Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereRencana Agung Penginjilan

Rencana Agung Penginjilan


RENCANA AGUNG PENGINJILAN

Kata Pengantar
Pendahuluan -- Tuhan Yesus dan Rencana-Nya
Masalah dalam Metoda Penginjilan
Tujuan Menentukan Cara
Mencari Prinsip-Prinsip Dasar
Penyelidikan dari Sumber Lain
Rencana Penyelidikan Kita
Kristuslah Teladan yang Sempurna
Tujuan-Nya Jelas
Ia Merencanakan untuk Menang
Penyelidikan yang Tepat

1. Pemilihan
Orang-Orang adalah Metoda-Nya
Orang-Orang yang Ingin Belajar
Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi
Prinsip yang Ditekankan
Tidak Melalaikan Orang Banyak
Orang Banyak Dibangkitkan
Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti
Strategi-Nya
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Satu Demonstrasi Modern
Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak

2. Persekutuan
Ia Tinggal Bersama Mereka
Bersekutu untuk Mengerti
Prinsip yang Ditekankan
Makin Lama Makin Erat
Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak
Cara Ini Memakan Waktu
Prinsip Tindak Lanjut
Gereja sebagai Tempat Persekutuan
Masalah Kita
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

3. Penyediaan
Ia Menghendaki Ketaatan
Jalan Salib
Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri
Hanya Sedikit yang Rela Berkorban
Taat adalah Belajar
Bukti dari Kasih
Yesus Menunjukkan Ketaatan
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

4. Pengurapan
Ia Menyerahkan Diri-Nya Bagi Mereka
Keharusan untuk Memberitakan Injil
Pengudusan-Nya
Meterai Pelayanan-Nya
Pekerjaan Roh Kudus
Penghibur yang Lain
Rahasia Hidup yang Berkemenangan
Kebenaran yang tidak Terlihat oleh Orang-orang yang Belum Percaya
Masalah Pokok Dewasa Ini

5. Percontohan
Ia Memperlihatkan Cara Hidup-Nya
Peranan Doa
Menggunakan Alkitab
Yang Terutama: Memenangkan Jiwa
Mengajar dengan Wajar
Kelas Latihan yang Terus-Menerus Berjalan
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

6. Pengutusan
Yesus Memberi Tugas
Pengutusan Pertama Terhadap Kedua Belas Murid
Memberi Petunjuk-petunjuk Kerja
Mencontoh Metoda-Nya
Kesulitan Pasti akan Dialami
Injil akan Memisahkan
Satu dengan Kristus
Berdua-Dua
Pengutusan Terhadap Ketujuh Puluh Murid
Amanat-amanat Setelah Kebangkitan
Prinsip-Nya Telah Jelas
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

7. Pengawasan
Ia Mengawasi Mereka
Terus-Menerus Ditinjau Kembali dan Diterapkan
Ia Mengajar Murid-Murid-Nya Bersabar Hati
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Tujuan Harus Selalu Jelas

8. Pelipatgandaan
Yesus Mengharapkan Supaya Mereka Melipatgandakan Diri
Kemenangan Melalui Kesaksian
Prinsip yang Ditekankan
Ujian Terhadap Pelayanan-Nya
Amanat Agung
Berdoa bagi Para Penuai
Penerapan Prinsip Ini dalam Hidup Kita
Gereja Kristen Telah Menjadi Buktinya
Jalan Pintas Membawa Kegagalan
Masalah yang Dihadapi Dewasa Ini

Kesimpulan -- Tuhan Yesus dan Rencana Anda
Setiap Kehidupan Mempunyai Rencana
Metoda akan Berbeda
Prioritas Manusia
Mulailah dengan Beberapa Orang Saja
Bersekutu Setiap Hari
Berilah Waktu yang Cukup kepada Mereka
Persekutuan Kelompok
Harapkan Sesuatu dari Mereka
Doronglah Mereka
Bantulah Mereka dalam Memikul Tugas-tugas
Kita Harus Rela Melepaskan Diri
Yang Paling Penting: Pengalaman Rohani
Kemenangan yang Mahal Harganya
Apakah Ini Telah Menjadi Kerinduan Anda



Info: RENCANA AGUNG PENGINJILAN

[Indeks 18332] [Hak Cipta 18331] [Pengantar 18333]

Setiap kehidupan mempunyai tujuan. Kita perlu menyusun rencana yang mantap untuk mencapai tujuan itu. Rencana kerja adalah suatu prinsip yang mengatur terwujudnya tujuan hidup seseorang.

Tujuan yang jelas memungkinkan kita mengetahui cara kerja yang tepat untuk melaksanakan rencana Allah yan sempurna dalam kehidupan kita. Inilah yang harus kita perhatikan dalam menyusun rencana untuk memberitakan injil.

Buku ini bukanlah suatu penafsiran mengenai metoda-metoda penginjilan Tuhan Yesus, melainkan suatu penyelidiksn mengenai prinsip pelayanan-Nya yang mendasari Rencana Agung Penginjilan-Nya. Prinsip-prinsip ini perlu kita ketahui, juga cara menerapkannya dalam pelayanan setiap anak Tuhan untuk melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu memberitakan Injil Keselamatan kepada dunia.

BIBLIOGRAFI : E. Coleman, Robert. 1996. Rencana Agung Penginjilan. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

DESKRIPSI :

Buku Rencana Agung Penginjilan karangan Dr. Coleman ini sangat menolong, khususnya untuk mengembangkan pelayanan kita. Buku ini dapat memberi petunjuk tentang bagaimana melaksanakan suatu program latihan kaum awam yang bermutu. Dengan menyelidiki kehidupan Tuhan Yesus serta prinsip-prinsip pelayanan-Nya terhadap kedua belas murid- Nya, Dr. Coleman telah menyusun buku mengenai prinsip-prinsip serta metode untuk melatih tenaga yang dibutuhkan ini.

- Yayasan Kalam Hidup -



Halaman Judul

RENCANA AGUNG PENGINJILAN

Robert E. Coleman

YAYASAN KALAM HIDUP
Jalan Naripan 67
Bandung 40112

Buku asli: THE MASTER PLAN OF EVANGELISM

Copyright: (c) 1963, 1964 by Robert E. Coleman
Fleming H. Revell Company, Westwood, New Jersey, USA

Hak pengarang dilindungi Undang-Undang
Diterjemahkan oleh: Ir. G.J. Tiendas dan W. Stanley Heath, Ph. D., M. Div.
Diredaksi oleh: Bestiana Simanjutak dan Dra. Lina Maria

KH/VI/22R,3R/19960443
000-010-008
Cetakan ke-6 Juli 1996
Anggota IKAPI, 051-JBA/5 Okt' 93



Indeks: DAFTAR ISI

[Info 18330] [Hak Cipta 18331]

18333 KATA PENGANTAR
18334 PENDAHULUAN -- Tuhan Yesus dan Rencana-Nya
18334 Masalah dalam Metoda Penginjilan
18335 Tujuan Menentukan Cara
18336 Mencari Prinsip-Prinsip Dasar
18337 Penyelidikan dari Sumber Lain
18338 Rencana Penyelidikan Kita
18339 Kristuslah Teladan yang Sempurna
18340 Tujuan-Nya Jelas
18341 Ia Merencanakan untuk Menang
18342 Penyelidikan yang Tepat

18343 1. PEMILIHAN
18343 Orang-orang adalah Metoda-Nya
18344 Orang-orang yang Ingin Belajar
18345 Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi
18346 Prinsip yang Ditekankan
18347 Tidak Melalaikan Orang Banyak
18348 Orang Banyak Dibangkitkan
18349 Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti
18350 Strategi-Nya
18351 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18352 Satu Demonstrasi Modern
18353 Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak

18354 2. PERSEKUTUAN
18354 Ia Tinggal Bersama Mereka
18355 Bersekutu untuk Mengerti
18356 Prinsip yang Ditekankan
18357 Makin Lama Makin Erat
18358 Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak
18359 Cara ini Memakan Waktu
18360 Prinsip Tindak Lanjut
18361 Gereja sebagai Tempat Persekutuan
18362 Masalah Kita
18363 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

18364 3. PENYEDIAAN
18364 Ia Menghendaki Ketaatan
18365 Jalan Salib
18366 Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri
18367 Hanya Sedikit yang Rela Berkorban
18368 Taat Adalah Belajar
18369 Bukti dari Kasih
18370 Yesus Menunjukkan Ketaatan
18371 Prinsip yang Ditekankan
18372 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

18373 4. PENGURAPAN
18373 Ia menyerahkan Diri-Nya bagi Mereka
18374 Keharusan untuk Memberitakan Injil
18375 Pengudusan-Nya
18376 Meterai Pelayanan-Nya
18377 Pekerjaan Roh Kudus
18378 Penghibur yang Lain
18379 Rahasia Hidup yang Berkemenangan
18380 Kebenaran yang tidak Terlihat oleh Orang-orang yang
Belum Percaya
18381 Masalah Pokok Dewasa Ini

18382 5. PERCONTOHAN
18382 Ia Memperlihatkan Cara Hidup-Nya
18383 Peranan Doa
18384 Menggunakan Alkitab
18385 Yang Terutama: Memenangkan Jiwa
18386 Mengajar dengan Wajar
18387 Kelas Latihan yang Terus-menerus Berjalan
18388 Prinsip yang Ditekankan
18389 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa ini

18390 6. PENGUTUSAN
18390 Yesus memberi Tugas
18391 Pengutusan Pertama terhadap Kedua Belas Murid
18392 Memberi Petunjuk-Petunjuk Kerja
18393 Mencontoh Metoda-Nya
18394 Kesulitan Pasti akan Dialami
18395 Injil akan Memisahkan
18396 Satu dengan Kristus
18397 Berdua-dua
18398 Pengutusan terhadap Ketujuh Puluh Murid
18399 Amanat-amanat setelah Kebangkitan
18400 Prinsip-Nya Telah Jelas
18401 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

18402 7. PENGAWASAN
18402 Ia Mengawasi Mereka
18403 Terus-Menerus Ditinjau Kembali dan Diterapkan
18404 Ia Mengajar Murid-Murid-Nya Bersabar Hati
18405 Prinsip yang Ditekankan
18406 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18407 Tujuan Harus Selalu Jelas

18408 8. PELIPATGANDAAN
18408 Yesus Mengharapkan Supaya mereka Melipatgandakan Diri
18409 Kemenangan melalui Kesaksian
18410 Prinsip yang Ditekankan
18411 Ujian terhadap Pelayanan-Nya
18412 Amanat Agung
18413 Berdoa bagi Para Penuai
18414 Penerapan Prinsip Ini dalam Hidup Kita
18415 Gereja Kristen Telah Menjadi Buktinya
18416 Jalan Pintas Membawa Kegagalan
18417 Masalah yang Dihadapi Dewasa Ini

18418 KESIMPULAN -- Tuhan Yesus dan Rencana Anda
18418 Setiap Kehidupan Mempunyai Rencana
18419 Metoda akan Berbeda
18420 Prioritas Manusia
18421 Mulailah dengan Beberapa Orang Saja
18422 Bersekutu Setiap Hari
18423 Berilah Waktu yang Cukup kepada Mereka
18424 Persekutuan Kelompok
18425 Harapkan Sesuatu dari Mereka
18426 Doronglah Mereka
18427 Bantulah Mereka dalam Memikul Tugas-Tugas
18428 Kita Harus Rela Melepaskan Diri
18429 Yang Paling Penting: Pengalaman Rohani
18430 Kemenangan yang Mahal Harganya
18430 Apakah Ini Telah Menjadi Kerinduan Anda



KATA PENGANTAR

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

Dalam perkembangan gereja-gereja di Indonesia selalu dirasakan kurangnya tenaga untuk pelayanan rohani. Sering seorang pendeta begitu sibuk dengan pelayanan kebaktian-kebaktian umum, pernikahan, dan penguburan, sehingga ia tidak mempunyai waktu untuk mengunjungi anggota-anggota jemaatnya, apalagi untuk membimbing mereka yang mengalami kesulitan rohani.

Telah lama kami menyadari perlunya mengetengahkan peranan kaum awam dalam tugas pelayanan gereja. Kita tahu bahwa kalau kaum awam dalam tugas pelayanan gereja. Kita tahu bahwa kalau kaum awam dapat diikutsertakan dalam pelayanan rohani, maka taraf kerohanian jemaat akan meningkat, dan gereja-gereja akan berkembang lebih pesat.

Buku Rencana Agung Penginjilan karangan Dr. Coleman ini sangat menolong, khususnya untuk mengembangkan pelayanan kita. Buku ini dapat memberi petunjuk tentang bagaimana melaksanakan suatu program latihan kaum awam yang bermutu. Dengan menyelidiki kehidupan Tuhan Yesus serta prinsip-prinsip pelayanan-Nya terhadap kedua belas murid-Nya, Dr. Coleman telah menyusun buku mengenai prinsip-prinsip serta metoda untuk tenaga yang dibutuhkan ini. Kami harap Anda dapat memahami dan mempraktekkan rencana ini.

Kami bersyukur dapat mencetak ulang buku ini disertai beberapa perbaikan bahasa dan disesuaikan dengan ayat-ayat Alkitab terjemahan baru.

Kami mempersembahkan buku Rencana Agung Penginjilan ini kepada Anda dengan harapan bahwa buku ini akan sangat bermanfaat dalam pelayanan Anda. Penerbit



PENDAHULUAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

Tuhan Yesus dan Rencananya "Akulah jalan" (Yohanes 14:6).

Masalah dalam Metoda Penginjilan

Setiap usaha penginjilan harus diuji dengan dua ukuran: Pertama, apakah usaha itu mempunyai tujuan tertentu; kedua, apakah usaha ini mempunyai arti bagi dunia sekarang ini. Kedua hal ini saling berhubungan, dan keserasian hubungan keduanya akan menentukan makna segala kegiatan kita. Kecakapan ataupun kesibukan dalam mengerjakan sesuatu belum berarti bahwa kita telah menghasilkan sesuatu. Karena itu, dalam setiap kegiatan, kita harus selalu bertanya, "apakah usaha ini sangat penting?", "Apakah usaha ini akan mencapai tujuannya?"

Demikian pula, semua usaha penginjilan di gereja-gereja harus terus-menerus diuji: "Apakah segala usaha kita telah dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi amanat Yesus?", "Sebagai hasil usaha ini, apakah kita melihat kader pekerja-pekerja rohani yang semakin bertambah jumlahnya untuk memberitakan Injil?" Memang kita sibuk dengan berbagai program penginjilan, tetapi apakah usaha kita sedang mencapai tujuan yang benar?



Tujuan Menentukan Cara

Apabila kita menggunakan kedua ukuran itu -- tujuan dan arti -- kita perlu menyusun rencana kerja yang mantap untuk dilaksanakan hari demi hari dalam usaha mencapai tujuan jangka panjang. Jika kita ingin mengalami sukacita dalam melaksanakan rencana kerja yang sudah jelas ada manfaatnya itu, kita harus tahu cara bertindak yang sesuai dengan rencana Allah yang menyeluruh bagi kehidupan kita itu. Inilah yang harus kita perhatikan dalam menyusun rencana ataupun cara untuk memberitakan Injil. Seperti sebuah gedung yang dibangun menurut rencana penggunaannya, demikian pula halnya dengan sesuatu yang kita kerjakan harus mempunyai tujuan. Kalau tidak, segala usaha kita sia-sia dan kacau.



Mencari Prinsip-Prinsip Dasar

Itulah tujuan penulisan buku itu. Untuk menyesuaikan usaha-usaha kita dengan ukuran yang benar, terlebih dahulu kita harus melihat prinsip-prinsip dasar yang telah mempengaruhi metoda Tuhan Yesus. Karena itu, buku ini bukanlah suatu penafsiran mengenai metoda-metoda penginjilan khusus yang dipergunakan oleh Tuhan Yesus, baik secara pribadi maupun massal, melainkan suatu penyelidikan mengenai prinsip-prinsip dasar pelayanan-Nya, yaitu prinsip-prinsip yang menentukan metoda-Nya. Buku ini dapatlah disebutkan penyelidikan mengenai strategi penginjilan-Nya ditinjau dari cara Yesus hidup dan melayani selama Ia ada di dunia.



Penyelidikan dari Sumber Lain

Buku-buku dalam bidang ini jarang ditemukan. Memang hampir setiap karangan tentang kehidupan Tuhan Yesus menjelaskan juga prinsip-prinsip dasar penginjilan-Nya. Buku-buku penyelidikan mengenai metoda-metoda pengajaran Tuhan Yesus dan buku-buku yang menceritakan kehidupan serta pekerjaan-Nya, biasanya mengandung prinsip-prinsip dasar ini juga. Sebuah buku yang paling berfaedah bagi kita ialah "The Training of the Twelve (Latihan terhadap Kedua Belas Murid) oleh A.B. Bruce. Buku ini pertama-tama diterbitkan tahun 1871, dan diredaksi kembali tahun 1899, mengisahkan pertumbuhan murid-murid di bawah asuhan Tuhan Yesus. Sebuah buku yang lain, yaitu Pastor Pastorum (Pelayanan Pendeta) oleh Henry Lathan, ditulis tahun 1890, mengupas cara Tuhan Yesus melatih orang-orang. Kemudian terbit beberapa buku kecil yang menguraikan pekerjaan Yesus.

Baru-baru ini ditambah beberapa buku lagi mengenai kehidupan dan pelayanan gereja, khususnya, mengenai pertumbuhan kelompok-kelompok kecil dan kesaksian kaum awam. Walaupun pengarang buku-buku itu kurang menekankan strategi penginjilan, namun kita harus berterima kasih atas penjelasan mereka mengenai prinsip-prinsip dasar dari pelayanan dan pekerjaan Tuhan kita.

Bagaimanapun juga prinsip-prinsip dasar penginjilan yang dipergunakan Tuhan Yesus ini merupakan pusat perhatian kita, karena itu kita memerlukan penyelidikan dan penjelasan lebih lanjut, khususnya dari Alkitab.



Rencana Penyelidikan Kita

Untuk dapat memahami dengan baik rencana kerja Tuhan Yesus, kita harus mempelajari Kitab Perjanjian Baru, khususnya keempat Kitab Injil. Hanya kitab-kitab inilah sebenarnya yang memberikan kesaksian yang benar mengenai Yesus dan pekerjaanNya (Luk 1:2-3; Yoh 20:30; 21:24; 1Yoh 1:1).

Keempat Kitab Injil itu pertama-tama ditulis untuk menunjukkan kepada kita bahwa Yesuslah Mesias. Anak Allah, dan supaya kita oleh iman memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20:31). Tetapi, kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa pernyataan itu juga mencakup cara hidup-Nya sendiri dan cara hidup yang diajarkan-Nya kepada orang lain. Para penulis Kitab Injil bukan sekedar melihat cara hidup Yesus yang benar, namun kehidupan merekapun telah diubah oleh kebenaran itu. Itulah sebabnya mereka menuliskan hal-hal yang telah membuat mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Tentu saja tidak semua hal diceritakan. Seperti halnya para penulis sejarah, para penulis Injilpun melukiskan suatu gambaran yang lengkap dengan menonjolkan beberapa pribadi pilihan serta pengalaman mereka, dan peristiwa yang penting. Akan tetapi, kita yakin bahwa segala sesuatu yang telah dengan cermat dipilih dan dituliskan di bawah pimpinan Roh Kudus itu bertujuan untuk mengajar kita bagaimana mengikut Yesus. Itulah sebabnya riwayat kehidupan Tuhan Yesus di dalam Alkitab merupakan penuntun yang terbaik mengenai metoda penginjilan.

Rencana penyelidikan ini juga dimaksudkan untuk mengikuti langkah-langkah yang dipergunakan Tuhan Yesus seperti yang ditunjukkan dalam keempat Injil -- meneliti riwayat hidup-Nya dari berbagai sudut untuk memahami cara pelayanan-Nya, dan menganalisa rencana pelayanan-Nya secara umum untuk menanggapi makna yang lebih luas dari metoda-metoda yang dipakai-Nya dalam pelayanan. Memang tugas ini tidak mudah dan masih banyak yang harus dipelajari. Kesempurnaan Tuhan yang mulia tidak dapat dibatasi oleh pengertian manusia. Makin lama kita memandang Dia, makin jelas kita melihat kebenaran itu.



Kristuslah Teladan yang Sempurna

Tidak ada penyelidikan yang lebih menguntungkan selain penyelidikan mengenai kehidupan Kristen. Walaupun kita mendapat memahami seluruhnya, kita tahu bahwa Yesuslah Guru yang sempurna. Ia tidak pernah berbuat salah. Sebagai manusia, Ia sering dicobai seperti kita, tetapi Ia tidak pernah berbuat dosa. Ia tidak dibatasi oleh keadaan tubuh manusiawi yang diterima-Nya demi kita. Sekalipun Ia tidak mempergunakan sifat keilahian-Nya, namun pikiran-Nya jernih. Ia senantiasa tahu apa yang benar, dan sebagai Manusia yang sempurna, Ia hidup sebagai Allah yang hidup di antara manusia.



Tujuan-Nya Jelas

Sejak semula, tujuan hidup-Nya di dunia ialah untuk menyatakan rencana Allah. Inilah yang senantiasa dipikirkan-Nya. Ia bertujuan untuk menyelamatkan bagi-Nya suatu bangsa, dan membangun suatu jemaat rohani yang tidak akan binasa. Ia menantikan Kerajaan-Nya yang akan datang dalam kemuliaan dan kuasa. Ia menciptakan dunia ini, tetapi Ia bertujuan bukan untuk menjadikan dunia ini tempat tinggal-Nya yang kekal. Rumah-Nya adalah surga. Di sana Ia menyediakan tempat bagi umat-Nya.

Tidak ada seorang pun yang luput dari tujuan-Nya yang penuh kasih karunia. Ia mengasihi semua orang. Jangan kita salah paham tentang kasih-Nya yang besar itu. Ia adalah "Juruselamat dunia" (Yoh 4:42). Allah menghendaki "supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (1Tim 2:4). Untuk itulah Yesus menyerahkan diri-Nya bagi orang-orang berdosa. Ia mati untuk satu orang dan untuk semua orang. Cara berpikir-Nya sangat berbeda dengan kita. Ia tidak membedakan pemberitaan Injil di dalam maupun di luar negeri, karena bagi Dia seluruh dunia harus diinjili.



Ia Merencanakan untuk Menang

Tujuan hidup Yesus hanya satu, yaitu menebus dunia ini bagi Allah. Tujuan inilah yang menjadi dasar dari setiap kata dan perbuatan-Nya. Tujuan inilah yang mengatur langkah-langkah-Nya. Perhatikanlah hal ini. Tidak pernah sedikit pun Yesus menyimpang dari tujuan-Nya.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk meneliti cara kerja Yesus yang merupakan cara Allah untuk memenangkan dunia ini. Ia yakin akan masa yang akan datang, sebab Ia hidup sesuai dengan rencana itu. Tidak ada sesuatu kebetulan yang terjadi dalam hidup-Nya. Ia tidak pernah membuang tenaga dan kata-kata-Nya dengan percuma. Ia hanya melakukan pekerjaan Allah. Ia hidup, mati, dan bangkit kembali sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh Allah. Seperti seorang jendral yang merencanakan siasat peperangan, demikian pula Anak Allah merencanakan untuk menang. Dengan mempertimbangkan setiap kemungkinan dan keadaan yang berubah-ubah dalam pengalaman manusia, Ia telah membuat suatu rencana yang tidak mungkin gagal.



Penyelidikan yang Tepat

Banyak rahasia terungkap dengan menyelidiki rencana Yesus. Seorang murid Kristus akan memperoleh kesimpulan-kesimpulan yang dalam, dan mungkin pula beraneka-ragam dengan merenungkan pokok ini sungguh-sungguh, walaupun kesimpulan-kesimpulan ini datangnya lambat dan terasa sukar. Mula-mula tampaknya Yesus tidak mempunyai rencana apa pun. Dengan pendekatan lain, mungkin tampak bahwa Yesus menggunakan suatu teknik tertentu, tetapi pola dasar teknik inipun tetap tersembunyi. Cara kerja-Nya demikian sederhana dan tenang, sehingga tidak akan mungkin tampak oleh petugas gereja yang selalu tergesa-gesa. Akan tetapi, apabila murid-murid menyelidiki metoda ini dengan pikiran yang jernih dan terbuka, mereka pasti merasa heran akan kesederhanaan rencan-Nya yang tidak mereka sadari sebelumnya. Namun, bila rencana-Nya ini dipikirkan, tampak bahwa prinsip dasar dari rencana-rencana kerja-Nya berbeda sekali dengan prinsip dasar dari rencana gereja masa kini, dan jelas bahwa implikasi-implikasi-Nya benar-benar revolusioner.

Pasal-pasal yang berikut menerangkan delapan prinsip dasar dari rencana Yesus. Sebenarnya, semua langkah itu tidak selalu harus dilakukan secara beruntun. Misalnya, pasal terakhir tidak selalu harus dilakukan setelah pasal-pasal sebelumnya. Demikian pula, kita tidak selalu harus mulai dari pasal pertama. Garis besar ini dimaksudkan untuk memberikan susunan mengenai rencana-Nya. Dengan mempelajari pasal-pasal selanjutnya, maka prinsip-prinsip atau langkah- langkah itu akan makin jelas.



1. PEMILIHAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Ia...memilih dari antara mereka dua belas orang" (Lukas 6:13).

Orang-Orang Adalah Metoda-Nya

Pelayanan Tuhan Yesus dimulai pada saat Ia memanggil beberapa orang untuk mengikut Dia. Hal ini langsung menyatakan strategi penginjilan-Nya. Perhatian-Nya tidak ditujukan kepada cara-cara untuk mendekati orang banyak, tetapi mendekati beberapa orang yang kemudian akan diikuti oleh orang banyak. Tampaknya cukup mengherankan bahwa Yesus mulai mengumpulkan orang-orang ini sebelum Ia berkeliling memberitakan Injil ataupun mengadakan suatu kampanye penginjilan, atau berkhotbah di muka umum. Pribadi-pribadi itulah metoda-Nya untuk memenangkan dunia ini bagi Allah.

Tujuan utama dari rencana Tuhan Yesus ialah untuk memilih orang-orang yang dapat memberi kesaksian tentang hidup-Nya, dan melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Ia kembali kepada Bapa. Yohanes dan Andreas adalah orang-orang yang pertama yang dipanggil oleh Tuhan Yesus sewaktu Ia meninggalkan Betania, di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes Pembaptis membaptiskan orang (Yoh 1:35-40). Kemudian Andreas membawa Petrus, saudaranya (Yoh 1:41-42). Keesokan harinya, dalam perjalanan-Nya ke Galilea, Tuhan Yesus bertemu dengan Filipus; dan kemudian, Filipus bertemu dengan Natanael (Yoh 1:43-51). Ia memilih murid-murid-Nya dengan terburu-buru. Yakobus, saudara Yohanes, baru disebut murid yang tergabung dalam kelompok itu, beberapa bulan kemudian setelah keempat nelayan itu dipanggil kembali untuk kedua kalinya (Mat 4:21; Mar 1:19). Tidak lama kemudian, Matius (Lewi) dipanggil untuk mengikut Tuhan Yesus ketika Ia melalui Kapernaum (Mat 9:9; Mar 2:13-14; Luk 5:27-28). Cara Yesus memanggil murid-murid yang lain tidak dijelaskan dalam Alkitab, tetapi diperkirakan bahwa semuanya dipanggil pada tahun pertama pelayanan-Nya.1

Tampaknya usaha-usaha pertama untuk memenangkan jiwa ini hanya mempunyai sedikit pengaruh bagi kehidupan rohani orang-orang pada masa itu. Walaupun demikian, Tuhan Yesus tidak bertidak dengan tergesa-tergesa. Ia tahu bahwa usaha ini memerlukan waktu. Kemudian ternyata bahwa beberapa orang yang pertama-tama bertobat kepada Tuhan inilah yang menjadi pemimpin-pemimpin gereja Tuhan, yang pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil. Dipandang dari segi tujuan-Nya, pengaruh orang-orang yang pertama itu secara khusus dapat dirasakan untuk selama-lamanya.

