Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 05 Vol.19/2016 / Suku Muyu di Papua

Suku Muyu di Papua


Ditulis oleh: Mei

  1. Sejarah dan Kehidupan Suku Muyu

    Suku Muyu adalah salah satu suku di Papua yang mendiami daerah sekitar Sungai Muyu yang terletak di sebelah Timur Laut Merauke. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Muyu. Ada dua perkiraan awal munculnya istilah "Muyu". Pertama, diperkirakan muncul bersamaan dengan masuknya Misi Katolik yang dibawa oleh pastor Petrus Hoeboer berkebangsaan Belanda, pada tahun 1933. Kedua, diperkirakan istilah "Muyu" muncul karena penduduk setempat menyebut Sungai Kao di bagian barat dengan Fly di bagian timur dengan istilah "ok Mui" atau "Sungai Mui" kepada orang Belanda. Penyebutan itu akhirnya berubah menjadi Muyu.

    Miskin

    Orang Muyu juga menyebut dirinya dengan istilah "Kati". Artinya, manusia sesungguhnya. Meskipun mereka tinggal di pedalaman, mereka memiliki alat tukar, yaitu kulit kerang (ot) dan gigi anjing (mindit). Sistem barter barang-barang dalam suku Muyu adalah hal unik yang baik, bahkan masih ada sampai sekarang, mereka menjalin relasi lebih dari sekadar "penjual-pembeli". Relasi sebagai teman inilah yang sering menjadikan mereka begitu erat satu dengan yang lain.

    Mata pencaharian pokok masyarakat adalah berburu, menangkap ikan, memelihara babi dan anjing, dan memproduksi sagu. Dalam masyarakat Muyu tidak dikenal seorang pemimpin tertinggi (ketua), baik dalam kehidupan sosial maupun religius. Ciri suku Muyu adalah mempunyai sifat individualisme -- tidak bergantung kepada orang lain, suka mengunjungi sanak keluarga, menukar hasil usaha, mengunjungi kuburan sanak-saudara, menagih hutang, berdagang, dan pergi untuk mendapatkan sejumlah kekuatan gaib. Penyakit atau kematian selalu dilihat sebagai akibat perbuatan sihir.

    Kehidupan suku Muyu sebagai seorang yang pekerja keras dan memiliki tekad yang kuat. Ciri ini masih dimiliki oleh orang-orang Muyu sampai saat ini. Suku Muyu dianggap sebagai suku pedalaman yang paling pintar. Orang suku Muyu menduduki mayoritas posisi penting dalam struktur birokrasi Boven Digoel. Dari lebih kurang 1.800 pegawai negeri sipil, sekitar 45 persennya dari suku Muyu. Beberapa menjadi bupati. Mereka hemat, bekerja lebih keras dibandingkan suku lain, dan sangat menghargai pendidikan.

  2. Kepercayaan Suku Muyu

    Suku Muyu memercayai adanya kekuatan tertinggi yang menciptakan hewan, tanaman, dan sungai-sungai. Mereka juga percaya arwah orang mati masih mengadakan kontak dengan yang hidup. Salah satu kekuatan gaib yang mereka percaya adalah "Komot", yaitu salah satu makhluk halus yang paling penting dalam mitologi masyarakat Muyu. Komot bukanlah seorang manusia, juga bukan arwah (tawat) orang yang telah meninggal. Contoh, mengenai mitologi Komot, yaitu berzina dan memelihara babi.

    Pengetahuan spiritual diturunkan hanya dari ayah ke anaknya. Mereka selalu berusaha memperoleh kekuatan gaib yang paling jitu, baik berupa mantra maupun jimat-jimat. Dan, salah satu pesta yang berkaitan dengan kekuatan gaib dalam tradisi masyarakat Muyu adalah pesta babi. Pesta yang bertujuan untuk memperoleh sejumlah ot.

    Penting untuk diketahui juga bahwa di daerah Muyu mensahkan poligami sehingga tidak mengherankan jika seseorang mempunyai lebih dari satu istri, hal ini tidak terlepas dengan kepercayaan mereka kepada "Komot".

    Pada Tahun 1933, agama Katolik Roma masuk ke daerah Muyu dan memberikan dampak yang besar dalam perkembangan daerah Muyu, khususnya dalam bidang pendidikan.

  3. Apa Kebutuhan Suku Muyu

    Masuknya para misionaris di Muyu pada tahun 1933 mulai beroperasi membuka isolasi daerah. Orang Muyu kemudian mulai bersekolah. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, orang Muyu mulai terkena dampak negatif dari modernisasi/pemodernan, seperti mabuk-mabukan, judi, dan hal-hal yang bersifat euforia. Situasi politik daerah dan ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi pengaruh globalisasi telah menjadikannya semakin tersudut. Sejumlah perubahan yang dibuat generasi Muyu kini memang sedikit berpengaruh terhadap kehidupan mereka. Namun sayangnya, himpitan ekonomi, terkikisnya budaya dan ancaman luar lainnya masih mendera orang Muyu.

  4. Pokok-Pokok Doa

    1. Berdoalah kepada Allah untuk memanggil orang-orang yang memiliki keinginan untuk pergi ke Papua, khususnya ke daerah suku Muyu dan mewartakan kasih Yesus kepada mereka.
    2. Berdoalah bagi orang-orang Muyu yang terkena dampak negatif dari modernisasi/pemodernan
    3. Berdoa bagi pemerintah daerah dan tokoh-tokoh masyarakat setempat agar dapat menerapkan program-program pembangunan yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung dan dapat memajukan masyarakat ini.

Sumber bacaan:

  1. Omona, Jerry. "Budaya dan Sejarah Orang Muyu". Dalam http://www.jeratpapua.org/2014/06/27/budaya-dan-sejarah-orang-muyu/
  2. Omona, Jerry. "Muyu, Di antara Pemekaran dan Ketidakberdayaan". Dalam http://arsip.tabloidjubi.com/?p=1892
  3. Wotot, Marselino. "Kepercayaan Asli Suku 'Muyu-Kati'". Dalam http://www.papualives.com/kepercayaan-asli-suku-muyu-kati/
  4. _____. "Sejarah Masuknya Injil di Papua melalui Pulau Mansinam". Dalam http://mansinam.com/data/sejarah/masuknya_injil_di_papua.php