Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.05 Vol.16/2013 / Sadhu Sundar Singh: Misionaris dengan Kaki yang Berdarah

Sadhu Sundar Singh: Misionaris dengan Kaki yang Berdarah


Pada 3 September tahun 1889, di sebelah Utara India, seorang anak laki-laki lahir dalam sebuah keluarga beragama Sikh. Keluarga Sundar sungguh menyenangkan, mereka memiliki rumah yang bagus dan makanan yang banyak, tidak seperti tetangga-tetangga mereka. Ibu Sundar bergelar "Sikh Bakhta", yaitu seorang yang dianggap suci dalam agama Sikh. Ibunyalah yang menolong Sundar untuk menghafal isi kitab suci agama mereka yang bernama Gita.

Sundar berusaha untuk menjadi seorang Sikh yang saleh. Karena itu, ia juga mempelajari buku-buku agama lain. Agama Sikh mengizinkan penganutnya untuk meminjam buku-buku dari agama lain, sehingga Sundar juga membaca buku agama Hindu dan Islam, ia juga mempelajari Yoga. Namun, semuanya itu tidak dapat memuaskan keinginannya dalam mengetahui kebenaran.

Suhu udara di India sangat panas, dan perjalanan yang harus ditempuh Sundar jika ia ingin belajar di sekolah yang disediakan pemerintah sangatlah jauh. Jadi, Sundar memilih bersekolah di sekolah Kristen yang dikelola oleh misionaris dari Inggris. Di sekolah itu, Sundar mempelajari Alkitab, akan tetapi ia tidak menerima pengajarannya.

Kehidupan Sundar berubah sejak kematian ibunya karena ibunyalah yang menjadi pengajar rohaninya. Setelah kematian ibunya, Sundar menjadi benci terhadap orang Kristen dan Tuhan yang mereka percayai. Sundar melawan Tuhan yang sejati dengan menganiaya orang-orang Kristen dan kemudian berhenti dari sekolah. Bahkan, ayahnya menangkap basah Sundar ketika ia membakar sebuah Alkitab. Ayahnya mengingatkannya bahwa ibunya pernah mengatakan bahwa Alkitab adalah buku yang baik, namun Sundar tidak peduli dan membakar Alkitab itu sampai habis.

Sundar merasa kehilangan dan takut. Agama sikh yang dianutnya tidak memberinya kedamaian yang diinginkannya. Ia merasa sangat sedih, sehingga ia memutuskan untuk menabrakkan diri pada kereta yang melaju, agar ia dapat mati dengan tenang. Sebelum melakukan hal itu, Sundar berdoa kepada Tuhan dan memohon tanda bahwa Dia benar-benar ada. Tuhan pun menjawabnya. Sundar bercerita kepada ayahnya bahwa Yesus menampakkan diri kepadanya dalam sinar yang sangat terang, dan mengatakan bahwa Ia datang untuk menyelamatkan Sundar. Kehidupan Sundar berubah. Ia menjadi seorang Kristen dan melayani Yesus sampai akhir hayatnya.

Keluarganya memohon kepada Sundar untuk memikirkan ulang keputusannya terhadap Yesus. Mereka menawarinya uang, namun ketika Sundar menolaknya, mereka berusaha membunuhnya dengan memasukkan racun ke dalam makanannya. Mereka semua menolak Sundar dan tidak mau menolongnya. Kini, Sundar tidak memiliki keluarga yang menyenangkan, maupun makanan yang berlimpah.

Sundar dibaptis saat ia berusia 16 tahun dan memutuskan untuk menjadi seorang Sadhu Kristen. "Sadhu" adalah sebutan bagi guru agama di India, yang mengajar dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki. Mereka mengenakan jubah kuning, tidak memiliki tempat tinggal, uang, atau harta. Makanan yang mereka makan dan tempat menginap mereka adalah hasil belas kasihan orang lain.

Ketika Sadhu Sundar Singh memulai perjalanannya ke berbagai tempat sambil memberitakan firman Tuhan, beberapa orang memberinya makanan dan tempat menginap, tetapi ada pula yang berusaha mencelakai atau membunuhnya. Sundar tidak pernah membalas orang yang mencelakainya, tetapi ia terus menyanyikan atau menceritakan kasih Tuhan. Hal ini membuat banyak orang melihat betapa berbedanya Sundar dengan orang-orang jahat, lalu mereka menerima Yesus ke dalam hati mereka.

Sundar sangat rindu untuk membawa Injil ke negara Tibet, sekalipun ia harus menghadapi banyak bahaya ketika menuju ke sana. Pegunungan Himalaya sangat curam dan sulit diseberangi. Karena bertelanjang kaki atau hanya memakai sandal saja, kaki Sundar selalu berdarah saat berusaha mencapai Tibet. Kadang-kadang, ia juga harus menghadapi badai salju yang membuatnya tidak dapat melihat ke depan. Ada pula macan tutul salju yang sering kali menyerang dan membunuh para pengembara yang berjalan sendirian. Lebih daripada itu, ada bahaya lain yang harus dihadapi Sundar, yaitu penganiayaan dari penduduk Tibet. Namun demikian, Sadhu Sundar Singh bertekad melintasi Pegunungan Himalaya untuk mengajarkan berita Injil kepada orang-orang Tibet.

Pada suatu kali, di Tibet, Sundar dimasukkan ke dalam sumur. Orang-orang Tibet menutup sumur tersebut dan menguncinya. Tangannya patah karena dijatuhkan ke dalam sumur tersebut. Setelah tiga hari, tutup sumur itu terbuka dan seutas tali diulurkan ke dalamnya untuk menolong Sundar keluar dari sumur. Ketika Sundar sampai di atas dan ingin mengucapkan terima kasih kepada penolongnya, ia tidak menemukan siapa pun.

Orang-orang Tibet yang menaruh Sundar ke dalam sumur itu sangat marah ketika mereka berhasil menangkap Sundar kembali. Salah satu dari mereka ingin tahu, siapa yang mencuri satu-satunya kunci untuk membuka tutup sumur itu. Tetapi kemudian, mereka membebaskan Sundar saat menyadari bahwa satu-satunya kunci untuk membuka tutup sumur itu masih ada pada mereka.

Selama perjalanannya, Sadhu Sundar Singh mengalami banyak peristiwa ajaib, dan banyak orang yang mendengarkan khotbahnya menjadi percaya. Sundar menjadi salah satu tokoh agama yang paling dikenal di seluruh India.

Suatu hari di tahun 1929, Sundar melakukan perjalanannya yang terakhir menuju Tibet. Ia menghilang di Tibet, namun tak seorang pun pernah menemukan jasadnya. Akan tetapi, kisah Sadhu Sundar Singh tetap menjadi contoh hidup yang diubahkan oleh Yesus, dan juga sebagai contoh orang yang sangat rindu mengabarkan Injil kepada orang lain. (t\Yudo)

Diterjemahkan dari:

Nama buletin : Great Commission Kids, Issue 28
Judul asli artikel : Sadhu Sundar Singh: Missionary with Bleeding Feet
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : World Team, USA
Halaman : 1 -- 2

e-JEMMi 05/2013