Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereArtikel / Mengapa Misi Kristen Harus Berfokus pada Penginjilan

Mengapa Misi Kristen Harus Berfokus pada Penginjilan


By admin - Posted on 14 September 2021

Membagikan Kabar Baik

"Misi" dan "penginjilan" mengungkapkan dorongan lahiriah dari Kekristenan. Injil Yesus Kristus, pada dasarnya, bukanlah untuk disimpan. Itu harus dibagikan. Misi dan penginjilan berhubungan erat; misi umumnya adalah istilah yang lebih luas, di mana penginjilan disertakan. Karena itu kita akan mempelajari misi terlebih dahulu, kemudian penginjilan.

Misi

Misi adalah inti dari pesan Alkitab, meskipun kata "misi" sebenarnya jarang muncul dalam Alkitab bahasa Inggris. Kata tersebut berasal dari kata kerja Bahasa Latin mitto (kata benda missio), yang sejajar dengan kata Bahasa Yunani apostell, yang berarti "mengutus". Ini mengacu pada Allah yang mengutus orang untuk menyampaikan karya penghakiman dan penebusan-Nya di bumi. Meskipun Allah terkadang campur tangan secara langsung, metode kerja-Nya yang biasa di dunia adalah dengan menggunakan orang-orang yang telah Dia pilih untuk melaksanakan kehendak-Nya.

Misi dalam Perjanjian Lama.

Injil Yesus Kristus, pada dasarnya, bukanlah untuk disimpan. Itu harus dibagikan.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Dalam Perjanjian Lama, Allah mengutus para pembebas seperti hakim, raja, nabi, dan imam khusus kepada bangsa Israel. Namun, ketika Allah pertama kali memanggil Abraham, Allah mengatakan kepadanya bahwa melalui keturunannya "semua kaum di bumi akan diberkati" (Kej. 12:3, AYT). Allah mengatakan kepada Israel di padang gurun bahwa ketaatannya pada hukum Allah akan menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa tentang kebesaran Allah (Ul. 4:6-8). Daud meminta, "Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara seluruh bangsa!" (1 Taw. 16:24; lihat Maz. 96:3, AYT). Mazmur 22:27 menantikan hari ketika semua bangsa berbalik kepada Allah dan menyembah di hadapan-Nya. Yesaya melihat Israel menjadi "terang bagi bangsa-bangsa," sehingga "keselamatan sampai ke ujung bumi" (Yes. 49:6). Mikha meramalkan hari ketika banyak bangsa ingin datang ke Sion untuk mempelajari jalan-jalan Allah (Mi. 4:2). Akan tetapi, orang Israel tidak sepenuhnya terbuka terhadap gagasan bahwa Allah memberikan kasih karunia-Nya kepada orang bukan Yahudi, seperti yang ditunjukkan oleh sikap Yunus (Yunus 4). Misi, bagi mereka, pada umumnya berarti hanya melayani sesama orang Israel.

Misi dalam Perjanjian Baru.

Dalam Perjanjian Baru, berkat Allah benar-benar tercurah atas bangsa-bangsa. Fokus Perjanjian Baru pada misi secara konsisten mencakup seluruh dunia daripada hanya komunitas umat Allah. Yesus mengutus murid-murid-Nya ke dunia sama seperti Ia diutus oleh Allah (Yohanes 17:18; 20:21). Setelah itu, misi menjadi terkait terutama dengan mereka yang berada di luar gereja. Orang percaya adalah garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16).

Misi sekarang tidak terutama dilakukan oleh spesialis, seperti nabi dan imam. Meskipun beberapa orang dilatih secara khusus (Ef. 4:11-12), itu adalah tanggung jawab penuh sukacita dari semua orang percaya. Sebagai wakil Tuan yang Melayani, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam pelayanan yang penuh dengan kerendahan hati (Markus 10:42-45; 2 Kor. 4:5; Flp. 2:5-11). Panggilan adalah salah satu arena kunci di mana orang Kristen dapat menjadi garam dan terang bagi dunia (Mat. 5:13-16). Sejarah Perjanjian Lama menunjukkan bahwa bahkan dalam lingkungan yang sepenuhnya kafir, umat Allah -- seperti Daniel dan teman-temannya, Ester, dan Yehezkiel -- dapat memenuhi mandat yang diberikan Allah, membawa kemuliaan bagi Allah dan berkat bagi orang-orang melalui panggilan mereka. Ini tetap berlaku hari ini.

