Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereAjarilah Aku JalanMu Ya' Allah (Sumber : The Good Way)

Ajarilah Aku JalanMu Ya' Allah (Sumber : The Good Way)



  1. Pertanyaan
    1. Rasul Yohanes
    2. Rasul Petrus
    3. Rasul Paulus
  2. Pertanyaan
  3. Bahan Kajian


PERTANYAAN:

  • Islam sebagai agama yang dipilih Allah adalah agama yang ditunjuk Allah bagi penyembah-penyembah-Nya.
  • Banyak agama-agama lain, tetapi apakah ada di antara agama itu yang lebih baik dari pada Islam?
  • Jika memang ada, apakah yang anda pikirkan tentang ucapan Allah: "Sesungguhnya agama yang diridohi Allah adalah Islam".

A.G. Marocco.

Dalam bukunya, "The spirit of the Islamic Religion", Afif Tabbara, seorang cendikiawan Islam menjelaskan asal mula kata Al-Islam dari kata "Salima" yang berarti:

  1. Dibebaskan dan dimerdekakan dari kesalahan-kesalahan yang terbuka atau terselubung.
  2. Perdamaian kembali dan keselamatan.
  3. Ketaatan dan penyerahan.

Pengertian rohaninya dia tidak membatasi diri kepada agama yang diproklamasikan Muhammad, anak Abdullah tetapi ia memasukkan setiap agama surgawi yang menegaskan tentang keesaan Allah.

Al-Qur'an sendiri menyaksikan kebenaran ini, dengan berkata: "Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan bukanlah dia dari golongan orang-orang musyrik" (S.3 Ali Imran 67).

Seperti diketahui, Abraham hidup ribuan tahun sebelum masa Islam. Namun demikian Al-Qur'an menganggap dia sebagai seorang Muslim, karena dia percaya Allah itu esa.

Jalaleyan dalam exposisi Al-Imran 67 ini kami membaca: "Ibrahim meninggalkan diri dari semua agama lain untuk memeluk iman yang benar, percaya dalam keEsaan Allah karena ia bukan dari golongan musyrik".

Selain itu Al-Qur'an mengindikasikan bahwa kata "Islam" diterapkan juga kepada orang-orang Yahudi, pemilik Taurat, sebagai berikut: "Sesungguhnya, kami telah menurunkan Kitab Taurat berisi petunjuk dan cahaya. Dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah". (S.5 Al-Maa'idah 44).

Penafsiran Jalaleyan untuk kata "Aslamtuu" dalam hubungan ini berarti "menyerahkan diri" dalam pimpinan Allah. Hal ini berlaku juga bagi orang-orang Kristen seperti yang dikatakan Al-Qur'an: "Tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka berkatalah dia, "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah. Kaum Hawariyin menjawab, "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri". (S.3 Ali Imran 52).

Para hawariyin disini adalah ke 12 murid Isa yang telah mengikuti dia sejak awal pelayanannya, hal itu terjadi sebelum masa Muhammad beberapa abad yang lampau. Walaupun demikian Al-Qur'an menyebut mereka Islam (penyerahan diri).

Allah telah menetapkan untuk kamu agama yang sama, seperti yang diwasiatkanNya kepada Nuh dan yang telah kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa dan Isa: "Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya". (S.42 Asy Syuura 13).

Jadi menurut ayat ini Islam harus percaya kepada Musa dan Isa, sambil menegakkan Taurat dan Injil. Di halaman lain Al-Qur'an memerintahkan umatnya untuk mempercayai agama Ibrahim, Musa dan Isa yaitu agama Taurat dan Injil. Kami dapat membacanya dalam S.2 Al-Baqarah 136 "Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami. Kepada apa yang diturunkan pada Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub dan anak cucunya. Kami beriman kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang diberikan kepada Nabi dari Tuhannya. Kami tidak beda-bedakan yang satu dari yang lain antara mereka dan kami menyerahkan diri kepada (Tuhan)". Dan S.6 Al-Anaam 89-90: "Itulah orang yang kami beri Alkitab, hikmat dan kenabian. Maka jika (keturunannya) mengingkarinya, Kami percayakan kepada kaum yang tiada mengingkarinya. Mereka itulah (nabi-nabi) yang menerima petunjuk Allah. Maka ambillah teladan akan petunjuk yang mereka terima".

