Rencana Agung Penginjilan

RENCANA AGUNG PENGINJILAN

Kata Pengantar
Pendahuluan -- Tuhan Yesus dan Rencana-Nya
Masalah dalam Metoda Penginjilan
Tujuan Menentukan Cara
Mencari Prinsip-Prinsip Dasar
Penyelidikan dari Sumber Lain
Rencana Penyelidikan Kita
Kristuslah Teladan yang Sempurna
Tujuan-Nya Jelas
Ia Merencanakan untuk Menang
Penyelidikan yang Tepat

1. Pemilihan
Orang-Orang adalah Metoda-Nya
Orang-Orang yang Ingin Belajar
Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi
Prinsip yang Ditekankan
Tidak Melalaikan Orang Banyak
Orang Banyak Dibangkitkan
Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti
Strategi-Nya
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Satu Demonstrasi Modern
Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak

2. Persekutuan
Ia Tinggal Bersama Mereka
Bersekutu untuk Mengerti
Prinsip yang Ditekankan
Makin Lama Makin Erat
Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak
Cara Ini Memakan Waktu
Prinsip Tindak Lanjut
Gereja sebagai Tempat Persekutuan
Masalah Kita
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

3. Penyediaan
Ia Menghendaki Ketaatan
Jalan Salib
Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri
Hanya Sedikit yang Rela Berkorban
Taat adalah Belajar
Bukti dari Kasih
Yesus Menunjukkan Ketaatan
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

4. Pengurapan
Ia Menyerahkan Diri-Nya Bagi Mereka
Keharusan untuk Memberitakan Injil
Pengudusan-Nya
Meterai Pelayanan-Nya
Pekerjaan Roh Kudus
Penghibur yang Lain
Rahasia Hidup yang Berkemenangan
Kebenaran yang tidak Terlihat oleh Orang-orang yang Belum Percaya
Masalah Pokok Dewasa Ini

5. Percontohan
Ia Memperlihatkan Cara Hidup-Nya
Peranan Doa
Menggunakan Alkitab
Yang Terutama: Memenangkan Jiwa
Mengajar dengan Wajar
Kelas Latihan yang Terus-Menerus Berjalan
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

6. Pengutusan
Yesus Memberi Tugas
Pengutusan Pertama Terhadap Kedua Belas Murid
Memberi Petunjuk-petunjuk Kerja
Mencontoh Metoda-Nya
Kesulitan Pasti akan Dialami
Injil akan Memisahkan
Satu dengan Kristus
Berdua-Dua
Pengutusan Terhadap Ketujuh Puluh Murid
Amanat-amanat Setelah Kebangkitan
Prinsip-Nya Telah Jelas
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

7. Pengawasan
Ia Mengawasi Mereka
Terus-Menerus Ditinjau Kembali dan Diterapkan
Ia Mengajar Murid-Murid-Nya Bersabar Hati
Prinsip yang Ditekankan
Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
Tujuan Harus Selalu Jelas

8. Pelipatgandaan
Yesus Mengharapkan Supaya Mereka Melipatgandakan Diri
Kemenangan Melalui Kesaksian
Prinsip yang Ditekankan
Ujian Terhadap Pelayanan-Nya
Amanat Agung
Berdoa bagi Para Penuai
Penerapan Prinsip Ini dalam Hidup Kita
Gereja Kristen Telah Menjadi Buktinya
Jalan Pintas Membawa Kegagalan
Masalah yang Dihadapi Dewasa Ini

Kesimpulan -- Tuhan Yesus dan Rencana Anda
Setiap Kehidupan Mempunyai Rencana
Metoda akan Berbeda
Prioritas Manusia
Mulailah dengan Beberapa Orang Saja
Bersekutu Setiap Hari
Berilah Waktu yang Cukup kepada Mereka
Persekutuan Kelompok
Harapkan Sesuatu dari Mereka
Doronglah Mereka
Bantulah Mereka dalam Memikul Tugas-tugas
Kita Harus Rela Melepaskan Diri
Yang Paling Penting: Pengalaman Rohani
Kemenangan yang Mahal Harganya
Apakah Ini Telah Menjadi Kerinduan Anda



Info: RENCANA AGUNG PENGINJILAN

[Indeks 18332] [Hak Cipta 18331] [Pengantar 18333]

Setiap kehidupan mempunyai tujuan. Kita perlu menyusun rencana yang mantap untuk mencapai tujuan itu. Rencana kerja adalah suatu prinsip yang mengatur terwujudnya tujuan hidup seseorang.

Tujuan yang jelas memungkinkan kita mengetahui cara kerja yang tepat untuk melaksanakan rencana Allah yan sempurna dalam kehidupan kita. Inilah yang harus kita perhatikan dalam menyusun rencana untuk memberitakan injil.

Buku ini bukanlah suatu penafsiran mengenai metoda-metoda penginjilan Tuhan Yesus, melainkan suatu penyelidiksn mengenai prinsip pelayanan-Nya yang mendasari Rencana Agung Penginjilan-Nya. Prinsip-prinsip ini perlu kita ketahui, juga cara menerapkannya dalam pelayanan setiap anak Tuhan untuk melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus, yaitu memberitakan Injil Keselamatan kepada dunia.

BIBLIOGRAFI : E. Coleman, Robert. 1996. Rencana Agung Penginjilan. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

DESKRIPSI :

Buku Rencana Agung Penginjilan karangan Dr. Coleman ini sangat menolong, khususnya untuk mengembangkan pelayanan kita. Buku ini dapat memberi petunjuk tentang bagaimana melaksanakan suatu program latihan kaum awam yang bermutu. Dengan menyelidiki kehidupan Tuhan Yesus serta prinsip-prinsip pelayanan-Nya terhadap kedua belas murid- Nya, Dr. Coleman telah menyusun buku mengenai prinsip-prinsip serta metode untuk melatih tenaga yang dibutuhkan ini.

- Yayasan Kalam Hidup -



Halaman Judul

RENCANA AGUNG PENGINJILAN

Robert E. Coleman

YAYASAN KALAM HIDUP
Jalan Naripan 67
Bandung 40112

Buku asli: THE MASTER PLAN OF EVANGELISM

Copyright: (c) 1963, 1964 by Robert E. Coleman
Fleming H. Revell Company, Westwood, New Jersey, USA

Hak pengarang dilindungi Undang-Undang
Diterjemahkan oleh: Ir. G.J. Tiendas dan W. Stanley Heath, Ph. D., M. Div.
Diredaksi oleh: Bestiana Simanjutak dan Dra. Lina Maria

KH/VI/22R,3R/19960443
000-010-008
Cetakan ke-6 Juli 1996
Anggota IKAPI, 051-JBA/5 Okt' 93



Indeks: DAFTAR ISI

[Info 18330] [Hak Cipta 18331]

18333 KATA PENGANTAR
18334 PENDAHULUAN -- Tuhan Yesus dan Rencana-Nya
18334 Masalah dalam Metoda Penginjilan
18335 Tujuan Menentukan Cara
18336 Mencari Prinsip-Prinsip Dasar
18337 Penyelidikan dari Sumber Lain
18338 Rencana Penyelidikan Kita
18339 Kristuslah Teladan yang Sempurna
18340 Tujuan-Nya Jelas
18341 Ia Merencanakan untuk Menang
18342 Penyelidikan yang Tepat

18343 1. PEMILIHAN
18343 Orang-orang adalah Metoda-Nya
18344 Orang-orang yang Ingin Belajar
18345 Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi
18346 Prinsip yang Ditekankan
18347 Tidak Melalaikan Orang Banyak
18348 Orang Banyak Dibangkitkan
18349 Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti
18350 Strategi-Nya
18351 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18352 Satu Demonstrasi Modern
18353 Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak

18354 2. PERSEKUTUAN
18354 Ia Tinggal Bersama Mereka
18355 Bersekutu untuk Mengerti
18356 Prinsip yang Ditekankan
18357 Makin Lama Makin Erat
18358 Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak
18359 Cara ini Memakan Waktu
18360 Prinsip Tindak Lanjut
18361 Gereja sebagai Tempat Persekutuan
18362 Masalah Kita
18363 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

18364 3. PENYEDIAAN
18364 Ia Menghendaki Ketaatan
18365 Jalan Salib
18366 Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri
18367 Hanya Sedikit yang Rela Berkorban
18368 Taat Adalah Belajar
18369 Bukti dari Kasih
18370 Yesus Menunjukkan Ketaatan
18371 Prinsip yang Ditekankan
18372 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

18373 4. PENGURAPAN
18373 Ia menyerahkan Diri-Nya bagi Mereka
18374 Keharusan untuk Memberitakan Injil
18375 Pengudusan-Nya
18376 Meterai Pelayanan-Nya
18377 Pekerjaan Roh Kudus
18378 Penghibur yang Lain
18379 Rahasia Hidup yang Berkemenangan
18380 Kebenaran yang tidak Terlihat oleh Orang-orang yang
Belum Percaya
18381 Masalah Pokok Dewasa Ini

18382 5. PERCONTOHAN
18382 Ia Memperlihatkan Cara Hidup-Nya
18383 Peranan Doa
18384 Menggunakan Alkitab
18385 Yang Terutama: Memenangkan Jiwa
18386 Mengajar dengan Wajar
18387 Kelas Latihan yang Terus-menerus Berjalan
18388 Prinsip yang Ditekankan
18389 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa ini

18390 6. PENGUTUSAN
18390 Yesus memberi Tugas
18391 Pengutusan Pertama terhadap Kedua Belas Murid
18392 Memberi Petunjuk-Petunjuk Kerja
18393 Mencontoh Metoda-Nya
18394 Kesulitan Pasti akan Dialami
18395 Injil akan Memisahkan
18396 Satu dengan Kristus
18397 Berdua-dua
18398 Pengutusan terhadap Ketujuh Puluh Murid
18399 Amanat-amanat setelah Kebangkitan
18400 Prinsip-Nya Telah Jelas
18401 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

18402 7. PENGAWASAN
18402 Ia Mengawasi Mereka
18403 Terus-Menerus Ditinjau Kembali dan Diterapkan
18404 Ia Mengajar Murid-Murid-Nya Bersabar Hati
18405 Prinsip yang Ditekankan
18406 Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini
18407 Tujuan Harus Selalu Jelas

18408 8. PELIPATGANDAAN
18408 Yesus Mengharapkan Supaya mereka Melipatgandakan Diri
18409 Kemenangan melalui Kesaksian
18410 Prinsip yang Ditekankan
18411 Ujian terhadap Pelayanan-Nya
18412 Amanat Agung
18413 Berdoa bagi Para Penuai
18414 Penerapan Prinsip Ini dalam Hidup Kita
18415 Gereja Kristen Telah Menjadi Buktinya
18416 Jalan Pintas Membawa Kegagalan
18417 Masalah yang Dihadapi Dewasa Ini

18418 KESIMPULAN -- Tuhan Yesus dan Rencana Anda
18418 Setiap Kehidupan Mempunyai Rencana
18419 Metoda akan Berbeda
18420 Prioritas Manusia
18421 Mulailah dengan Beberapa Orang Saja
18422 Bersekutu Setiap Hari
18423 Berilah Waktu yang Cukup kepada Mereka
18424 Persekutuan Kelompok
18425 Harapkan Sesuatu dari Mereka
18426 Doronglah Mereka
18427 Bantulah Mereka dalam Memikul Tugas-Tugas
18428 Kita Harus Rela Melepaskan Diri
18429 Yang Paling Penting: Pengalaman Rohani
18430 Kemenangan yang Mahal Harganya
18430 Apakah Ini Telah Menjadi Kerinduan Anda



KATA PENGANTAR

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

Dalam perkembangan gereja-gereja di Indonesia selalu dirasakan kurangnya tenaga untuk pelayanan rohani. Sering seorang pendeta begitu sibuk dengan pelayanan kebaktian-kebaktian umum, pernikahan, dan penguburan, sehingga ia tidak mempunyai waktu untuk mengunjungi anggota-anggota jemaatnya, apalagi untuk membimbing mereka yang mengalami kesulitan rohani.

Telah lama kami menyadari perlunya mengetengahkan peranan kaum awam dalam tugas pelayanan gereja. Kita tahu bahwa kalau kaum awam dalam tugas pelayanan gereja. Kita tahu bahwa kalau kaum awam dapat diikutsertakan dalam pelayanan rohani, maka taraf kerohanian jemaat akan meningkat, dan gereja-gereja akan berkembang lebih pesat.

Buku Rencana Agung Penginjilan karangan Dr. Coleman ini sangat menolong, khususnya untuk mengembangkan pelayanan kita. Buku ini dapat memberi petunjuk tentang bagaimana melaksanakan suatu program latihan kaum awam yang bermutu. Dengan menyelidiki kehidupan Tuhan Yesus serta prinsip-prinsip pelayanan-Nya terhadap kedua belas murid-Nya, Dr. Coleman telah menyusun buku mengenai prinsip-prinsip serta metoda untuk tenaga yang dibutuhkan ini. Kami harap Anda dapat memahami dan mempraktekkan rencana ini.

Kami bersyukur dapat mencetak ulang buku ini disertai beberapa perbaikan bahasa dan disesuaikan dengan ayat-ayat Alkitab terjemahan baru.

Kami mempersembahkan buku Rencana Agung Penginjilan ini kepada Anda dengan harapan bahwa buku ini akan sangat bermanfaat dalam pelayanan Anda. Penerbit



PENDAHULUAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

Tuhan Yesus dan Rencananya "Akulah jalan" (Yohanes 14:6).

Masalah dalam Metoda Penginjilan

Setiap usaha penginjilan harus diuji dengan dua ukuran: Pertama, apakah usaha itu mempunyai tujuan tertentu; kedua, apakah usaha ini mempunyai arti bagi dunia sekarang ini. Kedua hal ini saling berhubungan, dan keserasian hubungan keduanya akan menentukan makna segala kegiatan kita. Kecakapan ataupun kesibukan dalam mengerjakan sesuatu belum berarti bahwa kita telah menghasilkan sesuatu. Karena itu, dalam setiap kegiatan, kita harus selalu bertanya, "apakah usaha ini sangat penting?", "Apakah usaha ini akan mencapai tujuannya?"

Demikian pula, semua usaha penginjilan di gereja-gereja harus terus-menerus diuji: "Apakah segala usaha kita telah dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi amanat Yesus?", "Sebagai hasil usaha ini, apakah kita melihat kader pekerja-pekerja rohani yang semakin bertambah jumlahnya untuk memberitakan Injil?" Memang kita sibuk dengan berbagai program penginjilan, tetapi apakah usaha kita sedang mencapai tujuan yang benar?



