Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.20 Vol.13/2010 / Johanna Veenstra

Johanna Veenstra


Hal yang paling mencolok dari peranan wanita bujang dalam pelayanan misi ke luar negeri mungkin adalah profesi mereka [sebagai misionaris] itu sendiri. Hal ini juga berlaku untuk para pria. Namun berbeda dengan misionaris wanita, seorang [misionaris] pria harus unggul. Dia harus mencapai suatu prestasi dalam pelayanan misinya untuk bisa dianggap "pahlawan misionaris", tapi seorang wanita, terutama wanita bujang, bisa menjadi "pahlawan [misionaris] wanita" hanya dengan berani menjadi pelopor misionaris asing. Itulah yang dialami oleh Johanna Veenstra yang merupakan wakil dari begitu banyak wanita bujang yang pergi ke luar negeri setelah pergantian abad [ke-20]. Johanna, yang berulang kali disebut oleh penulis biografi yang mengaguminya (Almarhum Henry Beets, Direktur Mission of the Christian Reformed Church) sebagai "pahlawan wanita", berubah dari seorang stenograf yang tidak dikenal menjadi seorang selebriti lokal (di Grand Rapids, Michigan, dan Paterson, New Jersey), tapi tidak ada yang luar biasa dalam pelayanan misinya. Walaupun demikian, hidupnya menjadi contoh dari pengorbanan dan harapan-harapan yang diletakkan di pundak "pahlawan-pahlawan iman wanita" lainnya.

Johanna lahir di Paterson, New Jersey pada tahun 1894, 2 tahun sebelum ayahnya, William Veenstra, berhenti menjadi tukang kayu dan mempersiapkan diri untuk menjadi pelayan Tuhan. Akibatnya, keluarganya pindah ke Grand Rapids, Michigan. Di sana William Veenstra masuk Theological School (sekarang Calvin College and Seminary) untuk dilatih menjadi pendeta Christian Reformed Church. Saat kelulusan, dia ditahbiskan dan melayani di gereja di desa bagian Barat Michigan. Delapan bulan kemudian dia terkena demam tifus dan meninggal. Kematiannya membuat istri dan keenam anaknya yang masih kecil mengalami kemiskinan sehingga mereka segera kembali ke Paterson dan membuka toko kelontong di sana. Johanna masuk sekolah Kristen sampai dia berumur 12 tahun dan kemudian masuk sekolah bisnis selama 2 tahun. Saat berumur 14 tahun, untuk membantu keuarga, dia menjadi stenograf di Kota New York. Setiap hari, dia naik angkutan umum dari Paterson.

Meski kekayaan dan kesenangan duniawi sempat menghampirinya, dia adalah pemudi yang serius dan waktu luangnya banyak diisi dengan kegiatan gereja di Christian Reformed Church. Suatu kali saat beribadah di sebuah gereja Baptis, dia menjadi percaya kepada Kristus -- suatu hal yang diharapkan ibu dan pendetanya terjadi di gereja asalnya [gereja Reformed].

Setelah itu, dia terlibat dalam pekerjaan misi, dan pada umur 19 tahun dia masuk Union Missionary Training Institute di Kota New York untuk mempersiapkan diri menjadi misionaris kota. Tapi, sebelum dia lulus, dia ditantang akan kebutuhan misi di luar negeri dan langsung melibatkan diri ke Sudan United Mission (SUM), organisasi nondenominasi yang berkomitmen untuk menghentikan penyebaran agama Islam di benua Afrika. Karena kebijakan organisasi, Johanna harus menunggu 3 tahun sampai dia berumur 25 tahun agar bisa melayani di luar negeri, jadi dalam penantiannya itu, dia kembali ke Grand Rapids. Di sana dia bekerja dengan lembaga misi kota dan bersekolah lanjut di Universitas Calvin. Di sana ia menjadi anggota wanita pertama Student Volunteer Board. Sebelum berlayar ke Afrika (dari Inggris) dia kembali ke Kota New York untuk belajar tentang kedokteran dan lulus dari kursus kebidanan.

Tugas Johanna di SUM meliputi pelayanan perintisan di Lupwe, tidak jauh dari Calabar (tempat Mary Slesor melayani dengan penuh iman beberapa tahun sebelumnya). Daerah tempat tinggal bagi misionaris di Lupwe masih baru dan hanya terdiri dari beberapa gubuk tanpa perabot yang belum selesai dibuat dan berlantai tanah. Tapi Johanna cepat beradaptasi dengan kondisi primitif itu. Semut putih dan tikus merupakan gangguan yang umum, tapi dia tidak mengeluh. Harapan yang diletakkan di pundaknya besar dan jika pelayanannya tidak seromantis dan sepuas seperti yang dia impikan, maka dia tidak pernah menampakkannya: "Aku sama sekali tidak pernah menyesal meninggalkan 'kehidupan gemerlap' di Kota New York dan datang ke sudut gelap kebun anggur Tuhan ini. Tidak ada pengorbanan apa-apa [dariku] karena Yesus sendirilah teman sejatiku."

Seperti wanita bujang pada umumnya, pekerjaan Johanna beragam. Salah satu proyeknya adalah mendirikan sekolah asrama untuk melatih para pemuda sebagai penginjil, sekolah yang diikuti 25 orang sekaligus. Meski proyek itu memakan banyak waktu, dia masih memunyai waktu untuk pelayanan medis dan penginjilan. Kadangkala, perjalanannya ke desa-desa tetangga membutuhkan waktu beberapa minggu, dengan kesuksesan dan kegagalan datang silih berganti. Walapun terkadang berhasil, namun orang-orang yang percaya jarang yang secara terang-terangan mengaku di depan umum [bahwa mereka sudah percaya Kristus]. Johanna hanyalah seorang pelopor dalam meletakkan pekerjaan awal pemberitaan Injil, oleh karena itu sekadar mendapatkan pendengar yang mendengarkannya saja sudah merupakan suatu tanda kesuksesan yang besar.

