- 03/09/2008 - 08:40
Rencana Agung Penginjilan
Kata Pengantar
Pendahuluan -- Tuhan Yesus dan Rencana-Nya
Masalah dalam Metoda Penginjilan
Tujuan Menentukan Cara
Mencari Prinsip-Prinsip Dasar
Penyelidikan dari Sumber Lain
Rencana Penyelidikan Kita
Kristuslah Teladan yang Sempurna
Tujuan-Nya Jelas
Ia Merencanakan untuk Menang
Penyelidikan yang Tepat
1. Pemilihan
Orang-Orang adalah Metoda-Nya
Orang-Orang yang Ingin Belajar
Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi
Prinsip yang Ditekankan
Tidak Melalaikan Orang Banyak
Orang Banyak Dibangkitkan
Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti
Strategi-Nya
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Satu Demonstrasi Modern
Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak
2. Persekutuan
Ia Tinggal Bersama Mereka
Bersekutu untuk Mengerti
Prinsip yang Ditekankan
Makin Lama Makin Erat
Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak
Cara Ini Memakan Waktu
Prinsip Tindak Lanjut
Gereja sebagai Tempat Persekutuan
Masalah Kita
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
3. Penyediaan
Ia Menghendaki Ketaatan
Jalan Salib
Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri
Hanya Sedikit yang Rela Berkorban
Taat adalah Belajar
Bukti dari Kasih
Yesus Menunjukkan Ketaatan
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
4. Pengurapan
Ia Menyerahkan Diri-Nya Bagi Mereka
Keharusan untuk Memberitakan Injil
Pengudusan-Nya
Meterai Pelayanan-Nya
Pekerjaan Roh Kudus
Penghibur yang Lain
Rahasia Hidup yang Berkemenangan
Kebenaran yang tidak Terlihat oleh Orang-orang yang Belum Percaya
Masalah Pokok Dewasa Ini
5. Percontohan
Ia Memperlihatkan Cara Hidup-Nya
Peranan Doa
Menggunakan Alkitab
Yang Terutama: Memenangkan Jiwa
Mengajar dengan Wajar
Kelas Latihan yang Terus-Menerus Berjalan
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
6. Pengutusan
Yesus Memberi Tugas
Pengutusan Pertama Terhadap Kedua Belas Murid
Memberi Petunjuk-petunjuk Kerja
Mencontoh Metoda-Nya
Kesulitan Pasti akan Dialami
Injil akan Memisahkan
Satu dengan Kristus
Berdua-Dua
Pengutusan Terhadap Ketujuh Puluh Murid
Amanat-amanat Setelah Kebangkitan
Prinsip-Nya Telah Jelas
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
7. Pengawasan
Ia Mengawasi Mereka
Terus-Menerus Ditinjau Kembali dan Diterapkan
Ia Mengajar Murid-Murid-Nya Bersabar Hati
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Tujuan Harus Selalu Jelas
8. Pelipatgandaan
Yesus Mengharapkan Supaya Mereka Melipatgandakan Diri
Kemenangan Melalui Kesaksian
Prinsip yang Ditekankan
Ujian Terhadap Pelayanan-Nya
Amanat Agung
Berdoa bagi Para Penuai
Penerapan Prinsip Ini dalam Hidup Kita
Gereja Kristen Telah Menjadi Buktinya
Jalan Pintas Membawa Kegagalan
Masalah yang Dihadapi Dewasa Ini
Kesimpulan -- Tuhan Yesus dan Rencana Anda
Setiap Kehidupan Mempunyai Rencana
Metoda akan Berbeda
Prioritas Manusia
Mulailah dengan Beberapa Orang Saja
Bersekutu Setiap Hari
Berilah Waktu yang Cukup kepada Mereka
Persekutuan Kelompok
Harapkan Sesuatu dari Mereka
Doronglah Mereka
Bantulah Mereka dalam Memikul Tugas-tugas
Kita Harus Rela Melepaskan Diri
Yang Paling Penting: Pengalaman Rohani
Kemenangan yang Mahal Harganya
Apakah Ini Telah Menjadi Kerinduan Anda
Info: RENCANA AGUNG PENGINJILAN
[Indeks 18332] [Hak Cipta 18331] [Pengantar 18333]
Setiap kehidupan mempunyai tujuan. Kita perlu menyusun rencana yang mantap untuk mencapai tujuan itu. Rencana kerja adalah suatu prinsip yang mengatur terwujudnya tujuan hidup seseorang.
Tujuan yang jelas memungkinkan kita mengetahui cara kerja yang tepat untuk melaksanakan rencana Allah yan sempurna dalam kehidupan kita. Inilah yang harus kita perhatikan dalam menyusun rencana untuk memberitakan injil.
Buku ini bukanlah suatu penafsiran mengenai metoda-metoda penginjilan Tuhan Yesus, melainkan suatu penyelidiksn mengenai prinsip pelayanan-Nya yang mendasari Rencana Agung Penginjilan-Nya. Prinsip-prinsip ini perlu kita ketahui, juga cara menerapkannya dalam pelayanan setiap anak Tuhan untuk melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu memberitakan Injil Keselamatan kepada dunia.
BIBLIOGRAFI : E. Coleman, Robert. 1996. Rencana Agung Penginjilan. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
DESKRIPSI :
Buku Rencana Agung Penginjilan karangan Dr. Coleman ini sangat menolong, khususnya untuk mengembangkan pelayanan kita. Buku ini dapat memberi petunjuk tentang bagaimana melaksanakan suatu program latihan kaum awam yang bermutu. Dengan menyelidiki kehidupan Tuhan Yesus serta prinsip-prinsip pelayanan-Nya terhadap kedua belas murid- Nya, Dr. Coleman telah menyusun buku mengenai prinsip-prinsip serta metode untuk melatih tenaga yang dibutuhkan ini.
- Yayasan Kalam Hidup -
Halaman Judul
RENCANA AGUNG PENGINJILAN
Robert E. Coleman
YAYASAN KALAM HIDUP
Jalan Naripan 67
Bandung 40112
Buku asli: THE MASTER PLAN OF EVANGELISM
Copyright: (c) 1963, 1964 by Robert E. Coleman
Fleming H. Revell Company, Westwood, New Jersey, USA
Hak pengarang dilindungi Undang-Undang
Diterjemahkan oleh: Ir. G.J. Tiendas dan W. Stanley Heath, Ph. D., M. Div.
Diredaksi oleh: Bestiana Simanjutak dan Dra. Lina Maria
KH/VI/22R,3R/19960443
000-010-008
Cetakan ke-6 Juli 1996
Anggota IKAPI, 051-JBA/5 Okt' 93
Indeks: DAFTAR ISI
[Info 18330] [Hak Cipta 18331]
18333 KATA PENGANTAR
18334 PENDAHULUAN -- Tuhan Yesus dan Rencana-Nya
18334 Masalah dalam Metoda Penginjilan
18335 Tujuan Menentukan Cara
18336 Mencari Prinsip-Prinsip Dasar
18337 Penyelidikan dari Sumber Lain
18338 Rencana Penyelidikan Kita
18339 Kristuslah Teladan yang Sempurna
18340 Tujuan-Nya Jelas
18341 Ia Merencanakan untuk Menang
18342 Penyelidikan yang Tepat
18343 1. PEMILIHAN
18343 Orang-orang adalah Metoda-Nya
18344 Orang-orang yang Ingin Belajar
18345 Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi
18346 Prinsip yang Ditekankan
18347 Tidak Melalaikan Orang Banyak
18348 Orang Banyak Dibangkitkan
18349 Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti
18350 Strategi-Nya
18351 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18352 Satu Demonstrasi Modern
18353 Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak
18354 2. PERSEKUTUAN
18354 Ia Tinggal Bersama Mereka
18355 Bersekutu untuk Mengerti
18356 Prinsip yang Ditekankan
18357 Makin Lama Makin Erat
18358 Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak
18359 Cara ini Memakan Waktu
18360 Prinsip Tindak Lanjut
18361 Gereja sebagai Tempat Persekutuan
18362 Masalah Kita
18363 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18364 3. PENYEDIAAN
18364 Ia Menghendaki Ketaatan
18365 Jalan Salib
18366 Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri
18367 Hanya Sedikit yang Rela Berkorban
18368 Taat Adalah Belajar
18369 Bukti dari Kasih
18370 Yesus Menunjukkan Ketaatan
18371 Prinsip yang Ditekankan
18372 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18373 4. PENGURAPAN
18373 Ia menyerahkan Diri-Nya bagi Mereka
18374 Keharusan untuk Memberitakan Injil
18375 Pengudusan-Nya
18376 Meterai Pelayanan-Nya
18377 Pekerjaan Roh Kudus
18378 Penghibur yang Lain
18379 Rahasia Hidup yang Berkemenangan
18380 Kebenaran yang tidak Terlihat oleh Orang-orang yang
Belum Percaya
18381 Masalah Pokok Dewasa Ini
18382 5. PERCONTOHAN
18382 Ia Memperlihatkan Cara Hidup-Nya
18383 Peranan Doa
18384 Menggunakan Alkitab
18385 Yang Terutama: Memenangkan Jiwa
18386 Mengajar dengan Wajar
18387 Kelas Latihan yang Terus-menerus Berjalan
18388 Prinsip yang Ditekankan
18389 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa ini
18390 6. PENGUTUSAN
18390 Yesus memberi Tugas
18391 Pengutusan Pertama terhadap Kedua Belas Murid
18392 Memberi Petunjuk-Petunjuk Kerja
18393 Mencontoh Metoda-Nya
18394 Kesulitan Pasti akan Dialami
18395 Injil akan Memisahkan
18396 Satu dengan Kristus
18397 Berdua-dua
18398 Pengutusan terhadap Ketujuh Puluh Murid
18399 Amanat-amanat setelah Kebangkitan
18400 Prinsip-Nya Telah Jelas
18401 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18402 7. PENGAWASAN
18402 Ia Mengawasi Mereka
18403 Terus-Menerus Ditinjau Kembali dan Diterapkan
18404 Ia Mengajar Murid-Murid-Nya Bersabar Hati
18405 Prinsip yang Ditekankan
18406 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18407 Tujuan Harus Selalu Jelas
18408 8. PELIPATGANDAAN
18408 Yesus Mengharapkan Supaya mereka Melipatgandakan Diri
18409 Kemenangan melalui Kesaksian
18410 Prinsip yang Ditekankan
18411 Ujian terhadap Pelayanan-Nya
18412 Amanat Agung
18413 Berdoa bagi Para Penuai
18414 Penerapan Prinsip Ini dalam Hidup Kita
18415 Gereja Kristen Telah Menjadi Buktinya
18416 Jalan Pintas Membawa Kegagalan
18417 Masalah yang Dihadapi Dewasa Ini
18418 KESIMPULAN -- Tuhan Yesus dan Rencana Anda
18418 Setiap Kehidupan Mempunyai Rencana
18419 Metoda akan Berbeda
18420 Prioritas Manusia
18421 Mulailah dengan Beberapa Orang Saja
18422 Bersekutu Setiap Hari
18423 Berilah Waktu yang Cukup kepada Mereka
18424 Persekutuan Kelompok
18425 Harapkan Sesuatu dari Mereka
18426 Doronglah Mereka
18427 Bantulah Mereka dalam Memikul Tugas-Tugas
18428 Kita Harus Rela Melepaskan Diri
18429 Yang Paling Penting: Pengalaman Rohani
18430 Kemenangan yang Mahal Harganya
18430 Apakah Ini Telah Menjadi Kerinduan Anda
KATA PENGANTAR
[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]
Dalam perkembangan gereja-gereja di Indonesia selalu dirasakan kurangnya tenaga untuk pelayanan rohani. Sering seorang pendeta begitu sibuk dengan pelayanan kebaktian-kebaktian umum, pernikahan, dan penguburan, sehingga ia tidak mempunyai waktu untuk mengunjungi anggota-anggota jemaatnya, apalagi untuk membimbing mereka yang mengalami kesulitan rohani.
