Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are here3. Menjadikan Murid Dalam Gereja Yang Mula-mula

3. Menjadikan Murid Dalam Gereja Yang Mula-mula


Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kisah 2:42).

Pada waktu kita melihat pembangunan sebuah gedung baru, sungguh mengherankan kalau mengetahui seberapa banyak waktu yang diberikan untuk membuat fondasinya. Kelihatannya pekerja-pekerja konstruksi itu tidak akan pernah memulai pembangunan gedungnya. Kadang-kadang mereka memerlukan beberapa bulan hanya untuk menggali lubang di tanah. Semakin banyak waktu yang dipergunakan untuk membuat dasarnya semakin besarlah bangunan yang dapat ditunjang.

Hampir dua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus Kristus memulai suatu gerakan yang akan disebarkan sampai ke ujung bumi. Injilnya itu akan disampaikan kepada raja yang mulia dan sampai kepada buruh yang paling sederhana sekalipun. Gerakannya dirancangkan untuk menjangkau seluruh dunia dengan Kabar Baik tentang keselamatan yang tersedia untuk manusia.

Teladan dan Amanat Yesus

Kristus Yesus memulai misiNya dengan pelayanan secara pribadi selama tiga tahun lebih sedikit. Salah satu segi utama dari masa pelayananNya ialah latihanNya kepada keduabelas muridNya. Latihan itu merupakan dasar dari keseluruhan pelayananNya. Kebanyakan waktuNya dalam tiga tahun lebih sedikit itu dipusatkan kepada orang-orang itu. Ia menyadari jika pekerjaanNya mau berhasil, sebagian besar harus bergantung dari pengabdian, kesetiaan, keberanian, dan iman orang-orang yang telah dipilih dan dilatihNya.

Mula-mula saya insaf akan pentingnya metode ini ketika saya masih menjadi seorang Kristen baru. Saya mengikuti sebuah konperensi Kristen dan dalam salah satu khotbah yang disampaikan ditekankan betapa penting keduabelas murid itu bagi pekerjaan Yesus. Ia membicarakan tentang kenaikan Yesus ke surga dan kegembiraan diantara para malaikat.

Penceramah mengisahkan bagaimana ketika salah satu malaikat itu bertanya kepada Anak Allah yang baru kembali itu, "Rencana apa yang kau miliki untuk meneruskan pekerjaanMu di bumi?"

Yesus menjawab tanpa ragu-ragu jawab Yesus, "Aku tidak mempunyai rencana lainnya!"

Malaikat yang lain bertanya, "Bagaimana jika mereka gagal?"

Sekali lagi tanpa ragu-ragu jawab Yesus, "Aku tidak mempunyai rencana lainnnya!"

Pembicara itu menjelaskan bahwa dialog itu hanya merupakan sebuah dongeng, tetapi gambaran itu sampai pada sasarannya. Hari depan jatuh bangunnya agama Kristen tergantung pada pelayanan orang-orang ini.

Kata-kata Yesus yang terakhir kepada murid-muridNya ialah, Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kisah 1:8). Kata-kata kamu akan menjadi saksiKu adalah kunci bagi perkembangan pekerjaan Yesus dalam buku Kisah Para Rasul. Siasat penjangkauan pertama-tama ialah pergi ke Yerusalem, kemudian Yudea dan Samaria, dan akhirnya sampai ke ujung bumi.

Apakah kiranya tanggapan para rasul akan amanat agung Yesus? Tentunya pernah terlintas dalam pikiran mereka bahwa tugas Yesus bagi mereka itu merupakan suatu pekerjaan yang sangat besar. Bumi itu besar, dan ada banyak orang serta banyak bahasa. Siapa diantara mereka yang mengenal bahasa Partia atau Media? Apakah ada diantara mereka yang mengenal bahasa Mesopotamia dan Kapadokia?.

Jika seandainya mereka kuatir mengenai hal itu, semestinya mereka tidak sanggup. Seperti biasanya, Yesus selalu mempunyai suatu rencana. Ia sudah memberitahu murid-muridNya agar mereka jangan meninggalkan Yerusalem. Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang--demikian katanya-- "Telah kamu dengar daripadaKu. Sebab Yohanes Pembabtis membaptiskan dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus" (Kisah 1:4-5).

Hari Pentakosta

Janji kedatangan Roh Kudus dipenuhi pada hari Pentakosta, yaitu sepuluh hari seseudah kenaikan Tuhan Yesus (Kisah 2:1-4).