-----
1. Salah satu syarat bagi seorang rasul seperti yang diterangkan dalam Kisah 1:21-22, ialah bahwa ia harus senantiasa berada bersama-sama dengan Yesus, "yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga." Walaupun hal ini tidak menjelaskan mulai kapan kita harus menghitung (tentu tidak mulai dari permulaan baptisannya atau baptisan Yesus sendiri), namun cukup meragukan mengenai adanya persekutuan pendahuluan antara semua rasul dengan Yesus, mungkin mulai dari masa Yohanes Pembaptis di penjarakan. Lihat buku yang ditulis oleh Samuel J. Andrews, The Life of Our Lord, Grand Rapids, Zondervan, 1958, hal. 268; bandingkan dengan Alfred Edersheim, The Life and Times of Jesus the Messiah, I, New York, E.R. Herrick abd Co., 1886, hal. 521.



Orang-orang yang Ingin Belajar

Yang mengesankan mengenai orang-orang ini ialah bahwa tampaknya mereka bukanlah orang-orang yang sangat menonjol. Mereka bukan pemimpin sinagoga, bukan pula imam. Mereka adalah buruh-buruh biasa. Mungkin juga mereka bekerja tanpa melalui latihan atau pendidikan secara khusus sebelumnya. Memang ada dari antara mereka berasal dari keluarga yang cukup berada, seperti Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus itu. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat digolongkan kaya. Mereka tidak mempunyai gelar dalam ilmu sastra ataupun filsafat. Seperti Guru mereka, mereka hanya tamatan sinagoga. Mereka kebanyakan dibesarkan dalam lingkungan orang miskin di daerah Galilea. Dari kedua belas murid itu, hanya satu orang saja yang tampaknya lebih terkemuka, datang dari daerah Yudea, yaitu Yudas Iskarioat. Dinilai dari tingkat pendidikan, baik pada waktu itu maupun sekarang, mereka seharusnya dianggap sebagai kelompok orang-orang yang agak kasar. Sungguh mengherankan bahwa Tuhan Yesus dapat memakai mereka. Mereka adalah orang-orang yang mudah dipengaruhi dan mudah tersinggung. Singkatnya, mereka yang dipilih oleh Tuhan menjadi pengikut-pengikut-Nya adalah orang-orang dari berbagai tingkatan dan golongan masyarakat pada waktu itu. Orang-orang pada waktu itu sedikit pun tidak mengira bahwa kelompok inilah yang kelak memenangkan dunia bagi Kristus.

Meskipun demikian, Yesus melihat di dalam orang-orang yang sederhana ini suatu sumber kepemimpinan bagi kerajaan-Nya. Mereka sebenarnya adalah orang "orang biasa yang tidak terpelajar" menurut ukuran dunia (Kisah 4:13), tetapi mereka mau diajar. Walaupun mereka sering mengambil keputusan yang salah dan lambat mengerti hal-hal rohani, namun mereka adalah orang-orang yang jujur dan berterus-terang mengenai kebutuhan mereka. Tata cara mereka sering kurang lembut dan kecakapan mereka sangat terbatas, tetapi mereka adalah orang-orang yang berjiwa besar, kecuali salah seorang murid-Nya yang kemudian menjadi pengkhianat itu.

Yang paling menonjol dalam diri mereka adalah kerinduan mereka terhadap Allah dan terhadap hal-hal yang nyata dalam kehidupan-Nya. Kedangkalan kehidupan agama di sekeliling mereka tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bertemu dengan Mesias (Yoh 1:41,45,49; 6:69). Mereka sudah bosan dengan kemunafikan kaum ningrat yang memerintah pada masa itu. Sebagian dari mereka yang kemudian menjadi murid-murid Tuhan Yesus, sebelumnya sudah menggabungkan diri dengan gerakan pemabaharuan dari Yohanes Pembabtis yang memanggil orang berdosa untuk bertobat kepada Allah (Yoh 1:35). Mereka sedang mencari seseorang yang dapat memimpin mereka kepada jalan keselamatan. Orang-orang yang demikianlah yang dapat dibentuk menjadi ciptaan baru dalam tangan Yesus. Ia dapat memakai siapa saja yang mau dipakai-Nya.



Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi

Dalam hal ini, kita perlu mengamati kebenaran praktis dalam cara Yesus bekerja. Inilah kebijaksanaan dari metoda-Nya, dan dalam mempertimbangkan hal ini, kita kembali lagi kepada prinsip pokok mengenai pemusatan perhatian kepada mereka yang hendak dipakai-Nya. Dunia dapat diubah hanya apabila orang-orang yang ada di dalamnya telah diubah lebih dahulu. Orang-orang itu hanya dapat diubah apabila mereka telah dibentuk menjadi ciptaan baru dalam tangan Tuhan Yesus. Jadi, jelaslah bahwa kita bukan hanya perlu memilih beberapa kaum awam saja, tetapi juga membatasi jumlah orang dalam kelompok itu supaya tidak terlalu banyak, sehingga kita dapat bekerja dengan mereka dan berhasil baik.

Karena itu, ketika jumlah pengikut Yesus bertambah, pada pertengahan tahun kedua dari pelayanan-Nya Ia merasa perlu memperkecil kelompok pilihan-Nya ini menjadi satu kelompok inti, yang mudah dipimpin-Nya. Itulah sebabnya Yesus "memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul" (Luk 6:13-17; bandingkan dengan Mar 3:13-19). Terlepas dari arti simbolik yang hendak kita kenakan pada angka dua belas ini, jelaslah bahwa Yesus ingin supaya orang-orang ini mempunyai hak istimewa yang unik serta kewajiban khusus dalam pekerjaan Kerajaan-Nya.2

Apabila Tuhan Yesus menjatuhkan pilihan-Nya hanya kepada kedua belas murid itu saja, bukan berarti bahwa Ia menolak orang-orang lain yang ingin mengikut Dia. Seperti kita ketahui, banyak lagi yang lain yang mengikut Dia dan beberapa dari mereka menjadi mereka pekerja- pekerja yang baik di dalam gereja, misalnya: ketujuh puluh murid-Nya (Luk 10:1); Markus dan Lukas, penulis-penulis Kitab Injil; Yakobus, saudara Tuhan Yesus sendiri (1Kor 15:7; Gal 2:9,12; bandingkan dengan Yoh 2:13; 7:2-10). Namun kita harus mengakui bahwa sedikit demi sedikit Tuhan Yesus mengurangi perhatian-Nya kepada orang-orang di luar kelompok murid-Nya yang dua belas orang itu.

Prinsip yang sama ini masih terus dipakai di kalangan rasul-rasul yang terpilih itu. Petrus, Yakobus, dan Yohanes tampaknya mempunyai hubungan yang lebih istimewa dengan Tuhan daripada sembilan rasul lainnya. Hanya ketiga orang yang mempunyai hak istimewa inilah yang diminta masuk ke dalam kamar anak Yairus yang sakit (Mar 5:37; Luk 8:51); mereka inilah yang naik bersama-sama dengan dengan Tuhan Yesus dan melihat kemuliaan-Nya di atas gunung (Mat 17:1; Mar 9:2; Luk 9:20); dan di tengah-tengah pohon zaitun di Taman Getsemani yang melemparkan bayangannya dalam fajar Paskah, ketiga orang inilah yang duduk paling dekat dengan Tuhan sementara Ia berdoa (Mat 26:37; Mar 14:33). Begitu jelas pilihan yang diberikan kepada ketiga orang ini, sehingga apabila murid-murid-Nya yang lain tidak tahu bahwa Kristus tidak pernah mementingkan diri-Nya sendiri, tentu mereka tidak senang dengan adanya pemisahan ini. Terbukti bahwa di dalam Alkitab tidak tercatat tentang keluhan apa pun dari murid yang lain mengenai keistimewaan yang diberikan kepada ketiga orang ini. Walaupun mereka pernah menggerutu tetang hal- hal lain, namun ini adalah bukti bahwa apabila pilihan dinyatakan dalam cara dan untuk maksud yang benar, tidak perlu ada hal yang menyinggung perasaan.

-----
2. Berbagai pendapat telah dikemukakan tentang alasan mengapa kedua belas murid diberi gelar rasul, karena sebenarnya Yesus dapat memilih lebih dari jumlah itu, ataupun memilih jumlah yang lebih kecil. Tetapi mungkin teori yang paling dapat diterima ialah bahwa jumlah itu mengumpamakan hubungan secara rohani antara persekutuan rasuli dan Kerajaan Allah di bawah Mesias. Sebagaimana Edwin Schell mengatakan, "Dua belas adalah jumlah suku bangsa Israel secara rohani. Baik ditinjau dari adanya kedua belas kepala keluarga, kedua belas suku ataupun dari kedua belas dasar dari kedua belas pintu gerbang surgawi Yerusalem Baru, angka dua belas selalu melambangkan berdiamnya Allah di antara manusia - pembauran dunia dalam ketuhanan, "Edwin A. Schell, Traits of The Twelve, Cincinnati, Jenning and Graham, 1911, hal. 26. Memang ada kemungkinan bahwa para rasul melihat jumlah itu secara harfiah yang berarti angka dua belas, dan membangun di atasnya harapan-harapan yang muluk-muluk tentang pemulihan kembali bangsa Israel dalam arti politis. Mereka pasti sadar akan kedudukan masing-masing di dalam persekutuan yang berjumlah dua belas orang itu, dan berhati-hati untuk mengisi kekosongan yang ditimbulkan oleh perginya Yudas (Kisah 1:15-26; bandingkan dengan Mat 19:28). Bagaimanapun juga ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa angka itu menekankan pentingnya kedudukan mereka dalam pekerjaan Kerajaan Allah yang akan datang.



Prinsip yang Ditekankan

Semuanya ini menjalaskan bagaimana cara Yesus dengan seksama membagi waktu-Nya kepada orang-orang yang hendak dilatih-Nya. Hal ini juga menunjukkan satu prinsip pokok mengenai cara mengajar. Lebih kecil jumlah orang-orang yang diajar, lebih besar kemungkinan untuk memberikan pengajaran yang berhasil baik.3

Yesus mencurahkan sebagian besar dari sisa hidup-Nya di bumi kepada murid-murid pilihan ini. Untuk mempersiapkan murid-murid-Nya, Ia mempertaruhkan seluruh kekuatan-Nya bagi mereka. Dunia boleh saja bersikap acuh tak acuh terhadap Dia, namun sikap ini tidak dapat menggagalkan rencana-Nya. Ia bahkan tidak merasa khawatir sama sekali pada waktu pengikut-pengikut-Nya mengundurkan diri dan mereka tidak setia lagi pada waktu mereka diperhadapkan kepada arti yang sebenarnya dari Kerajaan Allah (Yoh 6:66). Tetapi Ia tidak dapat membiarkan murid-murid pilihan-Nya melepaskan diri dari tujuan-Nya. Mereka harus mengerti akan kebenaran itu dan mereka harus disucikan bagi Allah "bukan untuk dunia ini", tetapi untuk beberapa orang itu yang telah Allah berikan kepada-Nya "dari dunia ini" (Yoh 17:6,9).4 Segalanya bergantung pada kesetiaan mereka apabila mereka ingin supaya dunia ini percaya kepada Yesus "oleh pemberitaan mereka" (Yoh 17:20).

-----
3. Prinsip pemusatan yang dipakai dalam pelayanan Yesus, bukanlah prinsip baru bagi-Nya, sebab hal itu merupakan cara Allah Bapa sejak bumi diciptakan. Perjanjian Lama menunjukkan bagaimana Allah memilih bangsa Israel yang berjumlah sedikit untuk menyatakan maksud-Nya bagi seluruh umat manusia. Bahkan di dalam bangsa yang sedikit jumlahnya ini, biasanya kepemimpinan dipusatkan di dalam tali kekeluargaan, khususnya keturunan Daud dari suku Yehuda.

4. Doa Tuhan Yesus sebagai Imam Besar dalam Injil Yohanes pasal 17 mempunyai arti yang khusus di dalam hubungan ini. Dari 26 ayat tentang doa itu, ada 14 ayat yang merupakan doa Tuhan Yesus bagi kedua belas murid-Nya (Yoh 17:6-19).



Tidak Melalaikan Orang Banyak

Berdasarkan apa yang telah ditekankan di sini, salah sekali kalau kita menganggap bahwa Tuhan Yesus melalaikan orang banyak yang mengikut Dia. Ini tidak benar. Yesus melakukan segala sesuatu yang siapapun dapat diminta untuk melakukannya - untuk menghubungi orang banyak. Hal-hal yang pertama dilakukan-Nya ketika Ia memulai pelayanan-Nya ialah memihak dengan berani kepada gerekan kebangunan rohani pada zaman-Nya dengan memberi diri-Nya dibaptis oleh Yohanes (Mat 3:13-17; Mar 1:9-11; Luk 3:21-22), dan kemudian di depan orang banyak Ia memuji pekerjaan nabi besar itu (Mat 11:7-15; Luk 7:24-28). Ia sendiri tidak henti-hentinya berkhotbah kepada orang banyak yang mengikuti pelayanan-Nya yang penuh kuasa. Ia mengajar mereka. Ia memberi makanan kepada mereka yang lapar. Ia menyembuhkan mereka yang sakit, dan mengusir setan dari dalam mereka. Ia memberkati anak-anak mereka. Kadang-kadang sepanjang hari Ia melayani keperluan mereka, sehingga "makan pun Ia tidak sempat" (Mar 6:31). Sedapat mungkin Tuhan Yesus berusaha menunjukkan perhatian yang sejati kepada orang banyak. Untuk keselamatan merekalah Tuhan Yesus telah datang -- Ia mengasihi mereka, menangisi mereka, dan akhirnya Ia mati untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka. Tidak seorang pun dapat menganggap bahwa Yesus mencoba menghindari penginjilan kepada orang banyak.



Orang Banyak Dibangkitkan

Sesungguhnya, kecakapan Tuhan Yesus untuk menarik perhatian orang banyak telah menimbulkan masalah yang serius dalam pelayanan-Nya. Ia telah begitu dalam menyatakan rahmat dan kuasa-Nya kepada mereka, sehingga mereka pernah mencoba "membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja" (Yoh 6:15). Para pengikut Yohanes pembaptis melaporkan bahwa "semua orang" datang kepada-Nya (Yoh 3:16). Bahkan orang-orang Farisi sendiri mengakui bahwa seluruh dunia telah mengikuti Dia (Yoh 12:19). Para imam pun menyadari bahwa jika hal ini terus-menerus dibiarkan, maka seluruh rakyat akan percaya kepada-Nya (Yoh 11:47-48). Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus mempunyai banyak pengikut, meskipun mereka sering kurang setia. Keadaan ini terus berlangsung sampai akhir. Sebenarnya, justru karena takut akan sikap orang banyak yang bersahabat terhadap Tuhan Yesus itulah yang menyebabkan musuh-musuh-Nya berusaha mencari jalan untuk menangkap Dia pada waktu orang banyak tidak berada bersama- sama dengan Dia (Mat 21:26; Mar 12:12; Luk 20:19).

Seandainya Yesus memberikan sedikit saja semangat kepada orang banyak untuk membuat diri-Nya terkenal, tentu Ia dapat dengan mudah menguasai seluruh kerajaan manusia. Percobaan seperti itulah yang diberikan oleh Iblis kepada Tuhan Yesus di padang gurun waktu Ia dibujuk untuk mengubah batu menjadi roti dan menjatuhkan diri-Nya ke bawah dari bubungan Bait Allah agar Allah menantang Dia di atas tangan-Nya (Mat 4:1-7; Luk 4:1-4, 9-13). Seandainya Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang besar itu, pasti Ia akan memenangkan orang banyak itu. Sebenarnya Iblis tidak menawarkan sesuatu kepada Yesus ketika ia menjanjikan semua kerajaan dunia ini apabila Yesus mau menyembah dia (Mat 4:8-10). Kepala penipu manusia itu tahu pasti bahwa Tuhan Yesus mendapat segalanya dengan mudah jika Ia mau melepaskan perhatian-Nya dari hal-hal yang berkenaan dengan Kerajaan Allah yang kekal itu.

Tetapi Tuhan Yesus tidak bermaksud hanya untuk menyenangkan hati rakyat jelata, melainkan sebaliknya. Berung kali dengan susah payah Ia menghadiri dukungan orang banyak yang digerakkan oleh kuasa mukjizat-Nya (misalnya Yoh 2:23-3:3; 6:26-27). Sering Ia meminta orang-orang yang sudah disembuhkan supaya jangan menceritakan tentang kesembuhan itu kepada orang-orang lain. Itu dilakukan-Nya agar tidak menimbulkan demonstrasi dari orang banyak yang mudah dibangkitkan itu.5 Demikian juga kepada murid-murid yang melihat Dia dimuliakan di atas gunung, Yesus berpesan supaya mereka jangan menceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum anak manusia dibangkitkan dari antara orang mati (Mat 17:9; Mr 9:9). Pada peristiwa lain, waktu orang banyak bersorak-sorak memuji Dia, Yesus langsung mengasingkan diri dengan murid-murid- Nya ke tempat lain.6

Cara kerja-Nya yang demikian sering tidak disukai oleh para pengikut-Nya yang tidak mengerti strategi-Nya. Bahkan saudara-saudara-Nya yang perempuan dan laki-laki sendiri pun yang pada waktu itu belum percaya kepada-Nya, menganjurkan Dia agar melepaskan rencana-Nya ini dan menampakkan diri-Nya kepada dunia dengan terang-terangan, tetapi Ia menolak nasihat mereka (Yoh 7:2-9).

-----
5. Contoh-contoh mengenai hal ini ialah penyembuhan seorang yang sakit kusta (Mat 8:4; Mar 1:44-45; Luk 5:14-16); mereka yang disembuhkan dari kerasukan setan di Danau Galilea (Mar 3:11-12); Yairus, setelah anak perempuannya dihidupkan kembali (Mar 5:42-43; Luk 8:55-56); kedua orang buta yang dicelikkan (Mat 9:30); dan penyembuhan orang buta di Betsaida (Mar 8:25-26).

6. Contoh-contoh mengenai hal ini terdapat dalam Matius 8:18,23; Mat 14:22-23; 15:21,39; 16:4; Mar 4:34-36; 6:1; 45-46; 7:24-8:30; Lukas 5:16; 8:22; Yohanes 1:29-43; 6:14-15; dan lain-lain.



Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti

Mengingat strategi-Nya ini, maka tidak heran kalau hanya sedikit yang benar-benar bertobat pada masa pelayanan Kristus. Tentu saja, banyak yang percaya kepada-Nya dalam pengertian bahwa pelayanan-Nya dapat diterima, tetapi hanya sedikit yang mengerti arti Injil. Mungkin jumlah seluruh pengikut-Nya yang setia pada akhir pelayanan-Nya di dunia ini hanya kira-kira 500 orang, kepada siapa Yesus menampakkan diri-Nya setelah Ia bangkit (1Kor 15:6), dan hanya kira-kira 120 orang yang tetap tinggal di Yerusalem untuk menerima baptisan Roh Kudus (Kisah 1:15). Sekalipun jumlah ini bukanlah jumlah yang kecil mengingat pelayanan-Nya yang aktif hanya sekitar tiga tahun, namun jika seseorang ingin mengukur hasil penginjilan-Nya atas dasar jumlah orang yang dibawa-Nya kepada pertobatan, pasti Yesus tidak akan digolongkan kepada penginjil-penginjil umum yang paling berhasil.



Strategi-Nya

Mengapa Yesus sengaja memusatkan perhatian-Nya hanya kepada beberapa orang saja? Bukankah Ia datang untuk menyelamatkan seluruh dunia ini? Dengan khotbah Yohanes Pembaptis yang membakar semangat, yang terus berkumandang di telinga orang banyak, Sang Guru dengan mudah dapat mengumpulkan ribuan orang untuk segera mengikut Dia jika ia menghendakinya. Akan tetapi, mengapa Ia tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengumpulkan sepasukan besar petobat untuk merebut dunia ini dengan suatu "serangan" yang mendadak? Tentu Anak Allah itu dapat memakai suatu rencana untuk mengumpulkan orang banyak. Bukankah mengecewakan bila seorang yang memiliki segala kuasa di dunia ini dalam tangan-Nya, yang hidup dan kemudian mati untuk menyelamatkan dunia ini, namun akhirnya hanya mempunyai beberapa murid saja sebagai hasil pekerja-Nya?

Jawaban untuk pertanyaan ini segera menjelaskan maksud yang sebenarnya dari rencana penginjilan-Nya. Yesus bukan bermaksud untuk mempengaruhi orang banyak, melainkan untuk memproklamirkan kedatangan suatu kerajaan. Ini berarti bahwa Ia membutuhkan orang-orang yang dapat memimpin orang banyak. Apa gunanya tujuan-Nya yang terakhir untuk menggerakkan orang banyak supaya mengikut Dia, jika kemudian orang-orang ini tidak diperhatikan ataupun tidak diberi pengajaran dalam jalan itu? Telah dibuktikan dalam beberapa peristiwa bahwa orang banyak itu dapat dengan mudah beralih menyembah berhala-hala jika mereka tidak diperhatikan dengan baik. Orang banyak itu bagaikan domba-domba yang tidak mempunyai gembala (Mat 9:36; 14:14; Mar 6:34). Mereka bersedia mengikuti siapa saja yang datang kepada mereka dengan janji-janji yang muluk untuk kesejahteraan mereka, baik ia kawan maupun lawan. Keadaan itu sungguh menyedihkan -- cita-cita luhur dari orang-orang ini dapat dibangkitkan dengan mudah oleh Tuhan Yesus, tetapi dengan cepat pula dipadamkan oleh pemimpin-pemimpin agama-agama palsu yang menguasai mereka. Para pemimpin Yahudi yang buta rohani (Yoh 8:44; 9:39-41; 12:40; bandingkan dengan Mat 23:1-39), walaupun sedikit jumlahnya, dapat menguasai orang-orang itu.7 Oleh sebab itu, jika para petobat itu tidak diberi pemimpin-pemimpin rohani yang Tuhan pilih untuk memimpin dan melindungi mereka dari kebenaran, tentu mereka akan cepat jatuh kekacauan dan keputusasaan, dan akhirnya keadaan mereka bahkan akan lebih menyedihkan dari keadaan semula. Jadi, sebelum dunia ini dapat ditolong secara kekal, orang-orang harus dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dalam hal-hal rohani.

Yesus seorang yang realisitis. Ia sepenuhnya menyadari kelemahan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, serta adanya kuasa Iblis di dalam dunia ini yang selalu menyerang manusia. Dengan kesadaran inilah Ia mendasarkan pemberitaan-Nya pada satu rencana yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang yang tadinya berselisih paham dan merasa bingung akhirnya bersedia mengikut Yesus. Namun demikian tidak mungkin Ia dapat memberikan bimbingan pribadi yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Jalan satu-satunya ialah memenuhi pribadi-pribadi itu dengan hidupnya sehingga mereka dapat melaksanakan amanat-Nya. Oleh sebab itu, Ia memusatkan perhatian-Nya kepada beberapa orang yang akan menjadi pemimpin-pemimpin yang pertama. Meskipun Ia berusaha sedapat mungkin untuk membantu mereka semua, Ia harus memusatkan perhatian-Nya pertama-tama kepada beberapa orang penting ("kunci"), supaya pada akhirnya semua orang dapat diselamatkan. Inilah kehebatan dari strategi-Nya.

-----
7. Orang Farisi dan orang Saduki adalah pemimpin-pemimpin utama bangsa Israel, di samping kekuasaan pemerintahan Romawi, dan seluruh kehidupan agama, sosial, dan pendidikan, sampai batas tertentu, kehidupan politik dari kira- kira 2.000.000 orang penduduk di Palestina pada waktu itu telah dibentuk oleh tata cara mereka. Walaupun demikian, jumlah orang yang termasuk kelompok orang Farisi, kebanyakan terdiri dari guru-guru dan orang-orang golongan atas yang menurut perkiraan Josephus (Ant, XVII, 2,4) mencapai jumlah tidak lebih dari 6.000 orang. Sedangkan jumlah seluruh orang Saduki yang kebanyakan terdiri dari imam-imam kepala dan keluarga Sanhedrin di Yerusalem, mungkin tidak lebih dari beberapa ratus orang saja. Lihat Anthony C. Deane, The World Christ Knew, Guild Books, 1944, hal. 57, 60; Edersheim, op. cit., I hal. 311. Apabila dianggap bahwa jumlah kelompok kecil yang istimewa ini tidak lebih dari dari 7.000 orang (kira-kira sepertiga dari satu persen penduduk Israel), tidaklah sukar untuk memahami mengapa Yesus begitu banyak membicarakan tentang mereka, sementara itu juga mengajar murid-murid-Nya tentang kebutuhan yang mendesak bagi kepemimpinan yang lebih baik.



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

Yang mengherankan ialah bahwa prinsip-Nya ini kurang dipakai dalam kerja pemberitaan Injil dewasa ini. Sebagian besar penginjilan gerejani dimulai dengan orang banyak dengan dugaan bahwa gereja sanggup melayani mereka selanjutnya. Hasilnya ialah kita terlalu mementingkan statistik petobat-petobat baru, calon-calon yang minta dibaptis, dan berusaha menambah anggota-anggota gereja. Dengan demikian, perhatian untuk meneguhkan jiwa-jiwa ini dalam kasih dan kuasa Allah sangat sedikit.

Sesungguhnya jika cara Yesus bekerja pada segi ini benar-benar berarti, maka hal ini mengajarkan bahwa kewajiban utama seorang pendeta atau perhatian utama seorang penginjil ialah meletakkan dasar penginjilan yang efektif dan terus-menerus kepada orang banyak. Tentu ini akan memerlukan lebih banyak pemusatan waktu dan bakat-bakat ke atas beberapa orang di dalam gereja tanpa melalaikan kepentingan orang banyak. Ini berarti akan berarti melatih pemimpin "bagi pekerjaan pelayanan" bersama pendetanya (Ef 4:12). Beberapa orang yang sudah menyerahkan dirinya sedemikian rupa itulah yang kelak menggoncangkan dunia bagi Allah. Kemenangan tidak pernah dicapai secara massal.

Mungkin ada orang yang menentang prinsip ini, karena seolah-olah kita lebih menghargai segolongan orang saja di dalam gereja. Meskipun demikian, itulah Cara yang Tuhan Yesus pakai dan cara ini perlu dipakai jika pemimpin-pemimpin yang mantap hendak dilatih. Apabila hal ini dipraktekkan dengan kasih yang murni demi kebutuhan orang banyak, keberatan-keberatan dapat diatasi.

Sesungguhnya, tujuan pokok harus jelas bagi pekerja-pekerja yang bersangkutan. Orang-orang yang hendak dilatih harus dipilih dengan teliti dan dengan bijaksana, karena segala seuatu yang dikerjakan melalui beberapa orang ini adalah untuk keselamatan orang banyak.



Satu Demonstrasi Modern

Prinsip pemilihan dan pemusatan perhatian kepada beberapa orang telah ditemukan di seluruh dunia ini dan pasti akan membawa hasil, siapa yang mempraktekkannya, baik gereja mau menerimanya atau tidak. Yang penting kita ketahui adalah bahwa kaum komunis, yang selalu menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berhasil, telah mengambil alih metoda Tuhan ini. Dengan memakai cara ini untuk tujuan yang bengkok, sampai akhir abad kesembilan belas mereka telah berkembang dari satu satu kelompok kecil orang-orang fanatik menjadi satu komplotan besar yang memperbudak hampir setengah penduduk dunia ini. Sekarang mereka telah membuktikan apa yang telah diperlihatkan oleh Yesus dengan jelas pada zaman-Nya, bahwa orang banyak dapat dimenangkan dengan mudah jika mereka diberi pemimpin-pemimpin untuk diikuti. Bukankah penyebaran filsafat kaum komunis yang menyesatkan ini merupakan satu tempelakan terhadap gereja? Bukan saja terhadap penyerahan kita yang kurang untuk memberitakan Injil, tetapi juga terhadap cara kerja kita yang tidak sungguh-sungguh.



Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak

Sudah waktunya menghadapi situasi ini dengan realistis. Saat kita bekerja dengan tidak sungguh-sungguh telah lewat. Program penginjilan gereja mengalami hambatan hampir di setiap tempat. Yang lebih buruk lagi, Injil yang diberitakan secara besar-besaran ke daerah-daerah baru, sebagian besar telah lumpuh. Di banyak tempat, gereja yang lemah bahkan tidak dapat berkembang mengikuti pertambahan penduduk. Kekuatan Iblis dalam dunia ini selalu semakin buas dan semakin terang-terangan menyerang perkembangan gereja. Sungguh mengherankan bahwa dimasa sekarang di mana fasilitas komunikasi dan transportasi yang cepat dapat dimiliki oleh gereja, namun kita orang-orang Kristen kurang berhasil memenangkan dunia ini bagi Allah dibandingkan dengan kegiatan orang-orang Kristen pada masa sebelum fasilitas modern itu diciptakan.