Telah lama kami menyadari perlunya mengetengahkan peranan kaum awam dalam tugas pelayanan gereja. Kita tahu bahwa kalau kaum awam dalam tugas pelayanan gereja. Kita tahu bahwa kalau kaum awam dapat diikutsertakan dalam pelayanan rohani, maka taraf kerohanian jemaat akan meningkat, dan gereja-gereja akan berkembang lebih pesat.
Buku Rencana Agung Penginjilan karangan Dr. Coleman ini sangat menolong, khususnya untuk mengembangkan pelayanan kita. Buku ini dapat memberi petunjuk tentang bagaimana melaksanakan suatu program latihan kaum awam yang bermutu. Dengan menyelidiki kehidupan Tuhan Yesus serta prinsip-prinsip pelayanan-Nya terhadap kedua belas murid-Nya, Dr. Coleman telah menyusun buku mengenai prinsip-prinsip serta metoda untuk tenaga yang dibutuhkan ini. Kami harap Anda dapat memahami dan mempraktekkan rencana ini.
Kami bersyukur dapat mencetak ulang buku ini disertai beberapa perbaikan bahasa dan disesuaikan dengan ayat-ayat Alkitab terjemahan baru.
Kami mempersembahkan buku Rencana Agung Penginjilan ini kepada Anda dengan harapan bahwa buku ini akan sangat bermanfaat dalam pelayanan Anda. Penerbit
PENDAHULUAN
[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]
Tuhan Yesus dan Rencananya "Akulah jalan" (
Masalah dalam Metoda Penginjilan
Setiap usaha penginjilan harus diuji dengan dua ukuran: Pertama, apakah usaha itu mempunyai tujuan tertentu; kedua, apakah usaha ini mempunyai arti bagi dunia sekarang ini. Kedua hal ini saling berhubungan, dan keserasian hubungan keduanya akan menentukan makna segala kegiatan kita. Kecakapan ataupun kesibukan dalam mengerjakan sesuatu belum berarti bahwa kita telah menghasilkan sesuatu. Karena itu, dalam setiap kegiatan, kita harus selalu bertanya, "apakah usaha ini sangat penting?", "Apakah usaha ini akan mencapai tujuannya?"
Demikian pula, semua usaha penginjilan di gereja-gereja harus terus-menerus diuji: "Apakah segala usaha kita telah dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi amanat Yesus?", "Sebagai hasil usaha ini, apakah kita melihat kader pekerja-pekerja rohani yang semakin bertambah jumlahnya untuk memberitakan Injil?" Memang kita sibuk dengan berbagai program penginjilan, tetapi apakah usaha kita sedang mencapai tujuan yang benar?
Tujuan Menentukan Cara
Apabila kita menggunakan kedua ukuran itu -- tujuan dan arti -- kita perlu menyusun rencana kerja yang mantap untuk dilaksanakan hari demi hari dalam usaha mencapai tujuan jangka panjang. Jika kita ingin mengalami sukacita dalam melaksanakan rencana kerja yang sudah jelas ada manfaatnya itu, kita harus tahu cara bertindak yang sesuai dengan rencana Allah yang menyeluruh bagi kehidupan kita itu. Inilah yang harus kita perhatikan dalam menyusun rencana ataupun cara untuk memberitakan Injil. Seperti sebuah gedung yang dibangun menurut rencana penggunaannya, demikian pula halnya dengan sesuatu yang kita kerjakan harus mempunyai tujuan. Kalau tidak, segala usaha kita sia-sia dan kacau.
Mencari Prinsip-Prinsip Dasar
Itulah tujuan penulisan buku itu. Untuk menyesuaikan usaha-usaha kita dengan ukuran yang benar, terlebih dahulu kita harus melihat prinsip-prinsip dasar yang telah mempengaruhi metoda Tuhan Yesus. Karena itu, buku ini bukanlah suatu penafsiran mengenai metoda-metoda penginjilan khusus yang dipergunakan oleh Tuhan Yesus, baik secara pribadi maupun massal, melainkan suatu penyelidikan mengenai prinsip-prinsip dasar pelayanan-Nya, yaitu prinsip-prinsip yang menentukan metoda-Nya. Buku ini dapatlah disebutkan penyelidikan mengenai strategi penginjilan-Nya ditinjau dari cara Yesus hidup dan melayani selama Ia ada di dunia.
Penyelidikan dari Sumber Lain
Buku-buku dalam bidang ini jarang ditemukan. Memang hampir setiap karangan tentang kehidupan Tuhan Yesus menjelaskan juga prinsip-prinsip dasar penginjilan-Nya. Buku-buku penyelidikan mengenai metoda-metoda pengajaran Tuhan Yesus dan buku-buku yang menceritakan kehidupan serta pekerjaan-Nya, biasanya mengandung prinsip-prinsip dasar ini juga. Sebuah buku yang paling berfaedah bagi kita ialah "The Training of the Twelve (Latihan terhadap Kedua Belas Murid) oleh A.B. Bruce. Buku ini pertama-tama diterbitkan tahun 1871, dan diredaksi kembali tahun 1899, mengisahkan pertumbuhan murid-murid di bawah asuhan Tuhan Yesus. Sebuah buku yang lain, yaitu Pastor Pastorum (Pelayanan Pendeta) oleh Henry Lathan, ditulis tahun 1890, mengupas cara Tuhan Yesus melatih orang-orang. Kemudian terbit beberapa buku kecil yang menguraikan pekerjaan Yesus.
Baru-baru ini ditambah beberapa buku lagi mengenai kehidupan dan pelayanan gereja, khususnya, mengenai pertumbuhan kelompok-kelompok kecil dan kesaksian kaum awam. Walaupun pengarang buku-buku itu kurang menekankan strategi penginjilan, namun kita harus berterima kasih atas penjelasan mereka mengenai prinsip-prinsip dasar dari pelayanan dan pekerjaan Tuhan kita.
Bagaimanapun juga prinsip-prinsip dasar penginjilan yang dipergunakan Tuhan Yesus ini merupakan pusat perhatian kita, karena itu kita memerlukan penyelidikan dan penjelasan lebih lanjut, khususnya dari Alkitab.
Rencana Penyelidikan Kita
Untuk dapat memahami dengan baik rencana kerja Tuhan Yesus, kita harus mempelajari Kitab Perjanjian Baru, khususnya keempat Kitab Injil. Hanya kitab-kitab inilah sebenarnya yang memberikan kesaksian yang benar mengenai Yesus dan pekerjaanNya (
Keempat Kitab Injil itu pertama-tama ditulis untuk menunjukkan kepada kita bahwa Yesuslah Mesias. Anak Allah, dan supaya kita oleh iman memperoleh hidup dalam nama-Nya (
Rencana penyelidikan ini juga dimaksudkan untuk mengikuti langkah-langkah yang dipergunakan Tuhan Yesus seperti yang ditunjukkan dalam keempat Injil -- meneliti riwayat hidup-Nya dari berbagai sudut untuk memahami cara pelayanan-Nya, dan menganalisa rencana pelayanan-Nya secara umum untuk menanggapi makna yang lebih luas dari metoda-metoda yang dipakai-Nya dalam pelayanan. Memang tugas ini tidak mudah dan masih banyak yang harus dipelajari. Kesempurnaan Tuhan yang mulia tidak dapat dibatasi oleh pengertian manusia. Makin lama kita memandang Dia, makin jelas kita melihat kebenaran itu.
