalam Alkitab melalui bukti-bukti dari teologi alam semesta
    - A.J. Hoover

    Alkitab membuat hal ini jelas bahwa jejak-jejak bukti peryataan khusus mengarah ke awal Penciptaan. Misalnya, Allah berbicara secara langsung kepada Adam di taman Eden. Dia bertemu dengan Adam setiap sore untuk bercakap-cakap. Allah memberitahukan kepadanya tentang satu-satunya pohon yang terlarang baginya. Kemudian, ketika Adam dan Hawa melanggar perintah itu, Dia secara tegas menyampaikan penghakimanNya atas mereka.

    Allah terus mengadakan komunikasi dengan berbagai orang setelah Adam dan Hawa dikeluarkan dari taman Eden. Kain mendengar suaraNya. Demikian juga Henokh, Nuh, Abraham, Ishak dan Yakub. Bagi orang-orang zaman dulu tersebut, keberadaan Allah sungguh nyata. Mereka mendengar Dia dengan cara yang membuat keberadaanNya tidak diragukan lagi.

    Pernyataan khusus Allah kepada umat manusia juga terjadi dalam bentuk lain. Selain berbicara dengan tegas secara langsung kepada orang-orang tersebut di atas dan lainnya, Dia juga berkomunikasi dengan cara yang tidak begitu langsung, namun sama berartinya. Lewat inspirasi RohNya Dia membuat sejumlah orang menuliskan serangkaian dokumen yang kini kita namakan Alkitab.

    Untuk menunjukkan pernyataan Alkitab bahwa Allah berbicara secara langsung melalui penulis-penulisnya, kita dapat melihat beberapa ayat dalam Perjanjian Baru. Dalam 2Petrus 1:21, sang rasul berkata:

    Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

    Inilah pernyataan bahwa penulis-penulis Perjanjian Lama yang berbicara tentang hal-hal seperti penghakiman Allah, peristiwa-peristiwa masa depan, kedatangan Kristus, dan hubungan Allah dengan Israel, tidak berbicara atas nama mereka sendiri. Mereka berbicara atas nama Allah Pencipta.

    Ayat lain yang berbicara tentang pernyataan khusus adalah 2Timotius 3:16 dimana Paulus berkata:

    Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

    Sekali lagi, pernyataan tersebut disampaikan dengan cara Allah menyatakan diri secara khusus melalui kata-kata di Alkitab. Ayat-ayat dalam 2Timotius ini menunjukkan bahwa dengan membaca dan menaati kata-kata tersebut, seseorang dapat akrab dengan pikiran Allah sehingga ia dapat menjadi pribadi yang dikehendaki Allah.


    Roh TUHAN berbicara dengan perantaraanku, firmanNya ada di lidahku
    - Daud (2Samuel 23:2)

    Namun, dapatkah kita melihat bukti -- selain yang dikatakan Alkitab tentang dirinya sendiri -- bahwa buku ini berbeda dari semua buku agama-agama lain? Apakah ia cukup bermakna untuk dapat dipercaya sebagai alat komunikasi khusus dari Allah? Bila kita melihat keunikan Alkitab, hal ini menunjukkan bahwa ia bukan suatu kumpulan tulisan dari orang-orang biasa. Sebaliknya, ia merupakan kumpulan dokumen-dokumen yang akurat dan menakjubkan selama beribu-ribu tahun. Ia menjadi bukti dari sesuatu yang tersusun dan terjaga secara ajaib.

    Ia unik di antara buku-buku lain karena banyak sebab.

    • Satu cerita tunggal teranyam dalam kitab-kitabnya, walaupun orang-orang yang menulisnya tidak mungkin untuk bekerjasama.

