Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 01 Vol.17/2014 / Perjanjian Abrahamik I

Perjanjian Abrahamik I


"Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." (Kejadian 12:2–3).

- Kejadian 12:1-3

Ketika Adam melanggar perjanjian kerja, seluruh umat manusia diusir dari hadirat kemurahan Allah. Namun, Tuhan tidak puas meninggalkan kita dalam keadaan seperti itu. Sebaliknya, Ia memberlakukan perjanjian kasih karunia yang akan memperbaiki pelanggaran Adam. Perjanjian kasih karunia ini terbentang melalui serangkaian perjanjian yang lebih kecil berturut-turut. Yang pertama adalah perjanjian Nuh, yaitu saat Allah berjanji untuk menjaga stabilitas alam sehingga Dia bisa melaksanakan rencana penebusan-Nya.

Tidak ada tokoh Perjanjian Lama yang lebih terkait dengan perjanjian kasih karunia selain Abraham. Kepada orang inilah, Tuhan pertama kali menjelaskan bahwa dari Dia akan dijadikan umat yang besar milik kepunyaan-Nya sendiri. Dalam pertemuan dengan Abraham inilah, kita melihat salah satu contoh terbesar bahwa Allah, dan Allah saja, yang memastikan keberhasilan perjanjian itu.

Kita pertama membaca tentang Abraham dan janji-janji yang diberikan kepadanya dalam Kejadian 12:1-3. Tuhan sendiri turun ke tanah kafir, dan kemungkinan besar, keluarga kafir, dan memanggil Abram (ayat 1). Bahkan, sebelum perjanjian itu secara resmi diberlakukan, kasih karunia Allah sedang bekerja untuk menebus sebuah bangsa yang telah dipilih-Nya. Abram dijanjikan suatu negeri yang baik (ayat 1), suatu bangsa yang besar, nama besar, dan berkat besar yang akan diteruskan dari dia terlebih dahulu (ayat 2), dan kemudian ke seluruh bangsa di bumi (ayat 3).

Sekarang, mari kita melompat ke Kejadian 15:1-6, di mana dalam ayat 1 Allah berjanji akan memberikan Abram suatu upah yang sangat besar. Abram sedikit kecewa, bagaimanapun, dan menyiratkan bahwa upah dari Allah itu tidak baik untuk keluarganya karena ia tidak memiliki ahli waris alami (ayat 2-3). Allah menjawab bahwa Abram tidak perlu menjadikan hambanya sebagai ahli warisnya karena dia malah akan diberikan banyak keturunan (ayat 4-5).

Abram percaya bahwa ia akan diberi banyak keturunan dan diperhitungkan benar oleh Allah (15:6). Allah menyatakan Abram benar karena iman Abram kepada Allah yang pasti akan memenuhi janji-janji-Nya. Seperti Abram, Allah menganggap kita benar hanya karena iman kita kepada pribadi dan karya Yesus Kristus. Janji keturunan tidak terpenuhi sampai Abram sudah cukup tua (21:2). Ini menunjukkan kepada kita bahwa Abram harus mengandalkan Allah saja jika janji-janji perjanjian itu akan tergenapi.

Coram Deo

Kita tidak akan pernah mewujudkan kerajaan Allah sendiri. Kita, seperti Abraham, sangat bergantung pada Allah untuk penggenapan semua janji-Nya. Dia akan mewujudkannya dengan atau tanpa kita. Ketika Anda melayani Tuhan, ingatlah bahwa Tuhan dapat mendatangkan kerajaan tanpa Anda, tetapi dengan kasih karunia, Dia berkenan untuk memakai Anda juga.

Ayat-ayat untuk studi lebih lanjut

Keluaran 2:23–25
Yesaya 1:25–27
Yohanes 8:56–58
Galatia 3:29

(t/Jing Jing)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : Ligonier.com
Alamat URL : http://www.ligonier.org/learn/devotionals/abrahamic-covenant-i/
Judul asli artikel : Abrahamic Covenant I
Penulis : tidak dicantumkan.
Tanggal akses : 22 November 2013