Kristuslah Teladan yang Sempurna
Tidak ada penyelidikan yang lebih menguntungkan selain penyelidikan mengenai kehidupan Kristen. Walaupun kita mendapat memahami seluruhnya, kita tahu bahwa Yesuslah Guru yang sempurna. Ia tidak pernah berbuat salah. Sebagai manusia, Ia sering dicobai seperti kita, tetapi Ia tidak pernah berbuat dosa. Ia tidak dibatasi oleh keadaan tubuh manusiawi yang diterima-Nya demi kita. Sekalipun Ia tidak mempergunakan sifat keilahian-Nya, namun pikiran-Nya jernih. Ia senantiasa tahu apa yang benar, dan sebagai Manusia yang sempurna, Ia hidup sebagai Allah yang hidup di antara manusia.
Tujuan-Nya Jelas
Sejak semula, tujuan hidup-Nya di dunia ialah untuk menyatakan rencana Allah. Inilah yang senantiasa dipikirkan-Nya. Ia bertujuan untuk menyelamatkan bagi-Nya suatu bangsa, dan membangun suatu jemaat rohani yang tidak akan binasa. Ia menantikan Kerajaan-Nya yang akan datang dalam kemuliaan dan kuasa. Ia menciptakan dunia ini, tetapi Ia bertujuan bukan untuk menjadikan dunia ini tempat tinggal-Nya yang kekal. Rumah-Nya adalah surga. Di sana Ia menyediakan tempat bagi umat-Nya.
Tidak ada seorang pun yang luput dari tujuan-Nya yang penuh kasih karunia. Ia mengasihi semua orang. Jangan kita salah paham tentang kasih-Nya yang besar itu. Ia adalah "Juruselamat dunia" (
Ia Merencanakan untuk Menang
Tujuan hidup Yesus hanya satu, yaitu menebus dunia ini bagi Allah. Tujuan inilah yang menjadi dasar dari setiap kata dan perbuatan-Nya. Tujuan inilah yang mengatur langkah-langkah-Nya. Perhatikanlah hal ini. Tidak pernah sedikit pun Yesus menyimpang dari tujuan-Nya.
Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk meneliti cara kerja Yesus yang merupakan cara Allah untuk memenangkan dunia ini. Ia yakin akan masa yang akan datang, sebab Ia hidup sesuai dengan rencana itu. Tidak ada sesuatu kebetulan yang terjadi dalam hidup-Nya. Ia tidak pernah membuang tenaga dan kata-kata-Nya dengan percuma. Ia hanya melakukan pekerjaan Allah. Ia hidup, mati, dan bangkit kembali sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh Allah. Seperti seorang jendral yang merencanakan siasat peperangan, demikian pula Anak Allah merencanakan untuk menang. Dengan mempertimbangkan setiap kemungkinan dan keadaan yang berubah-ubah dalam pengalaman manusia, Ia telah membuat suatu rencana yang tidak mungkin gagal.
Penyelidikan yang Tepat
Banyak rahasia terungkap dengan menyelidiki rencana Yesus. Seorang murid Kristus akan memperoleh kesimpulan-kesimpulan yang dalam, dan mungkin pula beraneka-ragam dengan merenungkan pokok ini sungguh-sungguh, walaupun kesimpulan-kesimpulan ini datangnya lambat dan terasa sukar. Mula-mula tampaknya Yesus tidak mempunyai rencana apa pun. Dengan pendekatan lain, mungkin tampak bahwa Yesus menggunakan suatu teknik tertentu, tetapi pola dasar teknik inipun tetap tersembunyi. Cara kerja-Nya demikian sederhana dan tenang, sehingga tidak akan mungkin tampak oleh petugas gereja yang selalu tergesa-gesa. Akan tetapi, apabila murid-murid menyelidiki metoda ini dengan pikiran yang jernih dan terbuka, mereka pasti merasa heran akan kesederhanaan rencan-Nya yang tidak mereka sadari sebelumnya. Namun, bila rencana-Nya ini dipikirkan, tampak bahwa prinsip dasar dari rencana-rencana kerja-Nya berbeda sekali dengan prinsip dasar dari rencana gereja masa kini, dan jelas bahwa implikasi-implikasi-Nya benar-benar revolusioner.
Pasal-pasal yang berikut menerangkan delapan prinsip dasar dari rencana Yesus. Sebenarnya, semua langkah itu tidak selalu harus dilakukan secara beruntun. Misalnya, pasal terakhir tidak selalu harus dilakukan setelah pasal-pasal sebelumnya. Demikian pula, kita tidak selalu harus mulai dari pasal pertama. Garis besar ini dimaksudkan untuk memberikan susunan mengenai rencana-Nya. Dengan mempelajari pasal-pasal selanjutnya, maka prinsip-prinsip atau langkah- langkah itu akan makin jelas.
[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]
"Ia...memilih dari antara mereka dua belas orang" (
Orang-Orang Adalah Metoda-Nya
Pelayanan Tuhan Yesus dimulai pada saat Ia memanggil beberapa orang untuk mengikut Dia. Hal ini langsung menyatakan strategi penginjilan-Nya. Perhatian-Nya tidak ditujukan kepada cara-cara untuk mendekati orang banyak, tetapi mendekati beberapa orang yang kemudian akan diikuti oleh orang banyak. Tampaknya cukup mengherankan bahwa Yesus mulai mengumpulkan orang-orang ini sebelum Ia berkeliling memberitakan Injil ataupun mengadakan suatu kampanye penginjilan, atau berkhotbah di muka umum. Pribadi-pribadi itulah metoda-Nya untuk memenangkan dunia ini bagi Allah.
Tujuan utama dari rencana Tuhan Yesus ialah untuk memilih orang-orang yang dapat memberi kesaksian tentang hidup-Nya, dan melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Ia kembali kepada Bapa. Yohanes dan Andreas adalah orang-orang yang pertama yang dipanggil oleh Tuhan Yesus sewaktu Ia meninggalkan Betania, di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes Pembaptis membaptiskan orang (
Tampaknya usaha-usaha pertama untuk memenangkan jiwa ini hanya mempunyai sedikit pengaruh bagi kehidupan rohani orang-orang pada masa itu. Walaupun demikian, Tuhan Yesus tidak bertidak dengan tergesa-tergesa. Ia tahu bahwa usaha ini memerlukan waktu. Kemudian ternyata bahwa beberapa orang yang pertama-tama bertobat kepada Tuhan inilah yang menjadi pemimpin-pemimpin gereja Tuhan, yang pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil. Dipandang dari segi tujuan-Nya, pengaruh orang-orang yang pertama itu secara khusus dapat dirasakan untuk selama-lamanya.
-----
1. Salah satu syarat bagi seorang rasul seperti yang diterangkan dalam
Orang-orang yang Ingin Belajar
Yang mengesankan mengenai orang-orang ini ialah bahwa tampaknya mereka bukanlah orang-orang yang sangat menonjol. Mereka bukan pemimpin sinagoga, bukan pula imam. Mereka adalah buruh-buruh biasa. Mungkin juga mereka bekerja tanpa melalui latihan atau pendidikan secara khusus sebelumnya. Memang ada dari antara mereka berasal dari keluarga yang cukup berada, seperti Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus itu. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat digolongkan kaya. Mereka tidak mempunyai gelar dalam ilmu sastra ataupun filsafat. Seperti Guru mereka, mereka hanya tamatan sinagoga. Mereka kebanyakan dibesarkan dalam lingkungan orang miskin di daerah Galilea. Dari kedua belas murid itu, hanya satu orang saja yang tampaknya lebih terkemuka, datang dari daerah Yudea, yaitu Yudas Iskarioat. Dinilai dari tingkat pendidikan, baik pada waktu itu maupun sekarang, mereka seharusnya dianggap sebagai kelompok orang-orang yang agak kasar. Sungguh mengherankan bahwa Tuhan Yesus dapat memakai mereka. Mereka adalah orang-orang yang mudah dipengaruhi dan mudah tersinggung. Singkatnya, mereka yang dipilih oleh Tuhan menjadi pengikut-pengikut-Nya adalah orang-orang dari berbagai tingkatan dan golongan masyarakat pada waktu itu. Orang-orang pada waktu itu sedikit pun tidak mengira bahwa kelompok inilah yang kelak memenangkan dunia bagi Kristus.
Meskipun demikian, Yesus melihat di dalam orang-orang yang sederhana ini suatu sumber kepemimpinan bagi kerajaan-Nya. Mereka sebenarnya adalah orang "orang biasa yang tidak terpelajar" menurut ukuran dunia (
Yang paling menonjol dalam diri mereka adalah kerinduan mereka terhadap Allah dan terhadap hal-hal yang nyata dalam kehidupan-Nya. Kedangkalan kehidupan agama di sekeliling mereka tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bertemu dengan Mesias (
Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi
Dalam hal ini, kita perlu mengamati kebenaran praktis dalam cara Yesus bekerja. Inilah kebijaksanaan dari metoda-Nya, dan dalam mempertimbangkan hal ini, kita kembali lagi kepada prinsip pokok mengenai pemusatan perhatian kepada mereka yang hendak dipakai-Nya. Dunia dapat diubah hanya apabila orang-orang yang ada di dalamnya telah diubah lebih dahulu. Orang-orang itu hanya dapat diubah apabila mereka telah dibentuk menjadi ciptaan baru dalam tangan Tuhan Yesus. Jadi, jelaslah bahwa kita bukan hanya perlu memilih beberapa kaum awam saja, tetapi juga membatasi jumlah orang dalam kelompok itu supaya tidak terlalu banyak, sehingga kita dapat bekerja dengan mereka dan berhasil baik.