Tujuan Menentukan Cara

Apabila kita menggunakan kedua ukuran itu -- tujuan dan arti -- kita perlu menyusun rencana kerja yang mantap untuk dilaksanakan hari demi hari dalam usaha mencapai tujuan jangka panjang. Jika kita ingin mengalami sukacita dalam melaksanakan rencana kerja yang sudah jelas ada manfaatnya itu, kita harus tahu cara bertindak yang sesuai dengan rencana Allah yang menyeluruh bagi kehidupan kita itu. Inilah yang harus kita perhatikan dalam menyusun rencana ataupun cara untuk memberitakan Injil. Seperti sebuah gedung yang dibangun menurut rencana penggunaannya, demikian pula halnya dengan sesuatu yang kita kerjakan harus mempunyai tujuan. Kalau tidak, segala usaha kita sia-sia dan kacau.



Mencari Prinsip-Prinsip Dasar

Itulah tujuan penulisan buku itu. Untuk menyesuaikan usaha-usaha kita dengan ukuran yang benar, terlebih dahulu kita harus melihat prinsip-prinsip dasar yang telah mempengaruhi metoda Tuhan Yesus. Karena itu, buku ini bukanlah suatu penafsiran mengenai metoda-metoda penginjilan khusus yang dipergunakan oleh Tuhan Yesus, baik secara pribadi maupun massal, melainkan suatu penyelidikan mengenai prinsip-prinsip dasar pelayanan-Nya, yaitu prinsip-prinsip yang menentukan metoda-Nya. Buku ini dapatlah disebutkan penyelidikan mengenai strategi penginjilan-Nya ditinjau dari cara Yesus hidup dan melayani selama Ia ada di dunia.



Penyelidikan dari Sumber Lain

Buku-buku dalam bidang ini jarang ditemukan. Memang hampir setiap karangan tentang kehidupan Tuhan Yesus menjelaskan juga prinsip-prinsip dasar penginjilan-Nya. Buku-buku penyelidikan mengenai metoda-metoda pengajaran Tuhan Yesus dan buku-buku yang menceritakan kehidupan serta pekerjaan-Nya, biasanya mengandung prinsip-prinsip dasar ini juga. Sebuah buku yang paling berfaedah bagi kita ialah "The Training of the Twelve (Latihan terhadap Kedua Belas Murid) oleh A.B. Bruce. Buku ini pertama-tama diterbitkan tahun 1871, dan diredaksi kembali tahun 1899, mengisahkan pertumbuhan murid-murid di bawah asuhan Tuhan Yesus. Sebuah buku yang lain, yaitu Pastor Pastorum (Pelayanan Pendeta) oleh Henry Lathan, ditulis tahun 1890, mengupas cara Tuhan Yesus melatih orang-orang. Kemudian terbit beberapa buku kecil yang menguraikan pekerjaan Yesus.

Baru-baru ini ditambah beberapa buku lagi mengenai kehidupan dan pelayanan gereja, khususnya, mengenai pertumbuhan kelompok-kelompok kecil dan kesaksian kaum awam. Walaupun pengarang buku-buku itu kurang menekankan strategi penginjilan, namun kita harus berterima kasih atas penjelasan mereka mengenai prinsip-prinsip dasar dari pelayanan dan pekerjaan Tuhan kita.

Bagaimanapun juga prinsip-prinsip dasar penginjilan yang dipergunakan Tuhan Yesus ini merupakan pusat perhatian kita, karena itu kita memerlukan penyelidikan dan penjelasan lebih lanjut, khususnya dari Alkitab.



Rencana Penyelidikan Kita

Untuk dapat memahami dengan baik rencana kerja Tuhan Yesus, kita harus mempelajari Kitab Perjanjian Baru, khususnya keempat Kitab Injil. Hanya kitab-kitab inilah sebenarnya yang memberikan kesaksian yang benar mengenai Yesus dan pekerjaanNya (Luk 1:2-3; Yoh 20:30; 21:24; 1Yoh 1:1).

Keempat Kitab Injil itu pertama-tama ditulis untuk menunjukkan kepada kita bahwa Yesuslah Mesias. Anak Allah, dan supaya kita oleh iman memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh 20:31). Tetapi, kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa pernyataan itu juga mencakup cara hidup-Nya sendiri dan cara hidup yang diajarkan-Nya kepada orang lain. Para penulis Kitab Injil bukan sekedar melihat cara hidup Yesus yang benar, namun kehidupan merekapun telah diubah oleh kebenaran itu. Itulah sebabnya mereka menuliskan hal-hal yang telah membuat mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Tentu saja tidak semua hal diceritakan. Seperti halnya para penulis sejarah, para penulis Injilpun melukiskan suatu gambaran yang lengkap dengan menonjolkan beberapa pribadi pilihan serta pengalaman mereka, dan peristiwa yang penting. Akan tetapi, kita yakin bahwa segala sesuatu yang telah dengan cermat dipilih dan dituliskan di bawah pimpinan Roh Kudus itu bertujuan untuk mengajar kita bagaimana mengikut Yesus. Itulah sebabnya riwayat kehidupan Tuhan Yesus di dalam Alkitab merupakan penuntun yang terbaik mengenai metoda penginjilan.

Rencana penyelidikan ini juga dimaksudkan untuk mengikuti langkah-langkah yang dipergunakan Tuhan Yesus seperti yang ditunjukkan dalam keempat Injil -- meneliti riwayat hidup-Nya dari berbagai sudut untuk memahami cara pelayanan-Nya, dan menganalisa rencana pelayanan-Nya secara umum untuk menanggapi makna yang lebih luas dari metoda-metoda yang dipakai-Nya dalam pelayanan. Memang tugas ini tidak mudah dan masih banyak yang harus dipelajari. Kesempurnaan Tuhan yang mulia tidak dapat dibatasi oleh pengertian manusia. Makin lama kita memandang Dia, makin jelas kita melihat kebenaran itu.



Kristuslah Teladan yang Sempurna

Tidak ada penyelidikan yang lebih menguntungkan selain penyelidikan mengenai kehidupan Kristen. Walaupun kita mendapat memahami seluruhnya, kita tahu bahwa Yesuslah Guru yang sempurna. Ia tidak pernah berbuat salah. Sebagai manusia, Ia sering dicobai seperti kita, tetapi Ia tidak pernah berbuat dosa. Ia tidak dibatasi oleh keadaan tubuh manusiawi yang diterima-Nya demi kita. Sekalipun Ia tidak mempergunakan sifat keilahian-Nya, namun pikiran-Nya jernih. Ia senantiasa tahu apa yang benar, dan sebagai Manusia yang sempurna, Ia hidup sebagai Allah yang hidup di antara manusia.



Tujuan-Nya Jelas

Sejak semula, tujuan hidup-Nya di dunia ialah untuk menyatakan rencana Allah. Inilah yang senantiasa dipikirkan-Nya. Ia bertujuan untuk menyelamatkan bagi-Nya suatu bangsa, dan membangun suatu jemaat rohani yang tidak akan binasa. Ia menantikan Kerajaan-Nya yang akan datang dalam kemuliaan dan kuasa. Ia menciptakan dunia ini, tetapi Ia bertujuan bukan untuk menjadikan dunia ini tempat tinggal-Nya yang kekal. Rumah-Nya adalah surga. Di sana Ia menyediakan tempat bagi umat-Nya.

Tidak ada seorang pun yang luput dari tujuan-Nya yang penuh kasih karunia. Ia mengasihi semua orang. Jangan kita salah paham tentang kasih-Nya yang besar itu. Ia adalah "Juruselamat dunia" (Yoh 4:42). Allah menghendaki "supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran" (1Tim 2:4). Untuk itulah Yesus menyerahkan diri-Nya bagi orang-orang berdosa. Ia mati untuk satu orang dan untuk semua orang. Cara berpikir-Nya sangat berbeda dengan kita. Ia tidak membedakan pemberitaan Injil di dalam maupun di luar negeri, karena bagi Dia seluruh dunia harus diinjili.



Ia Merencanakan untuk Menang

Tujuan hidup Yesus hanya satu, yaitu menebus dunia ini bagi Allah. Tujuan inilah yang menjadi dasar dari setiap kata dan perbuatan-Nya. Tujuan inilah yang mengatur langkah-langkah-Nya. Perhatikanlah hal ini. Tidak pernah sedikit pun Yesus menyimpang dari tujuan-Nya.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk meneliti cara kerja Yesus yang merupakan cara Allah untuk memenangkan dunia ini. Ia yakin akan masa yang akan datang, sebab Ia hidup sesuai dengan rencana itu. Tidak ada sesuatu kebetulan yang terjadi dalam hidup-Nya. Ia tidak pernah membuang tenaga dan kata-kata-Nya dengan percuma. Ia hanya melakukan pekerjaan Allah. Ia hidup, mati, dan bangkit kembali sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh Allah. Seperti seorang jendral yang merencanakan siasat peperangan, demikian pula Anak Allah merencanakan untuk menang. Dengan mempertimbangkan setiap kemungkinan dan keadaan yang berubah-ubah dalam pengalaman manusia, Ia telah membuat suatu rencana yang tidak mungkin gagal.



Penyelidikan yang Tepat

Banyak rahasia terungkap dengan menyelidiki rencana Yesus. Seorang murid Kristus akan memperoleh kesimpulan-kesimpulan yang dalam, dan mungkin pula beraneka-ragam dengan merenungkan pokok ini sungguh-sungguh, walaupun kesimpulan-kesimpulan ini datangnya lambat dan terasa sukar. Mula-mula tampaknya Yesus tidak mempunyai rencana apa pun. Dengan pendekatan lain, mungkin tampak bahwa Yesus menggunakan suatu teknik tertentu, tetapi pola dasar teknik inipun tetap tersembunyi. Cara kerja-Nya demikian sederhana dan tenang, sehingga tidak akan mungkin tampak oleh petugas gereja yang selalu tergesa-gesa. Akan tetapi, apabila murid-murid menyelidiki metoda ini dengan pikiran yang jernih dan terbuka, mereka pasti merasa heran akan kesederhanaan rencan-Nya yang tidak mereka sadari sebelumnya. Namun, bila rencana-Nya ini dipikirkan, tampak bahwa prinsip dasar dari rencana-rencana kerja-Nya berbeda sekali dengan prinsip dasar dari rencana gereja masa kini, dan jelas bahwa implikasi-implikasi-Nya benar-benar revolusioner.

Pasal-pasal yang berikut menerangkan delapan prinsip dasar dari rencana Yesus. Sebenarnya, semua langkah itu tidak selalu harus dilakukan secara beruntun. Misalnya, pasal terakhir tidak selalu harus dilakukan setelah pasal-pasal sebelumnya. Demikian pula, kita tidak selalu harus mulai dari pasal pertama. Garis besar ini dimaksudkan untuk memberikan susunan mengenai rencana-Nya. Dengan mempelajari pasal-pasal selanjutnya, maka prinsip-prinsip atau langkah- langkah itu akan makin jelas.



1. PEMILIHAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Ia...memilih dari antara mereka dua belas orang" (Lukas 6:13).

Orang-Orang Adalah Metoda-Nya

Pelayanan Tuhan Yesus dimulai pada saat Ia memanggil beberapa orang untuk mengikut Dia. Hal ini langsung menyatakan strategi penginjilan-Nya. Perhatian-Nya tidak ditujukan kepada cara-cara untuk mendekati orang banyak, tetapi mendekati beberapa orang yang kemudian akan diikuti oleh orang banyak. Tampaknya cukup mengherankan bahwa Yesus mulai mengumpulkan orang-orang ini sebelum Ia berkeliling memberitakan Injil ataupun mengadakan suatu kampanye penginjilan, atau berkhotbah di muka umum. Pribadi-pribadi itulah metoda-Nya untuk memenangkan dunia ini bagi Allah.

Tujuan utama dari rencana Tuhan Yesus ialah untuk memilih orang-orang yang dapat memberi kesaksian tentang hidup-Nya, dan melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Ia kembali kepada Bapa. Yohanes dan Andreas adalah orang-orang yang pertama yang dipanggil oleh Tuhan Yesus sewaktu Ia meninggalkan Betania, di seberang Sungai Yordan, tempat Yohanes Pembaptis membaptiskan orang (Yoh 1:35-40). Kemudian Andreas membawa Petrus, saudaranya (Yoh 1:41-42). Keesokan harinya, dalam perjalanan-Nya ke Galilea, Tuhan Yesus bertemu dengan Filipus; dan kemudian, Filipus bertemu dengan Natanael (Yoh 1:43-51). Ia memilih murid-murid-Nya dengan terburu-buru. Yakobus, saudara Yohanes, baru disebut murid yang tergabung dalam kelompok itu, beberapa bulan kemudian setelah keempat nelayan itu dipanggil kembali untuk kedua kalinya (Mat 4:21; Mar 1:19). Tidak lama kemudian, Matius (Lewi) dipanggil untuk mengikut Tuhan Yesus ketika Ia melalui Kapernaum (Mat 9:9; Mar 2:13-14; Luk 5:27-28). Cara Yesus memanggil murid-murid yang lain tidak dijelaskan dalam Alkitab, tetapi diperkirakan bahwa semuanya dipanggil pada tahun pertama pelayanan-Nya.1

Tampaknya usaha-usaha pertama untuk memenangkan jiwa ini hanya mempunyai sedikit pengaruh bagi kehidupan rohani orang-orang pada masa itu. Walaupun demikian, Tuhan Yesus tidak bertidak dengan tergesa-tergesa. Ia tahu bahwa usaha ini memerlukan waktu. Kemudian ternyata bahwa beberapa orang yang pertama-tama bertobat kepada Tuhan inilah yang menjadi pemimpin-pemimpin gereja Tuhan, yang pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil. Dipandang dari segi tujuan-Nya, pengaruh orang-orang yang pertama itu secara khusus dapat dirasakan untuk selama-lamanya.

-----
1. Salah satu syarat bagi seorang rasul seperti yang diterangkan dalam Kisah 1:21-22, ialah bahwa ia harus senantiasa berada bersama-sama dengan Yesus, "yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga." Walaupun hal ini tidak menjelaskan mulai kapan kita harus menghitung (tentu tidak mulai dari permulaan baptisannya atau baptisan Yesus sendiri), namun cukup meragukan mengenai adanya persekutuan pendahuluan antara semua rasul dengan Yesus, mungkin mulai dari masa Yohanes Pembaptis di penjarakan. Lihat buku yang ditulis oleh Samuel J. Andrews, The Life of Our Lord, Grand Rapids, Zondervan, 1958, hal. 268; bandingkan dengan Alfred Edersheim, The Life and Times of Jesus the Messiah, I, New York, E.R. Herrick abd Co., 1886, hal. 521.



