Pengantar:
Berikut ini adalah kutipan kata sambutan (welcome letter) yang ditulis oleh Johan Candelin, Koordinator Global IDOP, yang diambil dari situs IDOP
http://www.idop.org/index.html >
Anda tidak sendiri ...
Ada sebuah kisah singkat yang luar biasa di Afrika. Penduduk desa di daerah miskin memutuskan untuk membangun sebuah rumah sakit, namun mereka benar-benar tidak memiliki dana untuk membiayainya. Karena itu, seorang bocah laki-laki memutuskan untuk melakukan sesuatu. Barang yang ia miliki hanyalah beberapa bolpoin. Maka ia mulai mendatangi rumah-rumah dan meminta pemilik rumah membeli bolpoin untuk mendukung proyek pembangunan itu. Seorang wanita berkata kepadanya, "Ini pekerjaan yang terlalu besar untukmu, Nak!" Lalu bocah itu tersenyum dan berkata, "Oh, tapi aku tidak sendirian! Adikku juga sedang menjual bolpoin di seberang jalan."
Banyak saudara-saudari seiman di lebih dari enam puluh negara di dunia yang saat ini tidak memiliki kebebasan penuh untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Contohnya saja: saat Anda membaca tulisan ini, ada sekitar dua ribu orang Kristen yang sedang dipenjara di Eritrea dan ribuan lainnya di India kehilangan tempat tinggal akibat tindakan untuk menentang Kristus. Lebih dari seratus juta orang Kristen menghadapi pemfitnahan, diskriminasi, dan penganiayaan karena mereka ingin menjadi pengikut Yesus Kristus. Dan mereka semua ini adalah saudara-saudari seiman kita! Mereka mudah sekali merasa sendiri dan kesepian -- di hutan, di tempat persembunyian, atau di penjara.
Melalui kesempatan ini, saya ingin menyambut Anda di International Day of Prayer for the Persecuted Church (IDOP) -- Hari Doa Internasional bagi Gereja Teraniaya -- dan menantang Anda untuk melakukan apa pun yang dapat Anda lakukan untuk kita dapat bersama-sama mengirimkan sebuah sinyal yang kuat pada saudara-saudari seiman kita dengan mengatakan: KALIAN TIDAK SENDIRIAN! Mari secara figuratif "menjual bolpoin di seberang jalan" sehingga mereka dapat benar-benar merasa bahwa mereka tidak sendirian.
Saya percaya bahwa Tuhan telah melengkapi kita untuk suatu kebersamaan di saat-saat seperti ini, dan sekaranglah saatnya untuk menyatakan kasih kita. Anda bisa melakukannya dengan berdoa, mencetak bahan-bahan pokok doa dan membagikannya di gereja Anda, atau dengan memberi bantuan keuangan kepada organisasi yang Anda percayai.
Banyak orang Kristen teraniaya yang memberitahu saya bahwa mereka dapat merasakan orang-orang di seluruh dunia berdoa bagi mereka saat mereka berada di penjara. Sekaranglah saatnya untuk membentuk kelompok doa terbesar di dunia dengan lebih dari seratus negara yang terlibat. Namun ingatlah bahwa kita tidak hanya berdoa UNTUK gereja teraniaya saja, namun juga berdoa BERSAMA gereja teraniaya pada bulan November nanti. Banyak berkat tercurah atas kita semua saat kita bersatu dalam doa untuk memuliakan nama Yesus yang agung.
Selamat berpartisipasi di IDOP 2008!
Tuhan memberkati.
Johan Candelin
Koordinator Global, IDOP
(t/Dian)
Edisi e-JEMMi
Kategori
Kolom Publikasi
- Printer-friendly version
- Log in to post comments
- IDOP 2008
- Gereja Teraniaya
- Solidaritas Doa Global
- Penganiayaan Kristen
- Johan Candelin
- Mengingatkan akan kondisi kritis umat Kristen di berbagai belahan dunia yang menghadapi penganiayaan, pemfitnahan, dan penahanan, sehingga sering merasa sendirian dan terisolasi.
- Menekankan pentingnya semangat solidaritas dan kebersamaan, dengan slogan "Anda Tidak Sendirian," sebagai respons terhadap penderitaan umat percaya di tempat tersembunyi maupun penjara.
- Mengajak partisipan untuk berpartisipasi dalam IDOP (Hari Doa Internasional bagi Gereja Teraniaya) sebagai momen menyalurkan sinyal dukungan global.
- Menyebutkan berbagai bentuk kontribusi yang dapat dilakukan, yaitu melalui doa bersama, membagikan materi doa, atau memberikan bantuan keuangan kepada organisasi yang terpercaya.
Surat sambutan ini, yang ditujukan untuk International Day of Prayer for the Persecuted Church (IDOP) 2008, merupakan seruan global untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan bagi saudara-saudari seiman yang mengalami penganiayaan, penangkapan, dan diskriminasi di lebih dari enam puluh negara. Menggunakan metafora bahwa kebersamaan membuat tugas yang besar menjadi mungkin ("Aku tidak sendiri!"), penulis mengajak para pembaca untuk berpartisipasi aktif dalam gerakan doa ini. Intinya adalah agar umat percaya dapat berkontribusi mengirimkan sinyal kuat kepada jemaat teraniaya bahwa mereka didukung secara rohani dan kasih, yang dapat dilakukan melalui doa, pendistribusian materi doa, atau bantuan finansial.