Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.17 Vol.15/2012 / Cia-Cia, Orang Buton Selatan di Indonesia

Cia-Cia, Orang Buton Selatan di Indonesia


Pendahuluan/Sejarah

Cia-Cia, lebih umum dikenal sebagai orang-orang Buton Selatan, wilayah mereka terletak di bagian Selatan Pulau Buton hingga ke sebelah Tenggara Sulawesi. Mereka adalah tetangga-tetangga dekat suku Wolio (juga dikenal sebagai orang-orang Buton) dan orang-orang Muna. Bahasa mereka, Cia-Cia, adalah anggota dari keluarga bahasa Austronesia dan sangat dekat dengan bahasa Wolio.

Orang-orang Buton atau Wolio, tinggal di daerah yang dahulu dikenal sebagai Kesultanan Buton. Sekitar abad ke-15, para imigran dari Johore mendirikan kerajaan Buton, dengan seorang raja, sebagai penguasa. Raja keenam memeluk agama Islam pada tahun 1540, menjadikan dirinya sultan yang pertama dan kerajaannya menjadi kesultanan. Kesultanan Buton tetap mandiri sampai kematian sultan terakhir pada tahun 1960. Pada saat itu, kesultanan dibubarkan dan akhirnya disatukan dalam negara Indonesia. Bagaimanapun, penyatuan ini berakibat pada hilangnya tradisi orang-orang Buton.

Seperti Apa Kehidupan Mereka?

Suku Cia-Cia menggantungkan mata pencaharian mereka pada pertanian, sebab tanah di pulau-pulau tersebut sangat subur. Hasil bumi utama yang ditanam adalah jagung, beras kering, dan ubi. Banyak orang Cia-Cia juga bermata pencaharian sebagai nelayan atau pembuat kapal. Namun, sejak peluang-peluang ekonomi berkurang, banyak dari mereka yang berlayar ke pulau-pulau yang sangat jauh untuk mendapatkan uang dari usaha komersial atau buruh. Beberapa dari mereka tidak pernah kembali. Saat ini, orang-orang Buton asli hidup di seluruh Indonesia sebelah Timur.

Berlayar dianggap sebagai pekerjaan pria, termasuk pekerjaan perbesian, pembuatan kapal, usaha kuningan dan perak, dan sebagian besar pengusaha ladang. Pembuatan tembikar, pertenunan, penyiapan makan, pekerjaan rumah tangga, dan pengelolaan keuangan keluarga adalah tanggung jawab utama wanita.

Rumah-rumah orang Cia-Cia didirikan di atas tanah dan dibangun dari papan-papan yang kokoh. Atapnya dibuat dari papan-papan kecil, daun-daun kelapa, atau besi, dan setiap rumah hanya memiliki sedikit jendela. Hampir semua desa memiliki pasar yang memperdagangkan kain-kain tenun sutra, katun, dan yang lainnya. Banyak desa juga memiliki toko-toko kecil dan penjual-penjual keliling yang menjual berbagai macam barang dari gerobak mereka. Saat ini, hampir semua pernikahan Cia-Cia adalah monogami (memiliki satu pasangan). Meskipun orang tua terlibat dalam penyelenggaraan pernikahan, orang-orang muda bebas memilih pasangan mereka. Setelah menikah, pasangan tersebut tinggal dengan keluarga mempelai wanita sampai sang suami membangun rumahnya sendiri. Bayi-bayi mereka dibesarkan bersama oleh ayah dan ibu.

Pendidikan sangat dihargai baik oleh anak-anak laki-laki maupun perempuan di masyarakat Buton. Penekanan pada pendidikan ini telah menyebabkan seni kesusastraan mereka tumbuh subur, menghasilkan buku-buku dan puisi-puisi panjang, yang telah menjadi bagian dari budaya orang-orang Buton. Pembelajaran bahasa asing juga didorong, dan banyak orang Buton mengembangkan posisi-posisi mereka di dalam masyarakat.

Apa Keyakinan Mereka?

Islam diterima pertama kali oleh bangsawan Buton. Mereka membagikan pengetahuan keagamaan mereka kepada orang-orang biasa, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang terbatas, agar penduduk desa tetap bergantung pada mereka. Saat ini, hampir semua orang Cia-Cia adalah Muslim, tetapi kepercayaan pada berbagai makhluk-makhluk supranatural masih memiliki peran dalam kehidupan desa. Makhluk-makhluk tersebut, termasuk roh-roh pelindung, roh-roh panen, roh-roh jahat yang menyebabkan penyakit, dan roh-roh yang memberikan tuntunan. Roh-roh nenek moyang dianggap menolong kehidupan sanak saudara mereka atau menyebabkan penyakit, tergantung dari perilaku dari sanak saudara mereka itu. Orang Cia-Cia juga menganggap alam sebagai bentuk fisik dari ciptaan Allah, dan oleh karena itu mereka memujanya.

Aliran Sufi (bentuk mistis dari Islam) juga ada di tengah-tengah suku Cia-Cia. Orang-orang Sufi percaya bahwa meditasi dapat menolong mereka mendapatkan penglihatan tentang Allah. Seorang ahli Sufi adalah seseorang yang percaya bahwa ia telah mencapai pengetahuan nurani yang khusus, langsung dari Allah. Juga, sebagai hasil atas keyakinan Hindu yang masih melekat, banyak orang Cia-Cia yang masih percaya pada konsep reinkarnasi.

Apa Kebutuhan Mereka?

Orang Cia-Cia memiliki sedikit sumber-sumber Kristiani yang ada dalam bahasa mereka sendiri. Doa syafaat dan penginjilan sangat diperlukan untuk menanamkan kebenaran tentang Kristus di antara orang-orang ini dengan kuat.

Pokok-Pokok Doa

  1. Memohon kepada Tuhan untuk memanggil orang-orang Kristen untuk memberitakan Kristus kepada orang Cia-Cia.

  2. Memohon kepada Tuhan untuk melunakkan hati orang-orang Cia-Cia agar mau mendengar Kabar Baik Yesus Kristus.

  3. Berdoa agar Allah menyatakan diri-Nya kepada orang-orang Cia-Cia melalui mimpi dan penglihatan.

  4. Berdoa agar Allah memberikan keberanian kepada orang-orang Cia-Cia yang sudah percaya untuk kembali ke keluarga mereka dan memberitakan kasih Kristus.

  5. Memohon kepada Allah untuk menambahkan tim-tim doa yang akan mulai mempersiapkan fondasi pelayanan kepada suku Cia-Cia melalui doa syafaat.

  6. Memohon kepada Tuhan untuk menghadirkan gereja-gereja Cia-Cia yang berjaya demi kemuliaan nama-Nya!

  7. Berdoa bagi penerjemahan Alkitab yang dimulai dalam bahasa utama kelompok suku Cia-Cia.

  8. Berdoa untuk ketersediaan film Yesus dalam bahasa utama orang-orang Cia-Cia. (t/Anna)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Joshua Project
Alamat URL : http://joshuaproject.net/people-profile.php?rog3=ID&peo3=11384
Judul asli artikel : Cia-Cia, South Butonese of Indonesia
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 24 Januari 2011

e-JEMMi 17/2012