Orang-orang yang Ingin Belajar

Yang mengesankan mengenai orang-orang ini ialah bahwa tampaknya mereka bukanlah orang-orang yang sangat menonjol. Mereka bukan pemimpin sinagoga, bukan pula imam. Mereka adalah buruh-buruh biasa. Mungkin juga mereka bekerja tanpa melalui latihan atau pendidikan secara khusus sebelumnya. Memang ada dari antara mereka berasal dari keluarga yang cukup berada, seperti Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus itu. Tetapi tidak ada seorang pun yang dapat digolongkan kaya. Mereka tidak mempunyai gelar dalam ilmu sastra ataupun filsafat. Seperti Guru mereka, mereka hanya tamatan sinagoga. Mereka kebanyakan dibesarkan dalam lingkungan orang miskin di daerah Galilea. Dari kedua belas murid itu, hanya satu orang saja yang tampaknya lebih terkemuka, datang dari daerah Yudea, yaitu Yudas Iskarioat. Dinilai dari tingkat pendidikan, baik pada waktu itu maupun sekarang, mereka seharusnya dianggap sebagai kelompok orang-orang yang agak kasar. Sungguh mengherankan bahwa Tuhan Yesus dapat memakai mereka. Mereka adalah orang-orang yang mudah dipengaruhi dan mudah tersinggung. Singkatnya, mereka yang dipilih oleh Tuhan menjadi pengikut-pengikut-Nya adalah orang-orang dari berbagai tingkatan dan golongan masyarakat pada waktu itu. Orang-orang pada waktu itu sedikit pun tidak mengira bahwa kelompok inilah yang kelak memenangkan dunia bagi Kristus.

Meskipun demikian, Yesus melihat di dalam orang-orang yang sederhana ini suatu sumber kepemimpinan bagi kerajaan-Nya. Mereka sebenarnya adalah orang "orang biasa yang tidak terpelajar" menurut ukuran dunia (Kisah 4:13), tetapi mereka mau diajar. Walaupun mereka sering mengambil keputusan yang salah dan lambat mengerti hal-hal rohani, namun mereka adalah orang-orang yang jujur dan berterus-terang mengenai kebutuhan mereka. Tata cara mereka sering kurang lembut dan kecakapan mereka sangat terbatas, tetapi mereka adalah orang-orang yang berjiwa besar, kecuali salah seorang murid-Nya yang kemudian menjadi pengkhianat itu.

Yang paling menonjol dalam diri mereka adalah kerinduan mereka terhadap Allah dan terhadap hal-hal yang nyata dalam kehidupan-Nya. Kedangkalan kehidupan agama di sekeliling mereka tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk bertemu dengan Mesias (Yoh 1:41,45,49; 6:69). Mereka sudah bosan dengan kemunafikan kaum ningrat yang memerintah pada masa itu. Sebagian dari mereka yang kemudian menjadi murid-murid Tuhan Yesus, sebelumnya sudah menggabungkan diri dengan gerakan pemabaharuan dari Yohanes Pembabtis yang memanggil orang berdosa untuk bertobat kepada Allah (Yoh 1:35). Mereka sedang mencari seseorang yang dapat memimpin mereka kepada jalan keselamatan. Orang-orang yang demikianlah yang dapat dibentuk menjadi ciptaan baru dalam tangan Yesus. Ia dapat memakai siapa saja yang mau dipakai-Nya.



Memusatkan Perhatian kepada Pribadi-Pribadi

Dalam hal ini, kita perlu mengamati kebenaran praktis dalam cara Yesus bekerja. Inilah kebijaksanaan dari metoda-Nya, dan dalam mempertimbangkan hal ini, kita kembali lagi kepada prinsip pokok mengenai pemusatan perhatian kepada mereka yang hendak dipakai-Nya. Dunia dapat diubah hanya apabila orang-orang yang ada di dalamnya telah diubah lebih dahulu. Orang-orang itu hanya dapat diubah apabila mereka telah dibentuk menjadi ciptaan baru dalam tangan Tuhan Yesus. Jadi, jelaslah bahwa kita bukan hanya perlu memilih beberapa kaum awam saja, tetapi juga membatasi jumlah orang dalam kelompok itu supaya tidak terlalu banyak, sehingga kita dapat bekerja dengan mereka dan berhasil baik.

Karena itu, ketika jumlah pengikut Yesus bertambah, pada pertengahan tahun kedua dari pelayanan-Nya Ia merasa perlu memperkecil kelompok pilihan-Nya ini menjadi satu kelompok inti, yang mudah dipimpin-Nya. Itulah sebabnya Yesus "memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul" (Luk 6:13-17; bandingkan dengan Mar 3:13-19). Terlepas dari arti simbolik yang hendak kita kenakan pada angka dua belas ini, jelaslah bahwa Yesus ingin supaya orang-orang ini mempunyai hak istimewa yang unik serta kewajiban khusus dalam pekerjaan Kerajaan-Nya.2

Apabila Tuhan Yesus menjatuhkan pilihan-Nya hanya kepada kedua belas murid itu saja, bukan berarti bahwa Ia menolak orang-orang lain yang ingin mengikut Dia. Seperti kita ketahui, banyak lagi yang lain yang mengikut Dia dan beberapa dari mereka menjadi mereka pekerja- pekerja yang baik di dalam gereja, misalnya: ketujuh puluh murid-Nya (Luk 10:1); Markus dan Lukas, penulis-penulis Kitab Injil; Yakobus, saudara Tuhan Yesus sendiri (1Kor 15:7; Gal 2:9,12; bandingkan dengan Yoh 2:13; 7:2-10). Namun kita harus mengakui bahwa sedikit demi sedikit Tuhan Yesus mengurangi perhatian-Nya kepada orang-orang di luar kelompok murid-Nya yang dua belas orang itu.

Prinsip yang sama ini masih terus dipakai di kalangan rasul-rasul yang terpilih itu. Petrus, Yakobus, dan Yohanes tampaknya mempunyai hubungan yang lebih istimewa dengan Tuhan daripada sembilan rasul lainnya. Hanya ketiga orang yang mempunyai hak istimewa inilah yang diminta masuk ke dalam kamar anak Yairus yang sakit (Mar 5:37; Luk 8:51); mereka inilah yang naik bersama-sama dengan dengan Tuhan Yesus dan melihat kemuliaan-Nya di atas gunung (Mat 17:1; Mar 9:2; Luk 9:20); dan di tengah-tengah pohon zaitun di Taman Getsemani yang melemparkan bayangannya dalam fajar Paskah, ketiga orang inilah yang duduk paling dekat dengan Tuhan sementara Ia berdoa (Mat 26:37; Mar 14:33). Begitu jelas pilihan yang diberikan kepada ketiga orang ini, sehingga apabila murid-murid-Nya yang lain tidak tahu bahwa Kristus tidak pernah mementingkan diri-Nya sendiri, tentu mereka tidak senang dengan adanya pemisahan ini. Terbukti bahwa di dalam Alkitab tidak tercatat tentang keluhan apa pun dari murid yang lain mengenai keistimewaan yang diberikan kepada ketiga orang ini. Walaupun mereka pernah menggerutu tetang hal- hal lain, namun ini adalah bukti bahwa apabila pilihan dinyatakan dalam cara dan untuk maksud yang benar, tidak perlu ada hal yang menyinggung perasaan.

-----
2. Berbagai pendapat telah dikemukakan tentang alasan mengapa kedua belas murid diberi gelar rasul, karena sebenarnya Yesus dapat memilih lebih dari jumlah itu, ataupun memilih jumlah yang lebih kecil. Tetapi mungkin teori yang paling dapat diterima ialah bahwa jumlah itu mengumpamakan hubungan secara rohani antara persekutuan rasuli dan Kerajaan Allah di bawah Mesias. Sebagaimana Edwin Schell mengatakan, "Dua belas adalah jumlah suku bangsa Israel secara rohani. Baik ditinjau dari adanya kedua belas kepala keluarga, kedua belas suku ataupun dari kedua belas dasar dari kedua belas pintu gerbang surgawi Yerusalem Baru, angka dua belas selalu melambangkan berdiamnya Allah di antara manusia - pembauran dunia dalam ketuhanan, "Edwin A. Schell, Traits of The Twelve, Cincinnati, Jenning and Graham, 1911, hal. 26. Memang ada kemungkinan bahwa para rasul melihat jumlah itu secara harfiah yang berarti angka dua belas, dan membangun di atasnya harapan-harapan yang muluk-muluk tentang pemulihan kembali bangsa Israel dalam arti politis. Mereka pasti sadar akan kedudukan masing-masing di dalam persekutuan yang berjumlah dua belas orang itu, dan berhati-hati untuk mengisi kekosongan yang ditimbulkan oleh perginya Yudas (Kisah 1:15-26; bandingkan dengan Mat 19:28). Bagaimanapun juga ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa angka itu menekankan pentingnya kedudukan mereka dalam pekerjaan Kerajaan Allah yang akan datang.



Prinsip yang Ditekankan

Semuanya ini menjalaskan bagaimana cara Yesus dengan seksama membagi waktu-Nya kepada orang-orang yang hendak dilatih-Nya. Hal ini juga menunjukkan satu prinsip pokok mengenai cara mengajar. Lebih kecil jumlah orang-orang yang diajar, lebih besar kemungkinan untuk memberikan pengajaran yang berhasil baik.3

Yesus mencurahkan sebagian besar dari sisa hidup-Nya di bumi kepada murid-murid pilihan ini. Untuk mempersiapkan murid-murid-Nya, Ia mempertaruhkan seluruh kekuatan-Nya bagi mereka. Dunia boleh saja bersikap acuh tak acuh terhadap Dia, namun sikap ini tidak dapat menggagalkan rencana-Nya. Ia bahkan tidak merasa khawatir sama sekali pada waktu pengikut-pengikut-Nya mengundurkan diri dan mereka tidak setia lagi pada waktu mereka diperhadapkan kepada arti yang sebenarnya dari Kerajaan Allah (Yoh 6:66). Tetapi Ia tidak dapat membiarkan murid-murid pilihan-Nya melepaskan diri dari tujuan-Nya. Mereka harus mengerti akan kebenaran itu dan mereka harus disucikan bagi Allah "bukan untuk dunia ini", tetapi untuk beberapa orang itu yang telah Allah berikan kepada-Nya "dari dunia ini" (Yoh 17:6,9).4 Segalanya bergantung pada kesetiaan mereka apabila mereka ingin supaya dunia ini percaya kepada Yesus "oleh pemberitaan mereka" (Yoh 17:20).

-----
3. Prinsip pemusatan yang dipakai dalam pelayanan Yesus, bukanlah prinsip baru bagi-Nya, sebab hal itu merupakan cara Allah Bapa sejak bumi diciptakan. Perjanjian Lama menunjukkan bagaimana Allah memilih bangsa Israel yang berjumlah sedikit untuk menyatakan maksud-Nya bagi seluruh umat manusia. Bahkan di dalam bangsa yang sedikit jumlahnya ini, biasanya kepemimpinan dipusatkan di dalam tali kekeluargaan, khususnya keturunan Daud dari suku Yehuda.

4. Doa Tuhan Yesus sebagai Imam Besar dalam Injil Yohanes pasal 17 mempunyai arti yang khusus di dalam hubungan ini. Dari 26 ayat tentang doa itu, ada 14 ayat yang merupakan doa Tuhan Yesus bagi kedua belas murid-Nya (Yoh 17:6-19).



Tidak Melalaikan Orang Banyak

Berdasarkan apa yang telah ditekankan di sini, salah sekali kalau kita menganggap bahwa Tuhan Yesus melalaikan orang banyak yang mengikut Dia. Ini tidak benar. Yesus melakukan segala sesuatu yang siapapun dapat diminta untuk melakukannya - untuk menghubungi orang banyak. Hal-hal yang pertama dilakukan-Nya ketika Ia memulai pelayanan-Nya ialah memihak dengan berani kepada gerekan kebangunan rohani pada zaman-Nya dengan memberi diri-Nya dibaptis oleh Yohanes (Mat 3:13-17; Mar 1:9-11; Luk 3:21-22), dan kemudian di depan orang banyak Ia memuji pekerjaan nabi besar itu (Mat 11:7-15; Luk 7:24-28). Ia sendiri tidak henti-hentinya berkhotbah kepada orang banyak yang mengikuti pelayanan-Nya yang penuh kuasa. Ia mengajar mereka. Ia memberi makanan kepada mereka yang lapar. Ia menyembuhkan mereka yang sakit, dan mengusir setan dari dalam mereka. Ia memberkati anak-anak mereka. Kadang-kadang sepanjang hari Ia melayani keperluan mereka, sehingga "makan pun Ia tidak sempat" (Mar 6:31). Sedapat mungkin Tuhan Yesus berusaha menunjukkan perhatian yang sejati kepada orang banyak. Untuk keselamatan merekalah Tuhan Yesus telah datang -- Ia mengasihi mereka, menangisi mereka, dan akhirnya Ia mati untuk menyelamatkan mereka dari dosa-dosa mereka. Tidak seorang pun dapat menganggap bahwa Yesus mencoba menghindari penginjilan kepada orang banyak.



Orang Banyak Dibangkitkan

Sesungguhnya, kecakapan Tuhan Yesus untuk menarik perhatian orang banyak telah menimbulkan masalah yang serius dalam pelayanan-Nya. Ia telah begitu dalam menyatakan rahmat dan kuasa-Nya kepada mereka, sehingga mereka pernah mencoba "membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja" (Yoh 6:15). Para pengikut Yohanes pembaptis melaporkan bahwa "semua orang" datang kepada-Nya (Yoh 3:16). Bahkan orang-orang Farisi sendiri mengakui bahwa seluruh dunia telah mengikuti Dia (Yoh 12:19). Para imam pun menyadari bahwa jika hal ini terus-menerus dibiarkan, maka seluruh rakyat akan percaya kepada-Nya (Yoh 11:47-48). Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus mempunyai banyak pengikut, meskipun mereka sering kurang setia. Keadaan ini terus berlangsung sampai akhir. Sebenarnya, justru karena takut akan sikap orang banyak yang bersahabat terhadap Tuhan Yesus itulah yang menyebabkan musuh-musuh-Nya berusaha mencari jalan untuk menangkap Dia pada waktu orang banyak tidak berada bersama- sama dengan Dia (Mat 21:26; Mar 12:12; Luk 20:19).

Seandainya Yesus memberikan sedikit saja semangat kepada orang banyak untuk membuat diri-Nya terkenal, tentu Ia dapat dengan mudah menguasai seluruh kerajaan manusia. Percobaan seperti itulah yang diberikan oleh Iblis kepada Tuhan Yesus di padang gurun waktu Ia dibujuk untuk mengubah batu menjadi roti dan menjatuhkan diri-Nya ke bawah dari bubungan Bait Allah agar Allah menantang Dia di atas tangan-Nya (Mat 4:1-7; Luk 4:1-4, 9-13). Seandainya Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang besar itu, pasti Ia akan memenangkan orang banyak itu. Sebenarnya Iblis tidak menawarkan sesuatu kepada Yesus ketika ia menjanjikan semua kerajaan dunia ini apabila Yesus mau menyembah dia (Mat 4:8-10). Kepala penipu manusia itu tahu pasti bahwa Tuhan Yesus mendapat segalanya dengan mudah jika Ia mau melepaskan perhatian-Nya dari hal-hal yang berkenaan dengan Kerajaan Allah yang kekal itu.

