Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.42 Vol.08/2005 / Melayani Tuhan dari Atas Kapal

Melayani Tuhan dari Atas Kapal


Saya merasa mendapat kehormatan dari Tuhan karena dapat melayani di tiga kapal Operation Mobilization (OM) -- LOGOS, DOULOS dan LOGOS II. Saya melayani di LOGOS sejak 1986 sampai karamnya di Argentina Selatan pada tahun 1988. Sebelum menikah, saya melayani di DOULOS dan LOGOS II dan pada tahun 2001-2004 bersama keluarga, saya melayani di LOGOS II.

Saya bukan pelaut dan sering mengalami mabuk laut ketika berlayar. Hanya karena panggilan-Nyalah saya dapat bertahan dalam pelayanan ini dengan penuh sukacita. Saya adalah lulusan sekolah Theologia yang (biasanya) dipersiapkan melayani orang-orang Kristen. Akan tetapi, lambat laun saya mulai belajar untuk melayani orang-orang non-Kristen dan menjadi "Ergatai" atau pekerja yang bersedia mengotorkan tangan untuk Tuhan. Lewat proses penyangkalan diri dan menyadari bahwa melayani itu tidak hanya dari mimbar saja, saya memulai pelayanan dengan bekerja di gudang buku disamping pelayanan- pelayanan PI dan khotbah. Walaupun tidak mudah, di sana saya pun belajar untuk hidup bersama dengan 200 orang lain dari 50-an bangsa yang berbeda.

Tapi anugerah Tuhan sangat luar biasa. Atas perkenaan-Nya, bukan hanya pengalaman pelayanan di sekitar 100 negara yang Ia berikan, tapi juga beraneka lingkup pendengar mulai dari presiden, hamba- hamba Tuhan, gereja-gereja, penjara, anak jalanan sampai suku-suku pedalaman.

Saat bersama dengan keluarga melayani di Logos II (sebagai Direktur Pelatihan) anak-anak saya pun diberkati dengan sekolah yang sangat baik di kapal, bersama 17 anak-anak lainnya. Mereka mendapat pendidikan dengan British System Education. Selama itu, kami juga mengunjungi negara-negara yang dulu pernah saya layani seperti Polandia, Rusia, negara-negara Eropa, Amerika Latin dan Karibia, sehingga disamping mengikuti pelayanan, anak-anak juga mengerti apa itu arti Pelayanan Lintas Budaya.

Bagi istri saya, bahkan sebelum menikah, ia juga pernah melayani di kapal. Tapi dengan tidak adanya "privasi" dan tidak ada dapur sendiri serta selalu hidup berpindah-pindah, menjadikan harga yang harus ia bayar sebagai seorang ibu adalah yang paling berat. Tuhan memang tidak pernah meminta kita melakukan sesuatu yang tidak sanggup kita lakukan dan juga tidak pernah dimintanya sesuatu yang belum pernah diberikannya kepada kita. Sekalipun demikian, melalui pengalaman itu kami belajar bahwa ada harga yang harus dibayar jika kita ingin dunia mengenal Kristus.

Pelayanan kapal (mission vessel) terbatas pada tempat-tempat yang "terbuka" dan "aman" di negara-negara yang mau menerima kami. Demikian juga dengan OM, secara sederhana Visi OM ships adalah: "Bringing Hope to the Peoples of the World (Membawa Pengharapan bagi Orang-orang di Seluruh Dunia)".

Di setiap negara kami melakukan pelayanan yang disingkat METAL:

(M) Mobilisasi gereja-gereja/umat Tuhan untuk penyampaian Kabar Baik sedunia dengan konferensi/seminar di atas kapal, baik untuk pendeta- pendeta, kaum profesional, ibu-ibu, dan lain-lain. Setiap Minggu ada 20-40 tim yang melayani gereja-gereja lokal melalui kesaksian dan Firman Tuhan.

