Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.39 Vol.15/2012 / Nikmatnya Kemapanan

Nikmatnya Kemapanan


Pada dasarnya, dunia ini terus-menerus mengalami perubahan dan secara insting manusia bereaksi terhadap perubahan tersebut. Perubahan adalah keharusan, dan bereaksi terhadap perubahan adalah sifat dasar manusia. Dari detik ke detik, perubahan terus berlangsung, setidaknya perubahan dalam ukuran waktu. Hari ini tidak akan sama dengan hari esok dan hari kemarin tidak akan sama dengan hari ini, demikian seterusnya.

Bertahan terhadap perubahan merupakan reaksi normal manusia karena pada dasarnya bertahan dalam banyak hal, merupakan salah satu cara untuk mempertahankan kemapanan diri. Penolakan terhadap perubahan biasanya muncul apabila perubahan yang terjadi dianggap mengancam eksistensi dan keselamatan. Namun, dalam banyak hal, sebenarnya perubahan itu sendiri ternyata lebih baik dijalani ketimbang dihindari. Lebih tegas lagi, perubahan memang tidak bisa dihindari. Menyikapi perubahan adalah hal yang berat, sekalipun perubahan itu terjadi dalam rangka menuju ke arah yang lebih baik. Manusia cenderung menghindari perubahan dan lebih menyukai kemapanan.

Yesus menggagas perubahan dalam konsep talenta (Matius 25: 14-30). Dalam perumpamaan tersebut, Yesus dengan jelas menceritakan dan mengajarkan tentang makna dan tujuan perubahan. Tampak dalam ilustrasi tersebut sifat dasar manusia dalam menghadapi perubahan, yakni radikal, gradual, dan statis. Ketakutan terhadap perubahanlah yang menyebabkan si penerima satu talenta mengembalikan talentanya; ia merasa lebih menikmati kemapanannya. Tetapi meskipun ada sebagian orang yang menolak perubahan, namun pada dasarnya sebagian besar manusia menginginkannya.

Allah ingin agar kita menyerahkan secara total seluruh rencana hidup kita ke bawah otoritas-Nya. Di sinilah, kita sering tergelincir sebab kita kurang meyakini rencana Allah terhadap perubahan hidup kita. Mengapa ini bisa terjadi? Karena kedagingan kita masih menghasilkan berbagai pikiran dan gagasan yang manusiawi. Di samping itu, Iblis pun sangat gigih untuk memengaruhi jalan pikiran kita.

Diambil dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, Januari 2007
Penulis : Drs. Elisa B. Surbakti, M.A.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2007
Halaman : 12

e-JEMMi 39/2012