Tetapi Tuhan Yesus tidak bermaksud hanya untuk menyenangkan hati rakyat jelata, melainkan sebaliknya. Berung kali dengan susah payah Ia menghadiri dukungan orang banyak yang digerakkan oleh kuasa mukjizat-Nya (misalnya Yoh 2:23-3:3; 6:26-27). Sering Ia meminta orang-orang yang sudah disembuhkan supaya jangan menceritakan tentang kesembuhan itu kepada orang-orang lain. Itu dilakukan-Nya agar tidak menimbulkan demonstrasi dari orang banyak yang mudah dibangkitkan itu.5 Demikian juga kepada murid-murid yang melihat Dia dimuliakan di atas gunung, Yesus berpesan supaya mereka jangan menceritakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum anak manusia dibangkitkan dari antara orang mati (Mat 17:9; Mr 9:9). Pada peristiwa lain, waktu orang banyak bersorak-sorak memuji Dia, Yesus langsung mengasingkan diri dengan murid-murid- Nya ke tempat lain.6

Cara kerja-Nya yang demikian sering tidak disukai oleh para pengikut-Nya yang tidak mengerti strategi-Nya. Bahkan saudara-saudara-Nya yang perempuan dan laki-laki sendiri pun yang pada waktu itu belum percaya kepada-Nya, menganjurkan Dia agar melepaskan rencana-Nya ini dan menampakkan diri-Nya kepada dunia dengan terang-terangan, tetapi Ia menolak nasihat mereka (Yoh 7:2-9).

-----
5. Contoh-contoh mengenai hal ini ialah penyembuhan seorang yang sakit kusta (Mat 8:4; Mar 1:44-45; Luk 5:14-16); mereka yang disembuhkan dari kerasukan setan di Danau Galilea (Mar 3:11-12); Yairus, setelah anak perempuannya dihidupkan kembali (Mar 5:42-43; Luk 8:55-56); kedua orang buta yang dicelikkan (Mat 9:30); dan penyembuhan orang buta di Betsaida (Mar 8:25-26).

6. Contoh-contoh mengenai hal ini terdapat dalam Matius 8:18,23; Mat 14:22-23; 15:21,39; 16:4; Mar 4:34-36; 6:1; 45-46; 7:24-8:30; Lukas 5:16; 8:22; Yohanes 1:29-43; 6:14-15; dan lain-lain.



Tampaknya Hanya Sedikit Saja yang Saya Mengerti

Mengingat strategi-Nya ini, maka tidak heran kalau hanya sedikit yang benar-benar bertobat pada masa pelayanan Kristus. Tentu saja, banyak yang percaya kepada-Nya dalam pengertian bahwa pelayanan-Nya dapat diterima, tetapi hanya sedikit yang mengerti arti Injil. Mungkin jumlah seluruh pengikut-Nya yang setia pada akhir pelayanan-Nya di dunia ini hanya kira-kira 500 orang, kepada siapa Yesus menampakkan diri-Nya setelah Ia bangkit (1Kor 15:6), dan hanya kira-kira 120 orang yang tetap tinggal di Yerusalem untuk menerima baptisan Roh Kudus (Kisah 1:15). Sekalipun jumlah ini bukanlah jumlah yang kecil mengingat pelayanan-Nya yang aktif hanya sekitar tiga tahun, namun jika seseorang ingin mengukur hasil penginjilan-Nya atas dasar jumlah orang yang dibawa-Nya kepada pertobatan, pasti Yesus tidak akan digolongkan kepada penginjil-penginjil umum yang paling berhasil.



Strategi-Nya

Mengapa Yesus sengaja memusatkan perhatian-Nya hanya kepada beberapa orang saja? Bukankah Ia datang untuk menyelamatkan seluruh dunia ini? Dengan khotbah Yohanes Pembaptis yang membakar semangat, yang terus berkumandang di telinga orang banyak, Sang Guru dengan mudah dapat mengumpulkan ribuan orang untuk segera mengikut Dia jika ia menghendakinya. Akan tetapi, mengapa Ia tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengumpulkan sepasukan besar petobat untuk merebut dunia ini dengan suatu "serangan" yang mendadak? Tentu Anak Allah itu dapat memakai suatu rencana untuk mengumpulkan orang banyak. Bukankah mengecewakan bila seorang yang memiliki segala kuasa di dunia ini dalam tangan-Nya, yang hidup dan kemudian mati untuk menyelamatkan dunia ini, namun akhirnya hanya mempunyai beberapa murid saja sebagai hasil pekerja-Nya?

Jawaban untuk pertanyaan ini segera menjelaskan maksud yang sebenarnya dari rencana penginjilan-Nya. Yesus bukan bermaksud untuk mempengaruhi orang banyak, melainkan untuk memproklamirkan kedatangan suatu kerajaan. Ini berarti bahwa Ia membutuhkan orang-orang yang dapat memimpin orang banyak. Apa gunanya tujuan-Nya yang terakhir untuk menggerakkan orang banyak supaya mengikut Dia, jika kemudian orang-orang ini tidak diperhatikan ataupun tidak diberi pengajaran dalam jalan itu? Telah dibuktikan dalam beberapa peristiwa bahwa orang banyak itu dapat dengan mudah beralih menyembah berhala-hala jika mereka tidak diperhatikan dengan baik. Orang banyak itu bagaikan domba-domba yang tidak mempunyai gembala (Mat 9:36; 14:14; Mar 6:34). Mereka bersedia mengikuti siapa saja yang datang kepada mereka dengan janji-janji yang muluk untuk kesejahteraan mereka, baik ia kawan maupun lawan. Keadaan itu sungguh menyedihkan -- cita-cita luhur dari orang-orang ini dapat dibangkitkan dengan mudah oleh Tuhan Yesus, tetapi dengan cepat pula dipadamkan oleh pemimpin-pemimpin agama-agama palsu yang menguasai mereka. Para pemimpin Yahudi yang buta rohani (Yoh 8:44; 9:39-41; 12:40; bandingkan dengan Mat 23:1-39), walaupun sedikit jumlahnya, dapat menguasai orang-orang itu.7 Oleh sebab itu, jika para petobat itu tidak diberi pemimpin-pemimpin rohani yang Tuhan pilih untuk memimpin dan melindungi mereka dari kebenaran, tentu mereka akan cepat jatuh kekacauan dan keputusasaan, dan akhirnya keadaan mereka bahkan akan lebih menyedihkan dari keadaan semula. Jadi, sebelum dunia ini dapat ditolong secara kekal, orang-orang harus dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dalam hal-hal rohani.

Yesus seorang yang realisitis. Ia sepenuhnya menyadari kelemahan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, serta adanya kuasa Iblis di dalam dunia ini yang selalu menyerang manusia. Dengan kesadaran inilah Ia mendasarkan pemberitaan-Nya pada satu rencana yang dapat memenuhi kebutuhan manusia. Orang-orang yang tadinya berselisih paham dan merasa bingung akhirnya bersedia mengikut Yesus. Namun demikian tidak mungkin Ia dapat memberikan bimbingan pribadi yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Jalan satu-satunya ialah memenuhi pribadi-pribadi itu dengan hidupnya sehingga mereka dapat melaksanakan amanat-Nya. Oleh sebab itu, Ia memusatkan perhatian-Nya kepada beberapa orang yang akan menjadi pemimpin-pemimpin yang pertama. Meskipun Ia berusaha sedapat mungkin untuk membantu mereka semua, Ia harus memusatkan perhatian-Nya pertama-tama kepada beberapa orang penting ("kunci"), supaya pada akhirnya semua orang dapat diselamatkan. Inilah kehebatan dari strategi-Nya.

-----
7. Orang Farisi dan orang Saduki adalah pemimpin-pemimpin utama bangsa Israel, di samping kekuasaan pemerintahan Romawi, dan seluruh kehidupan agama, sosial, dan pendidikan, sampai batas tertentu, kehidupan politik dari kira- kira 2.000.000 orang penduduk di Palestina pada waktu itu telah dibentuk oleh tata cara mereka. Walaupun demikian, jumlah orang yang termasuk kelompok orang Farisi, kebanyakan terdiri dari guru-guru dan orang-orang golongan atas yang menurut perkiraan Josephus (Ant, XVII, 2,4) mencapai jumlah tidak lebih dari 6.000 orang. Sedangkan jumlah seluruh orang Saduki yang kebanyakan terdiri dari imam-imam kepala dan keluarga Sanhedrin di Yerusalem, mungkin tidak lebih dari beberapa ratus orang saja. Lihat Anthony C. Deane, The World Christ Knew, Guild Books, 1944, hal. 57, 60; Edersheim, op. cit., I hal. 311. Apabila dianggap bahwa jumlah kelompok kecil yang istimewa ini tidak lebih dari dari 7.000 orang (kira-kira sepertiga dari satu persen penduduk Israel), tidaklah sukar untuk memahami mengapa Yesus begitu banyak membicarakan tentang mereka, sementara itu juga mengajar murid-murid-Nya tentang kebutuhan yang mendesak bagi kepemimpinan yang lebih baik.



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

Yang mengherankan ialah bahwa prinsip-Nya ini kurang dipakai dalam kerja pemberitaan Injil dewasa ini. Sebagian besar penginjilan gerejani dimulai dengan orang banyak dengan dugaan bahwa gereja sanggup melayani mereka selanjutnya. Hasilnya ialah kita terlalu mementingkan statistik petobat-petobat baru, calon-calon yang minta dibaptis, dan berusaha menambah anggota-anggota gereja. Dengan demikian, perhatian untuk meneguhkan jiwa-jiwa ini dalam kasih dan kuasa Allah sangat sedikit.

Sesungguhnya jika cara Yesus bekerja pada segi ini benar-benar berarti, maka hal ini mengajarkan bahwa kewajiban utama seorang pendeta atau perhatian utama seorang penginjil ialah meletakkan dasar penginjilan yang efektif dan terus-menerus kepada orang banyak. Tentu ini akan memerlukan lebih banyak pemusatan waktu dan bakat-bakat ke atas beberapa orang di dalam gereja tanpa melalaikan kepentingan orang banyak. Ini berarti akan berarti melatih pemimpin "bagi pekerjaan pelayanan" bersama pendetanya (Ef 4:12). Beberapa orang yang sudah menyerahkan dirinya sedemikian rupa itulah yang kelak menggoncangkan dunia bagi Allah. Kemenangan tidak pernah dicapai secara massal.

Mungkin ada orang yang menentang prinsip ini, karena seolah-olah kita lebih menghargai segolongan orang saja di dalam gereja. Meskipun demikian, itulah Cara yang Tuhan Yesus pakai dan cara ini perlu dipakai jika pemimpin-pemimpin yang mantap hendak dilatih. Apabila hal ini dipraktekkan dengan kasih yang murni demi kebutuhan orang banyak, keberatan-keberatan dapat diatasi.

Sesungguhnya, tujuan pokok harus jelas bagi pekerja-pekerja yang bersangkutan. Orang-orang yang hendak dilatih harus dipilih dengan teliti dan dengan bijaksana, karena segala seuatu yang dikerjakan melalui beberapa orang ini adalah untuk keselamatan orang banyak.



Satu Demonstrasi Modern

Prinsip pemilihan dan pemusatan perhatian kepada beberapa orang telah ditemukan di seluruh dunia ini dan pasti akan membawa hasil, siapa yang mempraktekkannya, baik gereja mau menerimanya atau tidak. Yang penting kita ketahui adalah bahwa kaum komunis, yang selalu menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berhasil, telah mengambil alih metoda Tuhan ini. Dengan memakai cara ini untuk tujuan yang bengkok, sampai akhir abad kesembilan belas mereka telah berkembang dari satu satu kelompok kecil orang-orang fanatik menjadi satu komplotan besar yang memperbudak hampir setengah penduduk dunia ini. Sekarang mereka telah membuktikan apa yang telah diperlihatkan oleh Yesus dengan jelas pada zaman-Nya, bahwa orang banyak dapat dimenangkan dengan mudah jika mereka diberi pemimpin-pemimpin untuk diikuti. Bukankah penyebaran filsafat kaum komunis yang menyesatkan ini merupakan satu tempelakan terhadap gereja? Bukan saja terhadap penyerahan kita yang kurang untuk memberitakan Injil, tetapi juga terhadap cara kerja kita yang tidak sungguh-sungguh.



Sekaranglah Waktunya untuk Bertindak

Sudah waktunya menghadapi situasi ini dengan realistis. Saat kita bekerja dengan tidak sungguh-sungguh telah lewat. Program penginjilan gereja mengalami hambatan hampir di setiap tempat. Yang lebih buruk lagi, Injil yang diberitakan secara besar-besaran ke daerah-daerah baru, sebagian besar telah lumpuh. Di banyak tempat, gereja yang lemah bahkan tidak dapat berkembang mengikuti pertambahan penduduk. Kekuatan Iblis dalam dunia ini selalu semakin buas dan semakin terang-terangan menyerang perkembangan gereja. Sungguh mengherankan bahwa dimasa sekarang di mana fasilitas komunikasi dan transportasi yang cepat dapat dimiliki oleh gereja, namun kita orang-orang Kristen kurang berhasil memenangkan dunia ini bagi Allah dibandingkan dengan kegiatan orang-orang Kristen pada masa sebelum fasilitas modern itu diciptakan.

Dalam menilai keadaan yang menyedihkan pada masa ini, kita tidak perlu sekaligus membalikkan arah tujuan kita. Mungkin inilah masalah kita di masa lalu. Dulu kita berpendapat, dengan mengadakan kebangunan rohani kita dapat mencapai orang banyak dengan firman Allah yang menyelamatkan. Tetapi apa yang tidak kita sadari dalam kegagalan kita ialah bahwa masalah yang sebenarnya bukanlah terletak pada orang banyak; bukan pada apa yang mereka percayai; bagaimana mereka diperlakukan; atau, apakah mereka diberi makanan yang menyehatkan atau tidak. Semua yang dianggap begitu penting itu akhirnya dapat dikerjakan oleh orang-orang lain. Itulah sebabnya, sebelum kita mengutamakan orang banyak, kita harus memilih orang-orang yag kelak diikuti oleh orang banyak itu.

Tentu saja berarti meletakkan prioritas memenangkan dan melatih mereka yang telah menjadi pemimpin jemaat. Tetapi, jika kita tidak dapat mulai dari golongan atas, sekarang marilah kita mulai dari tempat kita berada dan melatih beberapa orang sederhana untuk menjadi orang-orang besar. Hendaknya kita juga ikut bahwa untuk dapat dipakai dalam Kerajaan Allah tidak perlu seseorang itu harus mempunyai kedudukan yang tinggi di dunia. Setiap orang yang rela mengikuti Kristus, dapat mempengaruhi dunia, asal ia dilatih dengan baik.

