Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.47 Vol.15/2012 / Penglihatan Malam di Iran

Penglihatan Malam di Iran


Aku kuliah dan bekerja. Aku di bawah tekanan, namun ayah ibuku tidak bersamaku, jadi aku kesepian. Oleh karena itu, aku berdoa agar tekanan akan meninggalkanku.

Aku berusaha sebaik mungkin menjadi seorang "beragama lain". Aku mengikuti semua perintah di dalam agama. Aku melakukan yang terbaik untuk sedalam mungkin memperoleh jalan masuk (ke allah). Tetapi sesungguhnya, tekanan semakin meningkat dan tekanan mental seperti memukulku dan menghisap semua tenagaku. Di tempat kerjaku, mereka memindahkanku ke perusahaan lain untuk bekerja di tempat lain selama satu bulan, jadi permasalahanku bertambah dan lebih banyak tugas lagi yang harus aku kerjakan sebagai tambahan pembelajaranku.

Suatu malam di kamarku, aku berbicara kepada allah dan mengeluh: "Berapa banyak tekanan lagi? Ini cukup! Berapa lama lagi aku dapat bertahan? Aku sedang bekerja dan belajar. Mengapa Engkau tidak menolongku? Mengapa Engkau tidak memberikanku bantuan?"

Aku mengancam, "Jika Engkau akan menolongku, malam ini Engkau harus menunjukkan wajah-Mu kepadaku. Jika Engkau tidak menunjukkan suatu tanda malam ini, aku akan menjadi seorang pendosa." Jadi setelah aku berdoa, aku berkata, "Aku tidak akan tidur malam ini dan menunggu tanda-Mu, sehingga aku dapat melihat dan percaya Engkau ada di sini bersamaku."

Aku berbicara kepada allah di dalam "agamaku", berharap melihat allah. Aku mengeluh selama 1 jam. Aku lelah, jadi aku menundukkan kepalaku di karpet doaku. Di tengah malam itu, aku melihat suatu terang yang datang ke dalam kamar. Aku ketakutan dan lari keluar kamar. Lalu, aku berkata kepada diriku sendiri, "Apakah aku minta sesuatu?" Jadi, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku harus kembali dan duduk di tempat doaku dan melihat apa yang akan terjadi.

Kamar itu dipenuhi oleh cahaya. Aku mengira hari telah pagi, tetapi akhirnya aku menyadari bahwa hari masih malam. Aku mengangkat kepalaku dan aku melihat Yesus Kristus. Dia berpakaian putih. Padahal, aku tidak pernah melihat gambar Mesias, tapi aku mengenal bahwa inilah Mesias itu.

Aku suka sekali menulis puisi, jadi aku mengambil kertas dan pena menuliskan sesuatu yang terlintas di pikiranku. Segera pada saat itu aku mulai menulis. Aku menulis (dalam bahasa Farsi Iran), "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Aku agak marah atas hal ini: Aku mencari allahnya "agamaku", dan yang datang malah Yesus, sang Mesias! Apa ini? Jadi, aku menggulung karpet doaku dan berkata: "Aku selesai dengan ini! Aku akan pergi tidur!"

Malam selanjutnya, aku bermimpi dan melihat Mesias. Dia berkata, "Tidakkah Aku mengatakan kepadamu untuk berlindung di bawah naungan sayap-Ku dan diselamatkan?" Jadi, aku berkata kepada diriku sendiri: Ini adalah Mesias yang datang kepadaku. Apakah dia ini Allah yang sebenarnya? Aku harus menemukan Allah atau "Pemimpin agamaku".

Salah satu teman kerjaku melihat bahwa aku sedang kecewa dan bertanya, "Apakah kamu punya masalah?"

Aku katakan, "Ibuku tinggal jauh dan aku sudah tidak bertemu beberapa waktu lamanya. Aku tidak tahu, apakah aku akan dapat bertemu dengannya lagi. Itulah yang menggangguku."

Dia mulai menenangkanku dan berkata, "Tuhan bersamamu. Tuhan itu kasih. Bawalah keluhan-keluhanmu kepada-Nya." Biasanya di Iran, orang-orang yang bekerja di suatu perusahaan tidak datang dan berkata, "Aku orang Kristen." Setelah aku bekerja di sana selama tiga minggu, dia datang kepadaku dan mengatakan bahwa dia seorang Kristen. Jadi, ketika dia berbicara kepadaku mengenai kasih Tuhan, aku mulai bertanya, kasih yang bagaimana yang Tuhanmu berikan kepadaku... apakah sejenis tekanan?