Karena itu, ketika jumlah pengikut Yesus bertambah, pada pertengahan tahun kedua dari pelayanan-Nya Ia merasa perlu memperkecil kelompok pilihan-Nya ini menjadi satu kelompok inti, yang mudah dipimpin-Nya. Itulah sebabnya Yesus "memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul" (
Apabila Tuhan Yesus menjatuhkan pilihan-Nya hanya kepada kedua belas murid itu saja, bukan berarti bahwa Ia menolak orang-orang lain yang ingin mengikut Dia. Seperti kita ketahui, banyak lagi yang lain yang mengikut Dia dan beberapa dari mereka menjadi mereka pekerja- pekerja yang baik di dalam gereja, misalnya: ketujuh puluh murid-Nya (
Prinsip yang sama ini masih terus dipakai di kalangan rasul-rasul yang terpilih itu. Petrus, Yakobus, dan Yohanes tampaknya mempunyai hubungan yang lebih istimewa dengan Tuhan daripada sembilan rasul lainnya. Hanya ketiga orang yang mempunyai hak istimewa inilah yang diminta masuk ke dalam kamar anak Yairus yang sakit (
-----
2. Berbagai pendapat telah dikemukakan tentang alasan mengapa kedua belas murid diberi gelar rasul, karena sebenarnya Yesus dapat memilih lebih dari jumlah itu, ataupun memilih jumlah yang lebih kecil. Tetapi mungkin teori yang paling dapat diterima ialah bahwa jumlah itu mengumpamakan hubungan secara rohani antara persekutuan rasuli dan Kerajaan Allah di bawah Mesias. Sebagaimana Edwin Schell mengatakan, "Dua belas adalah jumlah suku bangsa Israel secara rohani. Baik ditinjau dari adanya kedua belas kepala keluarga, kedua belas suku ataupun dari kedua belas dasar dari kedua belas pintu gerbang surgawi Yerusalem Baru, angka dua belas selalu melambangkan berdiamnya Allah di antara manusia - pembauran dunia dalam ketuhanan, "Edwin A. Schell, Traits of The Twelve, Cincinnati, Jenning and Graham, 1911, hal. 26. Memang ada kemungkinan bahwa para rasul melihat jumlah itu secara harfiah yang berarti angka dua belas, dan membangun di atasnya harapan-harapan yang muluk-muluk tentang pemulihan kembali bangsa Israel dalam arti politis. Mereka pasti sadar akan kedudukan masing-masing di dalam persekutuan yang berjumlah dua belas orang itu, dan berhati-hati untuk mengisi kekosongan yang ditimbulkan oleh perginya Yudas (
Prinsip yang Ditekankan
Semuanya ini menjalaskan bagaimana cara Yesus dengan seksama membagi waktu-Nya kepada orang-orang yang hendak dilatih-Nya. Hal ini juga menunjukkan satu prinsip pokok mengenai cara mengajar. Lebih kecil jumlah orang-orang yang diajar, lebih besar kemungkinan untuk memberikan pengajaran yang berhasil baik.3
Yesus mencurahkan sebagian besar dari sisa hidup-Nya di bumi kepada murid-murid pilihan ini. Untuk mempersiapkan murid-murid-Nya, Ia mempertaruhkan seluruh kekuatan-Nya bagi mereka. Dunia boleh saja bersikap acuh tak acuh terhadap Dia, namun sikap ini tidak dapat menggagalkan rencana-Nya. Ia bahkan tidak merasa khawatir sama sekali pada waktu pengikut-pengikut-Nya mengundurkan diri dan mereka tidak setia lagi pada waktu mereka diperhadapkan kepada arti yang sebenarnya dari Kerajaan Allah (
-----
3. Prinsip pemusatan yang dipakai dalam pelayanan Yesus, bukanlah prinsip baru bagi-Nya, sebab hal itu merupakan cara Allah Bapa sejak bumi diciptakan. Perjanjian Lama menunjukkan bagaimana Allah memilih bangsa Israel yang berjumlah sedikit untuk menyatakan maksud-Nya bagi seluruh umat manusia. Bahkan di dalam bangsa yang sedikit jumlahnya ini, biasanya kepemimpinan dipusatkan di dalam tali kekeluargaan, khususnya keturunan Daud dari suku Yehuda.
4. Doa Tuhan Yesus sebagai Imam Besar dalam Injil Yohanes pasal 17 mempunyai arti yang khusus di dalam hubungan ini. Dari 26 ayat tentang doa itu, ada 14 ayat yang merupakan doa Tuhan Yesus bagi kedua belas murid-Nya (
Tidak Melalaikan Orang Banyak
Berdasarkan apa yang telah ditekankan di sini, salah sekali kalau kita menganggap bahwa Tuhan Yesus melalaikan orang banyak yang mengikut Dia. Ini tidak benar. Yesus melakukan segala sesuatu yang siapapun dapat diminta untuk melakukannya - untuk menghubungi orang banyak. Hal-hal yang pertama dilakukan-Nya ketika Ia memulai pelayanan-Nya ialah memihak dengan berani kepada gerekan kebangunan rohani pada zaman-Nya dengan memberi diri-Nya dibaptis oleh Yohanes (
Orang Banyak Dibangkitkan
Sesungguhnya, kecakapan Tuhan Yesus untuk menarik perhatian orang banyak telah menimbulkan masalah yang serius dalam pelayanan-Nya. Ia telah begitu dalam menyatakan rahmat dan kuasa-Nya kepada mereka, sehingga mereka pernah mencoba "membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja" (
Seandainya Yesus memberikan sedikit saja semangat kepada orang banyak untuk membuat diri-Nya terkenal, tentu Ia dapat dengan mudah menguasai seluruh kerajaan manusia. Percobaan seperti itulah yang diberikan oleh Iblis kepada Tuhan Yesus di padang gurun waktu Ia dibujuk untuk mengubah batu menjadi roti dan menjatuhkan diri-Nya ke bawah dari bubungan Bait Allah agar Allah menantang Dia di atas tangan-Nya (
Tetapi Tuhan Yesus tidak bermaksud hanya untuk menyenangkan hati rakyat jelata, melainkan sebaliknya. Berung kali dengan susah payah Ia menghadiri dukungan orang banyak yang digerakkan oleh kuasa mukjizat-Nya (misalnya
Cara kerja-Nya yang demikian sering tidak disukai oleh para pengikut-Nya yang tidak mengerti strategi-Nya. Bahkan saudara-saudara-Nya yang perempuan dan laki-laki sendiri pun yang pada waktu itu belum percaya kepada-Nya, menganjurkan Dia agar melepaskan rencana-Nya ini dan menampakkan diri-Nya kepada dunia dengan terang-terangan, tetapi Ia menolak nasihat mereka (
-----
5. Contoh-contoh mengenai hal ini ialah penyembuhan seorang yang sakit kusta (
6. Contoh-contoh mengenai hal ini terdapat dalam
Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti
Mengingat strategi-Nya ini, maka tidak heran kalau hanya sedikit yang benar-benar bertobat pada masa pelayanan Kristus. Tentu saja, banyak yang percaya kepada-Nya dalam pengertian bahwa pelayanan-Nya dapat diterima, tetapi hanya sedikit yang mengerti arti Injil. Mungkin jumlah seluruh pengikut-Nya yang setia pada akhir pelayanan-Nya di dunia ini hanya kira-kira 500 orang, kepada siapa Yesus menampakkan diri-Nya setelah Ia bangkit (
Strategi-Nya
Mengapa Yesus sengaja memusatkan perhatian-Nya hanya kepada beberapa orang saja? Bukankah Ia datang untuk menyelamatkan seluruh dunia ini? Dengan khotbah Yohanes Pembaptis yang membakar semangat, yang terus berkumandang di telinga orang banyak, Sang Guru dengan mudah dapat mengumpulkan ribuan orang untuk segera mengikut Dia jika ia menghendakinya. Akan tetapi, mengapa Ia tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengumpulkan sepasukan besar petobat untuk merebut dunia ini dengan suatu "serangan" yang mendadak? Tentu Anak Allah itu dapat memakai suatu rencana untuk mengumpulkan orang banyak. Bukankah mengecewakan bila seorang yang memiliki segala kuasa di dunia ini dalam tangan-Nya, yang hidup dan kemudian mati untuk menyelamatkan dunia ini, namun akhirnya hanya mempunyai beberapa murid saja sebagai hasil pekerja-Nya?
Jawaban untuk pertanyaan ini segera menjelaskan maksud yang sebenarnya dari rencana penginjilan-Nya. Yesus bukan bermaksud untuk mempengaruhi orang banyak, melainkan untuk memproklamirkan kedatangan suatu kerajaan. Ini berarti bahwa Ia membutuhkan orang-orang yang dapat memimpin orang banyak. Apa gunanya tujuan-Nya yang terakhir untuk menggerakkan orang banyak supaya mengikut Dia, jika kemudian orang-orang ini tidak diperhatikan ataupun tidak diberi pengajaran dalam jalan itu? Telah dibuktikan dalam beberapa peristiwa bahwa orang banyak itu dapat dengan mudah beralih menyembah berhala-hala jika mereka tidak diperhatikan dengan baik. Orang banyak itu bagaikan domba-domba yang tidak mempunyai gembala (
Yesus seorang yang realisitis. Ia sepenuhnya menyadari kelemahan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, serta adanya kuasa Iblis di dalam dunia ini yang selalu menyerang manusia. Dengan kesadaran inilah Ia mendasarkan pemberitaan-Nya pada satu rencana yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang yang tadinya berselisih paham dan merasa bingung akhirnya bersedia mengikut Yesus. Namun demikian tidak mungkin Ia dapat memberikan bimbingan pribadi yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Jalan satu-satunya ialah memenuhi pribadi-pribadi itu dengan hidupnya sehingga mereka dapat melaksanakan amanat-Nya. Oleh sebab itu, Ia memusatkan perhatian-Nya kepada beberapa orang yang akan menjadi pemimpin-pemimpin yang pertama. Meskipun Ia berusaha sedapat mungkin untuk membantu mereka semua, Ia harus memusatkan perhatian-Nya pertama-tama kepada beberapa orang penting ("kunci"), supaya pada akhirnya semua orang dapat diselamatkan. Inilah kehebatan dari strategi-Nya.