  • Kitab-kitab Perjanjian Lama meramalkan dan kitab-kitab Perjanjian Baru memproklamirkan kedatangan seorang Mesias-Raja.
  • Bila Alkitab berbicara tentang hal-hal ilmiah (walaupun tentang hal-hal tersebut para penulis tidak mungkin memiliki bukti-bukti empiris), maka ia adalah tepat (Ayub 26:7-12; Yes 40:22; 1Kor 15:39).
  • Fakta-fakta dan nama-nama bersejarah dalam Alkitab secara terus-menerus terbukti kebenarannya dalam berbagai penelitian dan penemuan arkeologi.
  • Dokumen-dokumen yang diterjemahkan menjadi Alkitab telah terjaga dengan cara-cara yang ajaib, sehingga memberikan catatan-catatan yang tepat tentang apa yang ditulis oleh penulis-penulis Alkitab.
  • Tulisan-tulisan itu menyatakan diri berasal dari Allah (Yer 1:2; Yeh 1:1-3; Zef 1:1).
  • Tidak terlalu jauh bila kita menyimpulkan bahwa dengan cara-cara komunikasi yang khusus, Allah telah menyatakan kepada kita lebih dari sekadar keberadaanNya. Dia memberitahu kita tentang sifat, kehendak dan kasihNya kepada umat manusia. Itu sebabnya Alkitab begitu penting. Ia memberitahu kita bagaimana kita dapat menemukan damai dengan Allah Pencipta dan bagaimana kita dapat hidup dengan cara yang berkenan kepadaNya.

    1. Melalui Penciptaan
    2. Melalui Akal Budi
    3. Melalui Komunikasi
    4. Melalui Kristus

    PERNYATAAN ALLAH: Melalui Kristus

    PERNYATAAN ALLAH

    UmumKhusus

    P
    E
    N
    C
    I
    P
    T
    A
    A
    N
    A
    K
    A
    L

    B
    U
    D
    I K
    O
    M
    U
    N
    I
    K
    A
    S
    I K
    R
    I
    S
    T
    U
    S MANUSIA

    Walaupun kita mengenal Allah melalui alam semesta, sadar bahwa Dia ada karena kita memiliki pengetahuan tentang Dia dalam hati kita dan telah membaca tentang Dia dalam Alkitab, namun faktor-faktor itu saja tidak akan memberikan pernyataan yang lengkap tentang Allah. Untuk mengetahui Allah selengkap mungkin, kita perlu melihatNya saat Dia berinteraksi dengan umat manusia. Kita perlu melihat bahwa Dia dapat menggenapi nubuatan-nubuatan dari para nabi Perjanjian Lama. Hal ini dapat terjadi hanya bila kita melihat Allah ketika Dia menyatakan diri melalui Kristus.

    Walaupun kita sering berpikir demikian, sebenarnya pernyataan Allah melalui Kristus tidak dimulai di palungan Betlehem. Dalam Alkitab, Yesus diidentifikasi sebagai Pencipta segala sesuatu (Yoh 1:1-3). Dia lebih dari "Seorang" bayi Yahudi terkenal yang terbaring dalam kandang di Yehuda. Dia merupakan sumber dari semua bukti tentang Allah yang dapat ditemukan dalam penciptaan, akal budi dan komunikasi.

    Selain itu, dalam hidupNya selama 33 tahun di dunia, Yesus menunjukkan kepribadian dan sifat Allah kepada manusia. Yesus mengatakan bahwa melihatNya berarti melihat Bapa (Yoh 14:9). Di samping itu, Rasul Yohanes menyatakan: "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya" (Yoh 1:18).

    Sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa Allah secara khusus menyatakan diriNya kepada manusia melalui Kristus, dapat ditemukan pada permulaan surat Ibrani:

    Setelah pada zaman dahulu Allah berulangkali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantara nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantara AnakNya (Ibr 1:1-2).

    Dengan demikian, cara keempat Allah menyatakan diriNya kepada manusia adalah melalui kedatangan Kristus ke dunia. Yesus merupakan bukti darah-dan-daging bahwa Allah ada. Bahkan kedatangan Yesus ke dunia sebagai manusia merupakan pernyataan Allah yang terhebat, karena Yesus Kristus adalah Allah.

    Dalam Roma 9:5 Rasul Paulus mengatakan, "Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya". Yohanes dalam suratnya yang pertama menyatakan, "Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal" (1Yoh 5:20). Dan dalam Ibrani 1:8, Bapa berkata kepada Anak, "TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya."

