Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.29 Vol.08/2005 / Anugerah Allah Bagi Kelasi yang Tidak Baik : John Newton

Anugerah Allah Bagi Kelasi yang Tidak Baik : John Newton


Sambil bergumul melawan ombak-ombak yang kuat dan puing-puing yang terapung-apung, John Newton berusaha berjalan sampai ke geladak "Greyhound", kapalnya. Di sana ia membantu agar pompa-pompa bekerja dan ikut serta membantu kelasi lainnya yang menimba air dengan kebingungan serta menyumbat bagian-bagian yang bocor.

Pada jam sembilan pagi semua bagian yang bocor itu telah dijejali selimut, sprei, serta kain-kain yang ditahan oleh papan-papan yang dipaku di atasnya. Laut itu sedang mengganas dan kapal yang bocor itu terombang-ambing dengan hebat. Kelasi-kelasi harus mengikatkan diri ke geladak agar jangan terhempas keluar kapal.

Badan John Newton sakit karena kepayahan. Hampir tanpa berpikir lagi ia memohon, "Tuhan, kasihanilah kami." Tiba-tiba otaknya yang dingin karena takut tersentak menjadi sadar. Ia tidak pernah berdoa sejak masa kanak-kanaknya. Apakah Allah -- seandainya Allah itu ada, dan John Newton merasa ragu-ragu bahwa Ia memang ada -- berbelas kasihan kepada seorang pengumpat Tuhan?

Walaupun para pelaut kapal-kapal dagang Inggris dikenal dengan ketidaksalehannya, nakhoda kapal itu baru saja beberapa hari sebelumnya meminta agar Newton menghentikan sumpah serapahnya yang mengerikan. Kata-kata yang diucapkan Newton bukan sumpah-sumpah biasa yang diucapkan oleh seorang pelaut sungguh-sungguh. Kutukan- kutukannya menyatakan reaksinya yang serentak melawan paham tentang Allah.

Setelah ucapannya yang mengherankan itu, si pengumpat di kapal itu meninggalkan bagian pompa untuk menggantikan nakhoda pada kemudi. Setiap kali kapal itu bergerak masuk ke dalam pusaran air, Newton takut bahwa mereka mungkin tidak dapat melepaskan diri dari maut. Tetapi, laut Atlantik yang mengganas itu akhirnya tenang kembali. Setelah itu, ia pergi ke kamar dan menjatuhan diri ke tempat tidurnya.

Pada saat ia mengambil alih tugas di kemudi lagi, Newton memperhatikan bahwa hampir semua layar kapal itu robek dihembus angin. Angin bertiup melalui tiang-tiang kapal yang rapuh, yang menyebabkan kapal itu hampir tidak mungkin dapat berlayar.

Tujuh hari berlalu dan tidak ada daratan yang tampak. Persediaan makanan menyusut sampai hanya tinggal beberapa ekor ikan yang diasinkan saja. Lalu, ada seorang pria meninggal. Nakhoda kapal yang cemas itu memanggil kelasi-kelasi berkumpul. Sambil memandang kepada Newton, ia berkata, "Kamu semua tahu aku membawa pemuda ini dari pantai Afrika untuk dibawa pulang kepada ayahnya. Aku anggap ia tahu cara-cara berlayar karena ia pernah mengemudikan kapal budaknya sendiri. Tetapi, sejak ia menjadi pembantuku, yang kita hadapi tak lain hanya kesukaran, kesukaran, dan kesukaran."

"Ya, Kapten, benar!" teriak seorang awak kapal yang ada bekas luka di wajahnya.

"Ia berkata bahwa ia seorang yang tidak mengakui ajaran agama. Aku tahu ayahnya tidak pernah mengajarkannya seperti itu. Sumpah serapahnya cukup membuat laut itu mengamuk. Seperti Yunus di dalam Alkitab, saya kira ia merupakan laknat bagi kita."

John Newton mengendurkan otot-ototnya yang tegang dan mundur ke belakang pada saat para kelasi itu membelalak kepadanya dengan cara yang menuduh. Mereka tidak akan melemparkannya ke laut. Atau, apakah mereka akan melemparkannya ke laut? Ia membalas membelalak kepada nakhoda itu.

"Kita akan tunggu," kata nakhoda tua itu akhirnya. "Tetapi John Newton, kamu lebih baik ikut dengan kami dalam doa jika kamu ingin selamat."

Newton dengan diam-diam melangkah kembali ke tempat tugasnya. Sebuah ayat Kitab Suci yang telah didengarnya pada waktu ia masih anak-anak timbul dalam pikirannya. "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Lukas 11:13)

"Ya Allah, jika Engkau benar," ia berdoa dengan giginya yang terkatup, "Engkau pasti menepati janji-Mu. Sucikanlah hatiku yang kotor ini."

Empat minggu kemudian dalam bulan April tahun 1748, Greyhound memasuki sebuah pelabuhan di Irlandia dengan susah payah. Newton pergi ke gereja dan di sana ia mengakui dan menerima Kristus sebagai Juruselamatnya.

Orang yang semula tidak mau mengakui ajaran agama dan selalu mengumpat itu menjadi seorang pengkhotbah injili yang penuh kuasa. Kesaksiannya diungkapkan dalam puisi religi. Sajak yang terbaik yang mengungkapkan keselamatannya ialah sebuah lagu pujian kesayangan orang-orang Kristen yang masih dinyanyikan sekarang.

"Amazing grace how great Thou Art that save a wretch like me.
I once was lost but now I`m found. Was blind but now I see."

"Sangat besar anugerah-Nya, yang tlah kuterima
Dahulu aku tersesat, kini kuselamat."

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku:Bagaimana Tokoh-tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus
Judul Artikel:Anugerah Allah Bagi Kelasi yang Tidak Baik: John Newton
Penulis:James C. Hefley
Penerbit:Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000
Halaman: 37 - 39

e-JEMMi 29/2005