-----
7. Orang Farisi dan orang Saduki adalah pemimpin-pemimpin utama bangsa Israel, di samping kekuasaan pemerintahan Romawi, dan seluruh kehidupan agama, sosial, dan pendidikan, sampai batas tertentu, kehidupan politik dari kira- kira 2.000.000 orang penduduk di Palestina pada waktu itu telah dibentuk oleh tata cara mereka. Walaupun demikian, jumlah orang yang termasuk kelompok orang Farisi, kebanyakan terdiri dari guru-guru dan orang-orang golongan atas yang menurut perkiraan Josephus (Ant, XVII, 2,4) mencapai jumlah tidak lebih dari 6.000 orang. Sedangkan jumlah seluruh orang Saduki yang kebanyakan terdiri dari imam-imam kepala dan keluarga Sanhedrin di Yerusalem, mungkin tidak lebih dari beberapa ratus orang saja. Lihat Anthony C. Deane, The World Christ Knew, Guild Books, 1944, hal. 57, 60; Edersheim, op. cit., I hal. 311. Apabila dianggap bahwa jumlah kelompok kecil yang istimewa ini tidak lebih dari dari 7.000 orang (kira-kira sepertiga dari satu persen penduduk Israel), tidaklah sukar untuk memahami mengapa Yesus begitu banyak membicarakan tentang mereka, sementara itu juga mengajar murid-murid-Nya tentang kebutuhan yang mendesak bagi kepemimpinan yang lebih baik.
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Yang mengherankan ialah bahwa prinsip-Nya ini kurang dipakai dalam kerja pemberitaan Injil dewasa ini. Sebagian besar penginjilan gerejani dimulai dengan orang banyak dengan dugaan bahwa gereja sanggup melayani mereka selanjutnya. Hasilnya ialah kita terlalu mementingkan statistik petobat-petobat baru, calon-calon yang minta dibaptis, dan berusaha menambah anggota-anggota gereja. Dengan demikian, perhatian untuk meneguhkan jiwa-jiwa ini dalam kasih dan kuasa Allah sangat sedikit.
Sesungguhnya jika cara Yesus bekerja pada segi ini benar-benar berarti, maka hal ini mengajarkan bahwa kewajiban utama seorang pendeta atau perhatian utama seorang penginjil ialah meletakkan dasar penginjilan yang efektif dan terus-menerus kepada orang banyak. Tentu ini akan memerlukan lebih banyak pemusatan waktu dan bakat-bakat ke atas beberapa orang di dalam gereja tanpa melalaikan kepentingan orang banyak. Ini berarti akan berarti melatih pemimpin "bagi pekerjaan pelayanan" bersama pendetanya (
Mungkin ada orang yang menentang prinsip ini, karena seolah-olah kita lebih menghargai segolongan orang saja di dalam gereja. Meskipun demikian, itulah Cara yang Tuhan Yesus pakai dan cara ini perlu dipakai jika pemimpin-pemimpin yang mantap hendak dilatih. Apabila hal ini dipraktekkan dengan kasih yang murni demi kebutuhan orang banyak, keberatan-keberatan dapat diatasi.
Sesungguhnya, tujuan pokok harus jelas bagi pekerja-pekerja yang bersangkutan. Orang-orang yang hendak dilatih harus dipilih dengan teliti dan dengan bijaksana, karena segala seuatu yang dikerjakan melalui beberapa orang ini adalah untuk keselamatan orang banyak.
Satu Demonstrasi Modern
Prinsip pemilihan dan pemusatan perhatian kepada beberapa orang telah ditemukan di seluruh dunia ini dan pasti akan membawa hasil, siapa yang mempraktekkannya, baik gereja mau menerimanya atau tidak. Yang penting kita ketahui adalah bahwa kaum komunis, yang selalu menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berhasil, telah mengambil alih metoda Tuhan ini. Dengan memakai cara ini untuk tujuan yang bengkok, sampai akhir abad kesembilan belas mereka telah berkembang dari satu satu kelompok kecil orang-orang fanatik menjadi satu komplotan besar yang memperbudak hampir setengah penduduk dunia ini. Sekarang mereka telah membuktikan apa yang telah diperlihatkan oleh Yesus dengan jelas pada zaman-Nya, bahwa orang banyak dapat dimenangkan dengan mudah jika mereka diberi pemimpin-pemimpin untuk diikuti. Bukankah penyebaran filsafat kaum komunis yang menyesatkan ini merupakan satu tempelakan terhadap gereja? Bukan saja terhadap penyerahan kita yang kurang untuk memberitakan Injil, tetapi juga terhadap cara kerja kita yang tidak sungguh-sungguh.
Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak
Sudah waktunya menghadapi situasi ini dengan realistis. Saat kita bekerja dengan tidak sungguh-sungguh telah lewat. Program penginjilan gereja mengalami hambatan hampir di setiap tempat. Yang lebih buruk lagi, Injil yang diberitakan secara besar-besaran ke daerah-daerah baru, sebagian besar telah lumpuh. Di banyak tempat, gereja yang lemah bahkan tidak dapat berkembang mengikuti pertambahan penduduk. Kekuatan Iblis dalam dunia ini selalu semakin buas dan semakin terang-terangan menyerang perkembangan gereja. Sungguh mengherankan bahwa dimasa sekarang di mana fasilitas komunikasi dan transportasi yang cepat dapat dimiliki oleh gereja, namun kita orang-orang Kristen kurang berhasil memenangkan dunia ini bagi Allah dibandingkan dengan kegiatan orang-orang Kristen pada masa sebelum fasilitas modern itu diciptakan.
Dalam menilai keadaan yang menyedihkan pada masa ini, kita tidak perlu sekaligus membalikkan arah tujuan kita. Mungkin inilah masalah kita di masa lalu. Dulu kita berpendapat, dengan mengadakan kebangunan rohani kita dapat mencapai orang banyak dengan firman Allah yang menyelamatkan. Tetapi apa yang tidak kita sadari dalam kegagalan kita ialah bahwa masalah yang sebenarnya bukanlah terletak pada orang banyak; bukan pada apa yang mereka percayai; bagaimana mereka diperlakukan; atau, apakah mereka diberi makanan yang menyehatkan atau tidak. Semua yang dianggap begitu penting itu akhirnya dapat dikerjakan oleh orang-orang lain. Itulah sebabnya, sebelum kita mengutamakan orang banyak, kita harus memilih orang-orang yag kelak diikuti oleh orang banyak itu.
Tentu saja berarti meletakkan prioritas memenangkan dan melatih mereka yang telah menjadi pemimpin jemaat. Tetapi, jika kita tidak dapat mulai dari golongan atas, sekarang marilah kita mulai dari tempat kita berada dan melatih beberapa orang sederhana untuk menjadi orang-orang besar. Hendaknya kita juga ikut bahwa untuk dapat dipakai dalam Kerajaan Allah tidak perlu seseorang itu harus mempunyai kedudukan yang tinggi di dunia. Setiap orang yang rela mengikuti Kristus, dapat mempengaruhi dunia, asal ia dilatih dengan baik.
Dari sinilah kita harus mulai, sama seperti yang Yesus lakukan. Memang hal itu akan berjalan perlahan-lahan, cukup meletihkan, susah, dan mungkin pada mulanya tidak diperhatikan oleh umum. Tetapi, hasil akhirnya akan mulia, sekalipun kita sudah tidak ada lagi di dunia untuk melihat hasil itu. Ditinjau dari sudut ini, jelaslah bahwa dalam pelayanan dibutuhkan satu ketepatan hati. Setiap orang harus mengambil keputusan di tempat manakah ia menginginkan pelayanannya berhasil - di dalam penerimaan orang banyak yang penuh sorak-sorai tetapi bersifat sementara, atau di dalam buah-buah kehidupannya yang tampak dalam beberapa orang pilihan yang akan meneruskan pekerjaannya setelah ia meninggal dunia. Sesungguhnya, persoalannya ialah apakah kita hidup untuk generasi sekarang atau untuk generasi mendatang.
Bagaimana juga, kita harus maju terus. Kita perlu melihat bagaimana Yesus melatih murid-murid-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya. Seluruh pola kerja ini merupakan sebagian dari satu metoda yang utuh. Jika kita memisahkan satu tahap dari tahap yang lain, berarti kita merusak hasil kerjanya.
[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]
"Aku menyertai kamu senantiasa" (
Ia Tinggal Bersama Mereka
Setelah Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia tinggal bersama mereka, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengikuti Dia. Inilah inti rencana Tuhan Yesus dalam melatih murid-murid-Nya.
Bila kita merenungkan hal itu, sesungguhnya cara ini sangat sederhana. Tuhan Yesus tidak mendirikan sekolah ataupun pendidikan agama yang resmi dengan rencana pelajaran tertentu, atau dengan kelas-kelas khusus menerima pendaftaran untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya. Suatu sistem pendidikan yang teratur yang sekarang dianggap sangat penting, tidak terdapat dalam pelayanan-Nya. Sungguh mengagumkan cara Yesus ini, karena yang Ia lakukan hanyalah mendekatkan mereka kepada-Nya. Diri-Nya sendiri sekaligus merupakan sekolah dan mata pelajaran-Nya.