Dari sinilah kita harus mulai, sama seperti yang Yesus lakukan. Memang hal itu akan berjalan perlahan-lahan, cukup meletihkan, susah, dan mungkin pada mulanya tidak diperhatikan oleh umum. Tetapi, hasil akhirnya akan mulia, sekalipun kita sudah tidak ada lagi di dunia untuk melihat hasil itu. Ditinjau dari sudut ini, jelaslah bahwa dalam pelayanan dibutuhkan satu ketepatan hati. Setiap orang harus mengambil keputusan di tempat manakah ia menginginkan pelayanannya berhasil - di dalam penerimaan orang banyak yang penuh sorak-sorai tetapi bersifat sementara, atau di dalam buah-buah kehidupannya yang tampak dalam beberapa orang pilihan yang akan meneruskan pekerjaannya setelah ia meninggal dunia. Sesungguhnya, persoalannya ialah apakah kita hidup untuk generasi sekarang atau untuk generasi mendatang.

Bagaimana juga, kita harus maju terus. Kita perlu melihat bagaimana Yesus melatih murid-murid-Nya untuk melanjutkan pekerjaan-Nya. Seluruh pola kerja ini merupakan sebagian dari satu metoda yang utuh. Jika kita memisahkan satu tahap dari tahap yang lain, berarti kita merusak hasil kerjanya.



2. PERSEKUTUAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Aku menyertai kamu senantiasa" (Matius 28:20).

Ia Tinggal Bersama Mereka

Setelah Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia tinggal bersama mereka, dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengikuti Dia. Inilah inti rencana Tuhan Yesus dalam melatih murid-murid-Nya.

Bila kita merenungkan hal itu, sesungguhnya cara ini sangat sederhana. Tuhan Yesus tidak mendirikan sekolah ataupun pendidikan agama yang resmi dengan rencana pelajaran tertentu, atau dengan kelas-kelas khusus menerima pendaftaran untuk menjadi pengikut-pengikut-Nya. Suatu sistem pendidikan yang teratur yang sekarang dianggap sangat penting, tidak terdapat dalam pelayanan-Nya. Sungguh mengagumkan cara Yesus ini, karena yang Ia lakukan hanyalah mendekatkan mereka kepada-Nya. Diri-Nya sendiri sekaligus merupakan sekolah dan mata pelajaran-Nya.

Metoda pendidikan Yesus yang sederhana ini sangat berbeda dengan metoda para ahli Taurat. Guru-guru agama ini mengharuskan para pengikut mereka menaati cara-cara pendidikan tertentu, dan cara-cara itulah yang membedakan seorang guru dari yang lain. Tuhan Yesus hanya menghendaki supaya murid-murid-Nya menaati Dia. Tuhan kita tidak mengajar melalui bentuk-bentuk hukum dan doktrin-doktrin, melainkan melalui kepribadian-Nya sendiri yang memancarkan pengajaran-Nya itu. Murid-murid-Nya menjadi terkenal bukan karena mereka diharuskan menyesuaikan diri dengan cara-cara tertentu, melainkan karena persekutuan mereka dengan Dia yang mengikutsertakan mereka dalam pengajaran-Nya (Yoh 18:19).



Bersekutu untuk Mengerti

Melalui persektuan ini, murid-murid-Nya dapat "mengetahui rahasia Kerajaan Allah" (Luk 8:10). Sebelum suatu pelajaran dijelaskan, pelajaran itu sudah dimengerti melalui persekutuan mereka dengan Yesus. Misalnya, pada waktu seorang murid menanyakan, "Bagaimana kami tahu jalan ke situ?" pertanyaan itu menunjukkan bahwa ia tidak mengerti tentang Tritunggal yang kudus. Tuhan Yesus segera menjawab pertanyaan ini, "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh 14:5-6). Sebenarnya pertanyaan ini sudah terjawab apabila murid-murid mau melihat Pribadi yang secara nyata menjelma di tengah-tengah mereka itu.

Cara mengajar yang sederhana itu telah diungkapkan sejak awal pelayanan-Nya, pada waktu Yesus mengajak murid-murid untuk mengikut Dia. Yohanes dan Andreas diajak melihat tempat tinggal-Nya, "Marilah dan kamu akan melihatnya" (Yoh 1:39). Alkitab tidak menceritakan lebih lanjut mengenai hal ini. Namun dapat dipastikan bahwa di dalam rumah, mereka sempat membicarakan segala sesuatu dengan Tuhan Yesus dan di situlah mereka masing-masing dapat menyaksikan sendiri dari dekat pribadi dan pekerjaan Yesus. Filipus juga dipanggil dengan cara yang sama, "Ikutlah Aku" (Yoh 1:43). Karena tertarik oleh cara pendekatan yang sederhana ini, Filipus juga mengajak Natanael datang kepada Tuhan-Nya, "Mari dan lihatlah" (Yoh 1:46). Sebuah khotbah yang hidup ini lebih berharga daripada seratus penjelasan. Kemudian, ketika Tuhan Yesus melihat Yakobus, Yohanes, Petrus, dan Andreas didapati sedang memperbaiki pukatnya, Ia pun memanggil mereka dengan kata-kata lemah lembut yang sama, "Mari, ikutlah Aku." Hanya, kali ini Tuhan Yesus menambahkan maksud panggilan itu, ". . . dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Mar 1:17 bandingkan dengan Mat 4:19; Luk 5:10). Demikian pula cara Tuhan Yesus memanggil Matius dari rumah cukai, "Ikutlah Aku" (Mat 9:9; Mar 2:14; Luk 5:27).



Prinsip yang Ditekankan

Lihatlah betapa hebat strategi-Nya! Sebenarnya dengan menjawab panggilan itu para pengikut-Nya telah melibatkan diri dalam sekolah Tuhan di mana pengertian mereka dapat bertumbuh dan iman mereka dapat diteguhkan. Tentu saja masih banyak hal yang belum jelas bagi mereka - semua itu mereka kemukakan dengan terus terang sewaktu mereka berjalan-jalan bersama Yesus; tetapi, sementara mereka mengikut Yesus, segala sesuatu yang tadinya belum jelas, menjadi jelas. Dalam persekutuan dengan Dia, mereka dapat mempelajari segala hal yang perlu mereka ketahui.

Prinsip ini, yang sudah tampak sejak awal pelayanan-Nya, lebih ditekankan oleh Tuhan Yesus pada waktu Ia memilih kedua belas murid-Nya. Ia memisahkan mereka dari satu kelompok yang agak besar, untuk menyertai Dia (Mar 3:14 bandingkan dengan Luk 6:13). Memang dikatakan, bahwa mereka diutus untuk "memberitakan Injil, dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan", tetapi sering kita melupakan langkah persiapannya. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa sebelum orang-orang ini "memberitakan Injil" atau "diberi kuasa untuk mengusir setan" mereka terlebih dahulu harus tinggal "bersama-sama dengan Dia." Sebenarnya penetapan pribadi untuk senantiasa bersama-sama dengan Dia itu merupakan bagian yang sama pentingnya dengan penetapan kuasa untuk menginjili, bahkan lebih penting lagi, karena dengan demikian mereka dipersiapkan untuk diutus.



Makin Lama Makin Erat

Tekad Yesus untuk melaksanakan rencana-Nya menjadi jelas apabila kita membaca Kitab-Kitab Injil. Dalam tahun pelayanan kedua dan ketiga Ia memberikan lebih banyak waktu kepada murid-murid pilihan-Nya. Hal ini bertentangan dengan cara berpikir biasa.

Ia sering membawa murid-murid-Nya ke atas gunung, di mana Ia tidak dikenal orang, sekedar untuk menghindari perhatian umum. Mereka pernah berangkat bersama-sama ke Tirus dan Sidon (Mat 15:21; Mar 7:24) ke "daerah Dekapolis" (Mar 7:31; bandingkan dengan Mat 15:29) dan "ke daerah Dalmanuta" di sebelah tenggara Galilea (Mar 8:10; bandingkan dengan Mat 8:10; bandingkan dengan Mat 15:39); dan ke "kampung-kampung sekitar Kaisarea Filipi" (Mar 8:27; bandingkan dengan Mat 16:13). Perjanjian itu juga dilakukan karena perlawanan orang Farisi dan kebencian Herodes, tetapi yang terpenting ialah karena Yesus merasa perlu mengasingkan diri dengan murid-murid-Nya. Kemudian Ia bersama-sama dengan murid-murid-Nya selama beberapa bulan di Perea, sebelah timur Sungai Yordan (Mat 19:1- 20:34; Mar 10:1-52; Luk 13:22-19:28; Yoh 10:40-11:54). Ketika perlawanan semakin memuncak, Yesus "tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, melainkan Ia berangkat dari sana ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-Nya" (Yoh 11:54). Ketika tiba waktunya untuk pergi ke Yerusalem. Ia "memanggil kedua belas murid-Nya" (Yoh 11:54). Ketika tiba waktunya untuk pergi ke Yerusalem, Ia "memanggil kedua belas murid-Nya" dari antara orang-orang yang mengikuti Dia dalam perjalanan menuju ke kota (Mat 20:17; bandingkan dengan Mar 10:32).

Dilihat dari sudut ini, tidaklah mengherankan bahwa pada Minggu Sengsara, Yesus hampir-hampir tidak melepas murid-murid-Nya pergi jauh; bahkan pada waktu Ia berdoa di Taman Getsemani, murid-murid-Nya hanya kira-kira sepelempar batu jaraknya dari Dia (Luk 22:41). Bukankah demikian halnya apabila waktu perpisahan dalam suatu keluarga sudah semakin dekat? Setiap menit menjadi lebih berharga sebab mereka mengetahui bahwa persekutuan yang sedemikian indah itu tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Kata-kata yang diucapakan pada waktu itu dirasakan sangat berharga. Sesungguhnya, pada saat perpisahan hampir tiba, barulah murid-murid dapat melihat lebih dalam arti persekutuan mereka dengan Dia (Yoh 16:4). Tidak dapat disangsikan lagi mengapa penulis-penulis Injil, dengan sendirinya mencurahkan lebih banyak perhatian mereka pada hari-hari terakhir itu. Setengah dari apa yang tercatat mengenai Yesus adalah kejadian-kejadian menjelang bulan-bulan terakhir, bahwa bagian yang terbesar adalah mengenai minggu terakhir dari hidup-Nya.

Jalan yang ditempuh oleh Yesus dalam hidup-Nya telah digambarkan dengan sebaik-baiknya pada hari-hari sesudah kebangkitan-Nya. Perlu dicatat bahwa Ia menampakkan diri-Nya hanya kepada murid-murid pilihan-Nya saja. Alkitab mengatakan, bahwa tidak seorang pun yang belum percaya dapat melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya. Hal itu tidak mengherankan karena ada gunanya menggemparkan orang banyak dengan memperlihatkan diri-Nya. Apa gerangan yang telah mereka perbuat? Akan tetapi, kepada murid-murid-Nya yang melarikan diri pada waktu Ia disalibkan, Ia menampakkan diri untuk menghidupkan iman mereka dan menegaskan kembali tugas mereka, karena melalui merekalah pelayanan-Nya dapat berkembang.

Demikianlah segala sesuatu terjadi menurut rencana-Nya. Tuhan Yesus menghabiskan lebih banyak waktu untuk beberapa murid-Nya daripada untuk orang-oran lain. Ia makan bersama-sama mereka, tidur bersama-sama, dan bercakap-cakap dengan mereka sepanjang pelayanan-Nya. Mereka berjalan bersama-sama di sepanjang jalan yang sepi. Mereka bersama-sama mengunjungi kota yang ramai. Mereka berlayar dan menangkap ikan bersama-sama di Danau Galilea. Mereka berdoa bersama-sama, baik di padang gurun maupun di atas gunung. Mereka beribadat bersama-sama, baik di dalam sinagoga maupun di dalam Bait Allah di Yerusalem.



Yesus Mengajar Sambil Melayani Orang Banyak

Jangan kita lupa bahwa sebenarnya murid-murid-Nya senantiasa berada di dekat Dia, walaupun Ia sedang melayani orang-orang lain. Pada waktu Ia berbicara dengan orang banyak yang mengerumuni Dia, atau dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang berusaha menjerat Dia, atau dengan seorang pengemis di pinggir jalan, murid-murid-Nya berada di dekat Dia untuk ikut memperhatikan serta mendengarkan ajaran-Nya. Dengan cara ini, Yesus mendapat hasil dua kali lipat dari waktu yang digunakan-Nya untuk melayani mereka. Dengan demikian, mereka bukan saja menerima pelajaran melalui percakapan atau perbuatan Yesus terhadap orang-orang lain, tetapi juga menerima bimbingan pribadi bagi mereka sendiri.



Cara ini Memakan Waktu

Persekutuan yang erat dan terus-menerus itu menunjukkan bahwa Yesus hampir tidak mempunyai waktu untuk diri-Nya sendiri. Sama seperti anak-anak yang menuntut perghatian sang ayah, demikian pula murid-murid senantiasa berada dekat Sang Guru. Bahkan pada waktu Ia mengasingkan diri untuk berdoa, Ia tidak luput dari gangguan atas kebutuhan murid-murid-Nya (Mar 6:46-48; bandingkan dengan Luk 11:1). Namun, Yesus tidak mengubah cara-Nya, Ia ingin bersama-sama dengan mereka. Mereka adalah anak-anak rohani-Nya (Mar 10:24; Yoh 13:33; 21:5); dan satu-satunya cara seorang ayah mendidik keluarganya adalah bersekutu dengan mereka.



Prinsip Tindak Lanjut

Tidak ada yang lebih jelas tetapi lebih sering diabaikan dari pada pelaksanaan prinsip ini. Prinsip begitu sederhana sehingga orang cenderung untuk mengabaikannya. Sekalipun demikian Tuhan Yesus tidak menghendaki murid-murid-Nya melalaikan hal ini. Dalam perjalanan-Nya yang terakhir, Tuhan Yesus merasa sangat perlu menjelaskan kepada mereka tentang apa yang telah dilakukan-Nya selama ini. Sebagai contoh, Yesus pernah berpaling kepada mereka yang sudah mengikut Dia selama tiga tahun dan berkata, "Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku" (Yoh 15:27). Tanpa menarik banyak perhatian, Yesus melatih orang-orang untuk menjadi saksi-saksi-Nya setelah ia pergi nanti. Metoda-Nya hanya dengan tinggal "bersama-sama mereka." Seperti yang Ia katakan pada kesempatan lain, bahwa karena mereka "tetap tinggal bersama-sama dengan Dia" pada saat Ia menderita sengsara, maka mereka diangkat menjadi pemimpin-pemimpin dalam kerajaan-Nya yang kekal, di mana mereka akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel (Luk 22:28-30).

