You are hereArtikel Misi / Yesus Menurut Kitab Mikha

Yesus Menurut Kitab Mikha


Dia Hadir dalam Berita Kelahiran-Nya

"Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." (Mikha 5:2)

Berita tentang kelahiran-Nya yang dinubuatkan oleh Nabi Mikha, membuat kita bersyukur, karena Dia bukan saja Raja bagi Israel, tetapi juga adalah Raja bagi bangsa-bangsa. Dialah Tuhan atas kita, Dialah Allah atas alam semesta dengan segala isinya, dan karenanya kita patut menyembah Dia. Paulus dengan ilham roh berkata: "Tiap lutut akan bertelut dan tiap lidah akan mengaku, bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah yang adalah Bapa." Kota kelahiran-Nya diberitakan Mikha dengan pasti dan terbukti. Mikha tidak berkata: "Dia akan lahir di suatu tempat di daerah Yehuda, atau di Samaria." Tidak! Mikha dengan tegas dan akurat menunjuk ke sebuah kota kecil, yaitu Bethlehem. Dan Alkitab Perjanjian Baru menyaksikan kebenaran nubuat tersebut.

Demikianlah yang terjadi pada suatu malam yang dingin, di kandang yang hina telah lahir yang Mahatinggi, Yesus Juru Selamat manusia. Tiada selimut kecuali jerami, tiada pelita kecuali cahaya bintang-bintang. Dan malaikat-malaikat datang di padang Efrata menyanyikan pujian indah menyambut kedatangan-Nya: "Segala kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi, di antara orang yang berkenan kepada-Nya." Setiap kali kita merayakan Natal, sesungguhnya kita tidak hanya sekadar bergembira menikmati suasana semarak dengan segala sesuatu yang disiapkan serba istimewa, namun lebih dari itu kita bertindak menyaksikan suatu kebenaran bahwa nubuat Mikha dan para nabi bukan sekadar dongeng, bukan sekadar legenda, atau isapan jempol, tetapi kebenaran, suatu fakta sejarah yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun di kolong langit ini, bahwa di Bethlehem telah lahir seorang yang nama-Nya disebutkan orang: "Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai, Yesus Kristus, Juru Selamat Manusia".

Kelahiran-Nya telah membuat Herodes gemetar ketika orang Majus bertanya: "Di manakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru lahir itu? Kami telah melihat bintangnya di Timur, dan kami datang untuk menyembah Dia" (Matius 2:2). Herodes tercengang, dan pastilah di dalam hatinya dia berkata: "Adakah seorang raja lain di luar aku? Adakah kuasa lain selain kuasaku?" Lalu dikumpulkannyalah cerdik pandai, para imam, dan ahli taurat, lalu bertanya: "Di manakah Mesias akan dilahirkan?" "Di Bethlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis di dalam kitab nabi," jawab mereka. Tak pelak lagi, nabi yang dimaksudkan ialah Nabi Mikha yang nubuatannya telah mereka kutip: "Engkau Betlehem, engkau yang terkecil di antara kaum Yehuda, namun dari padamu akan bangkit Seorang yang akan memerintah Israel. Seorang yang telah ada sejak purbakala." Dia, yang telah ada sebelum Adam ada, yang sudah ada sebelum dunia diciptakan, yang adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir, yang mengetahui seluruh liku perjalanan hidup tiap orang, adalah patut disembah, dipuji, ditinggikan, dan dimuliakan.

Masihkah kita meragukan keilahian-Nya? Masihkah kita ragukan kuasa penyelamatan di dalam nama-Nya, sehingga takut mengiringi Dia? Sesungguhnya, Dia telah ada sebelum segala sesuatu ada, maka Dia tahu lorong-lorong yang menakutkan dalam perjalanan hidup ini. Dia tahu tikungan-tikungan yang membahayakan, Dia tahu setiap bukit dan gunung yang memenatkan orang yang mendakinya. Dia juga tahu, iblis dengan segala roh pengikutnya senantiasa berusaha mencobai dan menjatuhkan anak-anak Tuhan. Namun, berbahagialah orang yang menaruh harap dan bersandar pada-Nya, sebab Dialah kekuatan kita, Allah yang perkasa, yang sempurna pemeliharaan-Nya.

