Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.07 Vol.14/2011 / Kubur Aku di Sini daripada Menyangkal Kristus

Kubur Aku di Sini daripada Menyangkal Kristus


Pada 25 Mei 2000, desa M, yang terletak di kepulauan Halmahera diserang oleh kelompok "agama lain". Penyerangan tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 WIT. Ketika HS (37 tahun) mendengar suara tembakan dan ledakan, dengan sigap ia segera membawa lari kedua anaknya untuk berlindung di dalam gereja bersama-sama penduduk desa. Laskar "agama lain" dalam jumlah yang sangat besar menyerang dari berbagai arah dengan senjata otomatis dan rakitan. Sementara dengan senjata tajam seadanya, para pria desa -- termasuk suami HS, berusaha menghadang para penyerang. Pria desa tak mampu menghadapi serangan dan terpukul mundur. Serangan tiba-tiba dengan jumlah tidak seimbang itu mengakibatkan puluhan penduduk meninggal dunia, ratusan penduduk mengalami luka-luka, dan pembakaran terhadap rumah penduduk dan gereja pun terjadi.

HS segera membawa lari kedua anaknya, I (15 tahun) dan K (4 tahun) ke hutan atas. Mereka mendaki sekuat tenaga dengan berpegangan pada apa saja yang ada di depan mereka. Sialnya, akar pohon yang dipegang HS putus, dan ia jatuh ke bawah. Ternyata, dari bawah tampak seorang Laskar "agama lain". Kedua anaknya menyaksikan peristiwa yang mencekam itu. Mereka ingin turun dan menolong, tapi mereka takut. Diliputi ketakutan dan kesedihan, I dan K terus mendaki dan mencari pertolongan.

Setelah jatuh menggelundung, HS terhenti di hadapan seorang Laskar "agama lain". Tanpa banyak bicara pria itu menyabetkan senjata tajamnya berkali-kali ke tubuh HS. Punggung bagian bawah dan perut HS robek. Dan juga terdapat sebuah sabetan di dahi bagian atas. Lalu pria itu berkata kepada HS, "Tante, ikut kami menjadi 'agama lain' agar selamat!" HS menjawab, "Biar saya dikubur di sini saja daripada harus mengingkari iman saya". Pria itu makin marah, lalu sekali lagi menyabet tubuh HS dengan senjatanya dan merobek lengan kiri HS. Lalu pria itu pergi meninggalkannya.

Dengan tubuh penuh luka HS berusaha untuk menyelamatkan diri. Ia merangkak dan meraba-raba tanah. Ia menemukan sebuah kubangan binatang yang kering -- karena waktu itu musim panas. Ia masuk ke dalamnya, tepat di bawah rimbunan pohon pisang, lalu ia berdoa, "Tuhan, meski mereka membuatku menjadi begini, kekuatan dan kesembuhan hanya dari pada-Mu". HS masih duduk diam di kubangan itu menunggu pertolongan. Ternyata, yang datang bukan pertolongan, melainkan pria tadi bersama temannya. Rupanya pria itu pergi memanggil temannya untuk menghabisi HS. HS bisa melihat dan mendengar dengan jelas kedua pria itu karena jaraknya sangat dekat.

Tetapi, HS heran mengapa mereka tidak melihat HS. Pria itu berkata kepada temannya, "Tadi saya ada tawanan di sini. Kita bunuh saja!" Karena tidak berhasil menemukan HS, akhirnya mereka menumpuk dedaunan kering lalu membakarnya. Mereka mungkin bermaksud supaya terjadi kebakaran di tempat itu, dan akhirnya akan membakar HS juga. Lalu, kedua pria tersebut pergi meninggalkan tempat itu. HS selamat. Sementara itu, kedua anak HS terus mendaki dan mencari pertolongan. Setelah agak sore, barulah kedua anak HS bertemu dengan orang-orang Kristen di atas gunung.

Di kubangan, HS hanya bisa berdoa sambil menunggu datangnya pertolongan. Sayup-sayup ia mendengar nyanyian lagu rohani. Rupanya orang-orang Kristen yang mempertahankan desa yang menyanyikan lagu itu. HS berteriak sekuat tenaga dan mereka mendengar lalu datang menolongnya. Ia dilarikan ke rumah sakit di T dan di sana ia dirawat selama dua minggu. Setelah selesai masa perawatannya, dokter berkata, "Besok ibu bisa pulang". HS berkata, "Pulang? Pulang ke mana, saya tidak punya rumah lagi". Sebelum mendapatkan tempat tinggal, sebanyak tiga kali, HS harus menumpang di rumah orang lain. Sekarang, ia tinggal di tempat pengungsian di desa W, perjalanan setengah jam dari desanya.

HS mengalami trauma hebat atas peristiwa itu. Trauma dan luka sabetan di sekujur tubuhnya menyebabkan kinerja sarafnya terganggu. Ia sering mengalami kejang-kejang dan ketidakseimbangan fisik yang berhubungan dengan sarafnya. KDP telah memberikan dukungan untuk pengobatan HS. Ia masih harus berjuang mengatasi traumanya yang mendalam. Tentang penganiayaan yang dialaminya, kepada KDP HS berujar, "Alkitab berkata, 'barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain'".

Berdoalah untuk pemulihan kesehatan HS dan orang yang menganiayanya agar Tuhan menjamah hati mereka, sehingga dengan cara-Nya yang ajaib, mereka dapat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Penebus dosa mereka. Berdoa juga untuk korban-korban kerusuhan lainnya, baik yang terjadi di wilayah-wilayah Indonesia maupun di belahan dunia lainnya, agar mereka makin sungguh-sungguh percaya dan menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan, meskipun di dalam penderitaan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November - Desember 2004
Penulis : Tim Kasih dalam Perbuatan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 9