Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereMisi dan Kesehatan / Layanan Kesehatan Gratis untuk Orang Miskin, Memberitakan Injil, di Tengah Ketegangan M -- Kristen

Layanan Kesehatan Gratis untuk Orang Miskin, Memberitakan Injil, di Tengah Ketegangan M -- Kristen


By admin - Posted on 02 February 2016

Para Dokter Menawarkan Layanan Gratis kepada Orang-Orang Miskin, untuk Menyatakan Injil serta Mengendurkan Ketegangan antara Umat M dan Kristen

Sejak 2001, bentrokan antara M dan Kristen di Jos, Nigeria telah melukai dan semakin memisahkan dua kelompok populasi yang berbeda jauh. Namun, hal tersebut tidak menghentikan seorang dokter Kristen dan istrinya untuk membawa sentuhan penyembuhan Yesus kepada mereka yang termiskin dari yang miskin -- baik mereka beragama Kristen atau M.

Chris Isichei percaya kepada Kristus pada tahun terakhirnya di Sekolah Menengah Atas setelah adiknya mengundangnya untuk melihat pemutaran film Kristen tentang anak yang hilang. Saat ia berdiri di luar ruangan di tempat proyektor dan layar didirikan, ia merasa Tuhan berkata di dalam hatinya, "Inilah hidupmu."

Seperti anak yang hilang yang berlari ke ayahnya di lapangan terbuka, Chris bergegas maju saat dilakukan panggilan altar untuk menyatakan imannya. Ia mengatakan sifat malu-malu dari komitmennya -- di hadapan anggota keluarga dan teman-temannya yang lain -- membantunya pada masa-masa kelemahan pribadinya.

Saat ia bertumbuh di dalam Kristus, Tuhan memberikan anugerah akan rahmat dan belas kasih. "Saya mulai memikirkan tentang menjadi seorang dokter dan menggunakan keterampilan saya untuk membantu orang-orang," katanya.

Chris belajar di sekolah kedokteran dan mulai mempraktikkan kedokteran serta mengajar di Jos University Teaching Hospital sebagai ahli patologi.

Dalam kunjungannya pada 1996 ke A. S., ia menyaksikan perbedaan dramatis dalam perawatan kesehatan yang tersedia di AS. Dia memutuskan bahwa ketika kembali ke rumah, ia akan melakukan apa saja untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat di daerahnya, terutama masyarakat miskin.

Seorang teman menawarkan sebagian dari sebuah gedung hotel untuk mendirikan suatu pusat perawatan kecil, sehingga lahirlah klinik Faith Alive. Awalnya klinik tersebut memiliki jam-jam buka tertentu. Klinik itu dikelola oleh Chris dan beberapa dokter relawan, perawat, konselor, dan mahasiswa kedokteran. Mereka hanya memiliki sedikit peralatan atau obat-obatan, tetapi anugerah Allah mengalir dengan deras.

Istri Chris, Mercy, adalah seorang ahli bedah dan mereka saling berkerja sama.

Pada 2006, Gereja Bayside Covenant di Granite Bay, California, menyumbangkan dana untuk membangun sebuah rumah sakit tiga lantai yang modern di Jos. "Ini adalah anugerah dan mukjizat dari Tuhan," kata Chris.

Mereka menawarkan layanan kesehatan gratis di Faith Alive, dan memeriksa 300 hingga 400 pasien yang datang setiap harinya. Sekitar 60 persen dari pasien mereka adalah orang Kristen dan 40 persen lagi merupakan orang M. Hampir seluruh staf medis bekerja secara sukarela.

Menurut World Factbook, Nigeria merupakan negara peringkat kedua yang memiliki jumlah penderita HIV/AIDS terbesar. "Hari ini, 90 persen dari pasien yang kami temui menderita HIV positif," ungkap Chris. Sementara pemerintah mengatakan ada 4 juta orang yang menderita HIV/AIDS, ia percaya bahwa jumlahnya lebih tinggi.

"Itu bersifat politis, karena pemerintah tidak ingin menghambat investasi," katanya. "Setiap hari kami melihat 10 kasus baru."

Chris memuji mantan Presiden Bush yang berencana membuat obat HIV/AIDS tersedia secara bebas di seluruh Afrika. Lebih dari 4.500 orang sedang menerima obat-obatan tersebut melalui Rumah Sakit Faith Alive.

"Ada juga aspek sosial dan spiritual dalam misi kami," kata Chris. Pasien ditawarkan untuk mengikuti pelatihan menjahit, merajut, komputer, mengemudi, dan pelayanan dapur, di antara berbagai keterampilan lainnya.

Sebuah program pemuridan dijalin ke dalam pelatihan keterampilan, dengan sekitar 100 orang yang lulus dari program tersebut pada setiap kuartal. "Anda bukan orang Kristen sejati sampai Anda mulai memuridkan orang lain dan mulai mengembangkan murid-murid Anda sendiri," ungkap Chris.

Faith Alive juga memiliki sebuah sekolah gratis dengan kurikulum Kristen. "Mereka yang tidak mampu bersekolah di tempat lain, akan belajar ke sekolah kami," katanya.

Setiap pagi dan malam hari, staf medis dan para pasien mengambil bagian dalam kebaktian di rumah sakit. Pesan Injil disajikan pada setiap pertemuan, dengan memberi kesempatan pada semua orang untuk menanggapinya. "Setiap kali kami memberitakan Injil pasti ada pertobatan," ia percaya.

"Ketika pasien telah diizinkan pulang, jika mereka tidak memiliki tujuan untuk pergi, mereka dapat tinggal di perumahan transisi kami."

Karena kekerasan di Jos yang dimulai pada 2001, beberapa orang dari negara lain menjadi tidak berani untuk melakukan pekerjaan sukarela atau bahkan mengunjungi rumah sakit. "Kami meyakinkan mereka bahwa kami membutuhkan jasa mereka dan ada langkah-langkah mendasar untuk membendung kekerasan," catatnya.

Gereja-gereja Kristen di Jos memiliki pagar-pagar untuk menangkal serangan bom mobil. Detektor logam memeriksa jemaat yang masuk ke gereja. Tidak ada yang diizinkan membawa dompet atau tas ke dalam kebaktian gereja. Langkah-langkah serupa juga telah diterapkan di rumah sakit.

Kekerasan telah menyebabkan jurang pemisah yang lebih besar antara orang-orang M dan Kristen, tetapi hal itu tidak terjadi di rumah sakit.

"Sebagai orang Kristen, kami menggunakan layanan kesehatan dan sosial untuk menjangkau masyarakat miskin. Yang terpenting, kami membawakan Injil kepada mereka."

Pelajari lebih lanjut tentang misi dari dr. Chris Isichei tersebut di www.faithalivenigeria.org. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : blog.godreports.com
Alamat URL : http://blog.godreports.com/2012/08/doctors-offer-free-services-to-the-poor-proclaim-the-gospel-amid-muslim-christian-tensions/
Judul artikel : Doctors offer free services to the poor, proclaim the Gospel, amid Muslim-Christian tensions
Penulis artikel : Mark Ellis
Tanggal akses : 06 Agustus 2015