Dalam perayaan Pentakosta--sama dengan perayaan Yahudi lainnya yang sudah lama--orang-orang Ibrani dari negara-negara yang dekat datang ke Yerusalem. Mereka merayakan hari itu, bergembira mengingat kebaikan dan berkat Allah, kemudian berpisah kembali.

Pada hari Pentakosta itu para rasul dipenuhi dengan Roh Kudus dan diberi kemampuan untuk berkomunikasi dalam bahasa asing. Mereka memberitakan Injil di jalan-jalan Yerusalem. Orang-orang dari negeri lainnya mendengarkan mereka berbicara dalam bahasa mereka sendiri (Kisah 2:5-11). Orang-orang Yerusalem menjadi kagum. Sebenarnya banyak dari mereka yang datang untuk berbagai hari raya selama bertahun-tahun dan belum pernah melihat atau mendengar hal seperti itu. Ada orang yang menuduh bahwa para rasul itu mabuk. Lalu Petrus berdiri dan menyampaikan khotbah yang pertama yang dicatat di dalam buku Kisah Para Rasul.

Untuk menjawab orang-orang yang mengumpat mereka, ia memulai dengan mengutip bagian dari Firman Tuhan. Inilah dia, penjala ikan dari Galilea yang seherhana. Dia berdiri dipusat kota Yerusalem, mengangkat suaranya dan membuat jalan-jalan kuno itu berkumandang dengan kabar tentang Kristus yang telah bangkit. Bagaimana hal itu terjadi padanya untuk menjawab pengejek-pengejek itu dengan kutipan dari Firman Tuhan? Jawabannya jelas sekali. Ia telah berjalan bersama Yesus lebih dari tiga tahun, dan ia pernah melihat Yesus menjawab kritik-kritik yang dilontarkan banyak kali. Ia telah melewatkan waktu lebih dari tiga tahun dengan orang yang sering mengutip Firman Tuhan. Petrus telah belajar dengan baik dan pada waktu itu mengutip Yoel 2:28-32. Kemudian Petrus langsung masuk kepada inti dari masalah itu: berita Injil. Ia berkhotbah mengenai Kristus yang telah disalibkan dan bangkit dan mendukung apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan (Kisah 2:22-24).

Hasil sangat mengejutkan: Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul- rasul yang lain: `Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?' (Kisah 2:41).

Ujian bagi berita suci yang mana saja tidak didasarkan kepada khotbah yang baik atau jelek, tetapi Apakah Allah memakainya. Adakah berkat Allah atas berita itu? Di sini Allah memberkati secara luar biasa dengan tiga ribu orang yang menerima Injil itu (Kisah 2:41).

Kemudian diikuti dengan pernyataan yang paling menarik di dalam Firman Tuhan. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kisah 2:42).

Yang lebih menarik ialah apa yang tidak dicatat. Apa yang terjadi diantara ayat 41 dan 42? Bagaimana rasul-rasul itu pergi berkeliling untuk mengumpulkan orang-orang itu dalam persekutuan yang tekun? Pernahkah Saudara mencoba untuk mengadakan pertemuan bagi orang-orang yang baru bertobat sesudah pertemuan kebangunan rohani atau kebaktian istimewa? Berapa di antara mereka yang muncul? Biasanya tidak terlalu banyak. Tetapi rasul-rasul itu telah dilatih oleh Yesus, dan mereka dapat melakukannya.

Pelayanan Bimbingan Orang Kristen Baru

Coba bayangkan situasi ini: para rasul dengan ketiga ribu orang yang baru bertobat. Apa rencana tindak lanjut untuk orang-orang itu? Mungkin yang biasa mereka lakukan--menikmati pesta dan pulang, terpencar ke empat penjuru angin. Tetapi rasul-rasul itu mempunyai rencana lain.

Apakah tugas mereka? Mencari pengikut? Bukan, tugas mereka (dan kita) adalah untuk menjadikan orang murid (Mat 28:19). Bagi Yesus hal itu tidak menjadi masalah, dan orang-orang ini telah mendengar Dia membicarakan tentang pemuridan banyak kali. Mereka tahu harkatNya dan apa yang diharapkan dari pengikut-pengikutNya.

Harkat Yesus. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan FirmanKu tinggal di dalam kamu, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu (Yohanes 15:7-8).

Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: "Jikalau kamu tetap di dalam FirmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:31,32).

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi (Yoh 13:34-35).

Jikalau seorang darang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu (Lukas 14:26-27).

Demikian pulalah tiap-tiap orang diantara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu (Lukas 14:26-27).

Rencana Yesus. Apakah yang harus diperbuat oleh rasul-rasul terhadap orang-orang yang bertobat? Berdiam diri saja sedang ketiga ribu orang yang baru mengaku percaya itu begitu saja berjalan ke luar kota? Sama sekali tidak!

Pada peristiwa lainnya sesudah kebangkitan, Yesus bertanya kepada Petrus dengan pertanyaan yang agak tajam. Bacalah Yohanes 21:15-17 sambil memperhatikan pertanyaan Yesus, jawaban Petrus, dan perintah Yesus.

Apa yang terutama diperintahkan Yesus ialah untuk memelihara domba-dombaNya. Ada tiga ribu domba yang baru lahir ke dalam Kerajaan Allah. Dan Yesus menugaskan mereka agar memberi makan dan menjadikan orang itu murid.

Kegiatan rasul-rasul. Para rasul mengambil tindakan darurat. Karena harus memberi makan dan tempat tinggal bagi mereka yang memerlukan pemeliharaan dan pelayanan sebagai murid baru. Tadinya mereka tidak bermaksud untuk tinggal lebih lama lagi di Yerusalem. Dengan demikian orang-orang baru itu dapat tinggal dan menerima latihan dan pertolongan sebagai tindak lanjut yang mereka butuhkan (Kisah 2:44-47). Dalam laporan berikutnya di dalam Kisah Para Rasul, orang-orang yang baru percaya itu tidak lagi disebut-sebut. Tentunya mereka sama seperti kanak-kanak di dalam sebuah keluarga, memperhatikan segala sesuatu, mendengarkan segala sesuatu, dan kemudian menirukan segalanya itu. Jumlah mereka mulai bertambah. Pada suatu saat jumlah mereka bertambah menjadi lima ribu orang (Kisah 4:4). Kemudian, jumlah orang yang percaya bertambah banyak (Kisah 5:14).

Teladan bagi orang-orang yang baru percaya,. Ketika ribuan orang dimenangkan ke dalam kerajaan, apa yang terjadi dalam hidup orang-orang yang baru bertobat itu? Mereka melihat rasul-rasul dipukuli, dianiaya, dan dijebloskan ke dalam penjara karena kesaksian mereka bagi Kristus (Kisah 4:17; 5:18,40). Mereka memperhatikan para rasul pada waktu mereka mengkhotbahkan Injil pada setiap kesempatan. (Kisah 3:14-15; 4:10,33; 5:30-31).

Mereka berada di saa pada waktu rasul-rasul dengan sukacita menerima penganiayaan yang harus diderita (Kisah 5:41). Dan mereka mendengarkan dengan cermat pada waktu rasul-rasul itu mengajar mereka dengan setia perkara-perkara dari Tuhan (Kisah 5:42).

Pengaruh apakah yang terjadi dalam hidup murid-murid yang bertumbuh itu? Pelajaran apakah yang mereka peroleh? Jawabnya menjadi jelas pada waktu kita melihat mereka menjada murid-murid dan pekerja-pekerja yang berguna di dalam tubuh Kristus. Latihan yang mereka terima dari tubuh Kristus. Latihan yang mereka terima dari para rasul meresap dalam. Mereka menjadi seperti alat perekam yang dijalankan. Kemudian mereka akan menjalankan kembali pita rekaman itu kepada dunia.

Saat ujian. Maka datanglah saat mereka diuji. Sesudah kematian Stefanus, mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (Kisah 8:1).

Menarik sekali bahwa kejadian ini merupakan langkah yang berikutnya dalam pemenuhan dari amanat yang diberikan (Kisah 1:8). Perhatikan bahwa semua murid berpencar kecuali rasul-rasul. Mengapa rasul itu tidak tersebar? Sebab mereka diberi suaka keagamaan oleh Gamaliel, yang menyatakan, Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah (Kisah 5:38-39).

Pemimpin-pemimpin agama setuju akan hal itu, tetapi tidak ada perlindungan untuk orang-orang percaya yang biasa. Jadi mereka melarikan diri, tetapi tidak dalam kepanikan. Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil (Kisah 8:4).