"Maka berimanlah sebagian dari bani Israil dan sebagian lagi tiada beriman. Maka kami beri kekuatan kepada orang yang beriman untuk melawan musuh-musuhnya. Lalu mereka menjadi orang-orang yang menang". (S.61 Ash-Shaf 14c).

Tujuan utama dari ayat-ayat ini adalah Al-Qur'an mengakui orang-orang Yahudi sebagai pengikut Musa dan kemudian mereka yang mengikuti Al-Masih dengan menyebutnya sebagai "Muslim". Ayat-ayat ini memerintahkan Muhammad untuk dituntun oleh pengalaman mereka dan memerintahkan dia untuk memohon kepada mereka bagaimana caranya untuk meninggalkan keragu-raguan agama, seperti ada dalam (S.10 Yunus 94): "Maka jika kamu ragu tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, tanyakanlah orang yang membaca kitab sebelum kamu. Kebenaran telah datang kepadamu dari Tuhanmu; Maka janganlah masuk golongan orang yang ragu-ragu".

Sahabatku, Anda telah mengatakan bahwa Al-Qur'an menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diridohi Allah, tetapi kamu lupa bahwa Al-Qur'an sendiri menegakkan Injil dengan mengatakan dan "Hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik". (S.5 Al-Maidah 47).
"Wahai orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada Kitab yang Allah turunkan sebelumnya.. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat". (S.4 An-Nisa 136)

Mungkin dua ayat terakhir akan mendesak anda utnuk mempertimbangkan posisi anda terhadap agama Allah dalam Injil. Sejak Al-Qur'an memerintahkan anda untuk mengikutinya, yang mana diutamakan percaya kepada Al-Masih yang bersabda: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku". (Yohanes 14:6).

"Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa yang percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati". (Yohanes 11;25).

"Dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, "Aku akan memberi kelegaan kepadamu". (Matius 11:27-28).

Sudah jelas tidak ada agama yang lebih mulia selain agama yang mengalir dari Injil yang dicintai Allah. Injil ini dikenal bukan sebagai sebuah surat yang diturunkan Allah ke bumi, tetapi melalui seseorang yang bersifat keallahan yang pada waktu yang tepat, berinkarnasi menjadi manusia untuk menyatakan kasih Allah dalam penebusan dan menyelamatkan dunia oleh anugerahNya.

Injil bersabda: "Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya. Tetapi semua orang yang menerimaNya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki melainkan dari Allah.

Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru katanya: "Inilah Dia yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Karena dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Al-Masih. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi anak Tunggal Allah yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya". (Yohanes 1:1-18).

Rasul Paulus, seorang prajurit iman berkata:
"Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. Tetapi setelah genap waktunya maka Allah mengutus anakNya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak". (Galatia 4:3-5).

Agama Kristen adalah agama penebusan, tanpa penebusan itu seseorang tetap tak berdaya di bawah beban dosa, tanpa pengharapan di dunia dan dimasukkan ke api neraka.

Tetapi Allah yang maha penyayang merencanakan keselamatan manusia melalui korban kematian Al-Masih sebagai bukti dari KasihNya yang sangat luar biasa dan tidak terbatas itu.

Al-Masih mengungkapkan kasih ini dengan berkata: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal". (Yohanes 3:16).

Agama Budha berkata: "Kebaikan dan keadilan/kebajikan merupakan jalan menuju Nirwana (surga) yang terbesar adalah kebaikan".

Agama Yahudi berkata: "Musa menuliskan kebenaran Hukum, barangsiapa memeliharanya akan hidup oleh hukum itu".

Agama Islam berkata: "Berat pada hari itu adalah kebenaran. Mereka yang beratnya lebih besar adalah yang sukses".