Dalam menilai keadaan yang menyedihkan pada masa ini, kita tidak perlu sekaligus membalikkan arah tujuan kita. Mungkin inilah masalah kita di masa lalu. Dulu kita berpendapat, dengan mengadakan kebangunan rohani kita dapat mencapai orang banyak dengan firman Allah yang menyelamatkan. Tetapi apa yang tidak kita sadari dalam kegagalan kita ialah bahwa masalah yang sebenarnya bukanlah terletak pada orang banyak; bukan pada apa yang mereka percayai; bagaimana mereka diperlakukan; atau, apakah mereka diberi makanan yang menyehatkan atau tidak. Semua yang dianggap begitu penting itu akhirnya dapat dikerjakan oleh orang-orang lain. Itulah sebabnya, sebelum kita mengutamakan orang banyak, kita harus memilih orang-orang yag kelak diikuti oleh orang banyak itu.

Tentu saja berarti meletakkan prioritas memenangkan dan melatih mereka yang telah menjadi pemimpin jemaat. Tetapi, jika kita tidak dapat mulai dari golongan atas, sekarang marilah kita mulai dari tempat kita berada dan melatih beberapa orang sederhana untuk menjadi orang-orang besar. Hendaknya kita juga ikut bahwa untuk dapat dipakai dalam Kerajaan Allah tidak perlu seseorang itu harus mempunyai kedudukan yang tinggi di dunia. Setiap orang yang rela mengikuti Kristus, dapat mempengaruhi dunia, asal ia dilatih dengan baik.

Dari sinilah kita harus mulai, sama seperti yang Yesus lakukan. Memang hal itu akan berjalan perlahan-lahan, cukup meletihkan, susah, dan mungkin pada mulanya tidak diperhatikan oleh umum. Tetapi, hasil akhirnya akan mulia, sekalipun kita sudah tidak ada lagi di dunia untuk melihat hasil itu. Ditinjau dari sudut ini, jelaslah bahwa dalam pelayanan dibutuhkan satu ketepatan hati. Setiap orang harus mengambil keputusan di tempat manakah ia menginginkan pelayanannya berhasil - di dalam penerimaan orang banyak yang penuh sorak-sorai tetapi bersifat sementara, atau di dalam buah-buah kehidupannya yang tampak dalam beberapa orang pilihan yang akan meneruskan pekerjaannya setelah ia meninggal dunia. Sesungguhnya, persoalannya ialah apakah kita hidup untuk generasi sekarang atau untuk generasi mendatang.

Bagaimana juga, kita harus maju terus. Kita perlu melihat bagaimana Yesus melatih murid-murid-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya. Seluruh pola kerja ini merupakan sebagian dari satu metoda yang utuh. Jika kita memisahkan satu tahap dari tahap yang lain, berarti kita merusak hasil kerjanya.



2. PERSEKUTUAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Aku menyertai kamu senantiasa" (Matius 28:20).

Ia Tinggal Bersama Mereka

Setelah Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia tinggal bersama mereka, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengikuti Dia. Inilah inti rencana Tuhan Yesus dalam melatih murid-murid-Nya.

Bila kita merenungkan hal itu, sesungguhnya cara ini sangat sederhana. Tuhan Yesus tidak mendirikan sekolah ataupun pendidikan agama yang resmi dengan rencana pelajaran tertentu, atau dengan kelas-kelas khusus menerima pendaftaran untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya. Suatu sistem pendidikan yang teratur yang sekarang dianggap sangat penting, tidak terdapat dalam pelayanan-Nya. Sungguh mengagumkan cara Yesus ini, karena yang Ia lakukan hanyalah mendekatkan mereka kepada-Nya. Diri-Nya sendiri sekaligus merupakan sekolah dan mata pelajaran-Nya.

Metoda pendidikan Yesus yang sederhana ini sangat berbeda dengan metoda para ahli Taurat. Guru-guru agama ini mengharuskan para pengikut mereka menaati cara-cara pendidikan tertentu, dan cara-cara itulah yang membedakan seorang guru dari yang lain. Tuhan Yesus hanya menghendaki supaya murid-murid-Nya menaati Dia. Tuhan kita tidak mengajar melalui bentuk-bentuk hukum dan doktrin-doktrin, melainkan melalui kepribadian-Nya sendiri yang memancarkan pengajaran-Nya itu. Murid-murid-Nya menjadi terkenal bukan karena mereka diharuskan menyesuaikan diri dengan cara-cara tertentu, melainkan karena persekutuan mereka dengan Dia yang mengikutsertakan mereka dalam pengajaran-Nya (Yoh 18:19).



Bersekutu untuk Mengerti

Melalui persektuan ini, murid-murid-Nya dapat "mengetahui rahasia Kerajaan Allah" (Luk 8:10). Sebelum suatu pelajaran dijelaskan, pelajaran itu sudah dimengerti melalui persekutuan mereka dengan Yesus. Misalnya, pada waktu seorang murid menanyakan, "Bagaimana kami tahu jalan ke situ?" pertanyaan itu menunjukkan bahwa ia tidak mengerti tentang Tritunggal yang kudus. Tuhan Yesus segera menjawab pertanyaan ini, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh 14:5-6). Sebenarnya pertanyaan ini sudah terjawab apabila murid-murid mau melihat Pribadi yang secara nyata menjelma di tengah-tengah mereka itu.

Cara mengajar yang sederhana itu telah diungkapkan sejak awal pelayanan-Nya, pada waktu Yesus mengajak murid-murid untuk mengikut Dia. Yohanes dan Andreas diajak melihat tempat tinggal-Nya, "Marilah dan kamu akan melihatnya" (Yoh 1:39). Alkitab tidak menceritakan lebih lanjut mengenai hal ini. Namun dapat dipastikan bahwa di dalam rumah, mereka sempat membicarakan segala sesuatu dengan Tuhan Yesus dan di situlah mereka masing-masing dapat menyaksikan sendiri dari dekat pribadi dan pekerjaan Yesus. Filipus juga dipanggil dengan cara yang sama, "Ikutlah Aku" (Yoh 1:43). Karena tertarik oleh cara pendekatan yang sederhana ini, Filipus juga mengajak Natanael datang kepada Tuhan-Nya, "Mari dan lihatlah" (Yoh 1:46). Sebuah khotbah yang hidup ini lebih berharga daripada seratus penjelasan. Kemudian, ketika Tuhan Yesus melihat Yakobus, Yohanes, Petrus, dan Andreas didapati sedang memperbaiki pukatnya, Ia pun memanggil mereka dengan kata-kata lemah lembut yang sama, "Mari, ikutlah Aku." Hanya, kali ini Tuhan Yesus menambahkan maksud panggilan itu, ". . . dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Mar 1:17 bandingkan dengan Mat 4:19; Luk 5:10). Demikian pula cara Tuhan Yesus memanggil Matius dari rumah cukai, "Ikutlah Aku" (Mat 9:9; Mar 2:14; Luk 5:27).



Prinsip yang Ditekankan

Lihatlah betapa hebat strategi-Nya! Sebenarnya dengan menjawab panggilan itu para pengikut-Nya telah melibatkan diri dalam sekolah Tuhan di mana pengertian mereka dapat bertumbuh dan iman mereka dapat diteguhkan. Tentu saja masih banyak hal yang belum jelas bagi mereka - semua itu mereka kemukakan dengan terus terang sewaktu mereka berjalan-jalan bersama Yesus; tetapi, sementara mereka mengikut Yesus, segala sesuatu yang tadinya belum jelas, menjadi jelas. Dalam persekutuan dengan Dia, mereka dapat mempelajari segala hal yang perlu mereka ketahui.

Prinsip ini, yang sudah tampak sejak awal pelayanan-Nya, lebih ditekankan oleh Tuhan Yesus pada waktu Ia memilih kedua belas murid-Nya. Ia memisahkan mereka dari satu kelompok yang agak besar, untuk menyertai Dia (Mar 3:14 bandingkan dengan Luk 6:13). Memang dikatakan, bahwa mereka diutus untuk "memberitakan Injil, dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan", tetapi sering kita melupakan langkah persiapannya. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa sebelum orang-orang ini "memberitakan Injil" atau "diberi kuasa untuk mengusir setan" mereka terlebih dahulu harus tinggal "bersama-sama dengan Dia." Sebenarnya penetapan pribadi untuk senantiasa bersama-sama dengan Dia itu merupakan bagian yang sama pentingnya dengan penetapan kuasa untuk menginjili, bahkan lebih penting lagi, karena dengan demikian mereka dipersiapkan untuk diutus.



Makin Lama Makin Erat

Tekad Yesus untuk melaksanakan rencana-Nya menjadi jelas apabila kita membaca Kitab-Kitab Injil. Dalam tahun pelayanan kedua dan ketiga Ia memberikan lebih banyak waktu kepada murid-murid pilihan-Nya. Hal ini bertentangan dengan cara berpikir biasa.

Ia sering membawa murid-murid-Nya ke atas gunung, di mana Ia tidak dikenal orang, sekedar untuk menghindari perhatian umum. Mereka pernah berangkat bersama-sama ke Tirus dan Sidon (Mat 15:21; Mar 7:24) ke "daerah Dekapolis" (Mar 7:31; bandingkan dengan Mat 15:29) dan "ke daerah Dalmanuta" di sebelah tenggara Galilea (Mar 8:10; bandingkan dengan Mat 8:10; bandingkan dengan Mat 15:39); dan ke "kampung-kampung sekitar Kaisarea Filipi" (Mar 8:27; bandingkan dengan Mat 16:13). Perjanjian itu juga dilakukan karena perlawanan orang Farisi dan kebencian Herodes, tetapi yang terpenting ialah karena Yesus merasa perlu mengasingkan diri dengan murid-murid-Nya. Kemudian Ia bersama-sama dengan murid-murid-Nya selama beberapa bulan di Perea, sebelah timur Sungai Yordan (Mat 19:1- 20:34; Mar 10:1-52; Luk 13:22-19:28; Yoh 10:40-11:54). Ketika perlawanan semakin memuncak, Yesus "tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, melainkan Ia berangkat dari sana ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-Nya" (Yoh 11:54). Ketika tiba waktunya untuk pergi ke Yerusalem. Ia "memanggil kedua belas murid-Nya" (Yoh 11:54). Ketika tiba waktunya untuk pergi ke Yerusalem, Ia "memanggil kedua belas murid-Nya" dari antara orang-orang yang mengikuti Dia dalam perjalanan menuju ke kota (Mat 20:17; bandingkan dengan Mar 10:32).

Dilihat dari sudut ini, tidaklah mengherankan bahwa pada Minggu Sengsara, Yesus hampir-hampir tidak melepas murid-murid-Nya pergi jauh; bahkan pada waktu Ia berdoa di Taman Getsemani, murid-murid-Nya hanya kira-kira sepelempar batu jaraknya dari Dia (Luk 22:41). Bukankah demikian halnya apabila waktu perpisahan dalam suatu keluarga sudah semakin dekat? Setiap menit menjadi lebih berharga sebab mereka mengetahui bahwa persekutuan yang sedemikian indah itu tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Kata-kata yang diucapakan pada waktu itu dirasakan sangat berharga. Sesungguhnya, pada saat perpisahan hampir tiba, barulah murid-murid dapat melihat lebih dalam arti persekutuan mereka dengan Dia (Yoh 16:4). Tidak dapat disangsikan lagi mengapa penulis-penulis Injil, dengan sendirinya mencurahkan lebih banyak perhatian mereka pada hari-hari terakhir itu. Setengah dari apa yang tercatat mengenai Yesus adalah kejadian-kejadian menjelang bulan-bulan terakhir, bahwa bagian yang terbesar adalah mengenai minggu terakhir dari hidup-Nya.

Jalan yang ditempuh oleh Yesus dalam hidup-Nya telah digambarkan dengan sebaik-baiknya pada hari-hari sesudah kebangkitan-Nya. Perlu dicatat bahwa Ia menampakkan diri-Nya hanya kepada murid-murid pilihan-Nya saja. Alkitab mengatakan, bahwa tidak seorang pun yang belum percaya dapat melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya. Hal itu tidak mengherankan karena ada gunanya menggemparkan orang banyak dengan memperlihatkan diri-Nya. Apa gerangan yang telah mereka perbuat? Akan tetapi, kepada murid-murid-Nya yang melarikan diri pada waktu Ia disalibkan, Ia menampakkan diri untuk menghidupkan iman mereka dan menegaskan kembali tugas mereka, karena melalui merekalah pelayanan-Nya dapat berkembang.

Demikianlah segala sesuatu terjadi menurut rencana-Nya. Tuhan Yesus menghabiskan lebih banyak waktu untuk beberapa murid-Nya daripada untuk orang-oran lain. Ia makan bersama-sama mereka, tidur bersama-sama, dan bercakap-cakap dengan mereka sepanjang pelayanan-Nya. Mereka berjalan bersama-sama di sepanjang jalan yang sepi. Mereka bersama-sama mengunjungi kota yang ramai. Mereka berlayar dan menangkap ikan bersama-sama di Danau Galilea. Mereka berdoa bersama-sama, baik di padang gurun maupun di atas gunung. Mereka beribadat bersama-sama, baik di dalam sinagoga maupun di dalam Bait Allah di Yerusalem.



Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak

Jangan kita lupa bahwa sebenarnya murid-murid-Nya senantiasa berada di dekat Dia, walaupun Ia sedang melayani orang-orang lain. Pada waktu Ia berbicara dengan orang banyak yang mengerumuni Dia, atau dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang berusaha menjerat Dia, atau dengan seorang pengemis di pinggir jalan, murid-murid-Nya berada di dekat Dia untuk ikut memperhatikan serta mendengarkan ajaran-Nya. Dengan cara ini, Yesus mendapat hasil dua kali lipat dari waktu yang digunakan-Nya untuk melayani mereka. Dengan demikian, mereka bukan saja menerima pelajaran melalui percakapan atau perbuatan Yesus terhadap orang-orang lain, tetapi juga menerima bimbingan pribadi bagi mereka sendiri.



Cara ini Memakan Waktu

Persekutuan yang erat dan terus-menerus itu menunjukkan bahwa Yesus hampir tidak mempunyai waktu untuk diri-Nya sendiri. Sama seperti anak-anak yang menuntut perghatian sang ayah, demikian pula murid-murid senantiasa berada dekat Sang Guru. Bahkan pada waktu Ia mengasingkan diri untuk berdoa, Ia tidak luput dari gangguan atas kebutuhan murid-murid-Nya (Mar 6:46-48; bandingkan dengan Luk 11:1). Namun, Yesus tidak mengubah cara-Nya, Ia ingin bersama-sama dengan mereka. Mereka adalah anak-anak rohani-Nya (Mar 10:24; Yoh 13:33; 21:5); dan satu-satunya cara seorang ayah mendidik keluarganya adalah bersekutu dengan mereka.



Prinsip Tindak Lanjut

Tidak ada yang lebih jelas tetapi lebih sering diabaikan dari pada pelaksanaan prinsip ini. Prinsip begitu sederhana sehingga orang cenderung untuk mengabaikannya. Sekalipun demikian Tuhan Yesus tidak menghendaki murid-murid-Nya melalaikan hal ini. Dalam perjalanan-Nya yang terakhir, Tuhan Yesus merasa sangat perlu menjelaskan kepada mereka tentang apa yang telah dilakukan-Nya selama ini. Sebagai contoh, Yesus pernah berpaling kepada mereka yang sudah mengikut Dia selama tiga tahun dan berkata, "Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku" (Yoh 15:27). Tanpa menarik banyak perhatian, Yesus melatih orang-orang untuk menjadi saksi-saksi-Nya setelah ia pergi nanti. Metoda-Nya hanya dengan tinggal "bersama-sama mereka." Seperti yang Ia katakan pada kesempatan lain, bahwa karena mereka "tetap tinggal bersama-sama dengan Dia" pada saat Ia menderita sengsara, maka mereka diangkat menjadi pemimpin-pemimpin dalam kerajaan-Nya yang kekal, di mana mereka akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel (Luk 22:28-30).

Tidak benar kalau kita menganggap bahwa prinsip tindak lanjut secara pribadi yang demikian itu hanya berlaku bagi murid-murid-Nya saja. Memang benar, Tuhan Yesus memusatkan perhatian-Nya pada beberapa orang pilihan-Nya kepada orang-orang lain yang mengikuti Dia. Sebagai contoh: Ia pulang bersama Zakheus yang telah bertobat di jalan menuju Yerikho (Luk 19:7), dan Ia tinggal untuk beberapa waktu di rumah Zakheus sebelum meninggalkan kota itu. Yesus juga menginap dua hari di Sikhar sesudah pertobatan perempuan Samaria itu, untuk membimbing orang-orang di situ yang "percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu." Dan karena persekutuan pribadi-Nya dengan mereka, maka "lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya." Hal ini bukan disebabkan oleh kesaksian perempuan itu, akan tetapi karena mereka mendengar sendiri dari Sang Guru (Yoh 4:39-42).

Sering terjadi bahwa orang yang sudah ditolong oleh Yesus diberi kesempatan untuk ikut dalam kelompok pengikut-Nya, misalnya Bartimeus (Mat 20:34; Mar 10:52; Luk 18:43). Dengan demikian, banyak yang ikut dalam kelompok murid-murid-Nya, seperti halnya ketujuh puluh murid yang ikut dalam pelayanan- Nya di Yudea (Luk 10:1,17). Setiap petobat mendapat perhatian secara pribadi dari Yesus, tetapi tidak sebanding dengan perhatian yang Ia curahkan kepada kedua belas murid-Nya.

Perlu juga disebutkan tentang sekelompok kecil perempuan yang dengan setia melayani Tuhan Yesus, misalnya seperti Maria dan Marta (Luk 10:38-42), Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan "banyak lagi perempuan lain" (Luk 8:1-3). Beberapa dari mereka mengikut Yesus sampai akhir hidup-Nya di dunia. Ia tidak menolak kebaikan mereka, bahkan Ia sering membantu mereka dalam iman. Tetapi Yesus sadar betul akan adanya dinding pemisah antara Dia sebagai laki-laki dan perempuan-perempuan itu. Walaupun Ia menyambut dengan senang hati bantuan mereka, Ia tidak memasukkan perempuan-perempuan ini ke dalam kelompok murid pilihan-Nya. Dalam tindak lanjut ada batas-batas yang harus kita akui dan taati.

Akan tetapi, terlepas dari peraturan sopan santun, Yesus sebenarnya tidak mempunyai waktu terus-menerus memberi perhatian secara pribadi kepada orang-orang ini, baik kepada perempuan maupun kepada laki-laki. Sekalipun demikian, Ia sudah berusaha sedapat mungkin untuk memperhatikan murid-murid-Nya secara pribadi sehingga mereka diyakinkan akan perlunya segera melayani para petobat baru secara pribadi juga. Yesus harus membatasi bimbingan-Nya pada berbagai orang saja, kemudian mereka inilah dengan cara yang sama harus melayani orang-orang lain.



Gereja sebagai Tempat Persekutuan

Seluruh masalah pelayanan pribadi kepada para petobat baru dapat diatasi jika gereja mengerti akan hakikat dirinya dan tugasnya. Perlu diperhatikan di sini, bahwa sesungguhnya rencana Yesus bagi gereja adalah supaya setiap petobat baru dapat dibawa ke dalam persekutuan dengan orang-orang percaya yang lain. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh Yesus denga kedua belas murid-Nya, hanya gereja dapat mencakup pelayanan yang lebih luas.8 Gereja adalah tempat untuk menampung orang-orang percaya yang mau mengikut Dia selanjutnya. Orang-orang percaya ini menjadi tubuh Kristus, yang saling melayani, baik secara perorangan maupun kelompok.

Setiap anggota gereja memegang peranan dalam pelayanan ini. Ini hanya dapat mereka kerjakan jika mereka dididik dan di penuhkan oleh kuasa Roh Kudus. Selama Yesus tinggal bersama-sama dengan murid-murid-Nya secara manusia, Ia menjadi Pemimpin mereka. Akan tetapi, kemudian di dalam gereja, merekalah yang harus melanjutkan kepemimpinan itu. Jadi, Yesus harus melatih-melatih mereka dalam tugas ini. Artinya, Ia harus terus-menerus bersekutu dengan mereka yang sudah dipilih-Nya itu.

-----
8. Setiap orang tidak dapat tidak akan menemukan dalam hubungan ini, bahwa penunjukan kepada "murid-murid" sebagai kelompok yang bersatu itu lebih banyak ditulis di dalam keempat Injil daripada penunjukan kepada seorang murid sebagai pribadi. R. Ralph Morton bahkan menerangkan hal ini lebih lanjut, dan menegaskan bahwa penunjukan kepada pribadi-pribadi mengarah kepada kekalahan- kekalahan dari pihak mereka, sedangkan penunjukkan kepada kelompok sebagai satu kesatuan sering berarti kesukaran, pengertian, atau prestasi mereka. Ketika diingatkan bahwa hal ini ditulis dengan ilham oleh para murid, dan bukan oleh Yesus, jelaslah berarti bahwa mereka akan menegaskan tempat mereka dalam arti demikian. Lihat T. Ralph Morton, The Twelve Together Glasgow, The Iona Community, 1956, hal. 24-30, 103. Mengenai hal ini, kita tidak perlu menarik kesimpulan bahwa para murid tidak dipandang penting sebagai pribadi-pribadi. Ini menyatkan kepada kita bahwa para murid memahami Tuhan mereka yang memandang mereka sebagai satu tubuh yang terdiri dari orang-orang beriman yang dilatih bersama untuk diutus kepada dunia. Mereka memandang diri mereka sendiri melalui Kristus, pertama sebagai sebuah gereja, dan kedua sebagai pribadi-pribadi di dalam tubuh itu.



Masalah Kita

Bilakah gereja mau memakai cara Yesus ini? Sekalipun berkhotbah kepada orang banyak itu perlu, tidaklah cukup untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin untuk memberitakan Injil. Juga pertemuan doa yang sekali-kali dilakukan, dan kelas latihan bagi para pekerja Kristen, belum dapat memenuhi kebutuhan. Mempersiapkan orang tidaklah semudah itu, melainkan membutuhkan perhatian secara pribadi yang terus-menerus, sama seperti perhatian seorang ayah kepada anak-anaknya. Ini tidak dapat dikerjakan oleh suatu organisasi atau kursus, sama seperti anak-anak tidak dapat dididik secara baik dengan diwakilkan kepada orang lain. Apa yang telah Tuhan Yesus lakukan, mengajarkan kepada kita bahwa tugas ini hanya terlaksana jika para pemimpin bersekutu dengan orang-orang yang hendak dipimpinnya.

Ternyata gereja telah gagal sama sekali dalam tugas ini. Banyak pembicaraan tentang penginjilan dan pelayanan Kristen, akan tetapi hanya sedikit perhatian yang diberikan kepada persekutuan secara pribadi. Kebanyakan gereja ingin membawa para petobat baru melalui semcam kelas sidi yang berkumpul satu jam satu minggu untuk jangka waktu satu bulan atau lebih. Tetapi selanjutnya para petobat baru itu tidak mungkin kontak sama sekali dengan acara pendidikan Kristen yang tertentu, selain mengikuti kebaktian-kebaktian gereja dari Sekolah Minggu. Dengan demikian, ia diperhadapkan seorang diri kepada masalah-masalah hidup yang dapat menghancurkan imannya, kecuali jika ia mempunyai orang tua atau teman-teman yang dapat menolong dia.

Dengan cara tindak lanjut yang teratur itu, maka tidaklah mengherankan bahwa hampir separuh dari orang-orang yang sudah percaya dan menjadi anggota gereja akhirnya murtad. Yang terus bertumbuh dalam pengetahuan dan kasih karunia untuk melayani bagi Kerajaan Allah semakin berkurang. Apabila kebaktian-kebaktian hari Minggu dan kelas-kelas sidi dianggap sudah cukup untuk membangun petobat-petobat baru dan menjadikan mereka murid-murid yang dewasa, maka gereja gagal dalam tugasnya. Jika kita mengikuti cara ini, kita juga ikut merusak para petobat baru itu. Tidak ada cara lain untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin dalam pemberitaan Injil kecuali melalui persekutuan orang-orang percaya. Hanya dengan keajaiban cara inilah kita dapat membangun kepemimpinan Kristen yang kuat. Jika Yesus, Anak Allah menganggap perlu secara terus-menerus bersekutu dengan murid-murid-Nya selama tiga tahun lamanya, namun masih juga ada seorang dari mereka yang terhilang, bagaimana mungkin gereja dapat mengerjakan ini hanya dengan cara berkumpul beberapa hari saja dalam setahun?



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

Dengan jelas Yesus mengajarkan kepada kita bahwa metoda tindak lanjut apa pun yang dipakai oleh gereja, perlu didasarkan atas bimbingan pribadi. Jika hal itu tidak dilakukan, maka ini berarti seolah-oleh menyerahkan petobat-petobat baru kepada si Iblis.

Bimbingan pribadi berarti bahwa setiap petobat baru diberi seorang teman Kristen untuk membimbing dia sampai pada tahap di mana ia juga dapat membimbing orang lain. Si pembimbing harus bersekutu dengan dia secara teratur dalam jangka waktu yang lama, mempelajari Alkitab dan berdoa bersama-sama, menjawab pertanyaan-pertanyaan, menjelaskan kebenaran-kebenaran, dan bersama-sama menolong orang lain. Jika gereja tidak mempunyai pembimbing-pembimbing yang demikian, maka gereja harus menunjuk pemimpin-pemimpin untuk mendidik beberapa orang dalam tugas itu.

Cara ini telah menjawab persoalan tadi. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa cara ini hanya dapat berhasil apabila para pengikut mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari. Karena itu, prinsip dasar lain yang dipakai oleh Sang Guru harus juga dipahami.



3. PENYEDIAAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Pikullah kuk yang Kupasang" (Matius 11:29).

Ia Menghendaki Ketaatan

Yang Yesus kehendaki dari pengikut-pengikut-Nya ialah ketaatan. Mereka tidak perlu cerdas, asal setia. Inilah sifat yang menjadi tanda pengenal mereka. Mereka disebut "murid-murid", sebab mereka adalah "pelajar-pelajar" dari Sang Guru. Tidak lama sesudah itu, mereka mulai disebut orang-orang Kristen (Kisah 11:26). Bagaimanapun juga, akan tiba waktunya bagi para pengikut yang setia itu untuk menjadi seperti pemimpin mereka.

Cara pendekatan yang sederhana ini sangat mengagumkan. Tidak ada seorang pun dari murid-murid ini yang diminta untuk membuat suatu "Pengakuan Iman" atau menyatakan suatu ikrar tertentu, walaupun sudah jelas bahwa mereka mengakui Yesus sebagai Juruselamat (Luk 5:8; Yoh 1:41,45,49). Pada mulanya mereka hanya diminta untuk mengikuti Yesus. Dalam panggilan yang pertama ini sudah jelas bahwa mereka dipanggil kepada iman akan pribadi Yesus dan taat kepada perintah-Nya. Jika pada mulanya mereka tidak mengerti, melalui persekutuan dengan Tuhan lambat laun mereka akan menyadarinya. Tidak seorang pun mau mengikuti dan menaati seorang pemimpin, kecuali bila ia dapat mempercayainya dan menaruh iman kepadanya.



Jalan Salib

Pada mulanya mengikut Yesus tampaknya mudah sekali, karena mereka belum cukup lama mengikut Yesus. Kemudian semakin nyata, bahwa hidup sebagai murid Yesus bukan berarti hanya menerima janji Kristus, melainkan dituntut dari mereka suatu penyerahan diri secara mutlak, tanpa syarat dan tanpa kompromi. "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Luk 16:13). Dosa harus ditinggalkan seluruhnya! Semua pemikiran, kebiasaan, dan keinginan duniawi harus disesuaikan dengan hukum-hukum Kerajaan Allah (Mat 5:1-7:29; Luk 6:20-49). Kasih yang sempurna merupakan ukuran satu-satunya (Mat 5:48) dan kasih ini harus tampak dalam ketaatan kepada Kristus (Yoh 14:21,23) serta dalam pelayanan kepada sekalian bangsa karena untuk keselamatan merekalah Kristus sudah mati (Mat 16:24-26; 20:17-28; Mar 8:34-38; 10:32-45; Luk 9:23-25; Yoh 12:25-26; 13:1-20).