Metoda pendidikan Yesus yang sederhana ini sangat berbeda dengan metoda para ahli Taurat. Guru-guru agama ini mengharuskan para pengikut mereka menaati cara-cara pendidikan tertentu, dan cara-cara itulah yang membedakan seorang guru dari yang lain. Tuhan Yesus hanya menghendaki supaya murid-murid-Nya menaati Dia. Tuhan kita tidak mengajar melalui bentuk-bentuk hukum dan doktrin-doktrin, melainkan melalui kepribadian-Nya sendiri yang memancarkan pengajaran-Nya itu. Murid-murid-Nya menjadi terkenal bukan karena mereka diharuskan menyesuaikan diri dengan cara-cara tertentu, melainkan karena persekutuan mereka dengan Dia yang mengikutsertakan mereka dalam pengajaran-Nya (
Bersekutu untuk Mengerti
Melalui persektuan ini, murid-murid-Nya dapat "mengetahui rahasia Kerajaan Allah" (
Cara mengajar yang sederhana itu telah diungkapkan sejak awal pelayanan-Nya, pada waktu Yesus mengajak murid-murid untuk mengikut Dia. Yohanes dan Andreas diajak melihat tempat tinggal-Nya, "Marilah dan kamu akan melihatnya" (
Prinsip yang Ditekankan
Lihatlah betapa hebat strategi-Nya! Sebenarnya dengan menjawab panggilan itu para pengikut-Nya telah melibatkan diri dalam sekolah Tuhan di mana pengertian mereka dapat bertumbuh dan iman mereka dapat diteguhkan. Tentu saja masih banyak hal yang belum jelas bagi mereka - semua itu mereka kemukakan dengan terus terang sewaktu mereka berjalan-jalan bersama Yesus; tetapi, sementara mereka mengikut Yesus, segala sesuatu yang tadinya belum jelas, menjadi jelas. Dalam persekutuan dengan Dia, mereka dapat mempelajari segala hal yang perlu mereka ketahui.
Prinsip ini, yang sudah tampak sejak awal pelayanan-Nya, lebih ditekankan oleh Tuhan Yesus pada waktu Ia memilih kedua belas murid-Nya. Ia memisahkan mereka dari satu kelompok yang agak besar, untuk menyertai Dia (
Makin Lama Makin Erat
Tekad Yesus untuk melaksanakan rencana-Nya menjadi jelas apabila kita membaca Kitab-Kitab Injil. Dalam tahun pelayanan kedua dan ketiga Ia memberikan lebih banyak waktu kepada murid-murid pilihan-Nya. Hal ini bertentangan dengan cara berpikir biasa.
Ia sering membawa murid-murid-Nya ke atas gunung, di mana Ia tidak dikenal orang, sekedar untuk menghindari perhatian umum. Mereka pernah berangkat bersama-sama ke Tirus dan Sidon (
Dilihat dari sudut ini, tidaklah mengherankan bahwa pada Minggu Sengsara, Yesus hampir-hampir tidak melepas murid-murid-Nya pergi jauh; bahkan pada waktu Ia berdoa di Taman Getsemani, murid-murid-Nya hanya kira-kira sepelempar batu jaraknya dari Dia (
Jalan yang ditempuh oleh Yesus dalam hidup-Nya telah digambarkan dengan sebaik-baiknya pada hari-hari sesudah kebangkitan-Nya. Perlu dicatat bahwa Ia menampakkan diri-Nya hanya kepada murid-murid pilihan-Nya saja. Alkitab mengatakan, bahwa tidak seorang pun yang belum percaya dapat melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya. Hal itu tidak mengherankan karena ada gunanya menggemparkan orang banyak dengan memperlihatkan diri-Nya. Apa gerangan yang telah mereka perbuat? Akan tetapi, kepada murid-murid-Nya yang melarikan diri pada waktu Ia disalibkan, Ia menampakkan diri untuk menghidupkan iman mereka dan menegaskan kembali tugas mereka, karena melalui merekalah pelayanan-Nya dapat berkembang.
Demikianlah segala sesuatu terjadi menurut rencana-Nya. Tuhan Yesus menghabiskan lebih banyak waktu untuk beberapa murid-Nya daripada untuk orang-oran lain. Ia makan bersama-sama mereka, tidur bersama-sama, dan bercakap-cakap dengan mereka sepanjang pelayanan-Nya. Mereka berjalan bersama-sama di sepanjang jalan yang sepi. Mereka bersama-sama mengunjungi kota yang ramai. Mereka berlayar dan menangkap ikan bersama-sama di Danau Galilea. Mereka berdoa bersama-sama, baik di padang gurun maupun di atas gunung. Mereka beribadat bersama-sama, baik di dalam sinagoga maupun di dalam Bait Allah di Yerusalem.
Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak
Jangan kita lupa bahwa sebenarnya murid-murid-Nya senantiasa berada di dekat Dia, walaupun Ia sedang melayani orang-orang lain. Pada waktu Ia berbicara dengan orang banyak yang mengerumuni Dia, atau dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang berusaha menjerat Dia, atau dengan seorang pengemis di pinggir jalan, murid-murid-Nya berada di dekat Dia untuk ikut memperhatikan serta mendengarkan ajaran-Nya. Dengan cara ini, Yesus mendapat hasil dua kali lipat dari waktu yang digunakan-Nya untuk melayani mereka. Dengan demikian, mereka bukan saja menerima pelajaran melalui percakapan atau perbuatan Yesus terhadap orang-orang lain, tetapi juga menerima bimbingan pribadi bagi mereka sendiri.
Cara ini Memakan Waktu
Persekutuan yang erat dan terus-menerus itu menunjukkan bahwa Yesus hampir tidak mempunyai waktu untuk diri-Nya sendiri. Sama seperti anak-anak yang menuntut perghatian sang ayah, demikian pula murid-murid senantiasa berada dekat Sang Guru. Bahkan pada waktu Ia mengasingkan diri untuk berdoa, Ia tidak luput dari gangguan atas kebutuhan murid-murid-Nya (
Prinsip Tindak Lanjut
Tidak ada yang lebih jelas tetapi lebih sering diabaikan dari pada pelaksanaan prinsip ini. Prinsip begitu sederhana sehingga orang cenderung untuk mengabaikannya. Sekalipun demikian Tuhan Yesus tidak menghendaki murid-murid-Nya melalaikan hal ini. Dalam perjalanan-Nya yang terakhir, Tuhan Yesus merasa sangat perlu menjelaskan kepada mereka tentang apa yang telah dilakukan-Nya selama ini. Sebagai contoh, Yesus pernah berpaling kepada mereka yang sudah mengikut Dia selama tiga tahun dan berkata, "Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku" (
Tidak benar kalau kita menganggap bahwa prinsip tindak lanjut secara pribadi yang demikian itu hanya berlaku bagi murid-murid-Nya saja. Memang benar, Tuhan Yesus memusatkan perhatian-Nya pada beberapa orang pilihan-Nya kepada orang-orang lain yang mengikuti Dia. Sebagai contoh: Ia pulang bersama Zakheus yang telah bertobat di jalan menuju Yerikho (
Sering terjadi bahwa orang yang sudah ditolong oleh Yesus diberi kesempatan untuk ikut dalam kelompok pengikut-Nya, misalnya Bartimeus (
Perlu juga disebutkan tentang sekelompok kecil perempuan yang dengan setia melayani Tuhan Yesus, misalnya seperti Maria dan Marta (
Akan tetapi, terlepas dari peraturan sopan santun, Yesus sebenarnya tidak mempunyai waktu terus-menerus memberi perhatian secara pribadi kepada orang-orang ini, baik kepada perempuan maupun kepada laki-laki. Sekalipun demikian, Ia sudah berusaha sedapat mungkin untuk memperhatikan murid-murid-Nya secara pribadi sehingga mereka diyakinkan akan perlunya segera melayani para petobat baru secara pribadi juga. Yesus harus membatasi bimbingan-Nya pada berbagai orang saja, kemudian mereka inilah dengan cara yang sama harus melayani orang-orang lain.
Gereja sebagai Tempat Persekutuan
Seluruh masalah pelayanan pribadi kepada para petobat baru dapat diatasi jika gereja mengerti akan hakikat dirinya dan tugasnya. Perlu diperhatikan di sini, bahwa sesungguhnya rencana Yesus bagi gereja adalah supaya setiap petobat baru dapat dibawa ke dalam persekutuan dengan orang-orang percaya yang lain. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh Yesus denga kedua belas murid-Nya, hanya gereja dapat mencakup pelayanan yang lebih luas.8 Gereja adalah tempat untuk menampung orang-orang percaya yang mau mengikut Dia selanjutnya. Orang-orang percaya ini menjadi tubuh Kristus, yang saling melayani, baik secara perorangan maupun kelompok.
Setiap anggota gereja memegang peranan dalam pelayanan ini. Ini hanya dapat mereka kerjakan jika mereka dididik dan di penuhkan oleh kuasa Roh Kudus. Selama Yesus tinggal bersama-sama dengan murid-murid-Nya secara manusia, Ia menjadi Pemimpin mereka. Akan tetapi, kemudian di dalam gereja, merekalah yang harus melanjutkan kepemimpinan itu. Jadi, Yesus harus melatih-melatih mereka dalam tugas ini. Artinya, Ia harus terus-menerus bersekutu dengan mereka yang sudah dipilih-Nya itu.
-----
8. Setiap orang tidak dapat tidak akan menemukan dalam hubungan ini, bahwa penunjukan kepada "murid-murid" sebagai kelompok yang bersatu itu lebih banyak ditulis di dalam keempat Injil daripada penunjukan kepada seorang murid sebagai pribadi. R. Ralph Morton bahkan menerangkan hal ini lebih lanjut, dan menegaskan bahwa penunjukan kepada pribadi-pribadi mengarah kepada kekalahan- kekalahan dari pihak mereka, sedangkan penunjukkan kepada kelompok sebagai satu kesatuan sering berarti kesukaran, pengertian, atau prestasi mereka. Ketika diingatkan bahwa hal ini ditulis dengan ilham oleh para murid, dan bukan oleh Yesus, jelaslah berarti bahwa mereka akan menegaskan tempat mereka dalam arti demikian. Lihat T. Ralph Morton, The Twelve Together Glasgow, The Iona Community, 1956, hal. 24-30, 103. Mengenai hal ini, kita tidak perlu menarik kesimpulan bahwa para murid tidak dipandang penting sebagai pribadi-pribadi. Ini menyatkan kepada kita bahwa para murid memahami Tuhan mereka yang memandang mereka sebagai satu tubuh yang terdiri dari orang-orang beriman yang dilatih bersama untuk diutus kepada dunia. Mereka memandang diri mereka sendiri melalui Kristus, pertama sebagai sebuah gereja, dan kedua sebagai pribadi-pribadi di dalam tubuh itu.