    Ya, Dia yang melewati jalan-jalan berdebu di Galilea sambil menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati dan mengajarkan kebenaran kerajaan Allah, adalah Allah yang berinkarnasi. Bila Dia berbicara, Allah yang berbicara; bila Dia bertindak, Allah yang bertindak. Alkitab mengidentifikasikan diri sebagai firman yang tertulis, dan Kristus dinamakan Firman Allah yang hidup (Yoh 1:1-14). Renungkanlah apa artinya bahwa Kristus adalah pernyataan Allah yang terhebat. Bila Anda ingin mengetahui jawaban Allah terhadap mereka yang berada dalam kebutuhan fisik yang terdalam, lihatlah pada Yesus ketika ia menjawab kebutuhan orang banyak dengan penuh belas kasihan. Bila Anda ingin mengetahui sikap Allah tentang legalisme dan pembenaran diri, lihatlah hubungan Kristus dengan kaum Farisi. Bila Anda ingin mengetahui perasaan Allah terhadap mereka yang bertobat, lihatlah pada Anak Allah ketika Dia mengampuni mereka yang sungguh-sungguh berubah hatinya. Bila Anda ingin mengetahui hubungan Allah dengan mereka yang percaya kepadaNya, lihatlah pada Yesus dalam pimpinanNya yang lemah lembut terhadap murid-muridNya.


    Mengenal Yesus berarti mengenal Allah (Yoh 8:19; 14:7). Melihat Dia berarti melihat Allah (Yoh 12:45; 14:9). Percaya kepadaNya berarti percaya kepada Allah (Yoh 12:44; 14:1). Menerima Dia berarti menerima Allah (Mr 9:37)
    - John Stott

    Oleh karena itu, bila Anda ingin mengenal Allah, lihatlah Yesus Kristus. Hanya melalui Yesus yang datang sebagai manusia, terbuka jalan bagi kita yang hidup sesudah masa Perjanjian Lama untuk berkenalan dengan Allah.

    Bagian D. Melintasi Jembatan

    Kita semua memiliki pilihan. Kita dapat melihat bukti-bukti tentang keberadaan Allah dan percaya bahwa Dia ada, atau kita dapat mengesampingkan bukti-bukti itu dan menetapkan bahwa tak ada Allah. Bagaimanapun juga, kita harus melintasi jembatan iman, karena kedua jawaban tersebut tidak dapat memberikan kepastian secara laboratorium. Pertanyaan kuncinya adalah: Dalam suatu masalah yang begitu mendasar bagi kesejahteraan kita dan dalam suatu pertanyaan yang menuntut jawaban, secara jujur, posisi mana yang kita pilih? Mari kita lihat sekali lagi pilihan-pilihan yang dapat membimbing kita saat kita melintasi jembatan.

    PILIHAN 1: Allah ada

    • Alam semesta mencerminkan seorang perancang dan pencipta, sama seperti sebuah jam atau kamus.

  • Adanya akal budi manusia sebagai suara hati yang memungkinkan seseorang yang percaya kepada Allah untuk mengikuti kebijaksanaanNya yang terbaik dan naluriNya yang tertinggi.
  • Tulisan-tulisan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyatakan bahwa mereka berbicara atas nama Allah dengan cara yang konsisten dengan bukti-bukti tentang Allah dalam penciptaan dan akal budi.
  • Kristus adalah bukti terhebat tentang Allah dimana Dia dinyatakan sebagai Pencipta (Yoh 1:3); sumber akal budi (Yoh 1:9), dan fokus dari Alkitab (Yoh 5:39).
  • PILIHAN 2: Allah tidak ada

    • Dunia kita dengan segala sumber, kerumitan dan keteraturannya terjadi tanpa daya, sebab atau sumber pribadi. Segalanya "terjadi" begitu saja.

