Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.50 Vol.12/2009 / Menerima Kenyataan Perubahan

Menerima Kenyataan Perubahan


Setiap orang mengharapkan terjadinya perubahan yang lebih baik atau yang menyenangkan dalam kehidupannya. Kita mengharapkan agar tiap tahun pendapatan kita bertambah, memiliki kendaraan pribadi yang lebih baik, berharap punya anak setelah menikah, dan sebagainya. Perubahan jasmani menuju arah yang lebih baik memang bagus dan menyenangkan. Namun, bagaimana jika perubahan jasmani tersebut menuju arah yang lebih jelek atau buruk?

Setelah Yusuf dan Maria didatangi oleh orang-orang Majus, pada malam harinya Yusuf juga didatangi oleh malaikat Tuhan, yang berkata "Bangunlah, ambillah anak itu serta ibunya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman" (Matius 2:13-14). Baru saja mereka merasa senang karena kedatangan orang-orang Majus yang memberikan sesuatu dan menjadi tanda yang menguatkan mereka. Namun, sekarang mereka harus pergi ke Mesir dan tinggal di sana. Mereka harus menghadapi tantangan yang berat, seperti bahasa asing, budaya lain, dan tidak tahu sampai kapan mereka harus tinggal di Mesir. Risiko besar ada di depan mata mereka. Tetapi Yusuf dan Maria siap, sehingga dalam ayat selanjutnya diceritakan bahwa pada malam itu juga mereka menyingkir ke Mesir.

Perubahan jasmani yang tidak menyenangkan, apabila disikapi dengan hati yang siaga, tidak akan menjadi masalah. Baru-baru ini saya mengunjungi suatu daerah yang pernah mengalami konflik. Hingga kini kehidupan masyarakat di sana masih belum kembali seperti sebelum konflik terjadi. Masih terlihat puing-puing bangunan yang terbakar. Namun, saya melihat ada sesuatu yang lain. Orang-orang yang tinggal di daerah itu lebih gampang menerima kenyataan, sehingga mereka tidak melakukan aksi unjuk rasa atau demo kepada pemerintah dan tidak bersikap antipati terhadap kelompok yang memicu terjadinya konflik.

Perubahan jasmani adalah hal yang semu, yang penting adalah perubahan sikap hati. Kembangkanlah kehidupan rohani kita menjadi semakin dewasa dengan menjadi dekat pada firman-Nya, dan milikilah semangat, agar kita mampu menghadapi perubahan yang tidak menyenangkan serta tidak hanya menuruti keinginan atau tuntutan jasmani yang tidak pernah ada habisnya. Utamakanlah perubahan yang lebih baik di dalam hati daripada perubahan secara jasmani.

Orang-orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah? (Amsal 18:14)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Edisi November -- Desember 2008
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 1