Tidak benar kalau kita menganggap bahwa prinsip tindak lanjut secara pribadi yang demikian itu hanya berlaku bagi murid-murid-Nya saja. Memang benar, Tuhan Yesus memusatkan perhatian-Nya pada beberapa orang pilihan-Nya kepada orang-orang lain yang mengikuti Dia. Sebagai contoh: Ia pulang bersama Zakheus yang telah bertobat di jalan menuju Yerikho (Luk 19:7), dan Ia tinggal untuk beberapa waktu di rumah Zakheus sebelum meninggalkan kota itu. Yesus juga menginap dua hari di Sikhar sesudah pertobatan perempuan Samaria itu, untuk membimbing orang-orang di situ yang "percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu." Dan karena persekutuan pribadi-Nya dengan mereka, maka "lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya." Hal ini bukan disebabkan oleh kesaksian perempuan itu, akan tetapi karena mereka mendengar sendiri dari Sang Guru (Yoh 4:39-42).

Sering terjadi bahwa orang yang sudah ditolong oleh Yesus diberi kesempatan untuk ikut dalam kelompok pengikut-Nya, misalnya Bartimeus (Mat 20:34; Mar 10:52; Luk 18:43). Dengan demikian, banyak yang ikut dalam kelompok murid-murid-Nya, seperti halnya ketujuh puluh murid yang ikut dalam pelayanan- Nya di Yudea (Luk 10:1,17). Setiap petobat mendapat perhatian secara pribadi dari Yesus, tetapi tidak sebanding dengan perhatian yang Ia curahkan kepada kedua belas murid-Nya.

Perlu juga disebutkan tentang sekelompok kecil perempuan yang dengan setia melayani Tuhan Yesus, misalnya seperti Maria dan Marta (Luk 10:38-42), Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan "banyak lagi perempuan lain" (Luk 8:1-3). Beberapa dari mereka mengikut Yesus sampai akhir hidup-Nya di dunia. Ia tidak menolak kebaikan mereka, bahkan Ia sering membantu mereka dalam iman. Tetapi Yesus sadar betul akan adanya dinding pemisah antara Dia sebagai laki-laki dan perempuan-perempuan itu. Walaupun Ia menyambut dengan senang hati bantuan mereka, Ia tidak memasukkan perempuan-perempuan ini ke dalam kelompok murid pilihan-Nya. Dalam tindak lanjut ada batas-batas yang harus kita akui dan taati.

Akan tetapi, terlepas dari peraturan sopan santun, Yesus sebenarnya tidak mempunyai waktu terus-menerus memberi perhatian secara pribadi kepada orang-orang ini, baik kepada perempuan maupun kepada laki-laki. Sekalipun demikian, Ia sudah berusaha sedapat mungkin untuk memperhatikan murid-murid-Nya secara pribadi sehingga mereka diyakinkan akan perlunya segera melayani para petobat baru secara pribadi juga. Yesus harus membatasi bimbingan-Nya pada berbagai orang saja, kemudian mereka inilah dengan cara yang sama harus melayani orang-orang lain.



Gereja sebagai Tempat Persekutuan

Seluruh masalah pelayanan pribadi kepada para petobat baru dapat diatasi jika gereja mengerti akan hakikat dirinya dan tugasnya. Perlu diperhatikan di sini, bahwa sesungguhnya rencana Yesus bagi gereja adalah supaya setiap petobat baru dapat dibawa ke dalam persekutuan dengan orang-orang percaya yang lain. Hal ini sama dengan apa yang dilakukan oleh Yesus denga kedua belas murid-Nya, hanya gereja dapat mencakup pelayanan yang lebih luas.8 Gereja adalah tempat untuk menampung orang-orang percaya yang mau mengikut Dia selanjutnya. Orang-orang percaya ini menjadi tubuh Kristus, yang saling melayani, baik secara perorangan maupun kelompok.

Setiap anggota gereja memegang peranan dalam pelayanan ini. Ini hanya dapat mereka kerjakan jika mereka dididik dan di penuhkan oleh kuasa Roh Kudus. Selama Yesus tinggal bersama-sama dengan murid-murid-Nya secara manusia, Ia menjadi Pemimpin mereka. Akan tetapi, kemudian di dalam gereja, merekalah yang harus melanjutkan kepemimpinan itu. Jadi, Yesus harus melatih-melatih mereka dalam tugas ini. Artinya, Ia harus terus-menerus bersekutu dengan mereka yang sudah dipilih-Nya itu.

-----
8. Setiap orang tidak dapat tidak akan menemukan dalam hubungan ini, bahwa penunjukan kepada "murid-murid" sebagai kelompok yang bersatu itu lebih banyak ditulis di dalam keempat Injil daripada penunjukan kepada seorang murid sebagai pribadi. R. Ralph Morton bahkan menerangkan hal ini lebih lanjut, dan menegaskan bahwa penunjukan kepada pribadi-pribadi mengarah kepada kekalahan- kekalahan dari pihak mereka, sedangkan penunjukkan kepada kelompok sebagai satu kesatuan sering berarti kesukaran, pengertian, atau prestasi mereka. Ketika diingatkan bahwa hal ini ditulis dengan ilham oleh para murid, dan bukan oleh Yesus, jelaslah berarti bahwa mereka akan menegaskan tempat mereka dalam arti demikian. Lihat T. Ralph Morton, The Twelve Together Glasgow, The Iona Community, 1956, hal. 24-30, 103. Mengenai hal ini, kita tidak perlu menarik kesimpulan bahwa para murid tidak dipandang penting sebagai pribadi-pribadi. Ini menyatkan kepada kita bahwa para murid memahami Tuhan mereka yang memandang mereka sebagai satu tubuh yang terdiri dari orang-orang beriman yang dilatih bersama untuk diutus kepada dunia. Mereka memandang diri mereka sendiri melalui Kristus, pertama sebagai sebuah gereja, dan kedua sebagai pribadi-pribadi di dalam tubuh itu.



Masalah Kita

Bilakah gereja mau memakai cara Yesus ini? Sekalipun berkhotbah kepada orang banyak itu perlu, tidaklah cukup untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin untuk memberitakan Injil. Juga pertemuan doa yang sekali-kali dilakukan, dan kelas latihan bagi para pekerja Kristen, belum dapat memenuhi kebutuhan. Mempersiapkan orang tidaklah semudah itu, melainkan membutuhkan perhatian secara pribadi yang terus-menerus, sama seperti perhatian seorang ayah kepada anak-anaknya. Ini tidak dapat dikerjakan oleh suatu organisasi atau kursus, sama seperti anak-anak tidak dapat dididik secara baik dengan diwakilkan kepada orang lain. Apa yang telah Tuhan Yesus lakukan, mengajarkan kepada kita bahwa tugas ini hanya terlaksana jika para pemimpin bersekutu dengan orang-orang yang hendak dipimpinnya.

Ternyata gereja telah gagal sama sekali dalam tugas ini. Banyak pembicaraan tentang penginjilan dan pelayanan Kristen, akan tetapi hanya sedikit perhatian yang diberikan kepada persekutuan secara pribadi. Kebanyakan gereja ingin membawa para petobat baru melalui semcam kelas sidi yang berkumpul satu jam satu minggu untuk jangka waktu satu bulan atau lebih. Tetapi selanjutnya para petobat baru itu tidak mungkin kontak sama sekali dengan acara pendidikan Kristen yang tertentu, selain mengikuti kebaktian-kebaktian gereja dari Sekolah Minggu. Dengan demikian, ia diperhadapkan seorang diri kepada masalah-masalah hidup yang dapat menghancurkan imannya, kecuali jika ia mempunyai orang tua atau teman-teman yang dapat menolong dia.

Dengan cara tindak lanjut yang teratur itu, maka tidaklah mengherankan bahwa hampir separuh dari orang-orang yang sudah percaya dan menjadi anggota gereja akhirnya murtad. Yang terus bertumbuh dalam pengetahuan dan kasih karunia untuk melayani bagi Kerajaan Allah semakin berkurang. Apabila kebaktian-kebaktian hari Minggu dan kelas-kelas sidi dianggap sudah cukup untuk membangun petobat-petobat baru dan menjadikan mereka murid-murid yang dewasa, maka gereja gagal dalam tugasnya. Jika kita mengikuti cara ini, kita juga ikut merusak para petobat baru itu. Tidak ada cara lain untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin dalam pemberitaan Injil kecuali melalui persekutuan orang-orang percaya. Hanya dengan keajaiban cara inilah kita dapat membangun kepemimpinan Kristen yang kuat. Jika Yesus, Anak Allah menganggap perlu secara terus-menerus bersekutu dengan murid-murid-Nya selama tiga tahun lamanya, namun masih juga ada seorang dari mereka yang terhilang, bagaimana mungkin gereja dapat mengerjakan ini hanya dengan cara berkumpul beberapa hari saja dalam setahun?



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

Dengan jelas Yesus mengajarkan kepada kita bahwa metoda tindak lanjut apa pun yang dipakai oleh gereja, perlu didasarkan atas bimbingan pribadi. Jika hal itu tidak dilakukan, maka ini berarti seolah-oleh menyerahkan petobat-petobat baru kepada si Iblis.

Bimbingan pribadi berarti bahwa setiap petobat baru diberi seorang teman Kristen untuk membimbing dia sampai pada tahap di mana ia juga dapat membimbing orang lain. Si pembimbing harus bersekutu dengan dia secara teratur dalam jangka waktu yang lama, mempelajari Alkitab dan berdoa bersama-sama, menjawab pertanyaan-pertanyaan, menjelaskan kebenaran-kebenaran, dan bersama-sama menolong orang lain. Jika gereja tidak mempunyai pembimbing-pembimbing yang demikian, maka gereja harus menunjuk pemimpin-pemimpin untuk mendidik beberapa orang dalam tugas itu.

Cara ini telah menjawab persoalan tadi. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa cara ini hanya dapat berhasil apabila para pengikut mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari. Karena itu, prinsip dasar lain yang dipakai oleh Sang Guru harus juga dipahami.



3. PENYEDIAAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Pikullah kuk yang Kupasang" (Matius 11:29).

Ia Menghendaki Ketaatan

Yang Yesus kehendaki dari pengikut-pengikut-Nya ialah ketaatan. Mereka tidak perlu cerdas, asal setia. Inilah sifat yang menjadi tanda pengenal mereka. Mereka disebut "murid-murid", sebab mereka adalah "pelajar-pelajar" dari Sang Guru. Tidak lama sesudah itu, mereka mulai disebut orang-orang Kristen (Kisah 11:26). Bagaimanapun juga, akan tiba waktunya bagi para pengikut yang setia itu untuk menjadi seperti pemimpin mereka.

Cara pendekatan yang sederhana ini sangat mengagumkan. Tidak ada seorang pun dari murid-murid ini yang diminta untuk membuat suatu "Pengakuan Iman" atau menyatakan suatu ikrar tertentu, walaupun sudah jelas bahwa mereka mengakui Yesus sebagai Juruselamat (Luk 5:8; Yoh 1:41,45,49). Pada mulanya mereka hanya diminta untuk mengikuti Yesus. Dalam panggilan yang pertama ini sudah jelas bahwa mereka dipanggil kepada iman akan pribadi Yesus dan taat kepada perintah-Nya. Jika pada mulanya mereka tidak mengerti, melalui persekutuan dengan Tuhan lambat laun mereka akan menyadarinya. Tidak seorang pun mau mengikuti dan menaati seorang pemimpin, kecuali bila ia dapat mempercayainya dan menaruh iman kepadanya.



Jalan Salib

Pada mulanya mengikut Yesus tampaknya mudah sekali, karena mereka belum cukup lama mengikut Yesus. Kemudian semakin nyata, bahwa hidup sebagai murid Yesus bukan berarti hanya menerima janji Kristus, melainkan dituntut dari mereka suatu penyerahan diri secara mutlak, tanpa syarat dan tanpa kompromi. "Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Luk 16:13). Dosa harus ditinggalkan seluruhnya! Semua pemikiran, kebiasaan, dan keinginan duniawi harus disesuaikan dengan hukum-hukum Kerajaan Allah (Mat 5:1-7:29; Luk 6:20-49). Kasih yang sempurna merupakan ukuran satu-satunya (Mat 5:48) dan kasih ini harus tampak dalam ketaatan kepada Kristus (Yoh 14:21,23) serta dalam pelayanan kepada sekalian bangsa karena untuk keselamatan merekalah Kristus sudah mati (Mat 16:24-26; 20:17-28; Mar 8:34-38; 10:32-45; Luk 9:23-25; Yoh 12:25-26; 13:1-20).

Tuntutan ini cukup berat. Tidak banyak pengikut-Nya yang dapat melaksanakannya. Mereka mau ikut pada waktu Yesus memberi roti dan ikan, tetapi pada waktu Ia mulai berbicara tentang nilai rohani yang sebenarnya dari Kerajaan Surga dan pengorbanan yang diperlukan untuk mendapatkannya (Yoh 6:25-59), banyak murid-murid-Nya "mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia" (Yoh 6:66). Murid-murid-Nya berkata, "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" (Yoh 6:60). Yang mengherankan adalah bahwa Yesus tidak memaksa mereka untuk tinggal tetap bersama Dia. Ia sedang mendidik para pemimpin bagi Kerajaan Surga; dan jika mereka siap untuk melayani, mereka harus siap untuk berkorban.



Harus Memperhitungkan Harga Penyerahan Diri

Mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat ini satu per satu akan memisahkan diri. Mereka memisahkan dari kelompok murid pilihan karena sifat keakuan mereka. Yudas, yang dinyatakan sebagai Iblis (Yoh 6:70) mengikut Yesus sampai akhir, tetapi kemudian ketamakannya membinasakan dia (Mat 26:14-16, 47-50; Mar 14:10-11; 43-44; Luk 22:3-6, 47-49; Yoh 18:2-9). Tidak seorang pun dapat begitu saja mengikut Yesus tanpa melepaskan ikatan duniawi, dan mereka yang hanya berpura-pura akan mendatangkan siksaan dan kesedihan bagi jiwanya sendiri (Mat 27:3-10; Kisah 1:18-19).

Mungkin inilah sebabnya mengapa Yesus berbicara dengan keras kepada seorang ahli Taurat yang datang dan berkata kepada-Nya "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Kepada orang ini, dan dengan terus terang Tuhan Yesus berkata bahwa hal itu tidaklah mudah "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya" (Mat 8:19-20; Luk 9:57-58). Murid yang lain minta agar dibebaskan dari keharusan untuk mengikut Yesus karena ia bermaksud untuk menguburkan ayahnya dulu. Akan tetapi, Yesus tidak mengizinkannya. "Ikutlah Aku," kata-Nya. "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana" (Mat 8:21- 22; Luk 9:59-60). Yang lain menyatakan mau mengikut Yesus, tetapi dengan caranya sendiri. Ia mau diri dahulu kepada keluarganya mungkin dengan harapan untuk mengadakan pesta perpisahan, tetapi Yesus dengan terus terang mengatakan, "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah" (Luk 9:62). Yesus tidak ingin menghabiskan waktu dan tidak bersedia memberikan diri-Nya kepada orang-orang yang hanya mau menjadi murid-murid-Nya menurut cara mereka sendiri.