Dia Hadir dalam Janji Penyelamatan

Mikha 4:6-14 mengungkapkan janji keselamatan bagi umat Tuhan. Ayat 6 berkata, "... Aku akan mengumpulkan mereka yang pincang, dan akan menghimpunkan mereka yang terpencar-pencar ...."

Sering kali, dalam kehidupan berjemaat, kita jumpai orang yang tadinya setia mengiring Yesus, hidup saleh, aktif dalam berbagai kegiatan di gereja, tetapi setelah kecewa dengan seseorang, dia menjadi mundur, dan kian hari kian tenggelam, terbawa oleh kehendak dagingnya. Ada pula karena merasa telah cukup lama berdoa memohonkan kesembuhan, tapi tak kunjung sembuh, mereka lalu undur pergi mencari pertolongan dukun. Akibatnya, hidupnya makin jauh dari Tuhan. Ada pula yang tak kuat menanggung beban kesulitan; saat cobaan datang, mereka lalu jatuh dan undur dari Tuhan. Mikha menyamakan mereka dengan orang-orang pincang, yang tidak tegar berdiri, yang langkahnya tidak rata alias tidak jujur di mata Tuhan, namun Alkitab berkata, ada lengan yang kekar, yang mengumpulkan dan menghimpunkan mereka yang pincang dan yang terpencar-pencar itu. Ada tangan yang berkuasa membawa minyak dan membalut luka hati, dan ada tangan yang menopang dan menguatkan yang lemah, sehingga kembali tegak berdiri. Dan Mikha membahasakannya dengan kata "keselamatan" yang dari Allah.

Jadi, keselamatan itu bukan saja akan kita peroleh pada waktu telah nyata berada di surga, tetapi keselamatan itu bisa kita miliki saat ini. Misalnya, pada saat kita mendengar atau membaca kupasan sebuah ayat firman lewat khotbah seorang pendeta, sehingga meluluhkan hati kita dan akhirnya membuat kita bertekad untuk kembali kepada Tuhan, mengaku dosa kita, dan mohon pengampunan dari pada-Nya. Itulah keselamatan yang dikerjakan Allah bagi kita; dengan mengumpulkan kita dan mengembalikan kita dari jalan sesat ke jalan yang benar. Penjabaran keselamatan itu juga digambarkan dalam Mikha 4:7b: "... Tuhan akan menjadi Raja atas mereka di gunung Sion, dari sekarang sampai selama-lamanya."

Sebagai Raja, Dia tentu memunyai hukum dan peraturan yang harus ditaati. Dia memunyai perintah dan ketetapan yang harus dipatuhi tanpa syarat. Dia juga memunyai aparat yang bertugas menyebarluaskan perintah dan ketetapan-Nya, sehingga kita yang tadinya berjalan seturut kedagingan kita, sekarang setelah mendengar Injil-Nya, kita pun takluk dan berjalan di dalam terang kebenaran firman-Nya. Itulah saat di mana kita memeroleh keselamatan yang dari Tuhan. Banyak orang enggan bertobat, mereka takut pertobatan akan mengekang mereka dari kenikmatan dunia, akan menjauhkan mereka dari pergaulan "modern", sebab itu mereka lebih senang hidup menurut apa kata hatinya, sekalian tanpa arah dan tujuan yang jelas, namun katanya sanggup membuat hidup mereka lebih berarti, lebih bahagia. Keliru! Alkitab menegaskan: "Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik ..." (Yesaya 5:20a).

Sesungguhnya, Allah mengerti segala sesuatu tentang seluk-beluk hidup manusia, Dia mengetahui bahwa hanya orang yang menaklukkan kehendaknya pada kehendak Allahlah yang akan berbahagia. Hanya dengan menjauhkan pola hidup bebas, lalu mematutkan langkah pada ketetapan dan perintah Allah, maka manusia akan mampu hidup saling mengasihi, saling menghormati, panjang sabar dan lemah lembut, serta akan berusaha memelihara kesucian hatinya. Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Matius 5:5, 8). Jelas sudah, hidup berbahagia adalah janji Allah bagi orang yang mematuhi hukum dan perintah-Nya, yang menaruh pengharapan kepada-Nya, dan yang setia beriman kepada-Nya. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan pada jalan orang berdosa, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tapi yang kesukaannya taurat Tuhan dan merenungkan taurat itu siang dan malam." (Mazmur 1:1-2)