Tuntutan ini cukup berat. Tidak banyak pengikut-Nya yang dapat melaksanakannya. Mereka mau ikut pada waktu Yesus memberi roti dan ikan, tetapi pada waktu Ia mulai berbicara tentang nilai rohani yang sebenarnya dari Kerajaan Surga dan pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkannya (Yoh 6:25-59), banyak murid-murid-Nya "mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia" (Yoh 6:66). Murid-murid-Nya berkata, "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" (Yoh 6:60). Yang mengherankan adalah bahwa Yesus tidak memaksa mereka untuk tinggal tetap bersama Dia. Ia sedang mendidik para pemimpin bagi Kerajaan Surga; dan jika mereka siap untuk melayani, mereka harus siap untuk berkorban.



Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri

Mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat ini satu per satu akan memisahkan diri. Mereka memisahkan dari kelompok murid pilihan karena sifat keakuan mereka. Yudas, yang dinyatakan sebagai Iblis (Yoh 6:70) mengikut Yesus sampai akhir, tetapi kemudian ketamakannya membinasakan dia (Mat 26:14-16, 47-50; Mar 14:10-11; 43-44; Luk 22:3-6, 47-49; Yoh 18:2-9). Tidak seorang pun dapat begitu saja mengikut Yesus tanpa melepaskan ikatan duniawi, dan mereka yang hanya berpura-pura akan mendatangkan siksaan dan kesedihan bagi jiwanya sendiri (Mat 27:3-10; Kisah 1:18-19).

Mungkin inilah sebabnya mengapa Yesus berbicara dengan keras kepada seorang ahli Taurat yang datang dan berkata kepada-Nya "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Kepada orang ini, dan dengan terus terang Tuhan Yesus berkata bahwa hal itu tidaklah mudah "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Mat 8:19-20; Luk 9:57-58). Murid yang lain minta agar dibebaskan dari keharusan untuk mengikut Yesus karena ia bermaksud untuk menguburkan ayahnya dulu. Akan tetapi, Yesus tidak mengizinkannya. "Ikutlah Aku," kata-Nya. "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana" (Mat 8:21- 22; Luk 9:59-60). Yang lain menyatakan mau mengikut Yesus, tetapi dengan caranya sendiri. Ia mau diri dahulu kepada keluarganya mungkin dengan harapan untuk mengadakan pesta perpisahan, tetapi Yesus dengan terus terang mengatakan, "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah" (Luk 9:62). Yesus tidak ingin menghabiskan waktu dan tidak bersedia memberikan diri-Nya kepada orang-orang yang hanya mau menjadi murid-murid-Nya menurut cara mereka sendiri.

Karena itu, seorang calon murid Tuhan harus membuat perhitungan semasak-masaknya. "Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mendirikan sebuah menara, tidak duduk dahulu membuat rencana dahulu, maka hal itu sama dengan mengharapkan ejekan dunia di kemudian hari. Sama halnya dengan seorang raja yang pergi berperang tanpa menghiraukan kalah atau menang sebelum pertarungan dimulai. Sebagai kesimpulan, Yesus berkata, "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk 14:33; bandingkan dengan Mat 19:21; Mar 10:21; Luk 18:22).



Hanya Sedikit yang Rela Berkorban

Setelah kaum "opportunis" meninggalkan Tuhan di Kapernaum karena keinginan mereka tidak dipenuhi, maka pengikut-Nya tinggal beberapa orang saja. Kemudian, Ia berpaling kepada kedua belas murid-Nya dan berkata, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67). Pertanyaan ini sangat penting. Jika mereka meninggalkan Dia, apakah yang akan terjadi dengan pelayanan-Nya? Tetapi Simon Petrus menjawab, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah" (Yoh 6:68-69). Sudah pasti kata-kata Petrus ini telah memuaskan hati Sang Guru, karena mulai saat itu Yesus lebih banyak bercakap-cakap dengan rasul-rasul-Nya untuk menjelaskan tentang sengsara dan kematian-Nya.9

-----
9. Paling sedikit enam belas kali sebelum Tuhan Yesus ditangkap, Ia membicarakan tentang penderitaan dan kematian-Nya. Mula-mula hal ini masih merupakan rahasia, tetapi maksudnya jelas sekali - perbandingan antara tubuh-Nya dan perombakan Bait Allah (Yoh 2:19); tentang Anak Manusia yang ditinggikan sama seperti Musa meninggikan ular tembaga (Yoh 3:14); pernyataan tentang hari pada saat mana Ia, sebagai mempelai laki-laki, akan diambil dari mereka (Mat 9:15; Mar 2:20; Luk 5:35); perumpamaan tentang diri-Nya sebagai roti hidup yang harus dipecah-pecahkan dan dimakan (Yoh 6:51- 58); dan juga tentang pengalaman Nabi Yunus yang menjadi suatu tanda (Mat 16:4). Sesudah pernyataan yang tegas dari Petrus di Kaisarea Filipi, Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya dengan lebih tegas, bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, dan menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat 16:21; Mar 8:21; Luk 9:22). Kemudian Ia memberitahu tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya secara terperinci dalam perjalanan-Nya di Galilea dengan murid-murid-Nya (Mat 17:22-23; Mar 9:30-32; Luk 9:43-45); juga dalam perjalanan-Nya yang terakhir ke Yerusalem sesudah perjalanan-Nya di Perea (Mat 20:18-19; Mar 10:33-34; Luk 18:32-33). Kematian-Nya merupakan pokok pembicaraan-Nya dengan Musa dan Elia di atas gunung ketika Ia dimuliakan (Luk 9:31). Pernyataan-Nya juga menunjukkan tentang seorang nabi yang tidak boleh dibunuh di luar Yerusalem (Luk 13:33). Begitu pula penunjukkan Yesus kepada penderitaa dan penolakan orang-orang sebelum kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan (Luk 17:25). Ia mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik "yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yoh 10:11,18), dan seperti biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati sebelum ia menghasilkan buah banyak (Yoh 12:24). Beberapa hari sebelum hari raya paskah, Tuhan Yesus sekali lagi mengingatkan murid-murid-Nya bahwa Ia akan "diserahkan untuk disalibkan" (Mat 26:2), dan kemudian pada hari itu juga di rumah Simon yang kena penyakit kusta, Ia menerangkan bahwa minyak narwastu yang dicurahkan Maria ke atas kepala-Nya adalah persiapan untuk penguburan-Nya (Mat 26:12; Mar 14:8). Akhirnya, dalam perjamuan yang terakhir dengan murid- murid-Nya, Tuhan Yesus menceritakan tentang penderitaan-Nya (Luk 22:15), dan kemudian Ia menetapkan tanda peringatan atas kematian-Nya dengan makan roti dan minum anggur (Mat 26:26-29; Mar 14:22-25; Luk 22:17-20).



Taat Adalah Belajar

Ini sama sekali bukan berarti bahwa murid-murid-Nya dengan cepat dapat mengerti apa yang dikatakan oleh Tuhan. Kecakapan mereka untuk memahami lebih dalam tentang pelayanan penebusan Tuhan sangat dibatasi oleh kelemahan-kelemahan mereka sebagai manusia. Setelah pengakuan Petrus mengenai Mesias di Kaisarea Filipi, mereka tidak mengerti ketika Yesus memberitahukan kepada mereka bahwa Ia akan dibunuh oleh pemimpin-pemimpin agama di Yerusalem, Petrus bahkan menegur Dia, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau" (Mat 16:22; bandingkan dengan Mar 8:32). Di situ juga Yesus terpaksa membicarakan kematian-Nya dan menerangkan artinya kepada mereka, tetapi hal itu baru mereka mengerti setelah Ia dikhianati dan jatuh ke tangan musuh-musuh-Nya.

Karena berita salib itu tidak jelas, pada mulanya murid-murid merasa ragu-ragu tentang tempat mereka di dalam Kerajaan Allah. Mereka agak sukar menerima ajaran tentang merendahkan diri untuk kepentingan orang lain (Luk 22:24-30; Yoh 13:1-20). Mereka bertengkar mengenai siapa yang terbesar di dalam Kerajaan Surga (Mat 18:1-5; Mar 9:33-37; Luk 9:46-48). Yakobus dan Yohanes ingin menduduki tempat-tempat yang paling utama (Mat 20:24; Mar 10:41). Mereka terlalu keras dalam menghakimi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka (Luk 9:51-54). Mereka "memarahi" para orang tua yang minta agar Tuhan Yesus memberkati anak-anak mereka (Mar 10:13). Semua sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka belum memahami sepenuhnya apa arti mengikut Kristus itu.

Sekalipun demikian, Yesus dengan sabar menerima semua kekurangan murid-murid pilihan-Nya itu, karena mereka masih mau mengikut Dia. Tidak lama setelah panggilan pertama, mereka kembali lagi mencari ikan (Mat 4:18; Mar 1:16; Luk 5:2-5; bandingkan dengan Yoh 1:35-42). Akan tetapi, mereka kembali kepada pekerjaan mereka bukan karena mereka tidak taat. Mereka belum menyadari maksud Tuhan untuk menjadikan mereka pemimpin, atau mungkin mereka belum diberitahu tentang hal itu. Ternyata sejak Tuhan memperlihatkan diri di tempat mereka bekerja dan memanggil mereka untuk mengikut Dia dan untuk menjadi "penjala manusia", mereka pun meninggalkan semuanya lalu mengikut Dia (Luk 5:11; bandingkan dengan Mat 4:22; Mar 1:20). Kemudian, walaupun masih banyak yang harus mereka pelajari, mereka dapat mengatakan bahwa mereka masih tetap setia kepada Kristus (Mat 19:27; Mar 10:28; Luk 18:28). Dengan orang-orang ini, Yesus rela memikul segala akibat dari ketidak-matangan iman mereka. Ia tahu bahwa kekurangan- kekurangan ini dapat diatasi apabila mereka sudah bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan. Kecakapan dalam menerima Wahyu akan bertumbuh, asal mereka mau terus-menerus melatih diri dengan kebenaran yang sudah mereka pahami.

Dengan demikian, ketaatan kepada Kristus adalah satu-satunya jalan bagi pengikut-pengikut-Nya untuk belajar lebih banyak tentang kebenaran. Ia tidak meminta murid-murid-Nya untuk mengikut apa yang mereka anggap tidak benar, karena tidak seorang pun mau mengikut Dia jika ia tidak yakin akan kebenaran-Nya (Yoh 7:17). Karena itu, Yesus tidak menyuruh murid-murid-Nya berpegang teguh pada satu ajaran, melainkan membiarkan mereka terus mendengarkan perkataan-Nya sehingga mereka memahami kebenaran itu (Yoh 8:31-32).



Bukti dari Kasih

Ketaatan yang sungguh-sungguh adalah pancaran kasih. Ajaran inilah yang ditekankan pada malam menjelang kematian-Nya. Pada waktu murid-murid berkumpul dengan Dia di ruangan atas setelah perjamuan malam berakhir, Yesus berkata, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan firman yang kamu dengar itu bukanlah daripada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku. Inilah perintah-Ku, supaya kamu saling mengasihi, seperti aku mengasihi kamu" (Yoh 14:15,21, 23-24; 15:10,12).



Yesus Menunjukkan Ketaatan

Ketaatan yang mutlak kepada kehendak Allah adalah prinsip yang menguasai seluruh kehidupan Sang Gur! Dalam sifat kemanusiaan-Nya Ia tidak pernah menentang kehendak Bapa, sehingga hidup-Nya dipakai sepenuhnya oleh Allah untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan-Nya. Ia senantiasa berkata, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mentutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh 4:34). "Sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yoh 5:30; bandingkan dengan Yoh 6:38). "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku" (Yoh 15:10; bandingkan dengan Yoh 17:4). Ini dapat disimpulkan dalam seruan-Nya di Taman Getsemani, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Luk 22:42; bandingkan dengan Mat 26:39, 42-44; Mar 14:36).

Salib merupakan puncak kemenangan dari ketaatan Tuhan Yesus untuk melakukan kehendak Allah. Prinsip inilah yang menguasai seluruh kehidupan-Nya - ketaatan yang tidak mengenal kompromi, sampai pada kematian-Nya.

Para pemimpin agama yang duniawi mencemoohkan Dia, "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan" (Matius 27:42; Markus 15:31; Lukas 23:35). Tentu saja Ia tidak dapat menyelamatkan diri-Nya. Ia datang bukan untuk menyelamatkan diri-Nya. Ia datang untuk menyelamatkan dunia. Ia datang "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28; Markus 10:45). Ia datang "untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Ia datang untuk mempersembahkan diri-Nya kepada Allah bagi dosa segenap manusia. Ia datang untuk mati. Tidak ada jalan lain yang dapat menghapuskan pelanggaran terhadap hukum Allah.

Salib inilah, karena telah ditentukan sebelumnya (Wahy 13:8; bandingkan dengan Kisah 2:32), membuat setiap langkah yang Yesus jalani di muka bumi ini diterima sebagai penggenapan tujuan Allah yang kekal bagi kehidupan-Nya. Karena itu, pada waktu Yesus berbicara tentang ketaatan, murid-murid dapat melihat hal itu terjelma dalam diri-Nya. Seperti kata Yesus, "Kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya" (Yoh 13:15-17). Setiap orang harus memperhatikan ajaran ini. Sebagaimana Yesus berbahagia dalam melakukan kehendak Bapa-Nya, demikian pula pengikut-pengikut-Nya akan berbahagia jika mereka taat kepada-Nya. Inilah satu-satunya kewajiban bagi seorang hamba. Kristus benar, dan syarat untuk menjadi murid Yesus tidak dapat ditawar sedikit pun (Luk 17:6-10; bandingkan dengan Mat 12:50; Mar 3:35; Luk 8:21).



Prinsip yang Ditekankan

Ditinjau dari sudut strategi-Nya, maka ketaatan itu adalah satu-satunya jalan bagi Yesus untuk mengubah hidup mereka melalui perkataan-perkataan-Nya. Tanpa ketaatan, tidak mungkin ada pertumbuhan sifat atau tujuan dalam diri murid-murid-Nya itu. Jika seorang ayah menginginkan supaya anak-anaknya menjadi sama seperti dia, ia harus mengajar mereka untuk taat kepada-Nya.

Harus diingat pula, bahwa Yesus sedang mempersiapkan orang-orang-Nya untuk memimpin gereja-Nya menuju kemenangan. Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi pemimpin, sebelum ia terlebih dahulu belajar menaati seorang pemimpin. Karena itu, Ia memilih calon-calon pemimpi dari rakyat jelata, melatih mereka dalam hal disiplin, dan dalam hal menghargai kekuasaan. Ketidaktaatan sama sekali tidak boleh terdapat dalam menjalankan perintah-Nya. Tidak seorang pun, kecuali Yesus, yang mengetahui tentang kuasa kegelapan Iblis yang dapat menggagalkan usaha penginjilan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh. Murid-murid-Nya tidak dapat mengalahkan kuasa Iblis di dunia ini jika mereka tidak taat kepada Yesus, karena hanya Yesuslah yang mengetahui jalan kemenangan. Hal ini membutuhkan ketaatan mutlak kepada kehendak Sang Guru, sekalipun ini berarti bahwa mereka harus meninggalkan segala sesuatu.



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

Kita harus mempelajari lagi pelajaran ini sekarang. Kita tidak dapat menghadapi peperangan yang dapat membawa akibat mati atau hidup; setip kali kita bersikap acuh tak acuh terhadap tanggung tanggung jawab kita dalam pemberitaan Injil, berarti suatu kekalahan bagi pekerjaan Kristus. Sekalipun kita baru mempelajari dasar-dasar kebenaran yang paling sederhana tentang pemuridan, namun kita sudah harus mengetahui bahwa kita telah terpanggil sebagai hamba-hamba Tuhan. Karena itu, kita harus taat kepada firman-Nya. Kewajiban kita menjalankan perintah-perintah-Nya, bukan mempersoalkan mengapa Ia memerintahkan sesuatu. Sangat diragukan apakah kita dapat maju terus dalam meneladani kehidupan dan tugas-Nya kalau kita tidak menyerahkan diri untuk melakukan segala kehendak-Nya sekalipun pengertian kita tidak matang. Di dalam Kerajaan Surga tidak ada tempat bagi hamba-hamba yang malas, karena kemalasan bukan saja menghambat pertumbuhan dalam pengetahuan dan kasih karunia, tetapi juga merusak makna penginjilan bagi dunia.

Kita harus bertanya, mengapa sekarang banyak orang yang mengaku dirinya Kristen, tetapi tidak bertumbuh bahkan gagal dalam kesaksiannya? Atau, mengapa gereja-gereja sekarang tidak berhasil bersaksi kepada dunia? Bukankah ini akibat kelalaian para pendeta dan kaum awam terhadap perintah-perintah Tuhan atau karena mereka tidak dengan sepenuh hati melayani Tuhan? Di manakah ketaatan kepada salib itu? Seakan-akan ajaran Kristus tentang menyangkal diri dan menyerahkan diri telah diganti dengan semacam filsafat dunia yang membenarkan orang untuk berbuat sesuka hati mereka.

Yang sangat menyedihkan ialah bahwa tidak ada usaha yang dilakukan untuk memperbaiki, terutama oleh mereka yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Yang diperlukan dengan segera dari mereka bukanlah sikap putus asa, melainkan suatu tindakan yang nyata. Waktunya sudah tiba untuk menetapkan "kemuridan Kristen yang sejati" sebagai syarat penerimaan anggota jemaat. Akan tetapi, syarat ini pun belum cukup. Para pengikut juga harus mempunyai pemimpin-pemimpin, dan ini berarti bahwa para petugas gereja harus lebih dahulu hidup benar. Jika syarat-syarat ini terlalu berat, kita dapat memulainya dengan beberapa orang pilihan saja dan mengajarkan arti ketaatan kepada mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Apabila prinsip ini dipraktekkan, barulah kita dapat maju selangkah lagi dalam rencana kemengangan Tuhan Yesus.



4. PENGURAPAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Terimalah Roh Kudus" (Yohanes 20:22).

Ia menyerahkan Diri-Nya bagi Mereka

Yesus menghendaki ketaatan dari para pengikut-Nya karena hanya dengan demikianlah mereka dapat dipenuhi oleh Roh-Nya. Dengan Roh-Nya mereka dapat melihat kasih Allah bagi dunia yang terhilang ini. Itulah sebabnya mereka menerima syarat ketaatan ini tanpa komentar. Murid-murid-Nya mengerti bahwa mereka bukan saja perlu menaati suatu hukum, melainkan mereka juga harus senang menaati "Dia" yang sangat mengasihi mereka, dan yang rela menyerahkan nyawa-Nya untuk mereka.

Yesus hidup untuk memberi kepada manusia apa yang telah diberikan Bapa kepada-Nya (Yoh 15:15; 17:4,8,14). Ia memberi mereka damai sejahtera yang dengan itu pula ia dikuatkan dalam penderitaan-Nya (Yoh 16:33; bandingkan dengan Mat 11:28). Ia memberi sukacita-Nya yang di dalamnya Ia bekerja di tengah-tengah penderitaan dan kesengsaraan-Nya (Yoh 15:11; 17:13). Ia memberi kepada mereka anak kunci Kerajaan-Nya yang tidak dapat dikalahkan oleh kuasa kegelapan (Mat 16:19; bandingkan dengan Luk 12:32). Ia bahkan memberi kepada mereka kemuliaan-Nya sendiri yang telah ada sebelum dunia ini diciptakan, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Ia dan Bapa adalah satu (Yoh 17:22,24). Ia menyerahkan segala sesuatu yang ada pada-Nya, bahkan nyawa-Nya sendiri.

Demikianlah kasih-Nya itu - kasih yang selalu ingin memberi. Jika kasih itu hanya mengasihi diri-Nya sendiri, itu bukanlah kasih yang sejati. Dengan cara ini pula Yesus menekankan kepada para pengikut-Nya apa arti "begitu besar kasih Allah akan dunia ini" (Yoh 3:16). Artinya, Allah memberikan segala yang dimiliki-Nya bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, bahkan "Anak-Nya telah melepaskan hak hidup-Nya, dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Hanya dalam pengertian ini - pengorbanan Anak Manusia untuk dunia ini - seseorang dapat mengerti makna salib itu. Kasih Tuhan yang tidak terbatas itu hanya dapat dinyatakan dengan suatu perbuatan yang tidak terbatas pula. Itulah sebabnya mengapa salib itu perlu. Sebagaimana mati karena dosanya, demikian juga Allah karena kasih-Nya telah mengutus Anak-Nya untuk mati menggantikan kita. "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yoh 15:13).



Keharusan untuk Memberitakan Injil

Yesus tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menekankan kepada pengikut-pengikut-Nya tentang kasih Allah kepada dunia yang terhilang ini. Segala sesuatu dilakukan-Nya dan dikatakan-Nya dengan kasih. Hidup-Nya mencerminkan maksud Allah yang kekal untuk menyelamatkan umat-Nya. Inilah yang harus dimengerti oleh murid-murid-Nya, bukan hanya secara teori, tetapi juga secara praktis.

Setiap hari mereka dapat melihat kasih ini dipraktekkan dengan berbagai cara. Walaupun sangat sukar diterima, seperti pada waktu Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-20), namun akhirnya mereka mengerti apa yang dimaksudkan. Mereka melihat bagaimana Sang Guru menolak kesenangan duniawi dan menjadi hamba di antara mereka. mereka melihat bagaimana Ia menolak perkara yang mereka idam-idamkan - kesenangan jasmani, kemasyhuran, kedudukan yang baik. Sedangkan hal- hal yang mereka hindari - kemiskinan, penghinaan, kesedihan, bahkan kematian - diterima-Nya dengan rela demi keselamatan mereka. Dengan menyaksikan pelayanan- Nya kepada orang-orang sakit, penghiburan-Nya kepada yang berdukacita dan pemberitaan Injil kepada orang-orang miskin, jelaslah bagi mereka bahwa bagi Sang Guru tidak ada pelayanan yang terlalu kecil atau pengorbanan yang terlalu besar apabila dilakukan bagi kemuliaan Allah. Mungkin mereka tidak selalu dapat mengerti hal ini, dan pasti mereka juga tidak dapat menerangkannya, tetapi mereka tidak dapat menyangsikannya lagi.



Pengudusan-Nya

Pembaharuan dalam penyerahan diri-Nya kepada Allah - yang terus-menerus dilakukan melalui pelayanan yang penuh kasih kepada orang lain - menjadi dasar bagi pengudusan Tuhan Yesus. Hal ini jelas diungkapkan dalam doa-Nya sebagai Imam Besar, "Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran" (Yoh 17:18-19). Perhatikanlah bahwa pengkhususan diri-Nya bagi Allah, yang dinyatakan dalam kata "menguduskan", sebenarnya bukan untuk menyucikan diri-Nya, karena Ia senantiasa hidup suci. Juga pengudusan itu dilakukan bukan untuk menerima kuasa bagi pelayanan-Nya, karena Yesus sudah memiliki segala kuasa; melainkan untuk menyerahkan diri kepada tugas yang menyebabkan Ia telah "diutus ke dalam dunia" (Yoh 10:36); dan dalam pengabdian kepada tujuan penginjilan-Nya, Ia terus-menerus menyerahkan diri-Nya "untuk keselamatan mereka."

Karena itu, pengudusan-Nya bukan untuk tujuan yang menguntungkan diri-Nya sendiri, melainkan untuk murid-murid-Nya, supaya mereka pun, "dikuduskan dalam kebenaran." Artinya dengan menyerahkan diri-Nya kepada mereka yang mengikuti Dia, sehingga melalui kehidupan-Nya mereka dapat memahami penyerahan diri yang sama terhadap tugas yang menyebabkan Dia datang ke dalam dunia. Seluruh rencana penginjilan-Nya bergantung pada pengabdian-Nya ini. Pengabdian itu telah mendorong murid-murid-Nya untuk setia menyerahkan diri mereka ke dalam kasih kepada dunia di sekitar mereka.



Meterai Pelayanan-Nya

Kasih harus menjadi ukuran untuk menilai pelayanan mereka bagi Tuhan Yesus. Mereka harus memberi dengan cuma-cuma sebagaimana mereka telah menerima dengan cuma-cuma juga (Mat 10:8). Mereka harus saling mengasihi sebagaimana Ia sudah mengasihi mereka (Yoh 13:34-35). Dengan kasih ini mereka dinyatkan sebagai murid-murid-Nya (Yoh 15:9-10). Kasih telah mencakup semua hukum-Nya (Yoh 15:12,17; bandingkan dengan Mat 22:37-40; Mar 12:30-31; Luk 10:27). Kasih ini - kasih Golgota - menjadi ukurannya. Setelah murid-murid-Nya mengikuti pelayanan Yesus selama tiga tahun, mereka harus mencurahkan segenap perhatian kepada orang-orang yang dikasihi Bapa yang untu mereka Sang Guru sudah mati (Yoh 17:23).

Kasih yang mereka perlihatkan adalah jalan supaya dunia dapat mengenal kebenaran Injil. Dengan cara bagaimana lagikah orang banyak dapat diyakinkan? Kasih adalah salah-satunya jalan untuk mendapatkan sambutan dari mereka. Yesus berdoa, Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka" (Yoh 17:25-26).



Pekerjaan Roh Kudus

Jangan kita mengira bahwa pengalaman dengan Tuhan Yesus dapat terwujud oleh akal manusia. Yesus menyatakan dengan jelas bahwa hidup-Nya diberikan kepada manusia hanya melalui Roh Kudus. "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna" (Yoh 6:63). Itulah sebabnya, untuk dapat mulai hidup di dalam Yesus, seseorang harus dilahirkan kembali (Yoh 3:3-9). Sifat manusia yang sudah rusak harus diperbaharui oleh Roh Tuhan menjadi ciptaan baru yang sesuai dengan gambar Allah. Dengan cara yang sama, Roh itu menguatkan dan melanjutkan kehidupan baru seorang murid, sementara ia terus bertumbuh dalam pengetahuan dan kasih karunia (Yoh 4:14; 7:38-39). Roh itu juga menyucikan seseorang melalui firman-Nya dan memisahkan dia bagi Tuhan untuk pelayanan yang kudus (Yoh 15:3; 17:17; bandingkan dengan Ef 5:26). Jadi, dari awal sampai akhir, pengalaman dengan Kristus yang hidup secara pribadi adalah pekerjaan Roh Kudus.

Demikian juga, hanya Roh Allah saja yang dapat menggupkan seseorang untuk melaksanakan tugas penginjilan. Yesus menekankan kebenaran ini dalam hubungan kerja sama dengan Roh Allah. Dengan kuasa Roh Kudus Ia memberitakan Injil kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, mengusir setan dan membebaskan orang-orang yang tertindas (Mat 12:28; Luk 4:18). Yesus adalah Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Sedangkan Roh Kudus adalah Allah yang bekerja di antara manusia. Ia adalah perantara Allah yang menjalankan Allah yang menjalankan rencana keselamatan yang kekal melalui orang-orang. Itulah sebabnya Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya bahwa Roh itu akan menyediakan jalan bagi pelayanan mereka. Ia akan mengaruniakan kepada mereka apa yang harus mereka katakan (Mat 10:19-20; Mar 13:11; Luk 12:12). "Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yoh 16:8). Ia akan menyatakan kebenaran agar manusia mengenal Tuhan (Mat 22:43; bandingkan dengan Mar 12:36; Yoh 16:14). Dengan kuasa-Nya, Ia menjanjikan kepada murid-murid-Nya kecakapan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan.10 Dalam hal ini, pemberitaan Injil sama sekali bukan pekerjaan manusia, melainkan rencana (pekerjaan) Allah yang telah berjalan sejak awal kejadian bumi, dan yang akan terus berlangsung hingga tujuan Allah tercapai. Penginjilan adalah semata-mata pekerjaan Roh Kudus. Kewajiban murid-murid-Nya adalah menyerahkan diri mereka untuk dikuasai sepenuhnya oleh Roh.