Semua ungkapan-ungkapan ini sungguh indah, tetapi semuanya mengharuskan manusia berbuat sesuatu tetapi manusia tidak sanggup melakukannya. Hal ini seperti menyuruh orang lumpuh berjalan atau orang mati untuk hidup.

Berkenan dengan kebenaran ini Raja Daud berkata dengan ilham Roh Kudus: "Tuhan memandang ke bawah dari surga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak". (Mazmur 14:2-3).

Untuk mentaati Hukum, perintah Allah yang pertama dan yang utama ialah memerintahkan manusia: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan perintah kedua ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". (Lukas 10:27).

Pengalaman mengajar kita bahwa tidak ada satu manusia pun yang sanggup memenuhi Hukum tersebut. Berdasarkan alasan inilah semua manusia yang berusaha melakukan Hukum tersebut jatuh di bawah kutukan seperti tertulis dalam Alkitab: "Karena semua orang yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat". (Galatia 3:10).

Mengenai amal kita, tentang timbangan, melalui hambanya Daud Allah bersabda: "Hanya angin saja orang-orang yang hina, suatu dusta saja orang-orang yang mulia. Pada neraca mereka naik ke atas, mereka sekalian lebih ringan dari pada angin". (Mazmur 62:10).
Nabi Yesaya bersabda: "Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin". (Yesaya 64:6).

Rasul Paulus berkata:
"Tidak seorangpun berakal budi, tidak seorangpun" mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak". (Roma 3:11-12).
Memang benar bahwa Hukum Taurat itu kudus dan perintahnya suci, adil dan benar, tetapi tidak dapat memberikan keselamatan total bagi manusia berdosa.
"Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh" (Roma 8:3-4).

Hal inilah yang membedakan iman Kristen. Kepercayaan inilah merupakan agama penebusan yang tidak membiarkan manusia kehilangan keselamatannya. Karena Allah telah membuat perjanjian dengan manusia berdasarkan kasih karunia, apabila manusia menanggapi pengorbanan Al-Masih di kayu salib.

Karena Hukum Taurat tidak mampu membebaskan manusia dari kuasa dosa dan maut ataupun gagal untuk menyelamatkan dan menguduskan atau membuat manusia tetap dalam Kerajaan Allah. Maka Al-Masih dari surga berinkarnasi menjadi manusia untuk mempersembahkan dirinya sebagai korban penghapus dosa, menghancurkan dosa mematahkan kuasa dosa atas manusia dan menanggung hukuman ganti manusia. Dengan karya penebusan dan penggantian ini, Ia memenuhi semua tuntutan Hukum Taurat dan menggenapi nubuatan:
"Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian". (Yesaya 53: 4-6).

Mungkin anda sulit untuk menerima gagasan penebusan yang demikian karena gagasan ini berdasarkan pada kematian Al-Masih yang memalukan di kayu salib. Itulah yang menjadi persoalan sehingga sering ditolak dan diserang oleh Muslim. Tetapi bukti Al-Masih wafat oleh penyaliban itu banyak dan tidak terbantahkan. Saya sudah mengumpulkan semua fakta tentang penyaliban di dalam buku "Salib dalam Injil dan Al-Qur'an" yang bisa dipesan dari JALAN AL RAHMAT.

Di antara pengenalan akan iman dari Injil adalah ajaran-ajaran sosial yang luhur dan yang pantas bagi setiap generasi, umur, manusia, bahasa dan bangsa. Ajaran-ajaran didasarkan atas dasar "Hukum Emas" yang diletakkan oleh Al-Masih. Dia bersabda: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi". (Matius 7:12).

Ajaran ini melarang pementingan diri yang picik, kebencian, dendam, tipu daya, ketidakjujuran, penipuan dan membangun kesatuan umat manusia, kesatuan semua anggotanya dan menuntut bahwa setiap umat untuk saling memberi/mencari kesejahteraan bersama.

Ajaran singkat ini kalau dipelihara akan meniadakan dan mengakhiri perselisihan dan peperangan dan akan membuat dunia ini sebagai Firdaus kebahagiaan.