Setelah kebangkitan, inti ajaran Yesus tentang misi disebut Amanat Agung, yang dalam berbagai bentuk muncul setidaknya empat kali dalam Kitab-kitab Injil (Mat. 28:18-20; Luk. 24:45-49; Yoh. 17:18; 20:21) dan dua kali dalam Kisah Para Rasul (1:8; 10:42). Di sini fokusnya adalah pada pemberitaan Injil keselamatan melalui Kristus kepada bangsa-bangsa.

Apa yang termasuk dalam misi?

Berbagai orang Kristen yang meyakini otoritas Kitab Suci memperoleh pemahaman yang berbeda tentang apa yang merupakan misi alkitabiah. Beberapa membatasi istilah penginjilan dan kegiatan yang terkait dengannya. Lainnya, meskipun melihat penginjilan sebagai tugas utama, memasukkan kegiatan lain seperti tanggung jawab sosial dalam pemahaman mereka tentang misi. Mereka sering menggambarkan ini sebagai "misi holistik." Yang lain lagi memasukkan aspek-aspek yang berbeda dari keterlibatan dan pelayanan Kristen, termasuk penginjilan, sebagai bagian yang sama pentingnya dari misi gereja. Yang pasti, orang Kristen harus sepenuhnya mematuhi panggilan Kristus untuk melayani, kegiatan apa pun yang termasuk dalam istilah "misi". Akan tetapi, seperti yang kita sadari, bahwa kebutuhan terbesar setiap orang adalah untuk diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus, dan bahwa tanpa ini orang-orang akan terhilang untuk selama-lamanya,

"Misi" terkadang dibedakan dari "misi-misi". Banyak orang dewasa ini menggunakan istilah "misi-misi" untuk merujuk pada pelayanan lintas budaya. Mereka yang melakukan pelayanan lintas budaya sebagai ketaatan pada panggilan Allah kemudian digambarkan sebagai misionaris. Menurut pemahaman ini, misi-misi merupakan salah satu bagian dari misi total gereja.

Penginjilan

Kata "penginjilan" berasal dari kata Yunani euangelizo, yang berarti "mewartakan kabar baik". Bentuk kata kerja dan kata benda dari kata ini (biasanya diterjemahkan "injil") muncul 125 kali dalam Perjanjian Baru.

Kata lain untuk penginjilan, kerusso (diterjemahkan "mewartakan" atau "memberitakan"), muncul 59 kali. Semua ini menunjukkan bahwa penginjilan melibatkan pemberitaan kabar baik secara lisan. Meskipun seseorang dapat memasukkan bentuk-bentuk pelayanan lain seperti kepedulian sosial di bawah misi, seseorang tidak dapat menyamakan tindakan pelayanan seperti itu dengan penginjilan. Kepedulian sosial dapat membantu dalam penginjilan dengan mendorong penerimaan terhadap Injil, tetapi itu bukanlah penginjilan itu sendiri.

Kata Yunani lain yang berarti "membujuk" (peitho) sering digunakan dalam Kisah Para Rasul untuk menggambarkan upaya penginjilan Paulus (Kisah Para Rasul 17:4; 18:4; 19:8). Ini menunjukkan bahwa penginjilan berusaha untuk menolong orang-orang sampai pikiran mereka diubah dan mereka menerima Injil. Saat ini ada kecenderungan untuk menghindar dari penginjilan yang terfokus seperti itu, karena dikaitkan dengan arogansi agama atau budaya. Memang, kesombongan tidak sesuai dengan Injil, karena Injil menyatakan bahwa kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri dan dengan demikian menghilangkan alasan untuk menyombongkan diri (Ef. 2:8-9). Selain itu, gaya hidup seorang pengikut Tuhan yang Menjadi Pelayan harus menjadi gaya hidup kehambaan -- antitesis dari kesombongan (lihat 2 Kor. 4:5). Namun, pemberitaan Injil yang berani tidak boleh disamakan dengan kesombongan.