-----
10. Yohanes 14:12 baik diterapkan dalam penginjilan, karena menunjukkan hal yang mengherankan yang perlu diketahui. Tuhan Yesus mengatakan bahwa para murid tidak hanya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan Kristus, tetapi Ia juga berkata bahwa mereka akan melakukan "pekerjaan yang lebih besar" karena Yesus akan pergi kepada Bapa. Dengan demikian, bagian ini juga mengajarkan kepada kita bahwa para murid dengan kuasa Roh Kudus melakukan semua hal yang telah dikerjakan oleh Tuhan mereka - ini memang sedikit - dan bahkan berbuat lebih banyak. Mengenai apa sebenarnya pekerjaan yang lebih besar ini, Yesus tidak menerangkan, tetapi dari Kisah Para Rasul akan nyata bahwa hal ini hanya terjadi dalam penginjilan yang besar-besaran. Setidak-tidaknya, dalam pengertian ini, murid-murid benar-benar melihat hasil yang lebih besar daripada Kristus. Dalam kenyataannya, hanya dalam satu hari saja, yaitu pada hari Pentakosta, jumlah yang ditambahkan pada gereja lebih banyak daripada jumlah yang dicapai dalam tiga tahun pelayanan Kristus.



Penghibur yang Lain

Untuk kepentingan mereka sendiri, murid-murid perlu belajar lebih dalam mengenai pekerjaan Roh. Mereka perlu mengetahui hubungan Roh dengan Tuhan mereka. Sudah tentu Yesus mengetahui hal itu dan Ia menekankannya menjelang kematian-Nya. Sampai pada saat itu Ia senantiasa berada dekat mereka, sebagai Penghibur, sebagai Guru, dan sebagai Pandu mereka. Dalam persekutuan dengan Dia, mereka mendapat keberanian dan kekuatan. Dengan Dia mereka merasakan bahwa tidak ada perkara yang mustahil. Akan tetapi, mereka mulai bimbang ketika Yesus mengatakan bahwa Ia akan kembali ke surga. Untuk menyelesaikan masalah ini, yesus menjelaskan kepada mereka bahwa mereka dapat tetap terpelihara setelah Ia pulang ke surga.

Pada waktu itulah Yesus memberitahukan kepada mereka tentang Roh Kudus sebagai "Penghibur (Penolong) yang lain",11 Pembela atau Pribadi yang senantiasa akan menyertai mereka, sekalipun dunia tidak melihat Dia seperti mereka melihat Yesus di dunia (Yoh 14:16-17). Sama seperti Yesus telah melayani mereka selama tiga tahun, sekarang Roh itu akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran, dan Ia akan memberitakan kepada mereka hal-hal yang akan datang (Yoh 16:13). Ia akan mengajarkan segala sesuatu kepada mereka (Yoh 14:26). Ia akan menolong mereka berdoa (Yoh 14:12-13; Yoh 16:23- 24). Kesimpulannya, Ia (Roh Kudus) akan mempermuliakan Anak Allah dengan mengambil hak Kristus untuk menyatakannya kepada para pengikut-Nya (Yoh 16:14-15). Dunia tidak dapat menerima kebenaran ini, sebab dunia tidak mengenal Dia. Akan tetapi, murid-murid-Nya menerima kebenaran ini, sebab Ia menyertai mereka dan akan diam di dalam mereka (Yoh 14:17).

Yang dipercakapkan oleh Yesus ini bukanlah suatu teori, atau suatu kepercayaan, ataupun suatu penyelesaian sementara, melainkan suatu janji yang benar terhadap kerugian yang akan diderita oleh murid-murid-Nya. Penghibur yang lain itu, yang sama seperti Yesus sendiri, akan diam di dalam diri mereka. Sesungguhnya, sesuatu yang istimewa akam dialami oleh murid-murid, karena persekutuan yang mendalam dengan Roh Kudus lebih agung daripada yang mereka alami pada waktu berjalan-jalan dengan Yesus di Galilea. Semasa hidup-Nya, Yesus terbatas pada tubuh dan tempat, tetapi Roh Kudus tidak mengenal batas-batas itu. Mulai saat itu Tuhan Yesus dapat bersama-sama dengan mereka senantiasa, sebab Roh Kudus menyertai mereka selama-lamanya (Mat 28:20; bandingkan dengan Yoh 14:16). Dilihat dari sudut ini, jelas lebih baik Ia kembali kepada Bapa setelah Ia menggenapi pekerjaan-Nya, dan mengirim Penolong yang lain untuk menggantikan Dia (Yoh 16:7).

-----
11. Dalam bahasa Yunani asli, kata "lain" mempunyai arti yang khusus. Ini bukanlah yang dipakai untuk membandingkan dua hal yang tidak sama kualitasnya, akan tetapi kata ini lebih banyak dipakai untuk membandingkan dua hal yang sama kualitasnya. Perbedaannya hanya terdapat dalam pribadinya saja. Karena itu, fungsi dari perkataan ini menyatakan persamaan kualitas Roh itu dengan Anak Manusia yang telah menjelma, sehingga walaupun berbeda pribadinya, walaupun Roh itu sama seperti seperti Yesus dalam pelayanan-Nya terhadap murid-murid-NYa. Lihat G. Campbell Morgan, The Teaching of Christ, New York, Revell, 1913, hal. 65. Pembahasan yang baik tentang pengajaran Yesus mengenai pekerjaan Roh, dapat ditemukan dalam buku yang ditulis oleh Louis Burton Crane, The Teaching of Jesus Concerning the Holy Spirit, New York, American Tract Society, 1905; dan J. Ritchie Smith, The Holy Spirit in the Gospels, New York, Macmillan, 1926.



Rahasia Hidup yang Berkemenangan

Mudah dimengerti mengapa Tuhan Yesus menghendaki supaya murid-murid-Nya menantikan sampai janji itu menjadi kenyataan bagi mereka (Luk 24:49; Kisah 1:4-5,8; 2:33). Bagaimana mereka dapat menggenapi perintah Tuhan dengan sukacita dan damai sejahtera? Mereka membutuhkan pengalaman Kristus sedemikian hingga hidup mereka dipenuhi oleh kehadiran-Nya. Penginjilan harus menjadi suatu dorongan yang menyala-nyala dalam diri mereka, yang menyucikan keinginan mereka dan membimbing pikiran mereka. Hanya baptisan Roh Kudus secara pribadi yang dapat melakukan itu. Untuk pekerjaan yang mahabesar pribadi yang dapat melakukan itu. Untuk pekerjaan yang mahabesar itu, mereka membutuhkan bantuan yang luar biasa - suatu kepenuhan kuasa di atas. Ini berarti bahwa murid-murid harus mengakui kesombongan dan kebencian mereka yang sudah berakar, menyerahkan diri tanpa syarat kepada Kristus, dan dengan iman harus datang untuk mendapatkan kepenuhan Roh Kudus.12

Sekalipun mereka berasal dari rakyat jelata, sama sekali tidak menjadi soal. Hal ini mengingatkan kita akan kuasa Roh Kudus yang melaksanakan kehendak-Nya dengan sempurna di dalam orang-orang yang menyerah sepenuhnya kepada-Nya. Tegasnya kuasa itu ada di dalam Roh Kristus, bukan di dalam manusia. Yang penting, bukanlah siapa kita, melainkan siapa Dia yang mengubah kita.

-----
12. Janji ini telah dipenuhi kepada murid-murid-Nya pada hari Pentakosta (Kisah 2:4), tetapi hal itu tidak berakhir di situ. Berulang-ulang Lukas mengingatkan kita bahwa kepenuhan Roh Kudus adalah pengalaman yang tetap dan dijunjung tinggi pada masa jemaat yang mula-mula (Kisah 4:8,31; 6:3, 5; 7:55; 9:17; 11:24; 13:9,52). Setiap orang yang mengambil bagian dalam mengembangkan orang-orang di dalam jemaat ini adalah orang- orang yang telah mengalami pengalaman ini. Jelaslah bahwa kehidupan yang dipenuhi Roh itu tampaknya diterima sebagai suatu norma yang biasa dalam pengalaman-pengalaman kekristenan pada masa jemaat yang mula-mula, walaupun tidak semua anggota jemaat mengalami hal itu. Itulah sebabnya, sebagai contoh, Paulus terpaksa menasihati orang-orang Efesus supaya "penuh dengan Roh" (Ef 5:18). Dalam hubungan ini, baik sekali jika anda membaca buku-buku yang membahas pokok ini secara populer: Willian Arthur, The Tongue of Fire, London, The Epworth Press, 1956; John Wesley, A Plain Account of Christian Perfection, London, Epworth Press; Samuel Chadwick, The Way to Pentecost, New York, Fleming H. Revell, 1932; Charles G. Finney, "Be Filled with the Spirit" di dalam Revival Lectures, New York, Fleming H. Revell, 1958; Andrew Murray, The Full Blessing of Pentecost London, Oliphants Ltd., 1954; Samel Logan Brengle, When the Holy Ghost is Come, New York, Salvation Army Printing and Publishing House, 1911; R. A. Torrey, The Baptisan with the Holy Spirit, New York, Fleming H. Revell, 1895; V. R. Edman, They Found the Secret, Grand Rapids, Zondervan, 1960; dan khotbah "How to be Filled with the Holy Spirit" oleh Billy Graham, Revival ini Our Time, Weaton, Vankampen, 1950. istilah-istilah yang dipakai untuk melukiskan pengalaman ini mungkin berlainan, bergantung pada segi pandangan teologi masing-masing. Tetapi dengan mempelajari sejarah Kristen, akan tampak bahwa pengalaman itu sendiri, bagaimanapun didefinisikan, telah menjadi umum bagi mereka yang dipakai Tuhan dalam memberitakan Injil kepada orang lain.



Kebenaran yang Tidak Terlihat oleh Orang-Orang yang Belum Percaya

Baik sekali ditekankan lagi, bahwa hanya orang-orang yang senantiasa menaati Tuhan Yesuslah yang dapat menikmati pengalaman yang mulia ini. Orang-orang yang hanya mengikut dari jauh, seperti orang banyak itu, dan juga mereka yang berkeras hati tidak mau menerima firman-Nya, seperti orang-orang Farisi; tidak akan mengerti tentang pekerjaan Penghibur itu. Seperti telah kita ketahui sebelumnya, Tuhan Yesus tidak ingin mencampakkan mutiara-Nya di hadapan mereka yang tidak memerlukannya.13

Inilah ciri ajaran Tuhan Yesus dalam seluruh hidup-Nya. Yesus dengan sengaja menyediakan perkara-perkara yang sangat rahasia bagi beberapa murid-Nya yang terpilih dan terutama kedua belas murid-Nya itu (Mat 11:27; Luk 10:22; bandingkan dengan Mat 16:17). Sesungguhnya mata dan telinga mereka telah diberkatai. Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang telah mereka lihat dan yang sudah mereka dengar, tetapi mereka tidak dapat melihat dan mendengarnya (Mat 13:16-17; Luk 10:23-24; bandingkan dengan Mat 13:10-11; Mar 4:10-11; Luk 8:9-10). Cara pengajaran yang demikian kelihatannya mengherankan, sehingga nyata bahwa Yesus dengan sengaja menaruhkan segala-galanya ke dalam beberapa orang pilihan-Nya saja, agar mereka dapat dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk bekerja bagi Dia.

-----
13. Contoh yang baik tentang hal ini adalah Khotbah di Bukit yang terkenal itu (Mat 5:3-7:27; Luk 6:20-49). Ini terutama ditujukan bukan kepada orang banyak yang mengikuti Dia, walaupun mereka mendengar pengajaran-Nya (Mat 7:28-29). Sebenarnya khotbah mengenai kelakuan yang bermoral dan bersusila ditujukan hanya kepada beberapa pengikut terdekat yang dapat menerimanya. "Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka" (Mat 5:1-2; bandingkan dengan Luk 6:17-20). Mungkin lukisan yang paling mudah dipahami ialah bagaimana Yesus dengan sengaja tidak mau mengajarkan kepada mereka yang tidak dapat menerimanya, yaitu mengenai hubungan antara Dia sendiri dan janji kedatangan Mesias. Walaupun Ia menunjukkan bahwa Dialah Mesias itu kepada murid-murid-Nya pada awal pelayanan- Nya menegaskan hal ini (Yoh 1:41,45,49), namun tidak pernah ada catatan bahwa Dia pernah menyatakan diri-Nya sebagai Mesias kepada para pemimpin agama di Yerusalem sampai pada waktu Dia diadili, dan sesudah imam besar itu menanyakan secara tegas apakah benar Dia Kristus (Mat 26:63-64; Mar 14:61-62).



Masalah Pokok Dewasa Ini

Seluruh masalah berkisar pada pribadi Sang Guru. Pada dasarnya, cara kerja-Nya adalah cara hidup-Nya sendiri. Demikian pula seharusnya cara kerja para pengikut-Nya. Kita harus memiliki Roh-Nya dalam kehidupan kita apabila kita hendak bekerja bagi Dia dan menaati ajaran-Nya. suatu pekerjaan penginjilan tanpa Roh Kudus adalah mati dan tidak ada artinya. Hanya apabila Roh Kristus yang ada di dalam kita memuliakan Anak itu, barulah orang-orang dapat ditarik kepada Bapa.

Tentu kita tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak kita miliki. Kesanggupan kita untuk memberikan hidup kita kepada Kristus membuktikan bahwa kita memiliki hidup itu. Kita pun tidak dapat menahan dan tetap menyimpan apa yang kita miliki dalam Roh Kudus. Roh Kudus senantiasa mendorong kita untuk menyatakan Kristus kepada orang-orang lain. Di sinilah letaknya "paradoks" hidup yang besar itu - kita harus mati terhadap diri kita, agar kita dapat hidup bagi Kristus. Dalam penyangkalan diri, kita harus menyerahkan dan mengabdi kepada Tuhan kita. Inilah metoda Yesus menginjili. Mula-mula metoda ini hanya tampak pada beberapa pengikut-Nya saja, tetapi kemudian melalui mereka metoda ini menjadi kuasa Tuhan untuk memenagkan dunia.

Akan tetapi, kita tidak dapat berhenti di sini. Penting sekali kita memperlihatkan cara hidup kita di dalam Yesus kepada mereka yang belum percaya. Karena itu, kita harus mengerti segi lain dari rencana Yesus dengan murid-murid-Nya.



5. PERCONTOHAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu" (Yohanes 13:15).

Ia Memperlihatkan Cara Hidup-Nya

Tuhan Yesus menghendaki supaya murid-murid-Nya mempelajari cara hidup-Nya, baik terhadap Allah maupun terhadap manusia. Ia mengetahui, bahwa tidaklah cukup hanya menerima seseorang ke dalam persekutuan rohani dengan Dia. Murid-murid-Nya perlu mengetahui bagaimana caranya supaya pengalaman dalam persekutuan itu dapat dipelihara dan diterapkan dalam penginjilan. Tentu saja, secara teoritis, kehidupan mendasari tindakan, tetapi secara praktis kita hidup dengan apa yang kita lakukan. Dalam pemeliharaan jasmani kita harus bernapas, makan, bergerak, dan bekerja, untuk bertumbuh. Kalau fungsi-fungsi tubuh itu berhenti, hidup juga akan berhenti. Itulah sebabnya Yesus berusaha untuk menanamkan kepada para pengikut-Nya rahasia-rahasia rohani yang harus diterima sebagai unsur mutlak dalam rencana kerja-Nya. Tentu saja Ia tahu apa yang penting.



Peranan Doa

Perhatikan peranan doa dalam hidup Tuhan Yesus. Sesungguhnya, bukanlah suatu kebetulan bahwa Yesus sering memberi kesempatan kepada murid-murid-Nya untuk menyaksikan Ia bercakap-cakap dengan Bapa.14 Mereka dapat melihat bahwa doa memberi kekuatan dalam hidup-Nya. Meskipun mereka tidak dapat mengerti apa doa itu, mereka harus menyadari bahwa doa merupakan bagaian dalam rahasia kehidupan-Nya. Tuhan Yesus tidak memaksakan ajaran ini kepada murid-murid-Nya. Ia hanya berdoa terus sehingga mereka tergerak untuk meminta supaya mereka diajar berdoa.

Dalam kesempatan itu, Tuhan Yesus mulai memberikan pelajaran kepada mereka yang telah siap untuk menerima pelajaran itu. Ia menerangkan kepada mereka beberapa prinsip dasar mengenai doa, kemudian memberi ilustrasi untuk menjelaskan maksud-Nya, dengan mengucapkan sebuah contoh doa (Mat 6:9-13; Luk 11:1-11). Mungkin Anda menganggap bahwa penjelasan-Nya itu tidak sepadan dengan kemampuan murid-murid - memperinci kata demi kata yang harus mereka doakan - tetapi Tuhan Yesus tidak mau menyepelekan sesuatu yang begitu penting. Ia tahu bahwa metoda pengajaran yang sederhana sering dibutuhkan untuk mendorong orang-orang mulai melakukan ajaran ini. Tuhan Yesus memutuskan untuk mengajar sedemikian hingga pelajaran ini dapat diterima dengan sejelas-jelasnya oleh murid-murid-Nya.

Setelah itu, Ia berulang-ulang menekankan kepada murid-murid-Nya tentang kehidupan doa. Ia terus-menerus menambah serta memperdalam arti doa dan penerapannya, sesuai dengan kesanggupan mereka untuk menerima kebenaran-kebenaran itu. Inilah bagian dari pendidikan mereka yang tidak dapat diabaikan, bahkan harus mereka teruskan kemudian kepada orang-orang lain. Satu hal yang pasti ialah mereka tidak dapat mengharapkan banyak hasil, kalau mereka tidak memahami apa arti doa dan bagaimana berdoa dengan sungguh-sungguh.

-----
14. Kebiasaan Yesus berdoa dicatat lebih dari dua puluh kali dalam keempat Injil. Kebiasaan berdoa ini selalu disebut-sebut pada waktu Yesus akan mengambil suatu keputusan dalam hidup-Nya, misalnya pembaptisan-Nya (Luk 3:21); pemilihan kedua belas rasul (Luk 6:12); di atas gunung (Luk 9:29) perjamuan yang terakhir (Mat 26:27); di Taman Getsemani (Luk 22:39- 46); dan di atas kayu salib (Luk 23:46). Para rasul juga telah menulis tentang Yesus yang selalu mendoakan murid-murid-Nya dan pelayanan-Nya, supaya mereja menyadari bahwa Dialah Mesias itu (Luk 9:18); juga pada waktu Yesus mendengarkan laporan- laporan mengenai penginjilan mereka (Luk 10:21-22); pada waktu Ia mengajar mereka berdoa (Luk 11:1). Contoh yang lain mengenai kebiasaan Yesus berdoa ialah doa-Nya sebagai Imam Besar sebelum Dia disalibkan (Yoh 17:6-19); doa-Nya yang penuh kasih untuk Petrus (Luk 22:32); dan di rumah kedua murid di Emaus sesudah kebangkitan-Nya (Luk 24:30). Doa juga diutamakan dan dipakai dalam melakukan mukjizat-Nya yang penuh kuasa. Misalnya, pada waktu menyembuhkan orang banyak (Mar 1:35); pada waktu memberi makan lima ribu orang (Mat 14:19; Mar 6:41; Luk 9:16; Yoh 6:11). Selanjutnya, pada waktu memberi makan empat ribu orang (Mat 15:36; Mar 8:6); pada waktu penyembuhan orang yang bisu dan tuli (Mar 7:34); dan pada waktu membangkitkan Lazarus dari antara orang mati (Yoh 11:41). Selain itu, doa selalu siap diucapkan oleh Yesus pada waktu Ia melihat orang banyak, untuk siapa Ia sebenarnya sudah datang dan hendak menyelamatkan - sebelum pertengkaran dengan pemimpin-pemimpin agama (Luk 5:16); di dalam percakapan-Nya dengan orang-orang Yunani yang datang untuk menemui-Nya (Yoh 12:27); setelah menyuruh pulang kelima ribu orang yang telah diberi makan (Mat 14:23; Mar 6:46); memberkati anak-anak (Mar 10:16); dan akhirnya mendoakan mereka yang menyalibkan Dia (Luk 23:34).



Menggunakan Alkitab

Segi lain dari kehidupan Kristus yang dinyatakan dengan jelas kepada murid-murid-Nya adalah pentingnya Alkitab dan cara pemakaiannya.15 Ini tampak jelas dalam hal Ia berbakti dan memenangkan jiwa-jiwa. Tidak jarang Ia menyediakan waktu khusus untuk menerangkan arti beberapa nas Alkitab kepada murid-murid-Nya. Dalam setiap percakapan Ia selalu menggunakan Alkitab. Dalam keempat Injil, Yesus telah mengutip paling sedikit enam puluh enam ayat Perjanjian Lama dalam percakapan-Nya dengan murid-murid-Nya. Ini belum terhitung percakapan-Nya dengan orang lain, di mana Ia memakai kurang lebih sembilan puluh ayat Perjanjian Lama.16

Semua ini menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa dalam kehidupan mereka, mereka juga harus mengetahui dan menggunakan Alkitab. Yesus sering memperlihatkan kepada mereka bagaimana cara menerangkan nas Alkitab serta menggunakannya, sehingga paling tidak, mereka mengerti hal ini, dan dapat menerapkannya. Selanjutnya, kemampuan Yesus dalam mengingat ayat-ayat Perjanjian Lama dengan begitu luas pasti telah mengesankan kepada murid-murid-Nya mengenai perlu-Nya menghafalkan ayat Alkitab, dan menjadikan sumber keterangan.

Tuhan Yesus selalu menerangkan sesuatu dengan gamblang. Segala firman yang tertulis dalam Alkitab dan firman (perkataan) yang dikatakan oleh Tuhan Yesus tidaklah bertentangan, melainkan saling melengkapi. Murid-murid-Nya mempercayai apa yang Yesus percayai. Jadi, Alkitab serta perkataan-perkataan Yesus menjadi dasar yang objektif dari iman mereka kepada Kristus. Selanjutnya Ia menjelaskan juga kepada mereka bahwa jika mereka ingin tetap bersekutu dengan Dia di dalam Roh Kudus setelah Ia naik ke surga, mereka harus tetap tinggal di dalam firman-Nya (Yoh 15:7).

-----
15. Ia tidak pernah meragukan kuasa dan kesaksian firman Allah, karena Ia tahu bahwa Alkitab itu diilhami oleh Roh Kudus (Mat 22:43; Mar 12:36). Bagi-Nya ayat-ayat yang ditulis adalah "firman Allah" (Mat 15:6; Mar 7:13; Yoh 10:35; bandingkan dengan Luk 8:12). Memang dalam arti yang khusus, firman ini adalah perkataan-Nya sendiri yang telah ditafsirkan dan diperjelas (misalnya, Mat 5:21-22, 27-28), sebagaimana dinyatakan-Nya, "Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku" (Yoh 5:39; bandingkan dengan Mat 5:17-18). Dengan menyadari hal ini, Dia menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan-Nya adalah penggenapan firman itu, dan sering Ia meminta murid- murid-Nya agar mereka memperhatikan hal itu (Mat 5:18; 8:17; 13:14; 26:54, 56; Mar 14:49; Luk 4:21; 21:22; Yoh 13:18; 15:25; 17:21). Tidak mengherankan bahwa Yesus mempergunakan firman yang telah tersedia mengenai pengetahuan yang tertentu ini dalam pekerjaan-Nya. Inilah makanan rohani yang mengenyangkan jiwa-Nya (Mat 4:4), dan yang menguatkan Dia dalam melawan pencobaan (Mat 4:4, 7, 10; 12:3; Luk 4:4,8,12). Tetapi, yang lebih penting, firman itu merupakan Buku Pedoman- Nya untuk mengajar orang banyak, ataupun secara pribadi mengenai kebenaran yang kekal tentang Allah (misalnya, Luk 4:17-21; 24:27,32,44-45).

16. Ini adalah lukisan yang masing-masing terpisah tentang perkataan yang diucapkan-Nya yang diambil dari Perjanjian Lama - kadang-kadang dengan kutipan langsung untuk menyinggung suatu kejadian, atau dengan istilah-istilah yang dipergunakan dalam Kitab-Kitab Perjanjian Lama. Jika kutipan yang sama dalam keempat itu dihitung, jumlahnya kira-kira 160 bagian yang dikutip oleh Tuhan Yesus dari Alkitab, sebagaimana Alkitab itu ada pada masa hidup-Nya. Selanjutnya, Ia telah mengutip dua per tiga bagian dari seluruh Kitab-Kitab Perjanjian Lama mengenai hal ini. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa perkataan-perkataan Kristus benar-benar memuat pengajaran imam-imam, raja-raja, dan nabi-nabi. Seluruh alam pikiran-Nya senantiasa sesuai dengan firman yang diilhami sampai pada masa hidup-Nya itu. Lihat buku yang ditulis oleh Herman Harell Horne, Jesus the Master Teacher, New York, Association Press, 1920, hal. 93-106; dan J.M. Price, Jesus the Teacher, Nashville, Convention Press, 1954, hal. 8:11, 62-64. Sebenarnya daftar yang lengkap mengenai kutipan Perjanjian Lama yang terdapat dalam Kitab-Kitab Injil dapat ditemukan dalam buku A.T. Robertson, Harmony of the Gospels for Students of the Life of Christ, New York, 1922, hal. 295-301.



Yang Terutama: Memenangkan Jiwa

Melalui teladan-Nya setiap segi kehidupan Yesus diturunkan kepada murid-murid-Nya, tetapi tujuan Yesus yang terutama ialah memenangkan jiwa. Inilah yang senantiasa diajarkan kepada murid-murid-Nya.

Setiap ucapan dan perbuatan Yesus berhubungan dengan pekerjaan penginjilan, baik berupa penjelasan mengenai suatu kebenaran rohani, maupun berupa pengajaran mengenai cara-cara berhubungan dengan manusia. Yesus tidak menciptakan situasi mengajar secara khusus, melainkan memanfaatkan situasi yang ada dengan sebaik-baiknya. Itulah sebabnya cara-Nya mengajar tampaknya realistis sekali. Dengan jalan ini, murid-murid-Nya dapat menerima pelajaran dengan mudah tanpa menyadari bahwa mereka sedang dilatih untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan dalam situasi yang sama.



Mengajar dengan Wajar

Yesus menguasi pengajaran-Nya sedemikian hingga Ia tidak membiarkan metoda-Nya mengaburkan pelajaran-Nya. Ia membuat agar kebenaran itu sendiri yang menarik perhatian orang dan bukan cara penyajiannya. Metoda yang demikian menunjukkan seolah-olah Ia tidak memakai suatu metoda. Diri-Nya sendirilah metoda-Nya.

Dalam zaman teknologi yang sudah berkembang dengan pesat ini, sukar sekali kita mengerti metoda ini, karena tidak dapat dijadikan pegangan. Pada zaman modern ini, tersedia buku-buku pegangan atau alat-alat peraga yang serba menarik bagi setiap tugas yang ingin dilaksanakan. Setidaknya, Yesus diharapkan agar memberikan suatu pelajaran dalam kelas khusus untuk memenangkan jiwa. Namun, mengherankan sekali bahwa murid-murid-Nya tidak pernah memiliki alat-alat peraga yang sangat perlu itu untuk memenangkan jiwa.

Murid-murid Yesus hanya mempunyai seorang Guru saja yang bersama dengan mereka mengerjakan apa yang patut mereka pelajari. Mereka belajar hanya dengan melihat Dia bekerja: bagaimana cara mengenal sifat orang; bagaimana mendekati dan mendapatkan kepercayaan mereka; bagaimana memberitakan Injil agar mereka diselamatkan; dan bagaimana cara membimbing mereka untuk mengambil keputusan. Murid-murid-Nya menyaksikan Dia bekerja dalam segala keadaan dan menghadapi bermacam-macam orang: yang kaya dan yang miskin; yang sehat dan yang sakit, kawan dan lawan. Metoda-Nya sangat jelas dan praktis sehingga tampaknya wajar saja.