  • Hukum-hukum yang mengatur alam semesta telah berkembang tanpa ada bimbingan dan pengarahan.
  • Lompatan-lompatan besar terjadi karena evolusi, sehingga memungkinkan yang bukan-tumbuhan melintasi jurang dan menjadi tumbuhan, dan yang bukan-binatang menjadi binatang. Tanpa bimbingan, makhluk-makhluk ini mengembangkan otak dimana dahulu tidak ada otak dan alat-alat perasa dimana dahulu tidak ada sesuatu pun yang seperti itu.
  • Keacakan menjadi dasar komposisi yang serba halus dan unik dari planet kita yang memungkinkan keberadaan kita dalam oase kehidupan di tengah gurun alam semesta yang bersikap bermusuhan.
  • Manusia tidak memiliki roh. Keberadaannya berakhir pada saat kematian, sama seperti anjing dan kucing.
  • Moralitas yang dimiliki manusia dibuat sendiri dan berasal dari masyarakat. Karena itu tak seorang pun dapat melakukan penilaian terhadap orang lain.
  • Alkitab -- sebuah Buku yang ditulis oleh 40 orang yang berbeda dan hidup dalam tenggang waktu 1500 tahun yang membuat berbagai catatan secara terpisah dan mencatat berbagai peritiwa secara mandiri, serta menceritakan sebuah cerita yang luar biasa terpadunya -- suatu kebetulan yang menakjubkan.
  • Tak ada rencana induk buat manusia. Keberadaan kita adalah suatu kebetulan, kerja kita di dunia tidak ada buahnya dan hubungan-hubungan kita dengan orang lain pada akhirnya tidak bermakna sama sekali. Seperti segerombolan binatang buas, kita tidak memiliki tujuan di dunia ini kecuali untuk mempertahankan hidup.
  • Kristus tidak mengatakan kebenaran ketika Dia berkata bahwa Dia adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari kematian kekal dan membawa kita kepada Allah.
  • Pada pilihan mana Anda akan mempertaruhkan masa depan kekal Anda? Jembatan mana yang akan Anda lintasi?

    Bagian E. Mengapa Sebagian Orang Tidak Percaya?

    Alkitab tidak lagi bersikap diplomatis ketika berbicara tentang mengapa sebagian orang tidak percaya akan keberadaan Allah. tidak menutupi sesuatu pun ketika mengatakan, "Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah.'"

    Ucapan ini tidaklah sekeras kedengarannya. Ayat ini tidak menunjuk pada keterbatasan intelektual mereka yang tidak percaya. Kata Ibrani yang diterjemahkan "bebal" di sini menunjuk pada orang yang jahat, licik dan cacat secara moral. Definisi ini didukung oleh konteksnya, karena ayat Mazmur 14:1 melanjutkan penjelasan tentang orang bebal sebagai berikut: "Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik." Dengan kata lain, ada orang-orang yang menolak keberadaan Allah karena gaya hidup mereka yang jahat.

    Dalam Mazmur 10:13 sebuah pertanyaan muncul, "Mengapa orang fasik menista Allah?" Jawabnya, "Sambil berkata dalam hatinya: 'Engkau tidak menuntut?'" Karena ia tidak mau menghadapi penghakiman untuk dosa-dosanya, ia menolak Allah. Rasul Yohanes mengatakan demikian:

    ...manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak (Yoh 3:19-20).

    Orang yang memutuskan untuk hidup dengan cara tidak mengenal Allah akan cenderung melihat alam semesta tanpa Allah.

    Kata kunci di sini bukanlah keraguan, tetapi penolakan. Kita dapat melihat sebuah ilustrasi tentang hal ini dengan meneliti sebuah kejadian dalam kehidupan Yesus. Dalam Yohanes 5:1-47 kita membaca bahwa Yesus menyembuhkan seseorang pada hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi mendengar hal ini, mereka marah dan "berusaha menganiaya Yesus" (ayat Yohanes 5:16). Situasi menjadi semakin gawat ketika Yesus memanggil Allah sebagai "BapaKu," yang dianggap oleh orang-orang Farisi sebagai suatu pernyataan kesetaraan dengan Allah. Menghadapi para pejabat (rohani) yang marah itu, Yesus memberi berbagai alasan mengapa mereka seharusnya percaya bahwa Dia adalah Allah.

    Namun mereka tidak mau percaya. Dalam penolakan mereka untuk percaya, kita melihat suatu pola yang terulang pada setiap orang yang menolak untuk percaya bahwa Allah Ada. Inilah yang dikatakan Yesus tentang ketidakmauan mereka untuk percaya walaupun bukti-bukti telah jelas:

    • "Kamu tidak mau datang kepadaKu... (Yohanes 5:40).
    • "Kamu tidak menerim Aku" (Yohanes 5:43).
    • "Kamu tidak percaya..." (Yohanes 5:47).

