Iran Tahun 2009

Pemilihan ulang presiden Mahmoud Ahmadinejad pada bulan Juni -- yang diikuti oleh protes bahwa hasil pemilihan tersebut curang -- telah mengakibatkan tewasnya ratusan orang di Iran. Sementara itu, penganiayaan terhadap orang-orang Kristen semakin memburuk. Kebaktian gereja diawasi oleh polisi rahasia dan diskriminasi membuat orang-orang percaya sulit mendapatkan pekerjaan. Penyembahan dalam bahasa Farsi (bahasa resmi Iran) dilarang. Pemerintah Iran telah meningkatkan kebijakannya untuk menahan orang-orang Kristen, khususnya karena menggunakan bahasa Farsi untuk menobatkan mereka. Menurut Open Doors, mereka tidak hanya diinterogasi, tetapi juga dilecehkan dan bahkan dilukai. (t/Ratri)

Diterjemahkan dari:

Nama buletin : Body Life, Edisi Agustus 2009, Volume 27, No. 8
Nama kolom : World Christian Report
Judul asli artikel : Iran: Persecution of Christian Worsening
Penerbit : 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman : 1

Pokok doa:

  • Berdoa untuk presiden yang sudah terpilih di Iran, biarlah Tuhan memberikan hikmat untuk menentukan kebijakan dalam memimpin negara ini, sehingga dapat menanggulangi keadaan yang telah mendiskreditkan orang percaya dalam beribadah.

  • Berdoa bagi saudara-saudara seiman kita di Iran yang sedang mengalami tekanan dari pemerintah setempat, agar Tuhan memberi kekuatan dan tetap beriman sementara menghadapi berbagai kesulitan ini.

    e-JEMMi 37/2009



    Iran mencoba memperbaiki hubungan dengan AS dengan menawarkan bantuan menstabilisasi Irak. Iran menawarkan bantuan itu bahkan saat negara ini sedang dihadapkan pada sanksi sebagai negara yang berpredikat tidak baik. Kekacauan antara kelompok-kelompok beragama setempat juga menyeruak.

    Jumlah orang Kristen hanyalah 1/2 persen dari seluruh penduduk Iran. Walaupun orang Kristen diizinkan untuk beribadah di dalam gereja, namun jika mereka berasal dari latar belakang agama non-Kristen, maka mereka menghadapi risiko yang sangat besar karena pemerintah ingin agar mereka kembali ke agama mereka semula.

    Artinya, kegiatan penginjilan dilarang, dan menurut World Watch List Open Doors, Iran naik menempati urutan ketiga dalam daftar negara-negara yang paling banyak menganiaya orang-orang Kristen. World Watch List Open Doors terus mencatat negara-negara yang melecehkan dan menganiaya orang-orang Kristen di seluruh dunia. Lee DeYoung dari Words of Hope mengatakan bahwa mereka mendapatkan laporan meningkatnya kadar penganiayaan. "Para pemimpin keagamaan di sana menyadari bahwa gereja bertumbuh dan mencoba menekan orang-orang yang ikut andil dalam pertumbuhan itu."

    Rezim baru mengancam upaya penginjilan dan pemuridan. "Hal inilah yang membuat kami harus terus melayani," kata DeYoung. "Siaran radio sangat penting untuk mendukung orang percaya. Jumlah pemimpin Kristen yang terlatih telah menurun, beberapa dari mereka dipaksa untuk membatasi aktivitasnya. Siaran radio tidak boleh dihentikan. Penyiaran itu melingkupi seluruh negara dan didengarkan secara intens."

    Karena gereja dilarang membantu mereka yang berlatar belakang agama lain, banyak gereja etnis mencabut dukungan mereka untuk saudara-saudara mereka yang berlatar belakang agama lain. Berdoalah untuk kelompok sel orang percaya dari latar belakang agama lain itu yang sekarang melakukan pertemuan secara rahasia. (t/Novita)

    Diterjemahkan dari: Mission News, Maret 2009

    Kisah selengkapnya: http://mnnonline.org/article/9352

    Pokok doa:

    • Berdoa untuk keberadaan orang percaya yang hanya berjumlah 1/2 persen dari jumlah penduduk di Iran, agar jumlah mereka yang minoritas ini tidak membuat mereka mundur untuk terus mengasihi Tuhan. Malahan, mereka dapat menjadi terang bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka.

    • Doakan juga agar orang percaya di Iran diberi kekuatan dan kemampuan oleh Tuhan untuk dapat memberikan dukungan kepada para petobat baru, sehingga para petobat baru juga dapat mengalami pertumbuhan rohani yang dewasa di dalam Tuhan.

    e-JEMMi 12/2009



Kategori

Kolom Publikasi

  • Iran
  • Penganiayaan Kristen
  • Minoritas Agama
  • Hak Beribadah
  • Ketidakstabilan Politik 2009
  • Open Doors
  • Iran mengalami gejolak politik signifikan pasca-pemilihan presiden 2009, yang memicu protes dan tewasnya ratusan orang.
  • Penganiayaan terhadap komunitas Kristen memburuk, ditandai dengan pemantauan kebaktian gereja oleh polisi rahasia dan diskriminasi dalam mencari pekerjaan.
  • Pemerintah Iran secara ketat membatasi praktik keagamaan, melarang penyembahan dalam bahasa Farsi dan menahan orang Kristen karena kegiatan seperti penobatan.
  • Upaya penginjilan dan pemuridan dilarang, sehingga gereja etnis cenderung mencabut dukungan terhadap anggota dari latar belakang agama yang berbeda.
  • Meskipun menghadapi tekanan berat, komunitas Kristen tetap bertahan sebagai minoritas kecil (1/2% penduduk), dengan radio menjadi sarana penting untuk menjaga kelangsungan informasi rohani.

Pada tahun 2009, Iran menghadapi ketidakstabilan politik pasca-pemilihan presiden yang diikuti protes berdarah. Di tengah kekacauan politik dan upaya perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat, umat Kristen minoritas semakin menghadapi penganiayaan berat dari pemerintah setempat. Kegiatan keagamaan mereka diawasi secara ketat, praktik ibadah (termasuk dalam bahasa Farsi) dilarang, dan mereka mengalami diskriminasi serta pelecehan. Selain itu, kegiatan penginjilan dan pemuridan juga ditekan oleh rezim baru, membuat gereja etnis bahkan mencabut dukungan terhadap saudara seiman dari latar belakang agama lain, meskipun mereka terus mempertahankan keyakinan mereka sebagai minoritas.