Kelas Latihan yang Terus-menerus Berjalan

Para murid senantiasa berada di dekat Yesus untuk menyaksikan bagaimana Dia bekerja, baik ketika Ia menghadapi pribadi-pribadi. Apabila ada sesuatu yang tidak jelas bagi mereka, Yesus selalu dapat diminta untuk menjelaskannya. Misalnya, setelah Yesus memberikan perumpamaan mengenai "seorang penabur" yang ditujukan kepada "sejumlah orang banyak" (Mat 13:1-9; Mar 4:1; Luk 8:4-8), murid-murid-Nya menanyakan maksud perumpamaan itu (Mat 13:10; Mar 4:10; Luk 9:9). Lalu Yesus menjelaskan secara terperinci arti perumpamaan itu. Dalam peristiwa ini, tampaknya Yesus memakai waktu tiga kali lebih banyak untuk menjelaskan arti perumpamaan itu kepada murid-murid-Nya daripada waktu yang digunakan untuk menceritakan perumpamaan itu kepada orang banyak (Mat 13:10-25; Luk 8:9-18).17

Jika murid-murid-Nya tampaknya bingung tentang sesuatu hal tetapi tidak mau menanyakannya dengan terus terang, Yesus sering mengambil inisiatif untuk menyelesaikan persoalan itu. Misalnya, dalam kisah tentang seorang muda yang kaya: Setelah Yesus melayani orang muda itu dengan tegas, dan ia pergi dengan sedih karena ia lebih mengasihi hartanya daripada mengasihi Kerajaan Allah, lalu Yesus berpaling kepada murid-murid-Nya dan berkata "Sesungguhnya sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga" (Mat 19:23; bandingkan dengan Mar 10:23; Luk 18:24). Murid-murid-Nya tercengang- cengang mendengar perkataan-Nya itu" (Mar 10:24). Kemudian Yesus menjelaskan mengapa Ia bersikap demikian terhadap orang muda yang kaya itu. Kesempatan ini digunakan-Nya pula untuk menguji iman mereka (Mat 19:24- 20:16; Mar 10:24-31; Luk 18:25-30).

-----
17. Contoh-contoh lain tentang hal yang sama terdapat dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum (Mat 13:36-43); celaan Tuhan Yesus terhadap orang Farisi yang mengingkari firman Allah dengan tradisi mereka (Mat 15:15-20); pperumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk 12:15- 21); Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin (Luk 16:19-31); perkataan-Nya kepada orang Farisi mengenai kedatangan Kerajaan Allah (Luk 17:20-37); dan persoalan mengenai izin perceraian menurut hukum Musa (Mat 19:1-12; Mar 10:1-12).



Prinsip yang Ditekankan

Metoda Yesus ini lebih menyerupai suatu khotbah yang tidak berkeputusan, dan merupakan suatu metoda melalui demonstrasi. Inilah rahasia pengaruh-Nya dalam pengajaran-Nya. Ia tidak meminta orang lain melakukan sesuatu sebelum Ia sendiri mempertunjukkan-Nya dalam kehidupan-Nya. Inilah bukti bahwa metoda-Nya bukan saja sempurna dalam pelayanan-Nya, tetapi juga berhubungan erat dengan tugas dalam kehidupan-Nya sendiri. Cara ini dapat dilaksanakan-Nya sebab Ia terus-menerus bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Kelas latihan-Nya terus- menerus berjalan. Apa pun yang Ia katakan atau Ia lakukan merupakan pelajaran yang nyata bagi murid-murid-Nya, dan mereka dapat setiap saat belajar melalui apa yang mereka saksikan sendiri.

Inilah cara yang terbaik. Kita dapat mengatakan kepada seseorang dengan cukup jelas apa yang kita maksudkan, tetapi yang jauh lebih baik ialah mempertujukkan kepada mereka bagaimana cara mengerjakannya. Manusia meminta contoh, bukan hanya penjelasan.



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa ini

Bila kita ingin melatih orang-orang, kita sendiri harus sudah siap untuk mengajar mereka menurut teladan kita, seperti kita pun menjadi pengikut Kristus (1Kor 11:1). Kita menjadi teladan (Fili 3:17; 1Tes 2:7,8; 2Tim 1:13). Mereka akan melakukan apa yang mereka dengan dan lihat dari kita (Fili 4:9). Dengan memberikan waktu dan bimbingan semacam ini kita dapat memasukkan cara hidup kita kepada mereka yang selalu bersama-sama dengan kita.

Kita harus benar-benar menyadari kewajiban kita untuk menunjukkan cara ini kepada mereka yang sedang kita latih. Kesadaran ini harus mencakup teladan untuk menyatakan buah-buah Roh Kudus melalui kehidupan kita. Ini adalah metoda Tuhan sendiri. Tidak ada cara lain yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan orang-orang bagi pekerjaan-Nya.

Meskipun demikian, kita tahu bahwa pengetahuan saja tidaklah cukup. Ini harus dipraktekkan, jika tidak, apa yang telah kita miliki atau pelajari itu akan sia-sia belaka. Sesungguhnya, pengetahuan yang tidak diterapkan dalam kehidupan dapat menjadi penghambat bagi usaha untuk mencapai kebenaran yang lebih lanjut. Tidak ada seorang pun yang dapat memahami hal ini dengan lebih baik daripada Tuhan Yesus sendiri. Ia melatih orang-orang untuk bekerja. Apabila mereka telah cukup siap untuk bekerja, Ia tahu bahwa mereka dapat bekerja bagi-Nya. Penerapan prinsip ini demikian pentingnya, sehingga dapat dianggap sebagai bagian lain dari rencana kerja-Nya untuk memperoleh kemenangan melalui orang-orang yang telah dilatih-Nya dan yang siap secara rohani.



6. PENGUTUSAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Matius 4:19).

Yesus memberi Tugas

Yesus senantiasa melatih murid-murid-Nya agar pada suatu ketika mereka dapat mengambil alih pekerjaan-Nya, untuk memberitakan Injil keselamatan kepada dunia. Rencana ini makin hari makin jelas kepada mereka sementara mereka mengikut Dia.

Kesabaran Yesus dalam mengembangkan dan melatih murid-murid-Nya, menunjukkan kepada kita bahwa Ia sangat memperhatikan kemajuan mereka. Ia tidak pernah terburu-buru menyuruh mereka berbuat sesuatu. Pertama-tama, Ia memanggil murid-murid untuk mengikut Dia. Pada waktu itu Ia segera membicarakan tugas mereka untuk menginjili dunia ini, walaupun itulah rencana-Nya sejak semula. Cara-Nya adalah mengikutsertakan murid-murid-Nya ke dalam pengalaman-Nya dan menunjukkan kepada mereka bagaimana cara Ia bekerja, sebelum menyuruh mereka mengerjakan sendiri.

Di pihak lain, Yesus tidak memadamkan reaksi spontan mereka untuk bersaksi mengenai iman mereka, bahkan sebenarnya, Ia merasa senang karena mereka ingin membawa orang-orang lain untuk menyaksikan apa yang telah mereka dapati. Andreas membawa Petrus, Filipus mendapatkan Natanael; Matius mengundang teman-temannya makan di rumahnya - dan Yesus menyambut dengan gembira adanya perkenalan dengan anggota-anggota baru ini. Perlu diperhatikan juga bahwa dalam beberapa peristiwa, Yesus secara khusus meminta orang-orang yang telah ditolong-Nya supaya bersaksi kepada orang-orang lain.

Ia juga memakai murid-murid-Nya dengan cara-cara lain untuk membantu pekerjaan-Nya, misalnya: mencari makanan dan mengatur tempat tinggal bagi rombongan yang mengikut Dia. Ia juga membiarkan mereka membaptis orang-orang yang digerakkan oleh pemberitaan-Nya (Yoh 4:2).18 Tetapi yang sangat mengherankan ialah bahwa setiap membaptis, murid- murid-Nya tidak berbuat banyak selama satu tahun atau lebih. Mereka hanya melihat Yesus bekerja. Ia mengarahkan tujuan-Nya melalui tindakan-Nya. Dalam panggilan-Nya yang kedua kepada keempat nelayan itu, Ia memperingatkan mereka untuk mengikut Dia menjadi "penjala-penjala manusia" (Mat 4:19; Mar 1:17; Luk 5:10). Tetapi, kelihatannya mereka tidak berbuat banyak untuk memenuhi tugas itu. Sekalipun beberapa bulan kemudian mereka telah ditetapkan secara resmi untuk menyertai pelayanan-Nya (Mar 3:14-19; Luk 6:13-16), namun mereka belum juga menunjukkan bukti bahwa mereka dapat mengerjakan tugas penginjilan itu sendiri. Pengamatan ini hendaknya membuat kita lebih sabar terhadap petobat-petobat baru yang mengikuti kita.

-----
18. Tidak dapat tidak, saya harus mengemukakan di sini bahwa murid-murid Yesus diberi hak untuk membaptis sebelum mereka diizinkan untuk berkhotbah. Bila kita menarik kesimpulan dari sini tentang adanya peraturan gerejani, hal ini akan benar-benar menyatakan bahwa pelayanan khotbah lebih penting serta penuh dengan bahaya dan hak-hak istimewa daripada pelayanan sakramen, atau setidaknya daripada pembaptisan. Tiap-tiap orang yang dipercayakan untuk pelayanan firman yang suci itu mempunyai kedudukan yang meminta tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada pelayanan pembaptisan, dan dengan demikian tanggung jawab yang lebih besar daripada pelayanan pembaptisan, dan dengan demikian tanggung jawab yang lebih besar ini akan meliputi yang lebih kecil. Penerapan kebijaksanaan ini, bagaimanapun juga, akan menimbulkan beberapa persoalan yang sukar dipecahkan dalam banyak jemaat dari gereja modern.



Pengutusan Pertama terhadap Kedua Belas Murid

Tetapi ketika Yesus memulai perjalanan-Nya yang ketiga di Galilea (Mat 9:35; Mar 6:6). Ia merasa bahwa sudah tiba waktunya bagi murid-murid-Nya untuk ikut serta dalam pekerjaan-Nya secara langsung. Mereka sudah menyaksikan cukup banyak untuk dapat mulai bekerja sendiri. Yang mereka butuhkan sekarang ialah, mempraktekkan apa yang telah mereka lihat. Sang Guru memanggil kedua belas murid-Nya dan mengutus mereka (Mat 10:5; Mar 6:7; Luk 9:1- 2). Sama seperti seekor induk rajawali mengajar anak-anaknya untuk terbang dengan mengusir mereka keluar dari sarangnya, demikian pula Yesus mendorong murid-murid-Nya ke dalam dunia ini untuk berdikari.



Memberi Petunjuk-Petunjuk Kerja

Sebelum melepas mereka pergi, Yesus memberi pentunjuk-petunjuk kerja kepada mereka. Apa yang Ia katakan kepada mereka itu penting sekali bagi penyelidikan kita, sebab pada saat itu Ia menguraikan kepada mereka dengan tegas inti dari segala yang telah disampaikan sedikit demi sedikit dalam pengajaran-Nya kepada mereka.

Pertama-tama, Ia menegaskan kembali tujuan-Nya bagi hidup mereka. Ia mengutus mereka untuk "memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang" (Luk 9:1-2; bandingkan dengan Mat 10:1; Mar 6:7). Tidak ada sesuatu yang baru dalam penugasan ini, tetapi berguna untuk lebih menjelaskan tentang tugas-tugas mereka. Bagaimanapun, Tuhan Yesus menekankan pentingnya tugas yang baru bagi mereka untuk memberitakan bahwa "Kerajaan Surga sudah dekat" (Mat 10:7). Perlu pula dijelaskan bahwa ruang lingkup mereka bukan hanya penyembuhan saja, tetapi juga "membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, mengusir setan-satan" (Mat 10:8).

Tetapi, Yesus tidak berhenti sampai di sini saja. Ia memberitahukan kepada mereka siapa-siapa yang harus mereka kunjungi lebih dahulu. "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" (Mat 10:5-6). Seolah-olah Yesus memerintahkan kepada murid-murid-Nya untuk pergi ke tempat orang-orang yang sudah siap untuk menerima berita mereka saja. Itulah cara Yesus memulai pelayanan-Nya, walaupun setelah itu Ia tidak lagi membatasi diri-Nya. Oleh sebab orang-orang sebangsa-Nya mempunyai latar belakang kebudayaan dan agama yang serupa, wajarlah kalau murid-murid mulai dengan melayani mereka. Yang sangat menarik ialah bahwa beberapa bulan kemudian, ketika Yesus mengutus ketujuh puluh murid yang lain, penugasan ini tidak diulangi-Nya lagi. Mungkin Ia ingin menunjukkan bahwa sudah tiba waktunya bagi mereka untuk memberitakan Kristus kepada orang lain yang ada di luar daerah mereka.

Mengenai kebutuhan jasmani mereka, mereka harus bersandar kepada Allah untuk mencukupi mereka. Mereka diminta untuk melayani dengan cuma-cuma, mengingat bahwa mereka juga sudah menerima dengan cuma-cuma dari Tuhan (Mat 10:8). Itulah sebabnya Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan membawa uang, baju, ataupun makanan (Mat 10:9-10; Mar 6:8-9; Luk 9:3). Kalau mereka setia kepada Allah, maka Allah akan memenuhi kebutuhan mereka. "Sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya" (Mat 10:10).



Mencontoh Metoda-Nya

Rencana Yesus yang lebih khusus lagi bagi murid-murid-Nya adalah untuk mencari orang yang paling layak dalam setiap kota yang mereka kunjungi dan tinggal dengan dia selama mereka memberitakan Injil di daerah itu. "Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya, sehingga sampai kamu berangkat" (Mat 10:11; bandingkan dengan Mar 6:10; Luk 9:4). Dengan kata lain, murid-murid diperintahkan untuk memusatkan waktu dan perhatian mereka pada pribadi- pribadi yang paling cocok untuk melanjutkan pekerjaan-Nya setelah mereka pergi. Calon-calon ini harus sudah dibayangkan sebelum pemberitaan Injil diadakan di tempat itu. Sebelum hal ini terlaksana, tidak ada gunanya memulai sesuatu di kota itu. Apabila mereka tidak dapat menemukan orang yang layak itu, mereka diharuskan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai suatu kesaksian atas penolakan itu. "Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu" (Mat 10:14-15; bandingkan dengan Mar 6:11; Luk 9:5). Prinsip untuk memilih tempat atau daerah kerja yang baru dengan menggunakan seorang calon pemimpin untuk meneruskannya ini, tidak dapat diabaikan. Yesus telah berpegang pada prinsip itu selama Ia hidup dengan murid-murid-Nya, dan Ia menghendaki agar mereka juga melakukan prinsip yang sama. Seluruh rencana pemberitaan Injil-Nya dilandaskan atas prinsip itu, dan tempat-tempat yang tidak mau mempraktekkan prinsip itu akan mendatangkan penghukuman atas diri mereka sendiri.



Kesulitan Pasti Akan Dialami

Yesus memperingatkan murid-murid-Nya bahwa tidak semua orang mau menerima berita Injil, dan bahwa kenyataan itu akan mengakibatkan murid-murid diperlakukan dengan tidak baik. "Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah" (Mat 10:17-18). Hal ini wajar karena "seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya" (Mat 10:24). Para pemimpin agama itu telah menyebut Yesus Beelzebul, tentu saja orang-orang seisi rumah Yesus pun tidak dapat tidak, akan menerima cacian yang sama (Mat 10:25). Ia juga menunjukkan bahwa cara-Nya itu bertentangan dengan cara duniawi. Karena itu, mereka akan dibenci oleh semua orang (Mat 10:22- 23). Namun demikian, Yesus menyatakan kepada mereka agar "jangan takut." Allah tidak akan meninggalkan mereka. Walaupun kesaksian mereka akan membahayakan jiwa-jiwa mereka sendiri, Roh Kudus akan menolong mereka menghadapi segala sesuatu (Mat 10:19-20). Apa pun yang akan terjadi atas diri mereka, Yesus menjamin bahwa setiap orang yang mengakui Dia di depan manusia, tidak akan dilupakan di hadirat Bapa-Nya di surga (Mat 10:32).

Yang sangat mengesankan kita ialah cara Yesus yang selalu berbicara dengan terus terang kepada murid-murid-Nya mengenai kekuatan musuh-musuh, dan penolakan manusia yang lazim terhadap Injil Keselamatan. Mereka tidak perlu mencari-cari kesukaran. Peringatan yang Ia berikan kepada mereka supaya "cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati" (Mat 10:16), menekankan perlunya sopan-santun dan kebijaksanaan. Namun, sekalipun mereka sudah berjaga-jaga, kenyataan masih tetap menunjukkan bahwa dunia tidaka akan dapat menerima murid-murid-Nya apabila mereka dengan setia memberitakan Injil. Mereka diutus "seperti domba ke tengah-tengah serigala" (Mat 10:16).



Injil Akan Memisahkan

Sesungguhnya, penting juga bahwa Yesus memperingatkan mereka tentang Injil yang bersifat menentukan itu. Tidak ada kompromi dengan dosa; oleh sebab itu, jika seseorang masih senang dengan perbuatannya yang keji, ia pasti terganggu oleh pemberitaan mereka. Mereka bukanlah utusan-utusan yang membiarkan kepuasan diri yang demikian. Bahkan Yesus berkata, "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku" (Mat 10:34-38). Apabila pada mulanya para murid menyangka bahwa tugas mereka itu mudah, sekarang pikiran semacam itu pasti lenyap. Mereka akan memberitakan suatu Injil revolusioner, dan apabila Injil ini ditaati, akan mengakibatkan suatu perubahan yang revolusioner pula dalam masyarakat.



Satu dengan Kristus

Dalam segala perintah-Nya, Yesus seolah-oleh menjelaskan bahwa dalam segala prinsip ataupan metoda, tugas murid-murid-Nya tidak berbeda dengan tugas-Nya. Ia mulai dengan memberi mereka hak dan kuasa untuk mengerjakan tugas itu (Mat 10:1; Mar 6:7; Luk 9:1), dan Ia mengakhiri dengan meyakinkan mereka, bahwa apa yang mereka kerjakan seolah-oleh Ia sendiri yang mengerjakan-Nya. "Barangsiapa menyambut kamu, Ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku (Mat 10:40; bandingkan dengan Yoh 13:20). Camkanlah persamaan ini! Murid-murid dipersiapkan untuk menjadi wakil Kristus yang sesungguhnya dalam menjalankan tugas mereka. Begitu jelas persekutuan ini! Murid-murid dipersiapkan untuk menjadi wakil Kristus yang sesungguhnya dalam menjalankan tugas mereka. Begitu jelas persekutuan ini sehingga barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia pengikut Yesus, sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya daripadanya (Mat 10:42).



Berdua-dua

Itulah perintah-perintah Yesus kepada murid-murid-Nya. Tetapi, sebelum mereka pergi, Ia terlebih dahulu mengutus mereka berdua-dua (Mar 6:7).19 Tidak dapat disangkal bahwa rencana ini dimaksudkan untuk memberi kepada murid- murid-NYa hubungan persaudaraan yang dibutuhkan dalam tugas ini. Mereka akan saling membantu. Dalam menghadapi kesukaran yang tidak selalu dapat dihindarkan, mereka masih dapat saling menghibur. Ini menunjukkan perhatian Tuhan Yesus secara khusus mengenai persekutuan.

"Lalu pergilah mereka dan mereka mengelilingi segala desa sambil memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat" (Luk 9:6; bandingkan dengan Mar 6:12). Kelompok kecil dari murid-murid ini akhirnya dapat memulai pelayanan mereka sendiri.

Bagi Yesus tentu saja hal itu tidak menjadi alasan untuk tidak bekerja lagi. Ia tidak pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang Ia sendiri tidak ingin mengerjakan-Nya. Demikianlah, setelah murid-murid-Nya pergi, Sang Guru pun "pergilah dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka" (Mat 11:1).

-----
19. Rencana tentang pergi berpasangan kelihatannya menjadi cara yang sering diikuti di dalam Kitab-Kitab Injil. Misalnya, dua orang murid disuruh mencari keledai muda yang akan dipakai oleh Tuhan Yesus untuk memasuki Yerusalem (Luk 19:29). Petrus dan Yohanes bersama-sama disuruh mempersiapkan perjamuan Paskah (Luk 22:8). Mungkin Yakobus dan Yohanes bersama-sama mengadakan perjalanan sebelum Tuhan Yesus memasuki Samaria, karena mereka berdualah yang amat marah dengan penyambutan terhadap kedatangan mereka itu (Luk 9:52,54). James I. Vancer di dalam bukunha yang kecil The College of Apostles, New York, Fleming H. Revell, 1896, bahkan mencoba menggambarkan semua rasul dalam pasangan-pasangan menjadi enam kelompok yang masing-masing terdiri dari dua orang. Rencana Yesus ialah bahwa para murid di suruh pergi berpasangan supaya saling melengkapi dan memperkecil kesalahan-kesalahan masing-masing. Pengelompokan ini mempersatukan Petrus yang radikal dengan Andreas yang kuno; Yakobus yang lebih tua dengan Yohanes yang masih muda; Filipus yang bijaksana dengan Bartolomeus yang cerdik; Tomas yang selalu bimbang dengan Matius yang berkeyakinan teguh; Yakobus anak Alfeus yang selalu cemerlang dalam melakukan tugasnya dengan Tadeus yang cemerlang dalam memegang asas; dan Simon orang Zelot dengan Yudas si pengkhianat. Dukungan terhadap dugaan ini hampir seluruhnya terletak pada daftar dari para rasul yang ditulis oleh Matius (Mat 10:2- 4). Latham, Pastor Pastorum, Cambridge, Deighton Bell and Co., 1910, hal. 192. Bagaimanapun juga, secara terus terus terang, saya kira kita harus menyadari bahwa pengelompokan ini kebanyakan bertolak dari sebuah hipotesa (dugaan). Walaupun demikian, dengan jelas Kisah Para Rasul menyebut kepergian para rasul dan para penginjil dari gereja itu dilakukan dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih.



Pengutusan terhadap Ketujuh Puluh Murid

Beberapa bulan kemudian, tujuh puluh murid yang lain diutus lagi berdua-dua untuk bersaksi bagi Tuhan (Luk 10:1). Tidak dijelaskan siapa murid-murid yang lain ini, tetapi ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa di antara mereka termasuk juga kedua belas murid yang pertama. Jumlah rombongan ini juga menunjukkan hasil dari pekerjaan kedua belas murid dalam bersaksi bagi Kristus.

Tugas-tugas kepada rombongan yang lebih besar ini banyak yang serupa dengan apa yang sebelumnya sudah diberikan kepada kedua belas murid (Luk 10:2-16). Hanya di sini ada suatu tambahan dalam menjalankan tugas baru ini, yaitu peringatan bahwa mereka harus pergi mendahului-Nya "ke setiap kota dan tempat, yang hendak dikunjungi-Nya" (Luk 10:1). Artinya, murid-murid ini menjadi utusan-utusan bagi Tuhan, untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi pelayanan-Nya. Pesan yang khusus ini dijelaskan kepada mereka beberapa minggu sebelumnya, sementara mereka menuju ke Samaria (Luk 9:52). Jadi, sebenarnya tugas itu bukanlah sesuatu yang tidak mereka ketahui sebelumnya. Ini semata-mata menunjukkan lagi bahwa mereka semuanya harus mempraktekkan strategi penginjilan yang telah mereka pelajari dari Tuhannya.



Amanat-Amanat setelah Kebangkitan

Prinsip memberi tugas penginjilan kepada murid-murid-Nya telah diulang kembali oleh Yesus sebelum Ia naik ke Surga setelah penyaliban dan kebangkitan-Nya. Sedikitnya pada empat pertemuan dengan murid-murid, Ia menyuruh supaya mereka ke luar dan melakukan pekerjaan-Nya. Pertama kali hal itu diucapkan-Nya kepada murid-murid-Nya, kecuali Thomas, pada malam pertama ketika mereka berkumpul di ruang atas. Setelah Yesus menunjukkan luka pada tangan dan kaki-Nya, murid-murid-Nya terkejut (Luk 24:38-40), dan Ia makan bersama-sama dengan mereka (Luk 24:41-43). Lalu Ia berkata, "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yoh 20:21). Kemudian Yesus mengingatkan mereka kembali akan janji-Nya bahwa Roh Kudus akan menyertai mereka dalam pelayanan mereka.

Kemudian, setelah Yesus makan pagi dengan murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias, tiga kali Ia menyuruh Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh 21:15-17). Teguran ini diberikan kepada nelayan besar itu sebagai bukti kasihnya kepada Tuhan Yesus.

Di atas sebuah bukit di Galilea Yesus menyampaikan amanat-Nya yang agung, bukan hanya kepada kesebelas murid-Nya (Mat 28:16), tetapi juga kepada seluruh jemaat yang pada waktu itu berjumlah lima ratus orang (1Kor 15:6). Itu adalah satu proklamasi yang jelas mengenai startegi-Nya untuk memenangkan dunia. "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:18-20; Mar 16:15- 18).

Akhirnya, sebelum Ia naik kepada Bapa, Yesus mengulangi lagi kepada murid-murid-Nya segala sesuatu yang harus mereka lakukan. Ia menjelaskan kepada mereka segala sesuatu yang harus digenapi, ketika Ia masih bersama-sama dengan mereka (Luk 24:44-45). Dengan demikian, penderitaan-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati pada hari yang ketiga itu sesuai dengan apa yang telah direncanakan (Luk 24:46). Selanjutnya, Yesus menegaskan kepada murid-murid-Nya bahwa "dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem" (Luk 24:47). Untuk melaksankan tujuan ilahi ini, murid-murid harus turut melakukan hal yang sama seperti yang telah Guru mereka lakukan. Mereka harus bertindak sebagai alat untuk memberitakan Injil Kabar Baik, dan Roh Kudus akan memberi mereka kuasa untuk melaksanakan tugas mereka. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi" (Kisah 1:8; bandingkan dengan Luk 24:48-49).



Prinsip-Nya Telah Jelas

Jelas bahwa Yesus tidak membiarkan pemberitaan Injil ini dijalankan menurut gagasan dan perasaan manusia. Bagi murid-murid-Nya, panggilan itu pada mulanya hanya merupakan kesan, akan tetapi pengertian mereka menjadi lebih terang sewaktu mereka mengikuti Tuhan Yesus, dan akhirnya perintah itu disampaikan kepada mereka dalam bentuk amanat yang tegas sehingga tidak mungkin lagi mereka salah mengerti. Tidak seorang pun dari pengikut Yesus dapat melepaskan diri dari amanat-Nya itu. Hal ini berlaku pada waktu itu, dan tetap berlaku sampai pada hari ini juga.

Murid-murid Kristen adalah utusan-utusan - untuk memberitakan Injil kepada dunia ini. Pengutusan ini sama seperti pengutusan terhadap diri Tuhan Yesus ke dalam dunia ini untuk menyerahkan nyawa-Nya. Penginjilan bukan semata-mata suatu tambahan yang baik dalam tugas kehidupan kita, tetapi juga harus menjiwai segala sesuatu dalam hidup dan pekerjaan kita. Hanya amanat yang telah diberikan kepada gereja inilah yang dapat memberi arti kepada segala sesuatu yang dilaksanakan atas nama Kristus. Dengan memusatkan pemberitaan Injil itu kepada suatu sasaran yang jelas, maka semua yang dikerjakan dan dikatakan itu akan memenuhi tujuan penebusan Allah. Lembaga-lembaga pendidikan, acara-acara sosial. Rumah- rumah sakit, pertemuan-pertemuan gereja dalam segala bentuk - segala sesuatu yang dikerjakan atas nama Kristus - itu hanya akan dapat dibenarkan bila merupakan pelaksanaan dari tugas Amanat Agung ini.



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

Tidaklah cukup menjadikan prinsip ini hanya sebagai cita-cita saja, melainkan harus dilaksanakan oleh mereka yang sedang mengikut Juruselamat itu. Jalan yang terbaik untuk memastikan hal itu ialah dengan memberi latihan dan menyuruh orang-orang mengerjakannya. Dengan demikian, mereka akan mulai bekerja, dan kalau mereka telah melihat pekerjaan itu dipertunjukkan dalam kehidupan gurunya, tidak ada alasan bagi mereka untuk menunda tugas yang diserahkan kepada mereka. Apabila gereja sungguh- sungguh memperhatikan pelajaran ini dan mulai menginjili, tentu mereka yang duduk-duduk di bangku gereja juga akan segera mulai bergerak keluar bagi Tuhan.

Namun demikian, kenyataannya bahwa seseorang sudah mulai mengerjakan tugas ini belum menjamin bahwa ia akan meneruskannya. Sekalipun sudah dimulai, mereka masih perlu di dorong terus ke arah tujuan yang benar. Tentu saja, pertama-tama Yesus memberikan tugas-tugas kepada murid-murid-Nya. Itu bukan berarti bahwa mereka telah tamat dari sekolah latihan-Nya. Masih banyak yang harus mereka pelajari sebelum dapat dianggap siap untuk menamatkan pelajaran mereka. Sebelum saat itu tiba, Ia tidak ingin melepaskan mereka dari pengawasan-Nya secara pribadi. Perhatian-Nya dalam hal ini begitu jelas dan metoda-Nya berkenaan dengan hal ini begitu nyata, sehingga pengawasan dapat dianggap sebagai suatu langkah lain dalam rencana Yesus.



7. PENGAWASAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Belum jugakah kamu paham?" (Markus 8:17).

Ia Mengawasi Mereka

Setiap kali murid-murid menyelesaikan tugas pemberitaan Injil, Yesus mendekati mereka untuk mendengarkan laporan-laporan kerja mereka dan juga membagikan pengalaman-pengalaman-Nya dalam hal-hal yang sama. Ini berarti bahwa pengajaran-Nya berkisar antara petunjuk-petunjuk dan pemberian tugas-tugas. Pada waktu Ia bersama-sama dengan mereka, Ia menjelaskan alasannya mengapa sesuatu hal dilakukan, dan menyiapkan mereka untuk mendapat pengalaman-pengalaman baru. Segala sesuatu yang Ia katakan - pertanyaan-pertanyaan-Nya, ilustrasi-ilustrasi-Nya, peringatan-peringatan-Nya, dan ajaran-ajaran-Nya - dimaksudkan untuk menunjukkan hal-hal yang perlu mereka ketahui dalam menyelesaikan pekerjaan-Nya, yaitu penginjilan dunia ini.

Sesuai dengan prinsip ini, segera setelah kedua belas murid diutus, mereka "berkumpul dengan Yesus" dan memberitahukan kepada-Nya "semua yang mereka kerjakan dan ajarkan" (Mar 6:30; Luk 9:10). Seolah-olah Alkitab menyatakan bahwa pertemuan kembali ini telah diatur sebelumnya. Oleh sebab itu, perjalanan keluar yang pertama dari para murid hanya merupakan suatu latihan, sementara mereka masih melanjutkan pelajaran mereka dengan Sang Guru.

Sudah tentu, bahwa dengan berkumpul kembali setelah perjalanan penginjilan selesai, murid-murid mendapat kesempatan, untuk beristirahat secara jasmani maupun secara rohani, yang sangat mereka butuhkan. Tentang berapa lama para murid itu keluar, tidak dijelaskan dalam Alkitab. Mungkin hanya beberapa hari saja, atau mungkin juga seminggu. Sebenarnya unsur waktu tidaklah begitu dipentingkan. Yang penting, seperti tertulis, adalah bahwa setelah murid-murid diutus keluar, mereka harus saling membagikan pengalaman maisng-masing, dengan kelompok mereka.

Demikian juga, setelah ketujuh puluh murid itu diutus keluar, Yesus memanggil mereka kembali untuk memberi laporan mengenai pekerjaan mereka selama perjalanan. "Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu" (Luk 10:17). Setelah pengutusan pertama, kedua belas murid tidak melaporkan hasil yang menyolok tentang pekerjaan mereka, tetapi kemudian mereka mempunyai suatu laporan yang sangat gemilang. Mungkin, perbedaan ini disebabkan oleh adanya persiapan tambahan yang diberikan kepada murid-murid itu.

Tidak ada yang dapat membuat Tuhan Yesus lebih bersukacita selain daripada ini. Melihat kemenangan yang akhirnya dicapai oleh murid, Yesus berkata, "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit" (Luk 10:18). Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus" dan kemudian Ia memuji Allah atas segala yang telah diperbuat-Nya (Luk 10:21-22). Demikianlah cara Yesus bekerja selama berbulan-bulan dan sekarang Ia mulai melihat buah-buahnya. Untuk membuktikan bahwa Yesus sangat memperhatikan kebenaran yang perlu dipelajari melalui pengalaman-pengalaman, maka peristiwa ini juga digunakan-Nya untuk memperingatkan murid-murid agar jangan sombong karena mereka telah berhasil. Ia takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga" (Luk 10:20).



Terus-menerus Ditinjau Kembali dan Diterapkan

Dalam perhimpunan para murid, pengalaman-pengalaman mereka diperiksa setelah mereka kembali dari kunjungan-kunjungan mereka. Di situ kita melihat dengan jelas strategi Tuhan Yesus dalam seluruh pelayanan-Nya. Apabila Ia meninjau kembali pengalaman murid-murid-Nya, Ia juga menunjukkan kepada mereka cara yang praktis untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Sebagai contoh, perhatikan cara Dia menjawab pertanyaan para murid yang tidak berhasil menyembuhkan seorang anak. Peristiwa ini terjadi pada waktu Tuhan Yesus bersama-sama dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes di atas gunung, tempat Ia dimulaikan. Sebelum ia datang, beberapa murid sudah berusaha untuk menyembuhkan seorang anak yang dirasuk setan, yang dibawa oleh ayahnya kepada mereka. Tetapi mereka gagal, karena iman mereka belum cukup teguh. Pada waktu Tuhan Yesus turun dari atas gunung, di tengah-tengah murid-murid-Nya, Ia melihat seorang ayah dengan anaknya yang berguling-guling karena sakit. Tentu Yesus dapat menyembuhkan anak itu dengan segera, tetapi peristiwa itu tidak dilewatkan begitu saja, melainkan dipakai-Nya untuk memberi pelajaran yang mereka perlukan tentang pentingnya lebih banyak berdoa dan berpuasa agar dapat memegang janji-janji Allah (Mat 17:14-20; Mar 9:17-29; Luk 9:37-43).

Contoh yang lain ialah cara Yesus mengingatkan kembali tugas mereka pada waktu Ia memberi makan kepada orang banyak. Ia ingin meyakinkan mereka akan kuasa-Nya dalam segala perkara serta memberi juga pelajaran kepada mereka tentang pengertian rohani (Mat 14:13-21; 15:29-38; Mar 6:30-44; 7:31- 8:9, 13:21; Luk 9:10-17; Yoh 6:1-13). Peristiwa ini terjadi ketika mereka berada di dalam sebuah perahu menyeberangi Danau Galilea, sesaat setelah Sang Guru mencela dengan keras sikap kaum agama pada waktu itu, yang menuntut suatu tanda ajaib dari surga (Mat 15:39-16:4; Mar 8:11-13). Sambil mengeluh dalam hati-Nya karena kejadian di seberang danau itu, Tuhan Yesus berpaling kepada murid-murid-Nya dan berkata, Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi." Tetapi murid-murid yang lambat mengerti hal-hal yang rohani mengira bahwa maksud Yesus adalah mereka tidak boleh membeli roti dari orang-orang yang tidak percaya. Ketika mereka merasa lapar, dan mereka hanya mempunyai sepotong roti, mereka mulai bimbang dari mana mereka dapat sama sekali tidak mengerti maksud ucapan-Nya yang mengandung pelajaran rohani itu agar mereka berhati-hati terhadap ketidak-percayaan, Yesus berkata, "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk kelima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka "Dua belas bakul" (Mar 8:17-19).

Setelah mendengar perkataan itu, tentu saja mereka ingat kembali dengan jelas peristiwa ketika mereka menyuruh orang banyak itu duduk makan serta menyaksikan Tuhan Yesus melakukan mukjizat dengan roti-roti itu.20 Mereka juga ingat bagaimana Ia memakai mereka untuk membagikan makanan itu kepada sampai setiap orang kenyang dan kemudian Ia menyuruh mereka mengumpulkan sisanya. Sesungguhnya mereka dapat mengingat semua itu dengan jelas, karena masing-masing dari kedua belas murid mendapat satu bakul sisa makanan itu. Demikian pula mereka ingat bahwa dengan cara yang sama mereka mendapat tujuh bakul sisa setelah memberi makan empat ribu orang. Dengan bukti kuasa-Nya ini, mereka tidak dapat menyangsikan lagi, bahwa apabila mereka perlu, Yesus senantiasa dapat memberi makanan kepada mereka meskipun mereka hanya mempunyai sepotong roti saja. "Ketika itu barulah mereka mengerti bahwa bukan maksud-Nya supaya mereka waspada terhadap ragi roti, melainkan terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki" (Mat 16:12).

-----
20. Sebelum Yesus memberi makan lima ribu orang, Ia lebih dahulu meminta murid-murid-Nya memberi orang-orang itu sesuatu untuk dimakan. Ini dilakukan-Nya untuk menunjukkan betapa kecilnya iman mereka (Yoh 6:6), dan juga untuk memaparkan kepada mereka mengenai kesulitan yang timbul karena kurang beriman itu. Sesudah para murid menyadari ketidakmampuan mereka dalam menghadapi keadaan ini, barulah Yesus turun tangan. Tetapi, pada waktu itu Ia tetap melibatkan murid-murid dalam mengatasi persoalan itu.



Ia Mengajar Murid-Murid-Nya Bersabar Hati

Salah satu yang sangat mengesankan, dari sekian banyak teguran Tuhan terhadap kegiatan murid-murid-Nya, yaitu sikap mereka terhadap pekerjaan orang lain yang tidak termasuk dalam kelompok para murid. Dalam suatu perjalanan, mereka pernah bertemu dengan seorang yang sedang mengusir setan dalam nama Tuhan Yesus, dan mereka melarang itu karena ia bukan pengikut mereka (Mar 9:38; Luk 9:49). Murid-murid mengira bahwa tindakan mereka itu benar. Tetapi ketika hal itu dilaporkan kepada Sang Guru. Tuhan Yesus merasa perlu untu menguraikan kepada mereka panjang lebar tentang bahaya melarang pekerjaan apa pun yang dijalankan karena Dia (Mat 18:6-14; Mar 9:39-50). Yesus berkata, "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu" (Luk 9:50). Lalu, untuk menjelaskan penggunaan yang lebih luas, Ia menekankan tentang orang- orang yang tulus hati, terutama anak-anak. Ia berkata, "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut" (Mar 9:42). "Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang" (Mat 18:14).

Dalam perjalanan lain, murid-murid juga menghadapi perlawanan atas pekerjaan mereka, sementara menjalankan menjalankan tugas bersama-sama dengan Tuhan di Samaria. Dengan segera, mereka ingin meminta api turun dari langit untuk membinasakan orang-orang itu (Luk 9:51-54). Akan tetapi, Yesus yang sedang berdiri dekat mereka, "berpaling dan menegur mereka". Ia berkata, "Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya" (Yoh 12:47). Setelah itu, "lalu mereka pergi ke desa yang lain" (Luk 9:56).



Prinsip yang Ditekankan

Banyak ilustrasi lain yang dapat dipakai untuk menunjukkan bagaimana Yesus senantiasa mengawasi tindakan dan reaksi murid-murid-Nya dalam menghadapi kesulitan. Ia terus menerus mendekati mereka, dan semakin dekat dekat akhir pelayanan-Nya di bumi, semakin banyak Ia mencurahkan perhatian-Nya kepada mereka. Ia tidak membiarkan mereka tetap diam dalam keberhasilan, ataupun dalam kegagalan. Apa pun yang telah mereka lakukan, Tuhan tetap menunjukkan kepada mereka bahwa selalu masih banyak lagi yang harus dikerjakan dan dipelajari. Memang Ia bersukacita melihat keberhasilan mereka, tetapi ia terus-menerus menekankan tujuan-Nya, yaitu untuk memenangkan seluruh dunia ini. Itulah sebabnya Ia senantiasa mengawasi segala usaha mereka.21

Inilah latihan praktek yang terbaik. Yesus membiarkan murid-murid-Nya mencari pengalaman-pengalaman atau membuat pernyataan- pernyataan sendiri, kemudian Ia menggunakannya sebagai titik tolak untuk melanjutkan ajaran-Nya mengenai pemuridan. Apabila mereka gagal dalam berusaha untuk mengerjakan pekerjaan-Nya, mereka akan lebih menyadari kekurangan mereka, sehingga, mereka bersedia menerima teguran Sang Guru. Di samping itu, Yesus dapat pula menekankan ajaran-Nya tepat pada beberapa peristiwa tertentu dalam kehidupan dengan menjelaskan cara pelayanan yang sesuai. Seseorang senantiasa akan lebih menghargai suatu pelajaran, apabila ia diberi kesempatan untuk mempraktekkan apa yang sudah diketahuinya.

Yang paling penting dalam pengawasan ialah bahwa Tuhan Yesus senantiasa mendorong murid-murid-Nya ke arah tujuan yang telah Ia tetapkan bagi mereka. Ia tidak mengharapkan lebih daripada apa yang sanggup mereka kerjakan, tetapi Ia menghendaki supaya mereka berusaha sekuat tenaga. Ia mengharapkan supaya mereka senantiasa maju, sementara mereka bertumbuh dalam pengetahuan dan kasih karunia. Rencana pengajaran-Nya yang terdiri dari memberi teladan, memberi tugas, dan mengawasi terus-menerus merupakan rencana-Nya untuk mendorong mereka mencapai hasil yang semaksimal mungkin.

-----
21. Jelas sekali bahwa Ia sangat berhati-hati dalam mengajar mereka bahwa Roh Kudus akan terus mengawasi pekerjaan mereka sesudah Ia meninggalkan mereka secara badani. Pekerja Kristen tidak pernah berjalan tanpa pengawasan secara pribadi.



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

Pengawasan serupa, yang tekun dan penuh kesabaran, sangat dibutuhkan dewasa ini oleh orang-orang yang berusaha untuk melatih orang-orang lain dalam penginjilan. Jangan kita menganggap bahwa pekerjaan ini dapat dilakukan dengan baik hanya karena orang yang melakukannya telah dilatih lalu diutus keluar dengan semangat yang meluap-luap. Banyak hal dapat menggagalkan dan membelokkan pekerjaan itu. Jika hal-hal ini belum pernah dihadapi oleh para pelatih, maka mereka dapat dengan mudah menjadi kecil hati dan cemas. Demikian pula, banyak pengalaman anugerah yang membawa kesukaan hati harus dijelaskan dan diperdalam, sehingga dipandang sebagai bagian rahmat dari Kristus terhadap dunia. Oleh bidang penginjilan untuk mendapat pengawasan dan bimbingan pribadi sampai pada saat mereka boleh dilepas untuk meneruskannya sendiri.



Tujuan Harus Selalu Jelas

Kita harus senantiasa ingat bahwa tujuan kita adalah memberitakan Injil untuk memenangkan seluruh dunia. Janganlah memberitakan sesuatu yang belum benar-benar kita mengerti. Sering terjadi bahwa seseorang diutus ke tempat pelayanan tanpa terlebih dahulu diberi latihan ataupun petunjuk. Akibatnya, kegiatan-kegiatannya hanya terbatas pada suatu lingkungan kecil saja yang menghabiskan tenaga dengan kesibukan-kesibukan tanpa ada pertumbuhan. Orang itu memiliki percakapan, tetapi tidak dikembangkan. Dengan demikian, ia tidak dapat menjadi pemimpin yang cakap sebab kurang pengawasan. Hasilnya lenyap, justru pada saat kemenangan sudah berada di ambang pintu. Apa yang pada mulanya kelihatan baik, akhirnya menjadi batu penghalang.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa kebanyakan dari usaha kita bagi Kerajaan Surga terbuang percuma karena kelalaian semacam itu. Kita gagal bukan karena kita tidak berusaha mengerjakan sesuatu, tetapi karena kita membiarkan usaha-usaha kita yang kecil menjadi alasan untuk tidak berbuat yang lebih besar. Akibatnya hasil kerja dan pengorbanan kita yang sudah bertahun-tahun dilakukan itu menjadi sia-sia.

Kapan lagi kita akan belajar kepada Kristus untuk tidak merasa puas hanya dengan hasil pertama dari mereka yang diutus untuk bersaksi? Murid-murid harus dibimbing kepada kedewasaan. Itulah yang harus kita kerjakan untuk mencapai kemenangan. Ladang kita adalah seluruh dunia ini. Kita tidak dipanggil untuk mempertahankan benteng, tetapi untuk menyerbu sampai ke puncak-puncaknya. Hanya dengan demikian kita dapat memahami langkah terakhir dalam strategi penginjilan Tuhan Yesus.



8. PELIPATGANDAAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Pergi dan menghasilkan buah" (Yohanes 15:16).

Yesus Mengharapkan Supaya mereka Melipatgandakan Diri

Yesus menghendaki supaya murid-murid-Nya menjadi sama seperti Dia sendiri di dalam dan melalui gereja (jemaat) yang sedang dihimpunkan-Nya dari dunia ini. Jadi, pelayanan-Nya melalui Roh Kudus harus dilipatgandakan melalui kehidupan murid-murid-Nya. Melalui mereka dan orang-orang lain yang seperti mereka, pelayanan itu akan terus berkembang, sehingga banyak orang dapat mengalami hidup yang sama seperti yang telah mereka alami dengan Yesus. Dengan strategi demikian, nyatalah bahwa kemenangan atas dunia ini hanya bergantung pada waktu dan kesetiaan mereka kepada rencan-Nya.

Dalam diri murid-murid-Nya, Tuhan Yesus telah menanamkan suatu susunan gereja yang akan mengalahkan kuasa maut dan neraka (Mat 16:18). Kerajaan-Nya telah mulai sebagai biji sesawi yang kecil, yang akan bertumbuh terus sampai menjadi pohon yang "lebih besar daripada sayuran yang lain" (Mat 13:32; Mar 4:32; Luk 13:18-19). Yesus tahu bahwa tidak semua orang akan diselamatkan. Ia mengakui adanya pemberontakan manusia terhadap anugerah yang telah disediakan, tetapi Ia melihat jauh ke masa yang akan datang, pada saat mana Injil keselamatan akan diberitakan dalam nama-Nya kepada segenap makhLuk Melalui pemberitaan ini, gereja-Nya berperang melawan dosa dan Iblis, pada suatu ketika akan menjadi gereja yang aman serta gereja yang menang.

Kemenangan ini tidak dicapai dengan mudah. Banyak yang akan mengalami aniaya dan mati syahid di dalam peperangan itu. Tetapi, bagaimanapun beratnya ujian-ujian yang dialami oleh murid-murid-Nya, dan bagaimanapun banyaknya pemberontakan yang membawa kegagalan-kegagalan, pada akhirnya gereja-Nya pasti menang. Tidak ada yang dapat menggagalkannya seperti tertulis, "alam maut tidak akan menguasainya" (Mat 16:18).



Kemenangan melalui Kesaksian

Keyakinan yang teguh akan kemenangan-Nya di masa yang akan datang itu didasarkan atas pengenalan-Nya akan orang-orang yang sekarang ini berbakti kepada-Nya. Ia tahu bahwa setidak-tidaknya murid-murid-Nya sudah memahami kebenaran-Nya. Petrus, juru bicara dari kelompok-Nya, sudah menyimpulkan semua ini dalam pengakuannya kepada Yesus, bahwa Dialah "Mesias, Anak Allah yang hidup" (Mat 16:16; bandingkan dengan Mar 8:29; Luk 9:20). Ini adalah suatu kebenaran yang tidak dapat dimusnakan. Atas dasar inilah Yesus memperlihatkan bagaimana kemenangan-Nya akan dicapai, seperti ternyata dalam jawaban-Nya kepada Petrus, "Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku mendirikan jemaat-Ku" (Mat 16:18).

Berbagai penafsiran timbul untuk menjelaskan perkataan Yesus itu. Perkataan Yesus itu ditujukan kepada seseorang yang sudah menyatakan imannya secara pribadi kepada Tuhannya. Sebenarnya kesadaran Petrus bahwa Gurunya adalah Anak Allah, bukanlah suatu hal yang disimpulkannya sendiri yang menyatakan itu kepadanya. Namun demikian, kebenaran yang sudah dialaminya sendiri dalam hidupnya itu nyata sekali telah terjadai "darah dagangnya". Dengan mengucapkan kebenaran itu kepada orang lain, maka kemenagan bagi gereja Kristus sudah tersedia dengan pasti. Bagaimanakah ia dapat dimusnahkan? Iman Rasul Petrus kepada Kristus sudah tertanam sedemikian di dalam hidupnya, hingga sudah menjadi seperti batu karang - Petrus sendiri membandingkan Tuhan Yesus dengan "Batu penjuru yang terpilih", di atas-Nya semua orang percaya menjadi "batu-batu yang hidup" dalam susunan gereja-Nya (1Pet 2:4-8; Ef 2:20-22).22

Tetapi, janganlah kita gagal melihat hubungan yang erat antara memberi kesaksian tentang Kristus dan kesenangan-Nya yang terakhir atas dunia ini. Kita tidak dapat mencapai yang satu dengan mengabaikan yang lain. Mempersatukan kedua kenyataan yang hidup ini dengan kuasa Roh Kudus merupakan puncak kebijaksanaan Tuhan dalam strategi penginjilan-Nya.

-----
22. Patut dicatat bahwa Petrus sendiri yang menulis perumpamaan ini. Selanjutnya, tanpa adanya tuntutan bagi kedudukan pribadi yang tinggi di dalam surat-suratnya, dengan tegas menunjukkan bahwa Petrus tidak memahami sikap Tuhannya dalam menganugerahkan suatu kekuasaan keimanan atau kerohanian kepadanya.



Prinsip yang Ditekankan

Semuanya bergantung pada murid-murid-Nya. Merekalah pelapor-pelapor dalam gerakan-Nya yang sedang berkembang itu. "Oleh pemberitaan mereka" Ia mengharapkan orang-orang lain pun akan percaya kepada-Nya (Yoh 17:20). Orang-orang ini kemudian melanjutkan pemberitaan itu kepada orang-orang lain pula, sehingga pada satu ketika dunia ini akan mengetahui siapa Dia dan apa tujuan pelayanan-Nya (Yoh 17:21,23). Seluruh strategi penginjilan-Nya, bahkan penggenapan maksud yang sebenarnya dari kedatangan-Nya ke dalam dunia ini - mati di kayu salib, dan bangkit dari antara orang mati untuk keselamatan orang-orang berdosa - berdasarkan ketaatan murid-murid yang telah dipilih-Nya untuk tujuan-Nya ini. Jumlah anggota yang mulai melakukan pekerjaan ini, tidaklah penting, asal mereka berbuah dan mengajar murid-murid mereka selanjutnya untuk mengeluarkan buah-buah. Dengan cara inilah jemaat-Nya akan mencapai kemenangan, yaitu melalui penyerahan hidup secara total dari orang-orang yang sudah mengenal Juruselamatnya dengan sungguh-sungguh, sehingga Roh-Nya dan metoda-Nya menggerakkan mereka untuk memberitakan Injil kepada orang-orang lain. Walaupun kelihatannya sederhana, namun demikianlah cara Injil memenangkan dunia ini. Yesus tidak mempunyai rencana lain.



Ujian terhadap Pelayanan-Nya

Inilah batu ujiannya: Dapatkah murid-murid-Nya meneruskan pekerjaan-Nya setelah Ia pergi? Atau yang lebih penting lagi, dapatkah mengerjakannya dengan baik, tanpa pengawasan-Nya secara pribadi? Hal ini rupanya telah banyak dipikirkan oleh Tuhan Yesus. Sesungguhnya, secara manusia Tuhan Yesus tidak dapat memastikan bahwa penanaman-Nya dalam diri mereka akan berfaedah bagi Kerajaan Allah, sebelum ada kedewasaan iman dalam hidup mereka. apabila mereka gagal untuk memberitakan pekerjaan Roh-Nya kepada orang-orang lain yang akan meneruskan pekerjaan-Nya, maka sia-sialah pelayanan-Nya bersama mereka selama bertahun-tahun itu.

Tidaklah mengherankan, kalau Yesus senantiasa menekankan kepada murid-murid-Nya mengenai perlunya menghasilkan buah. Sebuah lukisan tentang hal ini, yaitu perumpamaan pokok anggur dan ranting-rantingnya (Yoh 15:1-17). Dengan gambaran yang sangat sederhana tetapi mendalam, Kristus menjelaskan bahwa tujuan pokok anggur (Dia sendiri) dan ranting- rantingnya (orang-orang yang percaya kepada-Nya) ialah untuk menghasilkan buah. Oleh sebab itu, setiap ranting yang tidak berbuah dipotong oleh pengusahanya, karena ranting itu tidak berguna. Ranting-ranting yang berbuah dibersihkannya supaya lebih banyak berbuah (Yoh 15:2). Jelaslah, bahwa kekuatan yang menghidupkan pokok anggur itu tidak dapat terus-menerus diberikan kepada ranting-rantingnya yang mati. Tiap-tiap ranting harus berbuah, karena demikianlah harapan pengusahanya. Itulah sebabnya Yesus memberikan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya. Jika mereka tetap tinggal di dalam Dia, pasti mereka berbuah banyak (Yoh 15:5,8) dan buah-buah mereka itu kekal (tetap) adanya (Yoh 15:16). Seorang Kristen yang tidak berbuah bertentangan dengan prinsip ini. Yesus sendiri mengatakan bahwa sebuah pohon dikenal dari buahnya.

Dalam seluruh pelayanan-Nya, prinsip ini selalu ditekankan oleh Tuhan Yesus. Ia melihat hal itu sebagai pahala yang harus timbul sebagai akibat dari pengorbanan-Nya sendiri bagi dunia ini (Yoh 12:24; bandingkan dengan Yoh 17:19). Itulah tanda bagi orang-orang yang melakukan kehendak Bapa-Nya di surga (Mat 7:16-23; 4:18-20; Luk 8:14-15). Hal ini dilihat-Nya sebagai suatu kekurangan dalam kehidupan orang-orang Farisi dan Saduki yang membuat mereka begitu jahat dalam pandangan-Nya (Mat 3:7-8; 12:33-34; Luk 13:6-9). Dengan berbagai cara, dan kepada berbagai manusia, Yesus menyuruh orang-orang menilai buah-buah kehidupan mereka, supaya mereka mengenal keadaan mereka sendiri. Jika dilihat dalam konteksnya yang lebih luas, menghasilkan buah-buah rohani berarti menghasilkan kehidupan Kristus di dalam pribadi manusia: pertama-tama, dalam diri kita sendiri; kemudian, dalam diri orang-orang lain. Sesungguhnya, segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan Tuhan Yesus menunjukkan prinsip ini.



Amanat Agung

Amanat Agung Kristus yang telah diberikan kepada gereja-Nya ialah "menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat 28:19). Arti amanat ini ialah bahwa murid-murid itu harus pergi ke seluruh dunia dan memenangkan jiwa-jiwa yang kemudian akan menjadi yang kemudian akan menjadi murid- murid Kristus - seperti mereka sendiri. Amanat ini lebih jelas lagi apabila kita mempelajari nas Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Dalam nas itu kata-kata "pergi", "membaptis" dan "mengajar" dipakai dalam bentuk tata bahasa "partisip" yang intinya adalah kata kerja yang mengontrolnya, yaitu "menjadikan semua bangsa murid." Ini berarti bahwa Amanat Agung itu bukan hanya pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil kepada segala makhluk (Mar 16:15), bukan pula hanya membabtis para petobat dalam nama Allah Tritunggal ataupun mengajarkan kepada mereka ajaran- ajaran Kristus, melainkan "menjadikan semua bangsa itu murid" - membangun manusia-manusia lain menjadi seperti mereka sendiri. Terdorong oleh amanat Kristus ini, mereka kemudian bukan saja mengikuti Yesus, tetapi membawa orang-orang lain juga untuk mengikuti jalan-Nya. Hanya dengan menjadikan mereka murid-murid, barulah kegiatan-kegiatan pemberitaan Injil itu mencapai tujuan-Nya.



Berdoa bagi Para Penuai

Yang ditekankan adalah soal kepemimpinan. Tuhan Yesus menegaskan hal itu dalam pelayanan-Nya bahwa sudah waktunya untuk menuai orang banyak. Akan tetapi, tanpa gembala-gembala rohani yang memimpin mereka bagaimana mungkin mereka dapat dimenangkan? Karena itu, Tuhan Yesus mengingatkan murid-murid-Nya, "Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" (Mat 9:37-38; bandingkan dengan Luk 10:2). Kata-kata ini kedengarannya hampir-hampir mengandung keputusasaan yang timbul karena merasakan adanya kebutuhan yang sangat mendesak bagi dunia ini. Tidak ada gunanya kita hanya mendoakan dunia ini. Apakah hasilnya? Allah telah mengasihi mereka dan telah mengaruniakan Anak-Nya untuk menyelamatkan mereka. Tidak ada gunanya hanya mendoakan dunia ini secara samar-samar. Dunia telah hilang dan dibutakan oleh dosa. Satu-satunya harapan bagi dunia ini adalah mengutus orang-orang pergi memberitakan Injil keselamatan, dan setelah memenangkan jiwa-jiwa itu bagi Juruselamat, tidak akan meninggalkan mereka, melainkan bekerja sama dengan mereka dengan setia, sabar, dan tulus hati sampai mereka menjadi orang-orang Kristen yang berbuah dan menyatakan kasih Penebus kepada dunia ini.