    Inti dari ketidakpercayaan, demikian kata Yesus, adalah penolakan. Hal ini bukan masalah pengetahuan atau bukti -- kaum Farisi memiliki pengetahuan dan bukti dalam jumlah banyak. Ini masalah kemauan. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri dan mendengar dengan telinga sendiri perbuatan-perbuatan ajaib Yesus. Mereka mengetahui nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama tentang Mesias, namun mereka mengeraskan hati untuk menyangkal keilahian Yesus.

    Demikian juga halnya dengan banyak orang yang menolak untuk percaya pada Allah. Dengan sadar dan kemauan sendiri mereka menolak bukti-bukti yang meyakinkan. Mereka menjadi pemberontak terhadap apa yang mereka ketahui dan lihat sendiri.

    Perhatikan perkataan Rasul Yohanes tentang mereka yang memilih untuk tidak percaya:

    Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak (1Yoh 2:22).

    Kata-kata tersebut cukup keras. Namun dengan jelas kata-kata itu menggambarkan masalah mereka yang dengan kemauan mereka sendiri menentukan bahwa keempat pernyataan Allah tentang diriNya tidaklah cukup untuk meyakinkan keberadaanNya.

    Bagian F. Empat Argumen Klasik

    Para pakar telah lama mencari argumen yang tak terbantahkan tentang keberadaan Allah! Namun dengan argumen saja tidak dapat meyakinkan semua orang, karena selalu akan ada orang-orang skeptis yang menuntut bukti-bukti empiris -- bukti-bukti yang tidak tersedia.

    Namun dari abad ke abad, telah diusahakan dengan memeras otak untuk menyusun argumen-argumen guna membuktikan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemelihara dunia ini. Di bawah ini tercantum empat upaya para ahli pikir untuk membuktikan keberadaan Allah.

    Argumen Keberadaan
    Nama klasik : Argumen ontologis.
    Berasal dari : Anselm of Canterbury.

    Pandangan Utama: Setiap orang yang mau mempertimbangkan bahwa Allah ada sebenarnya telah mengakui bahwa Allah ada. Inilah logika pernyataan tersebut. Secara definisi, Allah adalah makhluk teragung yang mungkin ada. Bila Dia tidak ada, Dia tidak dapat menjadi makhluk teragung. Oleh karena itu, makhluk seperti itu ada. Dengan kata lain, fakta yang ada di dalam diri kita bahwa ada ide tentang Allah, disebabkan oleh Allah sendiri.

    Argumen Penyebab Pertama
    Nama klasik : Argumen kosmologis.
    Berasal dari : Plato dan Aristoteles.

    Pandangan utama: Dunia kita -- kompleks, terbatas, senantiasa berubah dan dapat dimengerti dengan akal -- harus memiliki satu penyebab pertama yang meyakinkan. Para ilmuwan pada umumnya setuju bahwa dunia kita memiliki awal. Dan awal tersebut harus bertautan dengan sesuatu yang tidak bertautan dengan sesuatu pun untuk keberadaannya. Oleh karena itu, sesuatu yang tidak bertautan kepada sesuatu pun ini haruslah tak terbatas, kekal, tak ada habisnya dan mandiri. Seterusnya inilah Allah.

    Argumen Perencanaan
    Nama klasik : Argumen teleologis
    Berasal dari : Berbagai pemikir

    Pandangan utama: Tujuan dan perencanaan dunia menunjuk pada keberadaan Allah. Ahli ilmu alam kagum akan kompleksitas dari segala sesuatu yang mereka pelajari. Walaupun demikian, semua sistem bekerja dengan baik. Perhatikan keseimbangan antara panas dan dingin, percampuran yang tepat antara oksigen dan gas-gas lainnya, tirai tipis yang melindungi kita dari sinar ultra violet, hubungan yang kompleks antarbagian sistem ekologi. Semua itu menunjuk pada perencanaan yang canggih.