Karena itu, seorang calon murid Tuhan harus membuat perhitungan semasak-masaknya. "Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mendirikan sebuah menara, tidak duduk dahulu membuat rencana dahulu, maka hal itu sama dengan mengharapkan ejekan dunia di kemudian hari. Sama halnya dengan seorang raja yang pergi berperang tanpa menghiraukan kalah atau menang sebelum pertarungan dimulai. Sebagai kesimpulan, Yesus berkata, "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk 14:33; bandingkan dengan Mat 19:21; Mar 10:21; Luk 18:22).



Hanya Sedikit yang Rela Berkorban

Setelah kaum "opportunis" meninggalkan Tuhan di Kapernaum karena keinginan mereka tidak dipenuhi, maka pengikut-Nya tinggal beberapa orang saja. Kemudian, Ia berpaling kepada kedua belas murid-Nya dan berkata, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67). Pertanyaan ini sangat penting. Jika mereka meninggalkan Dia, apakah yang akan terjadi dengan pelayanan-Nya? Tetapi Simon Petrus menjawab, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah" (Yoh 6:68-69). Sudah pasti kata-kata Petrus ini telah memuaskan hati Sang Guru, karena mulai saat itu Yesus lebih banyak bercakap-cakap dengan rasul-rasul-Nya untuk menjelaskan tentang sengsara dan kematian-Nya.9

-----
9. Paling sedikit enam belas kali sebelum Tuhan Yesus ditangkap, Ia membicarakan tentang penderitaan dan kematian-Nya. Mula-mula hal ini masih merupakan rahasia, tetapi maksudnya jelas sekali - perbandingan antara tubuh-Nya dan perombakan Bait Allah (Yoh 2:19); tentang Anak Manusia yang ditinggikan sama seperti Musa meninggikan ular tembaga (Yoh 3:14); pernyataan tentang hari pada saat mana Ia, sebagai mempelai laki-laki, akan diambil dari mereka (Mat 9:15; Mar 2:20; Luk 5:35); perumpamaan tentang diri-Nya sebagai roti hidup yang harus dipecah-pecahkan dan dimakan (Yoh 6:51- 58); dan juga tentang pengalaman Nabi Yunus yang menjadi suatu tanda (Mat 16:4). Sesudah pernyataan yang tegas dari Petrus di Kaisarea Filipi, Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya dengan lebih tegas, bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, dan menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (Mat 16:21; Mar 8:21; Luk 9:22). Kemudian Ia memberitahu tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya secara terperinci dalam perjalanan-Nya di Galilea dengan murid-murid-Nya (Mat 17:22-23; Mar 9:30-32; Luk 9:43-45); juga dalam perjalanan-Nya yang terakhir ke Yerusalem sesudah perjalanan-Nya di Perea (Mat 20:18-19; Mar 10:33-34; Luk 18:32-33). Kematian-Nya merupakan pokok pembicaraan-Nya dengan Musa dan Elia di atas gunung ketika Ia dimuliakan (Luk 9:31). Pernyataan-Nya juga menunjukkan tentang seorang nabi yang tidak boleh dibunuh di luar Yerusalem (Luk 13:33). Begitu pula penunjukkan Yesus kepada penderitaa dan penolakan orang-orang sebelum kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan (Luk 17:25). Ia mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik "yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yoh 10:11,18), dan seperti biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati sebelum ia menghasilkan buah banyak (Yoh 12:24). Beberapa hari sebelum hari raya paskah, Tuhan Yesus sekali lagi mengingatkan murid-murid-Nya bahwa Ia akan "diserahkan untuk disalibkan" (Mat 26:2), dan kemudian pada hari itu juga di rumah Simon yang kena penyakit kusta, Ia menerangkan bahwa minyak narwastu yang dicurahkan Maria ke atas kepala-Nya adalah persiapan untuk penguburan-Nya (Mat 26:12; Mar 14:8). Akhirnya, dalam perjamuan yang terakhir dengan murid- murid-Nya, Tuhan Yesus menceritakan tentang penderitaan-Nya (Luk 22:15), dan kemudian Ia menetapkan tanda peringatan atas kematian-Nya dengan makan roti dan minum anggur (Mat 26:26-29; Mar 14:22-25; Luk 22:17-20).



Taat Adalah Belajar

Ini sama sekali bukan berarti bahwa murid-murid-Nya dengan cepat dapat mengerti apa yang dikatakan oleh Tuhan. Kecakapan mereka untuk memahami lebih dalam tentang pelayanan penebusan Tuhan sangat dibatasi oleh kelemahan-kelemahan mereka sebagai manusia. Setelah pengakuan Petrus mengenai Mesias di Kaisarea Filipi, mereka tidak mengerti ketika Yesus memberitahukan kepada mereka bahwa Ia akan dibunuh oleh pemimpin-pemimpin agama di Yerusalem, Petrus bahkan menegur Dia, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau" (Mat 16:22; bandingkan dengan Mar 8:32). Di situ juga Yesus terpaksa membicarakan kematian-Nya dan menerangkan artinya kepada mereka, tetapi hal itu baru mereka mengerti setelah Ia dikhianati dan jatuh ke tangan musuh-musuh-Nya.

Karena berita salib itu tidak jelas, pada mulanya murid-murid merasa ragu-ragu tentang tempat mereka di dalam Kerajaan Allah. Mereka agak sukar menerima ajaran tentang merendahkan diri untuk kepentingan orang lain (Luk 22:24-30; Yoh 13:1-20). Mereka bertengkar mengenai siapa yang terbesar di dalam Kerajaan Surga (Mat 18:1-5; Mar 9:33-37; Luk 9:46-48). Yakobus dan Yohanes ingin menduduki tempat-tempat yang paling utama (Mat 20:24; Mar 10:41). Mereka terlalu keras dalam menghakimi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka (Luk 9:51-54). Mereka "memarahi" para orang tua yang minta agar Tuhan Yesus memberkati anak-anak mereka (Mar 10:13). Semua sikap mereka ini menunjukkan bahwa mereka belum memahami sepenuhnya apa arti mengikut Kristus itu.

Sekalipun demikian, Yesus dengan sabar menerima semua kekurangan murid-murid pilihan-Nya itu, karena mereka masih mau mengikut Dia. Tidak lama setelah panggilan pertama, mereka kembali lagi mencari ikan (Mat 4:18; Mar 1:16; Luk 5:2-5; bandingkan dengan Yoh 1:35-42). Akan tetapi, mereka kembali kepada pekerjaan mereka bukan karena mereka tidak taat. Mereka belum menyadari maksud Tuhan untuk menjadikan mereka pemimpin, atau mungkin mereka belum diberitahu tentang hal itu. Ternyata sejak Tuhan memperlihatkan diri di tempat mereka bekerja dan memanggil mereka untuk mengikut Dia dan untuk menjadi "penjala manusia", mereka pun meninggalkan semuanya lalu mengikut Dia (Luk 5:11; bandingkan dengan Mat 4:22; Mar 1:20). Kemudian, walaupun masih banyak yang harus mereka pelajari, mereka dapat mengatakan bahwa mereka masih tetap setia kepada Kristus (Mat 19:27; Mar 10:28; Luk 18:28). Dengan orang-orang ini, Yesus rela memikul segala akibat dari ketidak-matangan iman mereka. Ia tahu bahwa kekurangan- kekurangan ini dapat diatasi apabila mereka sudah bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan. Kecakapan dalam menerima Wahyu akan bertumbuh, asal mereka mau terus-menerus melatih diri dengan kebenaran yang sudah mereka pahami.

Dengan demikian, ketaatan kepada Kristus adalah satu-satunya jalan bagi pengikut-pengikut-Nya untuk belajar lebih banyak tentang kebenaran. Ia tidak meminta murid-murid-Nya untuk mengikut apa yang mereka anggap tidak benar, karena tidak seorang pun mau mengikut Dia jika ia tidak yakin akan kebenaran-Nya (Yoh 7:17). Karena itu, Yesus tidak menyuruh murid-murid-Nya berpegang teguh pada satu ajaran, melainkan membiarkan mereka terus mendengarkan perkataan-Nya sehingga mereka memahami kebenaran itu (Yoh 8:31-32).



Bukti dari Kasih

Ketaatan yang sungguh-sungguh adalah pancaran kasih. Ajaran inilah yang ditekankan pada malam menjelang kematian-Nya. Pada waktu murid-murid berkumpul dengan Dia di ruangan atas setelah perjamuan malam berakhir, Yesus berkata, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya. Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku, dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan firman yang kamu dengar itu bukanlah daripada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku. Inilah perintah-Ku, supaya kamu saling mengasihi, seperti aku mengasihi kamu" (Yoh 14:15,21, 23-24; 15:10,12).



Yesus Menunjukkan Ketaatan

Ketaatan yang mutlak kepada kehendak Allah adalah prinsip yang menguasai seluruh kehidupan Sang Gur! Dalam sifat kemanusiaan-Nya Ia tidak pernah menentang kehendak Bapa, sehingga hidup-Nya dipakai sepenuhnya oleh Allah untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan-Nya. Ia senantiasa berkata, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mentutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya" (Yoh 4:34). "Sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku" (Yoh 5:30; bandingkan dengan Yoh 6:38). "Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku" (Yoh 15:10; bandingkan dengan Yoh 17:4). Ini dapat disimpulkan dalam seruan-Nya di Taman Getsemani, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Luk 22:42; bandingkan dengan Mat 26:39, 42-44; Mar 14:36).

Salib merupakan puncak kemenangan dari ketaatan Tuhan Yesus untuk melakukan kehendak Allah. Prinsip inilah yang menguasai seluruh kehidupan-Nya - ketaatan yang tidak mengenal kompromi, sampai pada kematian-Nya.

Para pemimpin agama yang duniawi mencemoohkan Dia, "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan" (Matius 27:42; Markus 15:31; Lukas 23:35). Tentu saja Ia tidak dapat menyelamatkan diri-Nya. Ia datang bukan untuk menyelamatkan diri-Nya. Ia datang untuk menyelamatkan dunia. Ia datang "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Matius 20:28; Markus 10:45). Ia datang "untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10). Ia datang untuk mempersembahkan diri-Nya kepada Allah bagi dosa segenap manusia. Ia datang untuk mati. Tidak ada jalan lain yang dapat menghapuskan pelanggaran terhadap hukum Allah.

Salib inilah, karena telah ditentukan sebelumnya (Wahy 13:8; bandingkan dengan Kisah 2:32), membuat setiap langkah yang Yesus jalani di muka bumi ini diterima sebagai penggenapan tujuan Allah yang kekal bagi kehidupan-Nya. Karena itu, pada waktu Yesus berbicara tentang ketaatan, murid-murid dapat melihat hal itu terjelma dalam diri-Nya. Seperti kata Yesus, "Kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya" (Yoh 13:15-17). Setiap orang harus memperhatikan ajaran ini. Sebagaimana Yesus berbahagia dalam melakukan kehendak Bapa-Nya, demikian pula pengikut-pengikut-Nya akan berbahagia jika mereka taat kepada-Nya. Inilah satu-satunya kewajiban bagi seorang hamba. Kristus benar, dan syarat untuk menjadi murid Yesus tidak dapat ditawar sedikit pun (Luk 17:6-10; bandingkan dengan Mat 12:50; Mar 3:35; Luk 8:21).



Prinsip yang Ditekankan

Ditinjau dari sudut strategi-Nya, maka ketaatan itu adalah satu-satunya jalan bagi Yesus untuk mengubah hidup mereka melalui perkataan-perkataan-Nya. Tanpa ketaatan, tidak mungkin ada pertumbuhan sifat atau tujuan dalam diri murid-murid-Nya itu. Jika seorang ayah menginginkan supaya anak-anaknya menjadi sama seperti dia, ia harus mengajar mereka untuk taat kepada-Nya.

Harus diingat pula, bahwa Yesus sedang mempersiapkan orang-orang-Nya untuk memimpin gereja-Nya menuju kemenangan. Tidak ada seorang pun yang dapat menjadi pemimpin, sebelum ia terlebih dahulu belajar menaati seorang pemimpin. Karena itu, Ia memilih calon-calon pemimpi dari rakyat jelata, melatih mereka dalam hal disiplin, dan dalam hal menghargai kekuasaan. Ketidaktaatan sama sekali tidak boleh terdapat dalam menjalankan perintah-Nya. Tidak seorang pun, kecuali Yesus, yang mengetahui tentang kuasa kegelapan Iblis yang dapat menggagalkan usaha penginjilan yang dilakukan dengan tidak sungguh-sungguh. Murid-murid-Nya tidak dapat mengalahkan kuasa Iblis di dunia ini jika mereka tidak taat kepada Yesus, karena hanya Yesuslah yang mengetahui jalan kemenangan. Hal ini membutuhkan ketaatan mutlak kepada kehendak Sang Guru, sekalipun ini berarti bahwa mereka harus meninggalkan segala sesuatu.



Penerapan Prinsip-Nya Dewasa Ini

Kita harus mempelajari lagi pelajaran ini sekarang. Kita tidak dapat menghadapi peperangan yang dapat membawa akibat mati atau hidup; setip kali kita bersikap acuh tak acuh terhadap tanggung tanggung jawab kita dalam pemberitaan Injil, berarti suatu kekalahan bagi pekerjaan Kristus. Sekalipun kita baru mempelajari dasar-dasar kebenaran yang paling sederhana tentang pemuridan, namun kita sudah harus mengetahui bahwa kita telah terpanggil sebagai hamba-hamba Tuhan. Karena itu, kita harus taat kepada firman-Nya. Kewajiban kita menjalankan perintah-perintah-Nya, bukan mempersoalkan mengapa Ia memerintahkan sesuatu. Sangat diragukan apakah kita dapat maju terus dalam meneladani kehidupan dan tugas-Nya kalau kita tidak menyerahkan diri untuk melakukan segala kehendak-Nya sekalipun pengertian kita tidak matang. Di dalam Kerajaan Surga tidak ada tempat bagi hamba-hamba yang malas, karena kemalasan bukan saja menghambat pertumbuhan dalam pengetahuan dan kasih karunia, tetapi juga merusak makna penginjilan bagi dunia.