Karena ajaran-ajaran itu adalah penyulingan dari ajaran-ajaran hukum para Nabi, sebab tujuannya ialah membuat manusia saling mengasihi seperti dirinya sendiri.

Sebenarnya ajaran mulia ini, mengajarkan bagaimana kita memenuhi perintah Allah yang bersabda "Hendaklah kamu mengasihi musuhmu seperti dirimu sendiri". Rasul Paulus memberikan komentarnya: "Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat". (Roma 13: 8-10).

Dan agar supaya Al-Masih dapat menghapuskan dari jiwa-jiwa orang-orang pilihanNya segala pengaruh -pengaruh yang menghindari manusia untuk mencapai puncak kasih yang mulia ini, ia berkata kepada mereka: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudara saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna". (Matius 5: 44-48).

Kemudian prinsip-prinsip ini, di dalam transdensinya memiliki panjang, lebar, dan dalamnya mendemonstrasikan kelebihan mereka terhadap kasih dan kebajikan yang didasarkan pada prinsip-prinsip kasih diri sendiri yang slogannya adalah mengharapkan balas budi. Karena itu, Al-Masih mengajarkan mengasihi untuk kepentingan kasih itu sendiri dan menginginkan kesejahteraan orang lain dan berpegang teguh pada kebenaran dan kebaikan demi kebenaran dan kebaikan itu sendiri.

Murid-murid Al-Masih menjelaskan ajaran Gurunya tentang kasih dalam tafsiran yang indah sekali dan diilhami Roh Kudus, seperti:

1. Rasul Yohanes:

"Saudara-saudara yang kekasih bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barang siapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barang siapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barang siapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya". (1 Yoh 2: 7-11).

"Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan KasihNya sempurna di dalam kita. Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam RohNya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus AnakNya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Al-Masih adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.
Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam kasih inilah Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, Ia tidak sempurna di dalam kasih.

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata 'Aku mengasihi Allah' dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: "Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus mengasihi saudaranya". (1 Yoh 4: 7-21).

2. Rasul Petrus:

"Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu". 1 Petrus 1: 22).

"Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab menutupi banyak sekali dosa". (1 Petrus 4: 7-8).

"Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita". (2 Petrus 1:5-8)

"Dan di atas semuanya itu; kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan" (Kolose 3: 14).

3. Rasul Paulus:

"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak berdukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih itu tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. ( I Kor 13:1-8).

Inilah Kristen yang sejati. Inilah agama yang berdasarkan roh penebusan, mengampuni kesalahan 70x7 kali setiap hari.

Inilah agama Kristen, yang menonjol di antara agama-agama dunia. Karena kebaikan darah Al-Masih "Lebih berperan dibandingkan darah Habel". Darah Habel berbicara kepada Tuhan untuk balas dendam, tetapi darah Al-Masih berbicara untuk memohon pengampunan Allah atas orang-orang yang menyalibkanNya.
Kita telah membaca bahwa Al-Masih berseru di atas kayu salib "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat". (Lukas 24: 34).


Pertanyaan:

Islam adalah wahyu terakhir dan adalah agama untuk semua umat manusia berlaku pada setiap waktu dan tempat, tidak seperti agama Kristen yang terbatas hanya pada kesalehan dan kehidupan biara.

Karena itu anda ditantang untuk berpikir, dan berusaha dan membandingkan antara Al-Qur'an dan apa yang anda sebut sebagai Injil.

Kami merasa bahwa Al-Qur'an itu adalah firman Allah, kiranya Dia ditinggikan, sedangkan Injil terdiri dari perkataan manusia, seperti tulisan Paulus dan Yohanes dll.

Akhirnya, saya ingin mengajak anda menuju jalan lurus karena untuk karangan kacau semacam itu (yang tak masuk akal) tak dapat lepas dari peringatan.

Anda telah berusaha berkali-kali dan untuk menarik orang-orang Muslim, tetapi anda gagal memenangkan seorangpun, sedangkan banyak orang Kristen masuk memeluk Islam.