Masalah Kita
Bilakah gereja mau memakai cara Yesus ini? Sekalipun berkhotbah kepada orang banyak itu perlu, tidaklah cukup untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin untuk memberitakan Injil. Juga pertemuan doa yang sekali-kali dilakukan, dan kelas latihan bagi para pekerja Kristen, belum dapat memenuhi kebutuhan. Mempersiapkan orang tidaklah semudah itu, melainkan membutuhkan perhatian secara pribadi yang terus-menerus, sama seperti perhatian seorang ayah kepada anak-anaknya. Ini tidak dapat dikerjakan oleh suatu organisasi atau kursus, sama seperti anak-anak tidak dapat dididik secara baik dengan diwakilkan kepada orang lain. Apa yang telah Tuhan Yesus lakukan, mengajarkan kepada kita bahwa tugas ini hanya terlaksana jika para pemimpin bersekutu dengan orang-orang yang hendak dipimpinnya.
Ternyata gereja telah gagal sama sekali dalam tugas ini. Banyak pembicaraan tentang penginjilan dan pelayanan Kristen, akan tetapi hanya sedikit perhatian yang diberikan kepada persekutuan secara pribadi. Kebanyakan gereja ingin membawa para petobat baru melalui semcam kelas sidi yang berkumpul satu jam satu minggu untuk jangka waktu satu bulan atau lebih. Tetapi selanjutnya para petobat baru itu tidak mungkin kontak sama sekali dengan acara pendidikan Kristen yang tertentu, selain mengikuti kebaktian-kebaktian gereja dari Sekolah Minggu. Dengan demikian, ia diperhadapkan seorang diri kepada masalah-masalah hidup yang dapat menghancurkan imannya, kecuali jika ia mempunyai orang tua atau teman-teman yang dapat menolong dia.
Dengan cara tindak lanjut yang teratur itu, maka tidaklah mengherankan bahwa hampir separuh dari orang-orang yang sudah percaya dan menjadi anggota gereja akhirnya murtad. Yang terus bertumbuh dalam pengetahuan dan kasih karunia untuk melayani bagi Kerajaan Allah semakin berkurang. Apabila kebaktian-kebaktian hari Minggu dan kelas-kelas sidi dianggap sudah cukup untuk membangun petobat-petobat baru dan menjadikan mereka murid-murid yang dewasa, maka gereja gagal dalam tugasnya. Jika kita mengikuti cara ini, kita juga ikut merusak para petobat baru itu. Tidak ada cara lain untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin dalam pemberitaan Injil kecuali melalui persekutuan orang-orang percaya. Hanya dengan keajaiban cara inilah kita dapat membangun kepemimpinan Kristen yang kuat. Jika Yesus, Anak Allah menganggap perlu secara terus-menerus bersekutu dengan murid-murid-Nya selama tiga tahun lamanya, namun masih juga ada seorang dari mereka yang terhilang, bagaimana mungkin gereja dapat mengerjakan ini hanya dengan cara berkumpul beberapa hari saja dalam setahun?
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Dengan jelas Yesus mengajarkan kepada kita bahwa metoda tindak lanjut apa pun yang dipakai oleh gereja, perlu didasarkan atas bimbingan pribadi. Jika hal itu tidak dilakukan, maka ini berarti seolah-oleh menyerahkan petobat-petobat baru kepada si Iblis.
Bimbingan pribadi berarti bahwa setiap petobat baru diberi seorang teman Kristen untuk membimbing dia sampai pada tahap di mana ia juga dapat membimbing orang lain. Si pembimbing harus bersekutu dengan dia secara teratur dalam jangka waktu yang lama, mempelajari Alkitab dan berdoa bersama-sama, menjawab pertanyaan-pertanyaan, menjelaskan kebenaran-kebenaran, dan bersama-sama menolong orang lain. Jika gereja tidak mempunyai pembimbing-pembimbing yang demikian, maka gereja harus menunjuk pemimpin-pemimpin untuk mendidik beberapa orang dalam tugas itu.
Cara ini telah menjawab persoalan tadi. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa cara ini hanya dapat berhasil apabila para pengikut mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari. Karena itu, prinsip dasar lain yang dipakai oleh Sang Guru harus juga dipahami.
[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]
"Pikullah kuk yang Kupasang" (
Ia Menghendaki Ketaatan
Yang Yesus kehendaki dari pengikut-pengikut-Nya ialah ketaatan. Mereka tidak perlu cerdas, asal setia. Inilah sifat yang menjadi tanda pengenal mereka. Mereka disebut "murid-murid", sebab mereka adalah "pelajar-pelajar" dari Sang Guru. Tidak lama sesudah itu, mereka mulai disebut orang-orang Kristen (
Cara pendekatan yang sederhana ini sangat mengagumkan. Tidak ada seorang pun dari murid-murid ini yang diminta untuk membuat suatu "Pengakuan Iman" atau menyatakan suatu ikrar tertentu, walaupun sudah jelas bahwa mereka mengakui Yesus sebagai Juruselamat (
Jalan Salib
Pada mulanya mengikut Yesus tampaknya mudah sekali, karena mereka belum cukup lama mengikut Yesus. Kemudian semakin nyata, bahwa hidup sebagai murid Yesus bukan berarti hanya menerima janji Kristus, melainkan dituntut dari mereka suatu penyerahan diri secara mutlak, tanpa syarat dan tanpa kompromi. "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (
Tuntutan ini cukup berat. Tidak banyak pengikut-Nya yang dapat melaksanakannya. Mereka mau ikut pada waktu Yesus memberi roti dan ikan, tetapi pada waktu Ia mulai berbicara tentang nilai rohani yang sebenarnya dari Kerajaan Surga dan pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkannya (
Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri
Mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat ini satu per satu akan memisahkan diri. Mereka memisahkan dari kelompok murid pilihan karena sifat keakuan mereka. Yudas, yang dinyatakan sebagai Iblis (
Mungkin inilah sebabnya mengapa Yesus berbicara dengan keras kepada seorang ahli Taurat yang datang dan berkata kepada-Nya "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Kepada orang ini, dan dengan terus terang Tuhan Yesus berkata bahwa hal itu tidaklah mudah "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (
Karena itu, seorang calon murid Tuhan harus membuat perhitungan semasak-masaknya. "Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mendirikan sebuah menara, tidak duduk dahulu membuat rencana dahulu, maka hal itu sama dengan mengharapkan ejekan dunia di kemudian hari. Sama halnya dengan seorang raja yang pergi berperang tanpa menghiraukan kalah atau menang sebelum pertarungan dimulai. Sebagai kesimpulan, Yesus berkata, "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" (
Hanya Sedikit yang Rela Berkorban
Setelah kaum "opportunis" meninggalkan Tuhan di Kapernaum karena keinginan mereka tidak dipenuhi, maka pengikut-Nya tinggal beberapa orang saja. Kemudian, Ia berpaling kepada kedua belas murid-Nya dan berkata, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (
-----
9. Paling sedikit enam belas kali sebelum Tuhan Yesus ditangkap, Ia membicarakan tentang penderitaan dan kematian-Nya. Mula-mula hal ini masih merupakan rahasia, tetapi maksudnya jelas sekali - perbandingan antara tubuh-Nya dan perombakan Bait Allah (
Taat Adalah Belajar
Ini sama sekali bukan berarti bahwa murid-murid-Nya dengan cepat dapat mengerti apa yang dikatakan oleh Tuhan. Kecakapan mereka untuk memahami lebih dalam tentang pelayanan penebusan Tuhan sangat dibatasi oleh kelemahan-kelemahan mereka sebagai manusia. Setelah pengakuan Petrus mengenai Mesias di Kaisarea Filipi, mereka tidak mengerti ketika Yesus memberitahukan kepada mereka bahwa Ia akan dibunuh oleh pemimpin-pemimpin agama di Yerusalem, Petrus bahkan menegur Dia, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau" (
Karena berita salib itu tidak jelas, pada mulanya murid-murid merasa ragu-ragu tentang tempat mereka di dalam Kerajaan Allah. Mereka agak sukar menerima ajaran tentang merendahkan diri untuk kepentingan orang lain (
Sekalipun demikian, Yesus dengan sabar menerima semua kekurangan murid-murid pilihan-Nya itu, karena mereka masih mau mengikut Dia. Tidak lama setelah panggilan pertama, mereka kembali lagi mencari ikan (
Dengan demikian, ketaatan kepada Kristus adalah satu-satunya jalan bagi pengikut-pengikut-Nya untuk belajar lebih banyak tentang kebenaran. Ia tidak meminta murid-murid-Nya untuk mengikut apa yang mereka anggap tidak benar, karena tidak seorang pun mau mengikut Dia jika ia tidak yakin akan kebenaran-Nya (
Bukti dari Kasih
Ketaatan yang sungguh-sungguh adalah pancaran kasih. Ajaran inilah yang ditekankan pada malam menjelang kematian-Nya. Pada waktu murid-murid berkumpul dengan Dia di ruangan atas setelah perjamuan malam berakhir, Yesus berkata, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan firman yang kamu dengar itu bukanlah daripada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku. Inilah perintah-Ku, supaya kamu saling mengasihi, seperti aku mengasihi kamu" (
Yesus Menunjukkan Ketaatan
Ketaatan yang mutlak kepada kehendak Allah adalah prinsip yang menguasai seluruh kehidupan Sang Gur! Dalam sifat kemanusiaan-Nya Ia tidak pernah menentang kehendak Bapa, sehingga hidup-Nya dipakai sepenuhnya oleh Allah untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan-Nya. Ia senantiasa berkata, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mentutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (
Salib merupakan puncak kemenangan dari ketaatan Tuhan Yesus untuk melakukan kehendak Allah. Prinsip inilah yang menguasai seluruh kehidupan-Nya - ketaatan yang tidak mengenal kompromi, sampai pada kematian-Nya.
