Seorang Penganiaya Bertobat

Saya tidak memunyai banyak waktu untuk menjelaskan kepada Anda semua keindahan gereja bawah tanah. Barangkali saya hanya dapat menceritakan satu episode yang pernah saya alami. Saat itu kami berada di suatu sel penjara; berisi 30 atau 40 tahanan. Pintu dibuka dan para penjaga mendorong masuk seorang tahanan baru. Dia kotor seperti halnya kami juga. Kami tidak pernah mandi selama 3 tahun. Jadi, dia kotor dan kami juga kotor. Dia digunduli dan memakai seragam bergaris sebagai seorang tahanan.

Di sel penjara yang setengah gelap tersebut kami tidak dapat mengenali dia, tetapi sampai suatu waktu, salah satu dari kami berteriak, "Dia adalah Kapten Popescu, saya kenal dia!" Kapten Popescu adalah seorang penyiksa orang-orang Kristen yang kejam. Dia telah memukuli dan bahkan pernah menyiksa beberapa dari kami yang sekarang berada satu sel dengannya. Kami bertanya-tanya bagaimana mungkin dia menjadi seorang tahanan dari penjara komunis dan bagaimana mungkin dia dijebloskan ke dalam satu sel bersama orang-orang Kristen. Jadi, kami mengerumuni dia dan bertanya kepadanya.

Dengan meneteskan air matanya, dia bercerita kepada kami bahwa beberapa bulan yang lalu, ketika dia duduk di dalam kantornya, prajurit yang bertugas mengetuk pintu kantornya dan berkata, "Di luar ada bocah laki-laki yang berumur sekitar 12 atau 13 tahun, yang membawa sekuntum mawar untuk istri Anda." Sang kapten menggaruk kepalanya. Dia tidak ingat bahwa hari itu hari ulang tahun istrinya, tetapi bagaimanapun, dia mengizinkan bocah itu masuk.

Bocah itu masuk dengan sekuntum mawar di tangannya, begitu pemalu, tetapi sangat berani dan berkata, "Kapten, bapak adalah orang yang telah memenjarakan papa dan mama saya. Hari ini adalah ulang tahun mama saya. Saya memunyai kebiasaan pada setiap ulang tahunnya membelanjakan uang saku saya yang sedikit, untuk membeli sekuntum mawar untuk mama. Karena bapak, saya tidak memunyai mama lagi untuk merayakan hari yang menggembirakan ini. Tetapi mama saya adalah pengikut Kristus, dan dia mengajarkan saya sejak saya kecil untuk mengasihi musuh-musuh saya dan membalas kejahatan dengan kebaikan. Saya berpikir untuk memberikan sukacita kepada mama melalui bapak. Saya mohon ambillah mawar ini untuk istri Bapak dan tolong sampaikan kepadanya kasih saya dan kasih Kristus."

Itu terlalu mengharukan, bahkan bagi seorang penganiaya. Dia adalah juga seorang ciptaan Allah. Dia juga telah diterangi dengan terang yang menerangi setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini. Kapten Popescu memeluk anak kecil ini. Setelah peristiwa ini, dia tidak mampu lagi memukul. Dia tidak mampu lagi menyiksa. Dan akhirnya, dia tidak lagi berguna sebagai seorang petugas kepolisian rahasia komunis. Dia dijebloskan ke penjara untuk menderita bersama dengan anak-anak Allah dan dia bahagia karena keadaannya yang baru ini.

Mari kita memiliki kasih Kristus yang menyelamatkan kita. Terus untuk sungguh-sungguh percaya di dalam kasih-Nya.

Dikutip dari: "If Prison Walls Could Speak" oleh Richard Wurmbrand.

Diambil dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Mei -- Juni 2006
Penulis : Tim Kasih Dalam Perbuatan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 2

e-JEMMi 30/2011

  • Penganiaya bertobat
  • Kasih Kristus
  • Pertobatan
  • Kejahatan dan Kebaikan
  • Tahanan
  • Kisah ini menggambarkan bagaimana kasih Kristus memiliki kekuatan untuk mengubah hati bahkan seorang penganiaya yang paling kejam sekalipun.
  • Pertobatan seorang penganiaya dapat dipicu oleh tindakan kebaikan yang murni, seperti yang ditunjukkan oleh bocah laki-laki yang membawa mawar.
  • Artikel ini menekankan ajaran untuk mengasihi musuh dan membalas kejahatan dengan kebaikan, sebuah konsep yang menjadi inti dari pesan Kristiani.
  • Transformasi Popescu menunjukkan bahwa rahmat Tuhan dapat menjangkau semua orang, tidak peduli seberapa jauh mereka telah melakukan kejahatan.

Artikel ini menceritakan sebuah kisah yang sangat mengharukan yang terjadi di dalam penjara. Kisah berpusat pada Kapten Popescu, seorang penganiaya Kristen yang kejam. Titik balik dalam hidupnya terjadi ketika ia ditemui dan diyakinkan oleh seorang bocah laki-laki yang membawa sekuntum mawar untuk merayakan ulang tahun ibunya. Bocah itu menceritakan bahwa meskipun Popescu adalah orang yang memenjarakan orang tuanya, ia didorong oleh ajaran kasih Kristus untuk menunjukkan kebaikan kepada musuh. Peristiwa ini sangat menyentuh hati Kapten Popescu, membuatnya tidak mampu lagi menyiksa. Akhirnya, ia mengalami pertobatan dan menjalani sisa hidupnya sebagai tahanan bersama para pejuang iman, menemukan kedamaian dalam keadaannya yang baru.