Tapi jika pada kejadian-kejadian "langka" dia boleh melihat "orang-orang menangis saat mereka mendengar kisah kematian Tuhan kita" dan "berdecak kagum dan bertepuk tangan sebagai wujud syukur mereka kepada Allah karena karunia-karunia-Nya," ada saat-saatnya ketika ia juga berkecil hati:

Suatu kali saya berjalan melewati bukit-bukit, berjalan dari satu tempat ke tempat lain selama 9 hari.... Kami berencana untuk menginap pada hari Minggu di desa tertentu tapi kami tidak diterima. Mereka tidak mau menyediakan makanan bagi para pembawa barang dan siapa pun yang bersamaku. Orang-orang yang bersamaku sangat kelaparan. Hujan menghalangi orang-orang datang ke pertemuan. Aku duduk di ambang pintu gubuk dengan payung supaya aku tetap kering, sementara orang-orang berkumpul bersama-sama di dekat perapian di dalam gubuk. Minggu siang, hujan badai datang. Hujan turun dengan derasnya. Gubuk tempat aku tinggal berdinding jerami, dan hujannya masuk ke dalam sampai seluruh gubuk penuh dengan air.... Pagi-pagi benar keesokan harinya kita mulai berjalan lagi melewati bukit.... Sang kepala suku berada di rumah, tapi dia sakit. Kami berhenti di sana semalam dan memutuskan untuk pulang. Betapa bahagianya kami melihat Lupwe.

Kendaraan yang biasa dipakai Johanna dari satu desa ke desa yang lainnya adalah sepeda, tapi alat transpotasi itu sangat lamban dan mengayuh sepeda itu melewati daerah terjal sangatlah melelahkan, terutama mengingat tubuhnya yang agak gemuk. Diam-diam ia iri kepada para misionaris pria yang kadang lewat dengan sepeda motor mereka dengan relatif lebih nyaman. Maka, segera setelah cuti keduanya pada tahun 1972, dia kembali ke Afrika dengan membawa sepeda motor baru. Figurnya yang keibuan membuat banyak orang ingin tahu saat dia mulai perjalanannya ke pedalaman menggunakan sepeda motor melewati jalan yang tidak rata, dan tidak seorang pun meragukan keberaniannya. Meski pada awalnya dia sangat bergairah dan tekun, dia segera menyadari bahwa mengarungi bukit dengan sepeda motor itu tidak cocok untuknya. Kurang dari 65 km menggunakan sepeda motornya, dia tiba-tiba menabrak gundukan tanah dan terlempar dari sepeda motornya. Ia mengalami memar yang parah, baik di tubuhnya maupun semangatnya, ia meminta pertolongan serta kembali mengayuh sepedanya.

Meski Johanna bersedia tinggal di gubuk dan menerima orang Afrika apa adanya, dia tetap bersikap sedemikian rupa sehingga dia masih dianggap sebagai atasan oleh orang-orang yang bekerja bersamanya. Ia menulis, "Seorang misionaris perlu untuk bersikap sebagai atasan. Bukan dalam arti 'kami lebih baik daripada kalian', demi Tuhan! Yang saya maksud lebih dalam arti mengklaim dan menggunakan wewenang. Misionaris harus membuktikan bahwa dirinya adalah 'bos', memerintah dan menuntut kepatuhan." Patrilinealisme seperti itu (atau dalam hal ini matrilinealisme) adalah kebiasaan pada waktu itu, dan Johanna, seperti banyak misionaris lain, adalah produk dari generasinya. Bagaimanapun juga, tingkah laku seperti itu berperan dalam perasaan pahit yang berakhir pada revolusi yang penuh kekerasan di benua itu beberapa dekade kemudian.

Tapi selama tahun 1920-an dan 1930-an, saat Johanna mengabdikan hidupnya untuk Afrika, tampaknya tidak ada rasa benci atau permusuhan. Pelayanan medisnya sangat dihargai dan bersekolah di asramanya dianggap sebagai kesempatan yang istimewa. Oleh karena itu, penduduk Lupwe dan desa-desa tetangganya sangat sedih ketika mengetahui misionaris mereka meninggal pada tahun 1933. Ia masuk rumah sakit misi untuk menjalani operasi yang dianggap merupakan operasi rutin, namun ia tidak pernah pulih.

Keluarga dan teman-temannya di Paterson dan Grand Rapids tidak percaya dan sangat sedih setelah menerima kabar kematiannya. Tapi mereka adalah jemaat Christian Reformed yang takut Tuhan yang tidak pernah mempertanyakan kedaulatan Allah dalam hal itu. "Pahlawan wanita" mereka hanya mendapat promosi ke posisi yang lebih tinggi dan sekarang menikmati kekayaan yang jauh lebih banyak daripada yang sudah ia lepaskan di dunia. Ironisnya, surat darinya yang datang setelah kematiannya, meski berbicara tentang seorang Kristen Afrika yang baru meninggal, tapi judulnya cocok untuk Johanna sendiri, "From a Mudhut to a Mansion on High (Dari Gubuk Jelek ke Rumah Besar di Tempat Tinggi)." (t/Dian)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Penerbit : Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan
Halaman : 246 -- 249

e-JEMMi 20/2010