Penerapan Prinsip Ini dalam Hidup Kita

Akhirnya, di sini kita menjumpai titik penilaian terhadap segala sumbangan dari kehidupan dan kesaksian kita. Segala sesuatu harus sesuai dengan tujuan utama dari Dia. Juruselamat dunia ini. Apakah mereka yang telah kita bawa kepada Kristus juga telah memimpin orang-orang lain kepada-Nya serta menjadikan mereka murid-murid, seperti kita sendiri? Perhatikanlah: tidaklah cukup hanya menyelamatkan mereka yang sedang menuju kebinasaan, walaupun memang hal ini adalah kewajiban kita. Tidaklah cukup hanya menambahkan bayi-bayi (petobat-petobat) yang baru lahir dalam iman Kristus, walaupun hal itu juga perlu jika kita ingin mempertahankan buah-buah hasil pertama. Tidaklah cukup hanya mengutus mereka keluar untuk memenangkan jiwa-jiwa saja, sekalipun pekerjaan itu terpuji. Juga tidaklah cukup hanya mendapatkan lebih banyak pengikut. Yang benar-benar penting dalam pekerjaan kita ialah ketaatan petobat-petobat itu, yang kelak keluar untuk menjadikan petobat-petobat dan pemimpin-pemimpin baru. Tentang apakah kita dapat memenangkan generasi kita bagi Kristus, bukanlah tujuan yang kita kerjakan sekarang untuk mencapai generasi-generasi yang akan menggantikan kita. Pekerjaan kita belum dapat dikatakan selesai, sebelum prinsip tindak lanjut (follow up) dilakukan untuk memberi kepastian selamat dalam hidup orang- orang lain yang telah ditebus oleh Injil itu.

Nilai setiap pemberitaan Injil bukanlah terletak pada apa yang dilihat sekarang, atau pada apa yang tercatat dalam laporan sinode, melainkan pada adanya kesinambungan pekerjaan itu. Demikian juga ukuran keberhasilan jemaat bukanlah terletak pada jumlah nama-nama baru yang ditambahkan dalam daftar keanggotaannya, bukan pula pada pelipatgandaan jumlah anggaran belanja, tetapi pada jumlah orang-orang Kristen yang dengan aktif memenangkan orang-orang bagi Kristus serta meneguhkan jiwa-jiwa itu yang selanjutnya akan memenangkan orang banyak. Yang penting adalah luasnya pengaruh kesaksian kita. Oleh sebab itu, nilai-nilai pekerjaan kita hanya dapat diukur dalam kekekalan.

Bukankah telah waktunya kita meninjau kembali hidup dan pelayanan kita dari sudut ini? Dalam buku Born to Reproduce Dawson Trotman berkata, "Dimanakah pekerja-pekerja kita?" Apakah yang telah mereka lakukan bagi Allah? Camkanlah apa artinya bagi hari depan jemaat (gereja) jika kita sekarang hanya memperoleh satu murid yang sejati sebagai hasil jerih payah kita. Bukankah ini akan segera melipatgandakan pengaruh kita? Seandainya murid yang sejati ini memenangkan jiwa lagi, bukankah itu menambah pengaruh hidup kita empat kali ganda? Paling tidak, secara teoritis, apabila murid-murid Tuhan terus-menerus memenangkan jiwa dengan cara pelipatgandaan demikian, dalam waktu singkat Injil sudah dapat mencapai orang banyak. Ini hanya terwujud bila orang yang kita namakan murid itu benar-benar mengikuti jejak Tuhan Yesus.



Gereja Kristen Telah Menjadi Buktinya

Kita patut bersyukur karena murid-murid Tuhan yang pertama telah melaksanakan cara ini. Mereka telah memberitakan Injil kepada orang banyak, tetapi selama itu mereka juga membina persekutuan dengan orang- orang yang percaya. Sebagaimana tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan, demikian juga para rasul telah mendidik orang-orang lain untuk meneruskan pelayanannya sampai ke ujung bumi. Kitab Kisah Para Rasul secara keseluruhan merupakan uraian bagaimana prinsip penginjilan ini, yaitu prinsip-prinsip mengenai kehidupan Kristus, telah dipakai dalam pertumbuhan jemaat pada abad pertama.

Cukuplah kiranya jika kita mengatakan bahwa jemaat yang pertama telah membuktikan keberhasilan rencana Sang Guru untuk memenangkan dunia ini. Begitu hebat pengaruh kesaksian mereka, sehingga sebelum abad itu berakhir, masyarakat bangsa kafir telah digoncangkan sampai ke akar- akarnya, dan jemaat-jemaat telah dibangunkan di banyak tempat. Apabila penginjilan dilanjutkan sama pesatnya dengan penginjilan pada abad pertama, pasti dalam beberapa abad saja dunia ini sudah dapat merasakan sentuhan tangan Yesus.



Jalan Pintas Membawa Kegagalan

Zaman terus berganti. Lambat laun cara penginjila Yesus yang sederhana itu mulai ditinggalkan dan muncul suatu bentuk baru. Memang penyesuaian prinsip kepada perubahan keadaan senantiasa perlu, tetapi entah apa sebabnya, prinsip-prinsip itu sendiri dicampurbaurkan dengan suatu keinginan untuk memberi bentuk baru kepada Injil. Prinsip-prinsip untuk mengembangkan kepemimpinan dan menghasilkan buah-buah yang berharga telah dikabarkan oleh suatu rencana pengumpulan orang banyak dengan cara yang lebih mudah. Metoda-metoda penginjilan yang dipakai oleh jemaat secara kelompok maupun secara pribadi lebih cenderung memakai cara baru yang melihat kepada tujuan yang dekat dan bukan kepada tujuan yang jauh ke depan untuk mencapai seluruh dunia. Tidak jarang, seperti dalam zaman kebangunana rohani yang besar, prinsip-prinsip mengenai metoda Yesus ini tampil ke depan. Tetapi menurut ahli sejarah gereja, keadaan-keadaan yang demikian tidak bertahan lama dan tidak disukai oleh sebagian besar anggota gereja. Rencana Tuhan Yesus tidak disangkal, hanya dilalaikan untuk sementara. Banyak orang memikirkan prinsip Tuhan bekerja sebagai sesuatu yang dipandang baik dan harus diingat untuk menghargai peristiwa yang lampau, tetapi mereka tidak secara sungguh-sungguh memikirkannya sebagai suatu prinsip kerja pada masa sekarang.



Masalah yang Dihadapi Dewasa Ini

Masalah kita sekarang ialah tentang metoda. Upacara-upacara panitia-panitia, organisasi-organisasi, tugas-tugas, dan kampanye-kampanye yang tersusun baik dimaksudkan untuk menunaikan pekerjaan yang hanya dapat dikerjakan oleh pribadi-pribadi yang diurapi oleh Roh Kudus. Kita tidak bermaksud merendahkan usaha-usaha manusia, karena tanpa usaha-usaha itu gereja tidak dapat berjalan dengan baik. Namun demikian, jemaat tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, kecuali jika tugas pribadi dari Yesus menentukan tujuan-tujuan dan rencana-rencana ini.

Kapan lagi kita akan menyadari bahwa penginjilan bukan dilaksanakan oleh sesuatu, melainkan oleh seseorang? Penginjilan adalah pernyataan kasih Allah, dan Allah sendiri adalah satu Pribadi. Hakikat-Nya sebagai pribadi hanya dapat dinyatakan melalui Roh-Nya di dalam kehidupan orang-orang yang menyerahkan diri kepada-Nya. Panitia-panitia mungkin dapat mengatur dan memimpin ke arah tercapainya maksud itu, akan tetapi pekerjaan itu sendiri hanya dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang mencapai orang lain lagi bagi Kristus.

Itulah sebabnya kita sepaham dengan E.M. Bounds yang menyatakan dalam bukunya Power through Prayer (Kuasa karena Doa) bahwa "orang adalah metoda Allah." Sebelum kita memperoleh orang-orang yang dipenuhi dengan Roh-Nya dan yang kamu mengerjakan rencana-Nya, cara apa pun yang kita pakai tidak akan berhasil.

Inilah metoda penginjilan baru yang kita butuhkan. Metoda ini bukanlah menekankan metoda yang lebih baik, tetapi menekankan orang-orang yang lebih baik - orang-orang yang sudah mengenal Penebusnya secara pribadi dengan sungguh-sungguh - orang-orang yang melihat tujuan-Nya dan merasakan kasih-Nya bagi dunia ini - orang-orang yang rela menjadi kecil supaya Tuhan Yesus saja yang dibesarkan - orang-orang yang semata-mata menginginkan agar Kristus menjelmakan hidup-Nya di dalam dan melalui mereka, sesuai dengan kehendak-Nya sendiri. Inilah jalan yang direncanakan oleh Tuhan Yesus untuk mewujudkan tujuan-Nya di atas bumi ini, dan apabila rencana itu dilaksanakan menurut strategi-Nya, semua kuasa Iblis tidak dapat mengalahkan penginjilan seluruh dunia ini.



KESIMPULAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

Tuhan Yesus dan Rencana Anda

"Aku adalah Alfa dan Omega" (Wahyu 1:8).

Setiap Kehidupan Mempunyai Rencana

Apakah rencana hidup Anda? Setiap orang harus mempunyai hidup yang berencana. Rencana adalah suatu prinsip yang mengatur terwujudnya tujuan hidup seseorang. Mungkin kita belum menyadari bahwa hidup kita pun mengandung suatu rencana, namun tindakan-tindakan kita senantiasa mengikuti suatu pola kerja yang tertentu.

Apabila kita sungguh-sungguh berusaha menilai tujuan hidup kita serta langkah-langkah untuk mencapai tujuan hidup itu, yang kita temukan mungkin tidak memuaskan. Akan tetapi, suatu penilaian yang jujur dapat membawa kita pada kesadaran akan panggilan kita. Setidak-tidaknya, bagi orang percaya, cara Yesus ini haruslah menjadi batu ujian bagi setiap tindakannya.

Suatu rencana pelayanan yang kita hargai mungkin harus disesuaikan atau mungkin juga harus dibuang sama sekali. Mungkin juga pengertian anggota-anggota jemaat terhadap pelayanan sang pendeta harus berubah, sesuai dengan pandangan Yesus. Malahan pendeta harus berubah, sesuai dengan pandangan Yesus. Malahan, besar kemungkinan, seluruh pandangan kita mengenai pengertian "berhasil" harus ditinjau kembali. Tetapi, apabila prinsip-prinsip yang telah dijelaskan di sini ternyata benar, pakailah itu sebagai pedoman kerja. Agar bermanfaat bagi kehidupan kita, prinsip- prinsip ini perlu sekali dipakai untuk melaksanakan tugas-tugas dalam kehidupan sehari-hari.



Metoda Akan Berbeda

Kita masing-masing harus mencari jalan untuk memasukkan kebijaksanaan rencana Yesus ke dalam pelayanan kita. Setiap orang tidak diharuskan mengambil cara yang sama, ataupun menyesuaikan diri dengan pola kerja yang sama. Ketidakseragaman adalah bagian dari struktur alam semesta, dan metoda mana pun harus diakui baik kalau Allah mau memakainya, walaupun banyak cara yang perlu disesuaikan. Tuhan telah memberikan kepada kita suatu bagan kerja, tetapi Ia menghendaki supaya kitalah yang mengisi hal-hal yang kecilnya sesuai dengan keadaan dan kebiasaan setempat. Ini melibatkan segala kemampuan kita. Mungkin kita perlu mencoba cara-cara pendekatan yang baru, dan harus berani mengikuti perubahan keadaan dan masa. Jika kita takut gagal untuk melaksanakan suatu program kerja, kita tidak akan pernah memulainya; dan jika kita takut untuk mencobanya kembali berulang-ulang, kita pun tak akan mendapat banyak kemajuan.



Prioritas Manusia

Metoda apa pun yang hendak kita pakai, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa prioritas harus diberikan kepada tugas untuk mencari dan melatih orang-orang menjadi pemberita-pemberita. Orang-orang hanya dapat mengenal atau menerima Injil melalui saksi-saksi yang hidup. Tidaklah cukup hanya dengan memberi penjelasan saja kepada mereka. Dunia ini harus diberi suatu demonstrasi iman. Untuk itu, harus ada seorang yang berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, "Ikutlah aku; aku tahu jalannya." Inilah titik pusat segala rencana kita. Bagaimanapun tingginya nilai rohani pekerjaan kita, namun nilai yang kekal dari segala pekerjaan kita bergantung pada taraf kesempurnaan penyelesaian pekerjaan itu.

Akan tetapi, kita harus sadar bahwa orang-orang yang dibutuhkan oleh Kristus tidaklah datang secara kebetulan. Itu membutuhkan perencanaan atau latihan yang saksama dan usaha yang sungguh-sungguh. Jika kita hendak melatih orang-orang, maka kita harus bekerja bagi mereka. Kita harus mencari mereka. Kita harus memenangkan mereka. Dan yang paling penting, kita harus berdoa bagi mereka. Beberapa di antara mereka mungkin telah mempunyai kedudukan yang baik dalam gereja, sedangkan yang lain masih menunggu-nunggu panggilan untuk datang kepada Kristus. Tetapi di mana pun mereka berada, kita harus mendekati mereka dan melatih mereka menjadi murid-murid Tuhan yang menghasilkan buah.



Mulailah dengan Beberapa orang Saja

Kita tidak perlu dengan banyak orang sekaligus. Pekerjaan yang terbaik senantiasa dimulai dengan sedikit orang. Lebih baik kita menyediakan waktu setahun bagi satu atau dua orang yang sungguh-sungguh mau belajar bekerja bagi Kristus daripada menghabiskan waktu seumur hidup bagi sebuah jemaat hanya untuk menjalankan acara-acara gerejani. Sekalipun kelompok yang pertama kecil, tidak menjadi soal. Yang penting ialah supaya orang-orang yang kita berikan prioritas itu, benar-benar terlatih dan menjadi murid yang berhasil memenangkan orang-orang lain bagi Tuhan kita.



Bersekutu Setiap Hari

Satu-satunya jalan yang tepat untuk mencapai hasil ini adalah dengan bersekutu. Supaya pengikut-pengikut kita dapat mengerti apa tujuan mereka dilatih, kita perlu bersekutu dengan mereka. Inilah inti rencana agung itu - membiarkan mereka menyaksikan cara kerja kita agar mereka dapat merasakan kebutuhan kita, dan mengetahui apa hubungannya dengan pengalaman sehari-hari. Dengan demikian, mereka mengetahui bahwa penginjilan adalah suatu hal praktis yang berhubungan dengan segala hal. Mereka melihat hal itu bukan sekadar suatu pelajaran teologi, melainkan sebagai suatu sikap hidup. Yang lebih penting lagi adalah, bahwa dengan bersekutu, mau tidak mau mereka tidak dapat melepaskan diri dari keterlibatan mereka dalam pekerjaan itu.



Berilah Waktu yang Cukup kepada Mereka

Rencana yang demikian tentu saja akan memerlukan waktu, dan hal ini memang layak dilakukan. Tetapi dengan sedikit kebijaksanaan, kita dapat merencanakan untuk melakukan banyak pekerjaan bersama-sama, yang tadinya memang kita kerjakan sendiri, seperti: berkunjung; berapat; pergi ke persekutuan; berolah raga, dan berdoa. Waktu untuk bersekutu tidak perlu terlampau banyak. Sementara kita melayani orang-orang, murid-murid kita dapat berada bersama-sama dengan kita. Dengan demikian, mereka juga dapat membantu kita untuk melayani orang-orang dalam jumlah yang lebih banyak lagi.



Persekutuan Kelompok

Supaya persekutuan kelompok ini berjalan lancar, kita perlu menyusun waktu-waktu tertentu untuk bertemu, baik dengan seluruh kelompok maupun dengan sebagian. Dalam pertemuan-pertemuan ini kita dapat menyelidiki Alkitab bersama-sama, berdoa, dan pada umumnya saling membagi pengalaman-pengalaman, cita-cita, dan beban-beban kita. Tidak perlu menceritakan seluruhnya apa yang ingin dikerjakan oleh kelompok kita atau membahas apa rencana kita yang terakhir, tetapi biarlah pertemuan- pertemuan itu bertumbuh dalam suasana persekutuan. Apabila tiba waktunya, kelompok ini dapat menyusun sendiri tata tertib khususnya dalam pelayanan gereja.

Sekarang ini gagasan untuk mengadakan persekutuan kelompok ini muncul kembali dibanyak tempat. Ini menandakan adanya suatu kebangunan kembali yang mengandung harapan besar. Dalam segala lapangan hidup dan dalam setiap gereja, kelompok- kelompok rohani yang kecil ini sedang bertumbuh. Sebagian dari mereka mencapai tujuannya, sebagian lagi telah menyimpang. Namun, pada umumnya gerakan ini mengungkapkan suatu kerinduan yang dalam untuk mengalami kehidupan Kristen yang sesungguhnya. Oleh karena kelompok-kelompok ini tidak terikat oleh tradisi atau peraturan tertentu dari luar, maka penekanan dan bentuk kelompok ini tidak selalu sama. Tetapi prinsip persekutuan yang erat dan berdisiplin di dalam kelompok merupakan ciri khasnya. Pemusatan pada prinsip inilah yang menyebabkan metoda ini bertumbuh. Sebab itu, baik sekali kalau kita semua selalu menggunakan prinsip itu dalam pelayanan kita.

Di sinilah melihat betapa pentingnya pengakuan penginjil-penginjil terkemuka seperti Billy Graham, mengenai kuasa rencana kerja ini jika dipakai dengan tepat dalam gereja. Atas pertanyaan: "Bila Anda seorang pendeta dari suatu gereja yang besar dalam sebuah kota besar, apakah rencana kerja Anda?" Billy Graham menjawab, "Saya kira, salah satu tindakan saya yang pertama adalah membentuk suatu kelompok kecil, kira-kira terdiri dari delapan sampai dua belas orang yang akan bersekutu beberapa jam seminggu. Ini berarti mengorbankan waktu dan usaha dari pihak mereka. Untuk beberapa tahun lamanya saya akan membagi-bagikan kepada mereka segala sesuatu yang saya miliki. Dengan demikian, saya akan mempunyai dua belas pelayan dari kaum awam yang selanjutnya akan melatih delapan sampai dua belas orang lain lagi. Saya tahu, bahwa ada satu dua gereja yang sudah mempraktekkan cara ini dan gereja-gereja itu mengalami pembaharuan yang besar. Saya kira, Kristuslah yang mulai dengan cara yang demikian. Sebagian besar waktu-Nya dihabiskan-Nya bersama-sama dengan kedua belas murid-Nya bukan dengan orang banyak. Saya kira, setiap kali ia bersama-sama dengan orang banyak, hasil yang dicapai-Nya sangat sedikit. Hasil yang terbesar datang dari percakapan- percakapan-Nya dengan pribadi-pribadi, dan dari persekutuan-Nya dengan kedua belas murid-Nya." Di sini Billy Graham hanya menekankan kebijaksanaan dari metoda Tuhan Yesus.



Harapkan Sesuatu dari Mereka

Belum cukup kalau kita hanya membawa orang-orang ke dalam persekutuan kelompok dalam jemaat. Mereka harus diberi kesempatan untuk mempraktekkan hal-hal yang telah mereka pelajari. Jika mereka tidak diberi kesempatan untuk bekerja di luar kelompok, mereka akan puas di dalam lingkungan kelompok kecil masing-masing dengan hanya hormat-menghormati, dan akhirnya mereka tidak bertumbuh. Kita harus melihat tujuan kita dengan jelas. Kita sudah dipisahkan dari dunia ini, dan itu bukanlah berarti kita sudah bebas dari peperangan. Justru kesempatan ini harus digunakan sebagai suatu kesempatan untuk menghimpun kekuatan yang lebih besar untuk menghadapi serangan yang akan datang.

Oleh sebab itu, kewajiban kita adalah menyalurkan kecakapan mereka ke dalam tugas-tugas tertentu. Masing-masing dapat berbuat sesuatu. Pembagian tugas harus dimulai dari hal-hal yang ringan serta rutin, seperti: mengirim surat-surat, mengatur alat pengeras suara untuk kebaktian-kebaktian di luar, atau dengan hanya memberi tugas sebagai tuan rumah untuk suatu pertemuan. Lambat laun setelah terbukti bahwa mereka dapat mengerjakan lebih banyak, dapat ditambah dengan tugas lain yang lebih berat. Yang mempunyai bakat mengajar dapat ditempatkan di Sekolah- Sekolah Minggu. Kemudian, mungkin kita dapat memberi tugas penggembalaan yang sesuai dengan kecakapan mereka. Mungkin beberapa orang dapat ditugaskan mengunjungi orang-orang sakit, atau mengunjungi rumah-rumah sakit. Mungkin juga beberapa orang dapat ditugaskan untuk berkhotbah. Dan tentunya, setiap orang harus diberi tugas khusus dalam penginjilan pribadi.

Suatu pelayanan yang terbaik bagi mereka, adalah bimbingan lanjutan bagi petobat-petobat baru. Di sini mereka dapat memegang peranan yang sangat penting dalam memimpin bayi-bayi rohani ke arah disiplin dengan cara yang sama seperti yang pernah mereka pelajari. Mereka yang kita latih untuk pekerjaan ini selanjutnya, akan menjadi kunci untuk meneruskan usaha penginjilan gereja.



Doronglah Mereka

Semuanya ini membutuhkan banyak pengawasan, baik dalam hal perkembangan pribadi mereka maupun dalam hal mereka melayani orang-orang lain. Kita harus sering bertemu dengan mereka, dan mendengarkan hasil-hasil pekerjaan mereka. Ini berarti bahwa pada setiap kesempatan, kita harus membimbing mereka. Persoalan-persoalan yang timbul dalam pengalaman mereka harus dipecahkan selagi hal itu masih segar dalam ingatan mereka. Sikap dan reaksi yang duniawi perlu segera diketahui dan dibereskan, karena hal-hal ini dapat menjadi penghalang bagi pelayanan mereka terhadap Tuhan maupun terhadap manusia.

Yang paling penting ialah membimbing mereka untuk bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan. Berhubung ingatan kita sering lemah, mungkin ada baiknya kita menyediakan suatu daftar rencana kerja untuk melatih mereka, dan kemudian membuat catatan-catatan mengenai kemajuan mereka. Hal ini perlu sekali, lebih-lebih jika kita bekerja dengan beberpa orang pada waktu yang bersamaan, dan masing-masing mempunyai pengalaman-pengalaman yang berlainan. Kita harus sabar karena pertumbuhan mereka mungkin akan berjalan lambat, akibat pengaruh-pengaruh luar. Tetapi apabila mereka sungguh-sungguh ingin mencari kebenaran dan bersedia mengikutinya, mereka akan bertumbuh dewasa dalam Kristus.



Bantulah Mereka dalam Memikul Tugas-Tugas

Mungkin bagian yang paling sulit dari seluruh proses latihan ialah bahwa kita harus dapat membayangkan kesulitan-kesulitan yang belum dialaminya, dan mempersiapkan mereka untuk menghadapinya. Hal ini sangat sulit dan kadang-kadang sangat mengecewakan. Ini berarti bahwa kita tidak boleh melupakan mereka. Sekalipun kita sedang merenungkan firman Tuhan dan belajar, namun murid-murid kita harus tetap ada dalam ingatan dan doa kita. Tetapi, adakah jalan lain bagi seorang ayah yang mengasihi anak-anaknya? Kita harus memikul tanggung jawab selama masa pertumbuhan mereka sampai kita dapat melepaskan mereka untuk bekerja sendiri. Jika kita membiarkan mereka mandiri sebelum waktunya, mereka mungkin mengalami kegagalan total. Hal ini haruslah kita sadari. Sebagai pembimbing dan guru, kita bertanggung jawab dalam mengajar anak-anak rohani kita mengenai bagaimana caranya untuk hidup bagi Yesus.



Kita Harus Rela Melepaskan Diri

Segala usaha harus diarahkan kepada satu tujuan, yaitu memimpin orang-orang pilihan ini sampai kepada masa di mana mereka dapat bekerja sendiri di tempat mereka masing-masing. Jika masa itu sudah dikat, orang-orang itu harus sudah matang dalam melatih jiwa-jiwa yang telah dimenangkan melalui kesakian-kesaksiannya, atau dalam membimbing jiwa-jiwa yang telah diserahkan untuk diberi bimbingan lanjutan. Tanpa mereka sadari rencana kita telah tercakup dalam latihan mereka. Sebelum kita menarik kembali pengawasan kita, kita harus menjelaskan kepada mereka, apa sebenarnya rencana kita semula. Hal ini harus jelas sekali bagi mereka, supaya mereka dapat menilai sendiri dan memberitakannya kepada orang-orang yang sedang mereka layani.



Yang Paling Penting: Pengalaman Rohani

Hal yang menentukan ialah pengalaman rohani mereka sendiri. Sebelum mereka dapat dilepaskan dari pengawasan kita, mereka harus diteguhkan dalam iman yang telah mengalahkan dunia ini (1Yoh 5:4). Iblis yang dibantu oleh roh-roh jahat akan berusaha dengan segala tipu dayanya untuk mengalahkan mereka. Dunia yang akan mereka injili berada di bawah kuasa si jahat (1Yoh 5:19), dan sepanjang jalan mereka harus berperang. Setiap kemajuan yang terkecil pun harus mereka capai dengan berperang, karena musuh pantang menyerah. Hanya dengan kepenuhan Roh Kudus saja tantangan itu dapat dihadapi. Jika mereka tidak hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, dan tidak maju dalam kesucian dan kuasa-Nya, mereka dengan mudah dapat dikalahkan. Dengan demikian, segala hasil pekerjaan kita dengan mereka akan menjadi sia-sia.

Oleh sebab itu, segala sesuatu yang telah kita kerjakan bergantung pada kesetiaan mereka. Beberapa banyak orang yang telah kita himpunkan untuk maksud itu, tidaklah penting. Yang penting adalah berapa banyak yang sudah memperoleh kemenangan karena Kristus. Itulah sebabnya, mutu jiwa selalu harus kita perhatikan. Apabila kita mendapat pemimpin yang tepat, yang lain-lainnya akan menyusul; jika tidak, yang lainnya pun akan tidak berarti.



Kemenangan yang Mahal Harganya

Mengharapkan pemimpin yang bermutu tinggi, sesungguhnya tidaklah mudah. Mungkin banyak di antara mereka yang kita bimbing merasa bahwa hal itu terlalu berat, lalu mundur. Baiklah hal ini kita hadapi sekarang juga. Pelayanan Kristen menuntut yang terbaik yang dapat kita lakukan. Jika orang-orang ingin berguna bagi Tuhan, pertama-tama mereka harus belajar mengutamakan Kerajaan Allah. Memang, pasti akan ada kekecewaan-kekecewaan. Akan tetapi, mereka yang lulus dalam ujian ini akan keluar untuk melaksanakan pekerjaan kita ke dalam ladang tuaian Tuhan, dab mereka akan mendatangkan kesukaan besar bagi kita.

Kita hidup bukan untuk waktu sekarang saja. Kepuasan kita terletak pada keyakinan, bahwa dalam generasi-generasi yang akan datang pelayanan kita akan menghasilkan buah melalui mereka yang telah terlatih menjadi saksi bagi Kristus, dany yang terus-menerus memberitakan Injil sampai ke ujung bumi, bahkan sampai pada kesudahan alam.



Apakah Ini Telah Menjadi Kerinduan Anda

Dunia ini sedang mencari seseorang yang sungguh-sungguh dapat diikuti. Dan hal ini sudah pasti. Akan tetapi, apakah orang yang akan diikuti itu mengetahui jalan Kristus, ataukah ia akan serupa dengan mereka sendiri yang hanya membawa orang-orang kepada kegelapan yang lebih dahsyat lagi?

Pertanyaan inilah yang menentukan seluruh rencana hidup kita. Kebenaran atas segala sesuatu yang kita lakukan masih menantikan buktinya dan oleh sebab itu, nasib orang banyak bergantung kepada Anda.