Para pemimpin agama yang duniawi mencemoohkan Dia, "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan" (
Salib inilah, karena telah ditentukan sebelumnya (
Prinsip yang Ditekankan
Ditinjau dari sudut strategi-Nya, maka ketaatan itu adalah satu-satunya jalan bagi Yesus untuk mengubah hidup mereka melalui perkataan-perkataan-Nya. Tanpa ketaatan, tidak mungkin ada pertumbuhan sifat atau tujuan dalam diri murid-murid-Nya itu. Jika seorang ayah menginginkan supaya anak-anaknya menjadi sama seperti dia, ia harus mengajar mereka untuk taat kepada-Nya.
Harus diingat pula, bahwa Yesus sedang mempersiapkan orang-orang-Nya untuk memimpin gereja-Nya menuju kemenangan. Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi pemimpin, sebelum ia terlebih dahulu belajar menaati seorang pemimpin. Karena itu, Ia memilih calon-calon pemimpi dari rakyat jelata, melatih mereka dalam hal disiplin, dan dalam hal menghargai kekuasaan. Ketidaktaatan sama sekali tidak boleh terdapat dalam menjalankan perintah-Nya. Tidak seorang pun, kecuali Yesus, yang mengetahui tentang kuasa kegelapan Iblis yang dapat menggagalkan usaha penginjilan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh. Murid-murid-Nya tidak dapat mengalahkan kuasa Iblis di dunia ini jika mereka tidak taat kepada Yesus, karena hanya Yesuslah yang mengetahui jalan kemenangan. Hal ini membutuhkan ketaatan mutlak kepada kehendak Sang Guru, sekalipun ini berarti bahwa mereka harus meninggalkan segala sesuatu.
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Kita harus mempelajari lagi pelajaran ini sekarang. Kita tidak dapat menghadapi peperangan yang dapat membawa akibat mati atau hidup; setip kali kita bersikap acuh tak acuh terhadap tanggung tanggung jawab kita dalam pemberitaan Injil, berarti suatu kekalahan bagi pekerjaan Kristus. Sekalipun kita baru mempelajari dasar-dasar kebenaran yang paling sederhana tentang pemuridan, namun kita sudah harus mengetahui bahwa kita telah terpanggil sebagai hamba-hamba Tuhan. Karena itu, kita harus taat kepada firman-Nya. Kewajiban kita menjalankan perintah-perintah-Nya, bukan mempersoalkan mengapa Ia memerintahkan sesuatu. Sangat diragukan apakah kita dapat maju terus dalam meneladani kehidupan dan tugas-Nya kalau kita tidak menyerahkan diri untuk melakukan segala kehendak-Nya sekalipun pengertian kita tidak matang. Di dalam Kerajaan Surga tidak ada tempat bagi hamba-hamba yang malas, karena kemalasan bukan saja menghambat pertumbuhan dalam pengetahuan dan kasih karunia, tetapi juga merusak makna penginjilan bagi dunia.
Kita harus bertanya, mengapa sekarang banyak orang yang mengaku dirinya Kristen, tetapi tidak bertumbuh bahkan gagal dalam kesaksiannya? Atau, mengapa gereja-gereja sekarang tidak berhasil bersaksi kepada dunia? Bukankah ini akibat kelalaian para pendeta dan kaum awam terhadap perintah-perintah Tuhan atau karena mereka tidak dengan sepenuh hati melayani Tuhan? Di manakah ketaatan kepada salib itu? Seakan-akan ajaran Kristus tentang menyangkal diri dan menyerahkan diri telah diganti dengan semacam filsafat dunia yang membenarkan orang untuk berbuat sesuka hati mereka.
Yang sangat menyedihkan ialah bahwa tidak ada usaha yang dilakukan untuk memperbaiki, terutama oleh mereka yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Yang diperlukan dengan segera dari mereka bukanlah sikap putus asa, melainkan suatu tindakan yang nyata. Waktunya sudah tiba untuk menetapkan "kemuridan Kristen yang sejati" sebagai syarat penerimaan anggota jemaat. Akan tetapi, syarat ini pun belum cukup. Para pengikut juga harus mempunyai pemimpin-pemimpin, dan ini berarti bahwa para petugas gereja harus lebih dahulu hidup benar. Jika syarat-syarat ini terlalu berat, kita dapat memulainya dengan beberapa orang pilihan saja dan mengajarkan arti ketaatan kepada mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus.
Apabila prinsip ini dipraktekkan, barulah kita dapat maju selangkah lagi dalam rencana kemengangan Tuhan Yesus.
[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]
"Terimalah Roh Kudus" (
Ia menyerahkan Diri-Nya bagi Mereka
Yesus menghendaki ketaatan dari para pengikut-Nya karena hanya dengan demikianlah mereka dapat dipenuhi oleh Roh-Nya. Dengan Roh-Nya mereka dapat melihat kasih Allah bagi dunia yang terhilang ini. Itulah sebabnya mereka menerima syarat ketaatan ini tanpa komentar. Murid-murid-Nya mengerti bahwa mereka bukan saja perlu menaati suatu hukum, melainkan mereka juga harus senang menaati "Dia" yang sangat mengasihi mereka, dan yang rela menyerahkan nyawa-Nya untuk mereka.
Yesus hidup untuk memberi kepada manusia apa yang telah diberikan Bapa kepada-Nya (
Demikianlah kasih-Nya itu - kasih yang selalu ingin memberi. Jika kasih itu hanya mengasihi diri-Nya sendiri, itu bukanlah kasih yang sejati. Dengan cara ini pula Yesus menekankan kepada para pengikut-Nya apa arti "begitu besar kasih Allah akan dunia ini" (
Keharusan untuk Memberitakan Injil
Yesus tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menekankan kepada pengikut-pengikut-Nya tentang kasih Allah kepada dunia yang terhilang ini. Segala sesuatu dilakukan-Nya dan dikatakan-Nya dengan kasih. Hidup-Nya mencerminkan maksud Allah yang kekal untuk menyelamatkan umat-Nya. Inilah yang harus dimengerti oleh murid-murid-Nya, bukan hanya secara teori, tetapi juga secara praktis.
Setiap hari mereka dapat melihat kasih ini dipraktekkan dengan berbagai cara. Walaupun sangat sukar diterima, seperti pada waktu Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (
Pengudusan-Nya
Pembaharuan dalam penyerahan diri-Nya kepada Allah - yang terus-menerus dilakukan melalui pelayanan yang penuh kasih kepada orang lain - menjadi dasar bagi pengudusan Tuhan Yesus. Hal ini jelas diungkapkan dalam doa-Nya sebagai Imam Besar, "Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran" (
Karena itu, pengudusan-Nya bukan untuk tujuan yang menguntungkan diri-Nya sendiri, melainkan untuk murid-murid-Nya, supaya mereka pun, "dikuduskan dalam kebenaran." Artinya dengan menyerahkan diri-Nya kepada mereka yang mengikuti Dia, sehingga melalui kehidupan-Nya mereka dapat memahami penyerahan diri yang sama terhadap tugas yang menyebabkan Dia datang ke dalam dunia. Seluruh rencana penginjilan-Nya bergantung pada pengabdian-Nya ini. Pengabdian itu telah mendorong murid-murid-Nya untuk setia menyerahkan diri mereka ke dalam kasih kepada dunia di sekitar mereka.
Meterai Pelayanan-Nya
Kasih harus menjadi ukuran untuk menilai pelayanan mereka bagi Tuhan Yesus. Mereka harus memberi dengan cuma-cuma sebagaimana mereka telah menerima dengan cuma-cuma juga (
Kasih yang mereka perlihatkan adalah jalan supaya dunia dapat mengenal kebenaran Injil. Dengan cara bagaimana lagikah orang banyak dapat diyakinkan? Kasih adalah salah-satunya jalan untuk mendapatkan sambutan dari mereka. Yesus berdoa, Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka" (
Pekerjaan Roh Kudus
Jangan kita mengira bahwa pengalaman dengan Tuhan Yesus dapat terwujud oleh akal manusia. Yesus menyatakan dengan jelas bahwa hidup-Nya diberikan kepada manusia hanya melalui Roh Kudus. "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna" (
Demikian juga, hanya Roh Allah saja yang dapat menggupkan seseorang untuk melaksanakan tugas penginjilan. Yesus menekankan kebenaran ini dalam hubungan kerja sama dengan Roh Allah. Dengan kuasa Roh Kudus Ia memberitakan Injil kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, mengusir setan dan membebaskan orang-orang yang tertindas (
-----
10.
Penghibur yang Lain
Untuk kepentingan mereka sendiri, murid-murid perlu belajar lebih dalam mengenai pekerjaan Roh. Mereka perlu mengetahui hubungan Roh dengan Tuhan mereka. Sudah tentu Yesus mengetahui hal itu dan Ia menekankannya menjelang kematian-Nya. Sampai pada saat itu Ia senantiasa berada dekat mereka, sebagai Penghibur, sebagai Guru, dan sebagai Pandu mereka. Dalam persekutuan dengan Dia, mereka mendapat keberanian dan kekuatan. Dengan Dia mereka merasakan bahwa tidak ada perkara yang mustahil. Akan tetapi, mereka mulai bimbang ketika Yesus mengatakan bahwa Ia akan kembali ke surga. Untuk menyelesaikan masalah ini, yesus menjelaskan kepada mereka bahwa mereka dapat tetap terpelihara setelah Ia pulang ke surga.
Pada waktu itulah Yesus memberitahukan kepada mereka tentang Roh Kudus sebagai "Penghibur (Penolong) yang lain",11 Pembela atau Pribadi yang senantiasa akan menyertai mereka, sekalipun dunia tidak melihat Dia seperti mereka melihat Yesus di dunia (