    Argumen Manusia
    Nama klasik : Argumen antropologis

    Pandangan utama: Dasar pemikiran ini berlandaskan pada kepribadian manusia yang alamiah. Bila kita beribadah, kita mampu berpikir secara abstrak dan memproyeksikan diri secara mental ke dunia yang lain. Kita mampu mengambil keputusan-keputusan moral yang berat yang membuat kita bersedia berkurban dengan gagah berani, yang tidak mungkin muncul dari naluri. Kita mengagumi karya seni, musik dan arsitektur. Kualitas-kualitas manusia yang luar biasa ini pasti merupakan hasil karya Seorang Pencipta yang berdaya pikir, bermoral dan berpribadi.

    Bagian G. Percaya Atau Tidak -- Enam Pandangan

    Saat manusia bergumul untuk menata pandangan-pandangannya tentang Allah, ia sampai pada enam sudut pandang utama. Inilah skema berbagai kepercayaan itu.

    Kepercayaan : Agnostisisme
    Pandangan Dasar : Tidak mungkin mengetahui keberadaan Allah. Kita tidak dapat mengetahui bagaimana awal dunia ini
    Pendukung : Thomas Huxley, Herbert Spencer
    Kata Mereka : "Aku tidah tahu apakah Allah ada atau tidak."
    Kepercayaan : Ateisme
    Pandangan Dasar : Tidak perlu ada Allah. Dewa-dewa Yunani dan Allah dari Alkitab sama saja.
    Pendukung : Madalyn O'Hair, Bertrand Russell
    Kata Mereka : "Aku tahu bahwa Allah tidak ada."
    Kepercayaan : Deisme
    Pandangan Dasar : Allah mulai menggerakkan alam semesta dan meninggalkannya untuk mencapai hasilnya sendiri Allah tidak lagi menaruh perhatian pada manusia
    Pendukung : Benjamin Franklin, Thomas Jefferson
    Kata Mereka : "Dunia seperti jam yang diputar sekali oleh Allah dan sekarang sedang berputar terus sampai habis."
    Kepercayaan : Panteisme
    Pandangan Dasar : Kita semua adalah bagian dari Allah. Segala sesuatu yang ada, memiliki Allah di dalamnya.
    Pendukung : Spinoza, Goethe
    Kata Mereka : Seorang panteisme akan melihat sebuah pohon dan berkata, "Pohon itu adalah Allah."
    Kepercayaan : Panenteisme
    Pandangan Dasar : Allah meresapi seluruh alam semesta. Segala sesuatu ada di dalam Dia.
    Pendukung : Paul Tillich, New Age Movement
    Kata Mereka : Seorang panenteisme akan melihat sebuah pohon dan berkata, "Allah ada dalam pohon itu."
    Kepercayaan : Teisme
    Pandangan Dasar : Hanya ada satu Allah. Dia menciptakan alam semesta, dan kita dapat mengenalNya
    Pendukung : Orang Kristen dan Yahudi
    Kata Mereka : "Allah ada dan Dia tidak diam."

    Bagian H. Sekarang Saya Percaya Pada Allah


    Craig James Wood adalah seorang ahli meteorologi yang bekerja pada
    sebuah stasiun televisi, yang profesionalismenya dan ketepatan
    prakiraan cuacanya membuat ia sangat disegani. Di sini ia
    menceritakan tentang perjalanannya dari ateisme sampai beriman.


    Lima belas tahun yang lalu saya adalah seorang ateis. Saya
    telah memutuskan bahwa tidak ada Allah. Bagi saya, satu-satunya
    kekuatan yang bekerja di dunia adalah gaya berat -- bukan sesuatu
    yang lebih berpribadi dan peduli dari itu.

    Saya selalu diberitahu bahwa manusia diciptakan menurut
    gambar Allah. Namun berdasarkan apa yang saya lihat pada diri dan
    cara orang-orang saling memperlakukan, hal itu bukanlah gambar yang
    saya sukai. Di samping itu, penderitaan meluas yang ditanggung umat
    manusia -- disebabkan oleh banjir, gempa bumi, penyakit, kebakaran
    dan bencana-bencana lainnya -- menyebabkan saya menyimpulkan bahwa
    bila ada Allah, Dia pasti tidak mempedulikan manusia lebih baik dari
    saya. Jauh lebih masuk akal untuk dipercaya bahwa tidak ada Allah
    daripada ada "Seorang" Allah yang kejam dan semauNya sendiri.