A.A.A.
Arab Saudi

Dari ekspresi surat anda, cukup jelas bahwa anda seorang yang sangat bersemangat terhadap agama. Bagi seorang muda sangat baik sepanjang semangat ini tidak membawa dia melampaui batas-batas yang ditetapkan dalam berdialog antara seorang Muslim dan Kristen.

Apabila anda menantang kepercayaan "orang Ahli Alkitab". Dengan cara demikian anda melanggar amanat Al-Qur'an: "jangan berdebat dengan para ahli kitab melainkan dengan cara yang paling baik". (S.29 Al Ankabuut 46).

Tentu saja, semangat anda yang berlebihan telah menempatkan anda di suatu sudut di mana anda tidak dapat mengerti maksud Injil. Karena itu saya tidak terperanjat apabila anda memandang traktat-traktat yang kami kirim kepada anda sebagai sampah atau omong kosong belaka.

Saya tidak ingin masuk dalam suatu perdebatan tentang pernyataan anda bahwa Islam adalah wahyu Allah terakhir. Tetapi saya ingin menarik perhatian anda kepada masalah kebenaran yang sangat penting yaitu pernyataan anda yang menyatakan Islam telah menggantikan semua agama termasuk agama Kristen. Pernyataan anda itu bertentangan dengan Al-Qur'an yang menegaskan dan memperkuat adanya agama Taurat dan Injil.

Mungkin anda memperoleh pandangan ini dari buku yang berjudul "Guidance of Seekers, into the Origins of Religion" oleh Mawia Mohammad Takieddine Al Kashani, seorang Persia yang berkata bahwa Muhammad adalah nabi sebelum zaman ini dan agamanya telah membatalkan semua agama dan Nabi-nabi sebelumnya.

Menjawab pernyataan seperti ini, saya ingin katakan bahwa Al-Qur'an sendiri tidak menyatakan Al-Qur'an diturunkan untuk menggantikan Taurat dan Injil, juga Hadits Nabi tidak pernah berbicara dalam arah ini. Berarti pernyataan anda itu lucu dan lemah, tidak berdasar, sekedar gagasan untuk mencemooh dan membangkitkan fanatisme. Meskipun pernyataan ngawur ini tidak mengubah pengajaran Al-Qur'an tetapi paling tidak mengacaukan dan mengajarkan sesuatu yang tidak termuat di dalamnya.

Setiap orang tahu bahwa pembatalan (sesuatu menggantikan yang lain) secara khusus berlaku bagi Al-Qur'an dan terdapat dalam 2 tempat.

  1. S.2 Al Baqarah 106.
    "Ayat mana saja yang Kami nasakhkan atau Kami jadikan manusia lupa kepadanya. Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ?".
  2. S.22 Al Hajj 52.
    "Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak pula seorang nabi ..... melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syiatan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha mengetahui, lagi Maha bijaksana".


Ayat-ayat itu tidak menunjukkan bahwa Al-Qur'an diturunkan untuk membatalkan Alkitab, tetapi ayat itu membatalkan ayat lain dalam Al-Qur'an itu sendiri.

Cendikiawan Al-Bardawi telah memberikan bahasan yang lengkap tentang pembatalan ini dari surat Al Haj dan menyebutkan bagaimana beberapa surat Al-Haj telah dibatalkan.

Cendikiawan yang lain juga telah memperlihatkan gejala ini seperti Yahya dan Jalal Ed Din. Mereka membahas kehidupan Nabi dari Ibnu Hisham, sampai Ibnu Ishaq. Penulis lainnya, Al-Tabari membahas masalah ini dalam penafsiran yang lebih luas.

Ibnu Hatem mendasari keterangan dari Ibnu Abbas yang menyatakan: "Tidak mungkin Ilham itu turun kepada nabi di waktu malam dan hari berikutnya dia lupa. Dan kemudian ayat itu diturunkan untuk membatalkan atau melupakan".