Mengapa mereka melakukan itu? Mengapa mereka pergi ke mana-mana memberitakan Injil? Sebab mereka sudah didewasakan dari dalam suatu suasana bersaksi. Mereka menganggap bahwa itulah hal wajar yang harus mereka lakukan. Itulah yang mereka ketahui tentang iman pada Kristus. Mereka telah diajar dan sudah diberi teladan.

Pada waktu kita memikirkan pelayanan menjadikan orang murid Yesus, kita harus memperhatikan segi ini dengan sungguh-sungguh. Jika kita ingin melihat tindakan tertentu atau kelakuan tertentu yang berkembang dalam diri mereka yang bekerja bersama kita, kita harus ingat akan kekuatan teladan perorangan. Orang-orang Kristen yang baru ini hanya mengikuti teladan dari pemimpin mereka.

Pelayanan Filipus. Kemudian Roh Allah mengalihkan perhatian kita kepada salah satu dari orang-orang itu, seorang diakon. Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ (Kisah 8:5). Dia memberitakan Kristus di daerah itu dan mengakibatkan sukacita yang besar dalam kota itu (Kisah 8:8).

Kemudian, dia bersaksi kepada seseorang dalam kereta kuda. Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya (Kisah 8:35). Sekali lagi, itulah apa telah diperlihatkan kepadanya dan diajarkan kepadanya yang menjadikan dia seorang saksi yang efektif. Latihan yang telah diperolehnya mempersiapkan dia bagi tanggung jawab ini.

Pelayanan orang-orang lain. Sebagian dari orang-orang yang di Yeruselem pada hari Pentakosta berasal dari Kirene (Kisah 2:10). Sebagian dari mereka menerima berita Injil ini dan menerima latihan pemuridan dari rasul-rasul. Setelah mereka tercerai berai oleh penganiayaan, mereka muncul kembali memberitakan Yesus Kristus (Kisah 11:19-21). Kesaksian mereka sangat berkuasa, seakan-akan tangan Tuhan ada pada hidup mereka. Berita mereka sederhana; mereka memberitakan tentang Tuhan Yesus. Dan banyak orang yang percaya.

Minat yang terus menerus dari para rasul. Pada waktu murid-murid itu meninggalkan para rasul, mereka tidak dilupakan. Para rasul mengikuti mereka dengan doa dan dengan perhatiannya. Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia. Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan (Kisah 11:22-24).

Prinsip latihan yang penting ternyata di sini. Orang-orang ini tidak nampak tetapi tidak dilupakan. Pada waktu terjadi sesuatu hal kepada mereka yang memerlukan bantuan dalam pelayanannya, mereka mendapatkannya dari pemimpinnya.

Kesimpulan dan tambahan. Kita telah meninjau pelayanan para rasul sesudah kenaikan Yesus dan pelayanan berikutnya dari murid-murid yang mereka latih. Semua itu sangat berguna bagi hidup kita dan pelayanan kita. Gembala-gembala sidang pernah bertanya kepada saya, "Tetapi apakah kiranya latihan pemuridan ini dapat berjalan di dalam gereja kami dewasa ini?"

Jawaban saya selalu sama: Hal itu berjalan di gereja di Yerusalem. Hal itu juga berjalan di gereja di Antiokhia. Semua ini dimulai dalam gereja Perjanjian Baru. Latihan pemuridan itu bertumbuh dan subur dalam gereja-gereja ini. Dan tak ada alasan di bumi ini mengapa hal itu tak dapat dilaksanakan dewasa ini.

Amanat Agung masih tetap sama. Berita Injil itu masih tetap sama. Kita melayani dengan kuat kuasa dari Roh Kuds yang sama. Kita memiliki Firman Allah yang sama. Dan kita memiliki janji yang diberikan oleh Yesus beserta dengan perintah untuk menjadikan murid. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20).

Lalu apakah persoalannya dewasa ini? Mengapa kita tidak melihat latihan pemuridan lebih sering dipraktekkan? Mengapa murid-murid yang menghasilkan buah, mengabdikan diri, dan matang sedemikian jarangnya? Alasan yang terbesar ialah bahwa kita terlalu sering bersandarkan program atau bahan-bahan atau hal-hal lainnya dalam melakukan pekerjaan Tuhan.

