Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBagaimana Memberitakan Injil Tanpa Memaksa

Bagaimana Memberitakan Injil Tanpa Memaksa


By admin - Posted on 04 July 2017

Saya bermain bola basket bersama sekelompok pria di 24 Hour Fitness setempat. Hubungan kami terbentuk dari bermain bola dan hanya dari hal itu saja. Namun, beberapa bulan yang lalu, setelah selesai bermain, sebagian dari kami berkumpul untuk bercakap-cakap biasa. Seiring pembicaraan terus berlangsung, topik tentang apa pekerjaan kami pun muncul. Saya tahu suasananya bisa sedikit tegang saat saya mengatakan kepada mereka bahwa saya adalah seorang pendeta Kristen. Akan tetapi, bukannya ragu tentang hal itu, ketika pertanyaan itu sampai kepada saya, saya mengakhiri dan menambahkan bahwa saya akan senang berbicara dengan mereka jika mereka memiliki pertanyaan tentang Allah atau Yesus.

Saat saya duduk di sana dalam jeda yang menggelisahkan itu, terjadi sesuatu yang sangat biasa. Sebagian besar orang berkata, "Terima kasih, tapi tidak begitu tertarik." Beberapa orang berkata, "Anda orang Kristen? Saya juga!" Akan tetapi, salah satu dari mereka mendekati saya kemudian menanggapi tawaran saya. Dan, hal seperti ini terjadi pada saya berulang kali.

Saya selalu merasa tidak nyaman sebentar saat menyebutkan Yesus. Ya, rasanya canggung sejenak, tetapi kesediaan saya untuk masuk ke dalam kecanggungan memungkinkan seseorang itu untuk memiliki terobosan menuju percakapan baru tentang Yesus.

Kecanggungan Mendahului Terobosan

Norma sosial adalah, yah, normal. Dan, hal itu ada di sekitar kita, membentuk aturan interaksi sosial kita. Akan tetapi, jika kita ingin menyaksikan iman kita, kemungkinan kita harus melanggar setidaknya satu dari tiga norma utama ini saat menyaksikan iman kita dalam budaya Barat:

Jangan berbicara dengan orang asing. Di sini, di Barat, kita tidak benar-benar memulai percakapan dengan orang yang tidak kita kenal. Jelas ini berbeda, tergantung di mana kita tinggal, tetapi sebagian besar itu adalah peraturan sosial bahwa ketika kita berada di tempat umum dan kita tidak mengenal seseorang, kita harus menjaga diri kita sendiri.
Jangan melakukan hal-hal yang membuat orang-orang merasa tidak nyaman. Budaya kita semakin terkondisikan untuk menghibur. Jika ada sesuatu yang tidak enak, jangan lakukan itu. Tidaklah normal untuk "memaksakan" sesuatu jika tidak terasa baik saat ini.
Jangan memaksakan kepada orang tentang apa yang benar atau nyata. Kebenaran itu relatif dan berdasarkan pengalaman pribadi Anda sendiri. Bukanlah sesuatu yang tepat untuk mengatakan bahwa seseorang adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan (Yohanes 14: 6) apalagi mengundang mereka untuk memilih untuk mengikuti Pribadi itu.

Kita ingin menyesuaikan diri dan tidak mengganggu. Kita ingin diterima secara sosial – yang membuat kita sulit menjadi saksi yang berani. Namun, kenyataan menjadi pengikut Yesus adalah bahwa Dia meminta kita untuk menjadi saksi-Nya, dan ini berarti sering berarti melanggar satu atau lebih dari peraturan sosial tersebut. Sebenarnya, kecanggungan yang muncul saat kita melanggar salah satu norma sosial ini cenderung mendahului terobosan dalam penginjilan.

Akan tetapi, bagaimana kita mengatasi ketegangan di antara sikap diam dan terlalu memaksa?

Berani tetapi Tidak Memaksa

Lihatlah Kisah Para Rasul 8: 26-38. Filipus diminta oleh seorang malaikat Tuhan untuk berjalan ke arah tertentu. Dia menaati dan saat dia berjalan, dia berjumpa dengan seorang Etiopia di keretanya dalam perjalanan pulang dari pemujaan. Filipus mendapat perintah lain, kali ini dari Roh Kudus: Pergilah ke kereta itu dan mendekat ke situ. Filipus kembali menaati dan saat dia berada di dekat kereta, mendengar orang itu sedang membaca dari Yesaya.

Tidak ada yang terlalu gila sejauh ini, tapi kemudian Filipus melanggar norma sosial yang pertama – jangan berbicara dengan orang asing – saat dia bertanya pada pria itu, "Anda mengerti apa yang sedang Anda baca?"

Filipus tidak memaksa di sini, tapi dia berani. Apa bedanya? Pikirkan itu sebagai sebuah rangkaian. Di salah satu ujung rangkaian adalah orang yang memaksa mengajukan pertanyaan untuk memulai percakapan yang ingin mereka kuasai. Di sisi lain adalah orang pemalu yang merasakan keterbukaan seseorang tapi menghindari keterlibatan mereka. Di tengah kontinum/rangkaian adalah orang yang berani, yang memecahkan ketegangan untuk memeriksa suhu spiritual dan melihat apakah orang tersebut penasaran. Mungkin canggung atau tidak nyaman mengajukan pertanyaan kepada seseorang secara tiba-tiba, tapi itu tidak memaksa. Ini berani.

Saat kita mengajukan pertanyaan atau memulai percakapan, faktor yang penting adalah bagaimana orang tersebut merespons. Tanggapan mereka akan mengungkapkan apakah dia terbuka dan penasaran, atau tertutup dan skeptis. Hal ini sangat penting. Orang yang berani akan bergerak maju saat pintu terbuka, dan mengakhiri pembicaraan saat pintu tertutup. Mereka tidak memaksakan percakapan pada seseorang. Orang yang memaksa, di sisi lain, bergerak maju bahkan saat pintu tampak tertutup. Seperti yang dikatakan salah satu mentor saya, "Keberanian tanpa penegasan hanyalah otot." Ketika kita merasa seperti sekarang atau tidak pernah, atau jika kita tidak bisa membedakan keterbukaan orang tersebut, kita menjadi memaksa.

Bagaimana orang Etiopia menanggapi Filipus yang memulai percakapan? Dia mengundang Filipus untuk segera datang dan menjelaskan ayat-ayat itu kepadanya. Ketika mereka berbicara tentang perikop tersebut, Filipus menceritakan kabar baik tentang Yesus. Ketika mereka sampai di tempat yang ada airnya, orang Etiopia itu pun minta untuk dibaptiskan!

Sama seperti Filipus, kita harus berani, tetapi tidak memaksa. Filipus mematuhi bisikan yang dia dapatkan dari malaikat Tuhan dan dari Roh Kudus, lalu mengambil inisiatif dan mengukur keterbukaan orang Etiopia untuk melanjutkan percakapan. Ketika orang Etiopia menunjukkan keinginan untuk melangkah lebih jauh, Filipus masuk lebih dalam. Tapi perjumpaan itu tidak akan pernah terjadi jika Filipus tidak cukup berani untuk memulai percakapan. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Urbana
URL : https://urbana.org/blog/how-share-gospel-without-being-pushy
Judul asli artikel : How to Share the Gospel without Being Pushy
Penulis artikel : Beau Crosetto
Tanggal akses : 20 Februari 2017