Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 11 Vol.17/2014 / Bagaimana Doa Bekerja dalam Peperangan Rohani?

Bagaimana Doa Bekerja dalam Peperangan Rohani?


Tuhan menjawab setiap doa umat-Nya ketika mereka berdoa kepada-Nya dalam peperangan rohani melawan Iblis, dunia, dan kedagingan. Akan tetapi, menjawab pertanyaan yang menjadi judul artikel ini tentu membutuhkan berlembar-lembar dalam sebuah buku. Seseorang dapat menghabiskan seumur hidupnya untuk mempelajari topik peperangan rohani yang dilakukan melalui doa. Pembahasan dalam artikel ini hanyalah awal dari sebuah topik pembahasan yang penting. Anda dapat mempelajari firman Tuhan yang terdapat dalam artikel ini lebih jauh lagi dan meminta Allah untuk memberi Anda hikmat untuk dapat memahaminya, serta mengaplikasikan prinsip-prinsip doa dan peperangan rohani.

Satu Tesalonika 5:17 merupakan sepenggal ayat berisi pesan yang amat besar, "Tetaplah berdoa". Ayat ini mengajak kita untuk berdoa secara sadar dan terus melakukannya di bawah sadar kita, sepanjang hari dan sepanjang malam. Orang percaya yang berada di dalam Kristus, yang telah diselamatkan dan dimeteraikan oleh Roh Kudus (Efesus 1:13), selalu hidup dalam komunikasi dengan Allah yang tidak tampak. Doa seharusnya menjadi aktivitas otomatis seperti bernapas atau detak jantung. Di dalamnya, kita bersyukur kepada Allah ketika kita merasakan sukacita, atau mengadu kepada-Nya ketika keadaan menjadi sulit, dan menangis di hadapan-Nya pada saat penderitaan atau kehilangan orang yang kita kasihi. Kemudian, membuka telinga ketika Ia berbicara kepada kita melalui Roh Kudus dan Kitab Suci.

Ketika kita bergumul dengan kuasa kegelapan, fungsi dari doa adalah perpanjangan dari kebiasaan sehari-hari kita itu. Kita dapat melihat hal itu dalam kehidupan Daniel. Daniel tinggal di tanah para pemuja berhala dan mengalami penindasan roh, tetapi ia tahu bahwa sumber kekuatannya adalah dari persekutuannya dengan Allah. Itulah mengapa ia mengembangkan suatu kebiasaan doa dengan menghadap ke jendela yang terbuka di bagian atas rumahnya. Disiplin yang dikembangkannya ini turut mendukung reputasinya yang cemerlang sebagai pegawai raja. Namun, musuh-musuh Daniel mengajukan suatu petisi kepada raja, agar sang raja mengeluarkan titah yang akan memaksanya menghukum Daniel atas kesetiannya terhadap Allah. Ketika berada di dalam gua bersama kawanan singa yang lapar (Daniel 6), Daniel tentu berperang melawan Iblis dan kuasa-kuasa jahat. Kesaksian yang diberikan Daniel kepada raja dari dasar gua singa itu benar-benar tak terbantahkan, "Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku ...." (ayat 22) Daniel memenangkan peperangan itu karena persekutuannya dengan Allahnya.

Paulus, sang misionaris besar pada zaman gereja mula-mula, tidak segera dilepaskan dari pemenjaraannya oleh orang-orang Roma dan segera dikembalikan kepada pelayannya seperti Daniel. Namun, kesaksian Paulus juga menjadi pendorong semangat bagi orang-orang percaya yang sedang menghadapi kematian demi iman mereka. Dari penjara, Paulus menulis surat yang ditujukannya kepada jemaat di Efesus. Di bagian akhir dari suratnya itu, ia mendorong para anggota jemaat Efesus untuk tetap "kuat di dalam Tuhan" dan mengenakan "seluruh perlengkapan senjata Allah" (Efesus 6:10-11). Agar dapat memenangkan peperangan rohani, orang-orang Kristen harus melindungi diri dengan kebenaran, keadilan, kesiapan memberitakan Injil, iman, keselamatan, dan pengetahuan tentang Kitab Suci. Kemudian, Paulus membungkus semuanya ini dalam suatu perintah untuk berdoa "setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jaga" (Efesus 6:18). Inilah sikap seorang laskar yang berkemenangan.