(E) Evangelism, menyampaikan Kabar Baik kepada semua lapisan masyarakat. Hari pertama kami tiba di suatu negara biasanya diawali dengan "Official Opening (Pembukaan Resmi)" yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin tinggi negara seperti presiden, menteri-menteri, para duta besar, dan lainnya. Dan dengan adanya liputan media massa, telah memberi kami kesempatan menyampaikan Kabar Baik secara lebih luas kepada kalangan yang sulit mendapat kesempatan mendengar Injil. Di kapal kami sendiri ada Youth Rally, yaitu tim-tim yang turun ke jalan-jalan, penjara, rumah sakit, rumah yatim piatu, dan sebagainya juga yang pergi ke pedalaman untuk menyampaikan Kabar Baik ini. Setiap akhir kunjungan di suatu negara kami mengadakan International Night yang biasanya diadakan di teater, stadion atau tempat yang bisa memuat banyak orang secara umum dan di sinilah Injil diberitakan.

(T) Training (Pelatihan). Selain para awak kapal, di setiap negara, kami juga memiliki sekitar 50 sukarelawan yang membantu pelayanan kami. Para awak kapal itu adalah hamba-hamba Tuhan yang telah menyerahkan diri mereka untuk melayani dan belajar. Kami pun mengadakan berbagai macam pelatihan, selain dalam bidang rohani, teologia dan juga hal-hal praktis dalam pelayanan seperti sketchboard, khotbah, drama, dan sebagainya, tak lupa juga diajarkan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan, misalnya mereka yang bekerja di dek harus belajar tentang navigasi dan sebagainya. Ada juga kelas training yang diadakan 2-4 jam setiap hari dan study program untuk setiap awak kapal. Kenyataannya, hidup bersama dengan berbagai bangsa dan mengunjungi negara-negara yang kami layani itu sendiri sebenarnya sudah merupakan training lintas budaya.

(A) Aid (Bantuan pelayanan sosial). Kerajaan Allah bukan hanya sekedar kata-kata. Olehnya kami juga melakukan pelayanan sosial baik di bidang medis maupun mengerjakan proyek-proyek seperti memperbaiki rumah-rumah jompo, yatim piatu, dan memberikan bantuan di mana kami bisa.

(L) Literatur. Di setiap kapal kami membawa sekitar 300 ton buku- buku pendidikan dan rohani. Lebih dari 4000 judul kami bawa di Pameran Buku yang rata-rata didatangi 5.000 orang setiap harinya. Lewat acara itu, setiap orang berkesempatan membeli litetarur bermutu dengan harga murah dan paling tidak bisa membawa selembar traktat di tangannya. Kami juga sering menyumbangkan buku-buku itu ke perpustakaan nasional.

Semua kru yang terlibat di pelayanan kami adalah "sukarelawan", para utusan gereja yang didukung dalam doa dan dana oleh gerejanya masing-masing. Di kapal LOGOS II (juga di DOULOS) saja mereka berasal dari sekitar 50 bangsa. Memang, untuk menjalankan kapal kami memerlukan tenaga profesional seperti kapten, dokter, teknisi, dan nahkoda. Tapi selain itu kami juga memerlukan penginjil, guru, dan tenaga-tenaga lain yang mau melakukan apa saja untuk Tuhan seperti pekerja dek, dapur, dan sebagainya. Jadi tidak semua dari kami adalah pelaut. Tuhan memilih dan memakai orang-orang sederhana dan biasa serta yang takut akan Dia.

Pokok Doa
Kapal DOULOS adalah kapal penumpang tertua yang masih aktif dan dibuat pada tahun 1914. Ada 300 lebih hamba-hamba Tuhan yang melayani di sana. Saat ini, izin operasi kapal LOGOS II telah kembali diperpanjang karena penggantinya "LOGOS HOPE" masih belum siap. Doakan 200 lebih hamba-hamba Tuhan di LOGOS II. Doakan agar Tuhan mengirim pekerja-pekerja yang tepat untuk pelayanan kapal ini. Kiranya mereka dijauhkan dari motivasi sekedar untuk "jalan-jalan dan mau melihat dunia" sehingga pelayanan ini tetap diberkati-Nya. Sampai sekarang ada sekitar 30 juta orang pernah mengunjungi kapal- kapal misi ini. Doakan untuk perlindungan dari Tuhan karena hidup di atas air itu adalah hidup yang "rawan".

OM membuka kesempatan bagi anak-anak muda Indonesia untuk melayani. Bagi Anda anak muda yang mau mendedikasikan hidupnya pada Tuhan melalui pelayanan OM Ships, silakan menghubungi: <info@id.om.org>

Sumber kesaksian:
Penulis: Pdt. Bagus (Ketua OM Indonesia)

e-JEMMi 42/2005