Begitu juga Al-Baidani, ia berkata ayat ini diturunkan ketika penyembah-penyembah berhala (kafir) atau Yahudi menuduh: "Tidakkah anda melihat bahwa Muhammad memerintahkan pengikut-pengikutnya kemudian ia berubah pikirannya dan memerintahkan kebalikannya". Jadi, kejadian dari ayat ini adalah jelas untuk menjawab keragu-raguan tentang tulisan dan keraguan orang-orang Muslim berhubungan dengan perubahan ayat dalam isi Al-Qur'an itu sendiri.

Lebih lanjut, Jalaleyn mengemukakan penafsirannya: "Nabi sedang membaca surat Al-Najm di hadapan sebuah sidang. Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al-Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian". (S.53 An Najm 19-20).

Setan telah memasukkan ucapannya pada titah nabi tanpa disadarinya. Semua makhluk surgawi tersebut kelihatan muda rupawan, kami berharap mereka akan memohon pengampunan bagi kami. Ini membuat mereka bahagia. Tetapi Jibril memberitahukan kepada Nabi bahwa Setan telah menggunakan lidahnya. Ia menyesal dan berusaha menghibur mereka dengan ayat-ayat. Tetapi Allah telah membatalkan apa yang telah setan buat dst. Menurut Al-Sayauti, pembatalan merupakan sesuatu yang khas bagi bangsa ini, yaitu Islam.
Kesimpulan yang kami tarik dari penjelasan-penjelasan yang dibuat oleh para ahli itu pernyataan Al-Qur'an menggantikan Injil atau Islam menggantikan agama lain tidak beralasan.

Dalam bukunya "Revealing the Truth" Al-Hajj Rahmat Allah Al-Hindi berkata, "Pendapat yang mengatakan bahwa Taurat dibatalkan oleh adanya Zabur dan Zabur dibatalkan ketika Injil hadir dan Injil dibatalkan Al-Qur'an tidak memiliki alasan baik dalam Al-Qur'an maupun Hadits".

Sungguh benar ucapan ahli ini, Al-Qur'an itu bertentangan dengan penganjur "pembatalan" dan menolak klaim mereka. Al-Qur'an berkata: "Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya". (S.42 Asy Syuura 13).
Dengan demikian anda melihat, sahabatku, bahwa anda sedang menyerang agama Islam sendiri dengan menyatakan agama surgawi sebelum Islam telah dibatalkan.
Disamping itu dapatkah anda menjelaskan kepada saya bagaimana menikmati apa yang kamu percaya pada isi Al-Qur'an, kemudian membuat suatu pernyataan yang tidak berdasarkan fakta kebenaran?

Apakah anda sudah lupa, bahwa Al-Qur'an memanggil anda bersama setiap orang Arab untuk berpedoman kepada ajaran-ajaran Ahli Alkitab, karena Al-Qur'an berkata: "Allah hendak menerangkan hukum, syariatNya kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan hendak menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana". (S.4 An Nisaa 26).

Sebaliknya, anda seharusnya bertanya dapatkah agamaku menggantikan selama Al-Qura menyuruh Muhammad sendiri mengikuti petunjuk Alkitab, ketika Al-Qur'an berkata: "Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab, hikmat dan kenabian. Jika orang-orang itu mengingkarinya maka Kami akan serahkan kepada kaum yang tidak mengingkarinya.
Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuknya". (S.6 Al An'aam 89-90).

Sebaliknya anda seharusnya bertanya bagaimana mungkin agamaku digantikan agama lain selama Al-Qur'an menganjurkan Muhammad supaya ia meminta pertolongan orang-orang sebelumnya apabila ia ada dalam keragu-raguan, seperti Al-Qur'an berkata: "Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu". (S.10 Yunus 94a).

Coba ceritakan bagaimana mungkin agama Islam menggantikan agama sebelumnya, sebab Al-Qur'an justru menyuruh kita untuk meneguhkan pemberitaan Injil. Al-Qur'an menulis: "Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik". (S.5 Al Maaidah 47).

Salah satu keistimewaan yang dapat membedakan Alkitab adalah kenyataan ajaran pada surat-suratnya menunjukkan suatu harmoni dan bergerak menuju satu arah yaitu tentang pernyataan maksud Allah. Bagi manusia hal itu tidak ada dan tidak perlu adanya pembatalan ataupun suatu pemeriksaan pembatalan di antara ajaran-ajarannya.