Perspektif Injil alkitabiah berbeda dari perspektif pluralisme agama kontemporer. Alkitab menyatakan bahwa Allah yang adalah Pencipta dan Tuhan atas alam semesta telah menyampaikan pesan yang pasti kepada umat manusia, yang mencapai klimaksnya dengan kedatangan Yesus, Allah yang berinkarnasi (Ibr. 1:1-3). Karena itu, Injil Yesus begitu benar, begitu penting, dan sangat vital bagi kesejahteraan manusia sehingga setiap orang di mana pun harus meresponinya (Kisah Para Rasul 17:30). Pluralisme agama menolak adanya kebenaran mutlak. Dikatakan bahwa semua agama kurang lebih sama karena mereka semua memiliki elemen kebenaran, yang telah mereka temukan melalui pengalaman budaya dan sejarah mereka yang unik. Pluralisme seperti itu tidak menyetujui gagasan pertobatan sebagai tujuan dalam pemberitaan, sedangkan penginjilan alkitabiah memandangnya sebagai tujuan yang utama.

Alasan penginjilan.

Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, Paulus menjelaskan mengapa penginjilan diperlukan. Dia menggambarkan dirinya sebagai "bertanggung jawab baik kepada orang Yunani maupun orang kafir" -- yaitu, non-Yunani (Rm. 1:14). Rasa kewajiban itu membuatnya "sangat rajin memberitakan Injil . . . di Roma" (ay.15). Pemicu semangat ini adalah keyakinan akan kuasa Injil untuk menyelamatkan semua orang yang percaya (ay. 16-17). Paulus melanjutkan dengan menjelaskan apa yang membuat Injil menjadi keharusan. Dia mengatakan orang-orang dalam keadaan alami mereka berada di bawah "murka Allah" karena "kefasikan dan ketidakbenaran" (ay. 18). Ia menggambarkan kondisi manusia sebagai penindas kebenaran (ay. 18), menolak penyataan Allah dalam ciptaan (ay. 19-20), dan menolak untuk menghormati dan mengakui Allah (ay. 21, 28).

Paulus menyatakan bahwa pemberontakan melawan Allah ini pantas dihakimi dan tidak ada manusia yang dapat menghindari penghukuman pada saat penghakiman (Rm. 2:1-3:20). Kemudian, dia menjelaskan bagaimana Yesus adalah jawaban atas kutukan ini karena Dia menerima murka Allah atas dosa kita (3:25). Karya penebusan ini melepaskan "kasih karunia sebagai suatu pemberian, melalui penebusan yang ada di dalam Kristus Yesus," sehingga orang-orang berdosa "dibenarkan" atau dibebaskan dari kesalahan mereka dan dianggap benar (3:24). Bagian kita dalam semua ini hanyalah percaya kepada Kristus (3:22, 25, 26, 28); yaitu, berbalik dari mempercayai diri sendiri dan sebaliknya mempercayai Allah dan apa yang telah Dia lakukan di dalam Kristus untuk keselamatan kita.

Roma 10:14 menunjukkan betapa pentingnya mewartakan Injil agar orang memiliki iman yang menyelamatkan: "Akan tetapi, bagaimana mereka akan berseru kepada Dia jika mereka belum percaya? Bagaimana mereka percaya kepada Dia yang belum pernah mereka dengar? Bagaimana mereka mendengar, jika tidak ada orang yang memberitakan?" Ini menunjukkan, gagasan bahwa orang akan diselamatkan tanpa mendengar Injil tidaklah memiliki dasar alkitabiah. Orang tidak akan dihukum karena menolak Injil yang belum pernah mereka dengar, tetapi karena menolak pengetahuan yang sudah mereka dengar (Roma 1-2). Ada tingkat tanggung jawab dan tingkat hukuman, tergantung pada seberapa banyak yang diketahuinya (Mat. 11:21-24; Luk. 12:47-49). Akan tetapi, percaya kepada Kristus adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan, dan semua orang yang tidak percaya kepada-Nya akan menuju kebinasaan kekal di neraka.

