Venezula Tahun 2008

Saat kekristenan injili berkembang di Venezuela, banyak gereja yang terpecah di bawah politik Presiden Hugo Chaves, demikian menurut laporan Washington Post. Anggota Las Acacias, gereja injili terbesar di Caracas, berkata, "Banyak orang telah meninggalkan Las Acacias karena sang pendeta memihak kepada lawan." Referendum 2 Desember untuk merevisi undang-undang di Venezuela menimbulkan pertentangan dan protes keras dalam negara tersebut. Gereja-gereja menjadi medan perang yang penting bagi perjuangan Chavez untuk membawa orang-orang Venezuela kepada "revolusi sosialnya". Banyak pendeta yang menghindari pembicaraan politik, namun mengakui bahwa masalah yang menimpa negara tidak berhenti di pintu gereja. Sekarang pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan ikut Kristus, tapi apakah mereka juga akan ikut Chaves. (t/Novita)

Diterjemahkan dari:

Judul buletin : Body Life, Edisi Januari 2008, Volume 26, No. 1
Judul asli artikel : Evanelicals Split Over President
Penerbit : 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena
Halaman : 1

Pokok doa:

  • Situasi politik yang terjadi di Venezuela telah berdampak bagi kehidupan gereja di sana. Mari berdoa agar para pemimpin gereja memiliki hati yang bijaksana untuk tidak memakai mimbar dan gereja sebagai alat politik.

  • Berdoa bagi orang-orang percaya di Venezuela, agar Tuhan memberi kedamaian hati sehingga mereka tetap dapat beribadah dan tidak ikut terbakar oleh suasana politik yang ada.

e-JEMMi 23/2008

Kategori

Kolom Publikasi

  • Venezuela
  • Kekristenan Injili
  • Hugo Chávez
  • Polarisasi Politik
  • Gereja
  • Perpecahan Sosial
  • Pertumbuhan kekristenan injili di Venezuela dipengaruhi secara negatif oleh ketidakstabilan politik yang dipimpin oleh Presiden Hugo Chávez.
  • Konflik politik menyebabkan polarisasi dan perpecahan di dalam gereja-gereja, sehingga gereja menjadi pusat perebutan kekuasaan atau "medan perang" bagi perjuangan revolusioner Chávez.
  • Banyak jemaat meninggalkan gereja mereka karena pimpinan gereja cenderung memihak pada kepentingan politik tertentu, menimbulkan perpecahan yang signifikan.
  • Keadaan politik memaksa orang-orang percaya di Venezuela menghadapi dilema sulit: antara loyalitas spiritual kepada Kristus dan dukungan terhadap gerakan politik negara.
  • Pesan ini menyerukan doa agar para pemimpin gereja mampu menjaga netralitas politik dan agar jemaat dapat mempertahankan kedamaian hati di tengah gejolak negara.

Pada tahun 2008, berkembangnya kekristenan injili di Venezuela justru dihadapkan pada gejolak politik yang disebabkan oleh Presiden Hugo Chávez. Situasi ini menyebabkan perpecahan besar dalam gereja-gereja, menjadikan institusi keagamaan sebagai medan pertempuran politik yang panas. Banyak anggota meninggalkan gereja karena pendeta cenderung memihak pada kubu politik tertentu. Ketegangan ini memaksa para orang percaya untuk dihadapkan pada pilihan sulit antara mengikuti ajaran Kristus atau mengikuti gerakan sosial politik yang diusung oleh Chávez. Oleh karena itu, pesan ini menekankan pentingnya agar para pemimpin gereja tetap bijaksana dan tidak menggunakan mimbar sebagai alat politik, serta memanjatkan doa agar umat percaya tetap menemukan kedamaian hati di tengah kekacauan politik.