Kitab Allah adalah Kitab untuk semua generasi dan segala zaman. Dan agama yang diabadikan merupakan agama Allah dari kekal sampai kekal dan di dalamnya ada pernyataan surgawi.
"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu". (Matius 24: 35).
Dan bukankah Al-Qur'an sendiri berkata dalam S.6 Al An'aam 34b "Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah". Dan dalam S.10 Yunus 64 "Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah". Dan dalam S.15 Al Hijr 9 "Sesungguhnya kami yang menurunkan Alkitab dan kami pulalah yang memeliharanya". Dalam S.16 An Nahl 43 kita dapat juga membaca: "Bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui".
Ayat-ayat ini membuat kita bertanya: Seandainya sekelompok Muslim yang saleh dan yang setia menerapkan Al-Qur'an dan pergi kepada Ahli-ahli Alkitab untuk bertanya mengenai berbagai masalah rohani yang belum mereka ketahui.

Dalam perjalanan mereka bertemu dengan kelompok lain yang menuntut "pembatalan". Mereka bercerita "Kami akan pergi kepada ahli-ahli Alkitab untuk menanyakan perihal yang tidak kami ketahui".

Saya meragukan apakah kelompok lain, yang menantang berani membalas: "Jangan pergi, karena Alkitab mereka telah dibatalkan".

Dan seandainya meeka berani melarang, apa jadinya kedudukan mereka yang saleh itu? Apakah mereka akan mempercayai kelompok yang lain tersebut atau mempercayai Al-Qur'an yang berkata: "Tanyalah para ahli Alkitab apabila kamu ada dalam keragu-raguan".

Tentu saja, kalau mereka menerima tuntutan kelompok pembatalan tersebut akan menimbulkan suatu pengakuan kepada pihak mereka bahwa Allah telah gagal memelihara janjinya yang berkata: "kami menurunkan Alkitab dan kami akan menjaganya (memelihara)".

Saya tidak akan menyalahkan anda apabila anda menganggap bahwa kekristenan adalah agama penyembahan dan kepercayaan yang berkaitan dengan biara. Ungkapan ini menunjukkan pengetahuan anda tentang kekristenan masih terbatas.

Untuk kepercayaan yang berhubungan dengan biara ini bukanlah pokok yang penting dari Injil, tetapi tumbuh sebagai usaha manusia dan saya tidak dapat memberikan penjelasan karena keterbatasan ruangan ini.

Nah kalau begitu apa yang akan saudara katakan, jika saya mengambil usaha dari beberapa kelompok Islam Moderat yang tidak terlalu berpegang penuh kepada Al-Qur'an untuk menyerang dan mengkritik Islam sendiri?

Apakah wajar? silahkan jawab sendiri. Sebagaimana pernyataan yang anda kemukakan bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah sedangkan Injil terdiri dari perkataan-perkataan manusia seperti Paulus dan Yohanes. Ungkapan menunjukkan bahwa pengetahuan anda tentang kekristenan masih kurang.

Cobalah mengerti sahabatku bahwa inti ajaran Injil bukanlah perkataan yang ditulis Paulus atau Yohanes. Bukanlah pula perkataan yang diilhamkan langsung oleh malaikat Jibril dan kemudian ditulis oleh manusia.
Tetapi Injil adalah seorang pribadi Ilahi yang menjadi manusia seutuhnya dalam kegenapan waktu untuk menyatakan bahwa Allah itu kasih. Selanjutnya, perwujudan kasih inilah Dia mengerjakan penebusan untuk menyelamatkan dunia melalui kasih karunia.

Sambil menanti penerimaan isyarat yang ramah dari anda, kami mengucapkan kiranya kebaikan dan damai sejahtera Allah beserta anda. Kami berdoa khusus bagi anda kiranya kasih anda akan bertumbuh, mungkin kasih ini akan membuat anda untuk lebih menerima dan percaya kepada kami. Mungkin kasih ini akan membuat anda menyelidiki kebenaran secara lebih teliti dan cerdas. Kemudian anda akan menguji semuanya dan memegang kebenaran yang sempurna.