Lebih jauh, Mikha menjabarkan keselamatan itu dalam Mikha 4:9-10, "Maka sekarang, mengapa engkau berteriak dengan keras? Tiadakah raja di tengah-tengahmu? Atau sudah binasakah penasihatmu, sehingga engkau disergap kesakitan seperti perempuan yang melahirkan? Menggeliatlah dan mengaduhlah, hai perempuan Sion, seperti perempuan yang melahirkan! Sebab sekarang terpaksa engkau keluar dari kota dan tinggal di padang, terpaksa engkau berjalan sampai Babel; di sanalah engkau akan dilepaskan, di sanalah engkau akan ditebus oleh Tuhan dari tangan musuhmu."

Kata-kata sederhana yang berbunyi: Mengapa kau duduk dan menjerit-jerit, seperti seorang perempuan kesakitan hendak melahirkan. Apakah padamu tidak ada raja, apakah padamu tidak ada penasihat yang dapat memberikan petuah dan bimbingan, supaya jeritan dan tangisanmu berhenti? Bukankah Allah itu Penasihatmu? Bukankah Allah itu Rajamu? Menggeliatlah, ambillah tindakan, dan bawalah keluhanmu. Mengeluhlah engkau kepada-Nya. Itu berarti, jika kita sedang diimpit kesulitan, berserulah kepada Dia, Penasihat yang Ajaib, Raja Damai, sebab hanya Dialah yang sanggup mendengar dan menjawab doa kita. Dan ketika doa dan seruan kita dikabulkan, itu pun salah satu karya keselamatan yang dari Allah.

Dalam Markus 5, ada sebuah kisah tentang seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan selama 12 tahun. Suatu hari, ketika sedang mengiring Yesus, timbul niat di dalam hatinya, kalau saja ia dapat menjamah jubah Yesus, ia yakin penyakitnya akan sembuh. Wanita itu bertindak menjamah jubah Yesus, dan seketika itu juga ia pun sembuh. Lalu apa kata Yesus kepada perempuan itu? "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu." Dari kisah ini, kita dapat menyimak kebenaran ungkapan Mikha, bahwa keselamatan itu merupakan suatu anugerah yang dapat dinikmati sekarang, sebelum kita mengalaminya secara utuh di surga.

Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, kita terjual kepada penguasa yang tidak sah, yaitu Iblis, si pembinasa itu. Di dalam genggamannya kita menderita, di atas genggamannya hati kita kosong dan merana. Tetapi pada waktu kita mendengar kabar keselamatan bahwa di Golgota telah terdengar jeritan "Eli Eli lama Sabakhtani" -- Ya Tuhanku, ya Allahku, mengapa engkau meninggalkan aku? Maka kita pun dapat berseru: "Immanuel" -- Allah beserta kita. Pada waktu kita mendengar Injil keselamatan, kemudian menerima dan mengundang Yesus masuk dalam hati kita dan percaya akan kemampuan darah-Nya yang menyucikan, maka kita ditebus-Nya. Ditebus dari tangan kuasa kegelapan yang membawa maut, masuk ke dalam tangan Allah yang hidup, yang berlimpah kasih setia.

Apa yang harus kita katakan kepada Tuhan tatkala mengetahui bahwa kita telah dibeli dan ditebus bukan dengan emas dan perak, tetapi dengan darah Yesus Kristus -- harga yang sangat mahal? Tak satu pun di kolong langit ini yang setara, yang dapat dipersembahkan kepada-Nya sebagai rasa terima kasih atas pengorbanan-Nya. Pemazmur berkata: "Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan, segala kebajikan-Nya kepadaku?" (Mazmur 116:12). Allah tahu hal itu, Dia tahu keterbatasan dan ketidakmampuan kita, namun satu yang diinginkan-Nya dari kita, seperti yang diungkapkan Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma: "Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang seati." (Roma 12:1)

Mikha telah mengungkapkan suatu kebenaran, dan Yesus telah mewujudkannya di Bukit Golgota. Di sana, Ia disalibkan menanggung dosa isi dunia, di sana, darah-Nya yang suci tercurah sebagai tebusan atas hidup kita.