Pelayanan itu harus dijalankan oleh orang-orang bukan program. Pemuridan harus disampaikan oleh seseorang bukan oleh sesuatu. Murid- murid tidak dapat dihasilkan secara massal. Kita tidak dapat memasukkan orang ke dalam suatu "program" dan melihat murid muncul sebagai hasil produksi. Menjadikan orang murid memakan waktu. Perhatian secara pribadi dan perorangan diperlukan. Waktu berjam-jam untuk mendoakan mereka diperlukan. Pengertian dan kesabaran diperlukan untuk mengajar bagaimana menghayati Firman Allah bagi mereka sendiri, bagaimana memelihara jiwa mereka, dan oleh kuat kuasa Roh Kudus bagaimana memakai Firman itu bagi hidup mereka. Lebih dari semua itu kita perlu menjadi teladan bagi mereka.

Teladan Rasul Paulus

Pelayanan menjadikan orang murid Yesus memakan waktu dan usaha, tetapi hasilnya abadi. Rasul Paulus adalah suatu contoh dari apa yang diperlukan dan apakah untung ruginya dari pelayanan semacam itu.

Pernah Ia selesai dengan perjalanan pengutusan Injilnya, dan Allah telah memberkati usahanya dengan berkelimpahan. Banyak orang telah dibawa kepada Tuhan. Beribu-ribu orang telah mendengarkan Injil. tugasnya hampir saja merenggut nyawanya. Tetapi pada perjalanan itu, sesudah ia dilempari batu dan ditinggalkan karena disangka telah mati, ia kembali ke tempat di mana permusuhannya merupakan yang terhebat. Dan di situ dia menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman (Kisah 14:22).

Kemudian ia kembali ke Antiokhia dan tinggal di sana untuk beberapa waktu. Paulus merasa terbeban bagi orang-orang itu yang telah percaya dan berkata kepada Barnabas Baiklah kita kembali kepada saydara-saudara kita du setiap kota, di mana kita telah memberitakan Firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka (Kisah 15:36). Sering kita menyebut perjalanan ini sebagai perjalanan pengutusan Injil Paulus yang kedua. Sebetulnya perjalanan ini merupakan permulaan dari perjalanan pemuridan yang pertama. Berangkatlah ia mengelilingi Siria dan Kilikia sambil meneguhkan jemaat-jemaat di situ" (Kisah 15:41).

Sesudah perjalanan yang lama dan sulit itu, ia kembali ke Antiokhia. Roh Allah bergerak dalam hatinya, dan ia pergi sekali lagi pada perjalanan pengutusan Injil yang berikutnya. Setelah beberapa hari lamanya ia tinggal di situ, ia berangkat pula, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk meneguhkan hati semua murid. (Kisah 18:23). Ya, memang hal itu memerlukan waktu dan usaha, tetapi Rasul Paulus adalah seorang pembina murid yang sejati.

Kemudian dalam suratnya Paulus mengutarakan aspek ini dari pelayanannya. Dalam membicarakan Yesus ia berkata: Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasaNya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku (Kolose 1:28-29).

Perhatikanlah kesaksian Paulus. Ia menguasahakan dan menggumulinya dengan segala kuat kuasa yang diberikan Allah. Apa yang dikerjakannya? Ia memenangkan orang-orang kepada Kristus dan membawa mereka sampai kepada kematangan yang penuh di dalam Dia. Proses ini sangat memerlukan waktu dan pengorbanan. Pada suatu saat ia menyatakan hal itu kepada mereka yang akan meneruskan pelayanannya: Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata (Kisah 20:31).

Ia juga melayani demikian di antara orang-orang Tesalonika. Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaanNya (1Tesalonika 2:11-12).

Kita sudah meninjau sepintas lalu pelayanan rasul-rasul yang dipilih oleh Yesus untuk meneruskan pekerjaanNya. Pelayanan mereka ditempatkan dalam latar belakang penjara, penganiayaan, ancaman, gempa bumi, kecelakaan kapal, komplotan pembunuh, mujizat, dan banyak kejadian-kejadian lainnya yang terjadi di jalanan dan di lautan di sekitar dunia Laut Tengah.

Iblis telah mencoba sedapatnya untuk menghentikan mereka, tetapi mereka dapat menyelesaikan pekerjaannya. Mereka bertekun terus. Tugas mereka sudah jelas: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu (Matius 28:19). Dan mereka melakukannya. Mereka berdiri tegak, tidak goyah, dan selalu giat dalam pekerjaan yang telah ditugaskan oleh Tuhan.