Bahan Kajian

  1. Apakah arti lain dari kata Islam?
  2. Mengapa Al-Qur'an menyebut Ibrahim seorang Muslim, meskipun Islam belum berdiri pada saat itu?
  3. Mengapa orang Yahudi dan Nasrani juga disebut orang-orang Muslim?
  4. Bagaimana pandangan Muhammad tentang wahyu Allah yang disampaikan kepada Musa dan Al-Masih?
  5. Ayat-ayat Al-Qur'an manakah yang menganjurkan seorang Muslim untuk menerima, membaca dan memperhatikan Taurat dan Injil?
  6. Tuliskan tiga buah ucapan Al-Masih yang anda rasakan paling penting bagi diri anda!
  7. Ayay-ayat Al-Qur'an manakah dalam Injil yang menyatakan bahwa Al-Masih adalah inkarnasi dari Firman Allah!
  8. Bagaimanakah Paulus menyaksikan inkarnasi Al-Masih itu?
  9. Apakah inti dan ajaran utama dari agama Kristen?
  10. Bagaimanakah pengertian anda tentang ayat Yohanes 3:16?
  11. Prinsip-prinsip apakah yang utama dari agama-agama dunia lainnya?
  12. Apa kata Alkitab tentang amal manusia?
  13. Apa dua perintah Allah yang terpenting dalam kitab Taurat?
  14. Bagaimanakah Hukum Taurat menghakimi manusia?
  15. Mengapa Hukum Taurat tidak dapat memberikan keselamatan kepada manusia?
  16. Bagaimanakah sikap Al-Masih terhadap Hukum Taurat dan bagaimana ia menggenapi Hukum Taurat di dalam hidupnya?
  17. Apakah artinya "anugerah" dalam hubungannya dengan Hukum Taurat yang terdapat dalam pengajaran Injil?
  18. Bagaimana pengertian anda tentang nubuatan "Anak Domba Allah" yang terdapat dalam kitab Yesaya?
  19. Tulislah kalimat "Hukum Emas" ("Golden Rule") dan jelaskan artinya!
  20. Apa artinya menggenapi hukum Taurat?
  21. Bagaimana Al-Masih menjelaskan tentang kasih seorang musuh kepada murid-murid-Nya?
  22. Tuliskanlah ayat-ayat yang paling berkesan bagi anda dari Rasul Yohanes?
  23. Nasehat apakah yang Rasul Paulus berikan kepada kita yang paling sesuai saat ini?
  24. Apa yang telah anda pelajari dari 1 Korintus 13:1-8 tentang hal Kasih?
  25. Apakah perbedaan antara jeritan darah Habil dan darah Al-Masih?
  26. Bagaimana pengertian anda tentang ayat Al-Qur'an "Janganlah berdebat dengan Ahli Alkitab"?
  27. Bagaimanakah bunyi pernyataan bahwa Islam telah membatalkan Hukum Kristen justru merupakan serangan terhadap diri sendiri?
  28. Apa sumber gagasan tentang pembatalan ini?
  29. Kedua kasus pembatalan apakah yang dapat diterapkan pada Al-Qur'an?
  30. Bagaimana ahli-ahli Islam menjelaskan dan mempertahankan pendapat tentang pembatalan dalam Al-Qur'an?
  31. Bagaimana Al-Qur'an memberikan bukti ketidakmungkinan pembatalan wahyu terdahulu dan menetapkan hukum-hukum sebelumnya.
  32. Apabila seorang Muslim ada dalam keragu-raguan terhadap sesuatu dalam Al-Qur'an, ayat manakah yang membimbing dia untuk bertanya kepada orang Nasrani untuk diajarkan dan diarahkan.
  33. Siapakah yang "fasik" menurut S.5 Al Maa-Idah 47?
  34. Apakah yang Al-Masih katakan tentang kekekalan ucapan-ucapannya meskipun bumi dan langit akan berlalu?