Alkitab juga mencatat tentang penghulu malaikat, yaitu Mikael, yang "bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa". Dalam ayat itu dikatakan bahwa Mikael "tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata, 'Kiranya Tuhan menghardik engkau!'" (Yudas 1:9). Ini adalah doa yang audibel, berbicara dalam nama Tuhan untuk mengakui kebesaran dan kuasa-Nya yang tidak tertandingi. Bagian ini juga mengajar kita untuk mengakui dengan rendah hati bahwa kita tidak dapat melawan setan dengan kekuatan sendiri.

Peperangan yang paling sengit terhadap Iblis tercatat dalam kitab Wahyu. Meskipun belum terjadi, tetapi kita harus tetap mempelajari dan mengaplikasikan kebenaran yang terdapat dalam kitab yang luar biasa ini dengan penuh kewaspadaan karena kitab ini memegang sebuah bahan pelatihan iman yang penting. "Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat." (Wahyu 1:3) Di pasal 12, kita diberi tahu bahwa sebuah peperangan yang dahsyat akan terjadi di surga, antara para malaikat Allah yang perkasa dengan Iblis dan malaikat-malaikatnya. Dengan kemenangan atas Iblis, maka muncullah pernyataan ini: "Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:10-11) Sumber kemenangan berada pada darah Sang Juru Selamat kita sebagai sebuah kesaksian yang jelas mengenai Injil yang bekerja dalam kehidupan kita.

Dalam sebuah pendalaman Alkitab yang masih perlu dilakukan lebih dalam lagi, marilah kita melihat sebuah kesaksian tentang kuasa Allah yang melampaui kekuatan manusia. Di Perjanjian Lama, Elisa, sang nabi Allah diceritakan sedang berada dalam situasi yang berbahaya. Ia terjebak dalam sebuah kota berkubu yang telah dikepung oleh pasukan musuh. Melihat pasukan berkuda dan kereta perang yang ada di sekitar mereka, bujang Elisa menjadi sangat takut. Apa reaksi Elisa terhadap bujangnya yang mengetahui betul bahwa musuh-musuh mereka itu berencana untuk menangkap sang nabi? Elisa berkata kepada bujangnya itu, "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka. Lalu berdoalah Elisa: 'Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.' Maka, TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa'" (2 Raja-Raja 6:16-17). Peperangan yang sebenarnya adalah peperangan yang tidak kelihatan, dan peperangan itu telah dimenangkan melalui pengurbanan darah Tuhan kita, Yesus Kristus.

Peran pendoa dalam memerangi kuasa gelap yang tidak kelihatan menempati posisi sebagai prajurit yang senantiasa berjaga-jaga dan selalu dalam persekutuan dengan Allah Bapa. "... berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus," (Efesus 6:18b) Selain itu, kenalilah musuh Anda: "Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng." (2 Korintus 10:3-4) Kitab suci penuh dengan kesaksian tentang kuasa Allah yang mengatasi musuh-musuh kita yang tidak kelihatan, yaitu Iblis dan para malaikatnya. Untuk studi yang lebih dalam, bacalah 1 Raja-Raja 18 dan saksikanlah kuat kuasa Allah yang dinyatakan di dalamnya. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Blogos
Alamat URL : http://www.blogos.org/christianlifeandgrowth/prayer-spiritual-warfare.php
Judul asli artikel : How does prayer work in spiritual warfare?
Penulis artikel : Denise Baum
Tanggal akses : 25 Juni 2014