Bahan dan metode penginjilan.

Gambar: fokus pada Injil

Dari Amanat Agung kita dapat mengidentifikasi beberapa bahan utama penginjilan. Penginjilan muncul dari kuasa Yesus (Mat. 28:18), yang telah mengutus kita sebagai utusan-Nya (Yohanes 20:21). Tujuan penginjilan adalah untuk menjadikan murid-murid yang taat yang akan dimasukkan ke dalam gereja melalui baptisan (Mat. 28:19-20). Kegiatannya meliputi menjadi saksi (Kisah Para Rasul 1:8), memberitakan Injil (Markus 16:15), dan menyatakan pertobatan dan pengampunan dosa (Lukas 24:47). Cakupannya meluas ke semua bangsa (Markus 16:15; Mat. 28:19; Luk. 24:47; Kisah Para Rasul 1:8). Dan itu dimungkinkan oleh penyertaan Kristus (Mat. 28:20) melalui kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8).

Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa, meskipun isi Injil tidak berubah, metode penginjilan bervariasi menurut audiensnya. Pesan-pesan penginjilan yang dicatat dalam Kisah Para Rasul semuanya merupakan pemberitaan Injil yang setia, tetapi pesan-pesan di hadapan audiens Yahudi mengutip Kitab Suci secara ekstensif (misalnya, 2:12-40; 13:16-41), sedangkan ketika Paulus berbicara kepada para filsuf di Athena, pesannya mengadopsi gaya yang lebih "akademis" dan tidak menyertakan kutipan eksplisit dari Kitab Suci (17:22-31; lihat 1 Kor. 9:19-23). Penginjil seperti Petrus dan Paulus berbicara di depan banyak orang; orang awam biasa "berkeliling memberitakan firman" (Kisah Para Rasul 8:4), mungkin kepada kelompok-kelompok kecil dan individu-individu; dan Filipus memimpin sida-sida Etiopia itu kepada Kristus melalui percakapan pribadi (8:26-38).

Gaya kesaksian pribadi yang berbeda ditemukan dalam Perjanjian Baru. Wanita Samaria mengajak orang untuk datang dan mendengar Kristus (Yohanes 4:29-30). Matius mengadakan jamuan makan untuk teman-temannya dengan Yesus sebagai tamu (Mat. 9:10). Orang yang buta menceritakan kesaksiannya (Yohanes 9:25). Jauh dari ajaran yang mengatakan bahwa hanya beberapa orang terpilih yang memiliki karunia penginjilan, Alkitab menunjukkan dalam berbagai cara bahwa semua orang Kristen dapat menggunakan kesempatan yang ada untuk bersaksi bagi Kristus.

Kesimpulan

Meskipun metode dan strategi akan bervariasi, panggilan abadi Allah kepada umat-Nya untuk membawa pesan penyelamatan-Nya ke dunia yang terhilang dan sekarat tidak bervariasi. Gereja harus melanjutkan misinya yang vital untuk membawa belas kasihan Allah ke dunia, aspek yang paling penting adalah membawa berita terbesar yang pernah dikenal dunia, Injil Kristus, sampai ke ujung bumi -- bagi sukacita gereja, keselamatan bangsa-bangsa, dan kemuliaan Allah Tritunggal. (t/Jing-Jing)

Artikel ini diadaptasi dari ESV Global Study Bible.

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Crossway
Alamat situs : https://www.crossway.org/articles/why-christian-mission-must-focus-on-evangelism/
Judul asli artikel : Why Christian Mission Must Focus on Evangelism
Penulis artikel : Ajith Fernando