Aku menunjukkan kepada teman kerjaku kata-kata yang aku tuliskan selama aku menerima penglihatan Yesus, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Teman kerjaku mengeluarkan sebuah buku yang dia bawa dan membukanya. Mencari halaman tertentu, dia menunjukkan kata-kata (Matius 11:28), kata-kata yang sama persis seperti yang aku tulis! Aku terkejut. Aku bertanya kepada temannya buku apa ini. Ini adalah Alkitab pertama yang aku pernah lihat. Itulah awal imanku, bukan jalan yang mudah. Penglihatanku akan Yesus membawaku kepada firman Allah; dan di dalam kuasa-Nya, Dia telah membawaku menjadi salah satu dari umat-Nya.

Ketika datang waktuku untuk mencari pekerjaan baru, tidak ada yang mau menerimaku ketika mereka mengetahui bahwa aku sekarang seorang Kristen. "Mereka ditekan untuk tidak memberikan orang-orang Kristen tunjangan, menurunkan gaji mereka, dan tidak memberikan jaminan asuransi. Jadi, di semua perusahaan (milik negara) tidak ada pekerjaan bagi orang Kristen. Dan, ini adalah tempat yang berbahaya." Perusahaan swasta mau menerima aku, tetapi dengan gaji yang lebih rendah dari perusahaan milik negara tawarkan, dan tidak ada tunjangan. Tetapi, kesengsaraan mencari pekerjaan baru awalnya saja.

Aku berkenalan dengan seorang pria melalui pelayanan gereja, dan kami memutuskan untuk menikah. Karena kami Kristen, kami menikah di gereja, suatu keputusan yang membuat berang polisi rahasia Iran. Polisi rahasia mendatangi hotel di mana kami menginap setelah pernikahan, lalu menahan kami. Polisi menanyakan tentang pelayanan gereja dan siapa yang menikahkan kami. Ketika mereka mengetahui nama pendeta yang telah menikahkan kami, mereka mengancamnya juga. Mereka melepaskan kami dan kami memutuskan untuk tinggal di Iran Utara, di mana tekanan yang kami terima tidak terlalu keras. Tetapi, bahkan di daerah "aman" ini, radikal "agama lain" yang berjanggut panjang mengancam kami juga.

Pergesekan selanjutnya dengan pemerintah adalah setelah kami memiliki anak perempuan. Kami memberinya nama Emmanuel. Ketika kami pergi membuat akta kelahiran, petugas di sana bercekcok dengan kami mengenai pilihan nama Kristen bagi anak kami. "Buktikan ini adalah nama Kristen," perintah mereka, kemudian, "Kami perlu dokumen-dokumen untuk membuktikan bahwa kamu berdua adalah orang Kristen." Walaupun mengalami perlakuan kasar, kami terus melakukan pelayanan kami di gereja. Aku menjadi seorang pemimpin bagi para wanita di gereja dan bahkan berkeliling keluar negaranya, untuk melayani saudara seiman lainnya.

Tahun lalu, pemerintah makin meningkatkan tekanan. Sekolah menolak mengesahkan nilai-nilai Emmanuel atau memberikan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk masuk ke sekolah dasar. Aku menyadari bahwa hal ini suatu saat akan terjadi: Pemerintah dapat mengambil anak perempuan kami, dengan mengatakan bahwa orang tuanya tidak dapat memberikan pendidikan yang pantas bagi anaknya.

Khawatir akan keselamatan anak kami dan setelah melakukan banyak doa, kami bertiga meninggalkan Iran, meninggalkan segalanya. Hari ini, kami sedang berusaha untuk memperoleh status pengungsi dan mencoba untuk tinggal di negara bebas. Jika suatu saat kami kembali ke Iran, kami pasti mengalami penahanan, pemenjaraan, dan bahkan lebih buruk lagi. Akhirnya, kami tahu bahwa kami adalah warga negara dari suatu negara yang benar-benar bebas: Surga. Kami berdoa agar Allah menggunakan kami untuk menjangkau orang-orang Kristen lainnya dan menguatkan gereja-Nya, di negara mana pun kami tinggal.

Allah bekerja melalui cara-cara yang luar biasa di negara-negara terlarang, seperti Iran, di mana orang-orang tidak memiliki kebebasan, untuk mendengar Injil yang dikhotbahkan di sudut jalan atau disiarkan di stasiun televisi Kristen. Allah dapat menggunakan peristiwa-peristiwa yang ajaib untuk membawa yang hilang kepada-Nya (seperti Rasul Paulus), tetapi Dia berhasrat agar orang-orang Kristen di Iran dan seluruh Timur Tengah, berpegang pada firman-Nya sebagai dasar untuk mengarahkan kehidupan mereka.

Diambil dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November - Desember 2003
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 3 -- 5

e-JEMMi 47/2012