Dialah Allah yang Tak Tertandingi

Mikha 7:18 berkata: "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa ...." Mikha menyadari arti dari namanya sendiri. Hal itu dia ungkapkan, dia saksikan, dan dia tuliskan dalam ayat tersebut. Tak dapat disangkal bahwa dalam menulis ayat-ayat tersebut, Mikha telah menelaah allah bangsa-bangsa sekitarnya. Dia telaah allah bangsa Filistin, allah bangsa Amalek, allah bangsa Amori, dan sampailah ia pada kesimpulan; tidak ada allah seperti Allahku, Allah Israel, Allah yang Mahakuasa. Allah bangsa kafir di sekitarnya memiliki telinga, tapi tuli, punya mulut tapi bisu, punya mata tetapi buta, tetapi Allah Israel, Allah yang hidup, Dia menjawab doa, karena Dia mendengar seruan anak-anak-Nya. Dia berfirman karena Dia bisa berkata-kata, Dia memerhatikan sebab Dia memunyai mata yang dapat memandang sampai ke dalam hati dan pikiran manusia. Dia mengampuni sebab Dia memiliki hati yang berlimpah kasih.

Namun, mengapa Mikha tidak menulis, "Siapakah Allah seperti Engkau yang selalu mencukupkan kebutuhan kita?" Tidak! Mikha memunyai alasan untuk tidak menulis seperti itu, karena allah bangsa kafir juga mampu memberi berkat jasmani. Berapa banyak orang, dewasa ini, yang mencari kekayaan di gunung-gunung dan di kuburan-kuburan keramat, di goa-goa dan pohon-pohon yang rindang. Mereka memerolehnya sekalipun dengan berbagai pengorbanan, seperti anak lahir cacat, suka mengiler, bego, terbelakang, dan sebagainya. Mikha juga tidak menulis, "Siapakah Allah seperti Engkau yang mencelikkan mata orang buta, yang membuat orang tuli mendengar dan sebagainya." Karena jika hal itu dilakukan, maka pasti bangsa-bangsa kafir akan membusungkan dada; sebab allah mereka juga sanggup menyembuhkan orang sakit.

Namun, yang ditulis Mikha adalah, Allah yang mengampuni dosa dan pelanggaran, tak dapat dilakukan allah mana pun di kolong langit ini. Sebab hanya di dalam Yesus ada pengampunan dosa, di dalam Yesus ada sejahtera dan sukacita, di dalam Yesus ada keselamatan. Jadi, kalau hanya karena pangkat dan jabatan, senyum seorang gadis tak beriman, ketampanan seorang pemuda lain agama, Anda meninggalkan Yesus, maka ketahuilah sesungguhnya Anda telah kehilangan segala-galanya, termasuk diri Anda sendiri. Jika Anda sedang menghadapi situasi seperti ini, maka hanya ada satu jalan untuk mengatasinya, yaitu berdoalah sungguh-sungguh, minta hikmat dan kekuatan Allah, dan jika Anda tulus, Anda ingin mengutamakan kehendak Allah, maka Dia akan memberikan jalan keluar yang terbaik, yang tidak membebankan Anda.

Yesus teramat berharga bagi Anda, bagi setiap orang percaya, Dia lebih mulia daripada apa pun yang termulia di muka bumi ini. Dialah satu-satunya Allah yang mengasihi kita, dan mau mengampuni dosa dan pelanggaran kita karena nama-Nya. Datanglah pada-Nya. Jangan tertipu bisikan iblis yang selalu berkata: "Dosamu banyak, hatimu cemar dan najis." Sebaliknya, teguhkanlah hatimu, pandanglah pada-Nya, sebab Dia mengasihi Anda dengan kasih yang kekal. Dia berkata: "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat" (Lukas 5:32). Terimalah uluran tangan-Nya, dan sambutlah Dia masuk ke dalam hatimu, maka Dia akan membaharui dan memberkati hidup Anda sesuai dengan janji-Nya: "Aku datang, supaya kamu memunyai hidup, dan memunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Allah Mana Seperti Allah Kita
Penulis : Pdt. Jacob Nahuway, M.A.
Penerbit : Gereja Bethel Indonesia Jemaat Mawar Saron, Jakarta 1990
Halaman : 199 -- 208

e-JEMMi 49/2008