    Dengan keyakinan-keyakinan dan semua argumen untuk
    mendukungnya, saya tiba di Grand Rapids pada tahun 1972. Saya siap
    bekerja keras untuk mencapai semua tujuan yang telah saya tetapkan
    bagi diri saya. Saya menginginkan keluarga yang bahagia, rumah yang
    bagus, pekerjaan yang menyenangkan dan penghasilan yang layak. Pada
    usia 25 tahun, kelihatannya saya telah mencapai semua tujuan itu.
    Namun sesungguhnya saya merasakan kekecewaan yang mendalam karena
    saya tidak merasakan kepuasan. Bahkan sebaliknya, saya mulai
    merasakan ketidakpuasan dan ketidaktenangan yang kuat. Saya mulai
    merasakan kebosanan dalam hidup.


    Pada masa itu saya mulai bertemu (atau memperhatikan untuk
    pertama kalinya) orang-orang yang berbeda kehidupannya. Mereka
    memiliki damai di dalam diri yang tidak saya miliki dengan kemauan
    saya sendiri. Hal ini membuat saya sangat marah. Dan ketika
    orang-orang ini mengatakan kepada saya bahwa damai mereka datang dari
    Allah yang hidup yang ada dalam diri mereka, saya menjadi lebih marah
    lagi.




    Mereka memiliki damai di dalam diri yang tidak saya miliki dengan
    kemauan saya sendiri




    Biasanya saya dapat mengabaikan percakapan tentang Allah yang
    hidup sebagai suatu yang omong kosong. Namun kenyataan adanya sesuatu
    yang berbeda dalam kehidupan orang-orang ini, terlalu kuat untuk
    dibantah. Kemudian saya melihat suatu perubahan pada istri saya
    Marcie, yang lebih tak mungkin pula untuk dibantah. Dalam sekejap,
    banyak kekecewaan, kekhawatiran dan kebencian dalam dirinya, diganti
    dengan roh kedamaian dan kemantapan, sama seperti yang dialami oleh
    teman-teman saya.


    Tiga minggu kemudian, Marcie memberanikan dirinya untuk
    menceritakan kepada saya bahwa ia telah menyerahkan hidupnya kepada
    Yesus Kristus. Saya tidak dapat melawanNya lebih lama lagi. Saya pun
    menyerahkan hidup saya kepada Allah yang hidup ini, yang telah
    memperkenalkan diriNya kepada saya melalui istri dan teman-teman saya
    yang diubahNya.


    Sekarang saya tahu bahwa Allah ada. Dia telah menyatakan
    diriNya melalui Alkitab, yang dulu tidak pernah saya percayai. Dia
    menyatakan diriNya melalui perencanaan alam semesta yang sekarang
    saya lihat dari sudut pandang yang berbeda. Dan Dia telah menyatakan
    diriNya melalui hidup orang-orang yang menjadi kunci yang membuka
    hati saya.


    Dia siap dan mau menyatakan diriNya kepada Anda juga, bila
    Anda memintaNya untuk memperkenalkan diriNya kepada Anda.

    Bagian I. Bagaimana Saya Dapat Mengenal Allah yang Ada?

    Apakah Allah ada atau tidak, merupakan pertanyaan yang penting. Namun sebenarnya, mengenal Allah ini adalah jauh lebih penting. J.I. Packer menulis: "Untuk apa kita diciptakan? Untuk mengenal Allah. Apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita? Untuk mengenal Allah. Apakah hidup kekal yang diberikan Yesus? Untuk mengenal Allah. Apakah yang terbaik dalam hidup? Mengenal Allah. Apakah yang dalam diri manusia yang paling menyenangkan Allah? Pengetahuan akan diriNya."

    Namun siapakah yang dapat memperkenalkan kita kepada Allah? Mari kita lihat apa yang dikatakan Yesus kepada murid-muridNya:

    "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." Kata Thomas kepadaNya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal BapaKu. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yoh 14:1-7).

    Kami mengundang Anda untuk mengakui dosa-dosa dan kebutuhan Anda akan Juruselamat. Sadarilah bahwa Kristus telah mati untuk Anda. Dan percayalah kata-kata Yohanes: "Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya" (Yoh 1:12).