Kita harus bertanya, mengapa sekarang banyak orang yang mengaku dirinya Kristen, tetapi tidak bertumbuh bahkan gagal dalam kesaksiannya? Atau, mengapa gereja-gereja sekarang tidak berhasil bersaksi kepada dunia? Bukankah ini akibat kelalaian para pendeta dan kaum awam terhadap perintah-perintah Tuhan atau karena mereka tidak dengan sepenuh hati melayani Tuhan? Di manakah ketaatan kepada salib itu? Seakan-akan ajaran Kristus tentang menyangkal diri dan menyerahkan diri telah diganti dengan semacam filsafat dunia yang membenarkan orang untuk berbuat sesuka hati mereka.

Yang sangat menyedihkan ialah bahwa tidak ada usaha yang dilakukan untuk memperbaiki, terutama oleh mereka yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Yang diperlukan dengan segera dari mereka bukanlah sikap putus asa, melainkan suatu tindakan yang nyata. Waktunya sudah tiba untuk menetapkan "kemuridan Kristen yang sejati" sebagai syarat penerimaan anggota jemaat. Akan tetapi, syarat ini pun belum cukup. Para pengikut juga harus mempunyai pemimpin-pemimpin, dan ini berarti bahwa para petugas gereja harus lebih dahulu hidup benar. Jika syarat-syarat ini terlalu berat, kita dapat memulainya dengan beberapa orang pilihan saja dan mengajarkan arti ketaatan kepada mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Apabila prinsip ini dipraktekkan, barulah kita dapat maju selangkah lagi dalam rencana kemengangan Tuhan Yesus.



4. PENGURAPAN

[Info 18330] [Hak Cipta 18331] [Indeks 18332]

"Terimalah Roh Kudus" (Yohanes 20:22).

Ia menyerahkan Diri-Nya bagi Mereka

Yesus menghendaki ketaatan dari para pengikut-Nya karena hanya dengan demikianlah mereka dapat dipenuhi oleh Roh-Nya. Dengan Roh-Nya mereka dapat melihat kasih Allah bagi dunia yang terhilang ini. Itulah sebabnya mereka menerima syarat ketaatan ini tanpa komentar. Murid-murid-Nya mengerti bahwa mereka bukan saja perlu menaati suatu hukum, melainkan mereka juga harus senang menaati "Dia" yang sangat mengasihi mereka, dan yang rela menyerahkan nyawa-Nya untuk mereka.

Yesus hidup untuk memberi kepada manusia apa yang telah diberikan Bapa kepada-Nya (Yoh 15:15; 17:4,8,14). Ia memberi mereka damai sejahtera yang dengan itu pula ia dikuatkan dalam penderitaan-Nya (Yoh 16:33; bandingkan dengan Mat 11:28). Ia memberi sukacita-Nya yang di dalamnya Ia bekerja di tengah-tengah penderitaan dan kesengsaraan-Nya (Yoh 15:11; 17:13). Ia memberi kepada mereka anak kunci Kerajaan-Nya yang tidak dapat dikalahkan oleh kuasa kegelapan (Mat 16:19; bandingkan dengan Luk 12:32). Ia bahkan memberi kepada mereka kemuliaan-Nya sendiri yang telah ada sebelum dunia ini diciptakan, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Ia dan Bapa adalah satu (Yoh 17:22,24). Ia menyerahkan segala sesuatu yang ada pada-Nya, bahkan nyawa-Nya sendiri.

Demikianlah kasih-Nya itu - kasih yang selalu ingin memberi. Jika kasih itu hanya mengasihi diri-Nya sendiri, itu bukanlah kasih yang sejati. Dengan cara ini pula Yesus menekankan kepada para pengikut-Nya apa arti "begitu besar kasih Allah akan dunia ini" (Yoh 3:16). Artinya, Allah memberikan segala yang dimiliki-Nya bagi orang-orang yang dikasihi-Nya, bahkan "Anak-Nya telah melepaskan hak hidup-Nya, dengan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Hanya dalam pengertian ini - pengorbanan Anak Manusia untuk dunia ini - seseorang dapat mengerti makna salib itu. Kasih Tuhan yang tidak terbatas itu hanya dapat dinyatakan dengan suatu perbuatan yang tidak terbatas pula. Itulah sebabnya mengapa salib itu perlu. Sebagaimana mati karena dosanya, demikian juga Allah karena kasih-Nya telah mengutus Anak-Nya untuk mati menggantikan kita. "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yoh 15:13).



Keharusan untuk Memberitakan Injil

Yesus tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menekankan kepada pengikut-pengikut-Nya tentang kasih Allah kepada dunia yang terhilang ini. Segala sesuatu dilakukan-Nya dan dikatakan-Nya dengan kasih. Hidup-Nya mencerminkan maksud Allah yang kekal untuk menyelamatkan umat-Nya. Inilah yang harus dimengerti oleh murid-murid-Nya, bukan hanya secara teori, tetapi juga secara praktis.

Setiap hari mereka dapat melihat kasih ini dipraktekkan dengan berbagai cara. Walaupun sangat sukar diterima, seperti pada waktu Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya (Yoh 13:1-20), namun akhirnya mereka mengerti apa yang dimaksudkan. Mereka melihat bagaimana Sang Guru menolak kesenangan duniawi dan menjadi hamba di antara mereka. mereka melihat bagaimana Ia menolak perkara yang mereka idam-idamkan - kesenangan jasmani, kemasyhuran, kedudukan yang baik. Sedangkan hal- hal yang mereka hindari - kemiskinan, penghinaan, kesedihan, bahkan kematian - diterima-Nya dengan rela demi keselamatan mereka. Dengan menyaksikan pelayanan- Nya kepada orang-orang sakit, penghiburan-Nya kepada yang berdukacita dan pemberitaan Injil kepada orang-orang miskin, jelaslah bagi mereka bahwa bagi Sang Guru tidak ada pelayanan yang terlalu kecil atau pengorbanan yang terlalu besar apabila dilakukan bagi kemuliaan Allah. Mungkin mereka tidak selalu dapat mengerti hal ini, dan pasti mereka juga tidak dapat menerangkannya, tetapi mereka tidak dapat menyangsikannya lagi.



Pengudusan-Nya

Pembaharuan dalam penyerahan diri-Nya kepada Allah - yang terus-menerus dilakukan melalui pelayanan yang penuh kasih kepada orang lain - menjadi dasar bagi pengudusan Tuhan Yesus. Hal ini jelas diungkapkan dalam doa-Nya sebagai Imam Besar, "Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran" (Yoh 17:18-19). Perhatikanlah bahwa pengkhususan diri-Nya bagi Allah, yang dinyatakan dalam kata "menguduskan", sebenarnya bukan untuk menyucikan diri-Nya, karena Ia senantiasa hidup suci. Juga pengudusan itu dilakukan bukan untuk menerima kuasa bagi pelayanan-Nya, karena Yesus sudah memiliki segala kuasa; melainkan untuk menyerahkan diri kepada tugas yang menyebabkan Ia telah "diutus ke dalam dunia" (Yoh 10:36); dan dalam pengabdian kepada tujuan penginjilan-Nya, Ia terus-menerus menyerahkan diri-Nya "untuk keselamatan mereka."

Karena itu, pengudusan-Nya bukan untuk tujuan yang menguntungkan diri-Nya sendiri, melainkan untuk murid-murid-Nya, supaya mereka pun, "dikuduskan dalam kebenaran." Artinya dengan menyerahkan diri-Nya kepada mereka yang mengikuti Dia, sehingga melalui kehidupan-Nya mereka dapat memahami penyerahan diri yang sama terhadap tugas yang menyebabkan Dia datang ke dalam dunia. Seluruh rencana penginjilan-Nya bergantung pada pengabdian-Nya ini. Pengabdian itu telah mendorong murid-murid-Nya untuk setia menyerahkan diri mereka ke dalam kasih kepada dunia di sekitar mereka.



Meterai Pelayanan-Nya

Kasih harus menjadi ukuran untuk menilai pelayanan mereka bagi Tuhan Yesus. Mereka harus memberi dengan cuma-cuma sebagaimana mereka telah menerima dengan cuma-cuma juga (Mat 10:8). Mereka harus saling mengasihi sebagaimana Ia sudah mengasihi mereka (Yoh 13:34-35). Dengan kasih ini mereka dinyatkan sebagai murid-murid-Nya (Yoh 15:9-10). Kasih telah mencakup semua hukum-Nya (Yoh 15:12,17; bandingkan dengan Mat 22:37-40; Mar 12:30-31; Luk 10:27). Kasih ini - kasih Golgota - menjadi ukurannya. Setelah murid-murid-Nya mengikuti pelayanan Yesus selama tiga tahun, mereka harus mencurahkan segenap perhatian kepada orang-orang yang dikasihi Bapa yang untu mereka Sang Guru sudah mati (Yoh 17:23).

Kasih yang mereka perlihatkan adalah jalan supaya dunia dapat mengenal kebenaran Injil. Dengan cara bagaimana lagikah orang banyak dapat diyakinkan? Kasih adalah salah-satunya jalan untuk mendapatkan sambutan dari mereka. Yesus berdoa, Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka" (Yoh 17:25-26).



Pekerjaan Roh Kudus

Jangan kita mengira bahwa pengalaman dengan Tuhan Yesus dapat terwujud oleh akal manusia. Yesus menyatakan dengan jelas bahwa hidup-Nya diberikan kepada manusia hanya melalui Roh Kudus. "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna" (Yoh 6:63). Itulah sebabnya, untuk dapat mulai hidup di dalam Yesus, seseorang harus dilahirkan kembali (Yoh 3:3-9). Sifat manusia yang sudah rusak harus diperbaharui oleh Roh Tuhan menjadi ciptaan baru yang sesuai dengan gambar Allah. Dengan cara yang sama, Roh itu menguatkan dan melanjutkan kehidupan baru seorang murid, sementara ia terus bertumbuh dalam pengetahuan dan kasih karunia (Yoh 4:14; 7:38-39). Roh itu juga menyucikan seseorang melalui firman-Nya dan memisahkan dia bagi Tuhan untuk pelayanan yang kudus (Yoh 15:3; 17:17; bandingkan dengan Ef 5:26). Jadi, dari awal sampai akhir, pengalaman dengan Kristus yang hidup secara pribadi adalah pekerjaan Roh Kudus.

Demikian juga, hanya Roh Allah saja yang dapat menggupkan seseorang untuk melaksanakan tugas penginjilan. Yesus menekankan kebenaran ini dalam hubungan kerja sama dengan Roh Allah. Dengan kuasa Roh Kudus Ia memberitakan Injil kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, mengusir setan dan membebaskan orang-orang yang tertindas (Mat 12:28; Luk 4:18). Yesus adalah Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Sedangkan Roh Kudus adalah Allah yang bekerja di antara manusia. Ia adalah perantara Allah yang menjalankan Allah yang menjalankan rencana keselamatan yang kekal melalui orang-orang. Itulah sebabnya Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya bahwa Roh itu akan menyediakan jalan bagi pelayanan mereka. Ia akan mengaruniakan kepada mereka apa yang harus mereka katakan (Mat 10:19-20; Mar 13:11; Luk 12:12). "Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yoh 16:8). Ia akan menyatakan kebenaran agar manusia mengenal Tuhan (Mat 22:43; bandingkan dengan Mar 12:36; Yoh 16:14). Dengan kuasa-Nya, Ia menjanjikan kepada murid-murid-Nya kecakapan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan.10 Dalam hal ini, pemberitaan Injil sama sekali bukan pekerjaan manusia, melainkan rencana (pekerjaan) Allah yang telah berjalan sejak awal kejadian bumi, dan yang akan terus berlangsung hingga tujuan Allah tercapai. Penginjilan adalah semata-mata pekerjaan Roh Kudus. Kewajiban murid-murid-Nya adalah menyerahkan diri mereka untuk dikuasai sepenuhnya oleh Roh.

-----
10. Yohanes 14:12 baik diterapkan dalam penginjilan, karena menunjukkan hal yang mengherankan yang perlu diketahui. Tuhan Yesus mengatakan bahwa para murid tidak hanya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan Kristus, tetapi Ia juga berkata bahwa mereka akan melakukan "pekerjaan yang lebih besar" karena Yesus akan pergi kepada Bapa. Dengan demikian, bagian ini juga mengajarkan kepada kita bahwa para murid dengan kuasa Roh Kudus melakukan semua hal yang telah dikerjakan oleh Tuhan mereka - ini memang sedikit - dan bahkan berbuat lebih banyak. Mengenai apa sebenarnya pekerjaan yang lebih besar ini, Yesus tidak menerangkan, tetapi dari Kisah Para Rasul akan nyata bahwa hal ini hanya terjadi dalam penginjilan yang besar-besaran. Setidak-tidaknya, dalam pengertian ini, murid-murid benar-benar melihat hasil yang lebih besar daripada Kristus. Dalam kenyataannya, hanya dalam satu hari saja, yaitu pada hari Pentakosta, jumlah yang ditambahkan pada gereja lebih banyak daripada jumlah yang dicapai dalam tiga tahun pelayanan Kristus.



Penghibur yang Lain

Untuk kepentingan mereka sendiri, murid-murid perlu belajar lebih dalam mengenai pekerjaan Roh. Mereka perlu mengetahui hubungan Roh dengan Tuhan mereka. Sudah tentu Yesus mengetahui hal itu dan Ia menekankannya menjelang kematian-Nya. Sampai pada saat itu Ia senantiasa berada dekat mereka, sebagai Penghibur, sebagai Guru, dan sebagai Pandu mereka. Dalam persekutuan dengan Dia, mereka mendapat keberanian dan kekuatan. Dengan Dia mereka merasakan bahwa tidak ada perkara yang mustahil. Akan tetapi, mereka mulai bimbang ketika Yesus mengatakan bahwa Ia akan kembali ke surga. Untuk menyelesaikan masalah ini, yesus menjelaskan kepada mereka bahwa mereka dapat tetap terpelihara setelah Ia pulang ke surga.

Pada waktu itulah Yesus memberitahukan kepada mereka tentang Roh Kudus sebagai "Penghibur (Penolong) yang lain",11 Pembela atau Pribadi yang senantiasa akan menyertai mereka, sekalipun dunia tidak melihat Dia seperti mereka melihat Yesus di dunia (Yoh 14:16-17). Sama seperti Yesus telah melayani mereka selama tiga tahun, sekarang Roh itu akan memimpin mereka ke dalam seluruh kebenaran, dan Ia akan memberitakan kepada mereka hal-hal yang akan datang (Yoh 16:13). Ia akan mengajarkan segala sesuatu kepada mereka (Yoh 14:26). Ia akan menolong mereka berdoa (Yoh 14:12-13; Yoh 16:23- 24). Kesimpulannya, Ia (Roh Kudus) akan mempermuliakan Anak Allah dengan mengambil hak Kristus untuk menyatakannya kepada para pengikut-Nya (Yoh 16:14-15). Dunia tidak dapat menerima kebenaran ini,